เข้าสู่ระบบSetelah reflek memekik keras, jantung Rea berdentum habis-habisan. Kepalanya langsung dipenuhi berbagai tuduhan. Apa pria itu sengaja? Apa pria itu punya niat yang nggak-nggak? Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Terlebih pria itu butuh beberapa detik sebelum ia tersadar dan memalingkan badannya.
“Maaf.” Suaranya terdengar bersalah dan hendak menutup pintu kembali. “Saya pikir kamu….”
Di samping rasa kesalnya, otak gadis itu tiba-tiba berpacu. Sambil menggigit bibirnya, sesuatu terlintas.
Mustahil baginya menggunakan baju itu tanpa bantuan orang lain. Tangannya sudah pegal mencoba menaikkan resleting sejak tadi, tapi gagal berulang kali.
“Tunggu!” seru Rea menghentikan langkah bosnya itu, dengan wajah memerah menahan malu. “B-boleh minta tolong nggak Pak?”
Rumi tidak bergerak. Dia fokus mendengar.
“Dari tadi aku susah menggapai resletingnya. Boleh to….”
“Kamu yakin saya boleh menoleh?” tanya pria itu memotong kalimat Rea.
Gadis itu mengangguk kecil yang kemudian sadar kalau Rumi bahkan tidak bisa melihat anggukannya. Akhirnya dia membuka mulut dan menjawab ragu. “Iya. T-tapi, jangan lihat yang lain! Jangan sentuh yang lain! Hanya resleting!”
“Tentu.” Rumi terdiam sesaat, lalu menghela napas tipis. “Memangnya kamu pikir saya akan melakukan apa selain menutup resleting?”
Rumi membalik badan perlahan. Tatapannya dia jaga habis-habisan tetap tertuju pada pantulan cermin. Bagaimanapun juga, dia masih punya harga diri.
Rea langsung terdiam. Entah kenapa, ucapan Rumi justru membuat telinganya terasa panas.
“Bukan begitu,” sanggah Rea cepat.
Jarak mereka menyusut selangkah demi selangkah, hingga Rea melihat bagaimana Rumi akhirnya berdiri di belakangnya.
Jemari pria itu terangkat, dan menyentuh ujung resleting gaun yang terletak di bagian terendah panggul Rea.
“Maaf,” bisik Rumi mengeluarkan kata itu sekali lagi. Hanya kali ini, suaranya terdengar semakin berat, seiring dua jarinya menjepit kepala resleting itu.
Rea bisa merasa bagaimana bosnya menarik benda kecil itu naik perlahan. Sangat pelan.
Suara gerigi benda tersebut menjadi satu-satunya suara yang terdengar, hingga berakhir tepat di tengkuknya.
“Selesai,” lapor Rumi singkat, lalu menghela nafasnya lega. Seperti baru saja menyelesaikan misi berat.
Begitupun Rea yang di waktu bersamaan menghembuskan napas pelan. Jemarinya merapikan bagian depan gaun sekilas, mengembalikan gerai rambutnya yang sedari tadi dia ke depankan, sebelum memutar tubuhnya.
Gerakannya begitu tenang.
Ketenangan yang justru membuat Rumi sedikit tercekat ketika gadis itu berbalik.
Di hadapannya, Rea berdiri dengan penampilan yang seutuhnya berbeda dengan Rea yang tadi masuk ke ruangan itu.
Rea yang sekarang berdiri di hadapannya adalah Rea yang begitu menonjol berbalut gaun velvet burgundy dengan potongan renda payet di ujung bawahnya.
Fisiknya yang lebih besar satu ukuran dari ukuran gaun tersebut membuat beludru menempel ketat di tubuhnya. Mempertegas semua lekuk pinggang hingga dada gadis itu, dengan, amat, jelas.
Turun ke bawah, mata Rumi bertemu dengan paha dan betis jenjang yang terbingkai sempurna, memamerkan kaki wanita itu memesona tanpa berlebihan.
“Ehm…. Pak. Maaf, ternyata saya terlalu gendut untuk baju-baju itu. Hanya ini yang…”
“Hm?” tanya Rumi yang matanya susah sekali kembali menatap mata Rea.
