LOGIN
“Putus dari aku, kamu jadi cleaning service di sini?” tanya seseorang yang muncul di belakang Rea. Berhasil membuat gadis itu tercekat dan mematung sebentar.
Dia tahu suara itu. Dia hafal. Dia mengenalnya seperti dia mengenal suaranya sendiri. Dengan pelan tapi tanpa ragu sedikit pun, Rea berbalik perlahan. Memvalidasi sesuatu.
Dan benar saja.
Itu suara yang sama dengan yang dia duga. Suara yang menghantuinya beberapa tahun belakangan.
Seketika, memori tentang bagaimana pria itu pergi dulu, kini kembali sejelas matanya memandang.
“Bara,” sebutnya pelan. Sekarang, menyebut nama itu begitu berat untuk dia lakukan.
“Wow, hidup benar-benar nggak bisa ditebak ya Re?” lanjut Bara dengan senyum tersungging. Terlihat seperti mencemooh gadis itu dari ujung rambut hingga ke ujung sepatu kanvas usangnya.
Rea tidak menjawab. Tapi tangannya yang sedang menggenggam satu kantong sampah plastik besar hitam di kirinya, mengepal lebih erat seiring ingatannya terlempar ke malam di mana dia memohon sambil menangis-nangis di kaki pria itu agar tidak meninggalkannya dulu.
“Baby…. Kamu kenal orang ini?” tanya sosok yang menghampiri mereka. Melihat bagaimana jemarinya langsung merangkul lengan Bara, Rea tahu itu adalah calon istrinya.
“Eh Baby. Iya. Ini teman aku dulu. Ternyata sekarang dia kerja di sini,” ucap Bara memperkenalkan Rea. “Sebagai cleaning service,” lanjutnya penuh penekanan.
“Ooooh….” Gadis itu juga tidak ketinggalan menatap penampilan Rea, yang tengah memakai rompi ivory, bertuliskan trainee* di salah satu sisinya.
“Aku nggak tahu kamu punya teman seorang cleaning service, Baby."
Sadar menjadi pusat pembahasan pasangan di hadapannya, Rea benar-benar tidak berkutik. Dia hanya ingin menunduk. Menghindari pandangan Bara yang seolah menelanjanginya.
“Memang tidak punya. Dulu kami berteman saat dia belum menjadi tukang bersih-bersih seperti sekarang,” tegas Bara menggaris bawahi bahwa kini mereka tidak berteman lagi. Tidak ada hubungan lagi. Bahwa sekarang dia hanyalah tukang bersih-bersih di mata pria itu.
“Oh oke. Kalau gitu aku lanjut lihat-lihat bagian panggung dulu ya. Kalau udah ngobrolnya, kamu langsung nyusul aja.” Wanita itu berlalu, menghampiri Banquet manager yang sedari tadi menatap mereka dari jauh.
“Saya juga permisi,” timpal Rea ketika kini hanya tersisa mereka berdua.
“Nggak usah buru-buru lah. Ngobrol dulu. Sampah-sampah itu bisa menunggu, kan?” seru Bara yang berhasil menghentikan langkah Rea.
“Bara, saya sedang bekerja. Kamu kesini punya keperluan, kan? Tolong lanjutkan kegiatan kamu, dan aku lanjutin kegiatanku. Boleh?” pinta Rea dengan suara pelan. Tidak ingin terdengar siapapun apalagi rekan kerjanya.
“Kamu nggak senang ya ketemu teman lama di sini?”
“Teman lama?” Suara Rea tercekat di kerongkongan. Tidak pernah sekalipun dia menganggap pria itu adalah temannya.
“Kenapa? Harusnya mantan ya? Mau banget kamu aku akuin sebagai mantan? Oooooh Amarea…. Belum move on kamu?” Kalimat Bara terucap sambil ia melipat kedua lengannya di depan dada. Angkuh.
Rea menggeleng-gelengkan kepala. Bukan karena mengiyakan, tapi menyayangkan. Ia mengenal pria itu bertahun-tahun. Dia tahu betul, menjawabnya hanya akan membuat pria itu terprovokasi, dan jelas dia tidak mau buat keributan di tempat kerjanya ini.
