แชร์

CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!
CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!
ผู้แต่ง: brokolying

CHAPTER 1

ผู้เขียน: brokolying
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-27 10:08:20

“Nah, kalau ini ballroom utama kami. Lebih besar dari yang tadi, dengan gaya European classic. Bapak Ibu perlu melakukan reservasi kurang lebih dua tahun sebelumnya kalau memilih yang ini.”

Rea reflek menganga sedikit sambil berbalik mencari arah suara itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tiga orang masuk beriringan ke dalam ballroom. Dari pakaian dan papan nama di blazernya, ia tebak salah satu dari mereka adalah seorang banquet manager. Seseorang yang bertanggung jawab mengelola acara-acara yang akan diadakan di hotel tersebut.

Tidak berhenti hanya mengecek asal suara, Rea bahkan ikut mendengarkan penjelasan wanita itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Kebetulan dia sedang berdiri tepat di samping pintu masuk, dengan plastik sampah hitam besar di genggamannya.

Matanya naik menatap chandelier megah di tengah ruangan yang sedang menjadi objek penjelasan. Dia tidak berkedip melihat betapa indahnya lampu itu.

“Woooow.…” bisiknya pelan. Spontan.

Rea bertanya-tanya mengapa dia baru memperhatikan benda tersebut, padahal sudah berdiri di ruangan itu sejak sejam yang lalu.

Sejak dulu, gadis itu selalu punya bayangan akan menikah di ballroom yang mewah seperti ini. Jadi sekarang, mendengar gadis lain akan dirayakan seroyal itu, entah kenapa hati kecilnya ikut bahagia. Baginya, semua perempuan berhak mendapatkan hal-hal mewah.

“Gimana Baby? Suka?” tanya satu suara. Pria. 

Suara yang sontak membuat Rea menegang.

“Suka. Aku suka kemewahannya. Luasnya juga pas. Tamu kita kan banyak, Baby,” sahut suara lainnya. “Tapi dua tahun…. Itu terlalu lama.”

Rea berbalik pelan. Pelan sekali. Dia harus mematikan sesuatu.

Dan benar saja.

Itu suara yang sama dengan yang dia duga. Suara yang menghantuinya beberapa tahun belakangan. Cepat-cepat dia memutar badannya kembali. Pemilik suara itu tidak boleh melihatnya di sini. Mereka tidak seharusnya bertemu di mana pun.

Rea kembali fokus pada tugasnya. Hanya, kali ini lebih senyap. Dia berusaha tidak mengeluarkan suara sedikit pun dalam tiap gerakannya.

Tapi kalau Rea bisa mengenali suara pria itu bahkan sebelum melihat wajahnya, itu berarti pria itu juga bisa mengenalinya meski hanya melihat punggung gadis itu.

“Amarea?” Sapa yang membuat mata Rea memejam. Gadis itu menggigit bibirnya. Dia bisa merasakan bulu kuduknya meremang. Nafasnya tertahan.

Apa Rea merespon? Tidak. Dia melanjutkan pekerjaannya seolah-olah tidak mendengar apapun. Dengan lincah dia memasukkan beberapa kertas bekas juga tisu dari meja ke dalam kantong sampah di tangan kirinya.

“Hey!” Panggil suara itu sekali lagi. Hanya, sekarang pria itu sambil menarik bahunya. “Ternyata benar kamu,” katanya dengan senyum tersungging. Menatap gadis itu dari ujung rambut ke ujung sepatu canvas usangnya.

Rea melihat sosok di hadapannya dengan pandangan paling datar yang dia punya. Ingatannya terlempar ke beberapa tahun silam, di mana dia memohon sambil menangis-nangis di kaki sosok itu agar tidak meninggalkannya.

“Kerja di sini kamu sekarang?” tanyanya lagi, yang belum juga bisa dijawab oleh Rea.

Dia masih sibuk dengan memorinya. Bagaimana pria itu pergi tanpa berbalik. Pria itu benar-benar pergi tanpa ragu sedikit pun waktu itu. Begitu yakin kalau yang dia lakukan benar dan terbaik.

“Bara.” Sapa Rea akhirnya. Pelan. Sekarang, menyebut nama itu terasa begitu susah untuknya.

“Kamu cleaning service di sini?” Lanjut Bara dengan nada yang tidak Rea suka. “Wow, hidup benar-benar tidak bisa ditebak ya Re?”

Rea mengenal pria itu bertahun-tahun. Dia tahu betul, menjawabnya hanya akan membuat pria itu terprovokasi. Jadi yang dia lakukan hanya senyum dan mengangguk. Membenarkan.

“Baby…. Kamu kenal orang ini?” tanya sosok yang menghampiri mereka. Melihat bagaimana jemarinya langsung merangkul lengan Bara, Rea tahu itu adalah calon istrinya.

