Accueil / Romansa / Cinta Jatuh Tempo / Efek Samping Kardigan Wol

Partager

Efek Samping Kardigan Wol

Auteur: Kalla Lunara
last update Date de publication: 2026-08-30 23:04:59

“Make you jealous?”

“Aku gak yakin, seorang Aksenna bisa semudah itu jealous. Lagipula I’m just your staff, aku gak sepede itu untuk membuat kamu cemburu. Buat apa?”

Kata-katanya terdengar tegas. Tapi dingin yang merayap di tulang-tulangnya mulai tak tertahan Tanpa sadar, jari-jarinya yang dingin perlahan menggenggam kain cardigan di sisi Aksenna—seperti anak kecil yang mencari perlindungan.

Kedua tubuh mereka kini benar-benar rapat. Raia bisa mendengar detak jantung Aksenna yang cepat di telin
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Cinta Jatuh Tempo   Berasa Beneran Kangen

    Hening sejenak dari seberang telepon. Raia bisa mendengar napas berat Aksenna yang tertahan."Bukan gitu maksudku, Raia," sahut Aksenna akhirnya. Suaranya merendah. "Aku cuma gak suka kamu mengabaikan telepon saya berjam-jam murni karena kamu lagi sama dia?" "Entah kamu sengaja melatih kesabaran aku, atau apa?Aku baru beberapa hari di Bali, dan kamu langsung pergi nonton sama dia?"Raia memandangi pantulan dirinya di cermin wastafel. Ia membetulkan beberapa helai rambutnya yang lepas, mencoba mempertahankan kontrol suara agar tetap tenang."Mana ada aku ngetes, atau nguji kesabaran!" tegur Raia pelan tapi tajam. "Nevan itu partner kerja aku dari sebelum aku sama kamu ada di posisi ini. Kita cuma nonton film dan ngopi santai di mall. Nggak ada yang perlu kamu bikin rumit.""Aku nggak suka cara dia melihat kamu, Rai," potong Aksenna cepat, tanpa berusaha menyembunyikan keposesifannya. "Dan aku lebih nggak suka kamu membagi hari libur kamu sama pria lain pas aku nggak ada."Raia mend

  • Cinta Jatuh Tempo   Hidupku Bukan Kamu Aja

    Lampu bioskop yang perlahan menyala terang memaksa Raia untuk segera melepas sisa-sisa atmosfer kelam dari film Pangku yang baru saja mereka tonton. Tapi bayangan Sartika masih tertinggal di dadanya—perempuan yang diamnya terlalu rapi, tapi lukanya sampai ke kursi penonton. Ada sisa rasa gemas, juga sesak kecil, seperti mood film yang belum selesai meski layarnya sudah terang. “Berat bener kayanya, cuss kita cari kopi.” Ajakan Nevan mendistraksi lamunannya. Raia mengangguk pelan, beranjak mengikuti Nevan keluar studio sambil membawa perasaan berat yang menggantung di dadanya.Mereka menyusuri lobi yang masih berbau butter popcorn, keluar ke sisi mall yang lain lalu memilih kedai kopi kecil di sudut mall. Nevan memesan Americano untuknya dan satu signature coffee khas coffee shop tersebut untuk Raia. “Surpisingly ini enak, mau sungkem deh sama yang bikin minuman ini. Mont Blanc di mix dirty latte. Aihh, mantap!”“Baguslah, bisa balikkin mood kamu lagi.”Raia tergelak. “I love that

  • Cinta Jatuh Tempo   Miles Apart, Hearts Aligned

    Suara napas Raia di seberang sana mendadak terdengar sedikit memberat. "Do something apa maksud kamu? Kamu mabuk ya? Aku lagi rebahan, mau tidur.”Aksenna memejamkan matanya, membiarkan bayangan tubuh Raia yang sedang berbaring di atas tempat tidur dengan kuncir rambutnya yang acak-acakan memenuhi isi kepalanya. "Aku gak semabuk itu, Raia. Aku tahu persis aku lagi bicara sama siapa," bisik Aksenna. Pria itu memejamkan mata, membayangkan wajah ketus Raia yang pasti sedang mengerucutkan bibir saat ini. "Tinggal bilang kalau kamu juga kangen aku. Susah banget?" desak Aksenna dengan suaranya yang mulai berat. Raia mendengus pelan di ujung telepon, membalikkan posisinya menjadi telentang dan menatap langit-langit kamar yang remang. Raia tahu apa yang ada di kepala Aksenna saat ini. "Umm … kangen," aku Raia akhirnya, suaranya melembut. "Puas?" ucapnya seraya meraba laci meja rias, memasang earphone nirkabelnya agar bisikan Aksenna bisa terdengar tanpa celah, langsung di dalam kepalanya

  • Cinta Jatuh Tempo   Do Something For Me ...

