Share

CHAPTER 2

Author: brokolying
last update publish date: 2026-07-27 10:12:06

Rea hampir memekik kalau saja Bara tidak sedang berdiri di depannya. Dia reflek menoleh ke samping, menatap pria yang entah siapa, tapi berdiri begitu dekat, dengan sebelah lengannya melingkar santai di bahu gadis itu.

Rea mengerjap. Matanya membulat. Kata-kata sanggahan sudah nyaris terlontar, tapi telapak tangan pria itu lebih dulu turun mengusap pelan punggungnya. 

Sapuan yang panjang dan tenang, membuat Rea menegang mendadak. Pria itu bahkan membalas tatapan Rea dengan alis terangkat diikuti sebuah anggukan kecil.

Saat itulah Rea menangkap maksudnya. Kalau dia hanya perlu mengikuti sandiwara apapun ini.

“O-oh aku hampir lupa, M-mas. Tadi tim cleaning kurang personil. Jadi aku bantuin aja sekalian,” ucap Rea sedikit terbata. Tidak lupa menarik sedikit senyum pada siapapun orang yang tengah menyentuhnya itu.

Sedang di hadapan mereka, raut Bara ikut berubah. Tatapannya berpindah antara Rea dan pria baru yang merangkul gadis itu. Kerutan di dahinya muncul, menyiratkan rasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar juga saksikan.

“Oooh, pantesan. Terus ini siapa sayang?” tanya pria itu menatap Bara.

“Tamu hotel, Mas. Lagi datang cek venue buat nikahannya.”

“Oh selamat ya. Semoga ballroom ini sesuai sama selera, dan….” Pria itu menatap Bara dari ujung kepala hingga kakinya, sebelum balik lagi ke matanya. “Budgetnya.”

Mendengar itu, rahang Bara mengeras. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi dia terlihat tidak senang, dan Rea menyadari itu.

“Tentu. Kalau begitu, saya permisi,” ucap Bara singkat dan berlalu.

Kalimat itu sukses membuat gadis yang sedari tadi engap tersebut, berangsur lega. Gadis yang lupa kalau masih ada seseorang yang merangkul pinggangnya mesra.

“Ehm,” sela pria itu. Menyadarkan Rea.

Rea yang kaget langsung menatap sosok tinggi bermata cokelat di sampingnya.

“Saya minta maaf atas kejadian barusan. Sekaligus berterima kasih, karena Bapak sudah bantu saya tadi,” tutur Rea mulus memperhatikan sosok itu.

Dari penampilannya, Rea bisa menebak mungkin dia adalah tamu atau seseorang dengan jabatan di hotel ini. Apapun itu, dia harus sopan.

“Setelah pekerjaanmu di sini selesai, tolong ke ruang saya segera,” respon  pria itu sebelum berjalan keluar ballroom, meninggalkan Rea yang kebingungan.

‘Ruangan? Ruangan apa? Kenapa ke ruangan itu?’ 

Kepala Rea yang seharusnya berangsur plong, malah kembali panik.

Apakah kejadian barusan membuatnya dapat surat peringatan atau bahkan dipecat? Bulu-bulunya merinding.

Rea menggeleng-gelengkan kepalanya sedikit keras. Berharap gerakan itu bisa turut menghempaskan pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba membanjirinya.

Tapi sadar kerjaannya masih banyak, Rea mengesampingkan kekhawatirannya terlebih dahulu. Gadis itu menunduk, memungut semua peralatan bebersihnya, dan melanjutkan apa yang harus dia selesaikan.

Hari ini, ada banyak alat yang akan dia pelajari cara penggunaannya, dan dia sangat antusias untuk itu. Dia sudah bertekad akan menjalani proses training ini dengan sungguh-sungguh agar bisa memperpanjang kontraknya kelak. Dia butuh gaji itu.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih beberapa jam membersihkan ballroom dan lobby, shift Rea hampir berakhir. Di kepala gadis itu sekarang hanya kasurnya. Setelah pekerjaan hari ini tuntas, dia akan langsung pulang. Langkahnya langsung tertuju ke housekeeping department. Ke lokernya, untuk ganti seragam.

“Rea?” panggil seseorang yang menghampirinya.

“Iya Mbak?” sahut Rea melihat supervisornya menghampiri. Bertanya-tanya apakah ada tugas tambahan untuknya?

“Kamu ikut saya dulu ya. Saya baru terima telepon kalau kamu harus ke lantai management,” tutur wanita berseragam sama dengan Rea itu. Beda warna saja.

Rea langsung teringat dengan kalimat pria tadi yang menyuruhnya ke suatu ruangan yang entah di mana. Dia curiga itu telepon dari orang yang sama.

