LOGINSesuai janji Andreas semalam, sore ini dia mengajakku pergi. Jalan-jalan sore, katanya.
Jadilah, sepulang dari GBK, Andreas membawaku ke rumahnya untuk mengambil motor. Pasti kalian penasaran kenapa Andreas bisa satu bus denganku tadi, kan? Ternyata, dia melihatku saat aku naik angkot menuju halte Transjakarta. Karena tidak berhasil mengejar, Andreas memesan ojek online menuju halte yang dia kira akan kudatangi. Tak menemukanku di sana, dia berniat mencariku langsung ke GBK. Beruntungnya, kami malah satu bus karena Andreas naik dari halte sebelumnya. Begitulah ceritanya kenapa makhluk itu tiba-tiba sudah ada di dalam bus sebelum aku masuk. Kalau kata orang, pertemuan tak sengaja di tempat yang sama itu tandanya jodoh. Ah, Gita. Bisa aja kamu ini! "Assalamualaikum," ucap Andreas saat membuka pintu rumahnya yang sederhana namun asri. Aku yang pernah punya pengalaman buruk di rumah Yoga, tidak pernah disambut baik oleh orang tuanya, merasa ragu untuk melangkah masuk. Khawatir orang tua Andreas sama galaknya. "Ayo, masuk. Kok malah diam di situ?" Andreas menampilkan senyum manisnya sekali lagi. Manis banget, ya Tuhan! "Gue tunggu di luar aja, ya. Enggak enak sama orang tua lo." "Hahaha... kenapa? Takut, ya? Tahu aja kalau bokap gue polisi." "Hah? Bokap lo polisi? Gue... gue di luar aja deh—" Andreas tertawa puas melihatku yang ketakutan dan hendak beranjak ke luar pagar. Dengan cepat, ia menarik tanganku masuk ke dalam rumahnya. "Ndre, di luar aja, Ndre. Beneran deh..." cicitku ketakutan. "Jangan dong. Kalau di luar nanti ada yang ambil, susah lagi gue dapetinnya." Candaan Andreas seolah mengingatkanku pada perasaan yang ia nyatakan semalam. Sifatnya jauh berbeda dengan Yoga. Yoga itu pendiam dan hanya senang belajar, bukan karena hobi, tapi karena tuntutan. Orang tuanya menerapkan aturan yang sangat ketat. Tapi entah kenapa, aku sangat mencintai laki-laki introvert itu. Aku merasa cukup nyaman berpacaran dengan Yoga selama lima tahun ini. Karena dia hanya fokus pada aturan orang tua, pikirannya tidak pernah lari ke perempuan lain. Dia setia. "Siapa tuh, Mas?" Seorang remaja laki-laki berjalan ke ruang tamu, menatapku yang duduk kaku di sofa. "Calon masa depan," sahut Andreas sambil melangkah masuk. "Jangan diganggu!" teriaknya dari arah ruang keluarga. "Halo Kakak Ipar. Kenalin, aku Fahri, adiknya Mamas." Remaja dengan wajah yang tak kalah tampan dari Andreas itu mengulurkan tangan. "Halo, aku Gita," jawabku malu-malu. Usianya mungkin hanya terpaut dua atau tiga tahun dari Andreas. Posturnya tinggi, sekitar 175 cm, sedikit di bawah Andreas yang mencapai 180 cm. "Pasti mau sama Mamas karena dia ganteng, ya? Hati-hati, mantannya banyak. Terus belum pada move on semua," celotehnya sambil nyengir. Aku tersenyum tipis. "Cuma teman kok sama Andreas." Fahri tertawa puas melihatku yang tampak terpengaruh oleh ucapannya, sampai akhirnya Andreas datang dan menjewer telinga adiknya itu agar masuk ke dalam. "Sori, ya. Fahri emang jahil," ucap Andreas yang sudah berganti pakaian. Kini dia mengenakan levis panjang dengan aksen sobek di lutut, hoodie abu-abu, dan topi senada. Ganteng! batinku. "Enggak apa-apa, kok. Ngomong-ngomong, nyokap bokap lo enggak ada?" "Ada. Mau ketemu?" "Eh, jangan! Basa-basi doang kok." Aku sontak berdiri, menahannya agar tidak