Share

Bab 8

Author: Iyustine
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-29 23:37:07

Tiara perlu menunggu hampir satu jam, sebelum pesannya dibalas dengan permintaan pindah aplikasi untuk menelepon. Akun itu yang memberi nomor terlebih dahulu, sambil memperkenalkan dirinya sebagai Eva.

Terburu, Tiara menyalin nomor tersebut ke aplikasi perpesanan. Saat mulai mendengar nada dering, jarinya mulai bergetar karena gugup. “H-halo, s-saya M-mutiara….”

“Siang, Kak Mutiara. Salam kenal ya, saya Eva.” Suara di seberang terdengar ceria.

“S-siang, K-kak.” Tiara semakin gugup. Sudah lama sekali dia tidak bertelepon dalam situasi yang resmi seperti ini. Terlebih saling memanggil ‘kakak’ yang bagi dirinya, perempuan empat puluh empat tahun, terasa sedikit aneh.

Beruntung, Eva benar-benar terdengar ramah. Perempuan itu pandai sekali membuka percakapan sehingga kegugupan Tiara memudar seiring obrolan mereka yang mengalir luwes. Di akhir pembicaraan, keduanya sepakat bertemu jam tiga sore di salah satu kafe yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah Tiara.

Telepon ditutup. Dan Tiara menghembus napas lega. Masih ada waktu satu jam sebelum pertemuan itu. Dia pun bangkit dengan semangat mempersiapkan semuanya.

***

Rumah sepi saat Tiara turun. Jam segini, biasanya Bu Nita memang masih tidur siang.

“Bi, pamitkan Bunda, saya ke rumah Ayah ya.” Tiara menemui pada Bi Ima yang sedang duduk santai di teras belakang. Alibi itu sudah dia siapkan sejak pertama kali mengiyakan tawaran Eva. Mengantisipasi jika pertemuannya memakan waktu.

Bi Ima tampak menyapu penampilan sang majikan, sebelum akhirnya mengangguk. “Iya, Bu. Hati-hati.”

Tiara pergi menggunakan motor matic-nya. Sepanjang perjalanan hatinya terus melompat, bergemuruh saking senangnya. Namun begitu motornya menyentuh area parkir kafe, mendadak nyali Tiara menciut.

Perempuan yang mencepol rambutnya itu menghela napas. Kafe-nya tidak terlalu ramai, tapi sepertinya hanya anak-anak muda yang ada di dalam sana. Langkah Tiara menjadi gamang, dia memang tidak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya. Dia lebih sering ke resto fast food atau makan di dalam mall saat…

“Ah.” Tiara cepat menepis kenangan itu.

Di depan salah satu pintu, dia berhenti. Celingak celinguk dengan perasaan tidak percaya diri. Apalagi beberapa orang mulai menoleh dan tampak memperhatikan dirinya dengan pandangan menyelidik.

“Kak Mutiara ya?” Pintu di depan Tiara mendadak terbuka. Seorang perempuan yang terlihat masih sangat muda, mungkin baru dua puluh tahunan, muncul dengan wajah ceria. Dia memakai kemeja flannel dan celana jins.

Tiara melempar senyum. Lega. Suara hangat itu langsung dia kenali. “Mbak Ev… eh Kak Eva ya?”

“Panggil Eva saja nggak apa-apa.” Eva berderai. Meraih tangan Tiara tanpa canggung. “Yuk, masuk, Kak.”

Tiara mengangguk. Mengikuti langkah gadis ceria itu ke lantai dua.

“Nah, ini Farel, patner Kakak bikin buku nanti.” Eva berhenti di depan sebuah meja.

Seorang pemuda dengan rambut ikal yang hampir menyentuh pundak, mendongak dari layar ponselnya. Dia gegas bangkit, menyalami Tiara sembari memperkenalkan diri.

Tiara mendadak tersenyum. Baru menyadari jika dia datang dengan penampilan terlalu resmi. Dia memakai baju dan berdandan seperti saat dia akan datang ke pertemuan sekolah Lionel. Karena berpikir, pertemuan di kafe ini sebagai interview untuk mendapatkan pekerjaan. Sedangkan Farel dan Eva tampak santai.

