LOGINTiara perlu menunggu hampir satu jam, sebelum pesannya dibalas dengan permintaan pindah aplikasi untuk menelepon. Akun itu yang memberi nomor terlebih dahulu, sambil memperkenalkan dirinya sebagai Eva.
Terburu, Tiara menyalin nomor tersebut ke aplikasi perpesanan. Saat mulai mendengar nada dering, jarinya mulai bergetar karena gugup. “H-halo, s-saya M-mutiara….”
“Siang, Kak Mutiara. Salam kenal ya, saya Eva.” Suara di seberang terdengar ceria.
“S-siang, K-kak.” Tiara semakin gugup. Sudah lama sekali dia tidak bertelepon dalam situasi yang resmi seperti ini. Terlebih saling memanggil ‘kakak’ yang bagi dirinya, perempuan empat puluh empat tahun, terasa sedikit aneh.
Beruntung, Eva benar-benar terdengar ramah. Perempuan itu pandai sekali membuka percakapan sehingga kegugupan Tiara memudar seiring obrolan mereka yang mengalir luwes. Di akhir pembicaraan, keduanya sepakat bertemu jam tiga sore di salah satu kafe yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah Tiara.
Telepon ditutup. Dan Tiara menghembus napas lega. Masih ada waktu satu jam sebelum pertemuan itu. Dia pun bangkit dengan semangat mempersiapkan semuanya.
***
Rumah sepi saat Tiara turun. Jam segini, biasanya Bu Nita memang masih tidur siang.
“Bi, pamitkan Bunda, saya ke rumah Ayah ya.” Tiara menemui pada Bi Ima yang sedang duduk santai di teras belakang. Alibi itu sudah dia siapkan sejak pertama kali mengiyakan tawaran Eva. Mengantisipasi jika pertemuannya memakan waktu.
Bi Ima tampak menyapu penampilan sang majikan, sebelum akhirnya mengangguk. “Iya, Bu. Hati-hati.”
Tiara pergi menggunakan motor matic-nya. Sepanjang perjalanan hatinya terus melompat, bergemuruh saking senangnya. Namun begitu motornya menyentuh area parkir kafe, mendadak nyali Tiara menciut.
Perempuan yang mencepol rambutnya itu menghela napas. Kafe-nya tidak terlalu ramai, tapi sepertinya hanya anak-anak muda yang ada di dalam sana. Langkah Tiara menjadi gamang, dia memang tidak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya. Dia lebih sering ke resto fast food atau makan di dalam mall saat…
“Ah.” Tiara cepat menepis kenangan itu.
Di depan salah satu pintu, dia berhenti. Celingak celinguk dengan perasaan tidak percaya diri. Apalagi beberapa orang mulai menoleh dan tampak memperhatikan dirinya dengan pandangan menyelidik.
“Kak Mutiara ya?” Pintu di depan Tiara mendadak terbuka. Seorang perempuan yang terlihat masih sangat muda, mungkin baru dua puluh tahunan, muncul dengan wajah ceria. Dia memakai kemeja flannel dan celana jins.
Tiara melempar senyum. Lega. Suara hangat itu langsung dia kenali. “Mbak Ev… eh Kak Eva ya?”
“Panggil Eva saja nggak apa-apa.” Eva berderai. Meraih tangan Tiara tanpa canggung. “Yuk, masuk, Kak.”
Tiara mengangguk. Mengikuti langkah gadis ceria itu ke lantai dua.
“Nah, ini Farel, patner Kakak bikin buku nanti.” Eva berhenti di depan sebuah meja.
Seorang pemuda dengan rambut ikal yang hampir menyentuh pundak, mendongak dari layar ponselnya. Dia gegas bangkit, menyalami Tiara sembari memperkenalkan diri.
Tiara mendadak tersenyum. Baru menyadari jika dia datang dengan penampilan terlalu resmi. Dia memakai baju dan berdandan seperti saat dia akan datang ke pertemuan sekolah Lionel. Karena berpikir, pertemuan di kafe ini sebagai interview untuk mendapatkan pekerjaan. Sedangkan Farel dan Eva tampak santai.
“Kayaknya saya salah kostum ya? Makanya dari tadi banyak yang ngeliatin,” cetus Tiara. “Maaf ya.”
