แชร์

Bab 8

ผู้เขียน: Abibu
Rishika berdiri di luar sepanjang malam. Dia diguyur hujan sambil mendengarkan semuanya.

Sampai langit mulai terang, baterai ponselnya juga hampir habis, barulah dia berjalan pergi dengan tubuh kaku, menghentikan taksi untuk kembali ke vila.

Para pelayan yang melihatnya basah kuyup langsung panik. Mereka segera menyiapkan air panas untuknya, lalu merebus air jahe untuk menghangatkan tubuhnya.

Namun, kesadarannya sudah sangat kabur sampai-sampai dia tidak bisa membedakan arah, apalagi naik ke atas sendiri. Seorang pelayan yang mencoba mendekat menyentuh dahinya, baru menyadari bahwa tubuhnya sangat panas, hampir seperti terbakar. Mereka segera menelepon Jenson.

Ketika Jenson menerima kabar itu dan bergegas pulang, Rishika sudah pingsan karena demam tinggi. Tidak peduli bagaimana dia memanggil dengan panik, tidak ada respons sama sekali. Dia segera menggendong Rishika ke mobil dan melaju cepat ke rumah sakit.

Setelah minum obat, Rishika akhirnya sadar. Saat membuka mata, dia melihat Jenson yang berjaga di sisi ranjang. Lingkar matanya hitam, dagunya ditumbuhi janggut tipis. Jelas, dia tidak tidur sepanjang malam.

Melihat Rishika sadar, kegembiraan di mata Jenson tidak bisa disembunyikan. Dia menggenggam tangan Rishika yang tidak terpasang infus dan menempelkannya ke pipinya. Suaranya penuh kebahagiaan dan kelegaan.

"Sayang, kamu akhirnya bangun ...."

Selama seharian penuh, Jenson terus berjaga. Saat Rishika haus dia memberinya minum, saat Rishika lapar dia menyuapinya makan. Bahkan perawat yang datang mengganti obat pun tak kuasa memuji.

Namun, setiap malam tiba, Jenson tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Di lantai ini tidak ada pasien lain, sehingga malam hari menjadi sangat sunyi. Karena itu, setiap kali perawat lewat, suara percakapan mereka terdengar jelas.

"Dengar-dengar, istri Pak Jenson demam, jadi dia menyewa satu lantai penuh. Di atas sana ada seorang wanita hamil dan ada pria misterius yang menyewa satu lantai juga. Dua-duanya pria yang sempurna ...."

"Aku iri banget. Tapi aneh ya, Pak Jenson cuma muncul siang hari, sementara pria di atas itu cuma muncul malam hari."

"Entahlah, mungkin itu kebiasaan orang kaya."

....

Suara percakapan itu perlahan menjauh. Di dalam kamar, Rishika yang belum tidur mendengar semuanya dengan jelas. Dia menarik sudut bibirnya, tetapi tidak bisa tersenyum. Yang tersisa hanya kegetiran yang tak berujung.

Ternyata seseorang benar-benar bisa mencintai dua orang sekaligus.

Keesokan sore setelah makan, Rishika langsung berbaring di ranjang dan memejamkan mata. Jenson tidak curiga apa-apa. Dia mengira Rishika lelah, jadi dia merapikan selimutnya. Dia tidak langsung pergi, tetap duduk menunggu sampai Rishika benar-benar tertidur.

Rishika pun memejamkan mata. Tak lama kemudian, terdengar suara napasnya menjadi teratur.

Jenson memanggil namanya beberapa kali dengan lembut. Setelah tidak ada respons, dia mencium kening Rishika, lalu diam-diam keluar dan menuju lantai atas.

Dia berjalan cepat, sehingga tidak menyadari bahwa di belakangnya ada seseorang yang diam-diam mengikutinya.

Rishika mengikuti Jenson sampai ke lantai atas, melihatnya berbelok-belok sampai masuk ke sebuah kamar.

