LOGINLangkah kaki Dewa yang tegap perlahan menghilang di balik pintu kelas, meninggalkan keheningan yang sedetik kemudian pecah oleh riuh kasak-kusuk mahasiswa. Ruangan yang tadinya tegang kini mendadak bising oleh gosip hangat yang baru saja tercipta.
"Jen, kayaknya antara Pak Dewa sama Zea ada sesuatu, deh," kompor Vina. Gadis centil itu adalah satu-satunya orang yang mau berteman dengan Jenny saat ini, bisa dibilang karena mereka berdua sama-sama menyebalkan. "Bisa-bisanya dia kegatelan deketin cowok matang yang jauh lebih tampan dari Arka," cibir Jenny sambil menatap sinis ke arah barisan bangku depan. Matanya berkilat iri menatap kecantikan Zea yang langsung berhasil menyedot perhatian dosen baru mereka. Jenny mendengus remeh, lalu melanjutkan dengan nada ketus, "Lihat saja, enggak bakal gue biarin dia ngalahin gue lagi. Kayaknya dia belum kapok, padahal gue udah berhasil merebut pacarnya dengan mudah." Vina tersenyum puas, merasa berhasil memanaskan suasana. "Bener, Jen. Lo kan lebih tahu cara menaklukkan cowok sekelas Arka. Tapi kalau Pak Dewa... kayaknya tipikal cowok yang mahal dan susah ditembus, deh. Lo lihat aja tadi tatapannya ke Zea, dingin tapi kayak narik perhatian Zea mulu." "Alah, paling Zea aja yang caper, makanya milih duduk di depan." Sahut Jenny meremehkan, meski dalam hati dia merasa tidak tenang. Sejak dulu, Zea selalu menjadi pusat perhatian di mana pun mereka berada. Dan kenyataan bahwa Arka berpaling kepadanya pun sebenarnya didasari oleh rasa persaingan yang Jenny pendam sejak lama. Baginya, bisa merebut Arka dari tangan Zea adalah sebuah kemenangan besar. Namun pagi ini, melihat kehadiran Sadewa Adiraja yang karismanya sanggup meredupkan pesona Arka dalam sekejap, ego Jenny kembali terusik. Dia tidak sudi melihat Zea kembali berada di atas angin. Sementara di barisan depan, Manda langsung memutar tubuhnya menghadap Zea, matanya melotot menuntut penjelasan. "Ze! Fix, ini mah ada yang enggak beres! Lo utang penjelasan sama gue. Sejak kapan lo punya urusan berdua sama dosen sekeren Pak Dewa? sikap lo perlu dievaluasi ulang, apa coba?!" Zea tidak langsung menjawab. Ia buru-buru memasukkan buku catatan dan pulpennya ke dalam tas dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Rasa dongkol, malu, dan panik bercampur menjadi satu di dadanya. "Nanti gue ceritain di kantin, Man. Gue... gue samperin dulu tuh dosen sebelum dia makin nyari gara-gara," bisik Zea frustrasi. Tanpa menunggu respons Manda, ia langsung menyampirkan tasnya di bahu dan melangkah cepat keluar kelas. Sepanjang koridor menuju ruang dosen, pikiran Zea berputar. Ia mencoba menyusun kalimat pembelaan diri. Gue harus tegas, batinnya menyemangati diri sendiri. Semalam itu murni salah paham. Dia juga salah karena mulutnya kasar duluan! Padahal dia baru saja bilang enggak suka bawa-bawa urusan pribadi ke kampus, tapi nyatanya?! batin Zea terus bergejolak, meneriakkan berbagai sumpah serapah untuk dosen barunya itu. Bagi Zea, keributan semalam itu mutlak kesalahan Dewa. Kalau saja mulut pria itu tidak sekasar dan selancang itu pada perempuan, Zea juga tidak akan sudi kehilangan akal sehat sampai nekat menyiramkan air ke wajah tampannya. Tok! Tok! Tok! Zea mengetuk pintu kayu bertuliskan 'Ruang Dosen Fakultas Hukum' dengan ragu. Setelah mendengar gumaman dari dalam yang mengizinkannya masuk, Zea memutar kenop pintu perlahan. Ruangan itu cukup luas, namun hanya ada beberapa dosen yang sibuk di meja masing-masing. Di sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap langsung ke taman samping kampus, Dewa sedang duduk di kursi kerjanya. Kacamata berbingkai tipisnya sudah dilepas, diletakkan