LOGINKepala Rea yang seharusnya berangsur plong, kembali panik.
Apakah kejadian barusan akan membuatnya dapat surat peringatan atau bahkan dirumahkan? Bulu-bulunya merinding.
Rea menggelengkan kepalanya sedikit keras. Berharap gerakan itu bisa turut menghempaskan pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba membanjirinya.
Tapi sadar kerjaannya masih banyak, Rea mengesampingkan kekhawatiran itu terlebih dahulu. Gadis itu berujung menghabiskan waktu kurang lebih sekian jam untuk membersihkan ballroom dan lobby yang memang hari itu menjadi tanggung jawab timnya.
Setelah beres, dia langsung mengarah ke housekeeping department. Bersiap ganti baju dan pulang.
“Rea?” panggil seseorang yang mendatanginya.
“Iya Mbak?” sahut Rea melihat supervisornya itu. Bertanya-tanya apakah ada tugas tambahan untuknya.
“Kamu ikut saya dulu ya. Saya baru terima telepon kalau kamu harus ke lantai management,” tutur wanita berseragam sama dengan Rea itu. Beda warna saja.
Rea langsung teringat dengan kalimat pria tadi yang menyuruhnya ke suatu ruangan, tanpa menjelaskan letak persisnya. Dia curiga itu telepon dari orang yang sama.
Saat itu, kegelisahan yang tadi berhasil tersingkirkan, kembali utuh. Dia perlu uang untuk banyak keperluan dan bayar utang. Akan sangat konyol kalau dia dipecat hanya karena kehadiran Bara hari ini.
Tidak punya opsi membantah, Rea menurut. Sebelum mengikuti langkah supervisornya, Rea sempat menarik nafasnya dalam-dalam. Menenangkan jantungnya yang mulai dar der dor tak karuan.
Keduanya berjalan memasuki lift. Rea hanya diam di samping, mengikuti langkah atasannya yang kurang senyum itu, menuju lantai yang tidak pernah dia injak sebelumnya.
“Saya mau dipecat ya Mbak?” tanya Rea gatal.
“….”
“Mbak, kan saya baru kerja seminggu. Training aja tiga bulan. Masa saya dipecat sebelum masa training saya habis?” Kepanikan sukses membuat gadis itu bertanya banyak.
“Rea? Saya nggak tahu. Ikut aja, oke? Nanti kamu akan tahu kamu dipanggil buat apa,” jawab wanita itu. Kali ini dia menatap Rea yang berdiri di kirinya.
“Baik, Mbak.” Rea tidak mau memancing emosi atasannya. Tapi dia kadang tidak bisa mengontrol mulutnya sendiri.
“Mbak, kalau dipecat dalam seminggu, saya tetap dapat gaji kan?” lanjutnya tak tahan, setelah berhasil diam beberapa detik.
TIIIIIING
Dia diselamatkan bunyi lift yang menandakan mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju. Sebelum lanjut berjalan, supervisornya yang tadi ingin menyemprot Rea karena banyak tanya, kini memperingatkan gadis itu.
“Nanti, di dalam, apapun yang kamu dengar, diem aja ya. Jangan ngebantah. Jangan banyak tanya kayak barusan. Fokus aja apa yang beliau sampaikan,” jelas wanita yang rambutnya tersanggul rapi tersebut.
Rea mengangguk pasrah, tapi kepalanya berisik. Mempertanyakan nasib karirnya yang baru seumur kecambah itu.
Mereka berjalan melewati kubikel-kubikel yang awam buat Rea. Melintasi beberapa ruangan kaca dengan tulisan bermacam-macam jabatan komite eksekutif di depannya, termasuk Director of Human Resources.
Yang membuat Rea bingung, mereka tidak berhenti di sana. Mereka terus jalan, hingga ruangan paling ujung. Di sana, Rea tidak membaca apapun di pintunya.
Supervisornya mengetuk, dan tak butuh waktu lama hingga mereka bisa mendengar suara dari dalam.
“Masuk.”
“Tuh udah dipersilahkan. Inget yang saya bilang tadi, ya,” cecar wanita itu mewanti-wanti, sambil memperhatikan Rea sekali lagi. Memastikan juniornya itu rapi.
“Loh, Mbak nggak ikut masuk?”
