Beranda / Romansa / Cinta Karena Ciuman / Bab 5: Batas yang Terang

Share

Bab 5: Batas yang Terang

Penulis: JemariAra
last update Tanggal publikasi: 2026-03-02 17:08:40

Malam hari setelah Andrew pulang dengan dingin, sunyi hanya suara detak jam dinding. Sally berdiri di depan cermin riasnya, tergeletak kunci cadangan rumah Vino yang tadi ia bawa pulang, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan besok.

Sally menatap pantulan diri nya. Ia terlihat berantakan_maskaranya sedikit luntur, matanya lelah. Ia memegang kunci itu, meremas erat sampai pinggiran besi kunci itu menekan telapak tangannya.

“Sampai kapan, Sal? Sampai kapan kamu mau jadi pahlawan buat semua orang, tapi jadi penjahat buat diri kamu sendiri” Sally berbisik pada pantulannya di cermin. Ia tertawa getir, matanya berkaca-kaca.

“Kamu takut Vino ngerasa terbuang? Atau kamu takut kehilangan rasa ’di butuhkan’ itu? Kamu tahu Andrew bener. Kamu tahu batasan itu perlu. Tapi kenapa rasanya kaya kamu lagi mutus urat nadi kamu sendiri?”

“Andrew butuh bukti kalau dia prioritas. Vino butuh tahu kalau kamu bukan lagi anak kecil yang bisa dia jagain selamanya. Dan kamu…kamu butuh berhenti nyari ijin mereka buat bahagia” suara Sally meninggi, penuh penekanan, Sally meletakkan kunci itu dengan keras ke meja.

“Besok. Nggak ada lagi ‘kasihan’. Nggak ada lagi ‘nggak enak’. Kalau kamu nggak bisa memilih salah satu, kamu bakal kehilangan keduanya.

Dan yang paling parah…kamu kehilangan diri kamu sendiri. Dengan penuh keyakinan Sally pun pergi ke rumah vino berniat untuk mengembalikan kunci itu kepada vino.”

Sore itu Andrew yang sudah merasa lebih tenang mencoba datang ke rumah Vino dengan niat untuk meminta maaf atas kejadian sore kemarin di rumah Sally perihal martabak dan rasa cemburu nya yang berlebihan, sekalian dia pun ingin berbicara memperingatkan Vino agar ada jarak dengan Sally.

Dia tahu, sebenarnya dia tak perlu melakukan ini jika dia mempercayai Sally, tapi…bisa saja kan kalau Sally merasa gak enak dengan Vino? Maka dari itu, Andrew berinisiatif melakukannya untuk Sally sebagai pria dewasa dan juga seorang kekasih.

Sengaja Andrew tidak meberi kabar terlebih dahulu, tetapi saat Andrew henda mengetuk pintu, dia melihat di ruang tamu rumah Vino, nampak Sally sedang meletakan cangkir teh untuk ibu Vino di meja. Suasana hangat itu tiba-tiba pecah oleh suara langkah kaki cepat di teras.

Andrew berdiri di ambang pintu yang terbuka napas nya memburu, mata tertuju pada kunci yang tergeletak di meja samping Sally,

“jadi benar kamu masih punya akses bebas ke sini Sal? Padahal aku sudah bilang aku gak nyaman” Andrew dengan napas yang menderu penuh emosi.

Sally terlonjak kaget, namun berusaha tenang “Bang Andrew? Aku Cuma bantuin Tante Melly sebentar” Sally mencoba memberi penjelasan pada Andrew

“Bantuin atau memang nggak mau lepas mau lepas dari sejarah kamu dan dia? Kamu punya kunci rumah pria lain, Sal. Dimana posisi aku dalam hubungan ini?” Andrew memotong suara nya dingin

“Aku paham kenapa kamu marah, Bang. Dan aku minta maaf karena gak jujur soal ini dari awal” Walau terbujuk emosi tapi berusaha menahan diri. Ia mengambil kunci itu dan menatap Andrew dalam-dalam. Kemudian Sally menatap Vino yang baru saja muncul dari arah dapur.

“Vin…aku rasa aku harus balikin kunci ini sekarang” ujar Sally, Vino terdiam menatap Sally dan Andrew bergantian dengan raut wajah terluka.

Sal, tapi Mama—-” Vino dengan raut wajah kecewa

“Aku sayang sama kalian, tapi aku juga harus belajar bangun rumah tanggaku sendiri sama Andrew.

Dengan memgang kunci ini rasa nya belum sepenuhnya ‘pindah’ ke hidupku yang baru. Aku ingin Andrew merasa tenang dan percaya sama aku, Karena dia adalah masa depanku”. Ucap Sally tegas dan lembut.