Jadi, untuk mencegah agar diskusi ini tidak memanjang, sekali lagi gadis itu berusaha menjauh. “Permisi. Saya benar-benar harus melanjutkan pekerjaan saya.”
“Sebagai cleaning service, kamu mestinya nggak sesombong ini, Rere!” gertak Bara menahan lengan gadis itu cepat. Dengan keras. “Kamu harusnya bersyukur aku masih mau nyapa saat kamu sedang mungut sampah.”
“Lepasin, Bara. Please…” pinta Rea sedikit panik dengan sentuhan itu.
“Lepas? Sekarang kamu bahkan nggak pantas buat nyuruh aku apapun! Apa kamu nggak sadar keadaanmu sekarang serendah apa untuk bersuara?”
Rea tercengang. Itu kalimat terkejam yang pernah seseorang ucapkan padanya.
“Kalau saya emang serendah itu di mata kamu, harusnya kamu nggak perlu nyapa bahkan nyentuh saya sedikit pun!” cecar gadis yang berhasil membebaskan tangannya dengan satu tarikan keras. Air matanya nyaris menetes saat sebuah suara tiba-tiba menyela.
“Sayang? Aku tahu kamu bertanggung jawab atas event yang tadi. Tapi aku rasa kamu nggak perlu sampai ngurusin kebersihannya juga deh. Kamu janji mau nemenin aku makan siang loh,” tutur seseorang yang baru saja masuk ke ballroom, dan langsung menghampirinya.
Rea dan Bara sontak berbalik menatap pemilik suara. Pria tinggi memakai kemeja linen navy, yang langsung merangkul gadis itu akrab.
Kalau saja Bara tidak berdiri di sana, dia mungkin sudah memekik kaget.
Mata Rea membulat. Kata-kata sanggahan sudah nyaris terlontar, tapi terbungkam karena telapak tangan pria itu lebih dulu turun mengusap perlahan dari bahu, leher, turun ke sepanjang punggung, hingga merangkul pinggangnya erat.
Sapuan yang panjang, tenang, dan sensual, membuat Rea merinding halus. Pria itu bahkan membalas tatapan Rea dengan alis terangkat diikuti sebuah anggukan kecil.
Saat itulah Rea menangkap maksudnya. Kalau dia hanya perlu mengikuti sandiwara apapun ini.
“O-oh aku hampir lupa, M-mas. Tadi tim cleaning kurang personil. Jadi aku bantuin aja sekalian,” balas Rea sedikit terbata. Tidak lupa menarik sedikit senyum pada siapapun orang yang tengah menyentuhnya itu.
Sedang di hadapan mereka, raut Bara ikut berubah. Tatapannya berpindah antara Rea dan pria baru yang merangkul gadis itu. Kerutan di dahinya muncul, menyiratkan rasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar juga saksikan.
Hanya dari gestur dan ucapan mereka, harusnya Bara bisa menangkap apa status keduanya. Tapi, ia tak melakukan apapun di hadapan pria yang jelas-jelas tampak lebih tinggi darinya.
“Pantesan. Terus ini siapa sayang?” tanya pria itu menatap Bara.
“Tamu hotel, Mas. Lagi datang cek venue buat nikahannya.”
“Oh selamat ya. Semoga ballroom ini sesuai sama selera, dan….” Ia menatap Bara dari ujung kepala hingga kaki, sebelum balik lagi ke matanya. “Budgetnya.”
Mendengar itu, rahang Bara mengeras. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi dia terlihat tidak senang, dan Rea menyadari itu.
“Tentu. Kalau begitu, saya permisi,” ucap Bara singkat dan berlalu.
Kalimat itu sukses membuat gadis yang sedari tadi engap tersebut, berangsur lega. Gadis yang lupa kalau masih ada seseorang yang merangkul pinggangnya mesra.
“Ehm.”
Deheman yang menarik Rea kembali menatap pria tinggi bermata cokelat di sampingnya.
“Eh, saya minta maaf atas kejadian barusan, Pak. Sekaligus berterima kasih, karena Bapak sudah bantu saya tadi,” tutur Rea tulus sambil menatap mata sosok itu.
Dari penampilannya, Rea bisa menebak dia pasti seseorang dengan jabatan di hotel ini. Apapun itu, dia harus sopan.
