Teilen

Bab 3: Cemburu

last update Zuletzt aktualisiert: 02.03.2026 17:01:30

“Ada apa sayang, siapa yang menghubungi mu?” Tanya Andrew sembari menatap pada tas Sally

“Ah, itu biasalah Bang, mungkin si Vino yang penasaran ingin segera melihat hasil editan vidio tadi” Dengan dada yang penuh debar dan wajah pucat pasi sally menjawab pertanyaan Andrew.

Sally tahu jika Andrew bukan tipikal orang yang mudah percaya.

“Vino lagi?” dengan sedikit wajah yang kurang ramah, nampak jelas tersirat wajah kesal Andrew. Baru saja bertemu sudah mengganggu lagi.

Sally dapat melihat perubahan air muka tunangannya. Dia langsung merogoh tasnya mengambil ponsel dan mematikannya.

“Abang marah?” tanya Sally lembut.

"Marah? Apa aku pernah melarangmu?" Suara Andrew terdengar berat, ada nada getir yang tertahan di sana. "Aku tidak keberatan kamu pergi dengan Vino. Tapi saat aku ada di sini, bisa tidak fokusmu hanya untukku?"

Sally menghela napas, merasa suasana mulai tidak enak. "Bang... kami tadi benar-benar hanya mengerjakan tugas. Tidak ada yang lain."

"Aku percaya padamu, Sal! Aku sangat percaya," potong Andrew cepat, matanya menatap tajam ke arah Sally." Tapi aku tidak percaya pada sahabatmu itu!"

"Maksud Abang apa?" Sally mulai membela diri, suaranya naik satu oktav. "Kami ini tumbuh besar bersama seperti saudara, Bang! Kalau memang ada niat untuk pacaran, kami sudah melakukannya dari dulu, bukan sekarang!"

Andrew terdiam sejenak. Ia menatap Sally dengan tatapan lelah—tatapan seorang pria yang sudah terlalu sering menelan kecemburuannya sendiri.

"Sally... dengar baik-baik. Tidak pernah ada persahabatan yang benar-benar murni antara pria dan wanita," ucap Andrew pelan namun penuh penekanan.

"Aku sepakat dengan itu, Bang! Aku tahu teorinya," sahut Sally cepat. "Tapi kami beda! Kasusku dan Vino itu pengecualian!"

"Sally... sebenarnya ini bukan pertama kali aku komplain tentang sahabatmu itu. Menurutku, dia sudah melampaui batas," ucap Andrew dengan nada rendah yang menuntut penjelasan.

Sally mengerutkan kening, menatap Andrew tidak mengerti. "Maksud Abang melampaui batas itu bagaimana?"

"Aku juga punya sahabat perempuan, Sal. Tapi begitu aku bertunangan denganmu, kami mulai menjaga jarak. Kamu tahu kenapa?" Andrew menjeda sejenak, matanya mencari kepastian di mata Sally. "Karena aku menghargai perasaanmu! Aku tidak ingin kamu merasa tersisih atau meragukan posisimu di hidupku."

"Jadi... Abang mau aku menjauhi Vino?" suara Sally terdengar lirih, ada nada kecewa yang terselip di sana.

"Bukan menjauhinya sama sekali, tapi tolong batasi intensitas kalian. Kurangi waktu berduaan yang tidak perlu. Aku mulai tidak nyaman dengan posisi dia yang seolah selalu ada di sela-sela hubungan kita!"

Sally tidak langsung mengiyakan. Ia terdiam, menunduk menatap jemarinya. Ada pergolakan batin antara rasa cintanya pada Andrew dan sejarah panjang persahabatannya dengan Vino yang tidak mudah dipangkas begitu saja.

Sally menarik napas panjang, mencoba mencari kata-kata yang tidak akan menyakiti Andrew, namun lidahnya tetap memilih untuk membela Vino.

"Bang, Abang nggak bisa menyamakan sahabat Abang dengan Vino," ucap Sally pelan namun tegas. "Kami tumbuh di lingkungan yang sama. Saat orang tuaku sibuk, keluarganya yang memberiku makan.”

Saat aku sakit dan Abang belum ada di hidupku, Vino yang menggendongku ke klinik. Kami sudah saling menyelamatkan berkali-kali. Dia bukan sekadar teman, dia itu... keluarga."

Andrew tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan rasa tidak percaya. "Keluarga? Sal, di mata pria lain, tidak ada istilah 'saudara' kalau tidak ada ikatan darah. Kamu hanya melihat kebaikannya, tapi kamu buta dengan bagaimana cara dia menatapmu."

"Abang terlalu berlebihan! Vino itu baik, dia bahkan selalu mengingatkanku untuk terus sabar menghadapi sikap posesif Abang!"

