Share

CHAPTER 4

Author: brokolying
last update publish date: 2026-07-27 10:21:57

Setelah mandi dan makeup seadanya, Rea terduduk di lantai. Putus asa di depan sebuah cermin raksasa dan beberapa pakaian yang tidak berhasil dia gunakan.

Gadis itu sudah siap untuk menyerah saat matanya menangkap pantulan gaun merah di belakang. Sebelum beranjak, dia berdoa pada Tuhan, untuk gaun itu harus muat bagaimanapun juga.

Dan Tuhan mengabulkan doanya. Tapi….

"Kamu sudah selesai?"

Suara berat itu datang bersamaan dengan bunyi pintu yang terbuka. Membuat Rea mengangkat kepalanya, menatap pantulan seseorang dari cermin dan membeku. Tangannya tengah dalam posisi berusaha menggapai resleting di belakangnya.

“Bapak!!!!”

Rumi sudah terlanjur berdiri di sana. Di ambang pintu. Menatap punggungnya yang masih terekspos begitu saja.

Setelah reflek memekik keras, jantung Rea berdentum habis-habisan. Kepalanya langsung dipenuhi berbagai tuduhan. Apa pria itu sengaja? Apa pria itu punya niat yang nggak-nggak?

Terlebih Rumi butuh beberapa detik sebelum ia tersadar dan memalingkan badannya.

“Maaf.” Suaranya terdengar bersalah dan hendak menutup pintu kembali. “Saya pikir kamu….”

Di samping rasa kesalnya, otak gadis itu tiba-tiba berpacu. Dia sadar mustahil baginya menggunakan baju itu tanpa bantuan orang lain. Tangannya sudah pegal mencoba menaikkan resleting sejak tadi, tapi gagal berulang kali.

“Tunggu!” seru Rea menghentikan langkah bosnya itu, dengan wajah memerah menahan malu.  “B-boleh minta tolong nggak Pak?”

Rumi tidak bergerak. Dia fokus mendengar.

“Dari tadi saya susah gapai resletingnya. Boleh tol….”

“Kamu yakin saya boleh menoleh?” tanya pria itu memotong kalimat Rea.

Gadis itu mengangguk kecil yang kemudian sadar kalau Rumi bahkan tidak bisa melihat anggukannya. Akhirnya dia membuka mulut dan menjawab ragu. “Iya. T-tapi, jangan lihat yang lain! Jangan sentuh yang lain! Hanya resleting!”

“Tentu.” Rumi terdiam sesaat, lalu menghela napas tipis. “Memangnya kamu pikir saya akan melakukan apa selain menutup resleting?”

Pria itu berbalik perlahan. Tatapannya dia jaga habis-habisan tetap tertuju pada pantulan cermin. Bagaimanapun juga, Rea tetap punya hak penuh atas tubuhnya.

“B-bukan gitu, Pak,” sanggah Rea cepat. Menyesali ucapannya yang berlebihan.

Jarak mereka menyusut selangkah demi selangkah, hingga Rea melihat bagaimana Rumi akhirnya berdiri di belakangnya.

Jemari pria itu terangkat, dan menyentuh ujung resleting gaun yang terletak di bagian terendah panggul Rea.

“Maaf,” bisik Rumi mengeluarkan kata itu sekali lagi. Hanya kali ini, suaranya terdengar semakin berat, seiring dua jarinya menjepit kepala resleting.

Rea bisa merasa bagaimana bosnya menarik benda kecil tersebut naik perlahan. Tapi baru sekejap, gerakan itu mendadak terhenti, membuatnya mengernyit samar.

“Kenapa, Pak?” Rea bertanya pelan.

“Agak susah,” jawab Rumi singkat.

Rea langsung menegakkan posturnya, sebelum pria itu kembali mencoba menarik. Tapi tetap saja. Resleting tersebut seolah enggan diajak bekerja sama. Rumi bahkan sempat mengubah posisi jemarinya sebelum kembali berupaya dengan lebih hati-hati.

Selama proses itu, Rea hanya bisa berdiri mematung sambil berharap agar semuanya segera selesai. Keadaan ini membuatnya merasa begitu canggung. Entah kenapa, rasanya terlalu aneh berada sedekat ini dengan bosnya sendiri.