“Ini. Ketat, Pak,” ulang Rea, masih malu. Merasa seperti telanjang.
“Oh maaf. Saya tidak memikirkan ukuranmu sebelumnya. Tapi kamu bisa bernafas dan bergerak, kan, dengan gaun itu?” Rumi memastikan.
Rea hanya mengangguk, walaupun terlihat sedikit tidak nyaman. Dia jelas tidak terbiasa memakai pakaian semahal dan sekecil ini.
“Baguslah, karena kita tidak punya cukup waktu untuk mencari gaun lain sekarang. Kamu tidak apa-apa menggunakan ini kan?” tanya Rumi mengonfirmasi sekali lagi. Bagaimanapun juga Rea memiliki hak penuh atas tubuhnya.
“Tidak apa-apa sih Pak. Hanya…” Rea ragu melanjutkan kalimatnya.
“Hanya apa? Kita harus berangkat sekarang agar tidak telat.”
“Aku ngerasa terlihat seperti….”
“Papaa….” Suara dua anak kecil memecah obrolan itu. Membuat Rea dan Rumi sama-sama menoleh ke arah pintu.
Dari sana, dua sosok mungil berlari masuk nyaris bersamaan. Bocah laki-laki lebih dulu mencapai Rumi, disusul satu lagi anak, kali ini perempuan, beberapa langkah di belakangnya.
Pria itu langsung berjongkok, membuka kedua tangannya lebar-lebar, sebelum anak-anak itu menabrak rangkulan tersebut tanpa ragu.
“Kok kalian sudah pulang? Sama siapa?” tanyanya lembut. Itu nada terlembut yang Rea dengar hari ini.
“Nenek,” jawab si kecil laki-laki itu. “Dista nangis. Minta bonekanya,” ucapnya menambah.
Sedangkan gadis kecil yang ternyata bernama Dista itu sudah beralih menatap Rea yang berdiri di belakang Rumi, tengah canggung secanggung-canggungnya.
Dista melepaskan diri dari pelukan Papanya, lalu berjalan menghampiri Rea dengan langkah-langkah pendek. Matanya kagum.
“Waaah…,” gumamnya kecil. “Princess.”
Anak itu berhenti tepat di depan Rea, lalu mengulurkan satu tangan kecilnya menyentuh pelan gaun beludru halus tersebut, sedang tangan lainnya memegang boneka Barbie.
“Papa, itu siapa?” kali ini suara milik anak yang masih bergantung di pelukan papanya kembali terdengar.
“Princess, Desta. Dia princess. Kamu princess kan?” tanya gadis itu mendongak menatap Rea.
Tidak tahu harus berbuat apa, Rea yang terlihat belum siap, reflek menatap Rumi sebelum akhirnya ikut berjongkok. Menyetarakan tingginya dengan anak kecil di hadapannya.
“Hai. Siapa namanya?” tanya Rea ramah.
“Dista…”
“Hai Dista… Aku Rea,”
“Rea? Cinderea?! Papa! Desta! Dia Cinderea! Cinderea ke rumah kita!” pekik anak itu antusias, dan sedikit melompat kembali menghampiri papanya.
Pipi Rea yang tidak memakai blush on, kini merona mendengar sebutan polos Dista, dan Rumi menangkap perubahan kecil itu.
“Ini anak-anakku. Desta dan Dista,” ungkap Rumi menjelaskan.
Rea memandang keduanya bergantian. Meski sedikit shock karena baru tahu anak bosnya yang nanti harus dia jaga ada dua orang dan kembar, dia tidak bisa menyembunyikan tatapan kagumnya.
Kedua anak itu lucu-lucu, dan terlihat identik. Dia langsung bertanya-tanya bagaimana informasi ini tidak beredar di media?
Bagaimana Rumi menyembunyikan mereka selama ini?
Bahkan, bagaimana pria yang bisa menghasilkan anak kembar itu bisa terlilit rumor kalau dia gay?
Rea kembali berdiri, dan mengangguk pelan. Tanda paham. Membungkam mulutnya rapat-rapat, memastikan tidak ada pertanyaan yang bukan urusannya lolos terlontar.
