FAZER LOGIN“Ada apa sayang, siapa yang menghubungi mu?” Tanya Andrew sembari menatap pada tas Sally
“Ah, itu biasalah Bang, mungkin si Vino yang penasaran ingin segera melihat hasil editan vidio tadi” Dengan dada yang penuh debar dan wajah pucat pasi sally menjawab pertanyaan Andrew. Sally tahu jika Andrew bukan tipikal orang yang mudah percaya. “Vino lagi?” dengan sedikit wajah yang kurang ramah, nampak jelas tersirat wajah kesal Andrew. Baru saja bertemu sudah mengganggu lagi. Sally dapat melihat perubahan air muka tunangannya. Dia langsung merogoh tasnya mengambil ponsel dan mematikannya. “Abang marah?” tanya Sally lembut. "Marah? Apa aku pernah melarangmu?" Suara Andrew terdengar berat, ada nada getir yang tertahan di sana. "Aku tidak keberatan kamu pergi dengan Vino. Tapi saat aku ada di sini, bisa tidak fokusmu hanya untukku?" Sally menghela napas, merasa suasana mulai tidak enak. "Bang... kami tadi benar-benar hanya mengerjakan tugas. Tidak ada yang lain." "Aku percaya padamu, Sal! Aku sangat percaya," potong Andrew cepat, matanya menatap tajam ke arah Sally." Tapi aku tidak percaya pada sahabatmu itu!" "Maksud Abang apa?" Sally mulai membela diri, suaranya naik satu oktav. "Kami ini tumbuh besar bersama seperti saudara, Bang! Kalau memang ada niat untuk pacaran, kami sudah melakukannya dari dulu, bukan sekarang!" Andrew terdiam sejenak. Ia menatap Sally dengan tatapan lelah—tatapan seorang pria yang sudah terlalu sering menelan kecemburuannya sendiri. "Sally... dengar baik-baik. Tidak pernah ada persahabatan yang benar-benar murni antara pria dan wanita," ucap Andrew pelan namun penuh penekanan. "Aku sepakat dengan itu, Bang! Aku tahu teorinya," sahut Sally cepat. "Tapi kami beda! Kasusku dan Vino itu pengecualian!" "Sally... sebenarnya ini bukan pertama kali aku komplain tentang sahabatmu itu. Menurutku, dia sudah melampaui batas," ucap Andrew dengan nada rendah yang menuntut penjelasan. Sally mengerutkan kening, menatap Andrew tidak mengerti. "Maksud Abang melampaui batas itu bagaimana?" "Aku juga punya sahabat perempuan, Sal. Tapi begitu aku bertunangan denganmu, kami mulai menjaga jarak. Kamu tahu kenapa?" Andrew menjeda sejenak, matanya mencari kepastian di mata Sally. "Karena aku menghargai perasaanmu! Aku tidak ingin kamu merasa tersisih atau meragukan posisimu di hidupku." "Jadi... Abang mau aku menjauhi Vino?" suara Sally terdengar lirih, ada nada kecewa yang terselip di sana. "Bukan menjauhinya sama sekali, tapi tolong batasi intensitas kalian. Kurangi waktu berduaan yang tidak perlu. Aku mulai tidak nyaman dengan posisi dia yang seolah selalu ada di sela-sela hubungan kita!" Sally tidak langsung mengiyakan. Ia terdiam, menunduk menatap jemarinya. Ada pergolakan batin antara rasa cintanya pada Andrew dan sejarah panjang persahabatannya dengan Vino yang tidak mudah dipangkas begitu saja. Sally menarik napas panjang, mencoba mencari kata-kata yang tidak akan menyakiti Andrew, namun lidahnya tetap memilih untuk membela Vino. "Bang, Abang nggak bisa menyamakan sahabat Abang dengan Vino," ucap Sally pelan namun tegas. "Kami tumbuh di lingkungan yang sama. Saat orang tuaku sibuk, keluarganya yang memberiku makan.” Saat aku sakit dan Abang belum ada di hidupku, Vino yang menggendongku ke klinik. Kami sudah saling menyelamatkan berkali-kali. Dia bukan sekadar teman, dia itu... keluarga." Andrew tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan rasa tidak percaya. "Keluarga? Sal, di mata pria lain, tidak ada istilah 'saudara' kalau tidak ada ikatan darah. Kamu hanya melihat kebaikannya, tapi kamu buta dengan bagaimana cara dia menatapmu." "Abang terlalu berlebihan! Vino itu baik, dia bahkan selalu mengingatkanku untuk terus sabar menghadapi sikap posesif Abang!" Andrew tersentak. Rahangnya mengeras. "Oh, jadi sekarang dia sudah mulai mencampuri urusan pribadi kita? Bagus sekali." Tepat saat ketegangan itu memuncak, suara menderu dari mesin Kawasaki Ninja ZX-25R yang gahar berhenti tepat di depan pagar. Tak lama kemudian, sosok pria dengan jaket denim muncul dengan gaya santai di ambang pintu. Itu Vino. Ia melangkah masuk tanpa canggung, menenteng sebuah kantong plastik berisi martabak manis