Home / Romansa / Cinta Di Balik Tanda Tangan / bab 26 Malam yang berarti.

Share

bab 26 Malam yang berarti.

Author: Pita
last update Last Updated: 2025-10-17 08:31:10

Malam itu Mansion terasa tenang, tapi hati Aluna justru ramai oleh perasaan yang campur aduk. Sejak pembicaraan tadi sore, wajah Leonard terus muncul di pikirannya tatapan matanya, cara ia berbicara, bahkan diamnya yang entah kenapa sekarang terasa berbeda.

Aluna berdiri di balkon kamarnya, membiarkan angin malam menyentuh wajahnya. Langit cerah dari bintang-bintang yang terlihat jelas.

“Belum tidur?” suara berat itu membuat Aluna menoleh.

Leonard berdiri di sana, tanpa jas, hanya mengenakan kemeja putih dengan kancing atas terbuka. Wajahnya terlihat lelah.

Aluna tersenyum tipis. “Aku cuma... nggak bisa tidur.”

Leonard berjalan mendekat, lalu berdiri di samping Aluna dan Hening sejenak. Mereka sama-sama menatap langit tanpa bicara.

“Biasanya kamu nggak suka malam,” kata Aluna dengan suara pelan.

Leonard tersenyum. “Aku juga nggak suka banyak hal, tapi akhir-akhir ini semua berubah. semuanya berubah begitu saja tanpa aku rencanakan, dan itu membuatku sempat bingung."

Aluna menatap leon
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 110 Rasa yang tak hilang.

    Sore merambat pelan, mengubah warna langit menjadi jingga pucat.Leonard berjalan tanpa tujuan pasti, menyusuri trotoar yang semakin ramai, Ia membiarkan tubuhnya bergerak sementara pikirannya tertinggal di kafe itu.Leonard berhenti di sebuah taman kecil, Ia duduk di bangku kayu yang catnya mulai terkelupas, menatap anak-anak yang sedang berlarian, pasangan tua yang berjalan pelan, kehidupan yang tidak tahu-menahu tentang perang sunyi yang sedang ia hadapi.“Rasa ini masih ada,dan tidak apa-apa.”gumam Leonard.Ia menyadari sesuatu yang jujur dan tidak nyaman, Ia tidak membenci Raka,Ia hanya menyesalkan jalan yang mereka tempuh berbeda, dan bagaimana kebencian telah menjadi rumah bagi orang yang dulu ia kenal.Leonard mengeluarkan ponselnya,layarnya masih kosong,tidak ada pesan baru,jarum jam bergerak, tapi hatinya tertahan di satu nama,Aluna,Ia hampir mengetik, lalu berhenti.Sedangkan disisi Aluna ia duduk di lantai dengan punggung bersa

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 109 Pertemuan yang panas.

    Leonard baru melangkah tiga langkah menjauh dari meja itu ketika suara kursi diseret keras ke lantai.“Jangan pergi dulu.”Nada Raka tidak lagi ramah.Leonard berhenti, tapi tidak berbalik. “Kita sudah selesai.”“Belum,” potong Raka. Ia berdiri,tubuhnya condong ke depan, telapak tangannya menekan meja kaca, beberapa kepala menoleh,suasana kafe yang semula cair mulai mengeras, meski tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang terjadi.Leonard akhirnya menolehtatapannya datar, tapi penuh kewaspadaan.“Kalau kau ingin bicara lebih keras, Raka, ini bukan tempatnya.”Raka tertawa. “Justru ini tempat terbaik,tempat terang, ingat? tempat di mana semua orang bisa melihat siapa kamu sebenarnya.”“Kamu masih ingin menjadikanku tontonan?” tanya Leonard tenang.“Aku ingin kau merasakan,rasa ketika semua orang menilai tanpa mau mendengar,rasa ketika reputasi dibentuk oleh bisikan, bukan kebenaran.”balas Raka.Leonard melangka

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 108 luka dan kebencian.

