LOGINZea yang tadinya bersandar manja sontak menegakkan tubuhnya, mengerjap-ngerjap bingung melihat perubahan ekspresi calon suaminya. "Hah? A-aku bilang apa emangnya?" Rahang Dewa mengeras. Ia menatap lurus manik mata Zea tanpa berkedip. "Kamu bilang tadi... kamu makan es krim sama siapa?" tanya Dewa, setiap suku kata diucapkannya dengan penekanan. "Sagara?" Zea menelan ludahnya susah payah karena tenggorokannya mendadak terasa kering. Gadis itu baru saja tersadar, karena terlalu asyik menginterogasi Dewa soal Tiara sampai-sampai keceplosan membongkar rahasianya sendiri, bahwa ia tadi sempat jalan berduaan dan makan es krim bersama Sagara, musuh bebuyutan Dewa di ruang sidang. Laki-laki yang atas pedintah Dewa harus ia jauhi sejauh mungkin. "Eh..." Zea tersenyum kaku, mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana yang mendadak tegang. "Itu... anu, Kak... Tadi kan aku cuma... eh?" Belum sempat Zea merangkai alasan atau kata pembelaan, Dewa perlahan melepaskan rangkulannya da
"Bagaimana kondisinya sekarang?!" "Pasien saat ini sedang dalam penanganan tim medis kami akibat benturan. Pihak keluarga diminta untuk segera datang ke rumah sakit guna pengurusan tindakan medis lebih lanjut." "Saya segera ke sana," cetus Dewa cepat, langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu balasan. Dewa menyambar kunci mobil dengan gerakan terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang tanpa ekspresi kini tampak sepucat kertas, diwarnai kepanikan luar biasa yang gagal ia sembunyikan. "Mas Dewa? Ada apa?" Dika berdiri dari kursinya, matanya membelalak melihat ekspresi sang atasan. "Rapat kita gimana? Pembahasan bukti blok C belum selesai—" "Rapat ditunda. Tangani sisanya, Dika," potong Dewa dingin, suaranya penuh akan perintah yang tak bisa dibantah. Tanpa mempedulikan tatapan terperangah dari seluruh tim hukumnya, Dewa membalikkan badan dan melangkah selebar mungkin menerobos pintu kaca ruang rapat, meninggalkan area perkantoran dengan berlari. *** Langka
Langkah kaki Zea yang menghentak keras membelah kesunyian koridor Fakultas Hukum. Air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya tidak dibiarkan jatuh begitu saja. "Bisa-bisanya!" gerutu Zea seraya mengusap kasar sudut matanya. "Tadi pagi cemburu-cemburu nggak jelas gara-gara Sagara! Nyuruh gue nulis lima lembar resume tulisan tangan sampai jari gue mau copot! Eh, jam dua siang malah ngacir pergi mesra-mesraan sama si Tante Genit!" Zea menghentak tas-nya yang sempat merosot dari bahunya dengan kasar, lalu melangkah lebar-lebar menuju gerbang kampus. Pikirannya sudah tidak bisa diajak berpikir jernih. Logika dan gengsinya, kalah oleh rasa cemburu dan rasa dikhianati. Kalau Dewa pikir dia bisa mempermainkan perasaan Zea begitu saja, maka Dewa salah besar! BUGH!! "Aduh!" Zea mengaduh kencang saat dahi mulusnya menghantam dada bidang seseorang yang berdiri kokoh tepat di depan gerbang. Benturan yang cukup keras itu membuat Zea terdorong ke belakang dan hampir saja jatuh terl
Zea menatap layar ponselnya serius, jemarinya lincah menari-nari mengetik sebuah pesan: [Sagara, bisakah kita berhenti komunikasi? Aku tidak ingin tunanganku marah-marah kalau sampai tahu aku masih komunikasi dengan teman laki-laki.] Tinggal satu sentuhan lagi pada tombol kirim untuk mengakhiri drama "panggilan" ini. Namun, sebelum jempolnya sempat mendarat, sebuah tepukan heboh mendarat mulus di bahunya dari arah belakang! "Kasihan banget temen gue... Minum dulu nih, capek ya habis dibantai?" panggil Manda setengah berbisik, sadar betul kalau mereka saat ini sedang berada di dalam ruang perpustakaan kampus yang tenang. Manda langsung mendaratkan bokongnya di sebelah Zea seraya menyodorkan segelas minuman dingin boba favorit sahabatnya. "Aaaaa, thanks beb!" sahut Zea girang, refleks mengurungkan niat mengirim pesan dan menyambar minuman itu penuh sukacita. "Btw, Ze... walaupun lo itu asisten penelitiannya Pak Dewa, plis deh jangan lagi-lagi ngelawan dia pakai kalimat
Dewa membeku seketika. Pria itu menyipitkan mata, merapatkan wajahnya ke arah kaca film mobil yang gelap. Dari celah luar, ia melihat ponsel milik Zea berpendar terang di atas dasbor. Nama Sagara terpampang jelas di layar yang terus bergetar. Ngapain laki-laki itu menghubungi Zea lagi?! batin Dewa dengan raut wajah memerah, menahan ketegangan yang mendadak membakar dadanya. "Pak Dewa?" tegur Bu Hana lagi, memutar tubuhnya penuh rasa curiga. "Itu suara HP siapa ya di dalam mobil?" Dewa berdehem kaku. "Maaf, Bu Hana. Itu... ponsel saya yang satu lagi tertinggal di dalam. Bunyi alarm pengingat agenda." Bu Hana tertawa nyaring sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Aduh, Pak Dewa ini ada-ada saja! Pakai punya dua HP segala, kayak pejabat! Ya sudah kalau begitu, saya ke ruang dosen duluan ya. Jangan lama-lama di parkiran, Pak. Nanti saya kangen!" Bu Hana mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya benar-benar berbalik dan melangkah pergi. Dewa refleks mengelus dadanya, meng
Zea menggigit croissant cokelatnya penuh penghayatan, mengunyah pelan sembari melirik Dewa berkali-kali dari sudut matanya. Entah mengapa, efek setelah memaafkan kesalahan pria kaku di sampingnya ini sungguh ajaib. Dewa yang sedang fokus mengemudi dengan kemeja tergulung rapi hingga siku itu mendadak kelihatan seratus kali lebih tampan di mata Zea. "Kenapa ngelihatin aku terus?" tanya Dewa tiba-tiba. Tatapannya tetap lurus menatap jalanan di depan, namun ada garis senyum tipis yang geli mengikat sudut bibirnya. Zea tersentak kaget sampai hampir tersedak remahan croissant. "Hah?! Si-siapa yang ngelihatin?!" kilah Zea cepat. Gadis itu mendadak melemparkan pandangannya ke jendela kiri, berpura-pura mengamati deretan pohon dan bangunan di luar dengan ekspresi paling serius seolah-olah ia sedang meneliti tata kota. Dewa menahan tawa renyah di tenggorokannya. Dari pantulan kaca jendela mobil, pria itu bisa melihat dengan sangat jelas betapa merahnya kedua telinga calon istrinya







