Share

CHAPTER 2

Author: brokolying
last update publish date: 2026-07-27 10:12:06

Rumi sontak mundur dan berbalik seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kalian dengar kata-kata itu dari mana lagi?” tanya Rumi sambil berjalan ke arah pintu, berjongkok, membuka kedua tangannya lebar-lebar dan langsung ditabrak oleh dua anak tadi tanpa ragu. Satu cowok, satu cewek.

“Dari Miss. Di HP Miss, ada foto Miss dipeluk. Katanya itu pacarnya,” jelas anak lelaki Rumi.

“Oh ya?”

“Iya. Katanya, kalau Desta udah dewasa, Desta juga boleh pacaran. Tanya aja Dista. Iya kan Dis?”

Gadis kecil yang ternyata bernama Dista itu tidak menjawab. Fokusnya sudah beralih menatap Rea yang berdiri di belakang Rumi, canggung secanggung-canggungnya.

Tak lama, dia melepaskan diri dari pelukan Papanya, lalu berjalan menghampiri Rea dengan langkah-langkah pendek. Matanya berbinar kagum.

“Waaah…,” gumamnya kecil. “Princess.”

Anak itu berhenti tepat di depan Rea, lalu mengulurkan satu tangan kecilnya mengusap pelan gaun beludru halus tersebut, sedang tangan lainnya memegang boneka Barbie.

“Itu siapa? Pacar Papa ya?” kali ini suara milik anak cowok yang masih bergantung di pelukan papanya kembali terdengar.

“Princess, Desta! Dia princess. Kamu princess kan?” tanya gadis kecil itu mendongak menatap Rea.

Tidak tahu harus berbuat dan menjawab apa, Rea yang terlihat belum siap, reflek menatap Rumi sebelum akhirnya ikut berjongkok juga. Menyetarakan tingginya dengan anak kecil di hadapannya.

“Haiiiii. Siapa namanya?” tanya Rea lembut.

“Dista…” jawab anak itu sambil menyentuh sedikit rambut Rea yang tergerai.

“Hai Dista… Aku Rea,”

“Rea? CindeRea?! Papa! Desta! Dia CindeRea! CindeRea ke rumah kita!” pekik anak itu antusias, dan sedikit melompat kembali menghampiri papanya.

Pipi Rea yang tidak memakai blush on, kini merona mendengar sebutan polos Dista.

“Ini anak-anakku. Desta dan Dista,” ungkap pria itu menjelaskan.

Rea memandang keduanya bergantian. Meski sedikit syok karena baru tahu anak bosnya yang nanti harus dia jaga ada dua orang dan kembar, dia tidak bisa menyembunyikan tatapan kagum.

Kedua anak itu lucu-lucu, dan terlihat identik. Membuatnya langsung bertanya-tanya bagaimana Rumi menyembunyikan mereka selama ini?

Rea kembali berdiri, dan mengangguk pelan. Tanda paham. Membungkam mulutnya rapat-rapat, memastikan tidak ada pertanyaan yang bukan urusannya lolos terlontar kali ini.

“Yasudah. Anak-anak, Papa keluar sebentar. Kalian di rumah baik-baik ya. Jangan berantem, jangan bikin keributan yang merepotkan Mbak-mbak. Mengerti?” tanya Rumi tegas, yang langsung diangguki oleh kedua anaknya.

Dia kemudian mengecup puncak kepala Desta dan Dista bergantian, sebelum anak-anak itu kabur entah kemana.

Sedang mereka berdua langsung turun ke basement, tempat di mana sopir Rumi sudah menunggu di dalam mobil mewah yang tidak bisa Rea tebak pajak tahunannya berapa. Siap mengantarkan mereka ke tujuan.

Rea tenang. Duduk di sisi Rumi tanpa membuka mulutnya sedikit pun. Tidak juga menyinggung kejadian di depan cermin tadi. Dia diam, sampai melihat kilauan blitz kamera di depan sana.

“Pak! Ada media?!” cerca Rea kembali panik. Anxiety-nya melonjak.

Dia bisa menghadapi orang-orang kaya itu. Tapi menghadapi sorotan media? Rea benci media!

“Memangnya kenapa?” tanya Rumi bingung, bersiap turun saat sopirnya menepi. Sampai di depan venue.

“Makeup saya nggak cukup untuk dipotret wartawan, Pak!” ujar Rea polos. Jarinya refleks saling meremas. Dia tahu betul bagaimana kamera profesional bisa menangkap pori-pori orang tanpa ampun. 

“Cantik, kok,” balas Rumi singkat, lalu melangkah turun lebih dulu, membuat Rea langsung terdiam. “Ayo?”

