แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Abibu
Hari ketika Rishika keluar dari rumah sakit, Jenson tidak muncul. Dia hanya mengirim pesan bahwa hari itu ia tidak bisa datang karena ada urusan dan menyuruh sopir untuk menjemputnya.

Rishika tidak membalas, karena sebelumnya dia sudah menerima pesan dari Suzie. Itu adalah sebuah foto.

Dalam foto itu, Jenson yang mengenakan setelan rapi tanpa sedikit pun sikap dingin seorang CEO perusahaan besar, sedang membantu Suzie membereskan koper. Bersama foto itu, ada satu kalimat.

[ Jangan tunggu lagi. Hari ini dia akan mengantarku dan bayi kami pulang. ]

Rishika tidak membalas siapa pun. Dia sendiri membereskan barang dan kembali ke vila.

Sejak hari itu, pesan dari Suzie terus masuk. Setiap hari selalu ada. Kadang mengirim foto Jenson yang memijat kakinya, kadang foto Jenson yang mengupas udang untuknya, kadang foto mereka di kantor yang tampak begitu intim ....

Setiap kali mengirim foto, ketika tidak mendapatkan balasan, Suzie bahkan akan marah dan bertanya.

[ Rishika, kenapa kamu nggak balas? Kenapa kamu nggak tanya pada Jenson? Kamu benar-benar setenang itu? Anak kami beberapa bulan lagi lahir dan kamu masih pura-pura nggak tahu? ]

Rishika hanya diam. Dia mencetak semua foto yang dikirim Suzie, lalu di belakang setiap foto, dia menuliskan kesannya dengan tangan sendiri.

[ Hari pertama, dia mengirim foto mereka berciuman di bawah pohon sakura. Dulu, dia juga menyatakan cinta padaku di bawah pohon sakura. Dia menyatakan cinta 78 kali dan aku menolak 78 kali. Semua orang bilang aku kejam, tapi itu karena aku takut memilih orang yang salah. ]

[ Luka fisik bisa sembuh, tapi luka hati nggak pernah sembuh. Aku takut aku akan kalah. Sekarang ternyata aku memang salah memilih. Jenson, kamu membuatku kalah total. ]

[ Hari kedua, dia mengirim foto mereka menonton kembang api. Jenson memasangkan cincin pada Suzie di bawah kembang api. Dulu di usia 17 tahun, dia bilang kembang api dan cincin hanya untuk orang yang dicintai. Tapi di usia 27 tahun, semuanya dia lupakan. ]

[ Hari ketiga, dia mengirim foto mereka bersama. Kalau dia bilang padaku dia sudah mencintai orang lain, aku akan sedih, tapi nggak akan memaksanya. Tapi dia nggak seharusnya berbohong. Jenson, hatiku sakit sekali ... sangat sakit .... Jadi, aku akan pergi. ]

....

Pada hari ketujuh, Rishika berdiskusi dengan pengacara untuk menyusun surat perjanjian cerai. Dia memasukkan semua foto yang telah dicetak, flashdisk berisikan video mereka yang pernah direkam, serta surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani, ke dalam sebuah kotak hadiah.

Saat kotak itu ditutup, ponselnya tiba-tiba berdering.

"Bu Rishika, seluruh data identitas Anda telah dihapus. Mulai saat ini, di dunia ini nggak ada lagi data Anda."

Sampai di titik ini, wajah pucatnya akhirnya menunjukkan senyuman lega. "Terima kasih sudah bantu hapus semuanya."

Detik berikutnya, pintu kamar tiba-tiba terbuka.

"Hapus apa?"

Rishika menoleh dan melihat Jenson yang sudah lama tak terlihat berdiri di sana. Untungnya, sepertinya dia tidak mendengar seluruhnya. Pertanyaan tadi mungkin hanya kebetulan.

Rishika pun tersenyum tipis. "Nggak ada, kamu salah dengar."

Jenson tidak bertanya lebih lanjut. Dia langsung menariknya ke dalam pelukan. "Maaf ya, Rishi. Akhir-akhir ini aku jarang menemanimu. Setelah urusan selesai, nanti kita akan punya banyak waktu."

Jenson mencium rambutnya dengan lembut, sementara Rishika justru teringat foto yang dikirim Suzie, saat Jenson menemaninya membeli baju keluarga. Seketika, di matanya muncul ejekan.

"Kalau sibuk, kenapa tiba-tiba pulang hari ini?" tanya Rishika.

Jenson mengusap hidung istrinya. "Kamu lupa? Besok hari jadi pernikahan kita. Aku sudah siapkan kejutan besar untukmu."

Rishika menggeleng, lalu menyerahkan kotak hadiah itu kepadanya. "Aku nggak lupa. Aku juga menyiapkan kejutan untukmu."

Mata Jenson langsung berbinar. Dia hampir membuka kotak itu, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering.

Sekilas, nama Suzie terlihat di layar. Satu menit kemudian, dia menutup telepon dan kembali.

"Sayang, di perusahaan ada sedikit urusan ...."

