Share

CHAPTER 5

Author: brokolying
last update publish date: 2026-07-27 10:29:58

Rumi sontak mundur dan berbalik seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kalian dengar kata-kata itu dari mana lagi?” tanya pria itu sambil berjalan ke arah pintu, dan langsung berjongkok, membuka kedua tangannya lebar-lebar yang langsung ditabrak oleh dua anak tadi tanpa ragu.

“Dari Miss. Pas HPnya diletakin ke meja, Desta lihat ada foto dia dipeluk orang,” ucap anak lelaki tersebut.

“Oh ya?”

“Uhum.. Kata Miss, itu pacarnya,” tambah anak itu lagi.

“Miss bilang gitu?”

“Iya. Tanya aja sama Dista. Iya kan Dis?”

Gadis kecil yang ternyata bernama Dista itu tidak menjawab. Fokusnya sudah beralih menatap Rea yang berdiri di belakang Rumi, canggung secanggung-canggungnya.

Tak lama, dia melepaskan diri dari pelukan Papanya, lalu berjalan menghampiri Rea dengan langkah-langkah pendek. Matanya kagum.

“Waaah…,” gumamnya kecil. “Princess.”

Anak itu berhenti tepat di depan Rea. Ia lalu mengulurkan satu tangan kecilnya mengusap pelan gaun beludru halus tersebut, sedang tangan lainnya memegang boneka Barbie.

“Itu siapa? Pacar Papa ya?” kali ini suara milik anak yang masih bergantung di pelukan papanya kembali terdengar.

“Princess, Desta! Dia princess. Kamu princess kan?” tanya gadis itu mendongak menatap Rea.

Tidak tahu harus berbuat dan menjawab apa, Rea yang terlihat belum siap, reflek menatap Rumi sebelum akhirnya ikut berjongkok juga. Menyetarakan tingginya dengan anak kecil di hadapannya.

“Haiiiii. Siapa namanya?”

“Dista…” jawab anak itu sambil menyentuh sedikit rambut Rea yang tergerai.

“Hai Dista… Aku Rea,”

“Rea? Cinderea?! Papa! Desta! Dia Cinderea! Cinderea ke rumah kita!” pekik anak itu antusias, dan sedikit melompat kembali menghampiri papanya.

Pipi Rea yang tidak memakai blush on, kini merona mendengar sebutan polos Dista, dan Rumi menangkap perubahan kecil itu.

“Ini anak-anakku. Desta dan Dista,” ungkap pria itu menjelaskan.

Rea memandang keduanya bergantian. Meski sedikit syok karena baru tahu anak bosnya yang nanti harus dia jaga ada dua orang dan kembar, dia tidak bisa menyembunyikan tatapan kagum.

Kedua anak itu lucu-lucu, dan terlihat identik. Membuatnya langsung bertanya-tanya bagaimana Rumi menyembunyikan mereka selama ini?

Rea kembali berdiri, dan mengangguk pelan. Tanda paham. Membungkam mulutnya rapat-rapat, memastikan tidak ada pertanyaan yang bukan urusannya lolos terlontar kali ini.

“Yasudah. Anak-anak, Papa harus pergi sebentar. Kalian di rumah baik-baik ya. Jangan berantem, jangan bikin keributan yang merepotkan Mbak-mbak. Mengerti?” tanya Rumi tegas, yang langsung diangguki oleh kedua anaknya.

Dia kemudian mengecup puncak kepala Desta dan Dista sebelum anak-anak itu kabur entah kemana, sedang mereka berdua langsung turun ke basement, tempat di mana sopir Rumi sudah menunggu di dalam mobil mewah yang tidak bisa Rea tebak pajak tahunannya berapa. Siap mengantarkan mereka ke tujuan.

“Jangan lakukan kesalahan. Saya tidak membayarmu untuk melakukan kesalahan,” seru Rumi mengingatkan Rea ketika mereka hampir sampai.