Melalui jendela pintu, dia bisa melihat jelas isi ruangan. Jenson yang tadi dengan penuh perhatian merawatnya, kini memegang semangkuk bubur dan membujuk Suzie dengan lembut.

"Sayang, makan sedikit lagi. Kamu dan bayi kita nggak boleh lapar." Suaranya lembut, tatapannya penuh kasih, sama seperti saat dia mencintai dirinya.

Rishika tidak ingin melihat lebih lama lagi. Dia berbalik dan turun dengan tergesa-gesa.

Saat kembali ke kamar, ponselnya berbunyi. Pesan dari Suzie.

[ Bu Rishika, kenapa cuma lihat sebentar? Waktu itu kamu dengar kami sepanjang malam, aku kira kamu akan langsung membongkarnya, ternyata kamu tahan sekali. Kamu kira Pak Jenson masih mencintaimu ya? Kalau dia mencintaimu, gimana aku bisa hamil? ]

[ Kamu belum tahu ya, Jenson sudah memesanku selama setahun penuh. Selama 365 hari, hampir setiap hari kami tidur bersama, termasuk di hari ulang tahunmu, hari peringatan pertemuan kalian, dan hari jadi kalian. Dia selalu meninggalkanmu, lalu datang kepadaku. Dia nggak tahan sama tubuhku, bahkan sudah mencoba 82 posisi denganku. ]

[ Dia sangat kuat. Di hotel, kantor, Maybach, kelab, bahkan di rumah pernikahan kalian. Kami sudah pernah melakukannya di semua tempat. ]

[ Oh ya, beberapa waktu lalu ada pria kaya yang ingin tidur denganku. Begitu Jenson tahu, dia seperti orang gila, memukuli pria itu sampai hampir mati. Malam itu dia juga memaksaku belasan kali, terus menyuruhku memanggilnya suami dan menyuruhku bersumpah nggak akan melihat pria lain. Kalau nggak salah, waktu itu kamu lagi demam. Dia meninggalkanmu untuk menemuiku. ]

[ Sekarang kami sudah punya anak. Kalau kamu tahu diri, lepaskan posisimu. Pergi saja. Kalau kamu pergi sekarang, kamu masih bisa punya sedikit harga diri. Kalau nggak, begitu anakku lahir, kamu akan diusir. ]

....

Pesan demi pesan terus masuk seperti jarum tajam yang tak kasatmata, menusuk Rishika hingga terluka parah.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dia mengusapnya dengan tangan gemetar, tetapi tidak bisa menghapus luka di hatinya.

'Jenson ... Jenson ... kamu bilang nggak akan berkhianat. Kamu bilang akan mencintaiku seumur hidup. Kamu bilang nggak akan ada orang lain selain aku. Satu per satu itu ... ternyata semuanya kebohongan.'

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 24

    Rishika segera menata sisa peralatan elektronik, lalu tersenyum sambil menarik sebuah kursi yang baru saja dibongkar dan duduk di samping Theodore.Dengan bantuan Rishika, kecepatan membuka paket akhirnya meningkat. Tak lama kemudian, paket terakhir pun selesai dibuka. Rishika meregangkan tubuh, lalu menatap Theodore sambil tersenyum."Theo, terima kasih. Kalau nggak ada kamu, hari ini pasti nggak akan selancar ini."Ucapan terima kasihnya terdengar sangat tulus, tanpa terasa menjaga jarak. Theodore berusaha terlihat tenang, tetapi ujung telinganya sudah memerah tanpa dia sadari.Telinga yang memerah itu sangat mencolok di kulitnya yang putih. Rishika langsung menyadarinya. Dia sedikit bingung, lalu tanpa sadar bertanya, "Kamu kepanasan? Mau buka jendela biar lebih sejuk?"Awalnya dia mengira Theodore hanya kelelahan, tetapi saat melihat telinganya semakin merah setelah mendengar pertanyaannya, dia langsung menyadari sesuatu.Jantung Rishika berdegup kencang, suaranya seperti menggema

