ANMELDEN“Atau….” Pevita menutup mulutnya sendiri. Tampak menyembunyikan tawanya yang mengikik. “Karena kamu takut diceraiin kan? Takut jadi gembel tanpa uang Mas Dion? Makanya tiba-tiba jadi penurut.”
“Ya wajar sih kalau kamu takut. Kan kamu tua, mandul… aduh, mana ada laki-laki yang mau.” Pevita akhirnya tertawa lepas. Namun sedetik kemudian dia mendadak diam.
Tiara paham. Dia pun menoleh, menemukan Dion yang semakin mendekat. Tiara terburu memasang senyum, lalu sengaja memaksakan nada suara yang dibuat ceria, seraya berkata, “Pa, aku pindahin barang-barangku sekarang aja ya?”
Dion terlihat melempar pandang pada Pevita. Seolah-olah meminta persetujuan. Dan saat istri mudanya itu mengangguk, Dion baru menjawab oke.
“Sip. Aku mulai sekarang.” Tiara tetap memakai nada ceria, lalu melangkahkan kaki menuju kamar. Meninggalkan dua orang itu yang tampaknya mulai saling merangkul, seakan ingin pamer kemesraan. Mungkin mengira dia akan cemburu.
Namun saat sampai di depan kamar dan memegang handle pintu, perempuan itu menghela napas panjang. Tiba-tiba hatinya terasa berat untuk membuka. Mungkin benar jika perasaannya kepada Dion sudah mati, tapi bagaimana pun mereka pernah menjadi sepasang suami istri yang harmonis.
Dan rasanya masih seperti mimpi. Dalam seminggu ini dia dipaksa kehilangan anak, kehilangan suami, kehilangan harga diri…
“Aku bantu ya, Mbak.” Mendadak Pevita sudah ada di sisi Tiara. Menggeser tangan Tiara yang masih membeku dari handle pintu, dan segera membuka lebar-lebar.
“Kamu pindahin baju-bajumu saja, Ma. Barang yang lain mulai sekarang menjadi milik bersama antara kamu dan Pevita, karena kalian sama-sama istriku.” Suara Dion ada di belakang mereka.
Spontan Tiara menoleh pada Pevita. Perempuan culas itu membalas dengan senyum manis yang dibuat-buat.
“Jangan mulai ribut….” Dion menaikkan nada.
Tiara cepat tersenyum. Dia tidak tahan lagi untuk tetap diam. “Nggak, Pa. Aku sama sekali nggak masalah. Cuma heran, masa Papa tega liat Pevita pakai barang-barang bekas aku?”
“E-eh, ya nggak gitu maksudnya.” Dion tergeragap.
“Aku nggak masalah,” sambar Pevita. “Tujuan aku menikah demi menjaga nama keluarga Setiawan, bukan ingin dibelikan ini itu. Aku sudah biasa bekerja, cari uang sendiri. Kalau bukan karena Mas Dion yang minta, aku juga akan tetap kerja kok.”
Tiara menahan senyum melihat cara bicara Pevita yang cepat serta meletup-letup. Kentara sekali perempuan itu emosi, tampak sangat tidak terima. Meski harus diakui, jago juga Pevita membalikkan keadaan.
“Kamu ini memang suka banget cari ribut, Ma. Sudah, cepat sana ambil baju-bajumu!” Dion pun tertular emosi. Namun tatapannya melembut ketika berpaling pada Pevita. “Biar Bi Ima saja yang bantu, Sayang. Kamu temenin Bunda sana, biar Mas yang awasi Tiara.”
Tiara menahan napas. Tak habis pikir dengan pikiran Dion, yang tentu saja karena sudah diracuni Pevita.
“Nggak papa, Mas, biar aku tetap bantu.” Pevita melempar senyum, lalu mendahului masuk. Dion menyusul cepat.
Tiara mau tidak mau ikut masuk. Membiarkan Pevita yang memimpin, menunjuk barang-barang yang boleh dia bawa. Sementara Dion diam saja, tampak setuju dengan semua keputusan Pevita.
Tiara berpasrah. Dia sudah tidak menginginkan apa-apa selain pergi dari rumah ini. Sambil menata baju-bajunya, pikiran Tiara dialihkan untuk merencanakan langkahnya setelah ini. Yaitu mencari pekerjaan via internet, atau mungkin nekat menghubungi kenalan lama. Dia punya ijasah diploma, bisa sedikit komputer…
“Abis ini bantu aku packing barang yang mau dibawa ke Bali ya, Mbak.” Pevita memecah lamunan.
Tiara mengiyakan dengan cepat.
Ternyata permintaan Pevita tidak berakhir sampai di situ. Setelah itu ada lagi, ada lagi... tetapi Tiara tetap meladeninya tanpa protes. Sesekali dia melihat kilat kemenangan di senyum Pevita, dan lagi-lagi Tiara tidak peduli.
Akhirnya selesai. Dion dan Pevita sudah bersiap pergi bulan madu, Tiara pun kembali ke kamar Lio dengan keadaan sangat lelah. Namun perlakuan buruk Dion dan Pevita tadi memicu Tiara langsung mengeksekusi rencananya untuk mencari pekerjaan. Dia harus memanfaatkan kepergian Pevita, sebelum perempuan licik itu kembali dan mulai mengerjainya lagi.
