Home / Young Adult / Cinta Gita / BAB 3 : SORE HARI BERSAMAMU

Share

BAB 3 : SORE HARI BERSAMAMU

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-02-14 22:17:57

Sesuai janji Andreas semalam, sore ini dia mengajakku pergi. Jalan-jalan sore, katanya.

Jadilah, sepulang dari GBK, Andreas membawaku ke rumahnya untuk mengambil motor.

​Pasti kalian penasaran kenapa Andreas bisa satu bus denganku tadi, kan? Ternyata, dia melihatku saat aku naik angkot menuju halte Transjakarta.

Karena tidak berhasil mengejar, Andreas memesan ojek online menuju halte yang dia kira akan kudatangi. Tak menemukanku di sana, dia berniat mencariku langsung ke GBK.

Beruntungnya, kami malah satu bus karena Andreas naik dari halte sebelumnya. Begitulah ceritanya kenapa makhluk tampan itu tiba-tiba sudah ada di dalam bus sebelum aku masuk. Kalau kata orang, pertemuan tak sengaja di tempat yang sama itu tandanya jodoh.

​Ah, Gita. Bisa aja!

​"Assalamualaikum," ucap Andreas saat membuka pintu rumahnya yang sederhana namun asri. Sangat jauh berbeda dengan bangun tinggi dan mewah rumah Yoga. Tapi justru aku merasa lebih nyaman saat menginjakkan kaki di halaman rumah Andreas.

​Aku yang pernah punya pengalaman buruk di rumah Yoga, tidak pernah disambut baik oleh orang tuanya, merasa ragu untuk melangkah masuk kedalam rumah. Khawatir orang tua Andreas sama galaknya.

​"Ayo, masuk. Kok malah diam di situ?" Andreas menampilkan senyum manisnya sekali lagi.

​Manis banget, ya Tuhan!

​"Gue tunggu di luar aja, ya. Enggak enak sama orang tua lo."

​"Hahaha... kenapa? Takut, ya? Tahu aja kalau bokap gue polisi."

​"Hah? Bokap lo polisi? Gue... gue di luar aja deh—"

​Andreas tertawa puas melihatku yang ketakutan dan hendak beranjak ke luar pagar. Dengan cepat, ia menarik tanganku masuk ke dalam rumahnya.

​"Ndre, aku di luar aja. Beneran deh..." cicitku ketakutan.

​"Jangan dong. Kalau di luar nanti ada yang ambil, susah lagi gue dapetinnya." Candaan Andreas mengingatkanku pada perasaan yang ia nyatakan semalam.

Aku merasa kalau sifat Andreas jauh berbeda dengan Yoga. Yoga itu pendiam dan hanya senang belajar, bukan karena hobi, tapi karena tuntutan. Orang tuanya menerapkan aturan yang sangat ketat. Tapi entah kenapa, selama lima tahun aku sangat mencintai laki-laki introvert itu. Aku merasa cukup nyaman berpacaran dengan Yoga. Karena dia hanya fokus pada aturan orang tua, pikirannya tidak pernah lari ke perempuan lain. Dia setia.

​"Siapa tuh, Mas?" Seorang remaja laki-laki berjalan ke ruang tamu, menatapku yang duduk kaku di sofa.

​"Calon masa depan," sahut Andreas asal, sambil melangkah masuk. "Jangan diganggu!" teriaknya sebelum benar-benar menghilang dari arah ruang keluarga.

​"Halo Kakak Ipar. Kenalin, aku Fahri, adiknya Mamas." Remaja dengan wajah yang tak kalah tampan dari Andreas itu mengulurkan tangan.

​"Hai, aku Gita," jawabku malu-malu. Aku menebak dalam hati, usia Fahri mungkin hanya terpaut dua atau tiga tahun dari Andreas. Postur tubuhnya juga sama seperti Andreas. Tingginya sekitar 175 cm, sedikit di bawah Andreas yang mencapai 180 cm.

