Home / Young Adult / Cinta Gita / BAB 4 : GENG GAUL

Share

BAB 4 : GENG GAUL

Author: Yoongina
last update Last Updated: 2026-02-14 22:26:39

"Git! Lo denger nggak? Gengnya Selvi lagi ngomongin lo sama Andreas!" Nila tergopoh-gopoh menghampiri mejaku tepat saat bel istirahat memecah keheningan kelas.

​"Katanya, Andreas itu gebetannya Erni." Mata Nila membelalak cemas, seolah berita yang ia bawa adalah sebuah hukuman gantung untukku.

​"Serius?" Azizah, teman sebangkuku, langsung ikut nimbrung dengan wajah syok. "Mampus lo, Git! Mending lo jauhin Andreas dari sekarang. Lagian, lo nggak usah ketinggian deh mimpinya, cari cowok yang biasa-biasa aja kenapa, sih?"

​Aku menghela napas, mencoba tetap tenang.

"Kalian kenapa, sih? Aku sama Andreas nggak ada apa-apa, kok."

​"Bohong! Nggak mungkin!" sambar Azizah cepat.

"Udah jelas-jelas kemarin lo berdua pelukan di bus!"

​Belum sempat aku membela diri dari cecaran mereka, suara derap kaki yang berlari mendekat membungkam mulutku.

​"Git, dicariin Erni. Katanya lo disuruh ke ruang latihan dance sekarang. Ada apa, sih? Kayaknya serius banget, gengnya sampai kumpul semua di sana," lapor Widi dengan napas tersenggal.

​"Mampus! Gue bilang juga apa, Gitaaaa!" teriak Azizah kencang, makin membuat nyaliku menciut.

​"Apa, sih? Paling juga mau nanyain soal ekskul dance, kan gue baru daftar kemarin," bohongku, sekedar untuk menenangkan jantungku yang rasanya hampir copot.

​Erni dan Selvi adalah pentolan "geng gaul" di sekolah. Tidak ada yang berani berurusan dengan mereka berlima. Mereka adalah anak-anak orang kaya yang bahkan ke sekolah saja selalu diantar mobil mewah.

​"Lo daftar dance? Jangan halu, deh. Mana ada dancer yang badannya kerempeng kayak lo," celetuk salah satu dari mereka sinis.

​"Ih, gue tuh—"

​"Udah, buruan! Ditungguin Erni, tuh!" Widi langsung menarik tanganku, memaksaku melangkah menuju ruang latihan.

​Selama perjalanan, jantungku seakan ingin melompat keluar. Duh, gimana ini? Kenapa Andreas nggak bilang kalau dia lagi deket sama gengnya Selvi? batinku merutuki cowok itu.

Tiba di depan pintu ruang dance, aku memutar gagang pintu dengan tangan gemetar. Begitu pintu terbuka, udara dingin dari AC langsung menyambar kulitku, namun suasana di dalam terasa jauh lebih menakutkan.

​Lima pasang mata menatapku tajam. Mereka tidak sedang latihan, mereka sedang menungguku.

Selvi duduk di kursi pelatih dengan gaya bos, sementara yang lain bersandar di cermin besar yang mengelilingi ruangan, melipat tangan di dada.

​"Lo nyari gue, Er?" tanyaku pelan, berusaha tetap tegar meski kaki terasa lemas.

​Erni bangkit dari posisinya. Suara gesekan sepatunya di lantai parket yang sunyi terdengar menakutkan. Ia berdiri tepat di hadapanku, menyunggingkan senyum sinis yang sama sekali tidak mencapai matanya.

​"Jadi ini..." Erni berjalan mengelilingiku, menilaiku dari ujung rambut sampai ujung sepatu seolah aku ini barang rongsokan. "...cewek yang katanya lagi diincer sama Andreas? Nggak salah pilih dia?"

​Ucapan tajam Erni langsung memicu tawa meremehkan dari keempat temannya. Tania sengaja maju satu langkah, menatapku dengan tatapan menjijikkan.

​"Lo beneran jadian sama Andreas?" tanya Tania menyelidik.

​"Nggak. Siapa yang jadian?" jawabku cepat, mencoba membela sisa-sisa harga diriku.

