Home / Romansa / Cinta Karena Ciuman / Bab 6: krisis Pilihan

Share

Bab 6: krisis Pilihan

Author: JemariAra
last update publish date: 2026-03-02 17:17:12

Andrew sengaja memilih sudut restoran yang paling tersembunyi. Hanya ada pendar cahaya lilin kecil dan denting denting piano yang samar di latar belakang. Ia mengabaikan hidangan di depannya, matanya hanya terfokus pada Sally yang tampak gelisah, sesekali memainkan ujung taplak meja.

Andrew meraih tangan Sally, menggenggamnya dengan lembut namun pasti. Ia menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan ego dan amarahnya yang meledak sore tadi.

"Sal," panggilnya dengan suara rendah yang menenangkan. "Aku nggak mau kita terjebak di lingkaran yang sama terus. Pertengkaran, kecemburuan, dan orang-orang yang selalu berdiri di tengah kita. Aku capek kalau harus terus-terusan merasa seperti orang asing di hidupmu sendiri."

Andrew menatap mata Sally, mencari kejujuran di sana. "Malam ini, aku cuma mau ada kita. Tanpa gangguan, tanpa nama lain yang disebut. Aku mau kita coba lagi, bener-bener dari nol. Bisa?"

Sally tertegun. Ketulusan di mata Andrew hampir membuatnya luluh. Ada rasa bersalah yang besar menghantam dadanya—mengingat kejadian sore tadi bersama Vino. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk memberikan jawaban yang diinginkan Andrew, namun semesta seolah punya rencana lain.

Drrrrtt... Drrrrtt...

Ponsel Sally di atas meja bergetar hebat, memecah suasana intim yang baru saja terbangun. Nama 'Bang Rian' berkedip di layar. Sally ragu, matanya melirik ke arah Andrew yang raut wajahnya mendadak berubah tegang.

"Angkat saja, mungkin penting," gumam Andrew, meski nada suaranya terdengar pasrah.

Sally menekan tombol hijau dengan tangan gemetar. Belum sempat ia mengucap salam, suara panik Rian sudah meledak di seberang telepon.

"Salyl! Vino kecelakaan! Motornya hancur, dia sekarang di UGD!"

Darah Sally serasa berhenti mengalir. Dunianya mendadak hening. Itu suara Melly, Mamanya Vino.

"Dia... dia pendarahan, Sal. Tapi dari tadi dia terus-terusan nanyain kamu. Dia nggak mau tenang sebelum kamu datang. Bisa ke sini sekarang? Gawat banget!"

Sally membeku di kursinya. Ponselnya masih menempel di telinga, namun pandangannya kosong.

Di depannya, Andrew menatapnya dengan raut wajah yang mulai mengeras, seolah ia sudah bisa menebak siapa yang kembali masuk ke tengah-tengah mereka bahkan di saat yang paling krusial sekalipun.

"Sally?" panggil Andrew lirih, penuh firasat buruk. "Ada apa?"

"Jangan bilang ini soal dia lagi," desis Andrew. Rahangnya mengeras saat ia menyadari perubahan raut wajah Sally. Ia mencengkram tangan Sally, menahannya agar tetap di kursi. "Sal, kalau kamu pergi sekarang, kamu bukan cuma meninggalkan meja ini... kamu meninggalkan kita."

Sally gemetar. Di bawah meja, ponselnya masih menyala, menampilkan pesan singkat dari Rian: Vino krisis, Sal. Tolong datang.

"Kalau kamu melangkah keluar dari pintu itu, jangan pernah berani balik lagi ke aku. Aku capek jadi nomor dua terus, Sal," suara Andrew merendah, namun tajam seperti sembilu.

"Bang, aku mohon... ini bukan soal siapa yang nomor satu atau dua. Ini soal nyawa! Vino kecelakaan parah!" Sally membalas dengan suara parau, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Andrew tertawa getir, sebuah tawa yang penuh luka. "Dan kenapa harus kamu? Kenapa bukan ambulans? Kenapa bukan dokter? Kenapa setiap kali dia menjentikkan jari, kamu selalu lari, Sal?"

"Karena dia nggak punya siapa-siapa lagi selain aku dan ibunya! Aku nggak minta kamu mengalah selamanya, Bang. Aku cuma minta pengertianmu untuk satu jam ini saja!

Aku bakal benci diriku sendiri kalau terjadi sesuatu sama dia, sementara aku cuma duduk di sini makan enak sama kamu seolah nggak ada apa-apa!"

Sally terisak, menutup wajahnya sejenak sebelum menatap Andrew dengan tatapan memohon yang terakhir kali. Namun, wajah Andrew sudah mengeras seperti batu. Ia melepaskan pegangan tangannya dengan gerakan dingin.

"Pilihan ada di tanganmu, Sally."

Sally berdiri dengan tangan gemetar, menyampirkan tasnya sembarangan. Matanya merah dan basah. Ia melangkah satu langkah, namun suara Andrew menghentikannya tepat di ambang pintu.