memanggil orang tuanya. Andreas tertawa kecil. "Ya sudah, yuk berangkat. Keburu kesorean." "Memangnya kita mau ke mana?" "Jalan-jalan aja naik motor. Nanti gue jajanin es cendol." "Ih, enggak doyan es cendol!" "Terus doyannya apa?" Suara rendah dan lembut Andreas, serta caranya menatapku saat bicara, benar-benar mampu mengikis rasa galau setelah patah hati dari Yoga. "Sudah ayo, katanya takut kesorean," ujarku tak sabar sambil menarik lengan hoodie-nya. Aslinya, aku hanya takut tiba-tiba berpapasan dengan ayah dan ibunya. Andreas lagi-lagi mengusap puncak kepalaku sebelum mengajakku ke halaman. Ia mengeluarkan motor Yamaha R1 berwarna hitam mengilap. "Ndre, gue enggak bisa naiknya! Enggak ada motor yang lebih kecil?" tanyaku terbelalak. "Motor-motoran maksudnya?" "Ya enggak! Scoopy atau Beat gitu, yang lebih kecil." "Ada, punya Papa. Gue panggil Papa dulu, ya?" "Eh, jangan! Udah, pakai motor lo saja. Gue bisa kok!" Aku bergegas mencoba menaiki motor gede itu, membuat Andreas tertawa kecil melihat tingkahku. "Asli, susah! Badan gue kan kecil begini, Ndre." "Pegang tangan gue," ujar Andreas lembut. Dengan ragu, aku menggenggam tangannya dan melompat naik ke jok belakang. Salah satu hal yang tidak kusukai dari motor besar adalah posisi duduknya yang memaksaku untuk seolah memeluk pengendara. "Pegangan," ucap Andreas samar dari balik helm full face-nya. Perlahan, aku melingkarkan kedua tangan di pinggangnya. Andreas menarik lembut tanganku agar aku duduk lebih merapat. "Takut jatuh," ucapnya pelan sambil mengusap tanganku yang sudah melingkar di pinggangnya. Sedetik kemudian, hembusan angin sore menerpa wajahku, seakan ingin membantu menghempaskan segala kenangan tentang Yoga. Perlakuan manis Andreas adalah sesuatu yang tidak pernah kudapatkan selama lima tahun bersama Yoga. Andreas melajukan motornya dengan santai. Aku tersenyum di balik punggungnya. "Gimana? Enak, kan, jalan sore begini?" teriak Andreas agar suaranya terdengar di balik deru mesin. Aku hanya mengangguk kecil, menempelkan pipi di punggungnya yang kokoh. Wangi detergen bercampur parfum maskulin dari hoodie-nya menyerang indra penciumanku, memberikan rasa nyaman yang tiba-tiba. Bersama Yoga, kencan kami selalu kaku, hanya duduk di kantin atau main basket saat pulang sekolah sambil menunggu jam lesnya. Yoga dilarang keluar rumah kecuali untuk urusan pendidikan. Motor Andreas membelah kemacetan Jakarta dengan lincah menuju arah Jakarta Selatan. "Git!" panggilnya. "Ya?" "Jangan melamun. Nanti jadi sayang sama gue, lho," candanya yang langsung kubalas dengan cubitan pelan di pinggang. "Ih, pede banget!" seruku, meski dalam hati aku mengakui kalau ucapannya memang benar. Kami berhenti di sebuah area pinggir jalan yang luas dengan pemandangan lampu kota. Andreas memarkirkan motornya di dekat kedai kopi gerobakan yang estetik. "Enggak doyan cendol, kan? Kalau cokelat panas suka?" tanyanya setelah melepas helm. Rambutnya yang sedikit berantakan membuat Andreas terlihat sepuluh kali lebih tampan. Aku sampai heran, bagaimana bisa cowok setampan ini suka padaku? "Suka," jawabku sambil berusaha turun. Tanpa diminta, dia mengulurkan tangan untuk menjagaku agar tidak oleng. Kami duduk di bangku plastik kecil menghadap jalanan. "Capek enggak?" Andreas menatapku sambil menyibakkan rambut panjangku yang