Share

Bab 7

Author: Iyustine
last update publish date: 2026-08-28 13:20:22

“Atau….” Pevita menutup mulutnya sendiri. Tampak menyembunyikan tawanya yang mengikik. “Karena kamu takut diceraiin kan? Takut jadi gembel tanpa uang Mas Dion? Makanya tiba-tiba jadi penurut.”

“Ya wajar sih kalau kamu takut. Kan kamu tua, mandul… aduh, mana ada laki-laki yang mau.” Pevita akhirnya tertawa lepas. Namun sedetik kemudian dia mendadak diam.

Tiara paham. Dia pun menoleh, menemukan Dion yang semakin mendekat. Tiara terburu memasang senyum, lalu sengaja memaksakan nada suara yang dibuat ceria, seraya berkata, “Pa, aku pindahin barang-barangku sekarang aja ya?”

Dion terlihat melempar pandang pada Pevita. Seolah-olah meminta persetujuan. Dan saat istri mudanya itu mengangguk, Dion baru menjawab oke.

“Sip. Aku mulai sekarang.” Tiara tetap memakai nada ceria, lalu melangkahkan kaki menuju kamar. Meninggalkan dua orang itu yang tampaknya mulai saling merangkul, seakan ingin pamer kemesraan. Mungkin mengira dia akan cemburu.

Namun saat sampai di depan kamar dan memegang handle pintu, perempuan itu menghela napas panjang. Tiba-tiba hatinya terasa berat untuk membuka. Mungkin benar jika perasaannya kepada Dion sudah mati, tapi bagaimana pun mereka pernah menjadi sepasang suami istri yang harmonis.

Dan rasanya masih seperti mimpi. Dalam seminggu ini dia dipaksa kehilangan anak, kehilangan suami, kehilangan harga diri…

“Aku bantu ya, Mbak.” Mendadak Pevita sudah ada di sisi Tiara. Menggeser tangan Tiara yang masih membeku dari handle pintu, dan segera membuka lebar-lebar.

“Kamu pindahin baju-bajumu saja, Ma. Barang yang lain mulai sekarang menjadi milik bersama antara kamu dan Pevita, karena kalian sama-sama istriku.” Suara Dion ada di belakang mereka.

Spontan Tiara menoleh pada Pevita. Perempuan culas itu membalas dengan senyum manis yang dibuat-buat.

“Jangan mulai ribut….” Dion menaikkan nada.

Tiara cepat tersenyum. Dia tidak tahan lagi untuk tetap diam. “Nggak, Pa. Aku sama sekali nggak masalah. Cuma heran, masa Papa tega liat Pevita pakai barang-barang bekas aku?”

“E-eh, ya nggak gitu maksudnya.” Dion tergeragap.

“Aku nggak masalah,” sambar Pevita. “Tujuan aku menikah demi menjaga nama keluarga Setiawan, bukan ingin dibelikan ini itu. Aku sudah biasa bekerja, cari uang sendiri. Kalau bukan karena Mas Dion yang minta, aku juga akan tetap kerja kok.”

Tiara menahan senyum melihat cara bicara Pevita yang cepat serta meletup-letup. Kentara sekali perempuan itu emosi, tampak sangat tidak terima. Meski harus diakui, jago juga Pevita membalikkan keadaan.

“Kamu ini memang suka banget cari ribut, Ma. Sudah, cepat sana ambil baju-bajumu!” Dion pun tertular emosi. Namun tatapannya melembut ketika berpaling pada Pevita. “Biar Bi Ima saja yang bantu, Sayang. Kamu temenin Bunda sana, biar Mas yang awasi Tiara.”

Tiara menahan napas. Tak habis pikir dengan pikiran Dion, yang tentu saja karena sudah diracuni Pevita.

“Nggak papa, Mas, biar aku tetap bantu.” Pevita melempar senyum, lalu mendahului masuk. Dion menyusul cepat.