Rea akhirnya meraih tangan Rumi dan turun dari mobil. Kerlap-kerlip blitz langsung menyambar mereka dari kanan, kiri, membuatnya buyar. Penglihatannya terasa nyaris rusak dibuat kilatan-kilatan tersebut.

Belum lagi lemparan banyak pertanyaan yang tertuju pada pria seratus delapan puluh lima senti yang menggenggam tangannya itu ternyata bukan main.

“Pak Rumi, dateng sama siapa Pak?”

“Pak itu kekasih barunya ya Pak?”

“Pak ini…”

“Pak itu…”

Dan banyak Pak-Pak lain yang tidak satupun terjawab.

Pria itu bahkan tidak membagikan senyumnya pada satupun lensa. Dia fokus jalan dengan Rea yang melangkah tanpa nyali di sampingnya.

Dan tepat saat gadis itu berpikir serbuan media adalah satu-satunya masalah yang harus dia hadapi malam ini, suasana di dalam gedung justru jauh lebih mencekam.

Orang-orang dari berbagai kalangan, perusahaan, dan hal-hal kaya raya lainnya ternyata jauh lebih mengintimidasi gadis yang semakin melangkah, semakin merasa kecil itu.

“Kenapa?” tanya Rumi sesampainya mereka di dalam ruangan berdekor mewah tersebut. Menyadari Rea di samping seperti ngos-ngosan.

Gadis itu cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Minder.”

“Tidak perlu. Sudah saya bilang, penampilanmu cantik,” terang Rumi berusaha meyakinkan.

“Tapi Pak….”

“Mulai sekarang, selama kita di sini, stop memanggilku Pak. Saya pasangan kamu. Ingat?”

Lagi-lagi Rea mengangguk cepat. Takut membuat kesalahan.

"Bagus. Sekarang, angkat dagumu," titah Rumi dengan senyuman ramah, sambil satu tangan naik merapikan rambut Rea. Lalu tanpa menggerakkan bibirnya sedikitpun, pria itu mendekat membisikkan sesuatu. "Saya tidak bayar kamu tiga puluh lima juta untuk minder."

Bisikan yang ternyata efeknya sangat instan.

Rea langsung menegakkan bahunya, dagunya dan apapun yang menurutnya tertekuk, kemudian menyunggingkan senyum termahal yang ia kira.

Sambil menatap bosnya penuh binar, gadis itu bersuara selembut mungkin. "Yuk Mas. Acaranya udah mulai."

Mereka langsung berjalan beriringan, bergandengan. Rea kali ini berupaya mengimbangi langkah Rumi yang sibuk menjabat dan menyapa tangan beberapa orang. Dari yang awalnya canggung, hingga ia mulai memahami ritmenya.

Rea hanya perlu tersenyum dan mengangguk jika perlu. Sesekali tertawa saat Rumi atau lawan bicaranya melontarkan candaan, meski tidak begitu lucu.

Kegiatan yang benar-benar menguras energi gadis itu setelah bermenit-menit lamanya.

“Mas, haus. Aku ngambil minum dulu ya. Mas mau?”

“Nggak Sayang. Jangan lama-lama ya,” ucap Rumi di tengah-tengah obrolan dengan seseorang yang entah siapa. Rea langsung lupa namanya setelah jabat tangan tadi.

Gadis itu hanya mengangguk dan langsung menuju ke salah satu meja buffet yang sudah dia incar sejak tadi. Ada banyak sajian di sana yang mungkin sudah dia ambil, kalau saja dia datang bukan sebagai pasangan Rumi Rajendra.

Ujung-ujungnya, ia hanya mencicipi sepotong egg pie, dan langsung mengambil sesuatu untuk dia minum.

Awalnya Rea hanya berniat sebentar saja. Tapi, satu teguk berubah menjadi beberapa tegukan hingga ia pun tidak sadar telah menghabiskan waktu lebih lama dari yang direncanakan.

Sambil menyesap virgin mojito, matanya memantau Rumi dari jauh. Berdiri di tengah-tengah kumpulan para konglo. Pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat.

Kilasan masa lalu kembali berkelabat di kepalanya. Perihal tahun-tahun di mana kedua orang tuanya masih ada. Masa di mana ia sering diajak ke acara-acara mewah seperti ini.

Keluarga Rea mungkin bukan kalangan oligarki. Tapi jelas, gadis itu tumbuh di tengah-tengah kaum borjuis. Jadi, suasana ini tidak asing untunya, tapi tidak juga terasa familier.

Gadis itu kembali memindai sekelilingnya. Pada momen itulah matanya tidak sengaja menangkap beberapa orang di sudut ballroom.