Di tengah-tengah pikirannya yang terganggu mengingat kejadian singkat tadi, Rea cepat-cepat mengguk. Ia meyakinkan dirinya, kalau dia bisa membersihkan ballroom besar, itu berarti dia juga bisa melakukan apapun tugasnya malam ini.

‘Lakukan tugasmu, ambil gajimu,’ bisik Rea dalam hatinya berulang kali. Terus begitu, hingga matanya menangkap kilauan flash-flash kamera media di depan sana.

“Pak!! Ada media?!” cerca Rea kembali panik. Anxiety-nya melonjak.

Dia bisa menghadapi orang-orang kaya itu. Tapi menghadapi sorotan media?

“Emang kenapa?” tanya Rumi bingung.

“Mereka bisa foto kita, Pak!”

“Ya lalu?” tanya Rumi seolah tak ada yang salah.

“S-saya cuma pakai lipbalm. Makeup juga cuma bedak,” ujar Rea polos. Jarinya refleks saling meremas. Dia tahu betul bagaimana kamera profesional bisa menangkap pori-pori orang tanpa ampun. “Kalau sampai masuk berita, nanti orang-orang lihat saya begini....”

“Kamu cantik,” balas Rumi singkat, lalu melangkah turun lebih dulu, membuat Rea langsung terdiam.

Wajahnya seketika terasa panas. Jantungnya lagi-lagi berdetak sedikit lebih cepat, membuatnya buru-buru mengalihkan pandangan.

‘Apa katanya? C-cantik?!’

Lamunan Rea buyar ketika pintu mobil di sisinya terbuka dan sebuah tangan terulur tepat di hadapannya. Rea mengangkat wajah, masih sedikit linglung.

“Ayo,” ajak Rumi singkat.

Rea menatap uluran tangan itu sesaat. Entah kenapa, jantungnya kembali berdebar aneh. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya kecil, berusaha mengusir perasaan yang tidak perlu.

Rea akhirnya meraih tangan Rumi dan turun dari mobil. Namun, begitu jemarinya menyentuh telapak tangan pria itu, wajahnya kembali terasa hangat.

Sayangnya, Rea bahkan tidak sempat memikirkan perasaan aneh itu lebih jauh. Kerlap-kerlip blitz langsung menyambar dari kanan, kiri, depan, belakang membuatnya buyar. Penglihatannya terasa nyaris rusak dibuat kilatan-kilatan tersebut. Belum lagi mentalnya yang seketika terguncang parah.

Juga, lemparan banyak pertanyaan yang tertuju pada bosnya itu ternyata bukan main.

“Pak Rumi, dateng sama siapa Pak?”

“Pak itu kekasih barunya ya Pak?”

“Pak ini…”

“Pak itu…”

Dan banyak Pak-Pak lain yang tidak satupun terjawab.

Pria itu bahkan tidak membagikan senyumnya pada satupun lensa. Dia fokus jalan sambil menggenggam tangan Rea yang melangkah tanpa nyali di sampingnya.

Tepat saat gadis itu berpikir serbuan media adalah satu-satunya masalahnya malam ini, suasana di dalam gedung justru jauh lebih mencekam.

Orang-orang dari berbagai kalangan, perusahaan, dan hal-hal kaya raya lainnya ternyata jauh lebih mengintimidasi gadis yang makin melangkah, makin merasa kecil itu.

“Haus?” tanya Rumi sesampainya mereka di dalam ruangan berdekor mewah tersebut. Menyadari Rea di samping seperti ngos-ngosan.

Gadis itu cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Minder.”

“Tidak perlu. Sudah kubilang, penampilanmu cantik,” terang Rumi berusaha meyakinkan.

“Tapi Pak….”

“Mulai sekarang, selama kita di sini, stop memanggilku Pak. Aku pasanganmu. Ingat?”

Lagi-lagi Rea mengangguk cepat. Takut membuat kesalahan.

