Masuk“Mulai hari ini banget ya Pak kontraknya? Eh emang Bapak butuh pasangan apa jam segini?” tanya Rea was-was, mengingat ini sudah nyaris senja, ditambah informasi baru bahwa kemungkinan besar bosnya tidak gay karena memiliki anak.
Lagi-lagi Rumi menghela napasnya kasar. “Malam ini ada undangan pernikahan rekan bisnis yang perlu saya hadiri. Kamu harus dampingin saya.”
Entah sudah berapa kali hari ini Rea tersentak. Tidak cukup dia kaget karena mendapat tugas secepat itu, tapi fakta kalau dia harus menghadiri sebuah pesta langsung membuatnya syok.
‘Mau pakai baju apa aku?’ tanyanya pada diri sendiri, sambil menunduk cepat melihat sepatu bututnya. Converse yang entah sudah berumur berapa tahun itu.
“Pak….” kalimat Rea tertahan. Dia memilih menatap pria itu terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimat bingungnya. “Pakai baju seperti ini?”
Pria itu sontak menatap Rea dari atas sampai bawah sambil berpikir sejenak.
“Ikut aku.” Rumi melepaskan genggamannya lalu mulai berjalan ke arah pintu.
“Kemana, Pak?”
“Ikut saja. Kita perlu ubah penampilan kamu.”
Gadis itu langsung paham, dan reflek mengekori pria tinggi tersebut. Susah payah dia mengimbangi langkah panjang Rumi hingga berbelok ke lorong yang juga belum pernah ia tapaki.
Di sana, ada satu lagi ruangan kaca, yang untuk masuk, Rumi perlu menempelkan kartu akses kecil. Ada satu set kursi di baliknya dan satu lagi lift yang warnanya berbeda dengan lift-lift lain di gedung ini.
Tidak banyak tombol di elevator itu. Hanya ada PH - K - B, yang kemudian Rea tebak singkatan dari Penthouse, kantor, dan basement. Sekarang gadis itu mengerti kenapa bosnya bisa menawarinya gaji dengan nominal besar seolah tidak berarti apa-apa. Punya penthouse rupanya beliau.
“Masuklah ke ruangan itu. Di dalamnya ada lemari pakaian yang bisa kau pilih salah satu isinya untuk kau gunakan malam ini,” titah Rumi saat mereka masuk ke dalam penthouse pribadinya.
“Tapi Pak…. Baju-baju itu milik siapa? Saya tidak berani memakai sesuatu yang bukan milikku,” tolak Rea sopan.
“Pakai saja. Baju-baju itu kubelikan untuk mantan istriku dulu sebelum dia menceraikanku.”
Kalimat itu sontak membuat Rea terdiam, dan hanya mengangguk kecil.
Tidak bertanya lebih jauh adalah satu-satunya pilihan. Gadis itu memilih menutup mulutnya rapat-rapat dan menuruti perintah bosnya. Mantra barunya terngiang-ngiang.
‘Lakukan tugasmu, dan ambil gajimu.’
Dengan yakin dan mantap, gadis itu mengangguk sebelum membuka pintu.
Di hadapannya terhampar sebuah ruangan besar tanpa ranjang. Ruangan itu penuh dengan kabinet-kabinet berisi baju-baju, tas, bahkan sepatu-sepatu yang Rea tebak branded semua.
‘Jadi ini yang namanya walk-in closet?’ gumamnya norak, memutari ruangan itu perlahan.
Hampir semua benda di tempat itu masih memiliki price tag. Beberapa bahkan masih rapi terbungkus dalam kotak-kotak kokohnya.
“Kamu harus sudah beres jam tujuh malam. Cukup untuk kamu bersiap-siap, kan?” tanya Rumi yang kembali muncul di belakangnya. Berdiri di pintu dengan kedua tangan terselip dalam saku celananya kiri dan kanan.
Rea melihat jam pada pergelangannya. Sekarang pukul lima. Itu berarti dia ada waktu dua jam untuk mempersiapkan diri. Sangat cukup. Dia bahkan bisa membersihkan satu lagi ballroom dengan waktu sebanyak itu.
“Tentu Pak,” jawabnya yakin, yang kemudian dia sesali.
Seperginya Rumi, gadis itu langsung membersihkan diri di kamar mandi yang juga terletak di dalam ruangan yang sama.
