تسجيل الدخول"Cukup, Sayang... Puas banget kamu tertawakan aku dari tadi!" keluh Dewa sambil membenamkan wajahnya ke bantal. Bukannya berhenti, tawa Zea justru makin membahana mengisi setiap sudut kamar. "Habisnya lucu banget, Kak! Fans kamu itu lho... yang bikin aku nggak bisa berhenti tertawa sampai perutku mulas!" sahut Zea di sela tawanya. Kedua tangannya yang berbalut baluran minyak kayu putih bercampur aroma lavender bergerak lembut, memijat punggung tegap Dewa yang terbaring tengkurap di atas kasur. Dewa menolehkan kepalanya miring, menatap istrinya dengan sudut mata yang menyipit jahil. "Masih mending fans aku ibu-ibu sosialita, Zea. Coba kalau yang memburu foto tadi anak-anak gadis kuliahan? Bisa-bisa kamu yang kebakaran jenggot di tengah jalan." Zea mendengkus, sengaja menekan jemarinya sedikit lebih keras di area bahu Dewa yang kaku. "Oho, coba saja kalau berani! Kalau anak gadis yang minta foto sampai tarik-tarik tangan kamu, aku suruh kamu pulang ke Jakarta sendiri, aku pinda
"Kak Dewa! Gimana di pengadilan?! Kakak baik-baik saja, kan? Gilang berhasil daftarkan gugatannya nggak?!" suara Zea terdengar cemas di ujung telepon. Dewa menatap keluar jendela mobil, melihat pemandangan Kota Yogyakarta yang cerah dan damai. Beban berat yang sempat membayangi keluarga istrinya kini telah sirna sepenuhnya. "Dia berhasil mendaftarkannya, Sayang," sahut Dewa lembut. "Tapi itu yang aku harapkan. Aku ingin Gilang berhenti mengganggu Oma Garnis, aku khawatir kalau ini tidak dituntaskan sekarang juga, dia akan kembali mengganggu saat kita sudah pulang ke Jakarta. Untunglah semuanya sudah selesai, Gilang dan Notarisnya langsung ditangkap Polisi di halaman pengadilan atas pemalsuan dokumen. Tim hukum dari Jakarta sudah mengunci seluruh kasusnya." Hening sejenak di ujung telepon, sebelum terdengar jeritan kegirangan Zea bersama sorak-sorai Mbok Nah, Oma Dyah dan Lenny di seberang sana. "ALHAMDULILLAH! Ya Allah... makasih banyak ya, Kak!" seru Zea haru. "Terus Kak
"Kalau melihat kebodohan yang dilakukan Gilang, Papa yakin kamu bisa menumbangkannya bahkan sebelum masuk ruang sidang, cukup di meja pendaftaran," ujar Baskara tajam, matanya berkilat penuh kekecewaan. "Papa benar-benar tidak habis pikir... apa yang ada di kepala Gilang? Dia pikir kita semua ini bodoh?" Dewa menatap cangkir kopi di tangannya dengan rahang yang mengeras rapat. "Bukan kita yang dia incar, Pa, tapi Oma Garnis yang sedang lemah. Aku rasa dia pun sedang ketakutan, tidak menyangka kita ada di belakang Oma Garnis dan Opa Darlan," sahut Dewa tajam. "Dia memanfaatkan situasi itu dan terburu-buru sampai lupa dengan tahun pasti kematian Opa Darlan. Pola pikirnya menjadi terlalu sempit hanya karena dibutakan oleh keserakahan harta." Dewa menghela napas panjang, menghirup aroma kopi hitam di tangannya sambil berbisik lirih, "Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Oma Garnis... kalau kita tidak ada di sini untuk menjaganya." Pria itu meletakkan cangkir ke
"Aww! Kamu apa-apaan, sih?!" ringis Dewa memegangi pipinya yang baru saja menjadi sasaran tembak sebuah bantal bulu angsa. Pria itu menyapu matanya yang menahan kantuk. Sayup-sayup suara azan subuh baru saja berkumandang dari masjid dekat pendopo, namun bukannya sambutan hangat dari sang istri yang didapatnya, Dewa justru disambut raut wajah Zea yang sudah menekuk persis lipatan serbet. "Aku kan lagi hamil, Kak! Kenapa nggak bisa pelan-pelan sedikit, sih?!" protes Zea dengan nada tinggi. Tanpa ampun, tangannya kembali mengangkat bantal kedua tinggi-tinggi di udara, bersiap melayangkan pukulan susulan tepat ke wajah tampan suaminya. Dewa tertegun seketika. Otaknya mencoba mencerna dakwaan tak terduga yang baru saja dijatuhkan sang istri di pagi yang hening ini. Aku salah apa? Siapa yang tidak bisa 'bermain' pelan? Bukannya semalam... BUG! Pukulan bantal kedua sukses mendarat di dada bidang Dewa sebelum sempat pria itu mengajukan pembelaan. Seketika kesadarannya mengula
Iring-iringan dua mobil Alphard tiba di halaman pendopo Kotagede saat matahari telah sepenuhnya berpulang di ufuk barat. Lampu-lampu gantung kuno bernuansa kekuningan yang terpasang di langit-langit pendopo kayu jati menyala megah, memancarkan kehangatan arsitektur Jawa klasik yang sangat bernilai tinggi. Suasana mencekam saat kedatangan Gilang siang tadi, kini berubah menjadi hangat dan penuh penjagaan ketat. Di sudut-sudut gerbang luar, para pemuda desa yang berhasil dikumpulkan Adi, terlihat berjaga dan menyatu dengan rindangnya pohon beringin dan sawo kecik di halaman. Zea melangkah turun dari mobil disambut oleh Adi, Dika dan Mbok Nah, abdi dalem senior yang telah mengabdi puluhan tahun di keluarga Sastrowardoyo. Air mata haru menetes di pipi Mbok Nah saat memeluk Zea, cucu kesayangan almarhum Darlan dan Oma Garnis yang telah lama tidak pulang. Terakhir kepulangan Zea adalah saat acara pertunangannya dengan Dewa yang digelar megah di Yogyakarta beberapa bulan lalu. "Nd
Dewa mengalihkan tatapannya pada Adi yang tampak sangat panik. "Biarkan saja. Dia cuma menggali kuburannya sendiri lebih dalam," jawab Dewa datar, suaranya sedingin es. "Tugasmu sekarang, jaga pendopo ini baik-baik." Dewa berbalik hendak melangkah pergi, namun Adi buru-buru menahan lengannya. "Mas Dewa, bagaimana kalau... bagaimana kalau Mas Dewa dan Mbak Zea menginap di sini saja malam ini?" pinta Adi dengan tatapan memohon. "Aku benar-benar khawatir orang-orang itu akan kembali lagi kalau Mas tidak ada di sini." Dewa menghentikan langkahnya tepat sebelum membuka pintu mobil. Tangannya masih berada di gagang pintu, sementara kepalanya menoleh pelan menatap Adi. Sorot matanya yang tajam mengamati raut kecemasan yang terpancar jelas di wajah asisten pribadi Oma Garnis itu. Di belakang Adi, Dika mengangguk pelan, sebuah kode tanpa suara dari sang asisten bahwa kekhawatiran Adi sangat masuk akal setelah melihat kejadian yang baru saja terjadi. "Mas Dewa," lanjut Adi dengan nad







