เข้าสู่ระบบTubuhku langsung menegang. Aku selalu merasa sudah benar-benar melepaskan semuanya, tetapi saat melihat Lewis, amarah di dalam hatiku tetap tak bisa dikendalikan.Russel sepertinya merasakan keanehanku. Dia menepuk tanganku dengan lembut."Nggak apa-apa, ada aku di sini. Tapi hari ini memang saatnya menyelesaikan semuanya." Dia menatap mataku. Di dalam tatapannya, ada kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Aku mengerti maksudnya, lalu mengangguk pelan. Dia membawaku berjalan ke depan Lewis.Begitu melihatku, Lewis langsung berteriak. "Ruby, akhirnya kamu mau menemuiku! Aku benar-benar sadar sudah berbuat salah. Selama ini aku menyesal setiap hari.""Aku juga sudah berubah. Ke depannya, semua cintaku akan kuberikan kepadamu. Maafkan aku. Kembali ke sisiku ya? Ruby, aku benar-benar nggak bisa hidup tanpa kamu."Mendengar kata-kata yang menusuk telinga itu, aku mengerutkan kening. Baru saja ingin bicara, Russel sudah lebih dulu membuka suara."Lewis, demi ayahmu, dulu aku sudah
Aku tidak berani berbicara lagi, hanya menunggu "vonis" dari Russel.Russel kembali menerima telepon. Isi pembicaraannya tidak terdengar jelas bagiku. Di pikiranku hanya dipenuhi satu hal, yaitu habis sudah.Entah berapa lama berlalu, akhirnya Russel mengakhiri panggilan. Dia berbalik dan menatapku dengan dingin."Mengingat kejadian kemarin telah memberikan dampak besar pada perusahaan, maka ...."Aku langsung merasa seperti jatuh ke dalam gudang es. Aku benar-benar menyukai pekerjaan ini. Di sini, aku menemukan nilai diriku sendiri dan merasa diakui.Aku segera memohon, "Pak Russel, maaf, aku benar-benar nggak sengaja. Tolong jangan pecat aku. Ke depannya, aku akan bekerja sekeras mungkin untuk perusahaan.""Aku nggak bilang mau memecatmu. Hanya saja, ada pengaturan dari perusahaan. Entah kamu bisa menerimanya atau nggak."Mendengar itu, aku langsung sangat senang. "Tentu bisa! Syarat apa pun akan kusetujui!"Setelah mengatakan itu, aku jelas melihat kilasan kegembiraan di mata Russel
"Ruby, aku tahu aku salah. Kembalilah."Sikap percaya diri Lewis benar-benar menjijikkan."Pak Lewis, kamu merasa aku harus menikah denganmu ya? Coba lihat, bagian mana dari dirimu yang bisa menandingi pacarku?""Latar belakang? Kemampuan? Kesetiaan? Atau kemampuan di ranjang? Maaf saja ya, Pak Lewis, kamu nggak punya satu pun yang bisa menandingi Russel."Wajah Lewis langsung menggelap, tetapi dia masih menggertakkan giginya. "Aku nggak percaya."Aku langsung kesal. Sikap keras kepala seperti ini benar-benar membuat muak.Namun, sebelum aku sempat memikirkan cara menghadapinya, aku merasakan tangan di pinggangku tiba-tiba mengencang. Detik berikutnya, bibir Russel sudah menempel di bibirku.Aku sedikit tertegun, lalu hatiku tergerak dan mulai membalasnya. Kami berciuman selama satu menit baru berhenti.Aku melirik Lewis yang masih berlutut di tempat dengan dingin, lalu menggandeng lengan Russel dan berjalan menuju kantor.Tubuh Lewis sedikit gemetar, tetapi dia masih tidak mau menyera