Seolah-olah sudah menduga, Rishika tidak menahannya. "Urusan kerjaan lebih penting, pergilah."

Jenson terdiam sesaat. Jika dulu, meskipun Rishika berkata "pergi", tetap ada nada menahan. Namun sekarang, dia terlalu tenang.

Namun, setelah teringat isi telepon dari Suzie, dia tetap memilih pergi.

"Aku akan segera kembali. Nanti kita tukar hadiah."

Melihat punggungnya yang semakin jauh, Rishika tidak menahan. Dia tidak tahu apakah hadiah Jenson akan membuatnya terkejut, tetapi hadiahnya pasti akan sangat mengejutkan.

Setelah mobil Jenson benar-benar pergi, Rishika kembali ke kamar, mengambil koper yang sudah lama dia siapkan.

Koper itu tidak berat. Dia menyeretnya keluar tanpa menarik perhatian siapa pun di vila.

Melalui jendela mobil, rumah itu perlahan menghilang dari pandangannya. Saat mobil benar-benar menjauh, seakan-akan ada sesuatu yang membuatnya menoleh.

Sekilas, dia seperti melihat Jenson yang berusia 17 tahun berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca. Dengan senyuman lembut, sosok Jenson yang masih remaja itu menatapnya dan berkata, "Rishi, jangan maafkan dia. Jangan menoleh."

Rishika menarik kembali pandangannya, tersenyum dengan mata memerah. Dia benar-benar tidak menoleh lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 24

    Rishika segera menata sisa peralatan elektronik, lalu tersenyum sambil menarik sebuah kursi yang baru saja dibongkar dan duduk di samping Theodore.Dengan bantuan Rishika, kecepatan membuka paket akhirnya meningkat. Tak lama kemudian, paket terakhir pun selesai dibuka. Rishika meregangkan tubuh, lalu menatap Theodore sambil tersenyum."Theo, terima kasih. Kalau nggak ada kamu, hari ini pasti nggak akan selancar ini."Ucapan terima kasihnya terdengar sangat tulus, tanpa terasa menjaga jarak. Theodore berusaha terlihat tenang, tetapi ujung telinganya sudah memerah tanpa dia sadari.Telinga yang memerah itu sangat mencolok di kulitnya yang putih. Rishika langsung menyadarinya. Dia sedikit bingung, lalu tanpa sadar bertanya, "Kamu kepanasan? Mau buka jendela biar lebih sejuk?"Awalnya dia mengira Theodore hanya kelelahan, tetapi saat melihat telinganya semakin merah setelah mendengar pertanyaannya, dia langsung menyadari sesuatu.Jantung Rishika berdegup kencang, suaranya seperti menggema

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 23

    Setelah selesai berbelanja, Rishika dan Theodore membawa pulang "hasil perang" mereka yang melimpah.Sekantong besar makanan itu pada akhirnya juga dibawa oleh Theodore. Jika dihitung-hitung, dalam perjalanan ini Rishika mengeluarkan cukup banyak uang, tetapi justru menjadi orang yang paling santai.Mereka tiba di rumah tepat waktu. Baru saja Rishika memasukkan bahan makanan ke kulkas, bel pintu pun berbunyi. Saat dia hendak berbalik untuk membuka pintu, Theodore sudah lebih dulu mendekati pintu.Begitu pintu dibuka, ternyata itu adalah layanan pengiriman yang tadi sudah mereka pesan.Setelah semua barang diantar masuk, melihat ruang tamu yang kini penuh dan sesak, Rishika tak bisa menahan diri untuk menghela napas. "Panen kali ini benar-benar luar biasa."Dulu dia jarang belanja sebanyak ini. Namun harus diakui, melihat satu ruang tamu penuh barang seperti ini memberikan rasa puas tersendiri. Hanya saja, ketika mulai merapikan, barulah dia merasa pusing.Begitu banyak perabot, membuka

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 22

    Di Melbourne.Dengan bantuan Theodore, Rishika membeli apartemen yang berada tepat di sebelah miliknya.Apartemennya tidak besar, tetapi untuk ditinggali seorang diri sudah lebih dari cukup. Hanya saja karena baru pindah, masih banyak barang yang perlu dibeli.Kebetulan di dekat sana ada sebuah mal besar, jadi Rishika pergi berbelanja bersama Theodore.Barang-barang di supermarket sangat lengkap. Dari kebutuhan makan, pakaian, hingga keperluan sehari-hari. Hal ini membuatnya tidak perlu repot berpindah-pindah tempat. Namun, setelah membeli banyak barang, Rishika mulai khawatir bagaimana cara membawanya pulang."Nggak perlu khawatir, supermarket ini punya layanan antar satu jam. Kamu hanya perlu bayar biaya pengiriman."Melihat wajahnya yang murung, Theodore tak bisa menahan senyuman, lalu menjelaskan. Saat dia menoleh dan melihat pipi Rishika yang menggembung kesal, dia justru tertegun.Dalam hatinya, hanya ada satu pikiran, sangat imut!Tatapan langsungnya membuat pipi Rishika sedikit

