Share

CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!
CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!
Author: brokolying

CHAPTER 1

Author: brokolying
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-27 10:08:20

Kesalahan terbesar Amarea bukanlah menjual hotel peninggalan orang tuanya, melainkan menandatangani kontrak hubungan palsu dengan pria yang seharusnya tetap menjadi bosnya saja.

Awalnya Rea pikir, selama bayarannya oke, berpura-pura menjadi pasangan seseorang bukanlah pekerjaan yang sulit.

Namun setelah kontrak itu berjalan kurang lebih seminggu, kewarasan Rea sudah nyaris terkuras habis.

Ternyata, Rumi Rajendra memiliki standar ‘pacar palsu’ yang tidak masuk akal!

Di minggu pertama, Rea dikirimkan setumpuk file untuk dia hafalkan. Harus hafal!

Dari informasi personal pria itu, kronologi mereka kenal hingga bisa pacaran, sampai segambreng protokol jawaban yang harus Rea ingat di luar kepala kalau-kalau mereka mendapat pertanyaan tak terduga dari siapapun.

“Gimana? Sudah kamu hafalin semuanya?” tanya Rumi yang tiba-tiba menelpon Rea ketika gadis itu baru bangun tidur. Sudah seminggu tidurnya kurang karena hafalan-hafalan itu.

“Sudah, Pak.”

“Bagus. Kalau begitu, ke penthouse jam tujuh malam. Saya tunggu,” titah pria itu, membuat Rea reflek menegakkan duduknya.

“Malam ini? Ada apa, Pak?”

“Temani saya.”

Sambungan telepon itu terputus begitu saja bersama dengan melonjaknya rasa gugup Rea.

“Temani saya? Emang dia mau ditemani ngapain malam-malam?” gumam gadis itu berusaha sekuat tenaga menyingkirkan pikiran-pikiran jelek yang langsung muncul, sambil melihat jam pada layar ponselnya.

Dua jam lagi. Dia harus bergegas.

Setelah mandi, Rea langsung menuju hotel milik Rumi.

Penthousenya berada di gedung hotel yang sama. Rea harus melewati jalur akses masuk khusus untuk bisa naik ke sana. Semua sudah diterangkan di file yang seharusnya sudah dia hafal itu. Harusnya.

“Masuk ke ruangan itu. Di dalam ada lemari pakaian yang isinya bisa kamu pilih satu untuk digunakan malam ini,” cetus Rumi sambil menunjuk satu pintu secara spesifik.

“Baju-baju itu milik siapa? Saya nggak berani memakai sesuatu yang bukan milik saya, Pak,” tolak Rea sopan.

“Pakai saja. Baju-baju itu saya belikan untuk mantan istri saya dulu sebelum kami bercerai.”

Kalimat tersebut membuat Rea terdiam, dan hanya mengangguk kecil.

Tidak bertanya lebih jauh adalah satu-satunya pilihan. Gadis itu memilih menutup mulutnya rapat-rapat dan menuruti perintah Rumi. Mantra barunya terngiang-ngiang.

‘Lakukan tugasmu, dan ambil gajimu.’

“Satu jam lagi, saya ke sini. Cukup untuk siap-siap, kan?” tanya pria itu lagi sebelum berlalu entah kemana.

“Tentu Pak,” jawab Rea yakin, yang kemudian dia sesali. Karena setelah berkeliling, ia mendapati hampir semua baju yang ada di ruangan itu berukuran satu size lebih rendah dari ukurannya.

“Habislah aku! Selangsing apa mantan istri pria itu?”

Setelah makeup seadanya, Rea terduduk di lantai. Putus asa di depan sebuah cermin raksasa dan beberapa pakaian yang tidak berhasil dia gunakan.

Gadis itu sudah siap untuk menyerah saat matanya menangkap pantulan gaun merah di belakang. Sebelum beranjak, dia berdoa pada Tuhan, untuk gaun itu harus muat bagaimanapun juga.

Dan Tuhan mengabulkan doanya. Tapi….

"Kamu sudah selesai?"

Suara berat itu datang bersamaan dengan bunyi pintu yang terbuka. Membuat Rea membeku. Tangannya masih dalam posisi berusaha menggapai resleting di belakangnya.

“Bapak!!!!”

Rumi sudah terlanjur berdiri di sana. Di ambang pintu. Menatap punggungnya yang masih terekspos begitu saja.

Setelah reflek memekik keras, jantung Rea berdentum habis-habisan. Kepalanya langsung dipenuhi berbagai tuduhan. Terlebih Rumi butuh beberapa detik sebelum dia tersadar dan memalingkan badannya.

“Maaf.” Suaranya terdengar bersalah dan hendak menutup pintu kembali. “Saya pikir kamu sudah selesai.”