Saat itu, kegelisahannya yang tadi berhasil tersingkirkan, kembali. Dia butuh uang untuk banyak keperluan. Akan sangat konyol kalau dia dipecat hanya karena kehadiran Bara hari ini.

Tidak punya opsi membantah, Rea menurut. Sebelum mengikuti langkah supervisornya, Rea sempat menarik nafasnya dalam-dalam. Menenangkan jantungnya yang mulai dar der dor tak karuan.

Dua wanita itu berjalan memasuki lift. Rea hanya diam di samping, mengikuti langkah atasannya yang kurang senyum itu, menuju lantai yang tidak pernah dia injak sebelumnya.

“Saya mau dipecat ya Mbak?” tanya Rea tak tahan.

“….”

“Mbak, kan saya baru kerja seminggu. Training aja tiga bulan. Masa saya dipecat sebelum masa training saya habis?” kepanikan sukses membuat gadis itu bertanya banyak.

“Rea? Saya nggak tahu. Ikut aja, oke? Nanti kamu akan tahu kamu dipanggil buat apa,” jawab wanita itu. Kali ini dia menatap Rea yang berdiri di kirinya.

“Baik, Mbak.”

Rea tidak mau memancing emosi atasannya. Tapi dia kadang tidak bisa mengontrol mulutnya sendiri.

“Mbak, kalau dipecat dalam seminggu, saya tetap dapat gaji kan?” lanjutnya tak tahan, setelah berhasil diam beberapa detik.

TIIIIIING

Rea diselamatkan bunyi lift yang menandakan mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju. Sebelum lanjut berjalan, supervisornya yang tadi ingin menyemprot Rea karena banyak tanya, kini memperingatkan gadis itu.

“Nanti, di dalam, apapun yang kamu dengar, diem aja ya. Jangan ngebantah. Jangan banyak tanya kayak barusan. Fokus aja apa yang beliau sampaikan,” jelas wanita yang rambutnya tersanggul rapi itu.

Rea lagi-lagi mengangguk, tapi kepalanya berisik. Mempertanyakan nasib karirnya yang baru seumur kecambah ini.

Mereka berdua jalan melewati kubikel-kubikel yang awam buat Rea. Mereka juga melintasi beberapa ruangan kaca dengan tulisan bermacam-macam jabatan komite eksekutif di depannya, termasuk Director of Human Resources.

Yang membuat Rea bingung, karena mereka tidak berhenti di sana. Mereka terus jalan, hingga ruangan paling ujung.

Rea tidak membaca apapun di pintunya.

Setelah supervisornya mengetuk, mereka bisa mendengar suara dari dalam sana.

“Masuk.”

“Tuh udah dipersilahkan. Inget yang saya bilang tadi, ya,” ucap wanita itu memperhatikan Rea sekali lagi. Memastikan juniornya itu rapi, sambil mewanti-wanti.

“Loh, Mbak nggak ikut masuk?”

“Nggak. Kan yang dipanggil hanya kamu. Sana masuk,” tutup wanita itu sebelum berbalik meninggalkan Rea sendirian, berdiri gelisah depan pintu asing.

Dengan sisa-sisa energi dan nyali yang dia punya, Rea akhirnya mengetuk sekali lagi, menandakan dia akan membukanya. Sebuah gesture yang dia pelajari sejak kecil, jika ingin masuk ke tempat yang bukan miliknya.

Di dalam, ruangan itu tidak seterang ruangan di luar. Lampu-lampunya berwarna lebih hangat. Hanya ada sepasang meja kerja yang mewah, juga satu set sofa kulit yang terlihat empuk berwarna coklat tua.

“Kenapa lama sekali?”

Rea terperanjat. Suara itu datang dari sisi kanan ruangan, sisi yang sedang dia belakangi.

Seorang pria baru saja keluar dari ruang kecil yang Rea tebak adalah toilet.

“Kenapa lama sekali?” ulang suara itu sekali lagi.

Rea yang langsung mengenali wajahnya langsung berdiri tegak. Menyatukan dua tangannya di depan badan.

“Maaf Pak. Shift saya baru selesai,” jawab Rea sambil menunduk.

“Kan saya nyuruh kamu ke ruangan saya saat tugas kamu di ballroom selesai. Bukan saat shift kamu selesai,” tambah pria itu yang kini berjalan ke hadapan Rea.

“Maaf Pak. Saya pikir tadi bapak hanya tamu. Belum lagi saya nggak kenal bapak. Saya nggak tahu harus ke ruangan mana,” jelas Rea detail.

“Kamu nggak kenal saya siapa?”

Rea mendongakkan sedikit kepalanya sebentar untuk mengintip wajah pria itu. “Tidak, Pak. Maaf.”