Selama bertahun-tahun ini, aku mencintai Lewis dengan sepenuh hati, sampai tidak bisa melepaskan diri. Aku menghabiskan masa mudaku, tetapi yang kudapat justru akhir seperti ini.Namun sekarang, aku akan memulai semuanya kembali. Aku akan mencari kembali diriku yang dulu.Setelah pulang, aku membuang semua hal tentang masa lalu hingga bersih. Semua jejak tentang Lewis benar-benar kusingkirkan.Setelah itu, aku beristirahat dan memulihkan diri selama setengah tahun penuh. Bahkan dokter menghela napas, mengatakan bahwa waktu itu benar-benar berbahaya, sampai hampir menyebabkan rahim turun dan berujung pada kemandulan seumur hidup.Kemudian, keluargaku mengatur sebuah pekerjaan untukku. Namun, pekerjaan ini justru membawaku ke pusaran lain. Hanya saja, kali ini terasa berbeda dari sebelumnya.Aku baru saja bekerja tidak lama, perusahaan tiba-tiba kedatangan seorang presdir bernama Russel. Rekan-rekan kerja memberinya julukan "satan".Russel bekerja dengan tegas dan cepat. Perubahan yang d
Begitu kata-kata itu dilontarkan, Lewis dan Mary sama-sama tertegun.Tak lama kemudian, sorot mata Mary dipenuhi kegembiraan yang meluap, meskipun wajahnya masih berusaha tenang. Namun, aku bisa mengetahui pikirannya.Anak itu sudah tidak ada, maka mungkin dia punya kesempatan untuk menjadi istri Lewis. Kalaupun tidak, setidaknya dia bisa tinggal lebih lama di sisi Lewis. Selama dia bisa bertahan lebih lama, dia bisa mendapatkan lebih banyak uang dari Lewis.Status dan kekayaan Lewis memang memiliki daya tarik mematikan bagi banyak wanita. Namun, semua itu tidak penting bagiku. Yang kupedulikan hanya Lewis.Hanya saja, Lewis yang kupedulikan itu sekarang sudah tidak ada lagi. Aku berbalik ingin pergi, tetapi baru beberapa langkah, Lewis langsung menarikku.Matanya merah, seperti binatang buas. "Ruby, apa yang barusan kamu katakan? Kamu bohong, 'kan? Aku benar-benar terlalu memanjakanmu. Demi menarik perhatianku, kamu bahkan berani mengatakan kebohongan seperti ini."Aku mengeluarkan le
Tubuhku benar-benar sangat lemah. Baru berjalan beberapa langkah saja sudah ingin duduk dan beristirahat sejenak.Saat aku berjalan dengan susah payah, Mary turun dari lantai atas. Dia berdandan sangat cantik, seluruh sosoknya memancarkan energi muda yang murni. Sedangkan aku, pucat seperti kain kafan, lemah seperti orang yang hampir mati.Padahal usia kami sama, tetapi aku seperti sudah menua puluhan tahun.Jelas-jelas bersama pria yang sama, tetapi nasib kami begitu berbeda.Mary melihatku, lalu tanpa sungkan berjalan mendekat. "Kenapa? Masih nunggu Pak Lewis bujuk kamu?""Pak Lewis sudah berangkat kerja. Kalau kamu ada apa-apa, aku bisa menyampaikannya untukmu kok."Aku menatapnya dengan dingin, tidak mengerti kenapa bahkan dia pun mengira aku hanya sedang membuat masalah, hanya ingin menarik perhatian Lewis."Kenapa? Kamu bisa mengambil keputusan untuk Lewis?" tanyaku dengan dingin.Mary justru semakin bangga. "Tentu saja. Aku asistennya, kekasihnya. Baik pekerjaan, cinta, maupun h
Aku hanya bisa beristirahat semalam lagi di rumah.Larut malam, Lewis kembali. Dengan tubuh penuh bau alkohol, dia memeluk Mary.Saat melihatku berbaring di tempat tidur, dia mencibir. "Keluar, malam ini tempat ini milik Mary."Nada bicaranya merendahkan, seperti sedang memberi perintah pada pembant
Sehari sebelum pernikahan, suamiku, Lewis, tiba-tiba berkata kepadaku, "Pernikahan ditunda seminggu. Aku harus pergi dinas."Aku memandang suamiku yang bersikap dingin, lalu tanpa sadar teringat pesan yang dikirim asistennya kemarin malam.[ Pak Lewis ingin menemaniku keliling dunia sebelum nikah. K