“Kayaknya saya salah kostum ya? Makanya dari tadi banyak yang ngeliatin,” cetus Tiara. “Maaf ya.”

“Nggak ah, nggak perlu minta maaf, Kak. Orang ke sini bebas-bebas aja mau pakai baju apa pun,” sahut Farel. Pandangannya jatuh ke kanan. “Tuh, Eva penampilan kek copet terminal aja cuek.”

Eva terbahak. “Sialan lo.”

Ketiganya tertawa. Dan secara bersamaan mengambil duduk. Tiara berjejeran dengan Eva, sementara Farel ada di seberang Eva.

Tanpa membuang waktu, Farel mulai menjelaskan bahwa mereka berencana untuk memakai jasa Tiara dalam memproduksi buku bergambar anak-anak. Pria itu juga berterus terang bahwa perusahaan mereka tergolong baru merintis, sehingga kemungkinan belum bisa memberikan bayaran yang besar.

Tiara sama sekali tidak keberatan. Baginya yang penting dia punya kesempatan terlebih dahulu.

Farel tampak mengangguk puas. “Nanti, saya yang akan membuat ceritanya, dan Kakak yang menggambar ilustrasinya.”

“Maksudnya saya menggambar di buku gambar biasa atau gimana?” tanya Tiara.

“Oh, buku sama pensil warnanya sudah kami sediakan.” Eva mengangkat sebuah tas jinjing yang sedari tadi berada di bawah meja. “Makanya kami perlu ketemu sama Kakak.”

Tiara menerima tas itu. Di dalamnya terlihat beberapa buku gambar dan pensil warna dengan kotak besar. Mendadak napas Tiara terasa berat, adegan perdebatan lucu di sebuah toko buku dengan Lionel kecil kala itu, mencuat begitu saja.

“Lio nggak mau yang kecil, Ma. Mau yang ini aja! Pokoknya yang besar!” Wajah tampannya yang polos menekuk. 

“Yang besar untuk anak SD, Sayang. Nih ada tulisannya… khusus untuk anak SD, tidak boleh dibeli anak-anak yang masih TK.” Tiara terpaksa membohonginya, sebab uang mereka harus dipakai untuk kebutuhan lain. “Kalau Lio sudah SD baru kita beli ya.”

“Kak….”

“E-eh.” Tiara terkesiap manakala pundaknya ditepuk Eva. “Maaf ya.”

“Nggak papa.” Eva dan Farel menyahut bersamaan.

“Lanjut ya, Kak.” Farel tersenyum. “Jadi nanti Kakak coba gambar beberapa tokoh hewan, sebisa mungkin hasil kreasi sendiri, jangan mencontoh dari gambar yang sudah ada. Kalau oke, kita akan kontrak Kakak untuk menerbitkan dua atau tiga buku sebagai permulaan.”

“Kalau bukunya laris, kita akan lanjut lagi,” tambah Eva.

Tiara menahan napas. Senang sekaligus takut, bagaimana kalau ternyata mereka tidak suka gambarnya. Apalagi sudah bertahun-tahun dia tidak menggambar.

Seakan tahu, Eva menggenggam tangan Tiara. “Kita yakin Kakak bisa, gambar singa yang di sosmed itu bagus… banget.”

Farel terlihat mengangguk setuju. “Pasti bisa. Kakak coba gambar dulu, hasilnya bisa dikirim via pesan ke saya. Nanti kalau kita sudah oke, baru kita garap sesuai cerita.”

“Mudah-mudahan saya bisa ya.” Tiara meremas-remas ujung tas yang berisi buku gambar itu.

“Yakin dulu, Kak.” Eva terus memberi semangat.

Mereka kemudian berbincang lebih cair. Farel dengan senang hati menerangkan proses bagaimana sebuah gambar biasa menjadi buku yang akan dicetak puluhan eksemplar. Lalu merambat ke pembicaraan yang lebih umum, sedikit menyerempet hal pribadi. Yang akhirnya Tiara tahu, Eva masih kuliah dan mereka berdua merupakan sepasang kekasih.

Di tengah perbincangan mereka, Eva memaksa Tiara memesan minuman dan camilan sebagai teman ngobrol.

