LOGINSally langsung bengong. Dia ga nyangka kalau Andrew bakal semurkah ini hanya masalah martabak dan perhatian Vino padanya. Padahal dari dulu Vino juga begini.
“Sangat gak wajar, Sal!” Dumal Andrew lagi. "Ya karena aku yang cerita sama dia tadi pas ngerjain tugas, Bang!" bela Sally, mulai merasa disudutkan. "Lalu kenapa tidak cerita sama aku? Kenapa harus dia yang tahu lebih dulu?!" "Bang... kita kan baru ketemu ini. AKu gak tahu Abang datang hari ini dan aku juga berniat mengajak Abang keluar makan sebentar lagi, tapi Abang langsung bahas soal Vino terus..." Andrew mengusap wajahnya kasar, napasnya memburu. "Aku juga tidak suka melihat dia keluar masuk rumahmu seperti itu, seolah-olah ini rumah dia sendiri! Tidak sopan!" Sally terdiam. Ia tidak bisa membantah kalimat itu karena memang begitulah kenyataannya. Sejak kecil, pintu rumahnya selalu terbuka untuk Vino, begitu juga sebaliknya. Sally bahkan punya kunci cadangan rumah Vino, dan ia sering membuatkan kopi untuk ibu Vino tanpa perlu diminta. Baginya, itu adalah bentuk kekeluargaan, tapi di mata Andrew, itu adalah ancaman. Sekarang, kenapa semua kebiasaan yang terasa normal itu mendadak jadi masalah besar di mata Andrew? "Jaga jarak sama Vino! Aku tidak mau tahu caranya, batasi dia!" Andrew memberikan peringatan terakhir dengan nada mutlak. "Aku mau pulang dulu." Sally tersentak, ia mengejar Andrew yang sudah melangkah menuju pagar. "Lho, Bang... kok pulang? Tadi katanya mau ketemu Mama? Mama sudah masak banyak di dalam." Sally asal nyeletuk, dia sedari tadi di kampus dan dari kampus langsung bertolak ke apartemen Vino yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. "Aku sudah tidak mood!" jawab Andrew tanpa menoleh. Ia masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu dengan bantingan keras yang membuat bahu Sally berjingkat kaget. Mesin mobil menderu kencang, meninggalkan kepulan asap dan keheningan yang menyesakkan di depan rumah. Sally berdiri mematung di teras, menatap mobil Andrew yang menghilang di persimpangan jalan. Perasaan galau menghimpit dadanya. Di satu sisi, ia mencintai Andrew dan ingin menghargai perasaannya. Namun di sisi lain, meminta Sally menjauhi Vino terasa seperti memintanya membuang sebagian dari sejarah hidupnya sendiri. Baru saja ia hendak masuk ke dalam rumah, suara tawa Vino pecah dari dalam bersama kakaknya, Rian. Suara yang biasanya terasa hangat, kini justru membuat Sally merasa terasing di rumahnya sendiri. Biasanya, Sally akan langsung nimbrung, ikut tertawa atau sekadar meledek interaksi antara Vino dan kakaknya. Namun kali ini, langkah kakinya terdengar terburu-buru melewati ruang tengah. Ia langsung masuk ke kamar dan membanting pintu cukup keras, tanda bahwa suasana hatinya sedang di titik nadir. Vino yang sedang memegang obeng di samping motor Rian spontan menoleh. "Sal! Martabaknya dimakan selagi hangat!" teriaknya, namun tidak ada jawaban sama sekali dari balik pintu. Vino dan Rian saling pandang. Keheningan sesaat itu terasa janggal di rumah yang biasanya ramai. "Eh... jangan-jangan habis ribut sama Andrew," celetuk Rian sambil menyeka tangannya yang terkena oli dengan lap kusam. Matanya melirik ke arah pintu kamar adiknya yang tertutup rapat. Vino meletakkan obengnya, raut wajahnya berubah sedikit lebih serius, meski ia mencoba tetap terlihat santai. "Kayaknya sih iya, Bang... biasanya langsung nimbrung di sini, eh ini tadi manyun begitu. Mukanya ditekuk banget pas di teras tadi." Rian menghela napas panjang, lalu menyulut sebatang rokok. "Si Andrew itu makin hari makin posesif saja kayaknya. Padahal dia tahu kamu sama Sally sudah kayak saudara dari orok." Vino meletakkan obeng di tangannya dengan gerakan perlahan. Matanya menyipit, menatap Rian dengan kening berkerut dalam. "Tunggu, Bang... maksud Abang, Bang Andrew cemburu sama aku?" Rian mendengus sambil menghembuskan asap rokoknya. "Ya menurut kamu apa lagi? Mukanya tadi pas di teras sudah kayak mau nelan orang hidup-hidup." Vino tertawa hambar, suara tawanya terdengar penuh ketidakpercayaan. "Gila kali ya si Bang Andrew. Cemburu sama aku? Kita ini dari kecil sudah mandi bareng, jatuh bangun bareng, bahkan kamu juga tahu kan Bang kalau aku sudah dianggap anak sama orang tua kalian?" Vino berdiri, berkacak pinggang sambil menatap pintu kamar Sally yang masih tertutup rapat. "Aneh banget. Kami ini tumbuh bersama layaknya