Ketika tubuhnya berada di bawah kuncuran air dingin, matanya memejam. Semua kejadian hari ini seperti ikut tersiram. Yang semula sudah mulai blur, menjadi jelas kembali.
Dia tidak menyangka akan bertemu Bara setelah bertahun-tahun menghindarinya. Semua kata-kata pria itu hari ini, kembali terdengar sedekat suara air dari shower di atasnya. Air matanya tak tertahankan.
Ternyata melihat pria itu masih terasa sama menyakitkannya dengan terakhir kali mereka bertatap mata. Bahwa Bara tidak akan bisa memberinya luka lagi, ternyata adalah kesimpulan yang salah. Pria itu benar-benar berubah, dan semakin berubah dibanding saat mereka bersama dulu.
Lalu, Rea melihat sekelilingnya. Bilik mandi mewah itu menariknya kembali ke realita. Entah alur seperti apa yang sedang dia jalani, tapi kehadiran Rumi hari ini dia percayai berarti sesuatu yang baik.
Dia jadi dapat pekerjaan dengan gaji yang lebih dari ekspektasinya. Dia bahkan bisa dapat bonus. Bonus yang jelas tidak akan cair kalau dia telat.
Buru-buru Rea menyudahi mandinya. Rambutnya dia keringkan dan rapikan secepat mungkin, memoles wajahnya tipis, lalu keluar memilih baju.
Dan disitulah masalahnya dimulai.
Hampir semua baju yang ada di ruangan itu tidak pas dengan tubuh padatnya.
“Habislah aku! Selangsing apa mantan istri pria itu?” ucap Rea mulai frustasi di tengah-tengah beberapa baju yang tidak berhasil dia kenakan. Dia bahkan sempat memaki nasi uduk yang dia makan tadi pagi, lengkap dengan dua bakwan kriuknya.
Akhirnya, gadis itu terduduk di lantai. Putus asa di depan sebuah cermin raksasa. Dia sudah siap untuk menyerah saat matanya menangkap pantulan gaun merah di belakangnya.
Sebelum beranjak, dia berdoa pada Tuhan, untuk gaun itu harus muat bagaimanapun juga.
Dan Tuhan mengabulkan doanya. Tapi…. .
"Kau sudah selesai?"
Suara berat itu datang bersamaan dengan bunyi pintu yang terbuka. Membuat Rea mengangkat kepalanya, menatap pantulan seseorang dari cermin dan membeku, dengan tangan tengah dalam posisi berusaha menggapai resleting di belakangnya.
“Bapak!!!!”
Rumi sudah terlanjur berdiri di sana. Di ambang pintu. Menatap punggungnya yang masih terekspos begitu saja.
Setelah reflek memekik keras, jantung Rea berdentum habis-habisan. Kepalanya langsung dipenuhi berbagai tuduhan. Apa pria itu sengaja? Apa pria itu punya niat yang nggak-nggak? Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.Terlebih pria itu butuh beberapa detik sebelum ia tersadar dan memalingkan badannya.“Maaf.” Suaranya terdengar bersalah dan hendak menutup pintu kembali. “Saya pikir kamu….”Di samping rasa kesalnya, otak gadis itu tiba-tiba berpacu. Sambil menggigit bibirnya, sesuatu terlintas.Mustahil baginya menggunakan baju itu tanpa bantuan orang lain. Tangannya sudah pegal mencoba menaikkan resleting sejak tadi, tapi gagal berulang kali.“Tunggu!” seru Rea menghentikan langkah bosnya itu, dengan wajah memerah menahan malu. “B-boleh minta tolong nggak Pak?”Rumi tidak bergerak. Dia fokus mendengar.“Dari tadi aku susah menggapai resletingnya. Boleh to….”“Kamu yakin saya boleh menoleh?” tanya pria itu memotong kalimat Rea.Gadis itu mengangguk kecil yang kemudian sadar kalau Rumi bah