“Eh Baby. Iya. Ini teman aku dulu. Ternyata sekarang dia kerja di sini,” ucap Bara memperkenalkan Rea. “Sebagai cleaning service,” lanjutnya penuh penekanan.

“Ooooh….” Gadis itu juga tidak ketinggalan menatap penampilan Rea, yang tengah memakai rompi ivory, bertuliskan trainee di salah satu sisinya.

“Aku nggak tahu kamu punya teman seorang cleaning service, Baby.”

Sadar menjadi pusat pembahasan pasangan di hadapannya, Rea benar-benar tidak berkutik. Dia hanya ingin menunduk. Menghindari pandangan Bara yang seolah menelanjanginya.

“Memang tidak punya. Dulu kami berteman saat dia belum menjadi tukang bersih-bersih seperti sekarang,” jawab Bara menggaris bawahi bahwa mereka memang kini tidak berteman lagi. Tidak ada hubungan lagi. Bahwa sekarang dia hanyalah tukang bersih-bersih di mata pria itu.

“Oh oke. Kalau gitu aku lanjut lihat-lihat bagian panggung dulu ya Baby. Kalau udah ngobrolnya, kamu langsung nyusul aja.” Wanita itu berlalu, menghampiri Banquet manager yang sedari tadi menatap mereka dari jauh.

“Saya juga harus lanjut bersih-bersih. Permisi,” ucap Rea ketika kini hanya tersisa dia dan pria tersebut.

“Nggak usah buru-buru lah. Ngobrol dulu. Sampah-sampah itu bisa menunggu, kan?” seru Bara yang berhasil menghentikan langkah Rea.

“Bara, saya sedang bekerja. Kamu kesini dengan keperluan, kan? Tolong lanjutkan kegiatanmu, dan aku lanjutkan kegiatanku. Boleh?” pinta Rea dengan suara pelan. Tidak ingin terdengar siapapun selain mereka berdua.

“Kamu nggak senang ya ketemu teman lama di sini?”

“Teman?” Suara Rea tercegat di kerongkongan. Tidak pernah sekalipun dia menganggap pria itu adalah temannya.

“Kenapa? Haruskah ku sebut mantan? Mau banget kamu aku akuin sebagai mantan? Oooooh Amarea…. Belum move on kamu?” Kalimat Bara terucap sambil ia melipat kedua lengannya di depan dada. Angkuh.

Rea menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mau diskusi ini menjadi lebih panjang, sekali lagi gadis itu berusaha menjauh. “Permisi. Saya benar-benar harus melanjutkan pekerjaan saya.”

“Sebagai cleaning service, kamu seharusnya tidak sesombong ini, Rere,” ucap Bara menahan lengan gadis itu cepat. Dengan keras. “Kamu harusnya bersyukur aku masih mau menyapamu saat kamu sedang memungut sampah.”

“Lepasin, Bara,” pinta Rea sedikit panik dengan sentuhan itu.

“Sekarang kamu bahkan nggak pantas buat menyuruhku apapun, Re! Apa kamu nggak sadar keadaanmu sekarang serendah apa untuk bersuara?”

Rea tercengang. Itu kalimat terkejam yang pernah seseorang ucapkan padanya. Air matanya nyaris menetes saat sebuah suara tiba-tiba menyela.

“Sayang? Aku tahu kamu bertanggung jawab atas event yang tadi. Tapi kurasa kamu tidak perlu sampai ngurusin kebersihannya juga deh. Kamu janji mau temenin aku makan siang loh,” tutur seseorang yang baru saja masuk ke ballroom, dan langsung menghampirinya.

Rea dan Bara sontak berbalik menatap pemilik suara. Pria tinggi memakai kemeja linen navy, yang langsung merangkulnya. 

‘Ini siapa? Kenapa tiba-tiba manggil aku kayak gitu?!’

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 5

    Setelah reflek memekik keras, jantung Rea berdentum habis-habisan. Kepalanya langsung dipenuhi berbagai tuduhan. Apa pria itu sengaja? Apa pria itu punya niat yang nggak-nggak? Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.Terlebih pria itu butuh beberapa detik sebelum ia tersadar dan memalingkan badannya.“Maaf.” Suaranya terdengar bersalah dan hendak menutup pintu kembali. “Saya pikir kamu….”Di samping rasa kesalnya, otak gadis itu tiba-tiba berpacu. Sambil menggigit bibirnya, sesuatu terlintas.Mustahil baginya menggunakan baju itu tanpa bantuan orang lain. Tangannya sudah pegal mencoba menaikkan resleting sejak tadi, tapi gagal berulang kali.“Tunggu!” seru Rea menghentikan langkah bosnya itu, dengan wajah memerah menahan malu. “B-boleh minta tolong nggak Pak?”Rumi tidak bergerak. Dia fokus mendengar.“Dari tadi aku susah menggapai resletingnya. Boleh to….”“Kamu yakin saya boleh menoleh?” tanya pria itu memotong kalimat Rea.Gadis itu mengangguk kecil yang kemudian sadar kalau Rumi bah