​"Halah, nggak usah sok polos deh!" bentak Selvi dari kursinya. Suaranya menggelegar di ruangan kosong itu. "Ngerasa cantik lo bisa deket sama dia? Lo itu ibarat remah rengginang, Git. Nggak level disandingin sama cowok sekeren Andreas!"

​"Nggak. Aku sama Andreas nggak ada apa-apa, beneran." Hatiku berdenyut nyeri. Aku harus berbohong di depan orang-orang yang merendahkanku, demi keselamatanku sendiri.

​Sarah, yang sedari tadi diam, mulai bergerak mendekat. Ia berdiri di sisi kiri Erni, sangat dekat hingga aku bisa melihat pantulan wajah ketakutanku di bola matanya yang dilapisi softlens abu-abu.

​"Kemarin, gue lihat lo berduaan sama Andreas naik motor. Pelukan lagi. Lo pikir gue buta?" Sarah berbisik tepat di telingaku, suaranya dingin dan tajam seperti sembilu. "Cewek kayak lo itu biasanya emang jago ya, pura-pura lugu padahal gatel."

​Darahku mendidih, tapi ketakutanku jauh lebih besar.

​"Udah, makanya jujur aja," ucap Erni. Tiba-tiba, ia menyentuh rambutku, memilin ujungnya dengan kasar hingga kepalaku sedikit tertarik. "Cuma mau denger dari mulut lo sendiri aja, seberapa besar nyali lo buat ganggu milik orang lain."

​"Sumpah, nggak ada apa-apa. Aku sama Andreas hanya berteman. Kemarin dia cuma..."

​"Cuma apa? Ngomong yang jelas!" gertak Judy si gadis berambut keriting sambil menggebrak loker di sampingku. Brak! Aku terlonjak kaget.

​Aku menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang. "...Cuma mengajakku minum cokelat panas."

​Keheningan sesaat pecah oleh tawa riuh yang menggelegar. Mereka tertawa seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol abad ini. Erni tiba-tiba merangkul bahuku, tapi itu bukan pelukan persahabatan. Cengkeraman kuku-kuku panjangnya terasa menusuk menembus kain seragamku.

​"Denger ya, Gita yang manis tapi kurang kaca," bisik Erni, kali ini tanpa senyum. "Andreas itu punya gue. Dia udah nembak gue, dan gue cuma lagi main tarik ulur biar dia makin gila. Malam Minggu besok, gue bakal resmiin dia. Jadi, kalau lo nggak mau urusan ini jadi panjang sampai ke luar sekolah... menjauh. Satu senti aja lo deketin dia lagi, lo bakal tahu akibatnya."

​Erni mendorong bahuku kasar sampai aku terhuyung ke belakang.

​"Ngerti, kan?"

​Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Di ruangan yang penuh cermin itu, aku bisa melihat betapa kecil dan malangnya diriku di antara mereka.

Setelah puas mengintimidasi, mereka mengizinkanku kembali ke kelas. Aku berjalan gontai di koridor yang mulai sepi karena jam istirahat telah usai. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh juga. Aku mengusapnya kasar, tak ingin siapa pun melihat kerapuhanku.

​Maaf, ya, aku memang cengeng. Aku paling tidak bisa menahan tangis jika sudah merasa tersudut. Perlakuan mereka benar-benar merusak bayangan manisku tentang Andreas. Baru saja merasa bahagia, aku langsung ditampar kenyataan pahit. Sakit sekali, sumpah. Aku tidak menyangka Andreas bisa menyatakan cinta padaku, padahal dia sedang menunggu jawaban dari Erni.

​Bodoh banget sih, Git. Makanya jangan kege-eran! protesku pada diri sendiri.

​Seakan semesta belum puas memberiku pelajaran, aku melihat Yoga berjalan di koridor yang sama. Ia berjalan tegak dengan beberapa buku tebal di pelukannya, seperti biasa. Tatapannya tajam menatap ke depan.

​Ckk... kenapa harus ketemu dia sekarang, sih? keluhku dalam hati. Saat jarak kami menipis, aku mencoba memaksakan senyum tipis. "Hai, Ga."

​Namun, hatiku justru makin mencelos. Yoga terus berjalan angkuh tanpa membalas sapaanku. Ia melewatiku begitu saja, seolah aku hanyalah makhluk tak kasat mata.

