ログインMama Sally melangkah maju, meletakkan tangannya di lengan Andrew dengan gestur menenangkan yang terasa sedikit dipaksakan. Ia menatap Andrew dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa Andrew hanya salah paham karena tidak tahu "rencana besar" di balik pertemuan ini."Andrew, Nak... tolong dengarkan Mama dulu," ujar Mama Sally dengan nada suara yang lembut namun penuh penekanan. "Jangan berpikiran buruk pada Maya. Dia tidak bermaksud mengabaikan Sally atau menguasai dapur."Mama melirik Maya yang masih tertunduk, lalu kembali menatap Andrew. "Kamu harus tahu, Maya ini sebenarnya calon pasangan Vino. Mereka sedang dalam masa pendekatan yang serius. Mama sengaja mengundang mereka berdua ke sini supaya mereka punya waktu lebih banyak untuk berinteraksi di lingkungan keluarga."Ia menghela napas, seolah memaklumi kecemburuan yang ia asumsikan dirasakan Andrew. "Maya mungkin terlihat terlalu bersemangat tadi, tapi itu semua karena dia ingin menunjukkan sisi terbaiknya di depan Vino. Jadi,
Setiap lapisan kulit bawang yang dikupas Sally seolah mewakili dinding pertahanan dirinya yang perlahan runtuh. Bau tajam bawang mulai menusuk mata, atau mungkin itu hanya alasan bagi air mata yang sudah mendesak ingin keluar."Tante, ini bumbunya sudah harum, ya?" tanya Maya sambil mengaduk isi wajan dengan gerakan yang luwes, persis seperti yang dipuji Mama tadi.Mama Sally mendekat, menghirup aroma masakan dengan wajah berseri. "Wah, pas sekali aromanya! Memang beda ya kalau tangan yang sudah biasa masak yang pegang sudip. Sally, lihat itu, motong bawangnya yang rapi dong, jangan asal-asalan begitu."Sally terdiam, namun genggamannya pada pisau kecil itu semakin erat. "Iya, Ma," jawabnya singkat, nyaris berupa bisikan.Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat ke arah dapur. Itu Vino."Wah, ramai sekali di sini. Masak apa sampai harumnya tercium sampai depan?" tanya Vino sambil tersenyum ramah, matanya bergantian menatap Mama Sally dan Maya.Mama menyambutnya dengan antusias. "Ini
"Tapi Ma..." suara Sally terdengar lirih, nyaris seperti bisikan."Sudah, tidak ada tapi-tapi," potong Mama Sally tegas namun tetap dengan senyum di wajahnya. "Vino, tolong letakkan itu di meja dapur ya. Dan Maya, Tante benar-benar pangling melihatmu. Kalau dilihat-lihat lagi, tinggi badanmu itu pas sekali kalau jalan di samping Vino. Benar kan, Vino?"Vino hanya bisa memberikan senyum kaku yang dipaksakan. "Iya, Tante... Maya memang banyak berubah."Kalimat singkat dari Vino itu seolah menjadi palu godam bagi Sally. Di ruangan itu, harapan Sally yang selama ini ia simpan rapi terasa perlahan runtuh, sementara sang mama terus menata panggung untuk menyatukan dua orang yang menurutnya adalah 'pasangan serasi' yang baru."Ah, Tante bisa saja. Saya jadi malu," ujar Maya sambil tertawa kecil, nada suaranya terdengar jauh lebih ceria dan ringan. Ia melirik Vino dengan binar mata yang tak lagi disembunyikan. "Tapi memang benar sih, Tante. Tadi waktu masuk, saya juga sempat kaget lihat Vino
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku dan Andrew," bisik Sally, suaranya bergetar antara amarah dan luka.Maya tidak bergeming. Ia justru menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada dengan ketenangan seorang pemenang. "Aku tahu apa yang kulihat, Sal. Dan aku melihat seseorang yang sedang berusaha keras meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sudah bahagia."Tepat saat itu, pintu belakang terbuka. Cahaya matahari pagi merangsek masuk bersama sosok Vino yang menyampirkan lap kotor di bahunya."Hei, ada yang punya obeng bunga? Milik Rian agak dol," kata Vino ceria, namun langkahnya terhenti saat merasakan atmosfer berat yang menyelimuti ruangan. Pandangannya beralih dari Maya ke Sally yang tampak pucat. "Kalian... baik-baik saja?"Sally dengan cepat memalingkan wajah, menghapus jejak emosi di matanya. "Aku masuk dulu. Kepalaku tiba-tiba pening."Tanpa menunggu jawaban, Sally melangkah pergi, sengaja menghindari kontak mata dengan Vino. Di meja makan, Maya hanya tersenyum tipis ke arah