Di samping rasa kesalnya, otak gadis itu tiba-tiba berpacu. Dia sadar mustahil baginya menggunakan baju itu tanpa bantuan orang lain. Tangannya sudah pegal mencoba menaikkan resleting sejak tadi, tapi gagal berulang kali.

“Tunggu!” seru Rea menghentikan langkah bosnya itu, dengan wajah memerah menahan malu.  “B-boleh minta tolong nggak Pak?”

Rumi tidak bergerak. Dia fokus mendengar.

“Dari tadi saya susah menggapai resletingnya. Boleh tolo….”

“Kamu yakin saya boleh menoleh?” tanya pria itu memotong kalimat Rea.

“Iya. T-tapi, jangan lihat yang lain! Jangan sentuh yang lain! Hanya resleting!”

“Tentu.” Rumi terdiam sesaat, lalu menghela napas tipis. “Memangnya kamu pikir saya akan melakukan apa selain menutup resleting?”

Pria itu berbalik perlahan. Tatapannya dia jaga habis-habisan tetap tertuju pada pantulan cermin. Bagaimanapun juga, Rea tetap punya hak penuh atas tubuhnya.

“B-bukan gitu, Pak,” sanggah Rea cepat. Menyesali ucapannya yang berlebihan.

Jarak mereka menyusut selangkah demi selangkah, hingga Rea melihat bagaimana Rumi akhirnya berdiri tepat di belakangnya.

Jemari pria itu terangkat, dan menyentuh ujung resleting gaun yang terletak di bagian terendah panggul Rea.

“Maaf,” bisik Rumi mengeluarkan kata itu sekali lagi. Hanya kali ini, suaranya terdengar semakin dekat dan berat, seiring dua jarinya menjepit kepala resleting.

Rea bisa merasa bagaimana bosnya menarik benda kecil tersebut naik perlahan. Tapi baru sekejap, gerakan itu mendadak terhenti, membuatnya mengernyit samar.

“Kenapa, Pak?” Rea bertanya pelan.

“Agak susah,” jawab Rumi singkat.

Rea langsung menegakkan posturnya, sebelum pria itu mencoba menarik lagi. Tapi tetap saja. Resleting tersebut seolah enggan diajak bekerja sama. Rumi bahkan sempat mengubah posisi jemarinya sebelum kembali berupaya dengan lebih hati-hati.

Selama proses itu, Rea hanya bisa berdiri mematung sambil berharap agar semuanya segera selesai. Rasanya terlalu aneh berada sedekat ini dengan bosnya sendiri,  apalagi dengan punggung yang telanjang.

Gadis itu menghela napas pelan. Sampai akhirnya, pikirannya kemudian beralih pada satu hal lain. Ke pertanyaan yang sejak tadi ingin dia pastikan jawabannya.

“Pak …,” panggil Rea lirih. Rasa penasarannya sudah terlanjur muncul dan semakin sulit dibendung.

“Hm?”

“Bapak kan...” Rea menggantungkan kalimatnya, kemudian menggigit bibir bawah. “Ada rumor itu, ya?”

Rumi terdiam sejenak. “Rumor apa?”

Rea langsung menyesal. Seharusnya dia tidak perlu memulai percakapan ini. Bagaimana kalau dia dianggap lancang dan dipecat? Tapi lagi-lagi, nasi sudah menjadi bubur.

“Yang... itu…”

“Yang mana?” tanya Rumi masih terdengar santai. Jemari pria itu masih berada di punggung bawahnya, masih berusaha menaikkan resleting gaun yang entah kenapa begitu sulit ditutup.

Rea semakin gugup. Tapi, rasa penasarannya sudah di puncak gunung!

Akhirnya, tanpa sempat memikirkan kembali apakah pertanyaan itu pantas diajukan kepada atasannya atau tidak, Rea pun keceplosan.

“Bapak kan terkenal playboy. Kok Bapak malah melakukan kontrak ini sama saya? Bukannya pacar Bapak banyak?”

CTAK!

“Ugh!” pekik Rea ketika tubuhnya terasa nyaris terjepit pakas. Rupanya, resleting itu sudah berhasil dinaikkan dengan paksa.

Rea spontan menarik napas dalam-dalam sambil melihat pantulan tubuhnya di cermin.

Pantas saja dari tadi rasanya dia sulit bernapas! Ternyata gaun ini memang benar-benar terlalu ketat untuknya. Dadanya terasa sesak karena pakaian itu membungkus tubuhnya terlalu erat.

“Pak...” panggil Rea berusaha membenarkan posisi gaun itu agar lurus. “Ini bajunya…. Terlalu keta...”

Belum sempat menyelesaikan kalimat itu, tiba-tiba tubuhnya dibalik paksa.