“Angkat kepalamu, dan coba lihat saya sekali lagi,” titahnya. “Masih tidak kenal?”

Rea hanya bisa menggeleng jujur. “Maaf Pak.”

Pria itu terlihat syok.

Tapi Rea benar-benar tidak mengenalnya, sampai saat gadis itu tidak sengaja melihat satu lukisan besar di tembok belakang meja, tepat di hadapannya.

Lukisan wajah seorang pria brewokan. Wajah yang beberapa kali terpampang di cover majalah bisnis yang ia baca di perpustakaan kampus.

Matanya membesar. Rea cepat-cepat membandingkan lukisan tersebut dengan wajah di hadapannya.

Semua mirip kecuali sisiran dan bulu-bulu halus di wajahnya. Pria ini terlihat lebih muda dengan wajah mulus tanpa brewok.

Rumi Rajendra.

Pemilik The Blue Hill Hotel. Rutin bertengger di Forbes Indonesia’s 50 Richest. Pria yang tadi membantunya di depan Bara.

“Pak Rumi Rajendra? Duh maaf Pak,” ucap Rea akhirnya. Dia bahkan merukuk berulang kali. Membuat pria itu tidak nyaman.

“Stop melakukan itu. Di depan saya, atau di depan tamu sekalipun,” titah Rumi memperingatkan.

“Tapi saya salah, Pak,” jawab gadis itu masih menunduk.

“Salah pun kau hanya perlu minta maaf. Tidak perlu merendahkan dirimu, apalagi membiarkan orang lain merendahkanmu seperti yang dilakukan pria di ballroom tadi.”

Rea mengangguk cepat. Memberi signal bahwa dia pribadi yang mudah mengerti, dan tidak layak dipecat.

“Di Hotel ini, semua karyawanku tidak boleh diinjak-injak oleh siapapun. Kalau saya sebagai atasanmu tidak memperlakukanmu serendah itu, maka tidak ada satupun orang di gedung ini boleh merendahkan kalian, ataupun pekerjaan kalian. Paham?”

Mendengar itu, entah kenapa membuat Rea meneteskan air mata. Setelah bertahun-tahun kerja serabutan untuk bertahan hidup, bertemu dengan orang-orang yang tidak segan-segan mempermalukannya, kalimat barusan terdengar seperti pembelaan. Manis.

“Kamu nangis?” tanya pria itu maju reflek menaikkan dagu karyawannya itu.

Di hadapannya, dia melihat kedua pipi Rea memerah hangat. Kedua kelopaknya basah. Mata mereka bertemu, membuatnya cepat-cepat menjatuhkan tangannya.

“Maaf sudah menyentuh wajahmu tanpa izin,” ucap pria itu pelan.

“Tidak apa-apa Pak Rumi. Maaf saya menangis.”

“Kenapa?”

“Kata-kata Bapak bikin saya terharu,” ucap Rea sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya. Susah payah dia mengatur nafasnya, agar air matanya bisa berhenti.

Rumi terdiam sejenak. Tatapannya masih tertuju pada wajah Rea yang perlahan kembali tenang.  Pria itu terlihat berpikir, sampai akhirnya sudut bibirnya sedikit terangkat dan kembali membuka mulutnya.

“Kalau begitu, jadilah pasangan saya. Saya pastikan kamu tidak akan menangis lagi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 5

    Setelah reflek memekik keras, jantung Rea berdentum habis-habisan. Kepalanya langsung dipenuhi berbagai tuduhan. Apa pria itu sengaja? Apa pria itu punya niat yang nggak-nggak? Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.Terlebih pria itu butuh beberapa detik sebelum ia tersadar dan memalingkan badannya.“Maaf.” Suaranya terdengar bersalah dan hendak menutup pintu kembali. “Saya pikir kamu….”Di samping rasa kesalnya, otak gadis itu tiba-tiba berpacu. Sambil menggigit bibirnya, sesuatu terlintas.Mustahil baginya menggunakan baju itu tanpa bantuan orang lain. Tangannya sudah pegal mencoba menaikkan resleting sejak tadi, tapi gagal berulang kali.“Tunggu!” seru Rea menghentikan langkah bosnya itu, dengan wajah memerah menahan malu. “B-boleh minta tolong nggak Pak?”Rumi tidak bergerak. Dia fokus mendengar.“Dari tadi aku susah menggapai resletingnya. Boleh to….”“Kamu yakin saya boleh menoleh?” tanya pria itu memotong kalimat Rea.Gadis itu mengangguk kecil yang kemudian sadar kalau Rumi bah