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 4

    “Mulai hari ini banget ya Pak kontraknya? Eh emang Bapak butuh pasangan apa jam segini?” tanya Rea was-was, mengingat ini sudah nyaris senja, ditambah informasi baru bahwa kemungkinan besar bosnya tidak gay karena memiliki anak.Lagi-lagi Rumi menghela napasnya kasar. “Malam ini ada undangan pernikahan rekan bisnis yang perlu saya hadiri. Kamu harus dampingin saya.”Entah sudah berapa kali hari ini Rea tersentak. Tidak cukup dia kaget karena mendapat tugas secepat itu, tapi fakta kalau dia harus menghadiri sebuah pesta langsung membuatnya syok.‘Mau pakai baju apa aku?’ tanyanya pada diri sendiri, sambil menunduk cepat melihat sepatu bututnya. Converse yang entah sudah berumur berapa tahun itu.“Pak….” kalimat Rea tertahan. Dia memilih menatap pria itu terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimat bingungnya. “Pakai baju seperti ini?”Pria itu sontak menatap Rea dari atas sampai bawah sambil berpikir sejenak.“Ikut aku.” Rumi melepaskan genggamannya lalu mulai berjalan ke arah pintu.“K

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 3

    Sontak, Rea terdiam. Air matanya juga berhenti mendadak mendengar kalimat yang barusan. Dengan mata yang masih sembab, dia sekali lagi memberanikan diri untuk mendongak. Menatap mata atasannya.“M-maksud Bapak?”“Jadi pasangan saya,” ulang Rumi sekali lagi dengan senang hati.Rea mengerjap. Tangannya naik menyentuh kedua kupingnya. Memastikan dua organ itu masih menempel di sana, dan dia tidak salah dengar.“Maaf. Maksud Bapak pasangan itu…. seperti bos dan karyawan?”Rumi menggeleng kecil. “Pasangan. Laki-laki dan perempuan.”Sebuah rumor lama tentang Rumi langsung melintas di kepala Rea. Ia terkekeh pelan. Dia memang lemah dalam hal menahan tawa saat ada hal-hal yang menurutnya lucu.Dulu, pernah beredar kabar bahwa pria itu menyukai sesama jenis. Tentu saja Rea tidak tahu apakah rumor itu benar atau hanya gosip karyawan. Namun, kalau dipikir-pikir….Jangan-jangan tawaran ini ada hubungannya dengan rumor tersebut?Mungkin Rumi ingin menutupinya dengan memiliki seorang pasangan perem

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 2

    Rea hampir memekik kalau saja Bara tidak sedang berdiri di depannya. Dia reflek menoleh ke samping, menatap pria yang entah siapa, tapi berdiri begitu dekat, dengan sebelah lengannya melingkar santai di bahu gadis itu.Rea mengerjap. Matanya membulat. Kata-kata sanggahan sudah nyaris terlontar, tapi telapak tangan pria itu lebih dulu turun mengusap pelan punggungnya. Sapuan yang panjang dan tenang, membuat Rea menegang mendadak. Pria itu bahkan membalas tatapan Rea dengan alis terangkat diikuti sebuah anggukan kecil.Saat itulah Rea menangkap maksudnya. Kalau dia hanya perlu mengikuti sandiwara apapun ini.“O-oh aku hampir lupa, M-mas. Tadi tim cleaning kurang personil. Jadi aku bantuin aja sekalian,” ucap Rea sedikit terbata. Tidak lupa menarik sedikit senyum pada siapapun orang yang tengah menyentuhnya itu.Sedang di hadapan mereka, raut Bara ikut berubah. Tatapannya berpindah antara Rea dan pria baru yang merangkul gadis itu. Kerutan di dahinya muncul, menyiratkan rasa tidak perca

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 1

    “Nah, kalau ini ballroom utama kami. Lebih besar dari yang tadi, dengan gaya European classic. Bapak Ibu perlu melakukan reservasi kurang lebih dua tahun sebelumnya kalau memilih yang ini.”Rea reflek menganga sedikit sambil berbalik mencari arah suara itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tiga orang masuk beriringan ke dalam ballroom. Dari pakaian dan papan nama di blazernya, ia tebak salah satu dari mereka adalah seorang banquet manager. Seseorang yang bertanggung jawab mengelola acara-acara yang akan diadakan di hotel tersebut.Tidak berhenti hanya mengecek asal suara, Rea bahkan ikut mendengarkan penjelasan wanita itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Kebetulan dia sedang berdiri tepat di samping pintu masuk, dengan plastik sampah hitam besar di genggamannya.Matanya naik menatap chandelier megah di tengah ruangan yang sedang menjadi objek penjelasan. Dia tidak berkedip melihat betapa indahnya lampu itu.“Woooow.…” bisiknya pelan. Spontan.Rea bertanya-tanya mengapa dia baru m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status