Mag-log inDing..
Ding..
Ding..
Ding ding ding ding…
“Rrrgh…”
Tangan Rea terselip keluar dari dalam selimut katun, menjangkau benda kecil di samping bantalnya. Benda yang entah sudah bunyi berapa kali sejak tadi.
Gadis itu memang tidak begitu mahir bangun pagi. Suara alarm pun sering kali gagal bangunin dia. Tapi pagi ini, siapa sangka Rea bisa terbangun hanya karena suara pemberitahuan-pemberitahuan. Mungkin karena tidak biasa benda tipis miliknya itu seberisik ini.
Susah payah dia buka mata untuk mengintip layar di genggamannya. Ada beberapa di sana, tapi yang berhasil membuatnya menyibak selimut dan terduduk tegak adalah notif dari satu nama yang sekarang dia takuti.
[Saya tunggu kamu di rumah jam 8.]
[Jangan telat. Saya tidak suka orang yang telat!!!]
Rea menyipitkan mata menghitung ada berapa banyak tanda seru yang pria itu sisipkan.
“Tiga pentungan? Berlebihan banget,” gumam gadis itu berat sambil mengucek-ucek matanya.
Sontak, perutnya terasa tergelitik seraya ingatannya kembali ke pesta semalam. Ke detik-detik di mana pria itu menciumnya di tengah-tengah lautan manusia dan lensa.
Tadi malam, setelah tindakan bosnya yang tiba-tiba itu, dia tidak punya pilihan lain selain melanjutkan perannya seolah-olah kecupan itu adalah normal. Walaupun kemudian, di perjalanan pulang, gadis itu tidak tahan untuk protes.
“Kok pakai adegan kayak tadi sih, Pak?!” sembur Rea ketika mobil baru saja jalan.
“Adegan mana?” tanya Rumi seolah tidak ada yang aneh.
“Itu yang kiss-kiss. Kan nggak sesuai kontrak jadinya! Bapak melanggar!”
“Di kontrak kan bilang saya tidak akan nyentuh kalau tidak perlu,” dalih Rumi singkat.
'Jadi menurut dia yang ciuman yang tadi itu perlu gitu?! Ada banyak orang dan wartawan, dia nggak lihat?!' gerutu Rea dalam hati.
Ini semua membuat Rea sadar betapa pria itu benar-benar sulit ditebak dan semaunya saja.
Bisa dilihat juga dari isi pesan pria itu pagi ini.
Tidak mau kembali emosi dengan ingatannya, kini Rea pindah ke pesan lain. Pesan yang membuat matanya yang tadi masih setengah watt langsung terbuka lebar benderang.
Layar itu kini memampang tangkapan layar beberapa portal berita online dengan foto wajahnya sebagai headline yang dikirim oleh sahabatnya.
“Gadis Misterius di Sisi Rumi Rajendra,” bacanya sambil menelan ludah. “Kekasih Baru Mantan Suami Fiona Natasya.”
Rea bisa merasakan seluruh bulu halus di badannya meremang. Tapi dua tagline itu belum seberapa hingga dia melihat judul berita dan foto ke tiga.
“Gadis Baru Rumi Rajendra Terlihat Menikmati Ciuman di Tengah Publik!”
Rea mendadak lemas. Badannya kembali dia jatuhkan di atas bantal, sedang matanya mengawang. Menatap lampu kamarnya yang belum dia nyalakan.
“Habis lah aku dikunyah wartawan,” bisiknya lirih sambil membalikkan badanya.
Matanya langsung menangkap foto kedua orang tuanya di pigura kecil yang sengaja dia letakkan di atas nakas. Pasangan itu berdiri di depan sebuah bangunan yang belum jadi, terlihat bahagia. Pemandangan yang sontak membuat Rea menghela nafas.
Apapun yang dia baca barusan, seharusnya tidak perlu membuatnya sepanik itu. Itu semua tidak seberapa dibanding dengan headline-headline news yang beberapa tahun lalu mencekiknya.
Dari berita tentang kecelakaan kedua orang tuanya, hingga kebangkrutan bisnis keluarganya. Harusnya dua itu menjadi pembanding yang tidak bisa dilampaui oleh berita-berita yang memajang wajahnya hari ini.
“Rea ngambil keputusan yang tepat kan, Mah? Pah?” tanyanya lirih pada sehelai kertas berwarna itu, sebelum air matanya terjatuh.
