Share

Bab 7

Penulis: Abibu
Karena masih ada Rishika, pertemuan kali ini tidak berlangsung lama. Melihat hari semakin malam, Jenson pun menghentikan acara dan lebih dulu membawa Rishika meninggalkan ruang VIP.

Baru saja mereka sampai di bawah, ponselnya langsung berdering. Setelah melihat nama di layar, Jenson tanpa sadar menghindari Rishika sebelum menjawab.

Tiga menit kemudian, dia menutup telepon, lalu menatap Rishika dengan penuh penyesalan. "Rishi, aku tiba-tiba ada urusan mendesak di perusahaan. Boleh minta sopir antar kamu pulang dulu?"

Rishika menatapnya lama tanpa membongkar kebohongannya, tetapi juga tidak menyetujui. "Kamu suruh sopir pulang saja. Di sini juga nggak jauh dari rumah, aku mau jalan-jalan sebentar."

Jenson berpikir sejenak. Memang jarak tempat ini ke vila tidak jauh dan akhir-akhir ini Rishika juga terlalu lama di rumah. Jalan-jalan sedikit juga baik untuknya. Jadi, dia mengisyaratkan sopir untuk pergi lebih dulu, lalu berbalik naik ke mobil lain.

Rishika melihat ke arah kepergiannya, lalu menghentikan taksi. "Kejar mobil di depan."

Mobil Jenson tidak menuju kantor, melainkan berhenti di depan sebuah apartemen lain.

Setelah membayar dan turun, Rishika menoleh dan melihat Suzie yang sedang hamil dengan perut sedikit membuncit. Wanita itu berlari keluar dengan gembira, langsung memeluk Jenson.

Jenson tidak panik. Dengan wajah penuh senyuman, dia mengangkat tangannya dan menangkapnya dengan kuat, lalu memeluknya.

Jika orang yang tidak tahu melihatnya, mungkin akan mengira mereka pasangan yang sangat mesra.

Di kejauhan, Rishika melihat Suzie mendekat ke telinga Jenson sambil tersenyum dan berkata sesuatu. Tak lama kemudian, tanpa peduli mereka masih di luar, Jenson langsung memegang belakang kepala Suzie dan mencium dengan penuh gairah.

Saat bibir mereka berpisah, mata Suzie tampak menggoda. Lipstik di bibirnya sudah luntur, membuatnya terlihat semakin memikat.

Tatapan mereka bertemu. Tanpa sadar, jarak di antara mereka semakin dekat, napas satu sama lain terasa jelas.

"Ah!" Detik berikutnya, Suzie berseru kecil karena digendong Jenson. Jenson membawanya masuk ke apartemen.

Dia melingkarkan tangan di leher Jenson, sementara tangan lainnya memukul dada Jenson dengan manja. "Jangan bercanda, aku lagi hamil ...."

Tatapan Jenson meredup. Dia menunduk dan mencium bibir Suzie. "Sudah tiga bulan, sudah boleh. Biarkan anaknya bertemu ayahnya dulu."

Suzie masih setengah menolak. "Nggak boleh, aku takut ...."

"Nggak apa-apa. Sudah berapa lama kita nggak melakukannya, aku sudah hampir gila." Setelah itu, Jenson membawa Suzie masuk dengan langkah cepat.

Rishika tidak tahu sudah berapa lama dia berdiri di tempat itu, sampai ponsel di tasnya berdering.

Saat dia membukanya, ternyata nomor tak dikenal. Dia tahu itu siapa, lalu menjawabnya. Di seberang tidak ada suara orang berbicara, hanya terdengar suara gesekan pakaian.

"Pak Jenson, aku benar-benar ... sudah nggak kuat lagi ...." Suara manja itu jelas terdengar dari ponsel di telinga Rishika.

Kemudian, diikuti suara pria yang sangat familier, suara serak dengan nada menggoda. "Ayolah, ini 'kan masih bisa masuk."

Suara desahan, napas tersengal, bercampur suara-suara yang tidak jelas, terus memenuhi udara, membuat mata Rishika memerah.

Entah kapan langit menjadi gelap dan hujan besar turun, menghantam tanah dan dedaunan, menciptakan suara yang riuh.