Andrew tersentak. Rahangnya mengeras. "Oh, jadi sekarang dia sudah mulai mencampuri urusan pribadi kita? Bagus sekali."

Tepat saat ketegangan itu memuncak, suara menderu dari mesin Kawasaki Ninja ZX-25R yang gahar berhenti tepat di depan pagar. Tak lama kemudian, sosok pria dengan jaket denim muncul dengan gaya santai di ambang pintu. Itu Vino.

Ia melangkah masuk tanpa canggung, menenteng sebuah kantong plastik berisi martabak manis premium—varian kesukaan Sally—seolah-olah dia adalah pemilik rumah itu.

"Eh, ada Bang Andrew juga?" sapa Vino dengan nada ringan, namun matanya berkilat penuh makna.

Andrew berdiri kaku, rahangnya mengeras melihat kehadiran pria yang baru saja menjadi topik perdebatan mereka. "Mau apa kamu ke sini, Vino?" tanya Andrew ketus.

Vino tidak tampak tersinggung. Ia justru tersenyum lebar sambil meletakkan martabak itu di depan Sally.

"Aku ada janji sama Bang Rian. Katanya dia mau minta tolong cek mesin motornya yang rewel, makanya aku mampir."

Vino beralih menatap Sally sebentar, lalu mendorong martabak itu lebih dekat ke arah gadis itu. "Tadi di jalan lewat penjual martabak langganan kita, seperti biasa, varian kesukaan kamu! Makan! Dari tadi belum makan," ucapnya tanpa beban, lalu ngeloyor masuk ke dalam rumah begitu saja meninggalkan Sally dan Andrew yang masih mematung di teras.

Keheningan yang mencekam menyergap selama beberapa detik, sebelum Andrew meledak.

"See! Kamu lihat sendiri, kan?!" Andrew menunjuk ke arah pintu yang baru saja dilewati Vino. "Bagaimana dia menatapmu, perhatian banget sampai tahu kamu belum makan. Aku saja yang tunanganmu tidak tahu kamu kelaparan!"

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 7: Momen Kebenaran

    Koridor rumah sakit itu terasa begitu dingin, seolah-olah oksigen di sana telah membeku menjadi kristal es yang menusuk paru-parunya, mata Sally basah oleh air mata. Dia menangis sedari tadi di dalam taksi. Ia sudah membayangkan hal terburuk terjadi pada sahabatnya.“Kalau sampai sesuatu terjadi pada Vino, aku gak bisa maafin diriku sendiri”Sally berdiri mematung di bawah pendar lampu neon yang berkedip pucat. Setelah membaca pesan singkat dari Andrew—sebuah salam perpisahan yang terasa seperti vonis mati—ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dengan tangan yang mati rasa.Di dalam tasnya, terselip sebuah amplop cokelat yang diberikan Andrew sesaat sebelum kekacauan ini dimulai. Andrew telah melunasi reservasi gedung pernikahan mereka untuk bulan depan. Harapan Andrew baru saja ia hancurkan demi sebuah "panggilan darurat" yang kini menghantarkan langkahnya ke ambang ketakutan yang nyata.Sally melangkah terburu-buru menuju bangsal UGD. Dari kejauhan, ia melihat Rian berdi

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 6: krisis Pilihan

    Andrew sengaja memilih sudut restoran yang paling tersembunyi. Hanya ada pendar cahaya lilin kecil dan denting denting piano yang samar di latar belakang. Ia mengabaikan hidangan di depannya, matanya hanya terfokus pada Sally yang tampak gelisah, sesekali memainkan ujung taplak meja. Andrew meraih tangan Sally, menggenggamnya dengan lembut namun pasti. Ia menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan ego dan amarahnya yang meledak sore tadi. "Sal," panggilnya dengan suara rendah yang menenangkan. "Aku nggak mau kita terjebak di lingkaran yang sama terus. Pertengkaran, kecemburuan, dan orang-orang yang selalu berdiri di tengah kita. Aku capek kalau harus terus-terusan merasa seperti orang asing di hidupmu sendiri." Andrew menatap mata Sally, mencari kejujuran di sana. "Malam ini, aku cuma mau ada kita. Tanpa gangguan, tanpa nama lain yang disebut. Aku mau kita coba lagi, bener-bener dari nol. Bisa?" Sally tertegun. Ketulusan di mata Andrew hampir membuatnya luluh. Ada rasa bersa

