Share

CHAPTER 5

Author: brokolying
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-27 10:29:58

Melihat Rea diam seribu bahasa, Rumi akhirnya berbalik, melanjutkan jalannya tanpa menengok ke arah gadis itu lagi.

Entah kenapa, pertanyaan yang Rea yakini terlontar sembarangan itu mampu membuatnya mematung gugup. Kalimat itu rasanya terlalu sensitif dan keterlaluan untuk gadis yang sudah menjomlo lima tahun.

“Nona Rea?” suara seorang wanita paruh baya tiba-tiba terdengar masuk ke ruang tamu menghampiri Rea.

Kaget, badan Rea langsung tegak dan mengiyakan. “Benar.”

Senyum mereka beradu.

“Kita mulai dari ruang keluarga ya Non….” sambung asisten Rumi itu sebelum membawa Rea berkeliling. Bukan hanya sekedar keliling, tapi benar-benar memasuki hampir semua ruangan. Rea tidak menyangka penthouse bisa sebesar ini.

Di salah satu sisi bahkan ada taman outdoor. Taman sungguhan. Ada rumput, bunga-bunga, juga ada pohonnya. Gadis itu kayaknya habisin waktu lima menit buat berpikir bagaimana pohon tersebut dinaikkan ke lantai setinggi ini.

“Nah kalau ini kamar Pak Rumi,” terang wanita yang kemudian Rea tahu bernama Bene itu.

Rea melihat pintu di hadapannya. Tertutup rapat. Di bagian bawah terdapat gambar tiga orang-orangan dengan garis krayon warna-warni sederhana. Rea jongkok untuk melihat lebih dekat.

Pada masing-masing gambar, ada keterangan Desta, Papa, juga Dista di atasnya. Membuat Rea tersenyum, sambil menyentuhnya sebentar.

“Itu gambaran Desta. Anak Pak Rumi yang kedua.”

Rea hanya mengangguk, sebelum kemudian Bene memberinya kontak-kontak penting. Dari guru kelas dan les, sopir pribadi si kembar, dokter mereka, dan banyak lagi rentetan nomor orang-orang lain yang membuat Rea menggeleng.

Makin ke sini, gadis itu makin takjub mendengar berbagai info yang disampaikan. Aplikasi catatan di ponselnya yang selama ini jarang dia buka, kini penuh dengan berbagai contekan yang kata Bene perlu dia hafalkan.

“Apa masih ada lagi, Mbak?” tanya Rea setelah mereka baru saja keluar dari kamar Desta Dista. “Kalau nggak, saya ke bawah sebentar. Mau beli kopi,” ucap Rea siap beranjak.

“Saya bisa buatin kopi kalau Non mau.”

Cepat-cepat Rea menaikkan kedua tangannya untuk menolak. “Nggak perlu Mbak. Depan hotel ada kedai kopi. Saya ke sana saja. Anak-anak pulang sekitar satu setengah jam lagi kan?”

Bene hanya mengangguk membenarkan. Diikuti dengan gerakan cepat Rea kembali memakai kacamata, topi dan maskernya sebelum turun.

Membayangkan bagaimana nikmatnya es kopi susu menuruni tenggorokannya membuat langkah gadis itu terayun ringan. Dia bahkan melewati beberapa karyawan dan wartawan yang masih bertengger di halaman depan tanpa kecemasan seperti yang ia rasakan tadi.

“Pagi, Kak. Mau pesan apa, nih?” tanya salah satu barista ramah ketika Rea masuk kedainya.

“Mau es kopi susunya satu, dong,” sebut Rea tak kalah ceria, sambil melepaskan masker dan kacamata hitamnya.

“Biasa? Atau mau yang pandan, Kak?”

“Karamel. Ada?” Rea menyebutkan detail kesukaannya.

“Ada dong. Pakai aren nggak Kak?” tanya barista itu lagi.

“Nggak pakai. Double shot.” Kali ini bukan Rea yang menjawab. Tapi satu suara yang sudah berdiri di sampingnya.

Sayangnya, Rea mengenal suara itu sebanyak ia membencinya.

“Pakai aren Mas. Single shot aja,” ucap Rea meralat apapun yang pria tadi sebut, tanpa nengok sedikit pun.

“Kamu nggak suka aren,” ucap suara itu lagi. Menyiratkan bahwa dia memahami betul selera Rea,

“Sekarang suka,” sergah Rea ngotot.