“Yasudah. Anak-anak, Papa harus pergi sebentar. Kalian di rumah baik-baik ya. Jangan berkelahi, jangan bikin keributan yang merepotkan Mbak-mbak. Mengerti?” tanya Rumi tegas, yang langsung diangguki oleh kedua anaknya.
Dia kemudian mengecup puncak kepala Desta dan Dista sebelum anak-anak itu kabur entah kemana, sedang mereka berdua langsung turun ke basement, tempat di mana sopir Rumi sudah menunggu di dalam mobil mewah yang tidak bisa Rea tebak pajak tahunannya berapa.
Sialnya jalanan Jakarta malam itu cukup padat. Membuat Rea makin gugup. Baginya, mereka tidak boleh telat.
Telat hanya akan membuat mereka menarik perhatian tamu yang lain, dan Rea tidak mau itu terjadi.
Sejak dulu, dia tidak suka menjadi poros. Dia tidak suka banyak mata memandanginya. Dia merasa, ketika orang-orang menatapnya lebih dari sekilas, semua kurangnya bisa terpampang.
“Jangan lalukan kesalahan. Saya tidak membayarmu untuk melakukan kesalahan,” seru Rumi mengingatkan Rea ketika mereka hampir sampai.
Gadis itu mengangguk pasrah. Meyakinkan dirinya, kalau tidak ada yang perlu dia takutkan.
‘Lakukan tugasmu, ambil gajimu,’ bisik Rea dalam hatinya berulang kali. Terus begitu, hingga matanya menangkap kilauan flash-flash kamera media di depan sana.
“Pak!! Ada media?!” cerca Rea kembali panik. Anxiety-nya melonjak.
Dia bisa menghadapi orang-orang kaya itu. Tapi menghadapi sorotan media?
“Emang kenapa?” tanya Rumi bingung.
“Mereka bisa foto kita, Pak!”
“Ya lalu?” tanya Rumi seolah tak ada yang salah.
“S-saya cuma pakai lipbalm. Makeup juga cuma bedak,” ujar Rea polos. Jarinya refleks saling meremas. “Kalau sampai masuk berita, nanti orang-orang lihat saya begini...”
“Kamu tetap cantik,” balas Rumi singkat, lalu melangkah turun lebih dulu, membuat Rea langsung terdiam.
Wajahnya seketika terasa panas. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, membuatnya buru-buru mengalihkan pandangan.
‘Apa katanya?’
‘Tetap cantik?!’
Setelah reflek memekik keras, jantung Rea berdentum habis-habisan. Kepalanya langsung dipenuhi berbagai tuduhan. Apa pria itu sengaja? Apa pria itu punya niat yang nggak-nggak? Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.Terlebih pria itu butuh beberapa detik sebelum ia tersadar dan memalingkan badannya.“Maaf.” Suaranya terdengar bersalah dan hendak menutup pintu kembali. “Saya pikir kamu….”Di samping rasa kesalnya, otak gadis itu tiba-tiba berpacu. Sambil menggigit bibirnya, sesuatu terlintas.Mustahil baginya menggunakan baju itu tanpa bantuan orang lain. Tangannya sudah pegal mencoba menaikkan resleting sejak tadi, tapi gagal berulang kali.“Tunggu!” seru Rea menghentikan langkah bosnya itu, dengan wajah memerah menahan malu. “B-boleh minta tolong nggak Pak?”Rumi tidak bergerak. Dia fokus mendengar.“Dari tadi aku susah menggapai resletingnya. Boleh to….”“Kamu yakin saya boleh menoleh?” tanya pria itu memotong kalimat Rea.Gadis itu mengangguk kecil yang kemudian sadar kalau Rumi bah
“Mulai hari ini banget ya Pak kontraknya? Eh emang Bapak butuh pasangan apa jam segini?” tanya Rea was-was, mengingat ini sudah nyaris senja, ditambah informasi baru bahwa kemungkinan besar bosnya tidak gay karena memiliki anak.Lagi-lagi Rumi menghela napasnya kasar. “Malam ini ada undangan pernikahan rekan bisnis yang perlu saya hadiri. Kamu harus dampingin saya.”Entah sudah berapa kali hari ini Rea tersentak. Tidak cukup dia kaget karena mendapat tugas secepat itu, tapi fakta kalau dia harus menghadiri sebuah pesta langsung membuatnya syok.‘Mau pakai baju apa aku?’ tanyanya pada diri sendiri, sambil menunduk cepat melihat sepatu bututnya. Converse yang entah sudah berumur berapa tahun itu.“Pak….” kalimat Rea tertahan. Dia memilih menatap pria itu terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimat bingungnya. “Pakai baju seperti ini?”Pria itu sontak menatap Rea dari atas sampai bawah sambil berpikir sejenak.“Ikut aku.” Rumi melepaskan genggamannya lalu mulai berjalan ke arah pintu.“K