“Nggak ah, nggak perlu minta maaf, Kak. Orang ke sini bebas-bebas aja mau pakai baju apa pun,” sahut Farel. Pandangannya jatuh ke kanan. “Tuh, Eva penampilan kek copet terminal aja cuek.”
Eva terbahak. “Sialan lo.”
Ketiganya tertawa. Dan secara bersamaan mengambil duduk. Tiara berjejeran dengan Eva, sementara Farel ada di seberang Eva.
Tanpa membuang waktu, Farel mulai menjelaskan bahwa mereka berencana untuk memakai jasa Tiara dalam memproduksi buku bergambar anak-anak. Pria itu juga berterus terang bahwa perusahaan mereka tergolong baru merintis, sehingga kemungkinan belum bisa memberikan bayaran yang besar.
Tiara sama sekali tidak keberatan. Baginya yang penting dia punya kesempatan terlebih dahulu.
Farel tampak mengangguk puas. “Nanti, saya yang akan membuat ceritanya, dan Kakak yang menggambar ilustrasinya.”
“Maksudnya saya menggambar di buku gambar biasa atau gimana?” tanya Tiara.
“Oh, buku sama pensil warnanya sudah kami sediakan.” Eva mengangkat sebuah tas jinjing yang sedari tadi berada di bawah meja. “Makanya kami perlu ketemu sama Kakak.”
Tiara menerima tas itu. Di dalamnya terlihat beberapa buku gambar dan pensil warna dengan kotak besar. Mendadak napas Tiara terasa berat, adegan perdebatan lucu di sebuah toko buku dengan Lionel kecil kala itu, mencuat begitu saja.
“Lio nggak mau yang kecil, Ma. Mau yang ini aja! Pokoknya yang besar!” Wajah tampannya yang polos menekuk.
“Yang besar untuk anak SD, Sayang. Nih ada tulisannya… khusus untuk anak SD, tidak boleh dibeli anak-anak yang masih TK.” Tiara terpaksa membohonginya, sebab uang mereka harus dipakai untuk kebutuhan lain. “Kalau Lio sudah SD baru kita beli ya.”
“Kak….”
“E-eh.” Tiara terkesiap manakala pundaknya ditepuk Eva. “Maaf ya.”
“Nggak papa.” Eva dan Farel menyahut bersamaan.
“Lanjut ya, Kak.” Farel tersenyum. “Jadi nanti Kakak coba gambar beberapa tokoh hewan, sebisa mungkin hasil kreasi sendiri, jangan mencontoh dari gambar yang sudah ada. Kalau oke, kita akan kontrak Kakak untuk menerbitkan dua atau tiga buku sebagai permulaan.”
“Kalau bukunya laris, kita akan lanjut lagi,” tambah Eva.
Tiara menahan napas. Senang sekaligus takut, bagaimana kalau ternyata mereka tidak suka gambarnya. Apalagi sudah bertahun-tahun dia tidak menggambar.
Seakan tahu, Eva menggenggam tangan Tiara. “Kita yakin Kakak bisa, gambar singa yang di sosmed itu bagus… banget.”
Farel terlihat mengangguk setuju. “Pasti bisa. Kakak coba gambar dulu, hasilnya bisa dikirim via pesan ke saya. Nanti kalau kita sudah oke, baru kita garap sesuai cerita.”
“Mudah-mudahan saya bisa ya.” Tiara meremas-remas ujung tas yang berisi buku gambar itu.
“Yakin dulu, Kak.” Eva terus memberi semangat.
Mereka kemudian berbincang lebih cair. Farel dengan senang hati menerangkan proses bagaimana sebuah gambar biasa menjadi buku yang akan dicetak puluhan eksemplar. Lalu merambat ke pembicaraan yang lebih umum, sedikit menyerempet hal pribadi. Yang akhirnya Tiara tahu, Eva masih kuliah dan mereka berdua merupakan sepasang kekasih.
Di tengah perbincangan mereka, Eva memaksa Tiara memesan minuman dan camilan sebagai teman ngobrol.
Akhirnya setelah sembilan puluh menit yang hangat itu, ketiganya berdiri. Berbarengan ke tempat parkir, lalu berpisah dengan saling janji untuk segera berkabar.