“Oh, sama seperti bagaimana kamu mendadak suka menjadi pusat perhatian?”

“Bara, stop ya!” hardik Rea kesal. Dia sempat melihat sekeliling khawatir suaranya terlalu keras, sebelum menatap pria itu geram. Bara berdiri di sana dengan jaket denim yang sayangnya dia hapal juga.

“Ehm.. Mau bayar sekarang, Kak?” sela barista di depan Rea kikuk dengan nada ragu-ragu.

“Iya. Berapa, Mas?” Rea cepat-cepat beralih ke sosok di balik mesin kasir tersebut, merasa sungkan karena barusan suaranya sedikit melengking.

“Dua puluh lima ribu, Kak. Mau cash atau Qris?”

“Cash aja. Sebentar ya.” Gadis itu membuka dompet. Sayangnya, kurang cepat.

“Biar aku yang bayar,” sambar Bara dari samping tanpa diminta. Meletakkan selembar uang pecahan besar pada pria itu.

“Saya nggak butuh recehan kamu,” tambah Rea mulai terdengar kesal, sambil meletakkan uang pasnya di samping mesin kasir.

“Kenapa? Karena sekarang kamu bisa minta berapa pun dari pacar barumu itu? Iya?” sindir Bara semakin berani.

Rea diam. Bara bukan seseorang yang harus dia ladeni lagi. Dia hanya akan menunggu es kopi sialan itu, dan kembali bekerja. Syukurnya, pesanannya tidak butuh waktu berjam-jam untuk tersaji.

Rea langsung mengambil gelas yang disodorkan padanya, lantas berterima kasih lalu berjalan keluar. Tentu saja Bara mengekorinya.

“Jadi benar sekarang kamu sama cowok itu?” Bara terus melontarkan pertanyaan. “Bagus juga target kamu.”

‘Target katanya?’ Gadis itu berdecik pahit, sambil meminum kopinya yang kemanisan itu. Dia harusnya mengiyakan tawaran Bene tadi. “Bara, jaga ucapan kamu!”

“Bukannya kamu yang seharusnya jaga sikap agar orang lain nggak mengatakan hal buruk tentang kamu?”

“Maksudmu?” Rea berhenti sebentar untuk memelototi lawan bicaranya. Dia bisa merasakan amarahnya mulai mendidih.

Bara tertawa sinis. “Kamu tahu maksudku, Re. Ingat, aku lebih mengenalmu dari siapapun, Rea. Bahkan dari pacar barumu itu.”

“Saya udah nggak peduli gimana saya dimata kamu, Bara. Sekarang saya sudah bahagia dengan pria yang saya pilih, dan juga memilih saya.” Rea mengucapkan kalimat ini sambil berbalik dan kembali berjalan meninggalkan mantannya itu.

Berusaha mengakhiri obrolan yang tidak dia inginkan ini.

Sayangnya, pria itu tahu persis bagaimana cara memancing kesintingannya..

“Yakin dia benar-benar milih kamu karena cinta, Rea? Atau kamu cuma perempuan yang dia bayar untuk memenuhi kebutuhannya?,” tanya Bara datar.

Rea terhenti. Nafasnya bergetar, begitu pula seluruh tubuhnya. Amarah yang sejak kemarin ia tahan sekuat kesabarannya, telah melewati batas.

Akan tetapi, begitu gadis itu berbalik hendak mengguyur Bara dengan es kopi dua puluh lima ribunya, mata Rea langsung bertemu dengan sosok Rumi yang berdiri tepat di belakang Bara. Entah dari mana pria itu berasal.

“Menurut kamu, berapa harga diri perempuan ini?” tanya Rumi datar sambil berjalan melewati Bara. Menghampiri Rea yang terkejut habis.

“Maksud kamu?” Bara yang juga sama kagetnya, sontak bingung.

“Kamu menuduh saya membayar Rea untuk memenuhi kebutuhan saya. Jadi, saya penasaran, berapa harga yang menurut kamu pantas untuk dia?”

“Kalian pikir saya percaya kalau kalian berdua adalah pasangan yang saling mencintai?”

“Kenapa tidak?” Rumi memotong tajam, lalu merangkul pinggang Rea tanpa mengalihkan tatapan dari Bara.

