Share

CHAPTER 3

Author: brokolying
last update publish date: 2026-07-27 10:19:37

Sontak, Rea terdiam. Air matanya juga berhenti mendadak mendengar kalimat yang barusan. Dengan mata yang masih sembab, dia sekali lagi memberanikan diri untuk mendongak. Menatap mata atasannya.

“M-maksud Bapak?”

“Jadi pasangan saya,” ulang Rumi sekali lagi dengan senang hati.

Rea mengerjap. Tangannya naik menyentuh kedua kupingnya. Memastikan dua organ itu masih menempel di sana, dan dia tidak salah dengar.

“Maaf. Maksud Bapak pasangan itu…. seperti bos dan karyawan?”

Rumi menggeleng kecil. “Pasangan. Laki-laki dan perempuan.”

Sebuah rumor lama tentang Rumi langsung melintas di kepala Rea.

Dulu, pernah beredar kabar bahwa pria itu menyukai sesama jenis. Tentu saja Rea tidak tahu apakah rumor itu benar atau hanya gosip belaka. Namun, kalau dipikir-pikir, ia jadi curiga jangan-jangan tawaran ini ada hubungannya dengan rumor tersebut?

Mungkin Rumi ingin menutupi isu itu dengan memiliki seorang pasangan perempuan. Mungkin juga dia sedang menghadapi masalah tertentu yang tidak diketahui Rea. Ada begitu banyak kemungkinan.

Rea diam-diam mengamati pria di hadapannya dengan serius. Namun, semakin dipikirkan, semakin aneh rasanya.

Kalau memang alasannya itu, kenapa harus dia?

Rea buru-buru mengusir rasa penasaran yang muncul. Dia tidak mungkin menanyakan hal-hal pribadi kepada seorang atasan di tempatnya mencari nafkah. Lagi pula, itu bukan urusannya.

Yang pasti, dia tetap merasa tawaran ini terlalu tidak masuk akal.

“Kalau Bapak butuh pasangan, saya rasa Bapak salah orang.” Rea mengelak sebisanya. “Saya cuma pekerja biasa, Pak. Hanya cleaning service. Tawaran ini rasanya tidak rasional.”

“Justru karena kamu cleaning service. Itu berarti kamu butuh uang, kan?”

Rea tercengang. Dia memang butuh uang. Sangat butuh. Untuk makan, membayar utang UKT-nya, dan bertahan hidup. Tapi tetap saja….

“Butuh, Pak. Tap..”

Rumi memotong kalimat itu sambil menatapnya tenang. “Nah, kalau kamu bersedia menjadi pasangan saya, saya bisa menaikkan gaji kamu menjadi tiga puluh lima juta sebulan. Di luar bonus.”

Rea langsung terbelalak. Matanya seperti menyala seperti pantat kunang-kunang.

‘Tiga puluh lima juta sebulan…. Di luar bonus?’

Jumlah itu lebih dari cukup untuk bertahan hidup di kota ini sekaligus menyisihkan uang untuk satu tujuan yang selama ini dia simpan dalam hati.

Menebus kembali hotel kecil milik keluarganya.

Dulu, orang tuanya memiliki sebuah boutique hotel di kota asal mereka. Namun, saat Rea masih SMA, kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan bisnis mereka ikut terpuruk hingga dinyatakan pailit.

Demi menyelamatkan hotel itu, Rea terpaksa menjualnya kepada sahabat papanya dengan satu harapan, suatu hari nanti dia bisa membelinya kembali.

Dan sekarang, tawaran Rumi mungkin bisa mempercepat impiannya.

Tapi Rea masih menatap pria itu penuh kecurigaan. Tawaran tiga puluh lima juta sebulan memang menggiurkan, tetapi dia tidak sebodoh itu untuk percaya begitu saja. Angka sebesar itu pasti ada sesuatu di baliknya.

Namun, kalau dipikir-pikir lagi, seharusnya dia tidak perlu terlalu khawatir. Kalau rumor tentang Rumi memang benar, pria itu tidak mungkin tertarik padanya. Jadi, selama dia menjalankan perannya sebagai pasangan kontrak dengan baik, seharusnya tidak akan ada masalah. Dia akan aman-aman saja.

Rea pun sedikit lebih tenang.

“Kalau begitu... tugas saya apa saja, Pak?”

Rumi menatapnya sejenak.

“Bukankah Bapak bilang saya harus jadi pasangan Bapak?” Rea bertanya ragu. “Jadi... apa saya harus benar-benar pacaran sama Bapak?”

“Memangnya kamu mau?” Rumi tersenyum tipis.

“Bukan begitu.” Rea buru-buru menggeleng. Ia langsung merasa salah bicara. “Saya hanya ingin tahu dan memastikan apa yang harus saya kerjakan.”