Tiara pulang dengan hati yang lebih senang daripada sewaktu berangkat tadi. Sambil bertekad akan membuat gambar sebaik mungkin.
***
Motor Tiara baru saja memasuki halaman rumah, saat Bu Nita terlihat keluar tergesa. Tangannya berkacak pinggang. “Keluyuran ke mana kamu?”
Tiara terkesiap. “D-dari rumah Ay—”
“Tiara, ditelpon dari tadi kok nggak diangkat?” Sosok Bu Lela ikut muncul dari dalam rumah. Disusul ayahnya.
Josh tidak merespon telepon Tiara, tapi tiga puluh menit kemudian lelaki itu mengirimkan pesan. Mengatakan bahwa saat ini dia sedang berada di klub sepak bolanya sampai sekitar jam dua belas. “Va, Josh mengundang kita makan siang di rumahnya. Gimana?” Tiara bertanya dengan layar ponsel yang masih menyala. “Katanya, sore nanti mau keluar kota untuk pertandingan.”“Terserah Kakak, aku ngikut aja,” sahut Eva. “Hari ini kuliahku jam dua.”“Gimana ya? Nggak enak ngerepotin terus, tapi kalau menunggu sampai Josh pulang… masih dua hari lagi.” Tiara merasa dia perlu bertemu Josh sesegera mungkin, ingin memohon agar Josh berhenti memberi bantuan. Bukannya tidak bersyukur, tapi dia merasa yang Josh lakukan untuk dirinya sudah terlalu banyak.“Ya udah, terima aja… eh, gimana kalau kita datengnya jam sebelas, bantuin mamanya siapin makan siang?” usul Eva. “Bang Josh tinggal berdua sama mamanya, kita beri kejutan aja gitu.”Tiara setuju. Lalu menginformasikan pada Josh bahwa mereka menerima undan
“Mamah paham kalau kamu kecewa sama Dion, kemarahan kamu itu wajar… banget, tapi jangan menghilang. Yang tersiksa itu ayahmu, Sayang.” Bu Lela terus membujuk. “Atau kalau memang kamu belum mau pulang. Kasih tau Mamah kamu ada di mana, paling nggak ayahmu ini tenang kalau tau kamu di tempat yang aman.”Tiara menyeka air matanya. “Mah, tolong… biarin aku bicara sama Ayah dulu.”Terdengar dengusan kuat yang menerpa telinga Tiara, disambung decak kesal yang tentu saja itu keluar dari mulut ibu tirinya.“Tiara,” panggil Pak Reza. Nadanya menggantung. Sementara sayup-sayup terdengar suara Bu Lela di belakangnya. Seperti sedang mendikte sang suami dengan kalimat-kalimat untuk membujuk Tiara pulang.Tiara memejamkan mata. Bisa mendengar maksud yang diucapkan Bu Lela. “Yah, aku baik-baik aja di sini. Ada orang baik hati yang menolong aku.”“Jadi benar kamu pergi sama laki-laki?” Pak Reza terdengar tidak dapat menutupi rasa terkejutnya.Tiara menelan ludah. Bingung, tapi pada akhirnya mengiyaka
“Dijemput laki-laki?” Mata Dion membelalak tak percaya.“I-iya… ganteng, mobilnya bagus….” Suara Bu Munji sayup, terdengar ringan mengalir.Lelaki itu menghembus napas pelan-pelan, tangannya yang memegang ponsel meluruh perlahan. Tanpa salam, dia menekan tombol untuk mengakhiri sambungan. Dion tercenung dalam posisi itu sampai menit berlalu. Sesekali menarik napas lagi, menelan ludah. Siapa laki-laki yang bersama Tiara? Rasanya Tiara sudah lama tidak bersosialisasi dengan teman-temannya, apalagi teman lelaki. Mungkinkah orang baru? Tapi siapa?Kret. Pintu terbuka, tampak sosok Pevita. Tersenyum manis.“Mas… belum selesai?” Perempuan itu berangsur mendekat. Meletakkan kedua tangan di bahu Dion. Melihat laptop yang terbuka dengan dokumen berjudul ‘laporan bulanan’. “Apa laporannya harus beres malam ini juga, Mas?”“Iya, buat bahan meeting besok pagi. Tapi sebentar lagi selesai kok.” Jari Dion mulai memegang keyboard laptop yang sedari tadi sebenarnya tidak dia sentuh. Lalu bergerak, se