​"Pasti mau sama Mamas karena dia ganteng, ya? Hati-hati, mantannya banyak. Terus belum pada move on semua," celotehnya sambil nyengir.

​Aku tersenyum tipis. "Cuma teman kok sama Andreas."

​Fahri tertawa puas melihatku yang tampak terpengaruh oleh ucapannya, sampai akhirnya Andreas datang dan menjewer telinga adiknya itu agar masuk ke dalam.

​"Sori, ya. Fahri emang jahil," ucap Andreas yang sudah berganti pakaian. Kini dia mengenakan levis panjang dengan aksen sobek di lutut, hoodie abu-abu, dan topi senada.

​Ganteng! batinku, terpaku menatapnya.

​"Enggak apa-apa, kok. Ngomong-ngomong, nyokap bokap lo enggak ada?"

​"Ada. Mau ketemu?"

​"Eh, jangan! Basa-basi doang kok." Aku sontak berdiri, menahannya agar tidak memanggil orang tuanya.

​Andreas tertawa kecil. "Ya sudah, yuk berangkat. Nanti kesorean."

​"Kita mau ke mana?"

​"Jalan-jalan aja naik motor. Nanti gue jajanin es cendol deh, mau nggak?"

​"Ih, enggak bisa makan es cendol, aku alergi santan, Ndre."

"Serius? wah, harus dicatat ni, nanti kalau udah resmi pacaran semua makanan santan harus dihindari. Terus sukanya makan apa?" Suara rendah dan lembut Andreas, serta caranya menatapku saat bicara, benar-benar mampu mengikis rasa galau setelah patah hati dari Yoga.

​"Sudah ayo, katanya takut kesorean," ujarku tak sabar sambil menarik lengan hoodie-nya. Aslinya, aku hanya menutupi rona wajahku yang tiba-tiba memerah mendengar perhatian nya semanis itu.

​Andreas mengusap puncak kepalaku sambil tersenyum manis sebelum mengajakku ke halaman. Ia mengeluarkan motor Yamaha R1 berwarna hitam mengilap. Membuatku melebarkan bola mata. Jujur aja, aku nggak pernah naik motor gede seperti motor balap ini. Aku nggak menyangka, jalan-jalan sore dengan motor yang dimaksud Andreas adalah menaiki motor sebesar ini.

​"Ndre, gue enggak bisa naiknya! Enggak ada motor yang lebih kecil?" tanyaku menggaruk kepala yang tidak gatal.

​"Motor-motoran maksudnya?"

​"Ya enggak! Motor matic gitu, yang lebih kecil."

​"Ada, punya Papa. Gue panggil Papa dulu, ya?"

​"Eh, jangan! Udah, pakai motor lo aja. Gue bisa naiknya kok!" Aku bergegas mencoba menaiki motor gede itu, membuat Andreas tertawa melihat tingkahku yang terlihat ketakutan kalau sampai bertemu dengan orang tuanya.

​"Asli, Ndre susah! Badan gue kan kecil."

​"Pegang tangan gue," ujar Andreas lembut.

​Dengan ragu, aku menggenggam tangannya dan melompat naik ke jok belakang dengan sekali ayunan kaki. Satu lagi yang bikin aku tidak nyaman menaiki motor besar ini, yaitu posisi duduknya memaksaku untuk memeluk pengendara.

​"Pegangan," ucap Andreas samar dari balik helm full face-nya.

"Ih, nanti ketemu cewek lo atau mantan lo yang belum move on, gue yakut di labrak."

Andreas memutar kepalanya kesamping dan membuka penutup wajahnya, "Cewek gue kan lo. Kalau ketemu mantan, itu masa lalu, nggak mungkin dong masa depan kalah sama masa lalu."

Aku memukul pelan bahunya karena terus menggodaku dengan kata-kata manisnya. Andreas tertawa.