Rumi mundur mengambil sesuatu dari atas meja, lalu berjalan menuju sofa.

“Pokoknya, kamu tinggal mengikuti apa yang saya katakan,” jawab Rumi santai. “Kamu juga tidak perlu bekerja di sini lagi.”

Rea langsung menatapnya kaget. Siap protes.

“Tidak perlu bekerja di sini lagi?”

“Baca dulu kontraknya,” anjur Rumi sambil memberikan satu map ke arah trainee di hotelnya itu.

Rea menerima map tersebut dan mulai membaca isinya. Poin pertama berisi kewajiban untuk mengikuti arahan Rumi, sementara poin kedua mengharuskannya mendampingi Rumi dalam berbagai acara sebagai pasangan.

Tidak ada yang sulit. Rea hanya perlu menuruti perkataan bosnya dan sesekali ikut menghadiri acara bersama pria itu.

Namun, saat membaca poin ketiga, Rea mulai lebih serius. Di sana tertulis bahwa perjanjian itu bisa dihentikan sepihak jika kinerjanya dianggap tidak memuaskan.

Rea langsung bertekad akan melakukan pekerjaannya sebaik mungkin. Dengan gaji tiga puluh lima juta sebulan, dia tidak boleh sampai gagal.

Baru saja hendak melanjutkan membaca, mata Rea berhenti di poin keempat.

“Sebentar....” Rea mengerutkan kening.

Rumi yang duduk di sofa menoleh. “Kenapa?”

Rea mengangkat wajahnya. “Saya juga harus menjadi babysitter? Buat anak… Bapak?”

“Iya,” jawab Rumi singkat, seolah tidak ada yang aneh.

Rea membeku.

‘Anak? Tunggu dulu. Kalau Rumi punya anak, berarti…’

Pikiran Rea langsung melayang pada rumor itu. Jangan-jangan rumor tersebut salah?

Kalau sampai salah, lalu selama ini Rumi ternyata benar-benar menyukai perempuan?

Rea mulai panik. Semua asumsi yang tadi membuatnya merasa aman, sirna seketika. Dan dengan begitu, dia bisa dalam bahaya.

Atau, bagaimana kalau ternyata Rumi malah memintanya untuk jadi simpanan?

Bayangan itu spontan membuat Rea menutup dadanya dengan kedua tangan, lalu menatap Rumi dengan wajah waspada. “Berarti... Bapak punya istri, dong? Bapak mau jadiin saya simpanan ya?!”

Melihat Rea seperti itu, Rumi menghela napas berat. “Itu bukan urusan kamu. Saya ulangi, kamu hanya perlu mengikuti perintah saya dan melakukan tugasmu. Selama kamu menjalankan kontrak dengan baik, saya bisa menjamin keamananmu.”

Rea terdiam.

Benar juga. Apa urusannya dia dengan kehidupan pribadi Rumi? Mau dia punya anak, istri, atau apa pun itu, bukan masalahnya.

Lagipula, di dalam kontrak juga sudah jelas tertulis tidak akan ada sentuhan yang tidak perlu. Seharusnya dia aman.

Ya sudah. Yang penting dia bekerja, mendapatkan uang, lalu menabung untuk menebus kembali hotel keluarganya.

Rea akhirnya mengangguk.

“Baiklah. Saya setuju. Pulpen, Pak,” pinta Rea menengadahkan tangan kanannya tak sadar, tanpa melihat bosnya.

Rumi berdecak pelan melihat perubahan gadis itu, sebelum memberikan pulpen yang dia keluarkan dari saku celananya.

Rea menandatangani semua kolom namanya, lalu diikuti pria itu mengisi semua bagiannya. Setelah semua selesai, mereka bahkan berdiri untuk saling berjabat. Merayakan kata sepakat.

Dua ayunan tegas, sebelum Rea memutuskan untuk pamit.

“Kalau begitu….” ucap Rea hendak menarik tangannya.

Namun jemari Rumi belum juga terlepas.

Gadis itu mencoba menarik sekali lagi, pelan dan sopan. Tapi tetap gagal.

Tatapannya otomatis turun ke tangan mereka yang masih saling menggenggam, lalu naik ke wajah pria di depannya. Dahi Rea berkerut, kebingungan.

"Pak..." panggilnya hati-hati, lalu menambahkan dengan polos. "Tangan saya. Saya mau permisi. Shift saya sudah habis.”

Jabat itu tetap kokoh. Tidak kunjung dilepaskan oleh Rumi..

“Sebagai cleaning service? Ya. Tapi sebagai pasanganku, belum.”

“M-maksudnya Pak?” tanya Rea memiringkan kepalanya.

“Kamu menandatangani kontrak tanpa melihat tanggal yang tertera di sana?” Rumi sedikit melotot.