    Leonard terbangun sebelum alarm berbunyi, tubuhnya terasa ringan namun pikirannya waspada,Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap bayangannya.“Tenang,” ucapnya pada bayangan itu. “Ini bukan soal menang.”Sementara itu, di sisi kota yang lain, Aluna duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangannya,berita pagi menyala di televisi kecil di sudut kamar judul- judul cepat, suara presenter yang netral namun dingin.Ia tidak benar-benar mendengarkan, tapi dadanya menegang setiap kali nama Leonard hampir disebut, meski tidak pernah benar-benar muncul.Aluna menutup televisi,Ia berdiri, menyeduh teh hangat, lalu duduk kembali,tangannya gemetar sedikit saat mengangkat cangkir.Bukan karena takut pada apa yang akan terjadi, tapi karena ia tahu kadang luka tidak datang dari pukulan, melainkan dari kata-kata yang disusun rapi.“Kalau kamu terluka hari ini,” bisiknya lirih, “jangan biarkan kebencian yang menyembuhkannya.”Di

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 107 musuh leonard muncul.

    Ponsel Leonard masih berada di genggamannya saat notifikasi lain masuk.Bukan dari Aluna,tapi dari nomor yang tidak tersimpan.Leonard menatap layar beberapa detik sebelum membuka pesan itu.>Kau berubah, Leonard,dan perubahan itu menarik perhatian orang-orang yang dulu menunggumu jatuh,kita perlu bicara.>Raka.Leonard meletakkan ponsel perlahan di atas meja. “Jadi akhirnya kau muncul,” ucapnya lirih.Leonard membuka buku catatannya lagi dan menambahkan satu baris tanpa ragu.Musuh sejati tidak menyerang dari depan, tapi dari tempat yang membuat kita ingin melangkah sendiri.Leonard menyadari sesuatu yang lebih mengganggu daripada pesan itu sendiri,Raka tidak menargetkan Aluna secara langsung,dan itu artinya, Aluna bukan senjata,tapi Ia adalah umpan yang sengaja tidak disentuh.Leonard menutup buku itu dengan rahang mengeras.“Kalau kau pikir aku akan berlari ke arahmu karena egoku,kau salah membaca ver

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 106 ketakutan kehilangan.

    Langkah Aluna terasa lebih berat dari biasanya, meski punggungnya tetap tegak,setiap langkah menjauh dari gedung itu seperti menarik benang tipis di dadanya,tidak sampai putus, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ia sedang berjalan sendirian di medan yang tidak ia pilih.Ia naik ke dalam mobil sewaan, menutup pintu perlahan,mesin belum dinyalakan,dan tangannya masih menggenggam setir, jari-jarinya sedikit bergetar.“Ini cuma sementara,” ucap Aluna pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri,Ia menyalakan mesin dan melaju, meninggalkan gedung itu tanpa menoleh kembali.Di apartemen, Leonard masih berdiri bersandar di dinding,waktu berjalan, tapi tubuhnya seakan tertinggal di momen ketika pesan itu masuk.Ketakutan itu akhirnya muncul dengan jujur bukan takut kalah, bukan takut kehilangan nama, tapi takut kehilangan seseorang tanpa sempat melindunginya.Leonard duduk di lantai, punggungnya menyandar pada sofa,tangannya meremas ponselnya.

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 105 Air mata Aluna.

    Aluna duduk tegak, tasnya dipeluk di dadanya, Ia mengenali hampir setiap sudut gedung itu, lantai mengilap yang dulu ia lintasi dengan langkah cepat, dinding kaca yang pernah memantulkan bayangan dirinya saat masih percaya bahwa kerja keras selalu berakhir adil.Sekarang, semua terasa asing.Seorang staf HR lewat tanpa menyapa, seorang manajer lama melirik sekilas, lalu berpaling seolah Aluna hanya bayangan masa lalu yang tidak perlu disapa.Aluna menelan ludah.Tenang, batinnya,ini hanya pemeriksaan,bukan penghakiman.Namanya dipanggil.Ia berdiri, melangkah masuk ke ruang rapat kecil dengan meja panjang dan tiga kursi di seberang. Dua orang pria dan satu perempuan duduk rapi, wajah profesional tanpa ekspresi berlebih.“Silakan duduk, Aluna,” ucap salah satu dari mereka.Aluna duduk.Pertanyaan-pertanyaan datang rapi dan terstruktur. tentang dokumen,tentang keputusan administratif. tentang komunikasi lama, tentang ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status