Begitu Tiara membuka akun sosial medianya, dia mengernyit mendapati notifikasi yang cukup banyak.
“Ya Tuhan,” desis Tiara. Matanya melebar, ternyata gambar singa yang dia unggah semalam mendapat banyak suka. Beberapa ada yang memberi komen positif tentang gambarnya, dan sebagian besar orang-orang yang mengenalnya, menuliskan doa untuk Lionel.
Hati yang spontan menghangat itu mendorong matanya berkaca-kaca. Tiara terharu. Di luar sana masih banyak orang-orang yang peduli pada almarhum putranya, juga pada dirinya… ah, tiba-tiba dia teringat Josh.
Tiara menjadi sangat bersemangat. Seakan kesal dan lelahnya setelah dikerjai Pevita lenyap tak berbekas. Jari jemarinya mengulir, membaca semua komen dan membalasnya. Dia menemukan akun Ezra dan akun-akun lain, yang dia duga teman-teman Lio, mulai menjadi pengikutnya.
“Lio, makasih ya, Nak. Kamu yang menanam kebaikan, Mama yang memanennya. Pasti Lio lagi tersenyum liat Mama dari surga kan?” Tiara berhenti sejenak dari layar ponsel untuk memandang foto sang putra.
‘Tolong cek DM ya, Kak.’
Mata Tiara menemukan komen itu, dan jarinya spontan menekan fitur pesan.
‘Halo Kak Mutiara, kami dari Sang Fajar Media, tertarik sekali dengan gambar Kakak. Kebetulan kami biasa menerbitkan buku-buku cerita bergambar, dan kami ingin menawarkan kerja sama. Jika Kakak tertarik, mohon balas pesan ini ya.’
Tiara membeku. Memandangi kalimat itu, membacanya berulang-ulang. Campuran kaget, bahagia dan rasa tidak percaya. “Ini beneran nggak sih?” desisnya.
Perempuan itu tercenung sedikit lama, sebelum akhirnya pikiran Tiara membawa jarinya menelusuri akun tersebut. Senyumnya seketika merekah.
“Akun ini nggak bohong.” Hati Tiara melompat, demi dilihatnya ada beberapa promo buku bergambar di antara postingan lain.
Semangatnya menjadi berlipat-lipat. ‘Mungkin ini jalannya, ini jalannya’, batin Tiara berseru girang sembari membalas pesan dari akun Sang Fajar Media.
Dada Tiara terasa meledak. Wajahnya panas sekali, sampai dia sedikit kesulitan bernapas. “Josh?” Mata Tante Ruth terlihat penuh selidik. Dia mendekati sang putra dengan tatapan yang terlihat tajam. Namun seiring langkahnya yang mendekat, senyum perempuan berambut pendek itu muncul perlahan. “Apa… Tiara orangnya?” Tiara spontan melebarkan mata. Meski tidak paham apa yang dimaksudkan Tante Ruth, hatinya tetap berdesir. Mendesirkan rasa takut. Dia masih trauma dengan salah paham yang terjadi antara dirinya dan Eva. Josh terdengar berderai tipis. “Aku bikinin cokelatnya dulu ya, jadi kita bisa bicara lebih rileks.” “Aku nggak! Eh, m-maksudnya… m-makasih, tapi nggak usah.” Suara Tiara bergetar. “A-aku harus beres-beres, k-karena besok aku mau pergi keluar kota.” Tante Ruth dan Josh berpandangan. Tiara cepat mengangguk, untuk meyakinkan perkataanya sendiri. “J-jadi sebenarnya aku ke sini mau pamit sekalian.” Takut-takut dia menatap Josh. “G-gimana cara pamit untuk keluar dari kost-nya?