Sally berjalan mendekati Andrew, matanya menunjukan kelelahan namun juga ketegasan

“Ayo kita pulang, Bang Aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan”. Tegas Sally

Andrew hanya mengangguk kaku. Ia menatap ke arah pintu rumah tempat Vino menghilang, lalu beralih pada Sally. Wajahnya datar, tidak ada pelukan atau kata-kata manis

“Baguslah. Aku tunggu di mobil.” Andre berbalik tanpa menunggu Sally. Langkah kakinya terdengar berat di atas kerikil teras. Tidak ada rasa menang yang terpancar, hanya ada keheningan yang menyesakkan.

Sally berdiri terpaku sejenak. Ia melihat ke arah tengannya yang kosong—kunci itu berpindah sudah tangan, ia tetap memilih masa depan nya, tapi entah mengapa, hatinya terasa seperti ruangan yang baru saja di kosongkan.

“Ma…martabaknya sudah dingin. Nanti biar Vino panasin lagi ya”. Suara Vino terdengar sayup dari dalam rumah, memanggil ibunya.

Sally menarik nafas panjang, menghapus setetes air mata yang hampir jatuh, lalu melangkah mengikuti Andrew ke mobil. Ia tahu, mulai hari ini, dunianya tidak akan pernah sama lagi.

Background suara Vino di belakangnya terus terngiang-ngiang, dunia di sekitarnya juga terasa sunyi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 105: Pagar Kasta dan Hati yang Hancur

    Sally berdiri kaku. Suara parau di luar gerbang tadi bagaikan silet yang merobek keheningan butik yang steril. Ia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi patung porselen.Andrew baru saja hendak memanggil pelayan untuk membawakan tiara, namun Sally bergerak lebih cepat. Ia tidak peduli pada ekor gaunnya yang panjang dan menyapu lantai marmer.Dengan gerakan yang tiba-tiba, ia berbalik arah, menjauh dari cermin dan menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan."Tunggu, Bang. Aku... aku merasa sesak. Aku butuh udara sebentar." Sally suaranya bergetar, tapi tegas."Sally, AC di sini sudah diatur dengan suhu terbaik. Jangan bertingkah. Kembali ke podium." Andrew langkah kakinya terdengar berat mendekat.Sally tidak berhenti. Tangannya menyentuh gagang pintu kaca yang berat. Ia melihat ke arah gerbang.Di sana, ia melihat keributan kecil: Vino yang ditarik paksa oleh dua satpam, dan sebuah kertas putih—surat itu—terjatuh di atas aspal, terinjak oleh sepatu bot penjaga."Berhenti! Jangan kas

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 104: Surat di Seberang Kasta

    Vino mengetuk kaca jendela mobil Andrew. Tok! Tok! Suaranya lemah, kalah oleh deru angin, namun getarannya sampai ke jantung Sally."Sally! Sekali saja... bicara!" Vino gerak bibirnya terbaca dari balik kaca.Sally memalingkan wajah. Ia tak sanggup melihat tangan Vino yang gemetar memegang kemudi motor sambil terus menatapnya."Abang, tolong... lebih cepat." Sally berbisik, suaranya tercekat.Andrew tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang dingin. Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil mewah itu melesat, meninggalkan motor tua Vino yang mulai kehilangan tenaga di tanjakan jembatan layang.Sosok Vino mengecil di spion, tertutup oleh kepulan asap hitam truk-truk besar.Mobil berhenti dengan halus di depan sebuah butik megah berpilar putih. Tempat itu terlihat seperti kuil, namun bagi Sally, itu adalah rumah duka bagi impiannya. Pelayan butik sudah berdiri rapi menyambut mereka.Andrew turun, lalu membukakan pintu untuk Sally dengan gerakan yang sangat sopan, namun posesif.Saat

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 103: Iring-iringan Bayangan

    Di atas meja makan, uap kopi Mama mengepul tipis, menari-nari di antara piring porselen yang berkilau. Cahaya pagi yang masuk lewat celah gorden tampak seperti jeruji emas yang membelah ruangan.Sally masih berdiri, tangannya memegang sandaran kursi kayu hingga sendi-sendi jarinya memutih. Ia menatap ibunya—wanita yang tampak seperti patung marmer; indah, kokoh, namun tak bergeming.“Apakah Mama pernah sekali saja... melihat ke dalam mataku? Bukan melihat masa depan yang Mama susun, tapi melihat aku?" Sally suaranya parau, memecah kesunyian yang tajam.Mama tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Denting porselen itu terdengar seperti lonceng kematian bagi harapan Sally.Mama menatap lurus ke arah liontin di lehernya, bukan ke arah Sally"Aku melihatmu setiap kali aku menutup mata, Sally. Aku melihatmu kelaparan. Aku melihatmu kedinginan. Itu sudah cukup untuk membuatku berhenti peduli pada air matamu hari ini."Mama berdiri. Kursinya berderit pelan di atas

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 102: Waris Janji yang Membelenggu

