LOGINSore merambat pelan, mengubah warna langit menjadi jingga pucat.
Leonard berjalan tanpa tujuan pasti, menyusuri trotoar yang semakin ramai, Ia membiarkan tubuhnya bergerak sementara pikirannya tertinggal di kafe itu.Leonard berhenti di sebuah taman kecil, Ia duduk di bangku kayu yang catnya mulai terkelupas, menatap anak-anak yang sedang berlarian, pasangan tua yang berjalan pelan, kehidupan yang tidak tahu-menahu tentang perang sunyi yang sedang ia hadapi.“Rasa ini masih ada,dan tidak apa-apa.”gumam Leonard.Ia menyadari sesuatu yang jujur dan tidak nyaman, Ia tidak membenci Raka,Ia hanya menyesalkan jalan yang mereka tempuh berbeda, dan bagaimana kebencian telah menjadi rumah bagi orang yang dulu ia kenal.Leonard mengeluarkan ponselnya,layarnya masih kosong,tidak ada pesan baru,jarum jam bergerak, tapi hatinya tertahan di satu nama,Aluna,Ia hampir mengetik, lalu berhenti.Sedangkan disisi Aluna ia duduk di lantai dengan punggung bersaPagi berikutnya tidak memberi Leonard kesempatan untuk bernapas lebih lama,belum sempat kopi di tangannya mendingin, ponselnya sudah kembali bergetar kali ini bukan pesan pribadi, melainkan notifikasi rapat darurat. Subjeknya singkat, dingin, dan terlalu formal untuk diabaikan.Peninjauan ulang kerja sama.Leonard menutup mata sejenak ia sudah menduganya,reputasi memang pintu pertama yang digedor, tapi bisnis itulah ruang tempat kerusakan nyata mulai terjadi.Di ruang rapat utama, wajah-wajah yang biasa menyambutnya dengan senyum profesional kini terlihat lebih berhati-hati,beberapa mengangguk singkat,beberapa menghindari tatapan,tidak ada yang terang-terangan memusuhi, tapi jarak itu terasa jelas, terukur, dan menyakitkan.“Kita perlu membahas dampak pemberitaan terakhir,” ujar salah satu direksi, nadanya netral tapi tegang. “Bukan soal benar atau salah, Leonard,Ini soal risiko.”Leonard duduk tegak,tangannya terlipat rapi di atas meja,i
Leonard terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh beban di dadanya berat, menekan, dan sulit dijelaskan. Ia duduk di tepi ranjang lebih lama dari biasanya, menatap lantai tanpa benar-benar melihat apa pun.Ponselnya bergetar di atas meja. Satu pesan masuk,lalu satu lagi,dan satu lagi,nama-nama yang ia kenal terlalu baik,rekan kerja, mitra lama, bahkan nomor yang jarang menghubunginya kecuali ada sesuatu yang tidak beres.Leonard membuka pesan pertama.“Len, kita perlu bicara. Sekarang.”Pesan kedua menyusul.“Ada artikel yang beredar pagi ini,kau sudah lihat?”Napas Leonard tertahan,Ia membuka peramban, jari-jarinya terasa lebih dingin dari biasanya,satu judul terpampang jelas, terlalu jelas untuk disalahartikan.Nama Leonard,masa lalu,keputusan-keputusan lama yang dipelintir menjadi narasi baru.Leonard membaca pelan, kalimat demi kalimat seperti pukulan yang tidak menghantam keras, tapi berulang cukup untuk melemahkan