Dalam sekejap, Rishika sudah basah kuyup. Entah itu air hujan atau air mata, pandangannya menjadi buram. Dia berdiri terpaku di tempat, ingin pergi, ingin menutup telepon, tetapi bahkan untuk mengangkat kaki pun tidak ada tenaga.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 24

    Rishika segera menata sisa peralatan elektronik, lalu tersenyum sambil menarik sebuah kursi yang baru saja dibongkar dan duduk di samping Theodore.Dengan bantuan Rishika, kecepatan membuka paket akhirnya meningkat. Tak lama kemudian, paket terakhir pun selesai dibuka. Rishika meregangkan tubuh, lalu menatap Theodore sambil tersenyum."Theo, terima kasih. Kalau nggak ada kamu, hari ini pasti nggak akan selancar ini."Ucapan terima kasihnya terdengar sangat tulus, tanpa terasa menjaga jarak. Theodore berusaha terlihat tenang, tetapi ujung telinganya sudah memerah tanpa dia sadari.Telinga yang memerah itu sangat mencolok di kulitnya yang putih. Rishika langsung menyadarinya. Dia sedikit bingung, lalu tanpa sadar bertanya, "Kamu kepanasan? Mau buka jendela biar lebih sejuk?"Awalnya dia mengira Theodore hanya kelelahan, tetapi saat melihat telinganya semakin merah setelah mendengar pertanyaannya, dia langsung menyadari sesuatu.Jantung Rishika berdegup kencang, suaranya seperti menggema

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 23

    Setelah selesai berbelanja, Rishika dan Theodore membawa pulang "hasil perang" mereka yang melimpah.Sekantong besar makanan itu pada akhirnya juga dibawa oleh Theodore. Jika dihitung-hitung, dalam perjalanan ini Rishika mengeluarkan cukup banyak uang, tetapi justru menjadi orang yang paling santai.Mereka tiba di rumah tepat waktu. Baru saja Rishika memasukkan bahan makanan ke kulkas, bel pintu pun berbunyi. Saat dia hendak berbalik untuk membuka pintu, Theodore sudah lebih dulu mendekati pintu.Begitu pintu dibuka, ternyata itu adalah layanan pengiriman yang tadi sudah mereka pesan.Setelah semua barang diantar masuk, melihat ruang tamu yang kini penuh dan sesak, Rishika tak bisa menahan diri untuk menghela napas. "Panen kali ini benar-benar luar biasa."Dulu dia jarang belanja sebanyak ini. Namun harus diakui, melihat satu ruang tamu penuh barang seperti ini memberikan rasa puas tersendiri. Hanya saja, ketika mulai merapikan, barulah dia merasa pusing.Begitu banyak perabot, membuka

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 22

    Di Melbourne.Dengan bantuan Theodore, Rishika membeli apartemen yang berada tepat di sebelah miliknya.Apartemennya tidak besar, tetapi untuk ditinggali seorang diri sudah lebih dari cukup. Hanya saja karena baru pindah, masih banyak barang yang perlu dibeli.Kebetulan di dekat sana ada sebuah mal besar, jadi Rishika pergi berbelanja bersama Theodore.Barang-barang di supermarket sangat lengkap. Dari kebutuhan makan, pakaian, hingga keperluan sehari-hari. Hal ini membuatnya tidak perlu repot berpindah-pindah tempat. Namun, setelah membeli banyak barang, Rishika mulai khawatir bagaimana cara membawanya pulang."Nggak perlu khawatir, supermarket ini punya layanan antar satu jam. Kamu hanya perlu bayar biaya pengiriman."Melihat wajahnya yang murung, Theodore tak bisa menahan senyuman, lalu menjelaskan. Saat dia menoleh dan melihat pipi Rishika yang menggembung kesal, dia justru tertegun.Dalam hatinya, hanya ada satu pikiran, sangat imut!Tatapan langsungnya membuat pipi Rishika sedikit

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 21

    Malam itu juga, Jenson langsung kembali ke tanah air. Sesampainya di kotanya, dia mengemudi mengikuti navigasi hingga menemukan sanatorium tempat Suzie berada saat ini.Kumuh, kotor, berisik, itulah kesan pertamanya terhadap tempat ini.Dengan setelan jas mahal yang dikenakannya, begitu Jenson melangkah masuk, dia langsung menarik perhatian semua orang.Tidak heran, penampilannya benar-benar tidak cocok dengan tempat ini. Orang-orang yang datang ke sini kebanyakan tidak punya uang, tidak memiliki keluarga yang merawat, bahkan tidak mampu mengurus diri sendiri. Makanya, mereka dikirim ke sini.Sementara Jenson jelas bukan orang miskin. Begitu dia mengeluarkan beberapa lembar uang, para perawat di sanatorium langsung mengerubunginya dengan sikap penuh perhatian. Mereka mendekat dan menanyakan siapa yang ingin dia temui, bahkan menawarkan diri untuk memanggil orang itu keluar karena kondisi di dalam kotor."Antar aku menemui Suzie." Dengan wajah dingin, Jenson menolak tawaran perawat dan