"Ayo, pegangan Git."

Dengan ragu-ragu, aku melingkarkan kedua tangan di pinggangnya. Andreas menarik lembut tanganku agar aku duduk lebih merapat.

​"Takut jatuh," ucapnya pelan sambil mengusap tanganku yang sudah melingkar di pinggangnya.

​Sedetik kemudian, hembusan angin sore menerpa wajahku, seakan ingin membantu menghempaskan segala kenangan tentang Yoga. Perlakuan manis Andreas adalah sesuatu yang tidak pernah kudapatkan selama lima tahun bersama Yoga.

​Andreas melajukan motornya dengan santai. Aku tersenyum di balik punggungnya.

​"Gimana? Enak, kan, jalan sore begini?" teriak Andreas agar suaranya terdengar di balik deru mesin.

​Aku hanya mengangguk kecil, menempelkan pipi di punggungnya yang kokoh. Wangi detergen bercampur parfum maskulin dari hoodie-nya menyerang indra penciumanku, memberikan rasa nyaman yang tiba-tiba. Bersama Yoga, kencan kami selalu kaku, hanya duduk di kantin atau main basket saat pulang sekolah sambil menunggu jam lesnya. Yoga dilarang keluar rumah kecuali untuk urusan pendidikan.

"Kalau suka, mulai hari ini, gue akan selalu ajak lo jalan keluar setiap sore, gimana?"

Aku hanya tersenyum, dan menjawabnya dalam hati, 'Iya, aku mau.'

​Motor Andreas membelah kemacetan Jakarta dengan lincah menuju arah Jakarta Selatan. Membawaku jauh dari kenangan lima tahun bersama Yoga. Andreas telah berhasil masuk kedalam hatiku.

​"Git!" panggilnya.

​"Ya?"

​"Jangan melamun. Nanti jadi sayang sama gue, lho," candanya yang langsung kubalas dengan cubitan pelan di pinggang.

​"Ih, pede banget!" seruku, meski dalam hati aku mengakui kalau ucapannya memang benar.

​Kami berhenti di sebuah area taman luas di pinggir jalan dengan pemandangan lampu kota dan langit senja. Andreas memarkirkan motornya di dekat kedai kopi gerobakan yang estetik.

​"Enggak bisa makan cendol, kan? Kalau cokelat panas suka?" tanyanya setelah melepas helm.

Rambutnya yang sedikit berantakan membuat Andreas terlihat sepuluh kali lebih tampan. Aku sampai heran, bagaimana bisa cowok setampan ini suka padaku?

​"Suka," jawabku sambil berusaha turun.

​Tanpa diminta, dia mengulurkan tangan untuk menjagaku agar tidak oleng.

Kami memilih duduk di bangku plastik kecil yang menghadap jalanan.

​"Capek enggak?" Andreas menatapku sambil merapihkan rambut panjangku yang sedikit kusut karena terkena angin selama perjalanan.

"Lumayan. Gue nggak nyangka hari ini bakal se-random ini. Dari ketemu di busway sampai naik motor gede." Jawabku menyesap cokelat panas yang baru saja datang.

​Andreas tersenyum, tapi kali ini senyumnya terasa lebih tulus, bukan sekadar godaan.

​"Ndre," panggilku pelan. "Makasih ya."

​"Buat apa?"

​"Buat nggak jadi polisi galak kayak bokap lo," balasku sambil terkekeh, mencoba mencairkan suasana.

​Andreas tertawa lepas, matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Tenang aja, gue cuma bakal 'nilang' hati lo kalau lo melanggar aturan dengan mikirin cowok lain di depan gue."

Perhatian Andreas teralih karena bunyi pesan masuk dari ponselnya. Ia meraih benda pipih itu dari dalam kantong celana dan membuka pesan masuk.

