تسجيل الدخولDewa mengalihkan tatapannya pada Adi yang tampak sangat panik. "Biarkan saja. Dia cuma menggali kuburannya sendiri lebih dalam," jawab Dewa datar, suaranya sedingin es. "Tugasmu sekarang, jaga pendopo ini baik-baik." Dewa berbalik hendak melangkah pergi, namun Adi buru-buru menahan lengannya. "Mas Dewa, bagaimana kalau... bagaimana kalau Mas Dewa dan Mbak Zea menginap di sini saja malam ini?" pinta Adi dengan tatapan memohon. "Aku benar-benar khawatir orang-orang itu akan kembali lagi kalau Mas tidak ada di sini." Dewa menghentikan langkahnya tepat sebelum membuka pintu mobil. Tangannya masih berada di gagang pintu, sementara kepalanya menoleh pelan menatap Adi. Sorot matanya yang tajam mengamati raut kecemasan yang terpancar jelas di wajah asisten pribadi Oma Garnis itu. Di belakang Adi, Dika mengangguk pelan, sebuah kode tanpa suara dari sang asisten bahwa kekhawatiran Adi sangat masuk akal setelah melihat kejadian yang baru saja terjadi. "Mas Dewa," lanjut Adi dengan nad
Dewa mengakhiri sambungan telepon dengan satu gerakan cepat. Suasana hatinya yang semula dipenuhi kehangatan saat memandangi Zea seketika menguap. Rahang kokohnya mengeras, menahan gejolak amarah yang membakar dada. Pria itu berbalik dari balkon, melangkah tenang memasuki kamar suite. Ia menghampiri sang ayah yang sedang terkekeh melihat Zea kepayahan menghabiskan mangkuk kedua sup ayam buatan Oma Dyah. "Pa," bisik Dewa pelan, memotong gelak tawa di meja makan. "Dika dan Adi memanggilku. Gilang dan tim hukumnya baru saja menerobos masuk ke pendopo Opa Darlan dan Oma Garnis." Baskara Adiraja seketika menegakkan punggungnya, alisnya bertaut rapat. "Berani sekali dia menerobos saat Oma Garnis sedang koma." "Aku yang akan turun tangan, Pa," ucap Dewa lugas. Ia melirik sebentar ke arah Zea yang masih asyik disuapi, bersyukur istrinya tidak mendengar bisikan itu. "Tolong jaga Zea di sini. Jangan biarkan dia tahu atau menyusul. Kondisinya masih terlalu rawan." "Pergi dan seles
Sebuah mobil Alphard hitam berpelat nomor B meluncur tenang menembus kabut tipis pagi sebelum akhirnya berhenti tepat di depan lobby utama hotel bintang lima di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Belum juga mesin mobil mati sempurna, pintu sliding door sudah bergeser terbuka. Sesosok wanita paruh baya dengan gaya anggun namun heboh, Oma Dyah, muncul paling awal. Wanita itu melangkah turun dengan tergesa-gesa, mengabaikan sopir yang baru saja hendak menyambutnya. "Ayo, Lenny! Cepat sedikit!" seru Oma Dyah setengah memekik penuh antusias, menoleh ke dalam mobil. "Cucu mantuku yang cantik itu pasti lagi mual-mualnya sekarang. Kasihan Zea, di awal kehamilan begini dia butuh makanan sehat buatan kita, bukan cuma makanan masakan hotel!" "Iya, Ma... Sabar sebentar," sahut Lenny, ibunya Dewa, yang keluar dari pintu sebelah dengan helaan napas pasrah. Lenny sibuk menata tumpukan tas, kemasan tupperware jumbo, hingga rantang tiga susun bernuansa emas ke atas troli yang dibawakan oleh petug
Dewa tak sanggup bersuara. Pria yang biasanya berdiri tegak itu kini mendadak bergetar hebat. Jemari tangannya yang menggenggam alat tes urine bergaris dua itu tampak gemetar tipis. Matanya yang tajam dipenuhi tatapan antara kaget, tidak percaya, takut akan kondisi fisik Zea yang ringkih, serta rasa haru yang amat dalam. Ia mengalihkan pandangannya dari strip testpack itu menuju wajah pucat istrinya. Zea masih terbaring lemah di atas brankar IGD, menatap Dewa dengan sudut mata berair, ia kebingungan sekaligus merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Dewa menyimpannya dengan hati-hati ke dalam saku kemejanya, seolah benda plastik kecil itu adalah dokumen berharga bernilai triliunan rupiah. Ia lalu melangkah lebih dekat, menundukkan tubuh tegapnya, dan memeluk kepala serta bahu Zea yang masih terkulai lemas. Dibenamkannya wajahnya di ceruk leher istrinya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Zea yang bercampur minyak kayu putih dan keringat dingin. "Iya, Sayang... Kamu hamil,"
"Sayang, kamu mual lagi?" tanya Dewa, nada panik terdengar di balik suara baritonnya. Tanpa membuang waktu, ia menepuk kursi depan dan menginstruksikan pengemudi. "Pak, cari minimarket atau toilet terdekat sekarang juga! Istri saya mau muntah." "Baik, Pak Sadewa! Di depan ada SPBU, dua ratus meter lagi!" sahut pengemudi sigap, menginjak pedal gas lebih dalam agar mobil Alphard hitam itu meluncur membelah remang malam kota Yogyakarta. Dewa menangkup kedua pipi Zea yang terasa dingin dan basah oleh keringat. Jemari tegapnya mengusap lembut tengkuk istrinya, mencoba menyalurkan rasa hangat di tengah guncangan perut Zea yang kian meremas hebat. "Tahan sebentar ya, Sayang... Kita berhenti di depan," bisik Dewa, cemas. Suaranya yang biasa tegas kini bergetar, merasa tidak tega melihat kondisu istrinya. "Tadi kita sudah makan di pesawat. Apa kamu masih masuk angin? atau mau makan dulu?" tanya Dewa sambil memijat halus puncak kepala Zea. Zea menggeleng kuat-kuat. "Aku cuma mau tid
Dewa dan Zea melangkahkan kaki ke dalam kabin kelas bisnis pesawat A320, helaan napas lega akhirnya keluar dari sela bibir Dewa. Setelah serangkaian drama hari ini—mulai dari pertengkaran Zea dengan Jenny di dalam kelas, mual masuk angin, koper yang tertinggal, hingga dikerumuni rombongan ibu-ibu sosialita di area check-in—suasana tenang di area depan kabin pesawat ini menjadi tempat yang sangat ia butuhkan. Seorang pramugari berseragam rapi menyambut mereka dengan senyum hangat. "Selamat sore, Bapak dan Ibu. Mari, saya antar ke kursi Anda." Dewa menuntun Zea menuju dua kursi berdampingan di barisan depan. Sebelum Zea duduk, Dewa dengan sigap mengambil bantal kecil dan selimut lembut yang telah disediakan, lalu menatanya di kursi Zea. "Duduk pelan-pelan," gumam Dewa lembut, menyanggah siku Zea sampai gadis itu mendarat sempurna di kursinya yang empuk. Zea menyandarkan punggungnya, memejamkan mata sejenak sambil menikmati kenyamanan fasilitas bisnis class pesawat itu. Tubuh