"Satu langkah lagi kamu keluar dari pintu itu... kita selesai. Jangan cari aku lagi." Andrew tetap duduk tenang, suaranya datar, namun kata-katanya adalah vonis mati bagi hubungan mereka.

Bahu Sally bergetar hebat. Ia tidak menoleh, takut jika ia melihat mata Andrew, ia akan goyah dan membiarkan nuraninya mati.

"Aku sayang kamu, Bang. Demi Tuhan, aku sayang kamu," suara Sally pecah. Ia menarik napas panjang yang terasa sesak.

"Tapi aku nggak bisa jadi orang jahat yang makan enak di sini sementara orang yang sudah seperti saudaraku sendiri sedang berjuang antara hidup dan mati. Aku nggak bisa hidup dengan rasa bersalah itu..."

Andrew diam. Keheningan yang lebih menyakitkan daripada makian.

"Kalau cinta kamu menuntut aku jadi orang yang nggak punya hati... mungkin kamu memang nggak pernah benar-benar kenal siapa aku."

Sally memberikan satu torehan luka terakhir sebelum akhirnya berlari keluar. Suara sepatunya yang terburu-buru beradu dengan lantai restoran yang sunyi, meninggalkan Andrew sendirian ditemani dua piring makanan yang mulai mendingin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 105: Pagar Kasta dan Hati yang Hancur

    Sally berdiri kaku. Suara parau di luar gerbang tadi bagaikan silet yang merobek keheningan butik yang steril. Ia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi patung porselen.Andrew baru saja hendak memanggil pelayan untuk membawakan tiara, namun Sally bergerak lebih cepat. Ia tidak peduli pada ekor gaunnya yang panjang dan menyapu lantai marmer.Dengan gerakan yang tiba-tiba, ia berbalik arah, menjauh dari cermin dan menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan."Tunggu, Bang. Aku... aku merasa sesak. Aku butuh udara sebentar." Sally suaranya bergetar, tapi tegas."Sally, AC di sini sudah diatur dengan suhu terbaik. Jangan bertingkah. Kembali ke podium." Andrew langkah kakinya terdengar berat mendekat.Sally tidak berhenti. Tangannya menyentuh gagang pintu kaca yang berat. Ia melihat ke arah gerbang.Di sana, ia melihat keributan kecil: Vino yang ditarik paksa oleh dua satpam, dan sebuah kertas putih—surat itu—terjatuh di atas aspal, terinjak oleh sepatu bot penjaga."Berhenti! Jangan kas

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 104: Surat di Seberang Kasta

    Vino mengetuk kaca jendela mobil Andrew. Tok! Tok! Suaranya lemah, kalah oleh deru angin, namun getarannya sampai ke jantung Sally."Sally! Sekali saja... bicara!" Vino gerak bibirnya terbaca dari balik kaca.Sally memalingkan wajah. Ia tak sanggup melihat tangan Vino yang gemetar memegang kemudi motor sambil terus menatapnya."Abang, tolong... lebih cepat." Sally berbisik, suaranya tercekat.Andrew tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang dingin. Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil mewah itu melesat, meninggalkan motor tua Vino yang mulai kehilangan tenaga di tanjakan jembatan layang.Sosok Vino mengecil di spion, tertutup oleh kepulan asap hitam truk-truk besar.Mobil berhenti dengan halus di depan sebuah butik megah berpilar putih. Tempat itu terlihat seperti kuil, namun bagi Sally, itu adalah rumah duka bagi impiannya. Pelayan butik sudah berdiri rapi menyambut mereka.Andrew turun, lalu membukakan pintu untuk Sally dengan gerakan yang sangat sopan, namun posesif.Saat

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 103: Iring-iringan Bayangan

    Di atas meja makan, uap kopi Mama mengepul tipis, menari-nari di antara piring porselen yang berkilau. Cahaya pagi yang masuk lewat celah gorden tampak seperti jeruji emas yang membelah ruangan.Sally masih berdiri, tangannya memegang sandaran kursi kayu hingga sendi-sendi jarinya memutih. Ia menatap ibunya—wanita yang tampak seperti patung marmer; indah, kokoh, namun tak bergeming.“Apakah Mama pernah sekali saja... melihat ke dalam mataku? Bukan melihat masa depan yang Mama susun, tapi melihat aku?" Sally suaranya parau, memecah kesunyian yang tajam.Mama tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Denting porselen itu terdengar seperti lonceng kematian bagi harapan Sally.Mama menatap lurus ke arah liontin di lehernya, bukan ke arah Sally"Aku melihatmu setiap kali aku menutup mata, Sally. Aku melihatmu kelaparan. Aku melihatmu kedinginan. Itu sudah cukup untuk membuatku berhenti peduli pada air matamu hari ini."Mama berdiri. Kursinya berderit pelan di atas

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 102: Waris Janji yang Membelenggu