Kini, kedua bahunya tahu-tahu sudah berada dalam genggaman Rumi. Pria itu baru saja memutar badannya hingga mereka saling berhadapan.

GLEG!

“P–Pak?”

“Gosip yang kamu dengar tentang saya belum tentu benar. Namun, saya juga tidak bisa bilang bahwa saya pria baik-baik.”

“L-lalu.. kenapa saya?”

Rumi tidak menjawab. Dia justru melangkah maju, membuat Rea refleks mundur setapak hingga punggungnya menabrak cermin raksasa.

Pria itu mengangkat tangan, menyelipkan telunjuk di bawah dagu Rea, lalu mendongakkan gadis itu untuk menatapnya.

Gerakan yang membuat napas Rea tertahan. Jarak wajah mereka menjadi begitu dekat hingga dia bisa melihat jelas sorot mata pria itu yang tenang, tajam, seolah tak sedikit pun meragukan ucapannya sendiri.

“Bukankah akan lebih menarik jika kamu cari tahu sendiri jawabannya? Hm?” bisik Rumi dengan nada yang misterius.

Rea langsung membelalakkan mata. Dadanya semakin bergemuruh. Menelan ludah saja rasanya sulit!

Tapi wajah Rumi semakin mendekat beriring dengan matanya yang turun menatap bibir Rea yang pink merekah. Rea bahkan mulai bisa menghirup napas Rumi yang beraroma mentol.

Dan tepat beberapa inci sebelum bibir mereka saling bertemu, seruan nyaring memecah keheningan….

“Papaa….”

Dua bocah kembar memasuki kamar, membuat dua orang dewasa itu tersentak bersamaan.

“Eh? Papa pacaran!”

brokolying

Haiiiii.... Apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat, bahagia dan berlimpah hal-hal menyenangkan ya.. Semoga juga, kisah cindeREA ini sesuai sama selera kamu. Kalau iya, jangan lupa tambahin ke pustaka. Jadi kamu bisa dapat notifikasi tiap bab baru muncul. Happy reading, Beeeees♡

| 2
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 83

    “Mas Rumi tahu, Om.” Rea membalas tanpa kehilangan senyumnya. “Makanya, yang dia bawa ke sini saya, bukan perempuan lain.”Kalimat Rea sontak membungkam semua orang di meja makan, termasuk Rajendra.Rea tahu betul posisinya di rumah itu. Dia hanya perempuan yang dibawa Rumi tanpa pemberitahuan, seseorang yang keberadaannya bahkan belum sepenuhnya diterima oleh keluarga pria itu.Namun, setelah Pak Rajendra sengaja mengundang Maudi untuk makan siang dan menjadikannya bahan sindiran di hadapan semua orang, Rea merasa tidak punya alasan untuk terus memasang sikap sungkan.Kalau tuan rumah saja tak berniat menjaga perasaannya, mengapa dia harus repot-repot menjaga perasaan tuan rumah? Lagi pula, Rea bukan tipe perempuan yang akan mundur dan diam saja kalau ada seseorang berusaha membuatnya merasa tidak pantas berada di sana.Selain itu, kontrak Rea dan Rumi juga akan berakhir. Jika setelah makan siang tadi dia mendapat predikat sebagai perempuan kurang ajar di mata orang tua pria itu, ras

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 82

    Emosi Rea yang sudah mendidih sebelumnya, sekarang ditambah lagi dengan celetukan pria itu soal menantu, maka lengkap sudah alasan Rea untuk mencekik pria itu.Namun, dia memilih menahan diri. Mengingat siapa pemilik rumah yang akan mereka masuki, membuat Rea enggan menambah satu masalah lagi.Dia hanya berharap malam ini cepat berlalu.Kediaman keluarga Rajendra tampak megah, dengan arsitektur yang kental akan nuansa Jawa. Pintu kayu berukuran besar menyambut mereka, disusul ruang utama yang dipenuhi furnitur kayu berukir rumit.Mulai dari meja konsol, lemari pajangan, hingga kursi-kursi berukuran besar yang tampak seperti barang antik. Semuanya terlihat mahal, bahkan tanpa perlu mencantumkan harga.Rea melirik salah satu lemari jati dengan ukiran yang begitu detail.‘Perasaan mereka bukan keturunan bangsawan Jawa, deh. Sekaya apa keluarga ini sampai rumahnya begini?’ Rea bertanya-tanya dalam hati.Belum sempat dia mengamati lebih jauh, Nyonya Rajendra sudah mengajak mereka melewati