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 23

    Setelah selesai berbelanja, Rishika dan Theodore membawa pulang "hasil perang" mereka yang melimpah.Sekantong besar makanan itu pada akhirnya juga dibawa oleh Theodore. Jika dihitung-hitung, dalam perjalanan ini Rishika mengeluarkan cukup banyak uang, tetapi justru menjadi orang yang paling santai.Mereka tiba di rumah tepat waktu. Baru saja Rishika memasukkan bahan makanan ke kulkas, bel pintu pun berbunyi. Saat dia hendak berbalik untuk membuka pintu, Theodore sudah lebih dulu mendekati pintu.Begitu pintu dibuka, ternyata itu adalah layanan pengiriman yang tadi sudah mereka pesan.Setelah semua barang diantar masuk, melihat ruang tamu yang kini penuh dan sesak, Rishika tak bisa menahan diri untuk menghela napas. "Panen kali ini benar-benar luar biasa."Dulu dia jarang belanja sebanyak ini. Namun harus diakui, melihat satu ruang tamu penuh barang seperti ini memberikan rasa puas tersendiri. Hanya saja, ketika mulai merapikan, barulah dia merasa pusing.Begitu banyak perabot, membuka

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 22

    Di Melbourne.Dengan bantuan Theodore, Rishika membeli apartemen yang berada tepat di sebelah miliknya.Apartemennya tidak besar, tetapi untuk ditinggali seorang diri sudah lebih dari cukup. Hanya saja karena baru pindah, masih banyak barang yang perlu dibeli.Kebetulan di dekat sana ada sebuah mal besar, jadi Rishika pergi berbelanja bersama Theodore.Barang-barang di supermarket sangat lengkap. Dari kebutuhan makan, pakaian, hingga keperluan sehari-hari. Hal ini membuatnya tidak perlu repot berpindah-pindah tempat. Namun, setelah membeli banyak barang, Rishika mulai khawatir bagaimana cara membawanya pulang."Nggak perlu khawatir, supermarket ini punya layanan antar satu jam. Kamu hanya perlu bayar biaya pengiriman."Melihat wajahnya yang murung, Theodore tak bisa menahan senyuman, lalu menjelaskan. Saat dia menoleh dan melihat pipi Rishika yang menggembung kesal, dia justru tertegun.Dalam hatinya, hanya ada satu pikiran, sangat imut!Tatapan langsungnya membuat pipi Rishika sedikit

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 21

    Malam itu juga, Jenson langsung kembali ke tanah air. Sesampainya di kotanya, dia mengemudi mengikuti navigasi hingga menemukan sanatorium tempat Suzie berada saat ini.Kumuh, kotor, berisik, itulah kesan pertamanya terhadap tempat ini.Dengan setelan jas mahal yang dikenakannya, begitu Jenson melangkah masuk, dia langsung menarik perhatian semua orang.Tidak heran, penampilannya benar-benar tidak cocok dengan tempat ini. Orang-orang yang datang ke sini kebanyakan tidak punya uang, tidak memiliki keluarga yang merawat, bahkan tidak mampu mengurus diri sendiri. Makanya, mereka dikirim ke sini.Sementara Jenson jelas bukan orang miskin. Begitu dia mengeluarkan beberapa lembar uang, para perawat di sanatorium langsung mengerubunginya dengan sikap penuh perhatian. Mereka mendekat dan menanyakan siapa yang ingin dia temui, bahkan menawarkan diri untuk memanggil orang itu keluar karena kondisi di dalam kotor."Antar aku menemui Suzie." Dengan wajah dingin, Jenson menolak tawaran perawat dan