di atas tumpukan map. Kemeja abu-abunya yang rapi membuat ketampanannya sebagai dosen muda tampak begitu menonjol di antara dosen yang lain. Zea melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan meja Dewa. Ia merapatkan kedua tangannya di depan tubuh, mencoba mempertahankan harga dirinya sebagai idola kampus. "Permisi, Pak Dewa. Saya memenuhi panggilan Bapak," ujar Zea, berusaha membuat suaranya terdengar seformal mungkin karena Dewa saat ini adalah dosen dari matakuliah penting untuk penelitian skripsinya nanti. Dewa tidak langsung mendongak. Ia sengaja membiarkan keheningan beralu selama beberapa detik sambil jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. Membuat Zea kembali mengucapkan caci maki pada laki-laki itu, di dalam hatinya. Ketika Dewa akhirnya mengangkat kepala, tatapan mata elangnya langsung mengunci manik mata Zea. "Duduk, Saudari Natasha Zealina," perintah Dewa datar, mengisyaratkan kursi kosong di hadapannya dengan gerakan dagu. Zea menelan ludah, lalu duduk dengan punggung tegak. "Pak, soal kejadian semalam di Kafe Glaze—" "Saya tidak ingin membahas masalah pribadi kita di sini," potong Dewa cepat, suaranya terdengar dingin tanpa emosi. Ia meraih sebuah map tebal berwarna merah dan menggesernya ke depan Zea. Zea mengernyitkan dahi. Ia membuka map merah itu dan mendapati lembar-lembar proposal serta draf penelitian hukum yang cukup tebal. Di bagian pojok kanan atas, tertera logo resmi Dekanat Fakultas Hukum. "Apa ini, Pak?" "Mulai hari ini, kamu saya tunjuk sebagai asisten penelitian saya untuk proyek jurnal ilmiah semester ini," lanjut Dewa, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil melipat kedua tangan di dada. Zea terbelalak. "Hah? Maksud Bapak... asisten penelitian?" "Kenapa? Keberatan?" Dewa menaikkan sebelah alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang terlihat sangat menyebalkan di mata Zea. "Prof. Subroto memberikan rekomendasi nama kamu sebelum beliau pensiun. Beliau bilang, kamu adalah mahasiswi paling cerdas di angkatan ini. Tapi setelah saya tahu mahasiswi yang dimaksud profesor adalah kamu, dan mengingat tindakan kasarmu semalam... saya sempat ragu." Zea mengepalkan tangannya di bawah meja. "Pak Dewa, semalam itu murni kesalahpahaman! Saya mengira Bapak adalah—" "Saya tahu. Kamu mengira saya adalah laki-laki dari aplikasi pencari jodoh yang mengajakmu bertemu di Kafe itu," potong Dewa lagi, kalimatnya membuat wajah Zea memerah padam karena malu. "Dan karena kekhilafan itu, jaket sweater kesayangan saya harus masuk tempat laundry pagi ini. Air es yang kamu siram semalam meninggalkan noda." Zea menggigit bibir bawahnya, benci karena dirinya berada di posisi yang kalah seperti ini. "Saya minta maaf untuk masalah jaket itu, Pak. Saya akan bayar biaya laundrynya. Tapi untuk jadi asisten penelitian..." "Tugas pertamamu adalah meringkas putusan pengadilan di bab tiga itu, ketik ulang, dan serahkan ke meja saya besok pagi jam delapan," Dewa mengabaikan penolakan halus Zea, beralih mengambil kembali kacamatanya dan memakainya secara perlahan. "Jika pengerjaannya tidak rapi, jangan salahkan saya kalau nilai ujian tengah semestermu ikut 'ternodai' seperti jaket saya semalam." Zea menarik napas dalam-dalam, menahan diri agar tidak kembali menyiramkan segelas air ke wajah tampan di hadapannya ini. Dosen barunya ini benar-benar memanfaatkan jabatan untuk membalas dendam secara elegan! "Baik, Pak. Ada lagi?" tanya Zea dengan nada yang ditekan, menahan kesal. "Tidak ada. Selamat bekerja, Asisten Zea." Zea langsung menyambar map merah itu, berdiri dari kursi, dan berbalik melangkah pergi dengan hentakan kaki yang sengaja