Tiara mau tidak mau ikut masuk. Membiarkan Pevita yang memimpin, menunjuk barang-barang yang boleh dia bawa. Sementara Dion diam saja, tampak setuju dengan semua keputusan Pevita.

Tiara berpasrah. Dia sudah tidak menginginkan apa-apa selain pergi dari rumah ini. Sambil menata baju-bajunya, pikiran Tiara dialihkan untuk merencanakan langkahnya setelah ini. Yaitu mencari pekerjaan via internet, atau mungkin nekat menghubungi kenalan lama. Dia punya ijasah diploma, bisa sedikit komputer… 

“Abis ini bantu aku packing barang yang mau dibawa ke Bali ya, Mbak.” Pevita memecah lamunan.

Tiara mengiyakan dengan cepat.

Ternyata permintaan Pevita tidak berakhir sampai di situ. Setelah itu ada lagi, ada lagi... tetapi Tiara tetap meladeninya tanpa protes. Sesekali dia melihat kilat kemenangan di senyum Pevita, dan lagi-lagi Tiara tidak peduli.

Akhirnya selesai. Dion dan Pevita sudah bersiap pergi bulan madu, Tiara pun kembali ke kamar Lio dengan keadaan sangat lelah. Namun perlakuan buruk Dion dan Pevita tadi memicu Tiara langsung mengeksekusi rencananya untuk mencari pekerjaan. Dia harus memanfaatkan kepergian Pevita, sebelum perempuan licik itu kembali  dan mulai mengerjainya lagi.

Begitu Tiara membuka akun sosial medianya, dia mengernyit mendapati notifikasi yang cukup banyak.

“Ya Tuhan,” desis Tiara. Matanya melebar, ternyata gambar singa yang dia unggah semalam mendapat banyak suka. Beberapa ada yang memberi komen positif tentang gambarnya, dan sebagian besar orang-orang yang mengenalnya, menuliskan doa untuk Lionel.

Hati yang spontan menghangat itu mendorong matanya berkaca-kaca. Tiara terharu. Di luar sana masih banyak orang-orang yang peduli pada almarhum putranya, juga pada dirinya… ah, tiba-tiba dia teringat Josh.

Tiara menjadi sangat bersemangat. Seakan kesal dan lelahnya setelah dikerjai Pevita lenyap tak berbekas. Jari jemarinya mengulir, membaca semua komen dan membalasnya. Dia menemukan akun Ezra dan akun-akun lain, yang dia duga teman-teman Lio, mulai menjadi pengikutnya.

“Lio, makasih ya, Nak. Kamu yang menanam kebaikan, Mama yang memanennya. Pasti Lio lagi tersenyum liat Mama dari surga kan?” Tiara berhenti sejenak dari layar ponsel untuk memandang foto sang putra.

‘Tolong cek DM ya, Kak.’

Mata Tiara menemukan komen itu, dan jarinya spontan menekan fitur pesan.

‘Halo Kak Mutiara, kami dari Sang Fajar Media, tertarik sekali dengan gambar Kakak. Kebetulan kami biasa menerbitkan buku-buku cerita bergambar, dan kami ingin menawarkan kerja sama. Jika Kakak tertarik, mohon balas pesan ini ya.’

Tiara membeku. Memandangi kalimat itu, membacanya berulang-ulang. Campuran kaget, bahagia dan rasa tidak percaya. “Ini beneran nggak sih?” desisnya.

Perempuan itu tercenung sedikit lama, sebelum akhirnya pikiran Tiara membawa jarinya menelusuri akun tersebut. Senyumnya seketika merekah.

“Akun ini nggak bohong.” Hati Tiara melompat, demi dilihatnya ada beberapa promo buku bergambar di antara postingan lain.