    Aksenna melangkah keluar dari aula gala dinner lintas perusahaan yang bising, mengabaikan pening yang mulai berdenyut di pelipisnya akibat sisa wiski yang ia tenggak. Alkohol mulai bekerja memengaruhi fokusnya, membuat kerah kemejanya terasa mencekik. Begitu tiba di area lobi lift VIP yang relatif sunyi, ia menekan tombol naik, berniat segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ting.Pintu lift terbuka. Aksenna melangkah masuk, namun sebelum pintu geser berlapis kuningan itu menutup sempurna, sebuah tangan berkuku marun menahannya. Vika menyelinap masuk sebelum sensor pintu sempat bereaksi.Aksenna membetulkan letak kacamatanya, menatap lurus ke arah perempuan dengan dress marun itu. "Ngapain kamu? Lantai kamar saya bukan area publik." "Udahlah, Aksenna. Stop bersikap formal sama aku.” Vika melangkah maju, menatap langsung ke manik mata Aksenna dengan binar menantang yang berani. Gaun satin merah marunnya kini nyaris bergesekan dengan celana tuksedo Aksenna. Sudut bibirnya te

  • Cinta Jatuh Tempo   Oh, Jadi Vika Itu ...

    Dira meloloskan siulan panjang sambil meneguk minumannya. Pandangannya jahil menatap Raia yang bersandar lesu di tumpukan bantal sofa.Raia hanya mendengus, memutar bola matanya pelan menanggapi godaan sahabatnya itu. Ia menyilangkan kaki, lalu mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak."Tapi sekarang yang penting bukan itu, I had a fact, fresh banget, came from A1, alias bos gue, kalau Vika anak komisaris. Raia menyodorkan ponselnya yang masih menampilkan foto Vika dengan gaun satin marunnya kepada Dira.Perempuan berambut ikal itu hampir tersedak minuman kalengnya. Ponsel Raia langsung disambar, matanya membelalak lebar memandangi layar."Demi apa?!" pekik Dira sambil memperbesar foto Vika yang tampak begitu elegan di samping komisaris Nusabuy."Wait, wait ... Vika? Vika yang kemaren lo ceritain lompat jalur koordinasi, gak laporan ke elo?”"Iya, dia," sahut Raia, mengambil kembali ponselnya. "Pak Prayoga baru aja ngenalin dia sebagai putri bungsunya di gala dinner Bali malam in

  • Cinta Jatuh Tempo   Lembur Untuk Anabul

    Raia bergegas keluar lift, melangkah cepat menuju unit Aksenna. Bertahun-tahun kerja dan menghabiskan banyak waktu untuk overtime, kali ini, waktu lemburnya ia pakai untuk : finish up the last task for today—taking care of her boss's cat. Rupanya karir Raia peningkatannya sampai ke urusan taking care anabul kesayangan bos— selain handle personal life-nya dan tentu aja sampai kebutuhan biologisnya bosnya itu. ‘I'm kind of sick of it, but why do I seem to like it more and more? Ugh!’Di sudut ruang tengah yang luas dan sunyi itu, Miko, kucing persia berbulu putih abu-abu milik Aksenna, tampak tenang mengunyah pakan kaleng biru dari mangkuknya. Raia mendudukkan diri di sofa, menghela napas panjang sembari memandangi layar televisi yang menyala tanpa benar-benar ia tonton.Pikirannya mendadak berputar kembali pada ucapan Aksenna di ruang rapat siang tadi.‘Aku sebenarnya mau ajak kamu, seperti yang kamu tulis di kontrak kamu. You as my social climber, untuk acara-acara besar kantor.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status