menghalangi wajah. "Lumayan. Gue nggak nyangka hari ini bakal se-random ini. Dari ketemu di busway sampai naik motor gede." Jawabku menyesap cokelat panas yang baru saja datang. Andreas tersenyum, tapi kali ini senyumnya terasa lebih tulus, bukan sekadar godaan. "Ndre," panggilku pelan. "Makasih ya." "Buat apa?" "Buat nggak jadi polisi galak kayak bokap lo," balasku sambil terkekeh, mencoba mencairkan suasana. Andreas tertawa lepas, matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Tenang aja, gue cuma bakal 'nilang' hati lo kalau lo melanggar aturan dengan mikirin cowok lain di depan gue."Author POV [Flashback hari kepergian Andreas dari rumah Keluarga Ale saat makan malam bersama.] "Andreas, tunggu!" teriak Salsa berlari menyusul langkah panjang laki-laki itu. Andreas tidak perduli, dengan wajah merah menahan amarah, ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil bertepatan dengan Salsa yang juga masuk di sisi kursi penumpang. "Aku mau sendiri, Sal!" geram Andreas melihat Salsa yang berhasil menyusulnya. "Aku kan sudah bilang, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkanmu sendiri." Balas Salsa tersenyum tipis. "Jangan bercanda, aku lagi nggak mood." "Ada apa antara kamu dengan Gita?" tanya Salsa mengabaikan amarah Andreas. Karena gadis itu tidak suka dengan rahasia yang selalu Andreas pendam selama ini "Apa dia orangnya? gadis yang selalu kamu sebut sebagai pacar kamu di Jakarta saat kita masih di Surabaya?" Salsa terus mendesak. Andreas hanya diam, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat, tanda bahwa laki-laki itu sedang menahan amarah
Wajah Ale yang semula cerah kini berubah menjadi kaku, guratan kekecewaan mulai nampak jelas di sela-sela sorot matanya. Ia tidak lagi menatap cincin di jariku, melainkan menatap langsung ke dalam kedua mataku. "Jawab, Git. Kenapa Salsa bisa tanya begitu? Apa benar pagi tadi kamu nggak ke kampus, tapi justru pergi sama Andreas?" Suara Ale rendah namun membuatku merinding. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa sangat kering. "Kak, dengerin dulu... Aku... aku memang ke rumah sakit, tapi itu murni untuk skripsi." "Untuk skripsi atau untuk dia?" Ale memotong cepat, langkahnya mendekat hingga aku bisa merasakan kemarahan yang memancar dari tubuh atletisnya. "Kamu bilang ada urusan kampus yang mendadak. Kamu bohong demi bisa ketemu dia di belakangku? Padahal aku sudah bilang, aku nggak tenang kalau kamu dekat-dekat sama dia!" "Ini bukan soal dia, Kak! Ini soal observasi manajemen konflik di Bab tigaku. Andreas itu koordinator koas di sana, hanya dia yang bisa kasih aku akses
Malam ini aku benar-benar tidak bisa menutup mata. Agenda dua janji esok hari membuat kepalaku sakit. Sebenarnya, bertemu Andreas adalah pilihan yang sangat penting, karena waktu observasi tidak bisa di jadwalkan ulang. Sedangkan membeli cincin pertunangan bisa dilakukan lain waktu karena acara pertunangan baru dilaksanakan minggu depan.Tapi desakan Ale saat meninggalkan rumahku tadi tidak bisa aku tolak. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya setelah mendapatkan restu dari Papa. Ditambah lagi, Ale tidak mengetahui rencana observasi dataku esok hari."Ya tuhan, bagaimana ini!" jeritku tertahan membenamkan wajah di bantal. Terlintas dalam benakku untuk meminta sekali lagi saja bantuan Andreas agar bisa membantu ku mengatur ulang jadwal observasi. Sejenak aku berpikir untuk memperioritaskan permintaan Ale. Tapi, peringatan Papa dan Mama yang selalu mengingatkanku untuk menomorsatukan pendidikan, sekali lagi menggoyahkanku."Arrgghhh!" Aku benar-benar buntu, hingga akhirnya keputusan s