Pak Reza mengangguk.“Cepat, Yah. Takut nanti dia kabur!” Bu Lela nyaris berteriak.Pak Reza, yang badannya juga tambun, bergerak secepat dia bisa. Bu Lela mengikutinya dari belakang. Di tengah koridor mereka bisa melihat seorang perempuan berjaket, turun dari motor, membuka helm… bukan Tiara.Keduanya spontan berhenti. Saling menatap. “Bukan ternyata, Mah,” desis Pak Reza. “Mungkin betul kata ibu itu, Tiara sudah pergi dari sini.”“Ck, mana mungkin, Yah. Tiara baru pergi tiga hari dari rumah, mana ada nge-kost cuma tiga hari. Kita balik ke ibu itu, biar aku yang paksa….” Bu Lela melangkah bergegas kembali ke rumah Bu Munji.Sang empunya rumah sudah dalam keadaan duduk di teras. Tampak lebih santai dari ketika Bu Lela tinggalkan tadi. Dia tersenyum saat kedua orang tua Tiara itu berangsur mendekat.“Bu, jangan kira kami hanya menggertak ya.” Bu Lela menghembus napas, sedikit ngos-ngosan karena tubuh gemuknya rentan capek jika dibawa jalan terlalu cepat.“Saya juga bicara apa adanya, B
Dion menghembuskan napas. Bergerak merogoh saku celana.Bu Lela tampak menjawil lengan Pak Reza. Lelaki itu pun meringis, dan berkata, “Nak Dion… apa boleh sekalian minta jatah yang bulan besok? Kan tinggal dua hari lagi dari jadwal biasa?”“Iya, Nak. Cuma maju dua hari nggak apa-apa ya.” Bu Lela tersenyum-senyum.Dion menghentikan gerakannya. Tidak jadi mengambil dompet, melainkan kembali membuka ponselnya. “Aku transfer kalau gitu.”“Tapi dilebihin sama ongkos yang sekarang ya, hehe mengingatkan saja… takut lupa.” Kedua orang tua Tiara itu cengengesan sambil saling melirik.Dion diam saja. Tetap menggerakkan jari jemarinya di layar ponsel. Sesaat kemudian ponsel Pak Reza berbunyi, dan detik itu juga senyum ayah kandung Tiara tersebut merekah sumringah. “Makasih, Nak Dion.”“Aku tunggu ya, Yah. Nggak usah telpon, langsung bawa Tiara pulang aja.” Dion bangkit.“Siap, siap.” Pak Reza ikut bangkit. Demikian pula dengan Bu Lela.Tanpa perlu menunggu keduanya meninggalkan rumah, Dion lang
Satu pesan masuk lagi. Mengirim sebuah titik lokasi yang dimaksudkan.Dion spontan mengepalkan tangan. Senang bukan main karena firasatnya tidak salah. Tadi dia sudah bolak balik menyusur jalan di sekitar gangnya, sebelum akhirnya menemukan sebuah tongkrongan bapak-bapak tak jauh dari situ.Lelaki itu menghembus napas lega, berjalan ke ruang makan sembari tersenyum. Senyumnya yang terlalu sumringah justru membuat Pevita menjadi curiga.“Jangan bilang alasan pipis tadi karena mau telponan sama cewek lain ya,” cetus Pevita. Matanya kembali menghunjam.Yang lain ikut menatap Dion.“Sayang…” Dion gegas merangkul istrinya itu. Meremas lembut bahu Pevita. “Yang bikin aku senang itu karena bonus tiga bulanan baru aja cair.”Tatapan Pevita perlahan berubah, senyumnya pun merekah. “Serius?”Dion mengangguk.“Bisa pas ya, Mas. Buat bulan madu kedua kita.” Pevita tanpa malu memeluk sang suami, lalu mendaratkan cium di pipi Dion dalam-dalam.“Hmm… makanya jangan curiga dulu kamu,” celetuk Bu Nita