Pikirannya sempat mengawang, bagaimana bisa dia sampai berada di sini sekarang?

Sejak awal, niat Rea hanya bekerja mencari uang. Tapi tak disangka malah harus terlibat kontrak seperti ini dengan pria asing yang baru dia temu hari itu juga. Jalan hidup rasanya benar-benar ajaib.

Gadis itu menghela napas pelan. Sampai akhirnya, pikirannya kemudian beralih pada satu hal lain yang selama ini sebenarnya cukup mengganggunya.

‘Sebenernya, orang ini gay beneran gak sih?’ pikir Rea dalam hati.

Rea memang tidak pernah benar-benar mempercayainya, juga tidak punya alasan yang cukup untuk mempertanyakan kebenarannya.

Lagi pula, terlalu lancang rasanya kalau dia mengusik ranah pribadi atasan yang harus dia segani itu. Meskipun, semakin dipikirkan, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal.

Sampai akhirnya…

“Pak …,” panggil Rea lirih.

“Hm?”

Suara Rumi yang terdengar dari belakangnya langsung membuat Rea kembali tersadar. Dia bahkan bisa merasakan jemari pria itu masih berada di dekat punggung bawahnya, masih berusaha menaikkan resleting gaun yang entah kenapa begitu sulit ditutup.

Rea tiba-tiba merasa ragu. Namun, rasa penasaran yang sudah terlanjur muncul justru semakin sulit dibendung.

“Bapak kan...” Rea menggantungkan kalimatnya, kemudian menggigit bibir bawah. “Ada rumor itu, ya?”

Rumi terdiam sejenak.

“Rumor apa?”

Rea langsung menyesal. Seharusnya dia tidak perlu memulai percakapan ini. Tapi, nasi sudah menjadi bubur, jadi sekalian saja buat bubur yang enak.  

“Yang... itu, Pak..”

“Yang mana?” tanya Rumi masih terdengar santai.

Rea semakin gugup. Tapi, rasa penasarannya sudah di puncak gunung!

Akhirnya, tanpa sempat memikirkan kembali apakah pertanyaan itu pantas diajukan kepada atasannya atau tidak, Rea pun keceplosan.

“Bapak benar-benar gay, nggak, sih?”

Tak!

“Ugh!” pekik Rea ketika tubuhnya terasa terjepit pakas. Rupanya, resleting itu sudah berhasil dinaikkan dengan paksa.

Rea spontan menarik napas dalam-dalam.

Namun, baru beberapa detik menghirup udara, gadis itu langsung menyadari hal lain.

'Sial.'

Pantas saja dari tadi rasanya dia sulit bernapas! Ternyata gaun ini memang benar-benar terlalu ketat untuknya.

Rea berusaha mengatur napas sambil meraba bagian depan gaun. Dadanya terasa sesak karena pakaian itu membungkus tubuhnya terlalu erat.

Saking sibuknya dia mengisi paru-parunya dengan udara, Rea sampai melupakan pertanyaan yang baru saja dia lontarkan. 

“Pak...” Rea masih berusaha mengembalikan napasnya. “Ini bajunya…. ket...”

Belum sempat menyelesaikan kalimat, tiba-tiba tubuhnya dibalik paksa.

“Aduh … eh?” pekik Rea sekali lagi, dia terkesiap.

Kini, kedua bahunya tahu-tahu sudah berada dalam genggaman Rumi. Pria itu baru saja memutar tubuhnya hingga mereka saling  berhadapan.

Rumi menundukkan kepala sedikit, membuat wajahnya benar-benar berada di depan wajah Rea. Membuat gadis itu bisa melihat jelas sorot atasannya yang lurus padanya.

Glek!

“P–Pak. Ini terlalu keta…” ucap Rea terpotong seiring Rumi memajukan wajahnya beberapa senti lagi. Dia berhenti tepat sejengkal di depan wajah Rea.

“Kenapa kamu begitu ingin tahu?” tanya Rumi dengan suara rendah, napasnya menerpa wajah Rea perlahan. “Apa perlu saya buktikan kebenaran rumor itu sekarang?”

