LOGINPukul dua siang, ruang rapat utama lantai dua belas sudah beraroma kopi basi dan ketegangan yang pekat.Di ujung meja panjang berlapis kaca hitam, aku duduk dengan map dokumen terbuka dan pena di tangan. Di sekelilingku, kepala divisi logistik, manajer supply chain, serta tiga orang staf operasional menatap layar proyektor dengan ekspresi masam. Perintah Aksenna untuk memangkas timeline peluncuran Kronos menjadi H-7 dari jadwal semula benar-benar sukses membuat tekanan darah satu ruangan melonjak."Kalau deadline ditarik seminggu lebih cepat, Ra, itu artinya buffer time buat bongkar muat di gudang Distrik Selatan kepangkas habis," protes Hardi, kepala divisi logistik, sambil melipat tangan di dada. Wajahnya mengeras. "Kita taruhan risiko bottleneck parah di inbound. Belum lagi armada truk vendor yang belum tentu ready dadakan."Aku mengangguk, memahami betul validitas argumen Hardi. Sebagai penanggung jawab utama, aku tahu angka-angka di atas kertas itu tidak semudah membalik telapa
“I told you, don’t get involved with any man!” aku memperingatkan diri sendiri.Tapi teguran itu terdengar sia-sia. Aku tahu betapa rapuhnya pertahanan yang kubangun setiap kali manik mata kelam Aksenna menatapku. Semudah itu aku terbuai, larut ke dasar timbunan gairah yang lama tak terusik. Meladeni pria yang memiliki api sekobar itu.Aku menarik napas panjang. Merapikan kerah blazer. Memastikan topeng profesionalismeku terpasang sempurna. Lalu aku mendorong pintu toilet dan melangkah keluar.Pukul sembilan lewat empat puluh. Lantai dua belas sudah sibuk dengan bunyi ketukan kibor dan suara mesin printer. Di sudut meja pantri mini dekat jendela besar, Nevan—anak divisi Kreatif yang entah kenapa sejak pagi sudah nyangkut di lantai ini demi memantau visual campaign Kronos—tampak sedang bersandar sambil memegang cangkir kertas."Sumpah ya, kalau brief dari divisi merchant soal brand Kronos ini masih minta revisi visual tiga kali lagi, gue bakal resign jadi manusia dan milih jadi cicak
Aku tertegun, kehilangan kata-kata untuk membalas klaim sepihak yang mendadak terasa seperti rantai baru di leherku.Jantungku berdegup liar, tatapannya selalu begitu—menelanjangiku, bahkan di tengah kemacetan pagi ini.Lampu lalu lintas di depan berubah hijau. Aksenna menarik kembali tubuhnya ke posisi semula, menginjak pedal gas, dan melajukan kendaraan membelah sisa jalan menuju gedung perkantoran Distrik Utama. Sepanjang sisa perjalanan yang singkat itu, keheningan kembali menguasai kabin mobil, namun kali ini atmosfernya terasa berbeda—lebih panas dan sarat akan riak emosi yang tertahan.Begitu mobil memasuki area parkir VIP dan mesin mati, kami tahu bahwa waktu privat kami telah habis. Di luar kaca mobil yang gelap ini, Nusabuy menuntut profesionalisme.'Back to reality.'Aksenna melepaskan sabuk pengamannya. "Draf kontrak dari Gavin kemarin sudah saya pelajari. Kamu bisa minta tim admin cetak revisinya, lalu bawa ke ruangan saya jam sepuluh nanti, Raia."Aku cuma mengangguk
Raia memalingkan wajah, mendengus pelan mendengar kalimatku. Alih-alih mereda, dia justru menatapku dengan sudut bibir terangkat sinis—sebuah senyuman sarkas yang sangat khas dirinya saat mencoba membangun kembali dinding pertahanan."Yakin, aku gak masuk kantor, bisa istirahat tenang di sini? Sama kamu? I'm not sure," sindirnya telak.Matanya turun sekilas, melirik lenganku yang masih mengunci pinggangnya, lalu kembali menatapku dengan binar menantang yang sialnya selalu berhasil menyulut sesuatu di dalam dadaku. Dia sedang mengingatkanku tentang apa yang terjadi semalam, dan bagaimana "istirahat" bukanlah agenda utama jika aku berada di dekatnya.Aku terkekeh rendah, sebuah dengusan geli yang tidak bisa kutahan. Aku memajukan wajah, sengaja mengikis jarak hingga ujung hidung kami nyaris bersentuhan, membiarkannya merasakan embusan napas pagiku."Kamu meragukan kontrol diri saya, hm?" bisikku, sengaja merendahkan suara hingga menjadi geraman halus di dekat telinganya. Ibu jariku
POV AKSENNAMungkin aku sudah tidak waras. Semua yang kulihat dalam diri Raia juga tubuhnya membuatku gila. Cahaya matahari pagi menyelinap tipis di sela gorden, memantulkan pendar keemasan di atas kulitnya yang halus. Perempuan itu masih terlelap di sampingku, bertumpu pada bantal yang agak miring, dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya sebatas dada. Sisa-sisa pergulatan kami semalam tercetak jelas di sana—tanda kemerahan samar di sekitar tulang selangkangnya yang kukecup tanpa ampun. Aku bertopang dagu, memandangi wajah damainya saat tidur. Tanpa benteng pertahanan, tanpa kilat mata menantang yang semalam. Sialan. Mengingat kata-katanya semalam membuat dadaku kembali berdenyut nyeri. Budak. Transaksi. Utang.Bagaimana bisa isi kepalanya sekeras dan sekelam itu? Bagaimana bisa dia mengira aku mengulurkan tangan, menulis cek, dan menariknya ke dalam hidupku hanya untuk menjadikannya barang gadaian? Aku tahu persis bagaimana keluarganya yang keparat itu memperlakukannya s
“Lepas, Senna...” Raia mendesis, berusaha meronta saat tangan Aksenna mendadak mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan mendorong tubuhnya kembali rebah ke kasur tanpa perlawanan berarti. "Jangan sok tahu!"“Saya tahu persis,” potong Aksenna tajam, mengurung tubuh Raia di bawahnya.Dadanya bergemuruh hebat. Kalimat Raia barusan menghantam ulu hatinya telak-telak. Budak. Transaksi. Utang. 'Jadi selama ini, di balik setiap desah napas dan kehangatan yang mereka bagi, perempuan di bawah kurungannya ini melihatnya sebagai seorang rentenir?''Sialan!'Aksenna menatap manik mata Raia yang menyala menantang. Ia tahu betul latar belakang perempuan itu—ia adalah orang yang sama yang menulis cek seratus lima puluh juta untuk melunasi kekacauan yang dibuat kakak Raia di kantornya beberapa waktu lalu. Ia tahu persis bagaimana keluarga Raia memperlakukan perempuan itu tidak lebih dari sekadar mesin ATM berjalan, penopang ekonomi yang seluruh harga dirinya diukur dari lembaran uang.