Tiara dan Josh berbarengan mendongak, saling menatap dalam jarak yang begitu dekat. Entah siapa yang memulai, keduanya sama-sama melempar senyum.“Tiara,” desis Josh lirih. “Kamu cantik sekali.”Tiara terkesiap, cepat-cepat menunduk. Malu, takut dan perasaan-perasaan aneh menjadi tumpang tindih. Sementara dadanya berdentum terus menerus.“Tiara—”“Tablet-nya?” potong Tiara cepat. Berusaha menetralkan suasana.“Aman kok,” sahut Josh. Nadanya kentara bergetar, tidak tenang seperti biasanya. Dia terlihat menggeser sedikit, mengikis jarak meski tidak selebar awalnya.“Aku nyalain tabletnya ya?” kata Josh lagi. Suaranya sudah terdengar sedikit lebih tenang. Dia menoleh. “Tablet baru ya?”Tiara mengangguk. Tangannya sudah mulai dingin. “Yang kemarin punya Eva, udah diminta balik. Semuanya, sampai ke alat-alat yang bikin konten itu, jadi aku beli sendiri….”“Oh.” Josh mengangguk-angguk.‘Astaga…,’ keluh Tiara dalam hati. Dia tidak bermaksud mengadu, tadi hanya topik itu yang terlintas di ota
Tiara tercenung agak lama, memandangi layar ponselnya. Saat ini dia memang belum ingin bertemu Ayah, karena jujur masih ada sakit hati dengan peristiwa yang kemarin-kemarin. Namun sebenarnya dia rindu pada sosok lelaki itu.Ayah yang juga jadi ibunya sejak dia piatu di usia tiga belas tahun, yang rela melakukan apa saja demi dirinya, yang membersamai masa remaja hingga dewasa. Hanya Ayah yang ada dalam hidup Tiara, sampai pada akhirnya Dion mulai intens mendekatinya.“Ti, cowok yang sering datang itu pacar kamu?” tanya Ayah waktu itu.Tiara menelan ludah, takut Ayah marah seperti saat dia pernah didekati beberapa lelaki semasa sekolah dulu. Namun ternyata kali ini Ayah mengelus punggungnya dan lanjut bicara. “Kenalin sama Ayah, Ayah pasti merestui kalau niat cowok itu bener. Ngomong-ngomong kalian ketemu di mana?”“Di tempat kerja, Yah.” Tiara masih menunduk.Ayah mengangguk-angguk. Senyumnya tampak melebar. “Sekantor?”“Bukan, dia sales cat yang sering datang ke kantor untuk nawarin
“Aku punya bayi tujuh bulan, Kak. Sedih banget tiap liat dia rewel karena kelaparan, istriku kadang ikutan nangis.” Bayu melempar senyum getir. Matanya memperlihatkan riak-riak air. “Aku tau pernah salah sangka, pernah ngata-ngatain Kak Tiara juga, maafin aku ya, Kak.”Tiara menatap bimbang. Dia tidak pernah menyimpan dendam pada Bayu, alasan dia memblokir akun sosial media Bayu juga untuk menjaga perasaan Eva.“Usaha Kakak sama Kak Eva lancar kan? Kayaknya banyak pesanan masuk ya, aku kadang kepoin konten Kakak pakai akun aku yang lain.” Bayu menyeringai. Kemudian cepat menunduk, sembari mengusap sudut matanya. “Kalau gini beneran nyesel banget, pernah bikin salah sama Kak Eva, sama Kak Tiara.”“Aku sama Bang Farel kayak kena karma,” lanjut Bayu. “Orderan sepi, tiap ngerjain proyek ada… aja alat yang rusak. Akhirnya klien pada nggak percaya sama Bang Farel.”Tiara akhirnya tersenyum, meski hanya senyum tipis. Bukan mentertawakan cerita soal karma, tapi entah mengapa ada kelegaan yang
“Tiara, ada kabar baik. Orang yang pesan buku kemarin minta kerja sama lagi, tapi sekarang minta spesifik tentang serangga. Coba kamu cari empat atau lima serangga, terus ajukan ya.” Suara Josh terdengar tenang. Meski suaranya seperti bersaing dengan bunyi deru kendaraan dan klakson yang bersahutan, mungkin karena pria itu masih jogging di jalan besar.Tiara menggigit bibir, seraya mengatur desah napasnya agar lebih teratur. Itu memang kabar gembira, kalau saja masih ada Eva dan peralatannya. “Tiara? Halo…?” Suara Josh kini ditimpali derai ringan. “Apa tiba-tiba kamu ketiduran?”“E-eh, maaf.” Tiara menelan ludah. Mencoba ikut berderai. “Tapi… hubungan aku sama Eva belum membaik. Kamu pasti udah denger kan?”Josh sepertinya menghela napas. Suara tarikannya terdengar halus sampai ke telinga Tiara. “Sorry, bukan niat menggurui ya, tapi ini kerjaan profesional. Membangun reputasi itu penting, apalagi untuk kamu yang sedang merintis.” Pria tinggi seratus delapan puluh tiga itu seperti se
“Aduh, s-sambelnya pedes banget ternyata.” Tiara cepat-cepat membuat alibi. Tangannya bergetar saat mengambil gelas. Dan terus gemetaran sepanjang dia menyesap teh di dalamnya.Dia merasa Tante Ruth sedang menyindirnya. Mungkinkah saat bertelepon tadi Eva juga melontarkan prasangka antara dirinya dengan Josh? Soalnya saat Samudera berkata begitu, Tiara yakin pasti sumbernya dari Eva, sebab yang dia tau Samudera tidak mengenal Josh.“Kamu nggak apa-apa, Tiara?” tanya Tante Ruth sembari mengulurkan tisu. “Sambelnya memang pedes banget, Tante pikir kamu biasa makan pedes… tapi nggak nyangka sampai mukamu merah semua gitu. Meler lagi.” Dia menceplos derai ringan.“Iya, Tan, pedes banget. Keselek jadi tambah kerasa pedes?” Tiara tertawa sumbang. Mengelap seputar hidung, yang ternyata memang mengeluarkan cairan.“Duh, jangan-jangan karena kamu kaget sama pertanyaan Tante tadi?” Mata perempuan berambut cepak itu mencorong jenaka. “Maaf ya kalau itu yang bikin kamu keselek.”Tiara meringis. O