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 20

    Mendengar rentetan pertanyaan yang terus dilontarkan, wajah Jenson semakin pucat. Dia terus menggeleng, ingin mengatakan bukan begitu. Namun, melihat reaksinya, Rishika hanya mencibir dingin."Kenapa? Kamu masih mau bilang kamu mencintaiku? Mencintaiku sambil membuat wanita lain hamil? Jenson, cintamu itu benar-benar sampah!"Begitu kalimat terakhir itu jatuh, wajah Jenson benar-benar kehilangan warna. Satu-satunya yang merah hanyalah kedua matanya. Dia menatap dengan penuh permohonan. Suaranya serak saat memberikan penjelasan terakhir, berharap mendapat sedikit belas kasihan dari Rishika."Aku nggak membiarkan Suzie melahirkan anakku .... Aku membawanya ke rumah sakit dan menggugurkan anak itu. Aku benar-benar sudah sadar salah. Setelah itu aku juga nggak pernah menghubunginya lagi. Rishi, kamu percaya padaku ya?"Rishika menggeleng pelan. Di matanya tersembunyi rasa jijik yang dalam. "Aku percaya kamu menggugurkan anak itu dan nggak menghubunginya lagi. Tapi Jenson, kamu tahu nggak,

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 19

    Selama dalam perdebatan mereka, jika Rishika menunjukkan sedikit saja ketidaknyamanan, Theodore akan langsung maju dan membawanya pergi.Soal pria yang mengatakan bahwa mereka belum bercerai itu, siapa juga yang peduli?"Rishi, maafkan aku kali ini ya? Aku janji, aku nggak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Aku juga sudah memutuskan hubungan dengan Suzie, bahkan sudah pecat dia. Jangan marah lagi padaku, ikut aku pulang ya?"Dia berbicara dengan begitu tulus. Jika orang yang tidak tahu kebenaran melihatnya, mungkin juga akan ikut membujuk, menyuruhnya memaafkannya.Kecuali Theodore. Dia tidak mendengar semuanya dengan jelas, hanya menangkap beberapa kata kunci, lalu menyusunnya menjadi sebuah gambaran.Pria di depan yang bermata merah, tampak rendah hati, dan memohon ini, sebenarnya adalah pria yang berselingkuh dan sedang memohon pengampunan dari pasangan sahnya.Dia berdiri di samping, mencibir dingin, melemparkan tatapan sinis pada Jenson.Jenson melihatnya dan menjadi kesa

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 9

    Hari ketika Rishika keluar dari rumah sakit, Jenson tidak muncul. Dia hanya mengirim pesan bahwa hari itu ia tidak bisa datang karena ada urusan dan menyuruh sopir untuk menjemputnya.Rishika tidak membalas, karena sebelumnya dia sudah menerima pesan dari Suzie. Itu adalah sebuah foto.Dalam foto it

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 8

    Rishika berdiri di luar sepanjang malam. Dia diguyur hujan sambil mendengarkan semuanya.Sampai langit mulai terang, baterai ponselnya juga hampir habis, barulah dia berjalan pergi dengan tubuh kaku, menghentikan taksi untuk kembali ke vila.Para pelayan yang melihatnya basah kuyup langsung panik. M

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 6

    Tokoh utama acara hari ini, Liron, menatap Jenson yang matanya penuh dengan Rishika, lalu tersenyum menggoda."Bro, kamu ini terlalu memanjakan istrimu sampai bikin orang iri setengah mati. Pantas saja kamu jadi nomor satu di daftar pria paling diinginkan wanita sedunia. Sebentar lagi aku juga nikah

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 5

    Kepanikan di mata Jenson tidak tampak dibuat-buat, tetapi Rishika justru merasa lucu. Kalau dia pergi, bukankah itu justru memberi tempat untuk Suzie? Lantas, untuk apa Jenson berpura-pura panik seperti ini?Namun, pada akhirnya dia tidak mengucapkan hal itu. Dia hanya menjawab dengan nada yang sang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status