​Aku memutar tubuh, menatap punggungnya yang kian menjauh dan menghilang di balik pintu perpustakaan. Rasanya seperti tersiram air es sekujur tubuh. Laki-laki yang selama lima tahun ini selalu tersenyum lembut padaku, kini menganggapku orang asing. Luka dari malam Minggu kemarin mendadak menganga lagi.

​Drrtt... drrtt...

​Getaran ponsel di saku seragam menyentakku dari lamunan. Aku melirik layar, nama Andreas muncul di sana. Teringat ancaman Erni, aku pun membiarkan panggilan itu berakhir begitu saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Gita   BAB 6 RUMAH MANTAN

    Sebulan sudah aku menjalani hubungan manis bersama Andreas. Selama itu pula aku merasakan, suasana jalan-jalan sore yang selalu Andreas lakukan setiap weekend. Merelakan bangun tidur lebih pagi agar bisa mengantarku ke sekolah dan menjemputku setiap hari. Seakan dunia milik berdua, tiada hari tanpa bertemu.​"Aku nggak mau, Yang. Malu." Aku menolak untuk kesekian kalinya saat Andreas memintaku ikut kumpul dengan gengnya. Masalahnya satu, mereka berkumpul di rumah mantan pacar Andreas yang dijadikan 'markas'.​"Nggak apa-apa, masa udah sebulan kita jadian kamu masih nggak mau ketemu temen-temen aku?"​Melihat wajah tampannya yang sedang cemberut itu, pertahananku perlahan runtuh. Aku tidak tega menolak permintaannya kali ini.​"Ya udah. Tapi sebentar aja, ya," jawabku, yang langsung disambut senyum kemenangannya. "Sebentar, aku ganti baju dulu." ​"Nggak usah cantik-cantik. Temenku laki semua," candanya dari luar.​Aku hanya tertawa mendengar candaan konyolnya itu dan berlalu ke kamar.

  • Cinta Gita   BAB 5 : PERNYATAAN CINTA KEDUA

    Seminggu sudah aku mengabaikan panggilan telepon dari Andreas. Tak satu pun pesannya yang kubalas. ​Yah, paling tidak aku tetap bersyukur pernah diberi kesempatan ‘ditembak’ cowok seganteng dia. Lumayan untuk pamer, batinku. Namun, sepertinya Andreas bukan tipe cowok yang mudah menyerah. Terbukti pada Sabtu pagi ini, dia sudah nangkring di depan rumah dengan motor gedenya yang terparkir gagah di halaman. ​Karena sedang sendirian di rumah, aku terpaksa membuka pintu dan menemuinya. ​"Kenapa nggak pernah angkat telepon gue, Git? Pesan gue juga nggak pernah dibalas." Suara Andreas terdengar lirih, ada nada kecewa di sana. ​"Gue ada salah, ya, sama lo?" cecarnya sambil menatap mataku dalam-dalam. ​"Enggak, kok." ​"Terus?" ​"Lagi nggak sempat main HP," bohongku. Padahal jadwal les saja sedang kosong. Pulang sekolah, kalau tidak tidur, ya, pasti asyik scrolling ponsel. ​"Gimana nggak main HP sih, Git? Chat gue aja udah lo baca, cuma nggak mau balas aja. Iya, kan?" ​Aku menghela na

  • Cinta Gita   BAB 4 : GENG GAUL

    "Git! Lo denger nggak? Gengnya Selvi lagi ngomongin lo sama Andreas!" Nila tergopoh-gopoh menghampiri mejaku tepat saat bel istirahat memecah keheningan kelas. ​"Katanya, Andreas itu gebetannya Erni." Mata Nila membelalak cemas, seolah berita yang ia bawa adalah sebuah hukuman gantung untukku. ​"Serius?" Azizah, teman sebangkuku, langsung ikut nimbrung dengan wajah syok. "Mampus lo, Git! Mending lo jauhin Andreas dari sekarang. Lagian, lo nggak usah ketinggian deh mimpinya, cari cowok yang biasa-biasa aja kenapa, sih?" ​Aku menghela napas, mencoba tetap tenang. "Kalian kenapa, sih? Aku sama Andreas nggak ada apa-apa, kok." ​"Bohong! Nggak mungkin!" sambar Azizah cepat. "Udah jelas-jelas kemarin lo berdua pelukan di bus!" ​Belum sempat aku membela diri dari cecaran mereka, suara derap kaki yang berlari mendekat membungkam mulutku. ​"Git, dicariin Erni. Katanya lo disuruh ke ruang latihan dance sekarang. Ada apa, sih? Kayaknya serius banget, gengnya sampai kumpul semua d