"Apa nggak terlalu cepat, de?" tanya Mama saat aku bicara soal keinginan Kak Ale melamarku dan bertunangan. "Ade juga udah bilang begitu ke Kak Ale, Ma. Tapi—" Aku merebahkan kepalaku di pangkuan Mama. Merasakan kenyamanan dari belaian lembut tangannya di rambut kepalaku. "Coba Ade ngomong dulu sama Papa, kalau Papa kasih ijin, ya Mama sih ikut aja. Tapi Ade datang kerumah Papa, jangan lewat telepon." Aku menghela nafas panjang dan mengangguk pelan dipangkuan Mama. Aku sebenarnya tidak pernah berkunjung kerumah Papa, karena jujur saja, aku tidak terlalu menyukai ibu tiri dan adik tiriku. Setiap kali aku ada perlu, aku hanya bicara melalui telepon atau datang ke kantor Papa. Mungkin kali ini, aku juga akan datang ke kantor Papa dan berharap Papa tidak akan marah dengan apa yang akan aku bicarakan. ***Dua hari kemudian, aku sudah melangkahkan kaki di salah satu kantor pemerintahan tempat Papa bekerja. Setelah berpikir berulang kali, dan mendapat nasehat dari Kak Ana dan Kak Leny, a
"Bagus sekali, Gita. Hebat kamu bisa mendapatkan data sedetail ini dibagian tenaga medis. Ternyata, dokter-dokter di sana sangat membantu walaupun mereka sangat sibuk." Pujian dari bu Linda, dosen pembimbingku yang dikenal sangat perfeksionis, seharusnya membuatku lega. Namun, saat beliau mengetuk-ngetukkan jarinya di atas draf bab tigaku yang membahas tentang pola komunikasi internal di rumah sakit, aku merasakan sinyal berbahaya. "Analisis kamu tentang alur instruksi dari dokter senior ke mahasiswa koas ini sangat tajam, Gita. Kamu berhasil membedah bagaimana hambatan psikologis, seperti rasa takut atau senioritas, bisa merusak efektivitas pesan medis," bu Linda menatapku dari balik kacamatanya. Aku berdehem, mencoba mengatur napas. "Kebetulan saya banyak dibantu oleh salah satu koas di sana, bu. Dia memberikan perspektif nyata tentang bagaimana distorsi informasi sering terjadi saat pergantian shift atau saat situasi darurat di bangsal." Bu Linda manggut-manggut, lalu men
"Andreas?!" "Jangan bercanda, Gita!""Nggak mungkin, ini udah empat tahun!""Gue pikir lo udah ada Ale, udah bisa lupain Andreas, Git. Please, jangan sakitin temen gue."Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Bian, membuatku kesal dan melayangkan pukulan di bahunya."Lo gila, ya! Siapa juga yang mau nyakitin Kak Ale." Nafasku memburu karena keterkejutan yang sama."Dia calon dokter. Sekarang jadi mahasiswa koas di Rumah Sakit tempat penelitian gue. Dan... calon tunangan sepupunya Kak Ale.""Apa! Calon dokter? Lo serius itu Andreas?" tanya Widi. Suaranya menggema dari ponsel Nila yang di loudspeaker."Calon tunangan sepupunya Ale! ini nggak mungkin, kita harus temuin Andreas sekarang juga." Geram Azizah menggebu-gebu."Nggak bisa! Gue harus ikut. Jangan disamperin sekarang, tunggu sampe gue pulang ke Jakarta." Sahut Widi lagi."Nggak ada yang bakal nemuin siapa-siapa sekarang!" potongku dengan suara tertahan, mencoba meredam kehebohan teman-temanku.Aku melirik ke sekeliling kafe, ta