Vino duduk dengan bahu yang tampak tegang, namun posisinya jelas: ia berada di sisi Sally, menciptakan jarak fisik yang lebih jauh dengan Maya. Rian segera menyodorkan piring roti panggang ke depan Vino dengan semangat yang sedikit berlebihan."Nah, gitu dong, Vin. Cobain nih, selainya buatan Mama sendiri," ujar Rian sambil melirik adiknya, mencoba memberikan dukungan moral.Maya tidak membiarkan momen itu hilang begitu saja. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, berusaha masuk ke dalam ruang pandang Vino."Kamu masih suka kopi tanpa gula, kan, Vin? Aku ingat dulu di kantin SMA, kamu selalu bilang kopi manis itu merusak jati diri biji kopinya." Maya tertawa kecil, mencoba menarik Vino kembali ke masa lalu di mana Sally mungkin belum menjadi bagian penting dari hidupnya.Vino hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang tidak sampai ke mata. Ia tidak menoleh ke arah Maya, melainkan melirik cangkir teh di depan Sally. "Aku sedang mencoba mengurangi kafein, May. Sekarang lebih sering m
Pagi itu, aroma nasi goreng buatan Rian belum sempat memenuhi ruangan ketika ketukan pintu yang percaya diri terdengar. Sally, yang masih mengenakan piyama dengan rambut sedikit berantakan, membuka pintu dan membeku. Di hadapannya berdiri Maya, tampak segar dengan pakaian modis dan koper kecil di sampingnya."Maya? Kamu... dari Bandung pagi-pagi begini?" suara Sally tercekat.Maya tidak menunggu dipersilakan. Ia melangkah masuk dengan senyum yang tampak manis namun menyimpan ketajaman. "Aku naik kereta paling pagi, Sal. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku kalau tidak segera kuselesaikan."Di meja makan, setelah Rian dengan bingung menyajikan teh hangat, Maya langsung meletakkan cangkirnya dan menatap Sally lekat-lekat."Aku tidak ingin berbasa-basi, Sal. Kita sudah kenal sejak SMA," ujar Maya tenang. "Aku tahu Vino masih sendiri. Dan aku ke sini untuk memberitahumu kalau aku akan mengejarnya lagi. Kali ini, aku akan melakukan apa pun untuk memikat hatinya."Sally terdiam. Kata-kata
Pertanyaan Dinda tidak datang seperti badai, melainkan seperti gerimis yang perlahan menembus celah-celah payung Sally. Ia tidak sedang menghakimi sally; ia sedang menuntunnya pulang ke bagian diri Sally yang paling ia takuti. Dinda memajukan tubuhnya, menatap lekat mata Sally yang sembap. Ia tid
Cahaya biru dari panel intrumen memantul di wajah Andrew yang kaku, membuatnya tampak seperti porselen yang retak. Lampu jalanan Bandung melintas seperti garis cahaya yang tak punya ujung, sama seperti pertanyaan Andrew yang tak kunjung menemukan jawaban. Andrew memindahkan gigi dengan dengan s
“Vino benar-benar kebetulan lewat, Sal?” Tanya Dinda pelan, suaranya hampir tenggelam diantara suara teman-teman yang lain, namun matanya mengunci mata Sally dengan tajam. “Atau sebenarnya dia sudah di sini bersamamu sejak awal?” Pintu mobil tertutup, mengunci Sally dalam ruang sempit bersama
Ban belakang sebelah kanan ya yang bocor? Aku ada kunci pas dan dongkrak cadangan di motor. Dari pada kita bahas kenapa aku di sini, lebih baik kita ganti bannya sekarang supaya kalian nggak kemalaman sampai penginapan.” Lima teman Sally mulai teralihkan. Rasa lelah dan keingin untuk segera beris