Rea sontak mengutuk dirinya sendiri. Bagi gadis yang kekurangan uang itu, satu-satunya angka yang perlu dia perhatikan di kertas tadi hanyalah nominal gaji yang akan dia dapat, tanpa memperhatikan kapan kontrak itu mulai berlaku.

Jadi di sanalah dia kemudian. Berdiri dalam penthouse bosnya di lantai teratas gedung hotel yang sama.

“Masuk ke ruangan itu. Di dalam ada lemari pakaian yang bisa kamu pilih satu untuk kamu gunakan malam ini,” titah Rumi sambil menunjuk satu pintu secara spesifik.

“Tapi Pak…. Baju-baju itu milik siapa? Saya tidak berani memakai sesuatu yang bukan milik saya,” tolak Rea sopan.

“Pakai saja. Baju-baju itu kubelikan untuk mantan istriku dulu sebelum kami bercerai.”

Kalimat itu sontak membuat Rea terdiam, dan hanya mengangguk kecil.

Tidak bertanya lebih jauh adalah satu-satunya pilihan. Gadis itu memilih menutup mulutnya rapat-rapat dan menuruti perintah bosnya. Mantra barunya terngiang-ngiang.

‘Lakukan tugasmu, dan ambil gajimu.’

“Kamu harus sudah beres jam tujuh malam. Cukup untuk siap-siap, kan?” tanya pria itu lagi sebelum berlalu entah kemana.

Rea melihat jam pada pergelangannya. Sekarang pukul lima. Itu berarti dia ada waktu dua jam untuk mempersiapkan diri. Sangat cukup. Dia bahkan bisa membersihkan satu lagi ballroom dengan waktu sebanyak itu.

“Tentu Pak,” jawabnya yakin, yang kemudian dia sesali. Karena setelah berkeliling, ia mendapati hampir semua baju yang ada di ruangan itu berukuran satu size lebih rendah dari ukurannya.

“Habislah aku! Selangsing apa mantan istri pria itu?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 50

    "Pacar siapa memangnya Ru? Hari ini Rea terlihat single. Dari tadi sendiri. Saya nggak lihat tuh ada cowok yang nemenin dia?" cibir Kartika tajam menatap sepupunya itu lekat.Rea tidak bereaksi apapun.Tapi Rumi, pria itu tersenyum. Dia tetap tenang.“Sendiri bukan berarti Rea jomblo. Saya rasa semua orang di sini tahu Rea pasangan saya, Mbak.”“Bahkan wanita yang di jari manisnya sudah ada cincin pernikahan sekalipun, kalau dia terbiasa terlihat sendirian, mau satu dunia tahu dia milik siapa, akan ada cowok lain yang nekat ngerebut dia,” tambah Kartika tidak kendor.Kalimat gadis itu terdengar seperti peringatan bagi Rumi, dan sebuah sanjungan dari Rea, meski dia tidak yakin akan ada pria yang mau mendekatinya jika tahu seberapa berantakan hidupnya beberapa tahun belakang. Membuatnya kehilangan apapun termasuk kepercayaan diri.“Mbak Kartika nggak usah khawatir. Saya tahu bagaimana cara menjaga pasangan saya,” ungkap Rumi penuh keyakinan.“Benarkah seperti itu, Rumi? Karena sejak tad

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 49

    Sejak pertanyaan Rumi hari itu, sebulan yang lalu, hubungan mereka berdua benar-benar hanya sepasang kontrak. Tidak ada basa-basi yang tidak perlu. Terlebih sentuhan yang terlepas. Mereka benar-benar menjadi atasan dan bawahan yang tidak jauh-jauh dari pekerjaan semata.Bahkan untuk sekedar bertatap mata di luar masalah kerjaan, Rumi enggan.Tapi mereka masih begitu sangat profesional di luar sana, terlebih di media. Rea masih mendampinginya kemanapun Rumi butuh.Tapi sisanya? Nol.Pria itu benar-benar menghindari Rea.Dan hal tersebut membuat Rea makin kebingungan.Satu sisi dia berterima kasih karena dengan sikap Rumi yang demikian, perasaannya sukar tumbuh lebih dalam. Dia hanya perlu fokus menjalankan tugasnya.Tapi di sisi lain? Melihat pria itu menjadi begitu acuh ternyata bukan hal yang dia sukai.Seperti hari ini. Mereka sedang berada di salah satu pernikahan keluarga Rumi. Rea memakai kebaya manis berwarna maron, yang diimbangi dengan warna batik Rumi yang senada.“Kalian bai