premium—varian kesukaan Sally—seolah-olah dia adalah pemilik rumah itu. "Eh, ada Bang Andrew juga?" sapa Vino dengan nada ringan, namun matanya berkilat penuh makna. Andrew berdiri kaku, rahangnya mengeras melihat kehadiran pria yang baru saja menjadi topik perdebatan mereka. "Mau apa kamu ke sini, Vino?" tanya Andrew ketus. Vino tidak tampak tersinggung. Ia justru tersenyum lebar sambil meletakkan martabak itu di depan Sally. "Aku ada janji sama Bang Rian. Katanya dia mau minta tolong cek mesin motornya yang rewel, makanya aku mampir." Vino beralih menatap Sally sebentar, lalu mendorong martabak itu lebih dekat ke arah gadis itu. "Tadi di jalan lewat penjual martabak langganan kita, seperti biasa, varian kesukaan kamu! Makan! Dari tadi belum makan," ucapnya tanpa beban, lalu ngeloyor masuk ke dalam rumah begitu saja meninggalkan Sally dan Andrew yang masih mematung di teras. Keheningan yang mencekam menyergap selama beberapa detik, sebelum Andrew meledak. "See! Kamu lihat sendiri, kan?!" Andrew menunjuk ke arah pintu yang baru saja dilewati Vino. "Bagaimana dia menatapmu, perhatian banget sampai tahu kamu belum makan. Aku saja yang tunanganmu tidak tahu kamu kelaparan!"Sally berdiri kaku. Suara parau di luar gerbang tadi bagaikan silet yang merobek keheningan butik yang steril. Ia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi patung porselen.Andrew baru saja hendak memanggil pelayan untuk membawakan tiara, namun Sally bergerak lebih cepat. Ia tidak peduli pada ekor gaunnya yang panjang dan menyapu lantai marmer.Dengan gerakan yang tiba-tiba, ia berbalik arah, menjauh dari cermin dan menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan."Tunggu, Bang. Aku... aku merasa sesak. Aku butuh udara sebentar." Sally suaranya bergetar, tapi tegas."Sally, AC di sini sudah diatur dengan suhu terbaik. Jangan bertingkah. Kembali ke podium." Andrew langkah kakinya terdengar berat mendekat.Sally tidak berhenti. Tangannya menyentuh gagang pintu kaca yang berat. Ia melihat ke arah gerbang.Di sana, ia melihat keributan kecil: Vino yang ditarik paksa oleh dua satpam, dan sebuah kertas putih—surat itu—terjatuh di atas aspal, terinjak oleh sepatu bot penjaga."Berhenti! Jangan kas
Vino mengetuk kaca jendela mobil Andrew. Tok! Tok! Suaranya lemah, kalah oleh deru angin, namun getarannya sampai ke jantung Sally."Sally! Sekali saja... bicara!" Vino gerak bibirnya terbaca dari balik kaca.Sally memalingkan wajah. Ia tak sanggup melihat tangan Vino yang gemetar memegang kemudi motor sambil terus menatapnya."Abang, tolong... lebih cepat." Sally berbisik, suaranya tercekat.Andrew tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang dingin. Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil mewah itu melesat, meninggalkan motor tua Vino yang mulai kehilangan tenaga di tanjakan jembatan layang.Sosok Vino mengecil di spion, tertutup oleh kepulan asap hitam truk-truk besar.Mobil berhenti dengan halus di depan sebuah butik megah berpilar putih. Tempat itu terlihat seperti kuil, namun bagi Sally, itu adalah rumah duka bagi impiannya. Pelayan butik sudah berdiri rapi menyambut mereka.Andrew turun, lalu membukakan pintu untuk Sally dengan gerakan yang sangat sopan, namun posesif.Saat
Di atas meja makan, uap kopi Mama mengepul tipis, menari-nari di antara piring porselen yang berkilau. Cahaya pagi yang masuk lewat celah gorden tampak seperti jeruji emas yang membelah ruangan.Sally masih berdiri, tangannya memegang sandaran kursi kayu hingga sendi-sendi jarinya memutih. Ia menatap ibunya—wanita yang tampak seperti patung marmer; indah, kokoh, namun tak bergeming.“Apakah Mama pernah sekali saja... melihat ke dalam mataku? Bukan melihat masa depan yang Mama susun, tapi melihat aku?" Sally suaranya parau, memecah kesunyian yang tajam.Mama tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Denting porselen itu terdengar seperti lonceng kematian bagi harapan Sally.Mama menatap lurus ke arah liontin di lehernya, bukan ke arah Sally"Aku melihatmu setiap kali aku menutup mata, Sally. Aku melihatmu kelaparan. Aku melihatmu kedinginan. Itu sudah cukup untuk membuatku berhenti peduli pada air matamu hari ini."Mama berdiri. Kursinya berderit pelan di atas
