Mag-log inButuh beberapa detik untuk Rumi berhasil melepaskan bibir Rea.
Dan ketika terlepas, Pria itu tidak langsung menjauh. Dia justru mengecap bibir bawahnya sendiri, seolah sedang menilai sesuatu yang baru saja dicicipinya.
“Hmm.” Sudut bibirnya terangkat. “Iya, manis.”
Selain nyaris lupa bagaimana cara bernapas, Rea juga benar-benar seperti kehabisan kata-kata. Belum sempat dia mencerna ucapan pria itu, Rumi sudah mengangkat tangan dan mengusap lembut bibirnya. Bibir yang baru saja dicium tanpa aba-aba.
“Mas!” Rea berbisik panik.
Wajahnya terasa panas sampai ke telinga. Bukan hanya karena apa yang baru saja dilakukan pria itu, melainkan juga karena puluhan pasang mata yang kini mengarah kepada mereka.
Bayangkan! Di tengah gedung pernikahan orang lain, di hadapan begitu banyak orang, pria itu baru saja menciumnya!
Sementara Rea nyaris ingin kabur dari gedung itu, Rumi justru terlihat santai. Seolah mencium perempuan yang baru dikenalnya adalah hal paling lumrah di dunia.
“Kenapa?” tanyanya, menunduk sedikit agar bisa menatap wajah Rea. “Kamu malu?”
Rea melotot. Tentu saja dia malu! Apa pria itu tidak punya mata untuk melihat wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus?
“Bap….” Rea segera meralat panggilannya ketika teringat mereka sedang berada di tempat umum. “Mas! Kita dilihatin orang!”
“Biarkan saja.”
“Biarkan saja bagaimana? Semua orang lihat!”
“Sebentar lagi juga mereka lupa.”
Rea ingin membantah, tetapi Rumi lebih dulu melirik ke sekeliling mereka. Dengan tenang, dia menggeser posisi tubuhnya sedikit, menghalangi Rea dari beberapa tamu yang masih terang-terangan memperhatikan mereka.
“Tenang saja,” katanya, kali ini dengan suara lebih rendah. “Mereka datang ke sini untuk menghadiri pernikahan, bukan mengurusi kita.”
Rea mengikuti arah pandangnya dengan ragu. Ternyata ucapan pria itu benar.
Satu per satu tamu mulai mengalihkan perhatian. Beberapa kembali bercakap-cakap, yang lain melanjutkan santapan mereka, sementara musik dan suara pembawa acara kembali mendominasi ruangan. Tidak sampai semenit, suasana pesta sudah kembali seperti semula.
Seolah tidak ada apa-apa.
Seolah bibir Rea tidak baru saja disambar oleh pria yang berdiri di sampingnya.
Rea terpaku.
‘Orang kaya memang sebegini tidak pedulinya? Atau jangan-jangan, kejadian seperti ini sudah terlalu biasa di kalangan mereka?’ protes gadis itu dalam hati.
Rea melirik Rumi dari sudut mata.
Pria itu sudah kembali memegang gelas minumannya dengan santai, bahkan sempat mengangkatnya ke bibir tanpa sedikit pun menunjukkan tanda-tanda penyesalan.
‘Ini juga satu! Pantas saja dia dijuluki playboy!’ lanjut Rea menggerutu tanpa henti di benaknya. ‘Baru seminggu jadi pasangan, udah berani nyium-nyium! Gimana besok? Bakal ngapain dia?’
Rea bergidik membayangkannya.
“Jangan pasang wajah seperti itu,” ujar Rumi, meliriknya. “Nanti orang-orang malah curiga.”
“Memangnya mereka belum curiga?”
“Kalau begitu, jangan kasih mereka alasan untuk semakin curiga.”
Rea membuka mulut, siap melontarkan protes. Namun, sebelum satu kata pun keluar, sebuah suara perempuan terdengar dari belakang mereka.
“Rumi Rajendra. Hadir kamu rupanya?” Nada suaranya terdengar tenang, tetapi cukup membuat Rumi berbalik badan menuju arah suara. Rea juga ikut menoleh.
Seorang perempuan berdiri beberapa langkah di belakang mereka, dengan gaun gaun putih penuh tule. Warna yang seharusnya tidak digunakan tamu di acara pernikahan orang lain.