Mereka tampak seperti tamu biasa, tetapi kamera yang sesekali mereka sembunyikan di balik jas membuat Rea langsung menebak kalau orang-orang itu adalah wartawan.

Rea tidak mau mengambil pusing. Tapi saat wartawan-wartawan tadi mulai bergerak ke arah yang sama, dia tertarik. Jadi penasaran. Matanya reflek mengekor. Siapa tahu dia bisa melihat artis-artis atau orang penting lain. Ia yakin, media akan selalu mengikuti orang berpengaruh.

Tapi, belum sempat rasa penasaran itu terpuaskan, satu sosok lantas berhenti di hadapannya. Menghentikan geraknya.

"Enak?"

Rea tersentak. Dia mendongak dan mendapati Rumi menanti jawaban darinya.

"Duh Mas! Ngangetin tahu!” protes Rea pelan, tapi akhirnya mejawab pertanyaan mudah itu. “Enak. Manis. Mas mau nyoba?"

Rumi mengangguk.

Rea sontak menyodorkan minuman itu.

Namun, alih-alih meraih benda di tangan pasangan kontraknya tersebut, pria itu justru melangkah lebih dekat. Sangat dekat.

Dan tanpa memberi gadis itu kesempatan untuk bereaksi, Rumi mengangkat dagu Rea. Lagi.

Bedanya dengan yang tadi, yang ini, dalam satu gerakan cepat, bibir pria itu berhasil mendarat di bibir lembab Rea dengan selamat. Mengecap dalam-dalam sisa rasa minuman yang masih tertinggal di sana.

"HMMP!"

Rea membelalakkan matanya lebar-lebar begitu merasakan bibir lembut Rumi menyentuh salah satu bagian sakralnya.

Kenapa Rumi menciumnya?!

Apa pria ini gila?!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 83

    “Mas Rumi tahu, Om.” Rea membalas tanpa kehilangan senyumnya. “Makanya, yang dia bawa ke sini saya, bukan perempuan lain.”Kalimat Rea sontak membungkam semua orang di meja makan, termasuk Rajendra.Rea tahu betul posisinya di rumah itu. Dia hanya perempuan yang dibawa Rumi tanpa pemberitahuan, seseorang yang keberadaannya bahkan belum sepenuhnya diterima oleh keluarga pria itu.Namun, setelah Pak Rajendra sengaja mengundang Maudi untuk makan siang dan menjadikannya bahan sindiran di hadapan semua orang, Rea merasa tidak punya alasan untuk terus memasang sikap sungkan.Kalau tuan rumah saja tak berniat menjaga perasaannya, mengapa dia harus repot-repot menjaga perasaan tuan rumah? Lagi pula, Rea bukan tipe perempuan yang akan mundur dan diam saja kalau ada seseorang berusaha membuatnya merasa tidak pantas berada di sana.Selain itu, kontrak Rea dan Rumi juga akan berakhir. Jika setelah makan siang tadi dia mendapat predikat sebagai perempuan kurang ajar di mata orang tua pria itu, ras

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 82

    Emosi Rea yang sudah mendidih sebelumnya, sekarang ditambah lagi dengan celetukan pria itu soal menantu, maka lengkap sudah alasan Rea untuk mencekik pria itu.Namun, dia memilih menahan diri. Mengingat siapa pemilik rumah yang akan mereka masuki, membuat Rea enggan menambah satu masalah lagi.Dia hanya berharap malam ini cepat berlalu.Kediaman keluarga Rajendra tampak megah, dengan arsitektur yang kental akan nuansa Jawa. Pintu kayu berukuran besar menyambut mereka, disusul ruang utama yang dipenuhi furnitur kayu berukir rumit.Mulai dari meja konsol, lemari pajangan, hingga kursi-kursi berukuran besar yang tampak seperti barang antik. Semuanya terlihat mahal, bahkan tanpa perlu mencantumkan harga.Rea melirik salah satu lemari jati dengan ukiran yang begitu detail.‘Perasaan mereka bukan keturunan bangsawan Jawa, deh. Sekaya apa keluarga ini sampai rumahnya begini?’ Rea bertanya-tanya dalam hati.Belum sempat dia mengamati lebih jauh, Nyonya Rajendra sudah mengajak mereka melewati