Sontak, Rea terdiam. Air matanya juga berhenti mendadak mendengar kalimat yang barusan. Dengan mata yang masih sembab, dia sekali lagi memberanikan diri untuk mendongak. Menatap mata atasannya.“M-maksud Bapak?”“Jadi pasangan saya,” ulang Rumi sekali lagi dengan senang hati.Rea mengerjap. Tangannya naik menyentuh kedua kupingnya. Memastikan dua organ itu masih menempel di sana, dan dia tidak salah dengar.“Maaf. Maksud Bapak pasangan itu…. seperti bos dan karyawan?”Rumi menggeleng kecil. “Pasangan. Laki-laki dan perempuan.”Sebuah rumor lama tentang Rumi langsung melintas di kepala Rea. Ia terkekeh pelan. Dia memang lemah dalam hal menahan tawa saat ada hal-hal yang menurutnya lucu.Dulu, pernah beredar kabar bahwa pria itu menyukai sesama jenis. Tentu saja Rea tidak tahu apakah rumor itu benar atau hanya gosip karyawan. Namun, kalau dipikir-pikir….Jangan-jangan tawaran ini ada hubungannya dengan rumor tersebut?Mungkin Rumi ingin menutupinya dengan memiliki seorang pasangan perem
Rea hampir memekik kalau saja Bara tidak sedang berdiri di depannya. Dia reflek menoleh ke samping, menatap pria yang entah siapa, tapi berdiri begitu dekat, dengan sebelah lengannya melingkar santai di bahu gadis itu.Rea mengerjap. Matanya membulat. Kata-kata sanggahan sudah nyaris terlontar, tapi telapak tangan pria itu lebih dulu turun mengusap pelan punggungnya. Sapuan yang panjang dan tenang, membuat Rea menegang mendadak. Pria itu bahkan membalas tatapan Rea dengan alis terangkat diikuti sebuah anggukan kecil.Saat itulah Rea menangkap maksudnya. Kalau dia hanya perlu mengikuti sandiwara apapun ini.“O-oh aku hampir lupa, M-mas. Tadi tim cleaning kurang personil. Jadi aku bantuin aja sekalian,” ucap Rea sedikit terbata. Tidak lupa menarik sedikit senyum pada siapapun orang yang tengah menyentuhnya itu.Sedang di hadapan mereka, raut Bara ikut berubah. Tatapannya berpindah antara Rea dan pria baru yang merangkul gadis itu. Kerutan di dahinya muncul, menyiratkan rasa tidak perca
“Nah, kalau ini ballroom utama kami. Lebih besar dari yang tadi, dengan gaya European classic. Bapak Ibu perlu melakukan reservasi kurang lebih dua tahun sebelumnya kalau memilih yang ini.”Rea reflek menganga sedikit sambil berbalik mencari arah suara itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tiga orang masuk beriringan ke dalam ballroom. Dari pakaian dan papan nama di blazernya, ia tebak salah satu dari mereka adalah seorang banquet manager. Seseorang yang bertanggung jawab mengelola acara-acara yang akan diadakan di hotel tersebut.Tidak berhenti hanya mengecek asal suara, Rea bahkan ikut mendengarkan penjelasan wanita itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Kebetulan dia sedang berdiri tepat di samping pintu masuk, dengan plastik sampah hitam besar di genggamannya.Matanya naik menatap chandelier megah di tengah ruangan yang sedang menjadi objek penjelasan. Dia tidak berkedip melihat betapa indahnya lampu itu.“Woooow.…” bisiknya pelan. Spontan.Rea bertanya-tanya mengapa dia baru m