Rea langsung membelalakkan mata. Dadanya semakin bergemuruh. Menelan ludah saja rasanya sulit!

‘Dia mau ngapain?! Dia.. dia nggak mau nyium aku, kan?!’

Dan tepat beberapa inci sebelum bibir mereka saling bertemu, seruan nyaring memecah keheningan….

“Papaa….”

Suara dua bocah langsung memenuhi ruangan, membuat dua orang dewasa itu tersentak bersamaan.

“Eh? Papa lagi pacaran!”

brokolying

RUMI!!!! Sampai sini gimana? Masih suka? Lanjut baca yuk!

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 50

    "Pacar siapa memangnya Ru? Hari ini Rea terlihat single. Dari tadi sendiri. Saya nggak lihat tuh ada cowok yang nemenin dia?" cibir Kartika tajam menatap sepupunya itu lekat.Rea tidak bereaksi apapun.Tapi Rumi, pria itu tersenyum. Dia tetap tenang.“Sendiri bukan berarti Rea jomblo. Saya rasa semua orang di sini tahu Rea pasangan saya, Mbak.”“Bahkan wanita yang di jari manisnya sudah ada cincin pernikahan sekalipun, kalau dia terbiasa terlihat sendirian, mau satu dunia tahu dia milik siapa, akan ada cowok lain yang nekat ngerebut dia,” tambah Kartika tidak kendor.Kalimat gadis itu terdengar seperti peringatan bagi Rumi, dan sebuah sanjungan dari Rea, meski dia tidak yakin akan ada pria yang mau mendekatinya jika tahu seberapa berantakan hidupnya beberapa tahun belakang. Membuatnya kehilangan apapun termasuk kepercayaan diri.“Mbak Kartika nggak usah khawatir. Saya tahu bagaimana cara menjaga pasangan saya,” ungkap Rumi penuh keyakinan.“Benarkah seperti itu, Rumi? Karena sejak tad

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 49

    Sejak pertanyaan Rumi hari itu, sebulan yang lalu, hubungan mereka berdua benar-benar hanya sepasang kontrak. Tidak ada basa-basi yang tidak perlu. Terlebih sentuhan yang terlepas. Mereka benar-benar menjadi atasan dan bawahan yang tidak jauh-jauh dari pekerjaan semata.Bahkan untuk sekedar bertatap mata di luar masalah kerjaan, Rumi enggan.Tapi mereka masih begitu sangat profesional di luar sana, terlebih di media. Rea masih mendampinginya kemanapun Rumi butuh.Tapi sisanya? Nol.Pria itu benar-benar menghindari Rea.Dan hal tersebut membuat Rea makin kebingungan.Satu sisi dia berterima kasih karena dengan sikap Rumi yang demikian, perasaannya sukar tumbuh lebih dalam. Dia hanya perlu fokus menjalankan tugasnya.Tapi di sisi lain? Melihat pria itu menjadi begitu acuh ternyata bukan hal yang dia sukai.Seperti hari ini. Mereka sedang berada di salah satu pernikahan keluarga Rumi. Rea memakai kebaya manis berwarna maron, yang diimbangi dengan warna batik Rumi yang senada.“Kalian bai

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 48

    “Cantik. Cantik sekali.”Mendengar itu, nyaris saja Rea merona. Syukurnya pagi ini nyawanya cepat terkumpul. Jadi ketika Rumi mengatakan bahwa dia cantik, ingatan tentang semua kekesalannya pada pria ini belakangan langsung terbayang.“Good morning…” sapa Rea sambil tersenyum.“Morning, Cinderea,” sambut Dista yang langsung naik ke samping gadis itu. “Dista lapar.”Kedua alis Rea terangkat. Matanya mencari Rumi di samping seolah meminta penjelasan kenapa anak-anak itu lapar.“Anak-anak belum sarapan?”“Belum. Hari ini jadwal libur semua asistern rumah tangga. Jadi subuh-subuh tadi sudah berangkat,” jelasnya.“Chef Anton juga?” tanya Rea lagi menyebutkan nama chef yang biasa menangani makanan di penthouse itu.“.." Rumi hanya mengangguk.“Kalau Anton libur, kalian biasanya sarapan apa?”“Mama nginap.”“Kali ini kenapa nggak nginap?”“Aku bilang nggak perlu. Karena ada kamu.”Mendengar itu Rea cepat-cepat duduk. Anak-anak pun berlarian keluar kamar, meninggalkan dua orang dewasa itu sen