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 5: Batas yang Terang

    Malam hari setelah Andrew pulang dengan dingin, sunyi hanya suara detak jam dinding. Sally berdiri di depan cermin riasnya, tergeletak kunci cadangan rumah Vino yang tadi ia bawa pulang, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan besok.Sally menatap pantulan diri nya. Ia terlihat berantakan_maskaranya sedikit luntur, matanya lelah. Ia memegang kunci itu, meremas erat sampai pinggiran besi kunci itu menekan telapak tangannya.“Sampai kapan, Sal? Sampai kapan kamu mau jadi pahlawan buat semua orang, tapi jadi penjahat buat diri kamu sendiri” Sally berbisik pada pantulannya di cermin. Ia tertawa getir, matanya berkaca-kaca.“Kamu takut Vino ngerasa terbuang? Atau kamu takut kehilangan rasa ’di butuhkan’ itu? Kamu tahu Andrew bener. Kamu tahu batasan itu perlu. Tapi kenapa rasanya kaya kamu lagi mutus urat nadi kamu sendiri?”“Andrew butuh bukti kalau dia prioritas. Vino butuh tahu kalau kamu bukan lagi anak kecil yang bisa dia jagain selamanya. Dan kamu…kamu butuh berhenti n

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 4: Serba Salah

    Sally langsung bengong. Dia ga nyangka kalau Andrew bakal semurkah ini hanya masalah martabak dan perhatian Vino padanya. Padahal dari dulu Vino juga begini.“Sangat gak wajar, Sal!” Dumal Andrew lagi."Ya karena aku yang cerita sama dia tadi pas ngerjain tugas, Bang!" bela Sally, mulai merasa disudutkan."Lalu kenapa tidak cerita sama aku? Kenapa harus dia yang tahu lebih dulu?!""Bang... kita kan baru ketemu ini. AKu gak tahu Abang datang hari ini dan aku juga berniat mengajak Abang keluar makan sebentar lagi, tapi Abang langsung bahas soal Vino terus..."Andrew mengusap wajahnya kasar, napasnya memburu. "Aku juga tidak suka melihat dia keluar masuk rumahmu seperti itu, seolah-olah ini rumah dia sendiri! Tidak sopan!"Sally terdiam. Ia tidak bisa membantah kalimat itu karena memang begitulah kenyataannya. Sejak kecil, pintu rumahnya selalu terbuka untuk Vino, begitu juga sebaliknya. Sally bahkan punya kunci cadangan rumah Vino, dan ia sering membuatkan kopi untuk ibu Vino ta

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 3: Cemburu

    “Ada apa sayang, siapa yang menghubungi mu?” Tanya Andrew sembari menatap pada tas Sally “Ah, itu biasalah Bang, mungkin si Vino yang penasaran ingin segera melihat hasil editan vidio tadi” Dengan dada yang penuh debar dan wajah pucat pasi sally menjawab pertanyaan Andrew. Sally tahu jika Andrew bukan tipikal orang yang mudah percaya. “Vino lagi?” dengan sedikit wajah yang kurang ramah, nampak jelas tersirat wajah kesal Andrew. Baru saja bertemu sudah mengganggu lagi. Sally dapat melihat perubahan air muka tunangannya. Dia langsung merogoh tasnya mengambil ponsel dan mematikannya. “Abang marah?” tanya Sally lembut. "Marah? Apa aku pernah melarangmu?" Suara Andrew terdengar berat, ada nada getir yang tertahan di sana. "Aku tidak keberatan kamu pergi dengan Vino. Tapi saat aku ada di sini, bisa tidak fokusmu hanya untukku?" Sally menghela napas, merasa suasana mulai tidak enak. "Bang... kami tadi benar-benar hanya mengerjakan tugas. Tidak ada yang lain." "Aku percaya pad

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 2: Galau

    Lampu kota yang ditatap Vino dari jendela apartemennya adalah lampu yang sama yang mengiringi perjalanan taksi Sally menembus kemacetan Jakarta yang menyesakkan. Namun, bagi Sally, cahaya-cahaya itu tampak kabur, terbiaskan oleh lapisan air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya. Di dalam kesunyian taksi, ia menyentuh bibirnya berkali-kali dengan jemari yang gemetar, seolah mencoba menghapus jejak panas dan sisa tekanan yang ditinggalkan Vino. Ia ingin sekali membenci Vino, menyalahkan pria itu atas impulsivitas yang gila. Tapi jauh di lubuk hatinya, Sally lebih membenci dirinya sendiri karena sebuah kenyataan pahit, ia tidak mampu menolak dengan cukup keras. Ada bagian dari dirinya yang justru terpaku, seolah jiwanya sedang mengkhianati komitmen yang selama ini ia agungkan. ​Namun, lamunan gelap itu pecah seketika saat taksinya berbelok memasuki pekarangan rumah. Dunianya yang baru saja jungkir balik dipaksa tegak kembali oleh sebuah realitas yang dingin. Di sana,

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status