Share

Bab 6

Author: Abibu
Tokoh utama acara hari ini, Liron, menatap Jenson yang matanya penuh dengan Rishika, lalu tersenyum menggoda.

"Bro, kamu ini terlalu memanjakan istrimu sampai bikin orang iri setengah mati. Pantas saja kamu jadi nomor satu di daftar pria paling diinginkan wanita sedunia. Sebentar lagi aku juga nikah, ajarin dong gimana cara sayang istri!"

Apa pun yang berkaitan dengan Rishika, Jenson tidak pernah menghindar. Mendengar pertanyaan Liron, Jenson menjawab dengan tenang sambil mengupas delima untuk Rishika, "Kalau istri mau sesuatu, kasih. Kalau butuh sesuatu, kirim. Jaga hubungan, tetap romantis, sering menemani, selalu kasih perhatian, bahkan kasih seluruh hidupmu padanya ...."

Dia menyebut satu per satu apa yang sudah dia lakukan. Liron malah mengibaskan tangan terus-menerus. "Kalau jadi pria selevel dewa begini aku benar-benar nggak sanggup, sudahlah, lupakan saja."

Begitu mendengarnya, orang-orang langsung tertawa.

"Liron, berarti cintamu ke istrimu kalah sama Jenson dong!"

"Kalian ngomong apa sih? Jangan samakan aku dengan standar dewa dong."

Saat mereka masih asyik bercanda, tiba-tiba seseorang berbicara sambil tertawa, tetapi dalam bahasa Italia.

"Bro, beberapa hari ini kamu terus temani istrimu, lalu gimana dengan sekretaris yang hamil itu?"

Perubahan bahasa yang tiba-tiba membuat gerakan Rishika terhenti. Tanpa sadar, dia menoleh ke arah Jenson, tetapi ekspresinya sama sekali tidak berubah.

Dengan alami, Jenson menjawab, "Siang sama Rishi, malam sama Suzie."

Jawaban itu membuat semua orang di tempat itu tertawa keras sambil menepuk paha.

"Sudah kubilang dari dulu, kita ini pasti nggak cukup kalau cuma satu wanita. Dulu kami nyodorin, kamu nggak mau. Sepertinya sekretaris itu menggoda banget, sampai bisa bikin kamu yang terkenal setia sama istri jadi melanggar aturan. Bahkan sampai hamil."

"Ngomong-ngomong, sekretarismu itu bisa berapa macam gaya?"

Ekspresi Jenson tetap datar. Dengan malas, dia menyebut sebuah angka, "Delapan puluh dua."

Tawa yang sempat mereda langsung pecah lagi.

"Gila banget. Pantes saja bisa bikin kamu yang biasanya dingin jadi tergila-gila. Enak banget ya?"

Jenson sedikit tersenyum, lalu menyahut pelan, "Ya, sampai nggak bisa berhenti."

Para pria di sana langsung semakin heboh. Tawa mereka semakin keras.

Saat suasana semakin ramai, Jenson akhirnya menatap dengan dingin dan menghentikan mereka, "Pelan sedikit, jangan sampai istriku tahu."

"Tenang saja, istrimu nggak paham bahasa Italia, kami masih tahu batas."

Dia tidak melanjutkan pembicaraan itu. Saat merasakan tubuh orang di sebelahnya sedikit bergetar, dia segera melepas jasnya dan menyelimutkannya dengan hati-hati. "Sayang, dingin ya? Sudah mendingan belum?"

Aroma parfum maskulin yang familier langsung menyapu, tetapi tidak mampu menenangkan emosinya. Rishika menatap pria yang bersikap lembut di depannya, lalu bertanya dengan suara bergetar, "Kalian tadi ngomong apa?"

Jenson tersenyum tipis, mengusap rambutnya dengan penuh kasih. "Cuma urusan kerja. Dulu kami pernah belajar di Italia, jadi terbiasa pakai bahasa Italia. Kamu bosan ya dengarnya? Aku suruh mereka berhenti ya?"

Jari hangat Jenson menyentuh rambutnya. Rishika menatap wajah lembut yang sama seperti biasanya itu, tetapi yang dia rasakan hanya hawa dingin yang menyeluruh.

Jenson tidak tahu, demi bisa lebih masuk ke dunianya, sejak lama Rishika sudah belajar bahasa Italia sendiri. Jadi, dia mengerti semua yang baru saja mereka bicarakan.