“Nggak. Kan yang dipanggil hanya kamu. Sana masuk,” bisik wanita itu sebelum berbalik meninggalkan Rea sendirian, berdiri gelisah depan pintu asing.
Dengan sisa-sisa energi dan nyali yang dia punya, Rea akhirnya mengetuk sekali lagi, menandakan dia akan membukanya. Sebuah gesture yang dia pelajari sejak kecil, jika ingin masuk ke tempat yang bukan miliknya.
Di dalam, ruangan itu tidak seterang ruangan di luar. Lampu-lampunya berwarna lebih hangat. Hanya ada sepasang meja kerja yang mewah, juga satu set sofa kulit yang terlihat empuk berwarna coklat tua.
“Kenapa lama sekali?”
Rea terperanjat. Suara itu datang dari sisi kanan ruangan, sisi yang sedang dia belakangi. Seorang pria baru saja keluar dari ruang kecil yang Rea tebak adalah toilet.
“Kenapa lama sekali?” ulang suara itu sekali lagi.
Rea yang langsung mengenali wajahnya langsung berdiri tegak. Menyatukan dua tangannya di depan badan.
“Maaf Pak. Shift saya baru selesai,” jawab Rea sambil menunduk.
“Kan saya nyuruh kamu ke ruangan saya saat tugas kamu di ballroom selesai. Bukan saat shift kamu selesai,” tambahnya yang kini berjalan ke hadapan Rea.
“Maaf Pak. Tapi jujur saya nggak kenal bapak. Saya nggak tahu harus ke ruangan yang mana,” jelas Rea detail.
“Kamu tidak kenal saya siapa?”
Rea mendongakkan sedikit kepalanya sebentar untuk mengintip wajah pria itu. “Tidak, Pak. Saya baru di sini. Maaf.”
“Angkat kepalamu, dan coba lihat saya sekali lagi,” titahnya. “Masih tidak kenal?”
Rea hanya bisa menggeleng jujur. “Maaf Pak.”
Pria itu terlihat syok.
Tapi Rea benar-benar yakin belum pernah bertemu pria itu sebelumnya, hingga saat gadis itu tidak sengaja melihat satu lukisan besar di tembok belakang meja, tepat di hadapannya.
Lukisan wajah seorang pria brewokan. Wajah yang beberapa kali terpampang di cover majalah bisnis yang ia baca di perpustakaan kampus.
Mata Rea membesar. Dia cepat-cepat membandingkan lukisan tersebut dengan wajah di hadapannya, bolak-balik.
Semua mirip kecuali sisiran dan bulu-bulu halus di wajah. Pria yang ini terlihat lebih muda dengan wajah mulus tanpa brewok seperti di bingkai itu. Rea tercengang.
Rumi Rajendra.
Pemilik The Blue Hill Hotel. Rutin bertengger di Forbes Indonesia’s 50 Richest. Pria yang sama dengan yang tadi membantunya di depan Bara.
“Pak Rumi Rajendra? Duh maaf Pak,” ucap Rea akhirnya. Dia bahkan merukuk berulang kali. Membuat pria itu tidak nyaman.
“Stop lakukan itu. Di depan saya, atau di depan tamu sekalipun,” titah Rumi memperingatkan.
“Tapi saya salah, Pak,” jawab gadis itu masih menunduk.
“Salah pun kamu hanya perlu minta maaf. Tidak perlu merendahkan dirimu, apalagi membiarkan orang lain merendahkanmu seperti yang dilakukan pria di ballroom tadi.”
Rea mengangguk cepat. Memberi signal bahwa dia pribadi yang mudah mengerti, dan tidak layak dipecat.
“Di Hotel ini, semua karyawanku tidak boleh diinjak-injak oleh siapapun. Kalau saya sebagai atasanmu tidak memperlakukanmu serendah itu, maka tidak ada satupun orang di gedung ini boleh merendahkan kalian, ataupun pekerjaan kalian. Paham?”
Mendengar itu, entah kenapa membuat Rea tertunduk meneteskan air mata. Setelah bertahun-tahun kerja serabutan untuk bertahan hidup, bertemu dengan orang-orang yang tidak segan-segan mempermalukannya, kalimat barusan terdengar seperti pembelaan. Pembelaan yang manis.
“Kamu nangis?” tanya pria itu maju, dan impulsif menaikkan dagu karyawannya tersebut.