Rea yang merasa tidak asing dengan wajahnya, hanya bisa diam di samping Rumi. Menunggu Rumi merespon, sambil menebak-nebak pernah melihat wajah itu dimana.
“Tentu. Saya selalu menghadiri pernikahan rekan bisnis,” jawab pria tersebut dingin.
“Dan kamu sekarang tidak datang sendiri,” sambung wanita itu lagi sambil menatap Rea. Matanya langsung terpaku pada gaun yang gadis itu kenakan. Satu senyum sinis langsung terpajang di wajahnya. “Siapa gadis yang memakai baju bekasku ini Rum? Nggak bisa kamu beliin dia gaun baru?”
“Ini jelas bukan bekasmu,” tepis Rumi dengan tenang.
“Ya, kamu beliin itu khusus untuk aku dulu. Aku ingat.”
“Itu berarti kamu juga ingat kalau saya mampu membeli gaun yang sama untuk wanita lain,” timpal Rumi tidak kalah sengitnya.
“Tapi…”
“Mana suamimu, Fiona? Apa dia tahu kamu berkeliaran di sini mengurusi urusan mantanmu?”
Mata Rea melotot mendengar nama itu. Fiona. Artis papan atas yang sukses membintangi beberapa sinetron, dan ternyata mantan istri Rumi?!
Pantas dia merasa familiar sejak tadi, namun susah mengenalinya. Entah karena Rea tidak memiliki TV dan jarang menonton sinetron, atau karena perubahan wajah artis itu yang terlihat berbeda dengan yang ada di ingatannya.
“Suamiku ada. Sedang berbincang dengan pemilik Russo Group yang akan membuka satu franchise hotel mereka di Jakarta,” tutur Fiona sombong. Menyebutkan satu nama grup yang membuat kening Rumi terangkat sebentar. “The Blue Hill akhirnya akan dapat saingan seimbang,” lanjutnya berusaha menakut-nakuti.
“Wow. Sayang denger itu? Akhirnya hotel kita akan dapat rival baru. Bisnis akan lebih menyenangkan nanti,” celetuk Rea sambil menaikkan tangan membelai dasi dan dada bidang Rumi dengan lembut. Setelahnya dia bahkan menyelipkan satu tangannya merangkul lengan kanan kekasih kontraknya itu.
“Semoga suami kamu berhasil dapat tender itu ya Mbak. Lumayan buat benerin botox-botox yang kayaknya mulai kendor,” tambah Rea menyindir dengan amat mulus.
Rumi dan Fiona yang mendengar itu sontak terlonjak kaget.
Pria itu sih langsung terkekeh pelan.
Sedang Fiona, wanita itu melotot tak percaya. Terlihat marah.
“Yuk, Mas. Kita sapa yang lain.” Rea menarik pelan Rumi yang masih tertawa kecil itu, menjauh. Ke satu sudut ruangan. Sejauh mungkin dari artis sinetron kesayangan Ibu Kota tadi. “Mas, maaf banget saya kelepasan. Saya paling nggak bisa nahan diri kalau digituin,” bisik Rea terlihat panik. Dia bahkan menggigit pelan bibirnya karena gugup.
Tapi dia bingung bagaimana Rumi masih belum usai dengan tawa tipisnya.
“Tidak-tidak. Tidak apa-apa. Itu lucu. Ooooh… akhirnya seseorang mengatakan sesuatu tentang botox Fiona,” sanggah pria berdasi maroon tersebut. Berusaha sekuat mungkin menahan dirinya untuk tidak terbahak besar.
“Bagaimanapun juga dia mantan istri kamu, Mas. Saya jadi nggak enak sudah lancang menyinggung seperti tadi,” ucapnya pelan.
Rumi melihat wajah Rea benar-benar kalang kabut.
“Mantan. Tidak masalah buat saya,” tegasnya meyakinkan.
“Tapi saya takut kalimat saya tadi bakal bikin Mas kesusahan kelak,” tambah Rea lagi, mengingat fakta kalau yang barusan dia cibir adalah seseorang yang punya banyak penggemar. Belum lagi, bayangan menjadi musuh figur publik jelas tidak masuk dalam rencananya.