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 81

    Pintu lift bahkan belum tertutup sempurna ketika Rea menarik tangannya dari cengkeraman Rumi.“Mas! Bisa nggak sih kalau mau ke mana-mana itu bicara dulu? Rencanain dulu?!” protes Rea, menatap pria yang masih lengkap dengan piyamanya tersebut. “Dan, saya punya kaki sendiri. Nggak perlu ditarik-tarik seperti anak kecil begini!”Rumi tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada angka yang terus berubah di atas pintu lift.Rea mengembuskan napas kasar. ‘Astaga!’Begitu pintu lift terbuka, Rumi kembali berjalan lebih dahulu. Rea terpaksa mengikuti langkah panjangnya sampai mereka tiba di parkiran. Pria itu bahkan membukakan pintu mobil untuknya, seolah-olah tidak sedang menyeretnya keluar dari rencana yang sudah dia susun sejak semalam bersama Dante.Rea masuk dengan kesal. Begitu Rumi duduk di balik kemudi, dia langsung menoleh.“Saya nggak bisa kayak gini, Mas. Ini hari libur saya.” Rea berusaha mempertahankan suaranya agar tidak meninggi. “Kita udah sepakat dari awal, kalau weekend tanpa kep

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 80

    “Soalnya, kalau kamu mau, aku nggak keberatan ngabarin kamu terus. Setiap hari kalau perlu.”Rea jelas tidak menyangka kalimat dari Dante itu juga bisa membuat pipinya merona.Padahal Dante tidak melakukan apa-apa. Tidak mendekat seperti yang kerap Rumi lakukan, seolah dia tahu batasnya.“Mas Dante!”“Kenapa?” tanyanya ringan. “Kok mukanya merah?”“Nggak merah ya!”Dante terkekeh. “Tuh merah,” seru pria itu sambil menunjuk satu pipi Rea.“Mas Dante!”Alih-alih merasa bersalah, Dante malah mengulurkan tangan dan mengacak pelan rambut Rea. “Udah, sana masuk.”Rea buru-buru merapikan rambutnya. “Hati-hati di jalan ya Mas.”Dante mengangguk, senyumnya sedikit melunak. “Siap, Tuan Putri.”Akhirnya Rea masuk, dan pria itu pulang.Setelah mandi dan bersiap tidur, Rea baru saja selesai mengoleskan pelembap ke wajahnya ketika ponselnya berdering.Tanpa melihat nama yang tertera di layar, dia buru-buru mengangkatnya.“Halo?”“Halo?”Rea langsung mengenali suara di seberang sana.“Oh! Hay Mas.”

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 79

    Rea meninggalkan penthouse Rumi dengan pikiran yang entahlah. Amburadul? Dan dia menyalahkan perasaannya atas itu.Andai saja dia tidak terbawa perasaan. Andai saja tidak muncul harapan tiap Rumi menyentuhnya. Semua pasti akan baik-baik saja.Dia tidak perlu menjaga jarak pada rumi maupun Dista dan Desta.Dan,Dia tidak akan menerima teror ini.Syukurnya ada Dante. Yang entah kenapa berada di basement Rumi.“Mas Dante? Kok ada di sini? Belum balik?” tanya Rea mendapati pria itu tengah ngobrol dengan Ammar, sopir pribadi Rumi.“Belum. Nunggu kamu,” jawab pria dengan senyuman dan lesung pipinya itu.“Pak Ammar yang bakal nganter aku pulang, Mas.”“Aku udah bilang sama Pak Ammar bisa langsung istirahat aja kok Dek. Kamu, biar aku yang antar. Sekalian aku mau bahas yang tadi.”Rea terdiam sebentar. Dia mentap Pak Ammar, “Pak, yaudah Bapak langsung istirahat aja,” ucap Rea menginstruksikan agar pria itu langsung masuk saja. Beliau punya satu kamar di penthouse Rumi, seperti Bene dan asiste

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 78

    Semakin keras Rea berusaha bersikap biasa saja, semakin sering pula pikirannya kembali pada sikap dan kalimat Rumi kemarin.Gadis itu bahkan sudah berjanji ingin mencabut perasaannya pada Rumi sampai ke akar-akarnya, sebelum dia makin tolol karena cinta.Sayangnya, kita semua tahu perasaan tidak bekerja sesederhana itu.Setiap hari, Rea masih harus berhadapan dengan Rumi yang dingin, tegas, namun selalu memperlakukannya manis di hadapan orang-orang, seolah-olah Rea benar-benar perempuan yang dia cintai. Termasuk di depan anak-anaknya.Namun, di tengah usahanya meredam perasaan sendiri, ada satu masalah yang justru semakin sulit dikendalikan.Teror tidak kunjung berhenti.Setiap kali mendampingi Rumi ke sebuah acara, pesan-pesan aneh itu selalu datang. Kadang berupa foto mereka berdua yang diambil dari kejauhan. Kadang hanya kalimat singkat yang cukup untuk membuat perutnya terasa melilit.Dan malam ini, hal yang sama kembali terjadi.Convention hall hotel milik Rumi dipenuhi anggota k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status