“Setelah pekerjaanmu di sini selesai, tolong ke ruang saya segera,” tuntutnya sebelum berjalan keluar ballroom, meninggalkan Rea yang kebingungan dan tidak diberi kesempatan untuk bertanya.
‘Ruangan? Ruangan apa? Ruang HRD kah? Bakal dipecat kah?!’
*Trainee: Trainee adalah calon karyawan yang sedang mengikuti pelatihan kerja di bawah bimbingan perusahaan. Haiiiii.... Apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat, bahagia dan berlimpah hal-hal menyenangkan ya.. Semoga juga, kisah cindeREA ini sesuai sama selera kamu. Kalau iya, jangan lupa tambahin ke pustaka. Jadi kamu bisa dapat notifikasi tiap bab baru muncul. Happy reading, Beeeees♡
"Pacar siapa memangnya Ru? Hari ini Rea terlihat single. Dari tadi sendiri. Saya nggak lihat tuh ada cowok yang nemenin dia?" cibir Kartika tajam menatap sepupunya itu lekat.Rea tidak bereaksi apapun.Tapi Rumi, pria itu tersenyum. Dia tetap tenang.“Sendiri bukan berarti Rea jomblo. Saya rasa semua orang di sini tahu Rea pasangan saya, Mbak.”“Bahkan wanita yang di jari manisnya sudah ada cincin pernikahan sekalipun, kalau dia terbiasa terlihat sendirian, mau satu dunia tahu dia milik siapa, akan ada cowok lain yang nekat ngerebut dia,” tambah Kartika tidak kendor.Kalimat gadis itu terdengar seperti peringatan bagi Rumi, dan sebuah sanjungan dari Rea, meski dia tidak yakin akan ada pria yang mau mendekatinya jika tahu seberapa berantakan hidupnya beberapa tahun belakang. Membuatnya kehilangan apapun termasuk kepercayaan diri.“Mbak Kartika nggak usah khawatir. Saya tahu bagaimana cara menjaga pasangan saya,” ungkap Rumi penuh keyakinan.“Benarkah seperti itu, Rumi? Karena sejak tad
Sejak pertanyaan Rumi hari itu, sebulan yang lalu, hubungan mereka berdua benar-benar hanya sepasang kontrak. Tidak ada basa-basi yang tidak perlu. Terlebih sentuhan yang terlepas. Mereka benar-benar menjadi atasan dan bawahan yang tidak jauh-jauh dari pekerjaan semata.Bahkan untuk sekedar bertatap mata di luar masalah kerjaan, Rumi enggan.Tapi mereka masih begitu sangat profesional di luar sana, terlebih di media. Rea masih mendampinginya kemanapun Rumi butuh.Tapi sisanya? Nol.Pria itu benar-benar menghindari Rea.Dan hal tersebut membuat Rea makin kebingungan.Satu sisi dia berterima kasih karena dengan sikap Rumi yang demikian, perasaannya sukar tumbuh lebih dalam. Dia hanya perlu fokus menjalankan tugasnya.Tapi di sisi lain? Melihat pria itu menjadi begitu acuh ternyata bukan hal yang dia sukai.Seperti hari ini. Mereka sedang berada di salah satu pernikahan keluarga Rumi. Rea memakai kebaya manis berwarna maron, yang diimbangi dengan warna batik Rumi yang senada.“Kalian bai
“Cantik. Cantik sekali.”Mendengar itu, nyaris saja Rea merona. Syukurnya pagi ini nyawanya cepat terkumpul. Jadi ketika Rumi mengatakan bahwa dia cantik, ingatan tentang semua kekesalannya pada pria ini belakangan langsung terbayang.“Good morning…” sapa Rea sambil tersenyum.“Morning, Cinderea,” sambut Dista yang langsung naik ke samping gadis itu. “Dista lapar.”Kedua alis Rea terangkat. Matanya mencari Rumi di samping seolah meminta penjelasan kenapa anak-anak itu lapar.“Anak-anak belum sarapan?”“Belum. Hari ini jadwal libur semua asistern rumah tangga. Jadi subuh-subuh tadi sudah berangkat,” jelasnya.“Chef Anton juga?” tanya Rea lagi menyebutkan nama chef yang biasa menangani makanan di penthouse itu.“.." Rumi hanya mengangguk.“Kalau Anton libur, kalian biasanya sarapan apa?”“Mama nginap.”“Kali ini kenapa nggak nginap?”“Aku bilang nggak perlu. Karena ada kamu.”Mendengar itu Rea cepat-cepat duduk. Anak-anak pun berlarian keluar kamar, meninggalkan dua orang dewasa itu sen