saudara kandung. Tidak ada bedanya aku sama kamu di mata Sally, Bang. Masa iya dia mencemburui 'saudara' sendiri? Itu benar-benar nggak masuk akal buatku." Rian hanya mengangkat bahu, seolah sudah terbiasa dengan drama tunangan adiknya itu. "Dunia luar nggak melihat kalian sebagai saudara, Vin. Mereka melihat satu laki-laki dan satu perempuan yang terlalu menempel. Andrew itu orang luar, dia nggak punya sejarah kita." Vino menghela napas kasar, rasa bersalah mulai merayap karena kehadirannya justru memicu pertengkaran. "Kalau tahu bakal begini, tadi aku nggak perlu bawain martabak segala. Aku cuma pengen Sally makan karena tahu dia belum makan dari siang." "Sudahlah, biarin dulu si Sally tenang di kamar," sahut Rian santai sambil kembali mengotak-atik mesin motornya." Palingan bentar lagi juga dia keluar kalau martabaknya sudah dingin." Vino terdiam, namun pikirannya tidak lagi pada mesin motor. Ia merasa aneh. Bagaimana mungkin hubungan yang sealami dan semurni persaudaraannya dengan Sally bisa dianggap sebagai ancaman oleh pria lain? Baginya, kecemburuan Andrew bukan hanya salah sasaran, tapi juga sebuah penghinaan terhadap ketulusan persahabatan mereka. Namun, di tengah pembelaan batinnya itu, sebuah ingatan mendadak melintas seperti kilat. Ingatan yang membuat jemari Vino yang memegang lap mendadak kaku. Brengsek, batin Vino. Ia merutuki dirinya sendiri. Selama ini ia selalu berteriak bahwa mereka hanya sahabat, bahwa mereka saudara. Tapi tindakan sore tadi adalah bukti bahwa ada garis tipis yang sudah ia langkahi.Sally berdiri kaku. Suara parau di luar gerbang tadi bagaikan silet yang merobek keheningan butik yang steril. Ia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi patung porselen.Andrew baru saja hendak memanggil pelayan untuk membawakan tiara, namun Sally bergerak lebih cepat. Ia tidak peduli pada ekor gaunnya yang panjang dan menyapu lantai marmer.Dengan gerakan yang tiba-tiba, ia berbalik arah, menjauh dari cermin dan menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan."Tunggu, Bang. Aku... aku merasa sesak. Aku butuh udara sebentar." Sally suaranya bergetar, tapi tegas."Sally, AC di sini sudah diatur dengan suhu terbaik. Jangan bertingkah. Kembali ke podium." Andrew langkah kakinya terdengar berat mendekat.Sally tidak berhenti. Tangannya menyentuh gagang pintu kaca yang berat. Ia melihat ke arah gerbang.Di sana, ia melihat keributan kecil: Vino yang ditarik paksa oleh dua satpam, dan sebuah kertas putih—surat itu—terjatuh di atas aspal, terinjak oleh sepatu bot penjaga."Berhenti! Jangan kas
Vino mengetuk kaca jendela mobil Andrew. Tok! Tok! Suaranya lemah, kalah oleh deru angin, namun getarannya sampai ke jantung Sally."Sally! Sekali saja... bicara!" Vino gerak bibirnya terbaca dari balik kaca.Sally memalingkan wajah. Ia tak sanggup melihat tangan Vino yang gemetar memegang kemudi motor sambil terus menatapnya."Abang, tolong... lebih cepat." Sally berbisik, suaranya tercekat.Andrew tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang dingin. Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil mewah itu melesat, meninggalkan motor tua Vino yang mulai kehilangan tenaga di tanjakan jembatan layang.Sosok Vino mengecil di spion, tertutup oleh kepulan asap hitam truk-truk besar.Mobil berhenti dengan halus di depan sebuah butik megah berpilar putih. Tempat itu terlihat seperti kuil, namun bagi Sally, itu adalah rumah duka bagi impiannya. Pelayan butik sudah berdiri rapi menyambut mereka.Andrew turun, lalu membukakan pintu untuk Sally dengan gerakan yang sangat sopan, namun posesif.Saat
Di atas meja makan, uap kopi Mama mengepul tipis, menari-nari di antara piring porselen yang berkilau. Cahaya pagi yang masuk lewat celah gorden tampak seperti jeruji emas yang membelah ruangan.Sally masih berdiri, tangannya memegang sandaran kursi kayu hingga sendi-sendi jarinya memutih. Ia menatap ibunya—wanita yang tampak seperti patung marmer; indah, kokoh, namun tak bergeming.“Apakah Mama pernah sekali saja... melihat ke dalam mataku? Bukan melihat masa depan yang Mama susun, tapi melihat aku?" Sally suaranya parau, memecah kesunyian yang tajam.Mama tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Denting porselen itu terdengar seperti lonceng kematian bagi harapan Sally.Mama menatap lurus ke arah liontin di lehernya, bukan ke arah Sally"Aku melihatmu setiap kali aku menutup mata, Sally. Aku melihatmu kelaparan. Aku melihatmu kedinginan. Itu sudah cukup untuk membuatku berhenti peduli pada air matamu hari ini."Mama berdiri. Kursinya berderit pelan di atas