“Saya tidak peduli. Itu urusan nanti. Yang penting kamu sudah berhasil menutup mulut wanita itu. Dan terima kasih kamu sudah bela saya.” Ucapan Rumi terdengar tulus. “Gimana? Siap buat lanjutin malam ini?”
Tangannya lagi-lagi terulur.
Rea tidak langsung menjawab. Dia diam sebentar, menatap mata Rumi lekat, sebelum akhirnya mengangguk penuh senyuman. “Siap, Mas. Tapi…”
“Apa?”
“Jangan ada adegan ciuman di tengah-tengah orang kayak tadi lagi!” tuntut Rea tegas.
“Itu, saya tidak bisa janji. Lihat nanti,” jawab Rumi kembali menarik gadis itu. Tanpa ia sadari, di sampingnya, mendengar kalimat itu pipi Rea mulai merona lagi.
‘Playboy sialan! Tenangin diri kamu, Amarea!’
“Mas Rumi tahu, Om.” Rea membalas tanpa kehilangan senyumnya. “Makanya, yang dia bawa ke sini saya, bukan perempuan lain.”Kalimat Rea sontak membungkam semua orang di meja makan, termasuk Rajendra.Rea tahu betul posisinya di rumah itu. Dia hanya perempuan yang dibawa Rumi tanpa pemberitahuan, seseorang yang keberadaannya bahkan belum sepenuhnya diterima oleh keluarga pria itu.Namun, setelah Pak Rajendra sengaja mengundang Maudi untuk makan siang dan menjadikannya bahan sindiran di hadapan semua orang, Rea merasa tidak punya alasan untuk terus memasang sikap sungkan.Kalau tuan rumah saja tak berniat menjaga perasaannya, mengapa dia harus repot-repot menjaga perasaan tuan rumah? Lagi pula, Rea bukan tipe perempuan yang akan mundur dan diam saja kalau ada seseorang berusaha membuatnya merasa tidak pantas berada di sana.Selain itu, kontrak Rea dan Rumi juga akan berakhir. Jika setelah makan siang tadi dia mendapat predikat sebagai perempuan kurang ajar di mata orang tua pria itu, ras
Emosi Rea yang sudah mendidih sebelumnya, sekarang ditambah lagi dengan celetukan pria itu soal menantu, maka lengkap sudah alasan Rea untuk mencekik pria itu.Namun, dia memilih menahan diri. Mengingat siapa pemilik rumah yang akan mereka masuki, membuat Rea enggan menambah satu masalah lagi.Dia hanya berharap malam ini cepat berlalu.Kediaman keluarga Rajendra tampak megah, dengan arsitektur yang kental akan nuansa Jawa. Pintu kayu berukuran besar menyambut mereka, disusul ruang utama yang dipenuhi furnitur kayu berukir rumit.Mulai dari meja konsol, lemari pajangan, hingga kursi-kursi berukuran besar yang tampak seperti barang antik. Semuanya terlihat mahal, bahkan tanpa perlu mencantumkan harga.Rea melirik salah satu lemari jati dengan ukiran yang begitu detail.‘Perasaan mereka bukan keturunan bangsawan Jawa, deh. Sekaya apa keluarga ini sampai rumahnya begini?’ Rea bertanya-tanya dalam hati.Belum sempat dia mengamati lebih jauh, Nyonya Rajendra sudah mengajak mereka melewati
Pintu lift bahkan belum tertutup sempurna ketika Rea menarik tangannya dari cengkeraman Rumi.“Mas! Bisa nggak sih kalau mau ke mana-mana itu bicara dulu? Rencanain dulu?!” protes Rea, menatap pria yang masih lengkap dengan piyamanya tersebut. “Dan, saya punya kaki sendiri. Nggak perlu ditarik-tarik seperti anak kecil begini!”Rumi tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada angka yang terus berubah di atas pintu lift.Rea mengembuskan napas kasar. ‘Astaga!’Begitu pintu lift terbuka, Rumi kembali berjalan lebih dahulu. Rea terpaksa mengikuti langkah panjangnya sampai mereka tiba di parkiran. Pria itu bahkan membukakan pintu mobil untuknya, seolah-olah tidak sedang menyeretnya keluar dari rencana yang sudah dia susun sejak semalam bersama Dante.Rea masuk dengan kesal. Begitu Rumi duduk di balik kemudi, dia langsung menoleh.“Saya nggak bisa kayak gini, Mas. Ini hari libur saya.” Rea berusaha mempertahankan suaranya agar tidak meninggi. “Kita udah sepakat dari awal, kalau weekend tanpa kep