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 21

    Malam itu juga, Jenson langsung kembali ke tanah air. Sesampainya di kotanya, dia mengemudi mengikuti navigasi hingga menemukan sanatorium tempat Suzie berada saat ini.Kumuh, kotor, berisik, itulah kesan pertamanya terhadap tempat ini.Dengan setelan jas mahal yang dikenakannya, begitu Jenson melangkah masuk, dia langsung menarik perhatian semua orang.Tidak heran, penampilannya benar-benar tidak cocok dengan tempat ini. Orang-orang yang datang ke sini kebanyakan tidak punya uang, tidak memiliki keluarga yang merawat, bahkan tidak mampu mengurus diri sendiri. Makanya, mereka dikirim ke sini.Sementara Jenson jelas bukan orang miskin. Begitu dia mengeluarkan beberapa lembar uang, para perawat di sanatorium langsung mengerubunginya dengan sikap penuh perhatian. Mereka mendekat dan menanyakan siapa yang ingin dia temui, bahkan menawarkan diri untuk memanggil orang itu keluar karena kondisi di dalam kotor."Antar aku menemui Suzie." Dengan wajah dingin, Jenson menolak tawaran perawat dan

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 20

    Mendengar rentetan pertanyaan yang terus dilontarkan, wajah Jenson semakin pucat. Dia terus menggeleng, ingin mengatakan bukan begitu. Namun, melihat reaksinya, Rishika hanya mencibir dingin."Kenapa? Kamu masih mau bilang kamu mencintaiku? Mencintaiku sambil membuat wanita lain hamil? Jenson, cintamu itu benar-benar sampah!"Begitu kalimat terakhir itu jatuh, wajah Jenson benar-benar kehilangan warna. Satu-satunya yang merah hanyalah kedua matanya. Dia menatap dengan penuh permohonan. Suaranya serak saat memberikan penjelasan terakhir, berharap mendapat sedikit belas kasihan dari Rishika."Aku nggak membiarkan Suzie melahirkan anakku .... Aku membawanya ke rumah sakit dan menggugurkan anak itu. Aku benar-benar sudah sadar salah. Setelah itu aku juga nggak pernah menghubunginya lagi. Rishi, kamu percaya padaku ya?"Rishika menggeleng pelan. Di matanya tersembunyi rasa jijik yang dalam. "Aku percaya kamu menggugurkan anak itu dan nggak menghubunginya lagi. Tapi Jenson, kamu tahu nggak,

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 19

    Selama dalam perdebatan mereka, jika Rishika menunjukkan sedikit saja ketidaknyamanan, Theodore akan langsung maju dan membawanya pergi.Soal pria yang mengatakan bahwa mereka belum bercerai itu, siapa juga yang peduli?"Rishi, maafkan aku kali ini ya? Aku janji, aku nggak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Aku juga sudah memutuskan hubungan dengan Suzie, bahkan sudah pecat dia. Jangan marah lagi padaku, ikut aku pulang ya?"Dia berbicara dengan begitu tulus. Jika orang yang tidak tahu kebenaran melihatnya, mungkin juga akan ikut membujuk, menyuruhnya memaafkannya.Kecuali Theodore. Dia tidak mendengar semuanya dengan jelas, hanya menangkap beberapa kata kunci, lalu menyusunnya menjadi sebuah gambaran.Pria di depan yang bermata merah, tampak rendah hati, dan memohon ini, sebenarnya adalah pria yang berselingkuh dan sedang memohon pengampunan dari pasangan sahnya.Dia berdiri di samping, mencibir dingin, melemparkan tatapan sinis pada Jenson.Jenson melihatnya dan menjadi kesa

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 8

    Rishika berdiri di luar sepanjang malam. Dia diguyur hujan sambil mendengarkan semuanya.Sampai langit mulai terang, baterai ponselnya juga hampir habis, barulah dia berjalan pergi dengan tubuh kaku, menghentikan taksi untuk kembali ke vila.Para pelayan yang melihatnya basah kuyup langsung panik. M

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 7

    Karena masih ada Rishika, pertemuan kali ini tidak berlangsung lama. Melihat hari semakin malam, Jenson pun menghentikan acara dan lebih dulu membawa Rishika meninggalkan ruang VIP.Baru saja mereka sampai di bawah, ponselnya langsung berdering. Setelah melihat nama di layar, Jenson tanpa sadar meng

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 6

    Tokoh utama acara hari ini, Liron, menatap Jenson yang matanya penuh dengan Rishika, lalu tersenyum menggoda."Bro, kamu ini terlalu memanjakan istrimu sampai bikin orang iri setengah mati. Pantas saja kamu jadi nomor satu di daftar pria paling diinginkan wanita sedunia. Sebentar lagi aku juga nikah

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 5

    Kepanikan di mata Jenson tidak tampak dibuat-buat, tetapi Rishika justru merasa lucu. Kalau dia pergi, bukankah itu justru memberi tempat untuk Suzie? Lantas, untuk apa Jenson berpura-pura panik seperti ini?Namun, pada akhirnya dia tidak mengucapkan hal itu. Dia hanya menjawab dengan nada yang sang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status