Di hadapannya, dia melihat kedua pipi Rea memerah hangat. Kelopak-kelopak matanya basah. Dan saat pandangan mereka bertemu, ia cepat-cepat menurunkan tangannya kembali.
“Maaf sudah nyentuh wajah kamu tanpa izin,” ucap bosnya pelan.
“Tidak apa-apa Pak Rumi. Maaf saya menangis.”
“Kenapa?”
“Kata-kata Bapak bikin saya terharu,” ujar Rea lirih sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya. Susah payah dia mengatur nafas, agar tangisannya berhenti.
Rumi terdiam sejenak. Tatapannya masih tertuju pada wajah Rea yang perlahan kembali tenang. Pria itu terlihat berpikir sejenak, sebelum sudut bibirnya sedikit terangkat dan kembali membuka mulutnya.
“Kalau begitu, jadilah pasangan saya. Saya pastikan kamu tidak akan dipermalukan lagi.”
Hayolooh.... Gimana menurut kamu bab ini? :')
Mereka berdua masuk ke unit Rea dengan posisi Rea menatap Rumi kesal. Kalimat pria itu di lift barusan jelas bukan sesuatu yang dia suka.“Siap melamar kapan pun Rea siap?” ucap Rea mengulangi kalimat pria yang langsung duduk di sofanya itu. “Bapak pikir lucu ngomong seperti itu?”“Terus kamu mau saya jawab apa? Kalau kita cuma kontrak? Begitu?”“Ya nggak usah dijawab sama sekali. Orang-orang ngegosip Pak. Dan bisa jadi mereka berdua juga!”“Kenapa kini kamu begitu takut soal gosip, Rea?”Betul juga. Sejak kapan dia begitu takut perihal akan mendapatkan gosip apa?Sudah pernah digosipi hamil sekali pun, dia tidak peduli. Kenapa sekarang dia begitu takut?“Karena…” Gadis itu terlihat berpikir sejenak, sebelum menggeleng. “Lupain aja. Bapak butuh apa? Ini sudah malam.”“Nah itu. Kontrak kita besok totalnya sudah berjalan tiga bulan. Kita perlu melakukan evaluasi.” Rumi menjelaskan maksudnya tanpa cela. "Jadi, apa kamu punya waktu beberapa hari ke depan?”“Untuk apa?”“Evaluasi kontrak.”
"Pacar siapa memangnya Ru? Hari ini Rea terlihat single. Dari tadi sendiri. Saya nggak lihat tuh ada cowok yang nemenin dia?" cibir Kartika tajam menatap sepupunya itu lekat.Rea tidak bereaksi apapun.Tapi Rumi, pria itu tersenyum. Dia tetap tenang.“Sendiri bukan berarti Rea jomblo. Saya rasa semua orang di sini tahu Rea pasangan saya, Mbak.”“Bahkan wanita yang di jari manisnya sudah ada cincin pernikahan sekalipun, kalau dia terbiasa terlihat sendirian, mau satu dunia tahu dia milik siapa, akan ada cowok lain yang nekat ngerebut dia,” tambah Kartika tidak kendor.Kalimat gadis itu terdengar seperti peringatan bagi Rumi, dan sebuah sanjungan dari Rea, meski dia tidak yakin akan ada pria yang mau mendekatinya jika tahu seberapa berantakan hidupnya beberapa tahun belakang. Membuatnya kehilangan apapun termasuk kepercayaan diri.“Mbak Kartika nggak usah khawatir. Saya tahu bagaimana cara menjaga pasangan saya,” ungkap Rumi penuh keyakinan.“Benarkah seperti itu, Rumi? Karena sejak tad
Sejak pertanyaan Rumi hari itu, sebulan yang lalu, hubungan mereka berdua benar-benar hanya sepasang kontrak. Tidak ada basa-basi yang tidak perlu. Terlebih sentuhan yang terlepas. Mereka benar-benar menjadi atasan dan bawahan yang tidak jauh-jauh dari pekerjaan semata.Bahkan untuk sekedar bertatap mata di luar masalah kerjaan, Rumi enggan.Tapi mereka masih begitu sangat profesional di luar sana, terlebih di media. Rea masih mendampinginya kemanapun Rumi butuh.Tapi sisanya? Nol.Pria itu benar-benar menghindari Rea.Dan hal tersebut membuat Rea makin kebingungan.Satu sisi dia berterima kasih karena dengan sikap Rumi yang demikian, perasaannya sukar tumbuh lebih dalam. Dia hanya perlu fokus menjalankan tugasnya.Tapi di sisi lain? Melihat pria itu menjadi begitu acuh ternyata bukan hal yang dia sukai.Seperti hari ini. Mereka sedang berada di salah satu pernikahan keluarga Rumi. Rea memakai kebaya manis berwarna maron, yang diimbangi dengan warna batik Rumi yang senada.“Kalian bai