“Mulai hari ini banget ya Pak kontraknya? Eh emang Bapak butuh pasangan apa jam segini?” tanya Rea was-was, mengingat ini sudah nyaris senja, ditambah informasi baru bahwa kemungkinan besar bosnya tidak gay karena memiliki anak.Lagi-lagi Rumi menghela napasnya kasar. “Malam ini ada undangan pernikahan rekan bisnis yang perlu saya hadiri. Kamu harus dampingin saya.”Entah sudah berapa kali hari ini Rea tersentak. Tidak cukup dia kaget karena mendapat tugas secepat itu, tapi fakta kalau dia harus menghadiri sebuah pesta langsung membuatnya syok.‘Mau pakai baju apa aku?’ tanyanya pada diri sendiri, sambil menunduk cepat melihat sepatu bututnya. Converse yang entah sudah berumur berapa tahun itu.“Pak….” kalimat Rea tertahan. Dia memilih menatap pria itu terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimat bingungnya. “Pakai baju seperti ini?”Pria itu sontak menatap Rea dari atas sampai bawah sambil berpikir sejenak.“Ikut aku.” Rumi melepaskan genggamannya lalu mulai berjalan ke arah pintu.“K
Sontak, Rea terdiam. Air matanya juga berhenti mendadak mendengar kalimat yang barusan. Dengan mata yang masih sembab, dia sekali lagi memberanikan diri untuk mendongak. Menatap mata atasannya.“M-maksud Bapak?”“Jadi pasangan saya,” ulang Rumi sekali lagi dengan senang hati.Rea mengerjap. Tangannya naik menyentuh kedua kupingnya. Memastikan dua organ itu masih menempel di sana, dan dia tidak salah dengar.“Maaf. Maksud Bapak pasangan itu…. seperti bos dan karyawan?”Rumi menggeleng kecil. “Pasangan. Laki-laki dan perempuan.”Sebuah rumor lama tentang Rumi langsung melintas di kepala Rea. Ia terkekeh pelan. Dia memang lemah dalam hal menahan tawa saat ada hal-hal yang menurutnya lucu.Dulu, pernah beredar kabar bahwa pria itu menyukai sesama jenis. Tentu saja Rea tidak tahu apakah rumor itu benar atau hanya gosip karyawan. Namun, kalau dipikir-pikir….Jangan-jangan tawaran ini ada hubungannya dengan rumor tersebut?Mungkin Rumi ingin menutupinya dengan memiliki seorang pasangan perem
Rea hampir memekik kalau saja Bara tidak sedang berdiri di depannya. Dia reflek menoleh ke samping, menatap pria yang entah siapa, tapi berdiri begitu dekat, dengan sebelah lengannya melingkar santai di bahu gadis itu.Rea mengerjap. Matanya membulat. Kata-kata sanggahan sudah nyaris terlontar, tapi telapak tangan pria itu lebih dulu turun mengusap pelan punggungnya. Sapuan yang panjang dan tenang, membuat Rea menegang mendadak. Pria itu bahkan membalas tatapan Rea dengan alis terangkat diikuti sebuah anggukan kecil.Saat itulah Rea menangkap maksudnya. Kalau dia hanya perlu mengikuti sandiwara apapun ini.“O-oh aku hampir lupa, M-mas. Tadi tim cleaning kurang personil. Jadi aku bantuin aja sekalian,” ucap Rea sedikit terbata. Tidak lupa menarik sedikit senyum pada siapapun orang yang tengah menyentuhnya itu.Sedang di hadapan mereka, raut Bara ikut berubah. Tatapannya berpindah antara Rea dan pria baru yang merangkul gadis itu. Kerutan di dahinya muncul, menyiratkan rasa tidak perca
“Nah, kalau ini ballroom utama kami. Lebih besar dari yang tadi, dengan gaya European classic. Bapak Ibu perlu melakukan reservasi kurang lebih dua tahun sebelumnya kalau memilih yang ini.”Rea reflek menganga sedikit sambil berbalik mencari arah suara itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tiga orang masuk beriringan ke dalam ballroom. Dari pakaian dan papan nama di blazernya, ia tebak salah satu dari mereka adalah seorang banquet manager. Seseorang yang bertanggung jawab mengelola acara-acara yang akan diadakan di hotel tersebut.Tidak berhenti hanya mengecek asal suara, Rea bahkan ikut mendengarkan penjelasan wanita itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Kebetulan dia sedang berdiri tepat di samping pintu masuk, dengan plastik sampah hitam besar di genggamannya.Matanya naik menatap chandelier megah di tengah ruangan yang sedang menjadi objek penjelasan. Dia tidak berkedip melihat betapa indahnya lampu itu.“Woooow.…” bisiknya pelan. Spontan.Rea bertanya-tanya mengapa dia baru m