Akhirnya setelah sembilan puluh menit yang hangat itu, ketiganya berdiri. Berbarengan ke tempat parkir, lalu berpisah dengan saling janji untuk segera berkabar.

Tiara pulang dengan hati yang lebih senang daripada sewaktu berangkat tadi. Sambil bertekad akan membuat gambar sebaik mungkin.

***

Motor Tiara baru saja memasuki halaman rumah, saat Bu Nita terlihat keluar tergesa. Tangannya berkacak pinggang. “Keluyuran ke mana kamu?” 

Tiara terkesiap. “D-dari rumah Ay—”

“Tiara, ditelpon dari tadi kok nggak diangkat?” Sosok Bu Lela ikut muncul dari dalam rumah. Disusul ayahnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 91

    Dada Tiara terasa meledak. Wajahnya panas sekali, sampai dia sedikit kesulitan bernapas. “Josh?” Mata Tante Ruth terlihat penuh selidik. Dia mendekati sang putra dengan tatapan yang terlihat tajam. Namun seiring langkahnya yang mendekat, senyum perempuan berambut pendek itu muncul perlahan. “Apa… Tiara orangnya?” Tiara spontan melebarkan mata. Meski tidak paham apa yang dimaksudkan Tante Ruth, hatinya tetap berdesir. Mendesirkan rasa takut. Dia masih trauma dengan salah paham yang terjadi antara dirinya dan Eva. Josh terdengar berderai tipis. “Aku bikinin cokelatnya dulu ya, jadi kita bisa bicara lebih rileks.” “Aku nggak! Eh, m-maksudnya… m-makasih, tapi nggak usah.” Suara Tiara bergetar. “A-aku harus beres-beres, k-karena besok aku mau pergi keluar kota.” Tante Ruth dan Josh berpandangan. Tiara cepat mengangguk, untuk meyakinkan perkataanya sendiri. “J-jadi sebenarnya aku ke sini mau pamit sekalian.” Takut-takut dia menatap Josh. “G-gimana cara pamit untuk keluar dari kost-nya?

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 90

    Tiara dan Josh berbarengan mendongak, saling menatap dalam jarak yang begitu dekat. Entah siapa yang memulai, keduanya sama-sama melempar senyum.“Tiara,” desis Josh lirih. “Kamu cantik sekali.”Tiara terkesiap, cepat-cepat menunduk. Malu, takut dan perasaan-perasaan aneh menjadi tumpang tindih. Sementara dadanya berdentum terus menerus.“Tiara—”“Tablet-nya?” potong Tiara cepat. Berusaha menetralkan suasana.“Aman kok,” sahut Josh. Nadanya kentara bergetar, tidak tenang seperti biasanya. Dia terlihat menggeser sedikit, mengikis jarak meski tidak selebar awalnya.“Aku nyalain tabletnya ya?” kata Josh lagi. Suaranya sudah terdengar sedikit lebih tenang. Dia menoleh. “Tablet baru ya?”Tiara mengangguk. Tangannya sudah mulai dingin. “Yang kemarin punya Eva, udah diminta balik. Semuanya, sampai ke alat-alat yang bikin konten itu, jadi aku beli sendiri….”“Oh.” Josh mengangguk-angguk.‘Astaga…,’ keluh Tiara dalam hati. Dia tidak bermaksud mengadu, tadi hanya topik itu yang terlintas di ota

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 89

    Tiara tercenung agak lama, memandangi layar ponselnya. Saat ini dia memang belum ingin bertemu Ayah, karena jujur masih ada sakit hati dengan peristiwa yang kemarin-kemarin. Namun sebenarnya dia rindu pada sosok lelaki itu.Ayah yang juga jadi ibunya sejak dia piatu di usia tiga belas tahun, yang rela melakukan apa saja demi dirinya, yang membersamai masa remaja hingga dewasa. Hanya Ayah yang ada dalam hidup Tiara, sampai pada akhirnya Dion mulai intens mendekatinya.“Ti, cowok yang sering datang itu pacar kamu?” tanya Ayah waktu itu.Tiara menelan ludah, takut Ayah marah seperti saat dia pernah didekati beberapa lelaki semasa sekolah dulu. Namun ternyata kali ini Ayah mengelus punggungnya dan lanjut bicara. “Kenalin sama Ayah, Ayah pasti merestui kalau niat cowok itu bener. Ngomong-ngomong kalian ketemu di mana?”“Di tempat kerja, Yah.” Tiara masih menunduk.Ayah mengangguk-angguk. Senyumnya tampak melebar. “Sekantor?”“Bukan, dia sales cat yang sering datang ke kantor untuk nawarin