“Cantik. Cantik sekali.”Mendengar itu, nyaris saja Rea merona. Syukurnya pagi ini nyawanya cepat terkumpul. Jadi ketika Rumi mengatakan bahwa dia cantik, ingatan tentang semua kekesalannya pada pria ini belakangan langsung terbayang.“Good morning…” sapa Rea sambil tersenyum.“Morning, Cinderea,” sambut Dista yang langsung naik ke samping gadis itu. “Dista lapar.”Kedua alis Rea terangkat. Matanya mencari Rumi di samping seolah meminta penjelasan kenapa anak-anak itu lapar.“Anak-anak belum sarapan?”“Belum. Hari ini jadwal libur semua asistern rumah tangga. Jadi subuh-subuh tadi sudah berangkat,” jelasnya.“Chef Anton juga?” tanya Rea lagi menyebutkan nama chef yang biasa menangani makanan di penthouse itu.“.." Rumi hanya mengangguk.“Kalau Anton libur, kalian biasanya sarapan apa?”“Mama nginap.”“Kali ini kenapa nggak nginap?”“Aku bilang nggak perlu. Karena ada kamu.”Mendengar itu Rea cepat-cepat duduk. Anak-anak pun berlarian keluar kamar, meninggalkan dua orang dewasa itu sen
Dante yang sama sekali tidak merasa ada yang aneh, hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Oh, tadi gue ketemu Rea di coffee shop dekat sini. Sekalian aja gue antar pulang. Kasihan sendirian. Katanya lu sibuk, soalnya.”Rea mengangkat wajah.“Gimana? Udah nganter Maudi?” tanya Rea to the point. Sedikit kelepasan.“Loh, lo nganter Maudi, Rum?” Dante spontan menoleh ke Rumi..Rea tersenyum tipis. Sinis.Tanpa menunggu jawaban siapa pun, dia maju ke pintu.“Ya sudah, kalian ngobrol aja,” ucapnya ringan. “Aku masuk dulu. Sudah ngantuk banget.”Sebelum masuk, Rea sempat menoleh kepada Dante. “Oh iya, Mas Dante. Makasih ya, sudah nganterin.”“Sama-sama, Dek Rea,” ucap Dante yang kemudian menepuk bahu Rumi sekali. “Gue cabut dulu.” Dia menahan tawa melihat ekspresi Rumi. “Good luck.” Lalu pergi begitu saja.Sayangnya Rumi kurang lincah hingga pintu unit di depannya lebih dulu tertutup saat Dante pamitan.TOK TOKTidak ada jawaban. Begitu pula dengan beberapa ketukannya kemudian. Di
Ruang tamu kembali sunyi. Rea melihat mereka pergi dengan pandangan yang menyesakkan. Dia tahu dia salah. Tapi Rumi berlebihan. Bahkan untuk sekedar ikut menemani anak-anak pun tidak diizinkan.Rea akhirnya membuka laptop yang dibawakan oleh Bene. yang katanya berisi file medical record anak-anak.Dia membacanya dari halaman pertama.Riwayat kesehatan. Alergi. Obat. Pola makan. Jadwal pemeriksaan. Catatan dokter. Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya.Setelah selesai dengan Dista, dia membuka milik Desta.Jam bergeser tanpa dia sadari. Bahkan saat mata Rea mulai terasa kering, dia tetap membaca.Dia mencatat beberapa poin penting di sebuah dokumen terpisah. Sesekali mengulang bagian yang tidak dia pahami.Sampai akhirnya suara pintu terdengar.Rea mengangkat wajah.Rumi masuk. Dista berada dalam gendongannya, sedang Ammar membawa Desta di dekapannya.Dan….Dan Maudi masih ada.“Tante Rea!” sapa kedua anak itu lagi-lagi serempak ketika turun dari gendongan