"Bagus. Sekarang, angkat dagumu," titah Rumi dengan senyuman ramah, sambil satu tangan naik merapikan rambut Rea. Lalu tanpa menggerakkan bibirnya sedikitpun, pria itu mendekat membisikkan sesuatu. "Hilangkan mindermu untuk tiga puluh lima juta itu."

Bisikan yang ternyata efeknya sangat instan.

Rea langsung menegakkan bahunya, dagunya dan apapun yang menurutnya tertekuk, kemudian menyunggingkan senyum termahal yang ia kira. Sambil menatap bosnya penuh binar, gadis itu bersuara selembut mungkin. "Yuk Mas. Acaranya udah mulai."

Mereka langsung berjalan beriringan, bergandengan. Rea kali ini mampu mengimbangi langkah bapak anak dua itu. Berbaur dengan beberapa tamu lain.

Seperti pesta-pesta resepsi pernikahan lainnya, selain modal, pesta yang ini tidak jauh berbeda. Kedua mempelai, keluarga, tamu, semua terlihat mencengangkan sesuai porsinya masing-masing. Meski ada satu dua orang yang Rea lihat seperti ingin menyaingi pengantin wanita di panggung yang anggun berbalut kebaya mewah warna hijau berkilau.

Termasuk salah satunya, wanita yang sedang berjalan lurus ke arah mereka. Dengan gaun putih penuh tule.

“Rumi Rajendra….” ucap wanita itu penuh tekanan. “Hadir kamu rupanya?”

Rea yang merasa tidak asing dengan wajahnya, hanya bisa diam di samping bosnya. Menunggu Rumi merespon, sambil menebak-nebak pernah melihat wajah itu dimana.

“Tentu. Aku selalu menghadiri pernikahan rekan bisnisku,” jawab pria tersebut dingin.

“Dan kamu sekarang tidak datang sendiri,” sambung wanita itu lagi sambil menatap Rea. Matanya langsung terpaku pada gaun yang gadis itu kenakan. Satu senyum sinis langsung terpajang di wajahnya. “Siapa gadis yang memakai baju bekasku ini Rum? Nggak bisa kamu beliin dia gaun baru?”

“Kamu salah ingat. Ini jelas bukan bekasmu,” tepis Rumi dengan tenang.

“Ya, kamu beliin itu khusus untuk aku dulu. Aku ingat.”

“Itu berarti kamu juga ingat kalau aku bisa membeli gaun yang sama untuk wanita lain,” timpal Rumi tidak kalah sengitnya.

“Tapi…”

“Mana suamimu, Fiona? Apa dia tahu kamu berkeliaran di sini mengurusi urusan mantanmu?”

Mata Rea melotot mendengar nama itu. Fiona. Artis papan atas yang sukses membintangi beberapa sinetron, dan ternyata mantan istri bosnya.

Pantas dia merasa familiar sejak tadi, namun susah mengenalinya. Entah karena Rea tidak memiliki TV dan jarang menonton sinetron, atau karena perubahan wajah artis itu yang terlihat berbeda dengan yang ada di ingatannya.

“Suamiku ada. Sedang berbincang dengan pemilik Russo Group yang akan membuka satu franchise hotel mereka di Jakarta,” tutur Fiona sombong. Menyebutkan satu nama grup yang membuat kening Rumi terangkat sebentar. “The Blue Hill akhirnya akan dapat saingan seimbang,” lanjutnya berusaha menakut-nakuti.

“Wow. Mas denger itu? Akhirnya hotel kita akan dapat rival baru. Bisnis akan lebih menyenangkan nanti, Sayang,” celetuk Rea sambil menaikkan tangan membelai dasi dan dada bidang Rumi dengan lembut. Setelahnya dia bahkan menyelipkan satu tangannya merangkul lengan kanan bosnya itu.

“Semoga suami kamu berhasil dapat tender itu ya Mbak. Lumayan buat benerin botox-botox yang kayaknya mulai kendor,” tambah Rea menyindir dengan amat mulus.

Rumi dan Fiona yang mendengar itu sontak terlonjak kaget.