Aku memperhatikan wajahnya yang menampilkan senyuman tipis saat membaca pesan itu, dan rasa tak nyaman seketika merambat masuk mengusik hati dan pikiranku. Kata-kata Fahri dirumah tadi kembali melintas :

"Hati-hati, mantannya banyak. Terus belum pada move on semua."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Gita   EPILOG : TUJUH TAHUN KEMUDIAN

    "Iya, Sayang. Aku sama Aiden mau ke taman dulu," sahutku saat Andreas menelepon untuk menanyakan apakah aku sempat menjemput putra kami ke sekolah. Aiden Arkadewa, itulah nama putra pertama kami. Saat ini usianya sudah menginjak lima tahun dan baru saja masuk taman kanak-kanak. Dan saat ini, aku pun tengah mengandung anak kedua kami dengan usia kandungan tujuh bulan. ​"Maafkan aku ya, Sayang. Tadi mendadak Dokter Handoko memintaku mendampinginya di ruang operasi," sahut Andreas dari seberang telepon. Suaranya terdengar agak tergesa-gesa. ​Saat ini, Andreas memang sudah mencapai akhir masa pendidikan residennya. Ia memilih melanjutkan spesialisasi menjadi seorang dokter spesialis bedah jantung. Sebentar lagi, ujian kompetensi besar menantinya agar ia resmi menyandang gelar spesialis. ​Aku selalu dibuat takjub dan bangga oleh kegigihannya. Laki-laki itu mampu menjalani kerasnya pendidikan dokter spesialis sambil tetap bekerja sampingan di laboratorium demi membiayai kuliahnya se

  • Cinta Gita   BAB 100 LANGIT MALAM KALIURANG (18+)

    Deru mesin kereta eksekutif yang membawa kami dari Jakarta perlahan mereda begitu roda-rodanya mencengkeram rel Stasiun Tugu, Yogyakarta. Suara riuh pengumuman stasiun berpadu dengan petikan lirik lagu lawas tentang kota ini yang samar-samar terdengar dari pengeras suara, menyambut langkah kaki kami. Yogyakarta selalu memiliki cara tersendiri untuk menjerat rindu, namun bagi aku dan Andreas, kota ini kini menyandang status baru, saksi bisu dari awal perjalanan panjang kami sebagai sepasang suami istri. ​Setelah melewati resepsi pernikahan yang menguras energi di Jakarta seminggu lalu, Andreas langsung memesan tiket dan sebuah vila privat di daerah lereng Gunung Merapi, Kaliurang. Laki-laki itu tahu benar kalau aku membutuhkan ketenangan, jauh dari hiruk-pikuk rutinitas kesibukan kami di Jakarta. ​"Sini tasnya, Sayang. Biar aku yang bawa," ujar Andreas lembut begitu kami melangkah keluar dari pintu kedatangan stasiun. ​Aku menoleh, menatap wajah tampannya yang kini terlihat jauh

  • Cinta Gita   BAB 99 KEBAHAGIAAN KAMI

    Restoran bernuansa alam di sudut kota Bogor itu terasa begitu menyejukkan. Suara gemercik air dari kolam ikan yang mengelilingi saung-saung bambu, berpadu pas dengan aroma tanah basah sehabis hujan dan semilir angin pegunungan. Tempat ini sengaja dipilih oleh Bian, sebagai sebuah ketenangan untuk merayakan kelulusan, sekaligus menjadi saksi dari sebuah rencana besar yang sudah ia persiapkan matang-matang. ​Andreas menggenggam tanganku dengan erat saat kami berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju saung utama yang sudah dipesan. Genggamannya hangat, memberikan rasa aman untukku. Berada di sisi Andreas dalam suasana sesantai ini adalah hal yang sangat kuinginkan sejak kepergiannya empat tahun lalu. ​"Kayaknya kita terlambat, sayang. Mereka sudah datang," bisik Andreas pelan di dekat telingaku, matanya melirik ke arah saung besar di ujung kolam di mana gelak tawa teman-temanku sudah terdengar bersahutan. "Kamu sih dandannya kelamaan, jadi telat jemput aku," balasku sambil ny