Sejujurnya Rea tertegun, terlebih ketika ibu jari Rumi mengusap pinggangnya pelan, seolah sentuhan itu sudah menjadi kebiasaan di antara mereka. Tapi dia tentu tidak boleh terlihat gugup di depan Bara.

“Jangan bilang kamu cemburu karena sekarang, hanya saya yang bisa menyentuhnya, memeluknya, dan membawanya pulang?” lanjut Rumi menunduk, menatap Rea dengan senyum tipis, sebelum mengecup keningnya dengan lembut.

Kecupan yang singkat, tapi begitu alami hingga siapa pun yang melihatnya akan mengira mereka benar-benar sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

Termasuk Bara yang rahangnya tengah mengeras, juga satu wartawan yang diam-diam menguping mereka bertiga sejak tadi.

Sedang Rea, gadis itu menatap Rumi dengan jantung berdebar. Sepertinya, menjaga hatinya agar tidak jatuh cinta akan menjadi bagian tersulit dari kontrak ini.

brokolying

Hayolooooh.. Gimana-gimana?

| 2
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 83

    “Mas Rumi tahu, Om.” Rea membalas tanpa kehilangan senyumnya. “Makanya, yang dia bawa ke sini saya, bukan perempuan lain.”Kalimat Rea sontak membungkam semua orang di meja makan, termasuk Rajendra.Rea tahu betul posisinya di rumah itu. Dia hanya perempuan yang dibawa Rumi tanpa pemberitahuan, seseorang yang keberadaannya bahkan belum sepenuhnya diterima oleh keluarga pria itu.Namun, setelah Pak Rajendra sengaja mengundang Maudi untuk makan siang dan menjadikannya bahan sindiran di hadapan semua orang, Rea merasa tidak punya alasan untuk terus memasang sikap sungkan.Kalau tuan rumah saja tak berniat menjaga perasaannya, mengapa dia harus repot-repot menjaga perasaan tuan rumah? Lagi pula, Rea bukan tipe perempuan yang akan mundur dan diam saja kalau ada seseorang berusaha membuatnya merasa tidak pantas berada di sana.Selain itu, kontrak Rea dan Rumi juga akan berakhir. Jika setelah makan siang tadi dia mendapat predikat sebagai perempuan kurang ajar di mata orang tua pria itu, ras

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 82

    Emosi Rea yang sudah mendidih sebelumnya, sekarang ditambah lagi dengan celetukan pria itu soal menantu, maka lengkap sudah alasan Rea untuk mencekik pria itu.Namun, dia memilih menahan diri. Mengingat siapa pemilik rumah yang akan mereka masuki, membuat Rea enggan menambah satu masalah lagi.Dia hanya berharap malam ini cepat berlalu.Kediaman keluarga Rajendra tampak megah, dengan arsitektur yang kental akan nuansa Jawa. Pintu kayu berukuran besar menyambut mereka, disusul ruang utama yang dipenuhi furnitur kayu berukir rumit.Mulai dari meja konsol, lemari pajangan, hingga kursi-kursi berukuran besar yang tampak seperti barang antik. Semuanya terlihat mahal, bahkan tanpa perlu mencantumkan harga.Rea melirik salah satu lemari jati dengan ukiran yang begitu detail.‘Perasaan mereka bukan keturunan bangsawan Jawa, deh. Sekaya apa keluarga ini sampai rumahnya begini?’ Rea bertanya-tanya dalam hati.Belum sempat dia mengamati lebih jauh, Nyonya Rajendra sudah mengajak mereka melewati

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 81

    Pintu lift bahkan belum tertutup sempurna ketika Rea menarik tangannya dari cengkeraman Rumi.“Mas! Bisa nggak sih kalau mau ke mana-mana itu bicara dulu? Rencanain dulu?!” protes Rea, menatap pria yang masih lengkap dengan piyamanya tersebut. “Dan, saya punya kaki sendiri. Nggak perlu ditarik-tarik seperti anak kecil begini!”Rumi tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada angka yang terus berubah di atas pintu lift.Rea mengembuskan napas kasar. ‘Astaga!’Begitu pintu lift terbuka, Rumi kembali berjalan lebih dahulu. Rea terpaksa mengikuti langkah panjangnya sampai mereka tiba di parkiran. Pria itu bahkan membukakan pintu mobil untuknya, seolah-olah tidak sedang menyeretnya keluar dari rencana yang sudah dia susun sejak semalam bersama Dante.Rea masuk dengan kesal. Begitu Rumi duduk di balik kemudi, dia langsung menoleh.“Saya nggak bisa kayak gini, Mas. Ini hari libur saya.” Rea berusaha mempertahankan suaranya agar tidak meninggi. “Kita udah sepakat dari awal, kalau weekend tanpa kep