Pagi datang tanpa banyak suara,cahaya matahari menyelinap lewat celah tirai, jatuh tepat di lantai kamar Aluna,Ia terbangun bukan karena alarm, melainkan karena kebiasaan-kebiasaan untuk siap sebelum dunia menuntut apa pun darinya.Aluna duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang,hari ini terasa berbeda,Ia berdiri lalu merapikan tempat tidur, dan menatap bayangannya di cermin,wajahnya tampak tenang, meski di balik mata itu ada banyak hal yang belum selesai,namun tidak ada ketakutan yang mendominasi,yang ada justru kesadaran bahwa ia tidak berdiri di pinggir cerita ini, melainkan di dalamnya.“Aku tidak harus rapuh hanya karena situasi berat,” ucapnya pelan pada dirinya sendiri.Aluna mengenakan pakaian sederhana, rambut diikat rapi,setiap gerakan dilakukan tanpa tergesa, seolah ia sedang mengingatkan dirinya sendiri bahwa ketenangan juga bentuk perlawanan.Aluna melangkah keluar, membiarkan hiruk-pikuk menyambutnya, Ia tidak tahu secara rinci r
Sore merambat pelan, mengubah warna langit menjadi jingga pucat.Leonard berjalan tanpa tujuan pasti, menyusuri trotoar yang semakin ramai, Ia membiarkan tubuhnya bergerak sementara pikirannya tertinggal di kafe itu.Leonard berhenti di sebuah taman kecil, Ia duduk di bangku kayu yang catnya mulai terkelupas, menatap anak-anak yang sedang berlarian, pasangan tua yang berjalan pelan, kehidupan yang tidak tahu-menahu tentang perang sunyi yang sedang ia hadapi.“Rasa ini masih ada,dan tidak apa-apa.”gumam Leonard.Ia menyadari sesuatu yang jujur dan tidak nyaman, Ia tidak membenci Raka,Ia hanya menyesalkan jalan yang mereka tempuh berbeda, dan bagaimana kebencian telah menjadi rumah bagi orang yang dulu ia kenal.Leonard mengeluarkan ponselnya,layarnya masih kosong,tidak ada pesan baru,jarum jam bergerak, tapi hatinya tertahan di satu nama,Aluna,Ia hampir mengetik, lalu berhenti.Sedangkan disisi Aluna ia duduk di lantai dengan punggung bersa
Leonard baru melangkah tiga langkah menjauh dari meja itu ketika suara kursi diseret keras ke lantai.“Jangan pergi dulu.”Nada Raka tidak lagi ramah.Leonard berhenti, tapi tidak berbalik. “Kita sudah selesai.”“Belum,” potong Raka. Ia berdiri,tubuhnya condong ke depan, telapak tangannya menekan meja kaca, beberapa kepala menoleh,suasana kafe yang semula cair mulai mengeras, meski tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang terjadi.Leonard akhirnya menolehtatapannya datar, tapi penuh kewaspadaan.“Kalau kau ingin bicara lebih keras, Raka, ini bukan tempatnya.”Raka tertawa. “Justru ini tempat terbaik,tempat terang, ingat? tempat di mana semua orang bisa melihat siapa kamu sebenarnya.”“Kamu masih ingin menjadikanku tontonan?” tanya Leonard tenang.“Aku ingin kau merasakan,rasa ketika semua orang menilai tanpa mau mendengar,rasa ketika reputasi dibentuk oleh bisikan, bukan kebenaran.”balas Raka.Leonard melangka
Leonard terbangun sebelum alarm berbunyi, tubuhnya terasa ringan namun pikirannya waspada,Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap bayangannya.“Tenang,” ucapnya pada bayangan itu. “Ini bukan soal menang.”Sementara itu, di sisi kota yang lain, Aluna duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangannya,berita pagi menyala di televisi kecil di sudut kamar judul- judul cepat, suara presenter yang netral namun dingin.Ia tidak benar-benar mendengarkan, tapi dadanya menegang setiap kali nama Leonard hampir disebut, meski tidak pernah benar-benar muncul.Aluna menutup televisi,Ia berdiri, menyeduh teh hangat, lalu duduk kembali,tangannya gemetar sedikit saat mengangkat cangkir.Bukan karena takut pada apa yang akan terjadi, tapi karena ia tahu kadang luka tidak datang dari pukulan, melainkan dari kata-kata yang disusun rapi.“Kalau kamu terluka hari ini,” bisiknya lirih, “jangan biarkan kebencian yang menyembuhkannya.”Di