Dante yang sama sekali tidak merasa ada yang aneh, hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Oh, tadi gue ketemu Rea di coffee shop dekat sini. Sekalian aja gue antar pulang. Kasihan sendirian. Katanya lu sibuk, soalnya.”Rea mengangkat wajah.“Gimana? Udah nganter Maudi?” tanya Rea to the point. Sedikit kelepasan.“Loh, lo nganter Maudi, Rum?” Dante spontan menoleh ke Rumi..Rea tersenyum tipis. Sinis.Tanpa menunggu jawaban siapa pun, dia maju ke pintu.“Ya sudah, kalian ngobrol aja,” ucapnya ringan. “Aku masuk dulu. Sudah ngantuk banget.”Sebelum masuk, Rea sempat menoleh kepada Dante. “Oh iya, Mas Dante. Makasih ya, sudah nganterin.”“Sama-sama, Dek Rea,” ucap Dante yang kemudian menepuk bahu Rumi sekali. “Gue cabut dulu.” Dia menahan tawa melihat ekspresi Rumi. “Good luck.” Lalu pergi begitu saja.Sayangnya Rumi kurang lincah hingga pintu unit di depannya lebih dulu tertutup saat Dante pamitan.TOK TOKTidak ada jawaban. Begitu pula dengan beberapa ketukannya kemudian. Di
Ruang tamu kembali sunyi. Rea melihat mereka pergi dengan pandangan yang menyesakkan. Dia tahu dia salah. Tapi Rumi berlebihan. Bahkan untuk sekedar ikut menemani anak-anak pun tidak diizinkan.Rea akhirnya membuka laptop yang dibawakan oleh Bene. yang katanya berisi file medical record anak-anak.Dia membacanya dari halaman pertama.Riwayat kesehatan. Alergi. Obat. Pola makan. Jadwal pemeriksaan. Catatan dokter. Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya.Setelah selesai dengan Dista, dia membuka milik Desta.Jam bergeser tanpa dia sadari. Bahkan saat mata Rea mulai terasa kering, dia tetap membaca.Dia mencatat beberapa poin penting di sebuah dokumen terpisah. Sesekali mengulang bagian yang tidak dia pahami.Sampai akhirnya suara pintu terdengar.Rea mengangkat wajah.Rumi masuk. Dista berada dalam gendongannya, sedang Ammar membawa Desta di dekapannya.Dan….Dan Maudi masih ada.“Tante Rea!” sapa kedua anak itu lagi-lagi serempak ketika turun dari gendongan
Keesokannya, Rea menghubungi nomor ponsel Ammar, sopir Rumi, sebelum bersiap mandi.“Saya ikut jemput Dista dan Desta pulang sekolah hari ini, ya, Pak,” ujar Rea sambil meroll rambut di depan cermin. “Tapi nggak usah kasih tahu Pak Rumi.”“Oh baik, Bu,” sahut Ammar dari seberang telepon. “Saya jemput Ibu Rea dulu di apart berarti? Atau di mana?” tanya pria itu memastikan.“Di apart, Pak.” Rea tersenyum kecil membayangkan reaksi anak-anak. Setidaknya hari ini dia bisa menebus sedikit kesalahannya semalam pada dua kembar favoritnya itu.Begitu mobil tiba, mereka langung ke sekolahan Dista dan Desta. Lumayan jauh. Dia bingung kenapa Rumi harus memilih sekolah sejauh ini dari rumah. Tapi syukurnya, tidak ada pesan dari pria itu sejak pagi. Tidak ada pertanyaan. Tepat seperti yang dia inginkan.Saat Dista dan Desta melihatnya di depan gerbang sekolah, keduanya langsung berlari menghampiri.“Cinderea!”“Tante Rea!” seru Desta bergantian dengan mbaknya, sambil meraih tangan Rea.“Gimana seko