♡
“Kamu telat lima belas menit,” sambut Rumi ketika membukakan Rea pintu.
Melihat penampilan Rea, tatapan Rumi berubah aneh. Pria itu bahkan mengernyitkan dahinya.
Pria itu pasti memperhatikan penampilan manusia yang tengah mengenakan kaos oversize, topi, masker dan kacamata hitam, di depan pintu penthousenya.
“Kenapa bentukan kamu seperti itu?” tanya Rumi to the point.
“Ini semua gara-gara Bapak! Bapak nggak tahu kan apa yang harus saya alami untuk sampai ke sini?” tanya Rea sambil kelepasan menghentakkan satu kakinya pelan. Membuat Rumi sontak menatap turun ke sepatu usang Rea, sebelum kembali menatap wajahnya yang hampir tertutup sempurna dengan masker juga benda-benda lain, termasuk poninya itu.
“Apa?” tanya Rumi tenang.
“Wartawan, Pak!” jawab gadis itu lagi, sedikit ngos-ngosan. “Saya harus jalan kaki dari gerbang depan dan berputar sekian kilo untuk masuk lewat belakang. Belum lagi harus ngumpet-ngumpet dari seluruh karyawan Bapak.”
“Itu sepadan dengan gajimu,” ucap Bosnya datar, tapi penuh penekanan di salah satu kata. Tidak ada belas kasihan sedikitpun di intonasinya barusan.
‘Betul juga. Tiga puluh lima juta buat main petak umpet sama orang-orang dan olahraga dikit, kapan lagi?’ ujar Rea dalam hati.
Akhirnya ia masuk. Tapi, sebelum menyusul pria yang mengkontraknya tersebut, dia lebih dulu melepaskan seluruh perlengkapan penyamarannya tadi, kemudian menunduk untuk melepas sepatu converse putih yang meski sudah disikat sekuat mungkin, tetap tidak bisa putih lagi.
Rea lantas memakai sandal tipis yang tersedia di sisi kiri foyer. Rumi sudah menunggu di ruang tengah ketika dia hampiri.
“Hari ini kamu hanya perlu jagain anak-anak saya saat mereka pulang sekolah, dan memastikan mereka mengikuti semua jadwal tepat waktu. Kamu dengar?”
“Jagain anak-anak, dan memastikan mereka berkegiatan sesuai jadwal? Dengar, Pak,” jawab Rea mengangguk.
“Jangan sampai merusak kebiasaan tepat waktu anak-anak saya,” lanjut Rumi seolah ingin kembali mengingatkan tentang ketepatan waktu pada gadis yang baru saja terlambat itu.
Walaupun sempat mendengus pelan dan tipis sekali, Rea cepat-cepat mengangguk. Pikirannya mengawang. Dari semua orang tua yang pernah memakai jasanya sebagai babysitter, ini kali pertama dia mendapatkan orang tua yang seribet ini.
‘Lagian jadwal apa sih yang anak-anak lima tahun punya? Tidur siang?’ tanya Rea tanpa berani membuka mulutnya seinci pun. Dia hanya mengangguk lagi dan lagi.
Rumi menyerahkan beberapa lembar kertas.
"Mereka pulang sekolah pukul sebelas. Sopir akan langsung mengantar mereka ke atas." Tatapannya singkat, tetapi tegas. "Pelajari saja jadwalnya."
Rea jelas tidak memiliki ekspektasi apapun saat menerima kertas itu. Tapi ketika melihat banyaknya baris tulisan di sana pada masing-masing hari, matanya sedikit melotot.
Bangun,
Olahraga,
Sarapan,
Sekolah,
Kursus musik,
Makan siang,
Tidur siang 1,5 jam,
Kursus baca,
Dll…
Rea tidak kuasa menutup mulutnya. Takjub sekaligus prihatin mengenai bagaimana mungkin anak-anak lima tahun, punya jadwal yang lebih padat dari mahasiswa baru.
‘Kayaknya dengan jadwal begini, anak-anak dia butuh tidur siang empat jam deh,’ komen Rea yang lagi-lagi tertahan di lambungnya saja. “Baik Pak.”
"Saya berangkat dulu." Rumi melangkah melewati Rea. "Nanti salah satu asisten saya yang akan mengajakmu berkeliling rumah."