  • Cinta Gita   BAB 98 CERITA NANDA

    "Aku tahu, kalau Kak Nanda sengaja memberikan berkas itu padaku. Tapi, dari mana Kakak tahu kalau aku mengenal perwira polisi yang meninggal itu?" potongku, tidak memberi kesempatan Kak Nanda untuk bisa mengelak. Kak Nanda menghembuskan nafas perlahan, mencoba menerima kalau aku sudah mengetahui rencananya. Ia meraih jemariku dan menggenggamnya erat. "Waktu itu aku tidak sengaja memberikan file tentang kematian Baskoro Adi, kamu ingat? di hari pertama kamu magang?" aku mengangguk, karena ingatan itu terus melekat di benakku. "Sejak itu, aku melihat kalau kamu sangat penasaran dengan kasus Baskoro Adi. Aku berpikir, sepertinya ada sesuatu antara kamu dengan perwira kepolisian itu. Jadi, aku mengecek data diri kamu dan melihat kalau kamu berasal dari Universitas yang sama dengan Caleandra." Kak Nanda berhenti sejenak. Mencoba mengatur tarikan nafasnya yang terasa berat. Lalu, tanpa diduga, air mata mengalir di pipinya. Aku melepaskan genggaman tangannya dan meraih tisu di atas m

  • Cinta Gita   BAB 97 KEMBALI KE HARIAN NASIONAL

    ​"Gita!" ​Suara lembut yang sangat kukenali itu seketika membuatku menghentikan langkah. Aku menoleh ke belakang. Di sana, berdiri tidak jauh dari tempatku, Azizah, Bian, dan Nila tengah berjalan menghampiri. Mereka semua melempar senyum hangat ke arahku. ​Terus terang saja, aku sangat merindukan sahabat-sahabatku ini. Hubunganku dengan Ale selama ini membuat hubungan persahabatanku ikut berantakan. Dan hari ini, di hari wisuda kami, akhirnya kami bisa bertemu kembali. ​Azizah dan Nila terlihat sangat cantik dengan kebaya senada berwarna baby pink, warna favorit mereka. Tanpa kusadari, air mata menetes di pipiku. Melihat hal itu, Azizah langsung melangkah maju dan merengkuh tubuhku dengan isak tangis yang sama. ​"Gue kangen banget sama lo, Git. Maafin gue... maafin gue sama Bian yang udah bikin kita jauh selama ini," bisik Azizah di sela tangisnya. ​Nila yang tidak tahan menunggu giliran, langsung ikut memelukku dan Azizah. Kami bertiga berpelukan dengan teramat erat di teng

  • Cinta Gita   BAB 96 CALON ISTRI DOKTER

    "Ndre," ​Aku memanggil pelan laki-laki yang sedang sibuk mencatat rekam medis pada papan klip di tangannya. Wajah seriusnya seketika mendadak cerah, lalu senyuman yang hangat terbit di wajah tampannya. Menatapnya saat ini, aku merasa seolah baru benar-benar menemukannya kembali setelah empat tahun lamanya kami berpisah. Laki-laki yang dulu selalu datang menjemputku ke rumah untuk berangkat sekolah bersama, dan selalu mengajakku menikmati senja di sudut kota Jakarta dalam dekapan hangat di atas motor besarnya. ​Andreas berjalan pelan menghampiriku. Senyuman di bibirnya tidak pudar sedikit pun, membuat seluruh kecemasan di hatiku menghilang. Akhirnya, aku bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan yang luar biasa. ​Begitu tiba di hadapanku, ia mengangkat tangannya perlahan, meraih beberapa helai rambutku yang sedikit berantakan lalu menyelipkannya ke belakang telinga. ​"Sudah makan siang belum?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Andreas terdengar begitu lembut di telingaku. A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status