    Dua nyawa. Hanya itu yang tersisa darinya. "Besarkan mereka dengan layak, jangan biarkan mereka memohon pada dunia," bisik suaminya malam itu. Janji itu bukan sekadar kalimat, itu adalah bebannya yang paling berat sekaligus kompas hidupnya.Dia sudah bersumpah pada Papa Rian dan Sally, dan dia tidak akan membiarkan kemiskinan atau kesulitan menyentuh ujung jari mereka sedikit pun.Mama meraba liontin kecil di lehernya, sebuah perhiasan tua yang menyimpan foto kecil mendiang suaminya.Ia tahu Sally memandangnya sebagai tiran. Ia tahu Rian mungkin merasa tertekan oleh ekspektasi besar yang ia pikul.Namun, setiap kali Mama melihat kemapanan Andrew, ia melihat sebuah perisai. Baginya, Andrew bukan sekadar tunangan untuk Sally, melainkan janji yang terpenuhi bahwa Sally akan memiliki pundak yang kokoh untuk bersandar—sesuatu yang hilang dari hidup Mama terlalu cepat."Papa akan bangga melihat kalian sekarang," bisik Mama hampir tak terdengar, suaranya serak oleh kerinduan yang ia kubur da

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 101: Dibalik Sutra yang Dingin

    Sally masih terpaku di kursinya, sementara Mama perlahan bangkit, berjalan mengitari meja hingga berdiri tepat di belakang Sally.Mama meletakkan tangannya di bahu Sally. Sentuhan itu tidak hangat; itu adalah sebuah klaim kepemilikan."Penasihat itu bilang kalian harus saling terbuka, bukan?" Mama berbisik tepat di telinga Sally, napasnya berbau mint dan dingin.Tapi keterbukaan tanpa kendali hanyalah cara lain untuk menghancurkan masa depanmu sendiri, Sayang."Sally memejamkan mata. Di luar, hujan yang mencuci aspal terdengar semakin menderu, seolah memanggilnya untuk lari dan hilang di dalam kegelapan yang basah, jauh dari kotak porselen yang kini terasa mulai retak.Mama perlahan melepaskan tangannya, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Ia menatap lampu belakang mobil Andrew yang perlahan memudar di balik tirai hujan."Andrew pria yang baik," ucap Mama tanpa menoleh. "Dia punya kesabaran yang luas, Sally. Tapi jangan lupa, kesabaran pria juga punya b

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 100: Pilu dalam Piring Perak

    "Aku akan makan, Ma," jawab Sally sambil mengangkat garpunya dengan tangan yang masih terasa dingin. "Tapi jangan salahkan aku jika setiap suapannya terasa seperti menelan kerikil."Sally menusuk sepotong daging wagyu di piringnya. Teksturnya lembut, namun di matanya, serat daging itu tampak seperti jalinan nasib yang dipaksakan.Sally memotong daging dengan gerakan yang terlalu presisi, menciptakan decit pelan ujung pisau pada piring.“Mahal, katanya. Mama mengukur kebahagiaan dengan harga per gram, seolah-olah emas bisa menyumbat lubang di dadaku. Dia ingin aku menelan kemewahan ini sampai aku tersedak dan lupa cara mengeja kata 'kebebasan'.” Batin Sally bergumam."Daging ini sempurna, Ma," ucap Sally lirih. Suaranya datar, nyaris seperti gumaman di dalam katedral kosong.Sally menyuapkan potongan kecil itu ke mulutnya. Ia tidak mengunyah dengan segera, membiarkan rasa gurih itu menjadi hambar di lidahnya."Tapi benarkah rasa bisa dibeli?" Sally menatap lurus ke arah lampu kristal y

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 5: Batas yang Terang

    Malam hari setelah Andrew pulang dengan dingin, sunyi hanya suara detak jam dinding. Sally berdiri di depan cermin riasnya, tergeletak kunci cadangan rumah Vino yang tadi ia bawa pulang, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan besok.Sally menatap pantulan diri nya. Ia terlihat berantak

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 4: Serba Salah

    Sally langsung bengong. Dia ga nyangka kalau Andrew bakal semurkah ini hanya masalah martabak dan perhatian Vino padanya. Padahal dari dulu Vino juga begini.“Sangat gak wajar, Sal!” Dumal Andrew lagi."Ya karena aku yang cerita sama dia tadi pas ngerjain tugas, Bang!" bela Sally, mulai merasa di

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 3: Cemburu

    “Ada apa sayang, siapa yang menghubungi mu?” Tanya Andrew sembari menatap pada tas Sally “Ah, itu biasalah Bang, mungkin si Vino yang penasaran ingin segera melihat hasil editan vidio tadi” Dengan dada yang penuh debar dan wajah pucat pasi sally menjawab pertanyaan Andrew. Sally tahu jika Andre

  • Cinta Karena Ciuman   Bab 1: Kiss Your Best Friend

    “Vino… bikin video yang lagi viral itu, yuk!” seru Sally antusias sembari mengeluarkan ponselnya. ​“Video apaan?” jawab Vino acuh tak acuh. Matanya tak beralih dari layar ponsel yang digenggam horizontal. Jemarinya lincah menekan tombol di layar—ia sedang sibuk di tengah pertempuran Mobile Legend

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status