“Soalnya, kalau kamu mau, aku nggak keberatan ngabarin kamu terus. Setiap hari kalau perlu.”Rea jelas tidak menyangka kalimat dari Dante itu juga bisa membuat pipinya merona.Padahal Dante tidak melakukan apa-apa. Tidak mendekat seperti yang kerap Rumi lakukan, seolah dia tahu batasnya.“Mas Dante!”“Kenapa?” tanyanya ringan. “Kok mukanya merah?”“Nggak merah ya!”Dante terkekeh. “Tuh merah,” seru pria itu sambil menunjuk satu pipi Rea.“Mas Dante!”Alih-alih merasa bersalah, Dante malah mengulurkan tangan dan mengacak pelan rambut Rea. “Udah, sana masuk.”Rea buru-buru merapikan rambutnya. “Hati-hati di jalan ya Mas.”Dante mengangguk, senyumnya sedikit melunak. “Siap, Tuan Putri.”Akhirnya Rea masuk, dan pria itu pulang.Setelah mandi dan bersiap tidur, Rea baru saja selesai mengoleskan pelembap ke wajahnya ketika ponselnya berdering.Tanpa melihat nama yang tertera di layar, dia buru-buru mengangkatnya.“Halo?”“Halo?”Rea langsung mengenali suara di seberang sana.“Oh! Hay Mas.”
Rea meninggalkan penthouse Rumi dengan pikiran yang entahlah. Amburadul? Dan dia menyalahkan perasaannya atas itu.Andai saja dia tidak terbawa perasaan. Andai saja tidak muncul harapan tiap Rumi menyentuhnya. Semua pasti akan baik-baik saja.Dia tidak perlu menjaga jarak pada rumi maupun Dista dan Desta.Dan,Dia tidak akan menerima teror ini.Syukurnya ada Dante. Yang entah kenapa berada di basement Rumi.“Mas Dante? Kok ada di sini? Belum balik?” tanya Rea mendapati pria itu tengah ngobrol dengan Ammar, sopir pribadi Rumi.“Belum. Nunggu kamu,” jawab pria dengan senyuman dan lesung pipinya itu.“Pak Ammar yang bakal nganter aku pulang, Mas.”“Aku udah bilang sama Pak Ammar bisa langsung istirahat aja kok Dek. Kamu, biar aku yang antar. Sekalian aku mau bahas yang tadi.”Rea terdiam sebentar. Dia mentap Pak Ammar, “Pak, yaudah Bapak langsung istirahat aja,” ucap Rea menginstruksikan agar pria itu langsung masuk saja. Beliau punya satu kamar di penthouse Rumi, seperti Bene dan asiste
Semakin keras Rea berusaha bersikap biasa saja, semakin sering pula pikirannya kembali pada sikap dan kalimat Rumi kemarin.Gadis itu bahkan sudah berjanji ingin mencabut perasaannya pada Rumi sampai ke akar-akarnya, sebelum dia makin tolol karena cinta.Sayangnya, kita semua tahu perasaan tidak bekerja sesederhana itu.Setiap hari, Rea masih harus berhadapan dengan Rumi yang dingin, tegas, namun selalu memperlakukannya manis di hadapan orang-orang, seolah-olah Rea benar-benar perempuan yang dia cintai. Termasuk di depan anak-anaknya.Namun, di tengah usahanya meredam perasaan sendiri, ada satu masalah yang justru semakin sulit dikendalikan.Teror tidak kunjung berhenti.Setiap kali mendampingi Rumi ke sebuah acara, pesan-pesan aneh itu selalu datang. Kadang berupa foto mereka berdua yang diambil dari kejauhan. Kadang hanya kalimat singkat yang cukup untuk membuat perutnya terasa melilit.Dan malam ini, hal yang sama kembali terjadi.Convention hall hotel milik Rumi dipenuhi anggota k