“P-pak! Hmm... perihal berita-berita itu....” Rea memberanikan diri memanggilnya.
Langkah Rumi terhenti. Ia menoleh singkat. “Ada apa?”
“Berita sama foto-foto kita semalam... sekarang beredar di mana-mana.”
Rumi terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. “Saya sudah tahu.”
Jawaban sesingkat itu justru membuat Rea semakin gelisah. Wajah Rumi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda panik, seolah pemberitaan yang sedang ramai itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.
Rea menggigit bibir bawahnya. “T-tapi... berita itu nggak semuanya benar.”
Tatapan Rumi kembali jatuh padanya, satu alisnya terangkat. “Yang mana yang keliru?”
Pipi Rea langsung menghangat. “Yang... yang bilang saya menikmati saat Bapak cium di depan umum.”
Sudut bibir Rumi terangkat tipis, nyaris tak terlihat. Dia melangkah mendekat hingga hanya menyisakan satu langkah di antara mereka.
"Jadi, kamu tidak menikmati ciuman saya semalam?”
Ada yang baca sampai bab ini nggak? Komen dooooong
“Mas Rumi tahu, Om.” Rea membalas tanpa kehilangan senyumnya. “Makanya, yang dia bawa ke sini saya, bukan perempuan lain.”Kalimat Rea sontak membungkam semua orang di meja makan, termasuk Rajendra.Rea tahu betul posisinya di rumah itu. Dia hanya perempuan yang dibawa Rumi tanpa pemberitahuan, seseorang yang keberadaannya bahkan belum sepenuhnya diterima oleh keluarga pria itu.Namun, setelah Pak Rajendra sengaja mengundang Maudi untuk makan siang dan menjadikannya bahan sindiran di hadapan semua orang, Rea merasa tidak punya alasan untuk terus memasang sikap sungkan.Kalau tuan rumah saja tak berniat menjaga perasaannya, mengapa dia harus repot-repot menjaga perasaan tuan rumah? Lagi pula, Rea bukan tipe perempuan yang akan mundur dan diam saja kalau ada seseorang berusaha membuatnya merasa tidak pantas berada di sana.Selain itu, kontrak Rea dan Rumi juga akan berakhir. Jika setelah makan siang tadi dia mendapat predikat sebagai perempuan kurang ajar di mata orang tua pria itu, ras
Emosi Rea yang sudah mendidih sebelumnya, sekarang ditambah lagi dengan celetukan pria itu soal menantu, maka lengkap sudah alasan Rea untuk mencekik pria itu.Namun, dia memilih menahan diri. Mengingat siapa pemilik rumah yang akan mereka masuki, membuat Rea enggan menambah satu masalah lagi.Dia hanya berharap malam ini cepat berlalu.Kediaman keluarga Rajendra tampak megah, dengan arsitektur yang kental akan nuansa Jawa. Pintu kayu berukuran besar menyambut mereka, disusul ruang utama yang dipenuhi furnitur kayu berukir rumit.Mulai dari meja konsol, lemari pajangan, hingga kursi-kursi berukuran besar yang tampak seperti barang antik. Semuanya terlihat mahal, bahkan tanpa perlu mencantumkan harga.Rea melirik salah satu lemari jati dengan ukiran yang begitu detail.‘Perasaan mereka bukan keturunan bangsawan Jawa, deh. Sekaya apa keluarga ini sampai rumahnya begini?’ Rea bertanya-tanya dalam hati.Belum sempat dia mengamati lebih jauh, Nyonya Rajendra sudah mengajak mereka melewati
