LOGINZea masih terpaku di tempat. Matanya menatap sendu kearah Dewa dan gadis cantik yang bergelayut manja di sisi tubuhnya. Dan sialnya, mata Dewa mendadak bergeser, mengunci pandangan tepat ke arah Zea yang sedang mematung di kejauhan. Saat itu, ia langsung tersadar dan melanjutkan langkahnya memasuki koridor gedung Fakultas hukum. "Zea," suara lembut yang super menyebalkan dari arah belakang itu menghentikan langkahnya. Dengan helaan napas pendek, Zea terpaksa memutar tubuh. Di depannya, Jenny berjalan anggun mendekat, lengkap dengan gaya angkuhnya yang biasa. "Bukannya Pak Dewa itu calon suami lo? Persis kayak obrolan pernikahan yang nggak sengaja gue dengar kemarin," ujar Jenny dengan volume suara yang sengaja memicu perhatian orang-orang yang lalu lalang di sepanjang koridor. "Tapi kok... hari ini dia malah bawa cewek cantik ke kampus? Apa lo ditinggalin lagi, Ze? Kasihan banget." Zea mengepalkan tangannya. Emosinya yang sudah tipis sejak di rumah tadi, kini berada di am
"Kak, aku tidak mau tahu! Pokoknya pertunangan kita harus dibatalkan!" jerit Zea frustrasi saat mereka sudah berada di dalam SUV hitam milik Dewa. Dewa melirik tajam ke arah Zea. Wajahnya pun terlihat kusut dan frustrasi. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau Oma Dyah akan mempercepat rencana pernikahan mereka secepat ini. "Kak!" teriak Zea lagi. Ia memutar posisi duduknya agar bisa menghadap Dewa sepenuhnya. Amarahnya kian meninggi karena pria di sampingnya itu sama sekali tidak memberikan respons. "Aku juga sedang berpikir, Zea!" bentak Dewa, akhirnya bersuara dengan nada yang tak kalah tinggi. "Ini semua salah kamu, ngapain coba bicara soal kampus!" "Aku kan nggak sengaja, Kak. Namanya juga nggak pernah bohong!" ujar Zea mengacak rambutnya frustrasi. Dewa menghela napas pendek. Melirik kesal gadis di sampingnya yang kelewat percaya diri. "Kalau pernikahan ini tetap tidak bisa kita cegah... sepertinya kamu yang harus pindah kampus." "Apa?!" Zea berteriak his
Zea mengacak rambutnya frustrasi sebelum akhirnya kembali ke meja dengan langkah mengentak bumi. Ia menyambar tas dan laptopnya dengan kasar, membuat Manda yang sedang mengunyah siomay hampir saja tersedak. "Ze, lo mau ke mana? rambut lo kenapa jadi acak-acakan kayak kena angin topan begitu?" tanya Manda heran melihat sahabatnya sibuk berkemas seperti orang kesurupan. "Gue... gue ada urusan darurat, Man! Bokap gue tiba-tiba minta dijemput karena motornya mogok," bohong Zea panik, menyusun alasan pertama yang lewat di kepalanya. "Gue titip absen kelas jam berikutnya ya, Beb. Please, tolongin gue!" Tanpa menunggu jawaban dari Manda, Zea langsung melesat pergi, berlari kecil membelah koridor menuju area parkir dosen sambil merutuki nasib sialnya. Napas Zea masih sedikit memburu saat ia menarik gagang pintu mobil SUV hitam milik Dewa dan langsung masuk ke kursi penumpang. Tanpa sepatah kata pun, Dewa langsung menginjak pedal gas, membawa mobil itu membelah jalanan ibu kota yang
"Jenny. Apa yang kamu lakukan di sana?" tegur Dewa, berusaha keras menjaga suaranya tetap tenang walau rahangnya sempat mengeras sesaat. Kalimat tentang pernikahan yang baru saja terlontar dari mulutnya tampaknya benar-benar tertangkap oleh indra pendengaran mahasiswi yang kini berdiri mematung di ambang pintu kelas. "Saya... mau ke toilet, Pak," sahut Jenny lambat. Sudut bibirnya terangkat, melemparkan senyum sinis ke arah Zea yang mendadak kaku dan tidak berani bersuara. Jenny melangkah melewati mereka. Saat jarak mereka mengikis, ia sengaja memberikan satu kedipan mata penuh kemenangan pada Zea, sebuah isyarat jelas bahwa ia kini memegang kartu as. Gerakan sederhana itu sukses membuat wajah Zea semakin pucat pasi. "Sepertinya... Jenny dengar ucapan Bapak tadi," bisik Zea dengan suara gemetar ketakutan setelah Jenny menjauh. Dewa menatap tajam punggung gadis itu yang mulai menghilang di ujung koridor. "Semoga saja tidak. Lagi pula, dia tidak punya kepentingan untuk ik
Tubuh Zea seketika kaku. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang dosen yang untungnya sedang sepi, lalu melangkah ragu untuk memastikan pintu itu tertutup rapat. Setelah kembali menghadap meja Dewa, Zea melipat tangannya di atas meja, menatap Dewa dengan serius. "Mau bicara soal perjanjian semalam, Kak—eh, Pak?" tanya Zea setengah berbisik, memastikan tidak ada orang yang mendengar padahal mereka hanya berdua di dalam ruangan. Dewa mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja, ekspresinya berubah serius. "Orang tuaku membahas tentang kita saat sarapan tadi pagi. Dan tampaknya, Oma ku dan Oma Garnis sudah mulai menyusun rencana pertemuan keluarga berikutnya minggu depan." Zea membelalak kaget. "Minggu depan?! Cepet banget? Pak, kita kan udah sepakat buat jalanin ini pelan-pelan sampai kamu cari alasan buat batalin!" "Aku tahu," jawab Dewa datar, tidak terpengaruh oleh kepanikan Zea. "Makanya aku memperingatkanmu sekarang. Jangan tunjukkan gelagat mencurigakan di depan mer
Angin malam di sky lounge terasa semakin dingin, namun kening Zea justru berkeringat tipis. Kalimat terakhir Dewa yang menggantung di udara terasa seperti sebuah jebakan yang siap mengikatnya hidup-hidup. "Perjanjian...?" ulang Zea, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap terdengar menantang. "Perjanjian apa?" Dewa menyunggingkan senyum miring. Senyuman yang selalu membuat tensi darah Zea melonjak naik. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah satu kali lagi hingga bayangan tubuh tegapnya seolah mengurung Zea di sudut balkon pembatas. "Kita ikuti skenario para orang tua ini untuk sementara waktu. Di depan mereka, kita pura-pura patuh demi menjaga ketenangan Ayahmu dari tekanan Oma Garnis. Tapi di belakang, kita tidak punya urusan apa-apa," ujar Dewa dengan nada kaku. Zea menimbang-nimbang opsi itu dalam otaknya yang mulai lelah. "Oke, kedengarannya adil. Tapi apa keuntungan yang saya dapat? Kamu tahu sendiri saya tersiksa di kampus karena kamu!" "Keuntungannya,