diperkeras. Namun, baru dua langkah menuju pintu, suara berat Dewa kembali menghentikannya. "Satu hal lagi, Zea." Zea menghentikan langkahnya di dekat pintu, menoleh dengan malas. "Iya, Pak?" Dewa mengetuk pulpennya di atas meja, menatap Zea datar. "Besok pagi jam delapan, selain membawa ringkasan putusan pengadilan, bawa juga es teh manis ke ruangan saya. Jangan terlalu manis, dan esnya sedikit. Kalau sampai kemanisan atau esnya terlalu banyak... tugas ini saya anggap gagal." "Maksud Bapak ap—" "Silahkan keluar." Potong Dewa tak perduli dengan kekesalan di wajah Zea. Zea mengepalkan tinjunya. Pria ini benar-benar gila! Ia pun menutup pintu ruang dosen dengan hentakan pelan, mengembuskan napas panjang untuk meredakan emosinya. "Dosen gila, otoriter, pendendam!" makinya habis-habisan dengan suara berbisik. Tepat saat ia melangkah menjauh dari koridor, ponsel di sakunya bergetar panjang. Zea merogohnya dengan malas, mengira itu pesan dari Manda yang sudah tidak sabar menunggu penjelasan darinya. Namun, sebaris nama di layar sukses membuat langkah kaki Zea terkunci di lantai. Senja: [Zea, maaf soal semalam. Aku tahu kamu marah karena aku telat dan akhirnya kamu pergi. Tapi, apa hari ini kita bisa bicara? Aku sedang ada di kampusmu sekarang.] Mata Zea membelalak sempurna. Jantungnya berdegup kencang. Senja... ada di Kampus Erlangga?Suasana ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan terasa mencekam saat palu hakim diketuk tiga kali, menandakan dimulainya persidangan perdana gugatan cerai Gladys terhadap Shandy. Di kursi penggugat, Gladys duduk berdampingan dengan Bima, pengacara dari Adiraja & Associates yang menggantikan Dewa untuk memegang kasusnya. Gladys mengenakan kemeja putih, berusaha keras menyembunyikan tangannya yang gemetar di atas pangkuan. Di seberang meja, Shandy duduk tegap bersama kuasa hukumnya. Pria itu melempar tatapan tajam yang membuat bulu kuduk Gladys merinding."Baik, setelah pembacaan gugatan dari pihak Penggugat selesai, apakah dari pihak Tergugat ada tanggapan yang ingin disampaikan?" tanya Ketua Hakim membetulkan letak kacamata bacanya. Bima duduk tenang, jemarinya memegang pena dengan penuh percaya diri. Menurut perhitungannya, kasus ini sangatlah mudah. Bukti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami Gladys sudah lengkap, disertai rekam medis Celine.Namun, dugaan Bima
"Masih sakit?" tanya Dewa lembut, suara beratnya terdengar seperti bisikan angin malam yang menenangkan. "Nggak, kok. Udah mendingan," sahut Zea yang sudah menyandarkan kepalanya di dada bidang Dewa. Malam ini, Dewa meminta untuk ikut tidur di atas ranjang rumah sakit di sisi Zea. Karena ranjang rumah sakit tidak dirancang untuk menampung dua orang dewasa—apalagi untuk tubuh Dewa yang jangkung, posisi laki-laki itu saat ini persis seperti seekor koala jantan yang menempel pada batang pohon. Tangan Zea melingkar erat di pinggang Dewa, sementara Dewa memeluk tubuh istrinya dengan mendekapnya penuh kehangatan dan satu tangan mengusap lembut perut rata Zea. Sebenarnya, Dewa sedikit demam malam ini. Tubuhnya hangat, efek dari rasa lelah, dan stres. Namun bagi Zea, tubuh hangat suaminya itu justru menjadi tempat paling nyaman di dunia. Kamar VVIP itu baru saja tenang malam ini, setelah siang menjelang sore tadi berubah menjadi arena adu vokal keluarga besar Adiraja. Hasan,