    Dua nyawa. Hanya itu yang tersisa darinya. "Besarkan mereka dengan layak, jangan biarkan mereka memohon pada dunia," bisik suaminya malam itu. Janji itu bukan sekadar kalimat, itu adalah bebannya yang paling berat sekaligus kompas hidupnya.Dia sudah bersumpah pada Papa Rian dan Sally, dan dia tidak akan membiarkan kemiskinan atau kesulitan menyentuh ujung jari mereka sedikit pun.Mama meraba liontin kecil di lehernya, sebuah perhiasan tua yang menyimpan foto kecil mendiang suaminya.Ia tahu Sally memandangnya sebagai tiran. Ia tahu Rian mungkin merasa tertekan oleh ekspektasi besar yang ia pikul.Namun, setiap kali Mama melihat kemapanan Andrew, ia melihat sebuah perisai. Baginya, Andrew bukan sekadar tunangan untuk Sally, melainkan janji yang terpenuhi bahwa Sally akan memiliki pundak yang kokoh untuk bersandar—sesuatu yang hilang dari hidup Mama terlalu cepat."Papa akan bangga melihat kalian sekarang," bisik Mama hampir tak terdengar, suaranya serak oleh kerinduan yang ia kubur da

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 101: Dibalik Sutra yang Dingin

    Sally masih terpaku di kursinya, sementara Mama perlahan bangkit, berjalan mengitari meja hingga berdiri tepat di belakang Sally.Mama meletakkan tangannya di bahu Sally. Sentuhan itu tidak hangat; itu adalah sebuah klaim kepemilikan."Penasihat itu bilang kalian harus saling terbuka, bukan?" Mama berbisik tepat di telinga Sally, napasnya berbau mint dan dingin.Tapi keterbukaan tanpa kendali hanyalah cara lain untuk menghancurkan masa depanmu sendiri, Sayang."Sally memejamkan mata. Di luar, hujan yang mencuci aspal terdengar semakin menderu, seolah memanggilnya untuk lari dan hilang di dalam kegelapan yang basah, jauh dari kotak porselen yang kini terasa mulai retak.Mama perlahan melepaskan tangannya, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Ia menatap lampu belakang mobil Andrew yang perlahan memudar di balik tirai hujan."Andrew pria yang baik," ucap Mama tanpa menoleh. "Dia punya kesabaran yang luas, Sally. Tapi jangan lupa, kesabaran pria juga punya b

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 100: Pilu dalam Piring Perak

    "Aku akan makan, Ma," jawab Sally sambil mengangkat garpunya dengan tangan yang masih terasa dingin. "Tapi jangan salahkan aku jika setiap suapannya terasa seperti menelan kerikil."Sally menusuk sepotong daging wagyu di piringnya. Teksturnya lembut, namun di matanya, serat daging itu tampak seperti jalinan nasib yang dipaksakan.Sally memotong daging dengan gerakan yang terlalu presisi, menciptakan decit pelan ujung pisau pada piring.“Mahal, katanya. Mama mengukur kebahagiaan dengan harga per gram, seolah-olah emas bisa menyumbat lubang di dadaku. Dia ingin aku menelan kemewahan ini sampai aku tersedak dan lupa cara mengeja kata 'kebebasan'.” Batin Sally bergumam."Daging ini sempurna, Ma," ucap Sally lirih. Suaranya datar, nyaris seperti gumaman di dalam katedral kosong.Sally menyuapkan potongan kecil itu ke mulutnya. Ia tidak mengunyah dengan segera, membiarkan rasa gurih itu menjadi hambar di lidahnya."Tapi benarkah rasa bisa dibeli?" Sally menatap lurus ke arah lampu kristal y

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 90: Sajak Salah Alamat

    Rian mengepalkan tangan di saku celana bahan yang licin. Matanya menatap aspal yang masih menyisakan sedikit kepulan asap tipis dari knalpot yang lewat."Kau selalu memilih debu daripada emas, Sal," gumam Rian, suaranya hilang ditelan angin malam yang getir.Ia tidak langsung mengejar. Ada pergolak

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 72: Perjamuan dalam Sandiwara

    Setiap lapisan kulit bawang yang dikupas Sally seolah mewakili dinding pertahanan dirinya yang perlahan runtuh. Bau tajam bawang mulai menusuk mata, atau mungkin itu hanya alasan bagi air mata yang sudah mendesak ingin keluar."Tante, ini bumbunya sudah harum, ya?" tanya Maya sambil mengaduk isi wa

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 2: Galau

    Lampu kota yang ditatap Vino dari jendela apartemennya adalah lampu yang sama yang mengiringi perjalanan taksi Sally menembus kemacetan Jakarta yang menyesakkan. Namun, bagi Sally, cahaya-cahaya itu tampak kabur, terbiaskan oleh lapisan air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya. Di dala

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 1: Kiss Your Best Friend

    “Vino… bikin video yang lagi viral itu, yuk!” seru Sally antusias sembari mengeluarkan ponselnya. ​“Video apaan?” jawab Vino acuh tak acuh. Matanya tak beralih dari layar ponsel yang digenggam horizontal. Jemarinya lincah menekan tombol di layar—ia sedang sibuk di tengah pertempuran Mobile Legend

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status