LOGINBu Nita menghela napas. “Ya nggak dengan cara merendahkan dirimu juga, Dion.”“Merendahkan diri gimana? Justru itu menunjukkan kalau aku masih mengingat kesukaan istriku, pasti Tiara senang.” Dion menghisap rokoknya dalam-dalam.Perempuan enam puluh tujuh tahun itu kembali menghela napas. “Ya… besok Bunda belikan. Sekarang tidurlah, Bunda liat kamu ini sering banget duduk di sini sampai malam. Nggak baik buat kesehatan kamu.”Dion gegas mematikan api rokoknya, dan meninggalkan puntungnya di asbak. Dia bangkit. Menatap ibunya. “Besok tolong Bunda ikut bujuk Tiara ya.” ***Jam setengah satu, Dion sudah berada di ruang tunggu pengadilan. Duduk tidak tenang, menggoyang-goyangkan kaki. Sebentar-bentar dia melongok ke pintu masuk.Sementara sekotak pastel ayam dan sekotak siffon keju, mengisi bangku di antara Dion dan sang ibu. Bu Nita tampak sama gelisahnya dengan Dion, tapi dia masih terlihat bisa mengendalikan diri. Sibuk dengan ponselnya. “Ngobrol sama Pevita?” Dion melongok layar pon
Tiara memejamkan mata. “Sebaiknya nggak usah, Mah. Mamah sama Ayah doain aku aja—”“Loh kenapa? Kamu udah nggak mau kenal keluargamu lagi?” potong Bu Lela. Seperti biasa, nadanya meninggi.“Kalau nggak mau kenal pasti aku nggak kirim uang kan, Mah?” Tiara menghela napas. Cepat berpikir, tapi sejujurnya dia tidak punya alasan untuk benar-benar mencegah kedatangan Bu Lela ke persidangannya besok.Hening.“Ya udah.” Suara Bu Lela melunak. “Mamah sama Ayah nggak datang, tapi janji kamu tetap kirim uang rutin ya, dan lebih dari tiga juta.”Hanya helaan napas yang Tiara berikan sebagai jawaban.“Mamah doain kamu banyak uang ya, dan selalu ingat keluarga kamu di sini.” kata Bu Lela lagi.“Udah dulu ya, Mah.” Tiara langsung mematikan sambungan. Mengirimkan nomor Ezra pada Tante Ruth.Setelahnya, Tiara bersiap menggambar. Menyiapkan alat-alat gambarnya dan membuka galeri fotonya, melihat-lihat foto masa kecil Josh yang dikirimkan tadi. Dan dia langsung jatuh hati pada foto candid Josh yang ten
“Mas?!” Pevita tak tahan lagi untuk tidak berteriak. Tangisnya pecah. Banyak kata yang ingin keluar dari mulutnya, tapi pada akhirnya Pevita hanya bisa menangis. Kesal luar biasanya.Apalagi saat Dion mematikan sambungan tanpa berkata apa-apa lagi.Pevita terus menangis. Sudah benar-benar tidak paham dengan pemikiran lelaki itu, kok bisa-bisanya cinta Dion yang terasa membara selama dua tahun ke belakang, justru cepat susut setelah menikah. Jauh dari apa yang Dion janjikan, yang dulu katanya akan lebih sayang padanya daripada Tiara.Pevita menggerungkan tangis sejadi-jadinya.***Kret. Pintu terbuka.“Dion, Bunda denger apa yang barusan kamu omongin sama Pevita.” Bu Nita masuk perlahan.Lelaki itu terlihat kaget sebentar, untuk kemudian menghembuskan napas sembari memalingkan wajah. “Bunda nguping?” Nada suaranya terdengar kesal.“Iya. Bunda memang sengaja nguping, Bunda tau itu salah, tapi Bunda lakukan untuk kebaikanmu juga.” Bu Nita mendekat, berdiri persis di samping sang putra ya
“Tepatnya di hari Rabu jam satu,” kata Nancy.“Oh, cepat juga ya, Bu.” Tiara menelan ludah. Perlahan menyenderkan punggungnya, sementara duduknya melorot pelan-pelan. Dia perlu rileks karena tiba-tiba merasai seluruh syarafnya lemas.Meski sebenarnya Nancy kemarin sudah memberitahu kemungkinan soal ini, tapi masih saja terasa gemetar ketika akhirnya hal tersebut menjadi kenyataan.“Iya, dan hari ini surat pemberitahuannya akan dikirim ke rumah Pak Dion Setiawan,” ucap Nancy.Tiara menghembuskan napas sedikit kencang.“Bu Tiara baik-baik saja?” Suara Nancy terdengar penuh perhatian.“Sejujurnya saya agak… gimana….” Tiara tertawa canggung. Mendadak susah untuk mendeskripsikan isi hatinya.“Gimana… yang gimana nih?” Nancy ikut tertawa, tapi tawanya renyah. Terkesan ingin menghangatkan suasana. “Bu Tiara nggak perlu takut. Selama persidangan saya sendiri yang akan mendampingi Ibu, pokoknya nempel terus ke Bu Tiara.”Tiara akhirnya terkekeh.Nancy mengimbangi tawa itu lagi. “Nanti memang a
“Kamu…?” Wajah lelaki itu kentara terkesiap. Matanya membulat, sedang mulutnya melongo lebar. Namun beberapa detik kemudian berubah membentuk derai tawa. “Ada di sini? Ngapain?” “Kamu kenal dia?” tanya laki-laki lain yang berdiri di sebelahnya dengan wajah cengar cengir. Pandangannya jelatatan menatap Pevita yang memakai baju minim. “Boleh dong kenalan, Cantik.”Pevita langsung menampik sekuat tenaga tangan yang terulur itu. “Woee, galak!” jerit lelaki itu sembari meringis-ringis, tapi tampak sekali hanya akting. Karena setelah itu dia mengerling. “Enak nih yang galak-galak begini.”“Emang sok galak dia.” Widi, laki-laki itu, menimpali ucapan sang teman. Menatap Pevita. “Sumpah, nggak nyangka aja ternyata kamu ada di sini kalau suamimu ada di kantor.” Alis Widi menjungkit-jungkit. “Kayaknya boleh nih—”“Lo belum kapok? Pengen rasain tangan gue lagi?” Pevita berkacak pinggang. Memasang wajah super judes. “Mau sekalian gue ancurin muka jelek lo itu?”Widi tersenyum tipis. Mengedikkan
Pevita sudah melek, tapi masih bermalasan di tempat tidur. Sengaja meminta layanan kamar untuk membawakan sarapannya, tapi sedari tadi diantarkan, makanan itu pun belum dia sentuh. Pevita tengah asyik melihat-lihat spesifikasi berbagai mobil di layar ponselnya, jadi begitu Dion mengabulkan permintaannya, dia bisa langsung tunjuk.Perempuan itu menarik napas sementara jarinya masih menggulir. Meski dia tahu awal hubungannya dengan Dion itu salah, tapi sebenarnya dia tidak punya niatan untuk menguras harta lelaki itu. Pevita hanya berniatan menjadi istri Dion satu-satunya, menikmati fasilitas sebagai istri Dion sambil menunggu Dion mati.Selisih usia mereka delapan belas tahun, dan Pevita yakin Dion akan mati duluan, jadi tanpa perlu susah payah semua harta lelaki itu otomatis jatuh kepadanya. Ibarat kata, tidak perlu bekerja keras dapat jaminan hari tua sampai ke anak cucu.Ponsel berdering, dari Tiwi. Jari Pevita gegas menekan tombol terima.“Pev, a