Dewa menegakkan tubuhnya. Wajahnya menatap dingin ke arah Gladys. Tubuhnya sudah cukup lelah hari ini tanpa harus ditambah masalah wanita di hadapannya yang terus-menerus membuat Zea tegang. Rasa sesak di dadanya kian menghimpit setiap kali melihat manik mata sang istri menyiratkan kecemasan yang ditahan rapat-rapat."Maaf, Gladys—""Sebentar saja, Mas. Tolong..." potong Gladys cepat dengan nada memohon, kedua tangannya tertangkup di dada."Masalah apa? Bicara saja di sini," sahut Dewa dengan suara yang sedikit meninggi, menahan kekesalan yang hampir meluap.Zea mengalihkan pandangannya dari Dewa, beralih menatap Gladys yang berdiri gemetar seperti orang yang tengah dikejar ketakutan hebat. Ada gemuruh tak nyaman di dalam dada Zea, namun ia berusaha keras mempertahankan raut tenang di wajah pucatnya."I—ini soal kasus perceraianku.""Bukankah kamu sudah punya pengacara sendiri? Silakan hubungi Bima. Dia yang menangani berkasmu dari Adiraja Associates," cetus Dewa tegas."Tapi i
Napas Zea tercekat seketika. Manik matanya yang masih dibasahi sisa air mata bergetar hebat saat bertatapan langsung dengan Gladys. Seluruh kesadarannya yang sempat melayang akibat efek obat penenang kini telah kembali sepenuhnya. "Zea...?" panggil Dewa dengan suara serak yang bergetar. Jemari tangannya makin erat menggenggam tangan Zea yang terasa dingin bagai es. Dewa bisa merasakan bagaimana tubuh istrinya seketika menegang. "Kak... Dewa..." bisik Zea. Matanya perlahan beralih dari Gladys, menatap lurus pada garis rahang Dewa yang mengeras. "Kenapa, sayang? ada yang sakit?" tanya Dewa cemas. "Ini anak yang Kak Dewa tolong kemarin?" Dewa membeku. Ia tidak menyangka, pertanyaan yang keluar dari mulut Zea saat pertama kali ia membuka mata adalah Celine. Tepat saat Dewa akan menjawab pertanyaan itu, pintu kamar terbuka. Kedatangan Hasan menghentikan ketegangan dalam kamar. "Assalamualaikum, Zea! Ya ampun, kamu kenapa, Nak? Baik-baik aja kan?" Seru Hasan menyerbu masuk d
"Om Dewa!" seru Celine lagi dengan suara anak-anak yang polos dan nyaring, sama sekali tidak memahami suasana tegang yang merayap di sekitarnya. Balita itu melangkah mendekat sambil memegangi boneka kelinci kesayangannya. Dewa refleks membungkuk dan membopong Celine dengan hati-hati ke dalam gendongannya. "Celine," ucap Dewa lembut. Namun, ia sengaja memutar tubuhnya agar tidak berhadapan langsung dengan Gladys yang ikut melangkah mendekat demi menjaga selang infus putrinya. "Kenapa keluar dari kamar, Sayang?" "Celine mau ain sama Om Dewa..." sahutnya manja, menyandarkan kepala mungilnya di dada tegap Dewa. Dewa tersenyum tipis, mengecup lembut puncak kepala Celine. "Om belum bisa main dulu sekarang, Sayang. Celine istirahat dulu di kamar, ya?" "Mas Dewa," panggil Gladys pelan. Wanita itu melangkah menghadap Dewa dengan raut wajah serba salah. "Maaf kalau Celine mengganggumu. Biar aku gendong dia kembali ke kamar." Dewa terdiam. Ia hanya menatap sekilas wajah Gladys
Mobil SUV hitam itu melesat membelah jalanan utama kota yang kian padat. Dewa memutar kemudi dengan gerakan cepat di sebuah persimpangan, memotong arus lalu lintas tanpa mempedulikan klakson kendaraan lain yang tidak terima jalan mereka di potong begitu saja. Kepalanya berat karena panas demam, namun rasa cemasnya membuat Dewa mengabaikan rasa sakit di tubuhnya. Setiap kali mendengar jeritan Zea yang menahan sakit, pijakan kakinya pada pedal gas semakin dalam. "Sabar, Sayang... sebentar lagi sampai! Tahan ya!" seru Dewa dengan napas memburu. Kemejanya sampai lecek tak berbentuk, lebam kemerahan di lengan kirinya berdenyut perih, namun tatapannya terkunci lurus pada gedung tinggi Rumah Sakit di ujung jalan. "Manda, hubungi ruang gawat darurat! Bilang kita bawa pasien hamil muda korban kecelakaan!" perintah Dewa tegas, suara baritonnya bergetar hebat. "I-iya, Pak! Ini saya lagi nyari nomornya!" Manda di kursi belakang sibuk menekan-nekan layar ponselnya dengan tangan gemetar







