Mag-log inDia ingat, dulu saat Alya masih SMP, makanan favoritnya adalah burger panggang.Alasan dia mengingatnya begitu jelas adalah karena Vano tidak mengizinkan Alya makan makanan tidak sehat, akhirnya berkali-kali Alya menyuruh Erick membelikannya diam-diam. Saat itu, Alya benar-benar sedang berada di masa paling memberontak dan keras kepala. Jumlah burger panggang yang dia makan secara sembunyi-sembunyi di belakang Vano, setidaknya mencapai puluhan.Emran sendiri tidak tahu kenapa. Hal-hal kecil yang dulu tidak pernah dia anggap penting, beberapa hari ini justru terus muncul kembali satu per satu di benaknya, dan semuanya begitu jelas.Alya tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menunduk menekan layar ponselnya.Pada saat itu, sebuah pesan e-mail dari Vanesa masuk.Isinya adalah draf perjanjian perceraian yang disusun langsung oleh Steven.Datang terlalu cepat tidak sebaik datang di waktu yang tepat.Tanpa ragu, Alya langsung meneruskan e-mail surat perjanjian perceraian itu kepada Emran.Set
Alya sedikit tertegun. "Kamu nggak suka Ayah?" tanya Alya."Bukan begitu," jawab Ricky. Dia mengatupkan bibirnya sejenak, kemudian berkata, "Aku cuma lebih suka tinggal di Gedung Witanda. Di sana lebih ramai, aku suka.""Kalau begitu, Ibu akan bicarakan dengan mereka," kata Alya."Ya," ucap Ricky. Dia menggenggam tangan ibunya sembari melanjutkan, "Ibu tenang saja. Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh. Nanti kalau aku sudah besar dan lulus, aku akan pulang membantu Ibu mengurus perusahaan. Saat itu Ibu nggak perlu capek-capek lagi!"Hidung Alya terasa perih. "Baik, Ibu akan menunggu Ricky tumbuh besar dan membantu Ibu mengurus perusahaan," ucap Alya.Ricky mengangguk dengan sungguh-sungguh dan berkata, "Aku pasti nggak akan mengecewakan Ibu!"Percakapan dari hati ke hati antara ibu dan anak itu pun berakhir.Hati Alya terasa jauh lebih lega.Dia mengeluarkan ponsel dan memesan dua tiket bioskop untuk pertunjukan pukul tiga sore.Setelah itu, Alya mengajak Ricky bermain di wahana ana
Ricky mengangkat kepala dengan perasaan heran, tetapi tanpa siap langsung beradu pandang dengan mata ibunya yang basah oleh air mata.Seketika itu juga Ricky panik. Dia buru-buru meletakkan gelas minuman ke atas meja, lalu mengambil tisu dan menyekanya ke wajah sang ibu. "Ibu, kenapa Ibu menangis?" tanya Ricky.Alya mengangkat tangan dan menggenggam tangan putranya yang memegang tisu, lalu mengisap hidung pelan. "Ricky, Ibu akan bercerai dengan Ayahmu. Apa kamu akan menyalahkan Ibu?" tanya Alya."Nggak," jawab Ricky dengan sangat tegas. Raut wajahnya pun ikut mengeras. "Ibu, aku sudah delapan tahun. Ibu nggak perlu khawatir aku akan marah. Apa pun keputusan Ibu, aku akan mendukung Ibu," ujar Ricky."Lalu gimana dengan perasaanmu? Sejak kecil kamu nggak punya ayah, dan baru sekarang bisa bertemu serta mengakuinya. Apa kamu nggak akan merasa sedih?" tanya Alya lagi."Meski kalian bercerai, kalian tetap Ayah dan Ibuku. Aku mengerti itu. Di kelasku juga ada beberapa teman yang orang tuanya
Pintu mobil tertutup dan Alya berkata kepada Lexa, "Ayo pergi.""Baik."Lexa mengganti gigi dan menginjak pedal gas, mobil Bentley Mulsanne itu pun melaju menuju pintu keluar tempat parkir bawah tanah.Ekspresi Emran menjadi sangat muram. Dia mengeluarkan kotak rokoknya, menyalakan sebatang rokok dan berdiri diam sambil merokok sendirian....Di mal terbesar di pusat kota.Alya mengajak Ricky ke bagian pakaian di lantai tiga untuk membeli pakaian.Gigi susu anak-anak sekitar usia tujuh atau delapan tahun mulai tanggal, jadi bisa dibilang ini adalah periode canggung bagi penampilan mereka. Namun, Ricky sama sekali tidak terpengaruh oleh periode canggung ini.Wajahnya tetap tampak begitu halus dan tampan.Dia mewarisi kulit cerah Alya, jadi dia terlihat bagus mengenakan pakaian apa pun.Ini adalah kali pertama Alya secara pribadi mengajak Ricky berbelanja pakaian.Meskipun Alya tahu Ricky memiliki semua yang anak itu butuhkan, Alya tidak bisa menahan luapan kasih sayang keibuannya. Dia i
"Abaikan dia." Alya bahkan tidak menatap Emran, nadanya makin dingin.Lexa hanya mengatupkan bibir dan melirik Emran dengan hati-hati.Emran sudah cukup sering diperlakukan Alya dengan dingin selama beberapa hari terakhir, jadi Emran sudah agak kebal.Emran pun menatap Ricky, "Nak, Ayah juga nggak perlu bekerja hari ini. Apa Ayah boleh ikut?"Ricky mengernyit. "Jangan tanyakan pertanyaan seberbahaya itu padaku, langsung tanya saja pada ibuku."Emran hanya terdiam.Ada bedanya antara anak yang dilahirkan secara biologis dengan yang dibesarkan sendiri.Jauh lebih berbeda lagi apabila anak itu dilahirkan dan dibesarkan dengan tangan sendiri.Ricky telah tinggal bersama ibunya selama bertahun-tahun. Soal kasih sayang, tentu saja anak itu lebih menyayangi ibunya.Itu sebabnya di momen penting, Ricky akan tetap memihak pada ibunya.Ricky mendongak ke arah Alya dan bertanya, "Ibu, apa boleh kita makan siang KFC?""Boleh." Alya menatap putranya. "Tapi, makanan seperti itu nggak sehat. Makan se
Alya menahan emosinya dan bertanya dengan lembut, "Ricky, kamu mau nonton film apa?"Ricky mengerjap-ngerjapkan matanya, dia akhirnya menyadari bahwa ibunya benar-benar akan mengajaknya ke bioskop."Kalau ...." Ricky tersenyum dan bertanya, "aku mau nonton film pembasmi iblis, boleh?""Tentu saja." Alya meraih tangan putranya. "Kalau begitu, ayo kita ke mal sekarang. Ibu nggak perlu bekerja hari ini, jadi Ibu bisa menemanimu seharian ini.""Hore!" Ricky mengangguk dengan antusias, matanya berbinar-binar bahagia.Lexa sudah selesai mengemasi barang-barang Alya dan menutup resleting koper kecil itu."Bu Alya, semua sudah siap.""Oke, aku mau ajak Ricky ke mal. Bisakah kamu mengantar kami ke sana dulu, lalu tolong bawakan koperku kembali ke rumah Keluarga Nantar?""Baik," jawab Lexa.Alya mengajak Ricky keluar.Emran refleks minggir untuk memberi jalan bagi mereka.Sebenarnya, Emran datang menemui Alya setiap hari. Namun, karena Alya tidak ingin bertemu dengannya, dia tidak pernah masuk k