Dua nyawa. Hanya itu yang tersisa darinya. "Besarkan mereka dengan layak, jangan biarkan mereka memohon pada dunia," bisik suaminya malam itu. Janji itu bukan sekadar kalimat, itu adalah bebannya yang paling berat sekaligus kompas hidupnya.Dia sudah bersumpah pada Papa Rian dan Sally, dan dia tidak akan membiarkan kemiskinan atau kesulitan menyentuh ujung jari mereka sedikit pun.Mama meraba liontin kecil di lehernya, sebuah perhiasan tua yang menyimpan foto kecil mendiang suaminya.Ia tahu Sally memandangnya sebagai tiran. Ia tahu Rian mungkin merasa tertekan oleh ekspektasi besar yang ia pikul.Namun, setiap kali Mama melihat kemapanan Andrew, ia melihat sebuah perisai. Baginya, Andrew bukan sekadar tunangan untuk Sally, melainkan janji yang terpenuhi bahwa Sally akan memiliki pundak yang kokoh untuk bersandar—sesuatu yang hilang dari hidup Mama terlalu cepat."Papa akan bangga melihat kalian sekarang," bisik Mama hampir tak terdengar, suaranya serak oleh kerinduan yang ia kubur da
Sally masih terpaku di kursinya, sementara Mama perlahan bangkit, berjalan mengitari meja hingga berdiri tepat di belakang Sally.Mama meletakkan tangannya di bahu Sally. Sentuhan itu tidak hangat; itu adalah sebuah klaim kepemilikan."Penasihat itu bilang kalian harus saling terbuka, bukan?" Mama berbisik tepat di telinga Sally, napasnya berbau mint dan dingin.Tapi keterbukaan tanpa kendali hanyalah cara lain untuk menghancurkan masa depanmu sendiri, Sayang."Sally memejamkan mata. Di luar, hujan yang mencuci aspal terdengar semakin menderu, seolah memanggilnya untuk lari dan hilang di dalam kegelapan yang basah, jauh dari kotak porselen yang kini terasa mulai retak.Mama perlahan melepaskan tangannya, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Ia menatap lampu belakang mobil Andrew yang perlahan memudar di balik tirai hujan."Andrew pria yang baik," ucap Mama tanpa menoleh. "Dia punya kesabaran yang luas, Sally. Tapi jangan lupa, kesabaran pria juga punya b
"Aku akan makan, Ma," jawab Sally sambil mengangkat garpunya dengan tangan yang masih terasa dingin. "Tapi jangan salahkan aku jika setiap suapannya terasa seperti menelan kerikil."Sally menusuk sepotong daging wagyu di piringnya. Teksturnya lembut, namun di matanya, serat daging itu tampak seperti jalinan nasib yang dipaksakan.Sally memotong daging dengan gerakan yang terlalu presisi, menciptakan decit pelan ujung pisau pada piring.“Mahal, katanya. Mama mengukur kebahagiaan dengan harga per gram, seolah-olah emas bisa menyumbat lubang di dadaku. Dia ingin aku menelan kemewahan ini sampai aku tersedak dan lupa cara mengeja kata 'kebebasan'.” Batin Sally bergumam."Daging ini sempurna, Ma," ucap Sally lirih. Suaranya datar, nyaris seperti gumaman di dalam katedral kosong.Sally menyuapkan potongan kecil itu ke mulutnya. Ia tidak mengunyah dengan segera, membiarkan rasa gurih itu menjadi hambar di lidahnya."Tapi benarkah rasa bisa dibeli?" Sally menatap lurus ke arah lampu kristal y
Andrew sengaja memilih sudut restoran yang paling tersembunyi. Hanya ada pendar cahaya lilin kecil dan denting denting piano yang samar di latar belakang. Ia mengabaikan hidangan di depannya, matanya hanya terfokus pada Sally yang tampak gelisah, sesekali memainkan ujung taplak meja. Andrew merai
Malam hari setelah Andrew pulang dengan dingin, sunyi hanya suara detak jam dinding. Sally berdiri di depan cermin riasnya, tergeletak kunci cadangan rumah Vino yang tadi ia bawa pulang, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan besok.Sally menatap pantulan diri nya. Ia terlihat berantak
“Ada apa sayang, siapa yang menghubungi mu?” Tanya Andrew sembari menatap pada tas Sally “Ah, itu biasalah Bang, mungkin si Vino yang penasaran ingin segera melihat hasil editan vidio tadi” Dengan dada yang penuh debar dan wajah pucat pasi sally menjawab pertanyaan Andrew. Sally tahu jika Andre
Lampu kota yang ditatap Vino dari jendela apartemennya adalah lampu yang sama yang mengiringi perjalanan taksi Sally menembus kemacetan Jakarta yang menyesakkan. Namun, bagi Sally, cahaya-cahaya itu tampak kabur, terbiaskan oleh lapisan air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya. Di dala