Semangatnya menjadi berlipat-lipat. ‘Mungkin ini jalannya, ini jalannya’, batin Tiara berseru girang sembari membalas pesan dari akun Sang Fajar Media.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 32

    Josh tidak merespon telepon Tiara, tapi tiga puluh menit kemudian lelaki itu mengirimkan pesan. Mengatakan bahwa saat ini dia sedang berada di klub sepak bolanya sampai sekitar jam dua belas. “Va, Josh mengundang kita makan siang di rumahnya. Gimana?” Tiara bertanya dengan layar ponsel yang masih menyala. “Katanya, sore nanti mau keluar kota untuk pertandingan.”“Terserah Kakak, aku ngikut aja,” sahut Eva. “Hari ini kuliahku jam dua.”“Gimana ya? Nggak enak ngerepotin terus, tapi kalau menunggu sampai Josh pulang… masih dua hari lagi.” Tiara merasa dia perlu bertemu Josh sesegera mungkin, ingin memohon agar Josh berhenti memberi bantuan. Bukannya tidak bersyukur, tapi dia merasa yang Josh lakukan untuk dirinya sudah terlalu banyak.“Ya udah, terima aja… eh, gimana kalau kita datengnya jam sebelas, bantuin mamanya siapin makan siang?” usul Eva. “Bang Josh tinggal berdua sama mamanya, kita beri kejutan aja gitu.”Tiara setuju. Lalu menginformasikan pada Josh bahwa mereka menerima undan

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 31

    “Mamah paham kalau kamu kecewa sama Dion, kemarahan kamu itu wajar… banget, tapi jangan menghilang. Yang tersiksa itu ayahmu, Sayang.” Bu Lela terus membujuk. “Atau kalau memang kamu belum mau pulang. Kasih tau Mamah kamu ada di mana, paling nggak ayahmu ini tenang kalau tau kamu di tempat yang aman.”Tiara menyeka air matanya. “Mah, tolong… biarin aku bicara sama Ayah dulu.”Terdengar dengusan kuat yang menerpa telinga Tiara, disambung decak kesal yang tentu saja itu keluar dari mulut ibu tirinya.“Tiara,” panggil Pak Reza. Nadanya menggantung. Sementara sayup-sayup terdengar suara Bu Lela di belakangnya. Seperti sedang mendikte sang suami dengan kalimat-kalimat untuk membujuk Tiara pulang.Tiara memejamkan mata. Bisa mendengar maksud yang diucapkan Bu Lela. “Yah, aku baik-baik aja di sini. Ada orang baik hati yang menolong aku.”“Jadi benar kamu pergi sama laki-laki?” Pak Reza terdengar tidak dapat menutupi rasa terkejutnya.Tiara menelan ludah. Bingung, tapi pada akhirnya mengiyaka

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 30

    “Dijemput laki-laki?” Mata Dion membelalak tak percaya.“I-iya… ganteng, mobilnya bagus….” Suara Bu Munji sayup, terdengar ringan mengalir.Lelaki itu menghembus napas pelan-pelan, tangannya yang memegang ponsel meluruh perlahan. Tanpa salam, dia menekan tombol untuk mengakhiri sambungan. Dion tercenung dalam posisi itu sampai menit berlalu. Sesekali menarik napas lagi, menelan ludah. Siapa laki-laki yang bersama Tiara? Rasanya Tiara sudah lama tidak bersosialisasi dengan teman-temannya, apalagi teman lelaki. Mungkinkah orang baru? Tapi siapa?Kret. Pintu terbuka, tampak sosok Pevita. Tersenyum manis.“Mas… belum selesai?” Perempuan itu berangsur mendekat. Meletakkan kedua tangan di bahu Dion. Melihat laptop yang terbuka dengan dokumen berjudul ‘laporan bulanan’. “Apa laporannya harus beres malam ini juga, Mas?”“Iya, buat bahan meeting besok pagi. Tapi sebentar lagi selesai kok.” Jari Dion mulai memegang keyboard laptop yang sedari tadi sebenarnya tidak dia sentuh. Lalu bergerak, se