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 4

    “Mulai hari ini banget ya Pak kontraknya? Eh emang Bapak butuh pasangan apa jam segini?” tanya Rea was-was, mengingat ini sudah nyaris senja, ditambah informasi baru bahwa kemungkinan besar bosnya tidak gay karena memiliki anak.Lagi-lagi Rumi menghela napasnya kasar. “Malam ini ada undangan pernikahan rekan bisnis yang perlu saya hadiri. Kamu harus dampingin saya.”Entah sudah berapa kali hari ini Rea tersentak. Tidak cukup dia kaget karena mendapat tugas secepat itu, tapi fakta kalau dia harus menghadiri sebuah pesta langsung membuatnya syok.‘Mau pakai baju apa aku?’ tanyanya pada diri sendiri, sambil menunduk cepat melihat sepatu bututnya. Converse yang entah sudah berumur berapa tahun itu.“Pak….” kalimat Rea tertahan. Dia memilih menatap pria itu terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimat bingungnya. “Pakai baju seperti ini?”Pria itu sontak menatap Rea dari atas sampai bawah sambil berpikir sejenak.“Ikut aku.” Rumi melepaskan genggamannya lalu mulai berjalan ke arah pintu.“K

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 3

    Sontak, Rea terdiam. Air matanya juga berhenti mendadak mendengar kalimat yang barusan. Dengan mata yang masih sembab, dia sekali lagi memberanikan diri untuk mendongak. Menatap mata atasannya.“M-maksud Bapak?”“Jadi pasangan saya,” ulang Rumi sekali lagi dengan senang hati.Rea mengerjap. Tangannya naik menyentuh kedua kupingnya. Memastikan dua organ itu masih menempel di sana, dan dia tidak salah dengar.“Maaf. Maksud Bapak pasangan itu…. seperti bos dan karyawan?”Rumi menggeleng kecil. “Pasangan. Laki-laki dan perempuan.”Sebuah rumor lama tentang Rumi langsung melintas di kepala Rea. Ia terkekeh pelan. Dia memang lemah dalam hal menahan tawa saat ada hal-hal yang menurutnya lucu.Dulu, pernah beredar kabar bahwa pria itu menyukai sesama jenis. Tentu saja Rea tidak tahu apakah rumor itu benar atau hanya gosip karyawan. Namun, kalau dipikir-pikir….Jangan-jangan tawaran ini ada hubungannya dengan rumor tersebut?Mungkin Rumi ingin menutupinya dengan memiliki seorang pasangan perem

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 2

    Rea hampir memekik kalau saja Bara tidak sedang berdiri di depannya. Dia reflek menoleh ke samping, menatap pria yang entah siapa, tapi berdiri begitu dekat, dengan sebelah lengannya melingkar santai di bahu gadis itu.Rea mengerjap. Matanya membulat. Kata-kata sanggahan sudah nyaris terlontar, tapi telapak tangan pria itu lebih dulu turun mengusap pelan punggungnya. Sapuan yang panjang dan tenang, membuat Rea menegang mendadak. Pria itu bahkan membalas tatapan Rea dengan alis terangkat diikuti sebuah anggukan kecil.Saat itulah Rea menangkap maksudnya. Kalau dia hanya perlu mengikuti sandiwara apapun ini.“O-oh aku hampir lupa, M-mas. Tadi tim cleaning kurang personil. Jadi aku bantuin aja sekalian,” ucap Rea sedikit terbata. Tidak lupa menarik sedikit senyum pada siapapun orang yang tengah menyentuhnya itu.Sedang di hadapan mereka, raut Bara ikut berubah. Tatapannya berpindah antara Rea dan pria baru yang merangkul gadis itu. Kerutan di dahinya muncul, menyiratkan rasa tidak perca

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 1

    “Nah, kalau ini ballroom utama kami. Lebih besar dari yang tadi, dengan gaya European classic. Bapak Ibu perlu melakukan reservasi kurang lebih dua tahun sebelumnya kalau memilih yang ini.”Rea reflek menganga sedikit sambil berbalik mencari arah suara itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tiga orang masuk beriringan ke dalam ballroom. Dari pakaian dan papan nama di blazernya, ia tebak salah satu dari mereka adalah seorang banquet manager. Seseorang yang bertanggung jawab mengelola acara-acara yang akan diadakan di hotel tersebut.Tidak berhenti hanya mengecek asal suara, Rea bahkan ikut mendengarkan penjelasan wanita itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Kebetulan dia sedang berdiri tepat di samping pintu masuk, dengan plastik sampah hitam besar di genggamannya.Matanya naik menatap chandelier megah di tengah ruangan yang sedang menjadi objek penjelasan. Dia tidak berkedip melihat betapa indahnya lampu itu.“Woooow.…” bisiknya pelan. Spontan.Rea bertanya-tanya mengapa dia baru m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status