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 80

    “Soalnya, kalau kamu mau, aku nggak keberatan ngabarin kamu terus. Setiap hari kalau perlu.”Rea jelas tidak menyangka kalimat dari Dante itu juga bisa membuat pipinya merona.Padahal Dante tidak melakukan apa-apa. Tidak mendekat seperti yang kerap Rumi lakukan, seolah dia tahu batasnya.“Mas Dante!”“Kenapa?” tanyanya ringan. “Kok mukanya merah?”“Nggak merah ya!”Dante terkekeh. “Tuh merah,” seru pria itu sambil menunjuk satu pipi Rea.“Mas Dante!”Alih-alih merasa bersalah, Dante malah mengulurkan tangan dan mengacak pelan rambut Rea. “Udah, sana masuk.”Rea buru-buru merapikan rambutnya. “Hati-hati di jalan ya Mas.”Dante mengangguk, senyumnya sedikit melunak. “Siap, Tuan Putri.”Akhirnya Rea masuk, dan pria itu pulang.Setelah mandi dan bersiap tidur, Rea baru saja selesai mengoleskan pelembap ke wajahnya ketika ponselnya berdering.Tanpa melihat nama yang tertera di layar, dia buru-buru mengangkatnya.“Halo?”“Halo?”Rea langsung mengenali suara di seberang sana.“Oh! Hay Mas.”

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 79

    Rea meninggalkan penthouse Rumi dengan pikiran yang entahlah. Amburadul? Dan dia menyalahkan perasaannya atas itu.Andai saja dia tidak terbawa perasaan. Andai saja tidak muncul harapan tiap Rumi menyentuhnya. Semua pasti akan baik-baik saja.Dia tidak perlu menjaga jarak pada rumi maupun Dista dan Desta.Dan,Dia tidak akan menerima teror ini.Syukurnya ada Dante. Yang entah kenapa berada di basement Rumi.“Mas Dante? Kok ada di sini? Belum balik?” tanya Rea mendapati pria itu tengah ngobrol dengan Ammar, sopir pribadi Rumi.“Belum. Nunggu kamu,” jawab pria dengan senyuman dan lesung pipinya itu.“Pak Ammar yang bakal nganter aku pulang, Mas.”“Aku udah bilang sama Pak Ammar bisa langsung istirahat aja kok Dek. Kamu, biar aku yang antar. Sekalian aku mau bahas yang tadi.”Rea terdiam sebentar. Dia mentap Pak Ammar, “Pak, yaudah Bapak langsung istirahat aja,” ucap Rea menginstruksikan agar pria itu langsung masuk saja. Beliau punya satu kamar di penthouse Rumi, seperti Bene dan asiste

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 78

    Semakin keras Rea berusaha bersikap biasa saja, semakin sering pula pikirannya kembali pada sikap dan kalimat Rumi kemarin.Gadis itu bahkan sudah berjanji ingin mencabut perasaannya pada Rumi sampai ke akar-akarnya, sebelum dia makin tolol karena cinta.Sayangnya, kita semua tahu perasaan tidak bekerja sesederhana itu.Setiap hari, Rea masih harus berhadapan dengan Rumi yang dingin, tegas, namun selalu memperlakukannya manis di hadapan orang-orang, seolah-olah Rea benar-benar perempuan yang dia cintai. Termasuk di depan anak-anaknya.Namun, di tengah usahanya meredam perasaan sendiri, ada satu masalah yang justru semakin sulit dikendalikan.Teror tidak kunjung berhenti.Setiap kali mendampingi Rumi ke sebuah acara, pesan-pesan aneh itu selalu datang. Kadang berupa foto mereka berdua yang diambil dari kejauhan. Kadang hanya kalimat singkat yang cukup untuk membuat perutnya terasa melilit.Dan malam ini, hal yang sama kembali terjadi.Convention hall hotel milik Rumi dipenuhi anggota k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status