Dua nyawa. Hanya itu yang tersisa darinya. "Besarkan mereka dengan layak, jangan biarkan mereka memohon pada dunia," bisik suaminya malam itu. Janji itu bukan sekadar kalimat, itu adalah bebannya yang paling berat sekaligus kompas hidupnya.Dia sudah bersumpah pada Papa Rian dan Sally, dan dia tidak akan membiarkan kemiskinan atau kesulitan menyentuh ujung jari mereka sedikit pun.Mama meraba liontin kecil di lehernya, sebuah perhiasan tua yang menyimpan foto kecil mendiang suaminya.Ia tahu Sally memandangnya sebagai tiran. Ia tahu Rian mungkin merasa tertekan oleh ekspektasi besar yang ia pikul.Namun, setiap kali Mama melihat kemapanan Andrew, ia melihat sebuah perisai. Baginya, Andrew bukan sekadar tunangan untuk Sally, melainkan janji yang terpenuhi bahwa Sally akan memiliki pundak yang kokoh untuk bersandar—sesuatu yang hilang dari hidup Mama terlalu cepat."Papa akan bangga melihat kalian sekarang," bisik Mama hampir tak terdengar, suaranya serak oleh kerinduan yang ia kubur da
Sally masih terpaku di kursinya, sementara Mama perlahan bangkit, berjalan mengitari meja hingga berdiri tepat di belakang Sally.Mama meletakkan tangannya di bahu Sally. Sentuhan itu tidak hangat; itu adalah sebuah klaim kepemilikan."Penasihat itu bilang kalian harus saling terbuka, bukan?" Mama berbisik tepat di telinga Sally, napasnya berbau mint dan dingin.Tapi keterbukaan tanpa kendali hanyalah cara lain untuk menghancurkan masa depanmu sendiri, Sayang."Sally memejamkan mata. Di luar, hujan yang mencuci aspal terdengar semakin menderu, seolah memanggilnya untuk lari dan hilang di dalam kegelapan yang basah, jauh dari kotak porselen yang kini terasa mulai retak.Mama perlahan melepaskan tangannya, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Ia menatap lampu belakang mobil Andrew yang perlahan memudar di balik tirai hujan."Andrew pria yang baik," ucap Mama tanpa menoleh. "Dia punya kesabaran yang luas, Sally. Tapi jangan lupa, kesabaran pria juga punya b
"Aku akan makan, Ma," jawab Sally sambil mengangkat garpunya dengan tangan yang masih terasa dingin. "Tapi jangan salahkan aku jika setiap suapannya terasa seperti menelan kerikil."Sally menusuk sepotong daging wagyu di piringnya. Teksturnya lembut, namun di matanya, serat daging itu tampak seperti jalinan nasib yang dipaksakan.Sally memotong daging dengan gerakan yang terlalu presisi, menciptakan decit pelan ujung pisau pada piring.“Mahal, katanya. Mama mengukur kebahagiaan dengan harga per gram, seolah-olah emas bisa menyumbat lubang di dadaku. Dia ingin aku menelan kemewahan ini sampai aku tersedak dan lupa cara mengeja kata 'kebebasan'.” Batin Sally bergumam."Daging ini sempurna, Ma," ucap Sally lirih. Suaranya datar, nyaris seperti gumaman di dalam katedral kosong.Sally menyuapkan potongan kecil itu ke mulutnya. Ia tidak mengunyah dengan segera, membiarkan rasa gurih itu menjadi hambar di lidahnya."Tapi benarkah rasa bisa dibeli?" Sally menatap lurus ke arah lampu kristal y
Andrew yang sedari tadi berdiri mematung di samping ranjang, perlahan melontarkan ketegangan dibahunya, ia melihat betapa tulusnya Tante Melly dan bagaimana wajah Mama Sally sedikit lebih cerah. Meskipun matanya sempat beradu tajam dengan Vino Andrew memilih untuk menurunkan egonya demi ketenangan
Sally berlutut di samping tempat tidur, mengenggam tangan Mamanya yang terasa dingin. “Mama… ini Sally, Ma. Sally sudah pulang, “bisiknya dengan suara bergetar. “Ma, bangun… Sally di sini. Maafkan Sally baru pulang sekarang.” Ia terus membisikkan kata-kata rindu menceritakan betapa ia merindukan Ma
“Kenapa kamu diam? Apa kamu menyesal sudah menyuruhnya pergi?” Andrew suaranya rendah dan serak, memecah keheningan tanpa menoleh. “Aku diam karena aku sedang mencoba memahami… sejak kapan kita jadi seperti ini, Bang?” sally menoleh perlahan, menatap profil samping Andrew. “Sejak aku merasa ha
“Apa maksudmu tidak bisa? Kenapa, Sal?” Saat ciuman itu terlepas, Vino menatap Sally dengan tatapan tak percaya dan bingung. Sally mengambil dapas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri, sebelum memberikan dirinya sniri, sebelum memberikan keputusan yang akan menghancurkan hari mereka