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 88

    “Aku punya bayi tujuh bulan, Kak. Sedih banget tiap liat dia rewel karena kelaparan, istriku kadang ikutan nangis.” Bayu melempar senyum getir. Matanya memperlihatkan riak-riak air. “Aku tau pernah salah sangka, pernah ngata-ngatain Kak Tiara juga, maafin aku ya, Kak.”Tiara menatap bimbang. Dia tidak pernah menyimpan dendam pada Bayu, alasan dia memblokir akun sosial media Bayu juga untuk menjaga perasaan Eva.“Usaha Kakak sama Kak Eva lancar kan? Kayaknya banyak pesanan masuk ya, aku kadang kepoin konten Kakak pakai akun aku yang lain.” Bayu menyeringai. Kemudian cepat menunduk, sembari mengusap sudut matanya. “Kalau gini beneran nyesel banget, pernah bikin salah sama Kak Eva, sama Kak Tiara.”“Aku sama Bang Farel kayak kena karma,” lanjut Bayu. “Orderan sepi, tiap ngerjain proyek ada… aja alat yang rusak. Akhirnya klien pada nggak percaya sama Bang Farel.”Tiara akhirnya tersenyum, meski hanya senyum tipis. Bukan mentertawakan cerita soal karma, tapi entah mengapa ada kelegaan yang

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 87

    “Tiara, ada kabar baik. Orang yang pesan buku kemarin minta kerja sama lagi, tapi sekarang minta spesifik tentang serangga. Coba kamu cari empat atau lima serangga, terus ajukan ya.” Suara Josh terdengar tenang. Meski suaranya seperti bersaing dengan bunyi deru kendaraan dan klakson yang bersahutan, mungkin karena pria itu masih jogging di jalan besar.Tiara menggigit bibir, seraya mengatur desah napasnya agar lebih teratur. Itu memang kabar gembira, kalau saja masih ada Eva dan peralatannya. “Tiara? Halo…?” Suara Josh kini ditimpali derai ringan. “Apa tiba-tiba kamu ketiduran?”“E-eh, maaf.” Tiara menelan ludah. Mencoba ikut berderai. “Tapi… hubungan aku sama Eva belum membaik. Kamu pasti udah denger kan?”Josh sepertinya menghela napas. Suara tarikannya terdengar halus sampai ke telinga Tiara. “Sorry, bukan niat menggurui ya, tapi ini kerjaan profesional. Membangun reputasi itu penting, apalagi untuk kamu yang sedang merintis.” Pria tinggi seratus delapan puluh tiga itu seperti se

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 86

    “Aduh, s-sambelnya pedes banget ternyata.” Tiara cepat-cepat membuat alibi. Tangannya bergetar saat mengambil gelas. Dan terus gemetaran sepanjang dia menyesap teh di dalamnya.Dia merasa Tante Ruth sedang menyindirnya. Mungkinkah saat bertelepon tadi Eva juga melontarkan prasangka antara dirinya dengan Josh? Soalnya saat Samudera berkata begitu, Tiara yakin pasti sumbernya dari Eva, sebab yang dia tau Samudera tidak mengenal Josh.“Kamu nggak apa-apa, Tiara?” tanya Tante Ruth sembari mengulurkan tisu. “Sambelnya memang pedes banget, Tante pikir kamu biasa makan pedes… tapi nggak nyangka sampai mukamu merah semua gitu. Meler lagi.” Dia menceplos derai ringan.“Iya, Tan, pedes banget. Keselek jadi tambah kerasa pedes?” Tiara tertawa sumbang. Mengelap seputar hidung, yang ternyata memang mengeluarkan cairan.“Duh, jangan-jangan karena kamu kaget sama pertanyaan Tante tadi?” Mata perempuan berambut cepak itu mencorong jenaka. “Maaf ya kalau itu yang bikin kamu keselek.”Tiara meringis. O

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status