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 81

    Pintu lift bahkan belum tertutup sempurna ketika Rea menarik tangannya dari cengkeraman Rumi.“Mas! Bisa nggak sih kalau mau ke mana-mana itu bicara dulu? Rencanain dulu?!” protes Rea, menatap pria yang masih lengkap dengan piyamanya tersebut. “Dan, saya punya kaki sendiri. Nggak perlu ditarik-tarik seperti anak kecil begini!”Rumi tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada angka yang terus berubah di atas pintu lift.Rea mengembuskan napas kasar. ‘Astaga!’Begitu pintu lift terbuka, Rumi kembali berjalan lebih dahulu. Rea terpaksa mengikuti langkah panjangnya sampai mereka tiba di parkiran. Pria itu bahkan membukakan pintu mobil untuknya, seolah-olah tidak sedang menyeretnya keluar dari rencana yang sudah dia susun sejak semalam bersama Dante.Rea masuk dengan kesal. Begitu Rumi duduk di balik kemudi, dia langsung menoleh.“Saya nggak bisa kayak gini, Mas. Ini hari libur saya.” Rea berusaha mempertahankan suaranya agar tidak meninggi. “Kita udah sepakat dari awal, kalau weekend tanpa kep

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 80

    “Soalnya, kalau kamu mau, aku nggak keberatan ngabarin kamu terus. Setiap hari kalau perlu.”Rea jelas tidak menyangka kalimat dari Dante itu juga bisa membuat pipinya merona.Padahal Dante tidak melakukan apa-apa. Tidak mendekat seperti yang kerap Rumi lakukan, seolah dia tahu batasnya.“Mas Dante!”“Kenapa?” tanyanya ringan. “Kok mukanya merah?”“Nggak merah ya!”Dante terkekeh. “Tuh merah,” seru pria itu sambil menunjuk satu pipi Rea.“Mas Dante!”Alih-alih merasa bersalah, Dante malah mengulurkan tangan dan mengacak pelan rambut Rea. “Udah, sana masuk.”Rea buru-buru merapikan rambutnya. “Hati-hati di jalan ya Mas.”Dante mengangguk, senyumnya sedikit melunak. “Siap, Tuan Putri.”Akhirnya Rea masuk, dan pria itu pulang.Setelah mandi dan bersiap tidur, Rea baru saja selesai mengoleskan pelembap ke wajahnya ketika ponselnya berdering.Tanpa melihat nama yang tertera di layar, dia buru-buru mengangkatnya.“Halo?”“Halo?”Rea langsung mengenali suara di seberang sana.“Oh! Hay Mas.”

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 79

    Rea meninggalkan penthouse Rumi dengan pikiran yang entahlah. Amburadul? Dan dia menyalahkan perasaannya atas itu.Andai saja dia tidak terbawa perasaan. Andai saja tidak muncul harapan tiap Rumi menyentuhnya. Semua pasti akan baik-baik saja.Dia tidak perlu menjaga jarak pada rumi maupun Dista dan Desta.Dan,Dia tidak akan menerima teror ini.Syukurnya ada Dante. Yang entah kenapa berada di basement Rumi.“Mas Dante? Kok ada di sini? Belum balik?” tanya Rea mendapati pria itu tengah ngobrol dengan Ammar, sopir pribadi Rumi.“Belum. Nunggu kamu,” jawab pria dengan senyuman dan lesung pipinya itu.“Pak Ammar yang bakal nganter aku pulang, Mas.”“Aku udah bilang sama Pak Ammar bisa langsung istirahat aja kok Dek. Kamu, biar aku yang antar. Sekalian aku mau bahas yang tadi.”Rea terdiam sebentar. Dia mentap Pak Ammar, “Pak, yaudah Bapak langsung istirahat aja,” ucap Rea menginstruksikan agar pria itu langsung masuk saja. Beliau punya satu kamar di penthouse Rumi, seperti Bene dan asiste

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 78

    Semakin keras Rea berusaha bersikap biasa saja, semakin sering pula pikirannya kembali pada sikap dan kalimat Rumi kemarin.Gadis itu bahkan sudah berjanji ingin mencabut perasaannya pada Rumi sampai ke akar-akarnya, sebelum dia makin tolol karena cinta.Sayangnya, kita semua tahu perasaan tidak bekerja sesederhana itu.Setiap hari, Rea masih harus berhadapan dengan Rumi yang dingin, tegas, namun selalu memperlakukannya manis di hadapan orang-orang, seolah-olah Rea benar-benar perempuan yang dia cintai. Termasuk di depan anak-anaknya.Namun, di tengah usahanya meredam perasaan sendiri, ada satu masalah yang justru semakin sulit dikendalikan.Teror tidak kunjung berhenti.Setiap kali mendampingi Rumi ke sebuah acara, pesan-pesan aneh itu selalu datang. Kadang berupa foto mereka berdua yang diambil dari kejauhan. Kadang hanya kalimat singkat yang cukup untuk membuat perutnya terasa melilit.Dan malam ini, hal yang sama kembali terjadi.Convention hall hotel milik Rumi dipenuhi anggota k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status