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 47

    Dante yang sama sekali tidak merasa ada yang aneh, hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Oh, tadi gue ketemu Rea di coffee shop dekat sini. Sekalian aja gue antar pulang. Kasihan sendirian. Katanya lu sibuk, soalnya.”Rea mengangkat wajah.“Gimana? Udah nganter Maudi?” tanya Rea to the point. Sedikit kelepasan.“Loh, lo nganter Maudi, Rum?” Dante spontan menoleh ke Rumi..Rea tersenyum tipis. Sinis.Tanpa menunggu jawaban siapa pun, dia maju ke pintu.“Ya sudah, kalian ngobrol aja,” ucapnya ringan. “Aku masuk dulu. Sudah ngantuk banget.”Sebelum masuk, Rea sempat menoleh kepada Dante. “Oh iya, Mas Dante. Makasih ya, sudah nganterin.”“Sama-sama, Dek Rea,” ucap Dante yang kemudian menepuk bahu Rumi sekali. “Gue cabut dulu.” Dia menahan tawa melihat ekspresi Rumi. “Good luck.” Lalu pergi begitu saja.Sayangnya Rumi kurang lincah hingga pintu unit di depannya lebih dulu tertutup saat Dante pamitan.TOK TOKTidak ada jawaban. Begitu pula dengan beberapa ketukannya kemudian. Di

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 46

    Ruang tamu kembali sunyi. Rea melihat mereka pergi dengan pandangan yang menyesakkan. Dia tahu dia salah. Tapi Rumi berlebihan. Bahkan untuk sekedar ikut menemani anak-anak pun tidak diizinkan.Rea akhirnya membuka laptop yang dibawakan oleh Bene. yang katanya berisi file medical record anak-anak.Dia membacanya dari halaman pertama.Riwayat kesehatan. Alergi. Obat. Pola makan. Jadwal pemeriksaan. Catatan dokter. Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya.Setelah selesai dengan Dista, dia membuka milik Desta.Jam bergeser tanpa dia sadari. Bahkan saat mata Rea mulai terasa kering, dia tetap membaca.Dia mencatat beberapa poin penting di sebuah dokumen terpisah. Sesekali mengulang bagian yang tidak dia pahami.Sampai akhirnya suara pintu terdengar.Rea mengangkat wajah.Rumi masuk. Dista berada dalam gendongannya, sedang Ammar membawa Desta di dekapannya.Dan….Dan Maudi masih ada.“Tante Rea!” sapa kedua anak itu lagi-lagi serempak ketika turun dari gendongan

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 45

    Keesokannya, Rea menghubungi nomor ponsel Ammar, sopir Rumi, sebelum bersiap mandi.“Saya ikut jemput Dista dan Desta pulang sekolah hari ini, ya, Pak,” ujar Rea sambil meroll rambut di depan cermin. “Tapi nggak usah kasih tahu Pak Rumi.”“Oh baik, Bu,” sahut Ammar dari seberang telepon. “Saya jemput Ibu Rea dulu di apart berarti? Atau di mana?” tanya pria itu memastikan.“Di apart, Pak.” Rea tersenyum kecil membayangkan reaksi anak-anak. Setidaknya hari ini dia bisa menebus sedikit kesalahannya semalam pada dua kembar favoritnya itu.Begitu mobil tiba, mereka langung ke sekolahan Dista dan Desta. Lumayan jauh. Dia bingung kenapa Rumi harus memilih sekolah sejauh ini dari rumah. Tapi syukurnya, tidak ada pesan dari pria itu sejak pagi. Tidak ada pertanyaan. Tepat seperti yang dia inginkan.Saat Dista dan Desta melihatnya di depan gerbang sekolah, keduanya langsung berlari menghampiri.“Cinderea!”“Tante Rea!” seru Desta bergantian dengan mbaknya, sambil meraih tangan Rea.“Gimana seko

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status