Pria itu sih langsung terkekeh pelan.

Sedang Fiona, wanita itu melotot tak percaya. Terlihat marah.

brokolying

Hayolooooh.. Gimana-gimana?

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 50

    "Pacar siapa memangnya Ru? Hari ini Rea terlihat single. Dari tadi sendiri. Saya nggak lihat tuh ada cowok yang nemenin dia?" cibir Kartika tajam menatap sepupunya itu lekat.Rea tidak bereaksi apapun.Tapi Rumi, pria itu tersenyum. Dia tetap tenang.“Sendiri bukan berarti Rea jomblo. Saya rasa semua orang di sini tahu Rea pasangan saya, Mbak.”“Bahkan wanita yang di jari manisnya sudah ada cincin pernikahan sekalipun, kalau dia terbiasa terlihat sendirian, mau satu dunia tahu dia milik siapa, akan ada cowok lain yang nekat ngerebut dia,” tambah Kartika tidak kendor.Kalimat gadis itu terdengar seperti peringatan bagi Rumi, dan sebuah sanjungan dari Rea, meski dia tidak yakin akan ada pria yang mau mendekatinya jika tahu seberapa berantakan hidupnya beberapa tahun belakang. Membuatnya kehilangan apapun termasuk kepercayaan diri.“Mbak Kartika nggak usah khawatir. Saya tahu bagaimana cara menjaga pasangan saya,” ungkap Rumi penuh keyakinan.“Benarkah seperti itu, Rumi? Karena sejak tad

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 49

    Sejak pertanyaan Rumi hari itu, sebulan yang lalu, hubungan mereka berdua benar-benar hanya sepasang kontrak. Tidak ada basa-basi yang tidak perlu. Terlebih sentuhan yang terlepas. Mereka benar-benar menjadi atasan dan bawahan yang tidak jauh-jauh dari pekerjaan semata.Bahkan untuk sekedar bertatap mata di luar masalah kerjaan, Rumi enggan.Tapi mereka masih begitu sangat profesional di luar sana, terlebih di media. Rea masih mendampinginya kemanapun Rumi butuh.Tapi sisanya? Nol.Pria itu benar-benar menghindari Rea.Dan hal tersebut membuat Rea makin kebingungan.Satu sisi dia berterima kasih karena dengan sikap Rumi yang demikian, perasaannya sukar tumbuh lebih dalam. Dia hanya perlu fokus menjalankan tugasnya.Tapi di sisi lain? Melihat pria itu menjadi begitu acuh ternyata bukan hal yang dia sukai.Seperti hari ini. Mereka sedang berada di salah satu pernikahan keluarga Rumi. Rea memakai kebaya manis berwarna maron, yang diimbangi dengan warna batik Rumi yang senada.“Kalian bai

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 48

    “Cantik. Cantik sekali.”Mendengar itu, nyaris saja Rea merona. Syukurnya pagi ini nyawanya cepat terkumpul. Jadi ketika Rumi mengatakan bahwa dia cantik, ingatan tentang semua kekesalannya pada pria ini belakangan langsung terbayang.“Good morning…” sapa Rea sambil tersenyum.“Morning, Cinderea,” sambut Dista yang langsung naik ke samping gadis itu. “Dista lapar.”Kedua alis Rea terangkat. Matanya mencari Rumi di samping seolah meminta penjelasan kenapa anak-anak itu lapar.“Anak-anak belum sarapan?”“Belum. Hari ini jadwal libur semua asistern rumah tangga. Jadi subuh-subuh tadi sudah berangkat,” jelasnya.“Chef Anton juga?” tanya Rea lagi menyebutkan nama chef yang biasa menangani makanan di penthouse itu.“.." Rumi hanya mengangguk.“Kalau Anton libur, kalian biasanya sarapan apa?”“Mama nginap.”“Kali ini kenapa nggak nginap?”“Aku bilang nggak perlu. Karena ada kamu.”Mendengar itu Rea cepat-cepat duduk. Anak-anak pun berlarian keluar kamar, meninggalkan dua orang dewasa itu sen