  • Cinta Gita   BAB 3 : SORE HARI BERSAMAMU

    Sesuai janji Andreas semalam, sore ini dia mengajakku pergi. Jalan-jalan sore, katanya. Jadilah, sepulang dari GBK, Andreas membawaku ke rumahnya untuk mengambil motor. ​Pasti kalian penasaran kenapa Andreas bisa satu bus denganku tadi, kan? Ternyata, dia melihatku saat aku naik angkot menuju halte Transjakarta. Karena tidak berhasil mengejar, Andreas memesan ojek online menuju halte yang dia kira akan kudatangi. Tak menemukanku di sana, dia berniat mencariku langsung ke GBK. Beruntungnya, kami malah satu bus karena Andreas naik dari halte sebelumnya. Begitulah ceritanya kenapa makhluk itu tiba-tiba sudah ada di dalam bus sebelum aku masuk. Kalau kata orang, pertemuan tak sengaja di tempat yang sama itu tandanya jodoh. ​Ah, Gita. Bisa aja kamu ini! ​"Assalamualaikum," ucap Andreas saat membuka pintu rumahnya yang sederhana namun asri. ​Aku yang pernah punya pengalaman buruk di rumah Yoga, tidak pernah disambut baik oleh orang tuanya, merasa ragu untuk melangkah masuk. Kh

  • Cinta Gita   BAB 2 : SATU BUS YANG SAMA

    Jalanan ibu kota pada Minggu pagi tetap saja menyebalkan. Apalagi jalur menuju pusat olahraga favorit warga Jakarta. Kalau bukan karena dipaksa teman-teman sekolah, aku pasti masih meringkuk di balik selimut sampai siang.​Nggak usah julid, kalian juga sering begitu, kan? Tapi khusus hari ini, alasanku bangun kesiangan bukan cuma karena malas. Kejadian putus cinta semalam membuatku sukses menghabiskan berlembar-lembar tisu sambil meratapi foto Yoga. Intinya, aku kurang tidur.​"Gita!"​Seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut tebal sebahu melambai dari seberang jalan. Itu Azizah. Di sampingnya, tiga teman kelasku yang lain sudah berdiri menunggu dengan wajah tidak sabar.​Begitu arus kendaraan agak renggang, aku berlari kecil menghampiri mereka.​"Sori ya, gue telat. Kalian udah lama?" tanyaku dengan wajah memelas. Berharap keterlambatan satu jam ini tidak berakhir dengan keributan.​"Makanya, biasakan olahraga biar libur begini bisa bangun pagi," semprot Widi dengan tampang judesn

  • Cinta Gita   BAB 1 : PUTUS

    "Tapi gue udah punya pacar, Ndre," jawabku pelan. ​Andreas duduk di sampingku, cowok tampan yang jadi idola cewek-cewek geng gaul sekolahku, baru saja menyatakan perasaannya. Malam Minggu ini dia nekat datang ke rumah. Aku hanya menerimanya di teras, karena tidak ingin memberi harapan lebih. ​"Gue tahu kok lo punya pacar. Enggak apa-apa kan kalau gue jujur bilang suka? Kita masih bisa berteman," ujar Andreas. Dia tersenyum manis, menatapku dengan tatapan lembut yang sulit kutepis. ​Aku termenung. Tidak habis pikir, apa yang dia lihat dari gadis biasa sepertiku? Keluargaku tidak kaya, tubuhku kurus, dan kulitku sawo matang. Kadang aku merasa cowok-cowok yang mendekatiku hanya sekadar ingin membuktikan tantangan, tanpa benar-benar ingin memiliki. Ibaratnya, 'iseng-iseng berhadiah'. Mungkin saja begitu. ​"Iya, kita masih bisa berteman," jawabku pendek sambil meliriknya sekilas, lalu kembali menatap pohon rambutan di depan rumah. ​"Kenapa? Kayaknya gelisah banget. Enggak usah gugup

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status