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 29

    Pak Reza mengangguk.“Cepat, Yah. Takut nanti dia kabur!” Bu Lela nyaris berteriak.Pak Reza, yang badannya juga tambun, bergerak secepat dia bisa. Bu Lela mengikutinya dari belakang. Di tengah koridor mereka bisa melihat seorang perempuan berjaket, turun dari motor, membuka helm… bukan Tiara.Keduanya spontan berhenti. Saling menatap. “Bukan ternyata, Mah,” desis Pak Reza. “Mungkin betul kata ibu itu, Tiara sudah pergi dari sini.”“Ck, mana mungkin, Yah. Tiara baru pergi tiga hari dari rumah, mana ada nge-kost cuma tiga hari. Kita balik ke ibu itu, biar aku yang paksa….” Bu Lela melangkah bergegas kembali ke rumah Bu Munji.Sang empunya rumah sudah dalam keadaan duduk di teras. Tampak lebih santai dari ketika Bu Lela tinggalkan tadi. Dia tersenyum saat kedua orang tua Tiara itu berangsur mendekat.“Bu, jangan kira kami hanya menggertak ya.” Bu Lela menghembus napas, sedikit ngos-ngosan karena tubuh gemuknya rentan capek jika dibawa jalan terlalu cepat.“Saya juga bicara apa adanya, B

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 28

    Dion menghembuskan napas. Bergerak merogoh saku celana.Bu Lela tampak menjawil lengan Pak Reza. Lelaki itu pun meringis, dan berkata, “Nak Dion… apa boleh sekalian minta jatah yang bulan besok? Kan tinggal dua hari lagi dari jadwal biasa?”“Iya, Nak. Cuma maju dua hari nggak apa-apa ya.” Bu Lela tersenyum-senyum.Dion menghentikan gerakannya. Tidak jadi mengambil dompet, melainkan kembali membuka ponselnya. “Aku transfer kalau gitu.”“Tapi dilebihin sama ongkos yang sekarang ya, hehe mengingatkan saja… takut lupa.” Kedua orang tua Tiara itu cengengesan sambil saling melirik.Dion diam saja. Tetap menggerakkan jari jemarinya di layar ponsel. Sesaat kemudian ponsel Pak Reza berbunyi, dan detik itu juga senyum ayah kandung Tiara tersebut merekah sumringah. “Makasih, Nak Dion.”“Aku tunggu ya, Yah. Nggak usah telpon, langsung bawa Tiara pulang aja.” Dion bangkit.“Siap, siap.” Pak Reza ikut bangkit. Demikian pula dengan Bu Lela.Tanpa perlu menunggu keduanya meninggalkan rumah, Dion lang

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 27

    Satu pesan masuk lagi. Mengirim sebuah titik lokasi yang dimaksudkan.Dion spontan mengepalkan tangan. Senang bukan main karena firasatnya tidak salah. Tadi dia sudah bolak balik menyusur jalan di sekitar gangnya, sebelum akhirnya menemukan sebuah tongkrongan bapak-bapak tak jauh dari situ.Lelaki itu menghembus napas lega, berjalan ke ruang makan sembari tersenyum. Senyumnya yang terlalu sumringah justru membuat Pevita menjadi curiga.“Jangan bilang alasan pipis tadi karena mau telponan sama cewek lain ya,” cetus Pevita. Matanya kembali menghunjam.Yang lain ikut menatap Dion.“Sayang…” Dion gegas merangkul istrinya itu. Meremas lembut bahu Pevita. “Yang bikin aku senang itu karena bonus tiga bulanan baru aja cair.”Tatapan Pevita perlahan berubah, senyumnya pun merekah. “Serius?”Dion mengangguk.“Bisa pas ya, Mas. Buat bulan madu kedua kita.” Pevita tanpa malu memeluk sang suami, lalu mendaratkan cium di pipi Dion dalam-dalam.“Hmm… makanya jangan curiga dulu kamu,” celetuk Bu Nita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status