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 48

    “Cantik. Cantik sekali.”Mendengar itu, nyaris saja Rea merona. Syukurnya pagi ini nyawanya cepat terkumpul. Jadi ketika Rumi mengatakan bahwa dia cantik, ingatan tentang semua kekesalannya pada pria ini belakangan langsung terbayang.“Good morning…” sapa Rea sambil tersenyum.“Morning, Cinderea,” sambut Dista yang langsung naik ke samping gadis itu. “Dista lapar.”Kedua alis Rea terangkat. Matanya mencari Rumi di samping seolah meminta penjelasan kenapa anak-anak itu lapar.“Anak-anak belum sarapan?”“Belum. Hari ini jadwal libur semua asistern rumah tangga. Jadi subuh-subuh tadi sudah berangkat,” jelasnya.“Chef Anton juga?” tanya Rea lagi menyebutkan nama chef yang biasa menangani makanan di penthouse itu.“.." Rumi hanya mengangguk.“Kalau Anton libur, kalian biasanya sarapan apa?”“Mama nginap.”“Kali ini kenapa nggak nginap?”“Aku bilang nggak perlu. Karena ada kamu.”Mendengar itu Rea cepat-cepat duduk. Anak-anak pun berlarian keluar kamar, meninggalkan dua orang dewasa itu sen

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 47

    Dante yang sama sekali tidak merasa ada yang aneh, hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Oh, tadi gue ketemu Rea di coffee shop dekat sini. Sekalian aja gue antar pulang. Kasihan sendirian. Katanya lu sibuk, soalnya.”Rea mengangkat wajah.“Gimana? Udah nganter Maudi?” tanya Rea to the point. Sedikit kelepasan.“Loh, lo nganter Maudi, Rum?” Dante spontan menoleh ke Rumi..Rea tersenyum tipis. Sinis.Tanpa menunggu jawaban siapa pun, dia maju ke pintu.“Ya sudah, kalian ngobrol aja,” ucapnya ringan. “Aku masuk dulu. Sudah ngantuk banget.”Sebelum masuk, Rea sempat menoleh kepada Dante. “Oh iya, Mas Dante. Makasih ya, sudah nganterin.”“Sama-sama, Dek Rea,” ucap Dante yang kemudian menepuk bahu Rumi sekali. “Gue cabut dulu.” Dia menahan tawa melihat ekspresi Rumi. “Good luck.” Lalu pergi begitu saja.Sayangnya Rumi kurang lincah hingga pintu unit di depannya lebih dulu tertutup saat Dante pamitan.TOK TOKTidak ada jawaban. Begitu pula dengan beberapa ketukannya kemudian. Di

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 46

    Ruang tamu kembali sunyi. Rea melihat mereka pergi dengan pandangan yang menyesakkan. Dia tahu dia salah. Tapi Rumi berlebihan. Bahkan untuk sekedar ikut menemani anak-anak pun tidak diizinkan.Rea akhirnya membuka laptop yang dibawakan oleh Bene. yang katanya berisi file medical record anak-anak.Dia membacanya dari halaman pertama.Riwayat kesehatan. Alergi. Obat. Pola makan. Jadwal pemeriksaan. Catatan dokter. Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya.Setelah selesai dengan Dista, dia membuka milik Desta.Jam bergeser tanpa dia sadari. Bahkan saat mata Rea mulai terasa kering, dia tetap membaca.Dia mencatat beberapa poin penting di sebuah dokumen terpisah. Sesekali mengulang bagian yang tidak dia pahami.Sampai akhirnya suara pintu terdengar.Rea mengangkat wajah.Rumi masuk. Dista berada dalam gendongannya, sedang Ammar membawa Desta di dekapannya.Dan….Dan Maudi masih ada.“Tante Rea!” sapa kedua anak itu lagi-lagi serempak ketika turun dari gendongan

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 45

    Keesokannya, Rea menghubungi nomor ponsel Ammar, sopir Rumi, sebelum bersiap mandi.“Saya ikut jemput Dista dan Desta pulang sekolah hari ini, ya, Pak,” ujar Rea sambil meroll rambut di depan cermin. “Tapi nggak usah kasih tahu Pak Rumi.”“Oh baik, Bu,” sahut Ammar dari seberang telepon. “Saya jemput Ibu Rea dulu di apart berarti? Atau di mana?” tanya pria itu memastikan.“Di apart, Pak.” Rea tersenyum kecil membayangkan reaksi anak-anak. Setidaknya hari ini dia bisa menebus sedikit kesalahannya semalam pada dua kembar favoritnya itu.Begitu mobil tiba, mereka langung ke sekolahan Dista dan Desta. Lumayan jauh. Dia bingung kenapa Rumi harus memilih sekolah sejauh ini dari rumah. Tapi syukurnya, tidak ada pesan dari pria itu sejak pagi. Tidak ada pertanyaan. Tepat seperti yang dia inginkan.Saat Dista dan Desta melihatnya di depan gerbang sekolah, keduanya langsung berlari menghampiri.“Cinderea!”“Tante Rea!” seru Desta bergantian dengan mbaknya, sambil meraih tangan Rea.“Gimana seko

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status