Pintu lift bahkan belum tertutup sempurna ketika Rea menarik tangannya dari cengkeraman Rumi.“Mas! Bisa nggak sih kalau mau ke mana-mana itu bicara dulu? Rencanain dulu?!” protes Rea, menatap pria yang masih lengkap dengan piyamanya tersebut. “Dan, saya punya kaki sendiri. Nggak perlu ditarik-tarik seperti anak kecil begini!”Rumi tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada angka yang terus berubah di atas pintu lift.Rea mengembuskan napas kasar. ‘Astaga!’Begitu pintu lift terbuka, Rumi kembali berjalan lebih dahulu. Rea terpaksa mengikuti langkah panjangnya sampai mereka tiba di parkiran. Pria itu bahkan membukakan pintu mobil untuknya, seolah-olah tidak sedang menyeretnya keluar dari rencana yang sudah dia susun sejak semalam bersama Dante.Rea masuk dengan kesal. Begitu Rumi duduk di balik kemudi, dia langsung menoleh.“Saya nggak bisa kayak gini, Mas. Ini hari libur saya.” Rea berusaha mempertahankan suaranya agar tidak meninggi. “Kita udah sepakat dari awal, kalau weekend tanpa kep
“Soalnya, kalau kamu mau, aku nggak keberatan ngabarin kamu terus. Setiap hari kalau perlu.”Rea jelas tidak menyangka kalimat dari Dante itu juga bisa membuat pipinya merona.Padahal Dante tidak melakukan apa-apa. Tidak mendekat seperti yang kerap Rumi lakukan, seolah dia tahu batasnya.“Mas Dante!”“Kenapa?” tanyanya ringan. “Kok mukanya merah?”“Nggak merah ya!”Dante terkekeh. “Tuh merah,” seru pria itu sambil menunjuk satu pipi Rea.“Mas Dante!”Alih-alih merasa bersalah, Dante malah mengulurkan tangan dan mengacak pelan rambut Rea. “Udah, sana masuk.”Rea buru-buru merapikan rambutnya. “Hati-hati di jalan ya Mas.”Dante mengangguk, senyumnya sedikit melunak. “Siap, Tuan Putri.”Akhirnya Rea masuk, dan pria itu pulang.Setelah mandi dan bersiap tidur, Rea baru saja selesai mengoleskan pelembap ke wajahnya ketika ponselnya berdering.Tanpa melihat nama yang tertera di layar, dia buru-buru mengangkatnya.“Halo?”“Halo?”Rea langsung mengenali suara di seberang sana.“Oh! Hay Mas.”
Rea meninggalkan penthouse Rumi dengan pikiran yang entahlah. Amburadul? Dan dia menyalahkan perasaannya atas itu.Andai saja dia tidak terbawa perasaan. Andai saja tidak muncul harapan tiap Rumi menyentuhnya. Semua pasti akan baik-baik saja.Dia tidak perlu menjaga jarak pada rumi maupun Dista dan Desta.Dan,Dia tidak akan menerima teror ini.Syukurnya ada Dante. Yang entah kenapa berada di basement Rumi.“Mas Dante? Kok ada di sini? Belum balik?” tanya Rea mendapati pria itu tengah ngobrol dengan Ammar, sopir pribadi Rumi.“Belum. Nunggu kamu,” jawab pria dengan senyuman dan lesung pipinya itu.“Pak Ammar yang bakal nganter aku pulang, Mas.”“Aku udah bilang sama Pak Ammar bisa langsung istirahat aja kok Dek. Kamu, biar aku yang antar. Sekalian aku mau bahas yang tadi.”Rea terdiam sebentar. Dia mentap Pak Ammar, “Pak, yaudah Bapak langsung istirahat aja,” ucap Rea menginstruksikan agar pria itu langsung masuk saja. Beliau punya satu kamar di penthouse Rumi, seperti Bene dan asiste
Semakin keras Rea berusaha bersikap biasa saja, semakin sering pula pikirannya kembali pada sikap dan kalimat Rumi kemarin.Gadis itu bahkan sudah berjanji ingin mencabut perasaannya pada Rumi sampai ke akar-akarnya, sebelum dia makin tolol karena cinta.Sayangnya, kita semua tahu perasaan tidak bekerja sesederhana itu.Setiap hari, Rea masih harus berhadapan dengan Rumi yang dingin, tegas, namun selalu memperlakukannya manis di hadapan orang-orang, seolah-olah Rea benar-benar perempuan yang dia cintai. Termasuk di depan anak-anaknya.Namun, di tengah usahanya meredam perasaan sendiri, ada satu masalah yang justru semakin sulit dikendalikan.Teror tidak kunjung berhenti.Setiap kali mendampingi Rumi ke sebuah acara, pesan-pesan aneh itu selalu datang. Kadang berupa foto mereka berdua yang diambil dari kejauhan. Kadang hanya kalimat singkat yang cukup untuk membuat perutnya terasa melilit.Dan malam ini, hal yang sama kembali terjadi.Convention hall hotel milik Rumi dipenuhi anggota k