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 20

    Mendengar rentetan pertanyaan yang terus dilontarkan, wajah Jenson semakin pucat. Dia terus menggeleng, ingin mengatakan bukan begitu. Namun, melihat reaksinya, Rishika hanya mencibir dingin."Kenapa? Kamu masih mau bilang kamu mencintaiku? Mencintaiku sambil membuat wanita lain hamil? Jenson, cintamu itu benar-benar sampah!"Begitu kalimat terakhir itu jatuh, wajah Jenson benar-benar kehilangan warna. Satu-satunya yang merah hanyalah kedua matanya. Dia menatap dengan penuh permohonan. Suaranya serak saat memberikan penjelasan terakhir, berharap mendapat sedikit belas kasihan dari Rishika."Aku nggak membiarkan Suzie melahirkan anakku .... Aku membawanya ke rumah sakit dan menggugurkan anak itu. Aku benar-benar sudah sadar salah. Setelah itu aku juga nggak pernah menghubunginya lagi. Rishi, kamu percaya padaku ya?"Rishika menggeleng pelan. Di matanya tersembunyi rasa jijik yang dalam. "Aku percaya kamu menggugurkan anak itu dan nggak menghubunginya lagi. Tapi Jenson, kamu tahu nggak,

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 19

    Selama dalam perdebatan mereka, jika Rishika menunjukkan sedikit saja ketidaknyamanan, Theodore akan langsung maju dan membawanya pergi.Soal pria yang mengatakan bahwa mereka belum bercerai itu, siapa juga yang peduli?"Rishi, maafkan aku kali ini ya? Aku janji, aku nggak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Aku juga sudah memutuskan hubungan dengan Suzie, bahkan sudah pecat dia. Jangan marah lagi padaku, ikut aku pulang ya?"Dia berbicara dengan begitu tulus. Jika orang yang tidak tahu kebenaran melihatnya, mungkin juga akan ikut membujuk, menyuruhnya memaafkannya.Kecuali Theodore. Dia tidak mendengar semuanya dengan jelas, hanya menangkap beberapa kata kunci, lalu menyusunnya menjadi sebuah gambaran.Pria di depan yang bermata merah, tampak rendah hati, dan memohon ini, sebenarnya adalah pria yang berselingkuh dan sedang memohon pengampunan dari pasangan sahnya.Dia berdiri di samping, mencibir dingin, melemparkan tatapan sinis pada Jenson.Jenson melihatnya dan menjadi kesa

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 9

    Hari ketika Rishika keluar dari rumah sakit, Jenson tidak muncul. Dia hanya mengirim pesan bahwa hari itu ia tidak bisa datang karena ada urusan dan menyuruh sopir untuk menjemputnya.Rishika tidak membalas, karena sebelumnya dia sudah menerima pesan dari Suzie. Itu adalah sebuah foto.Dalam foto it

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 7

    Karena masih ada Rishika, pertemuan kali ini tidak berlangsung lama. Melihat hari semakin malam, Jenson pun menghentikan acara dan lebih dulu membawa Rishika meninggalkan ruang VIP.Baru saja mereka sampai di bawah, ponselnya langsung berdering. Setelah melihat nama di layar, Jenson tanpa sadar meng

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 6

    Tokoh utama acara hari ini, Liron, menatap Jenson yang matanya penuh dengan Rishika, lalu tersenyum menggoda."Bro, kamu ini terlalu memanjakan istrimu sampai bikin orang iri setengah mati. Pantas saja kamu jadi nomor satu di daftar pria paling diinginkan wanita sedunia. Sebentar lagi aku juga nikah

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 5

    Kepanikan di mata Jenson tidak tampak dibuat-buat, tetapi Rishika justru merasa lucu. Kalau dia pergi, bukankah itu justru memberi tempat untuk Suzie? Lantas, untuk apa Jenson berpura-pura panik seperti ini?Namun, pada akhirnya dia tidak mengucapkan hal itu. Dia hanya menjawab dengan nada yang sang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status