Dia mengerti bahwa beberapa hari ini, panggilan telepon yang sering dan kepergian tengah malam yang sering itu, semuanya untuk menemani Suzie yang hamil. Dia mengerti bahwa Jenson tidak bisa melepaskan wanita itu.

Selain itu, dia mengerti bahwa semua orang di sekitarnya tahu tentang keberadaan Suzie dan merahasiakannya darinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 24

    Rishika segera menata sisa peralatan elektronik, lalu tersenyum sambil menarik sebuah kursi yang baru saja dibongkar dan duduk di samping Theodore.Dengan bantuan Rishika, kecepatan membuka paket akhirnya meningkat. Tak lama kemudian, paket terakhir pun selesai dibuka. Rishika meregangkan tubuh, lalu menatap Theodore sambil tersenyum."Theo, terima kasih. Kalau nggak ada kamu, hari ini pasti nggak akan selancar ini."Ucapan terima kasihnya terdengar sangat tulus, tanpa terasa menjaga jarak. Theodore berusaha terlihat tenang, tetapi ujung telinganya sudah memerah tanpa dia sadari.Telinga yang memerah itu sangat mencolok di kulitnya yang putih. Rishika langsung menyadarinya. Dia sedikit bingung, lalu tanpa sadar bertanya, "Kamu kepanasan? Mau buka jendela biar lebih sejuk?"Awalnya dia mengira Theodore hanya kelelahan, tetapi saat melihat telinganya semakin merah setelah mendengar pertanyaannya, dia langsung menyadari sesuatu.Jantung Rishika berdegup kencang, suaranya seperti menggema

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 23

    Setelah selesai berbelanja, Rishika dan Theodore membawa pulang "hasil perang" mereka yang melimpah.Sekantong besar makanan itu pada akhirnya juga dibawa oleh Theodore. Jika dihitung-hitung, dalam perjalanan ini Rishika mengeluarkan cukup banyak uang, tetapi justru menjadi orang yang paling santai.Mereka tiba di rumah tepat waktu. Baru saja Rishika memasukkan bahan makanan ke kulkas, bel pintu pun berbunyi. Saat dia hendak berbalik untuk membuka pintu, Theodore sudah lebih dulu mendekati pintu.Begitu pintu dibuka, ternyata itu adalah layanan pengiriman yang tadi sudah mereka pesan.Setelah semua barang diantar masuk, melihat ruang tamu yang kini penuh dan sesak, Rishika tak bisa menahan diri untuk menghela napas. "Panen kali ini benar-benar luar biasa."Dulu dia jarang belanja sebanyak ini. Namun harus diakui, melihat satu ruang tamu penuh barang seperti ini memberikan rasa puas tersendiri. Hanya saja, ketika mulai merapikan, barulah dia merasa pusing.Begitu banyak perabot, membuka

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 22

    Di Melbourne.Dengan bantuan Theodore, Rishika membeli apartemen yang berada tepat di sebelah miliknya.Apartemennya tidak besar, tetapi untuk ditinggali seorang diri sudah lebih dari cukup. Hanya saja karena baru pindah, masih banyak barang yang perlu dibeli.Kebetulan di dekat sana ada sebuah mal besar, jadi Rishika pergi berbelanja bersama Theodore.Barang-barang di supermarket sangat lengkap. Dari kebutuhan makan, pakaian, hingga keperluan sehari-hari. Hal ini membuatnya tidak perlu repot berpindah-pindah tempat. Namun, setelah membeli banyak barang, Rishika mulai khawatir bagaimana cara membawanya pulang."Nggak perlu khawatir, supermarket ini punya layanan antar satu jam. Kamu hanya perlu bayar biaya pengiriman."Melihat wajahnya yang murung, Theodore tak bisa menahan senyuman, lalu menjelaskan. Saat dia menoleh dan melihat pipi Rishika yang menggembung kesal, dia justru tertegun.Dalam hatinya, hanya ada satu pikiran, sangat imut!Tatapan langsungnya membuat pipi Rishika sedikit

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 21

    Malam itu juga, Jenson langsung kembali ke tanah air. Sesampainya di kotanya, dia mengemudi mengikuti navigasi hingga menemukan sanatorium tempat Suzie berada saat ini.Kumuh, kotor, berisik, itulah kesan pertamanya terhadap tempat ini.Dengan setelan jas mahal yang dikenakannya, begitu Jenson melangkah masuk, dia langsung menarik perhatian semua orang.Tidak heran, penampilannya benar-benar tidak cocok dengan tempat ini. Orang-orang yang datang ke sini kebanyakan tidak punya uang, tidak memiliki keluarga yang merawat, bahkan tidak mampu mengurus diri sendiri. Makanya, mereka dikirim ke sini.Sementara Jenson jelas bukan orang miskin. Begitu dia mengeluarkan beberapa lembar uang, para perawat di sanatorium langsung mengerubunginya dengan sikap penuh perhatian. Mereka mendekat dan menanyakan siapa yang ingin dia temui, bahkan menawarkan diri untuk memanggil orang itu keluar karena kondisi di dalam kotor."Antar aku menemui Suzie." Dengan wajah dingin, Jenson menolak tawaran perawat dan