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 47

    Dante yang sama sekali tidak merasa ada yang aneh, hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Oh, tadi gue ketemu Rea di coffee shop dekat sini. Sekalian aja gue antar pulang. Kasihan sendirian. Katanya lu sibuk, soalnya.”Rea mengangkat wajah.“Gimana? Udah nganter Maudi?” tanya Rea to the point. Sedikit kelepasan.“Loh, lo nganter Maudi, Rum?” Dante spontan menoleh ke Rumi..Rea tersenyum tipis. Sinis.Tanpa menunggu jawaban siapa pun, dia maju ke pintu.“Ya sudah, kalian ngobrol aja,” ucapnya ringan. “Aku masuk dulu. Sudah ngantuk banget.”Sebelum masuk, Rea sempat menoleh kepada Dante. “Oh iya, Mas Dante. Makasih ya, sudah nganterin.”“Sama-sama, Dek Rea,” ucap Dante yang kemudian menepuk bahu Rumi sekali. “Gue cabut dulu.” Dia menahan tawa melihat ekspresi Rumi. “Good luck.” Lalu pergi begitu saja.Sayangnya Rumi kurang lincah hingga pintu unit di depannya lebih dulu tertutup saat Dante pamitan.TOK TOKTidak ada jawaban. Begitu pula dengan beberapa ketukannya kemudian. Di

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 46

    Ruang tamu kembali sunyi. Rea melihat mereka pergi dengan pandangan yang menyesakkan. Dia tahu dia salah. Tapi Rumi berlebihan. Bahkan untuk sekedar ikut menemani anak-anak pun tidak diizinkan.Rea akhirnya membuka laptop yang dibawakan oleh Bene. yang katanya berisi file medical record anak-anak.Dia membacanya dari halaman pertama.Riwayat kesehatan. Alergi. Obat. Pola makan. Jadwal pemeriksaan. Catatan dokter. Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya.Setelah selesai dengan Dista, dia membuka milik Desta.Jam bergeser tanpa dia sadari. Bahkan saat mata Rea mulai terasa kering, dia tetap membaca.Dia mencatat beberapa poin penting di sebuah dokumen terpisah. Sesekali mengulang bagian yang tidak dia pahami.Sampai akhirnya suara pintu terdengar.Rea mengangkat wajah.Rumi masuk. Dista berada dalam gendongannya, sedang Ammar membawa Desta di dekapannya.Dan….Dan Maudi masih ada.“Tante Rea!” sapa kedua anak itu lagi-lagi serempak ketika turun dari gendongan

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 45

    Keesokannya, Rea menghubungi nomor ponsel Ammar, sopir Rumi, sebelum bersiap mandi.“Saya ikut jemput Dista dan Desta pulang sekolah hari ini, ya, Pak,” ujar Rea sambil meroll rambut di depan cermin. “Tapi nggak usah kasih tahu Pak Rumi.”“Oh baik, Bu,” sahut Ammar dari seberang telepon. “Saya jemput Ibu Rea dulu di apart berarti? Atau di mana?” tanya pria itu memastikan.“Di apart, Pak.” Rea tersenyum kecil membayangkan reaksi anak-anak. Setidaknya hari ini dia bisa menebus sedikit kesalahannya semalam pada dua kembar favoritnya itu.Begitu mobil tiba, mereka langung ke sekolahan Dista dan Desta. Lumayan jauh. Dia bingung kenapa Rumi harus memilih sekolah sejauh ini dari rumah. Tapi syukurnya, tidak ada pesan dari pria itu sejak pagi. Tidak ada pertanyaan. Tepat seperti yang dia inginkan.Saat Dista dan Desta melihatnya di depan gerbang sekolah, keduanya langsung berlari menghampiri.“Cinderea!”“Tante Rea!” seru Desta bergantian dengan mbaknya, sambil meraih tangan Rea.“Gimana seko

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status