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 20

    Mendengar rentetan pertanyaan yang terus dilontarkan, wajah Jenson semakin pucat. Dia terus menggeleng, ingin mengatakan bukan begitu. Namun, melihat reaksinya, Rishika hanya mencibir dingin."Kenapa? Kamu masih mau bilang kamu mencintaiku? Mencintaiku sambil membuat wanita lain hamil? Jenson, cintamu itu benar-benar sampah!"Begitu kalimat terakhir itu jatuh, wajah Jenson benar-benar kehilangan warna. Satu-satunya yang merah hanyalah kedua matanya. Dia menatap dengan penuh permohonan. Suaranya serak saat memberikan penjelasan terakhir, berharap mendapat sedikit belas kasihan dari Rishika."Aku nggak membiarkan Suzie melahirkan anakku .... Aku membawanya ke rumah sakit dan menggugurkan anak itu. Aku benar-benar sudah sadar salah. Setelah itu aku juga nggak pernah menghubunginya lagi. Rishi, kamu percaya padaku ya?"Rishika menggeleng pelan. Di matanya tersembunyi rasa jijik yang dalam. "Aku percaya kamu menggugurkan anak itu dan nggak menghubunginya lagi. Tapi Jenson, kamu tahu nggak,

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 19

    Selama dalam perdebatan mereka, jika Rishika menunjukkan sedikit saja ketidaknyamanan, Theodore akan langsung maju dan membawanya pergi.Soal pria yang mengatakan bahwa mereka belum bercerai itu, siapa juga yang peduli?"Rishi, maafkan aku kali ini ya? Aku janji, aku nggak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Aku juga sudah memutuskan hubungan dengan Suzie, bahkan sudah pecat dia. Jangan marah lagi padaku, ikut aku pulang ya?"Dia berbicara dengan begitu tulus. Jika orang yang tidak tahu kebenaran melihatnya, mungkin juga akan ikut membujuk, menyuruhnya memaafkannya.Kecuali Theodore. Dia tidak mendengar semuanya dengan jelas, hanya menangkap beberapa kata kunci, lalu menyusunnya menjadi sebuah gambaran.Pria di depan yang bermata merah, tampak rendah hati, dan memohon ini, sebenarnya adalah pria yang berselingkuh dan sedang memohon pengampunan dari pasangan sahnya.Dia berdiri di samping, mencibir dingin, melemparkan tatapan sinis pada Jenson.Jenson melihatnya dan menjadi kesa

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 9

    Hari ketika Rishika keluar dari rumah sakit, Jenson tidak muncul. Dia hanya mengirim pesan bahwa hari itu ia tidak bisa datang karena ada urusan dan menyuruh sopir untuk menjemputnya.Rishika tidak membalas, karena sebelumnya dia sudah menerima pesan dari Suzie. Itu adalah sebuah foto.Dalam foto it

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 8

    Rishika berdiri di luar sepanjang malam. Dia diguyur hujan sambil mendengarkan semuanya.Sampai langit mulai terang, baterai ponselnya juga hampir habis, barulah dia berjalan pergi dengan tubuh kaku, menghentikan taksi untuk kembali ke vila.Para pelayan yang melihatnya basah kuyup langsung panik. M

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 7

    Karena masih ada Rishika, pertemuan kali ini tidak berlangsung lama. Melihat hari semakin malam, Jenson pun menghentikan acara dan lebih dulu membawa Rishika meninggalkan ruang VIP.Baru saja mereka sampai di bawah, ponselnya langsung berdering. Setelah melihat nama di layar, Jenson tanpa sadar meng

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 5

    Kepanikan di mata Jenson tidak tampak dibuat-buat, tetapi Rishika justru merasa lucu. Kalau dia pergi, bukankah itu justru memberi tempat untuk Suzie? Lantas, untuk apa Jenson berpura-pura panik seperti ini?Namun, pada akhirnya dia tidak mengucapkan hal itu. Dia hanya menjawab dengan nada yang sang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status