Short
Di Malam Kota Jatuh, Tak Seorang Pun Memilihku

Di Malam Kota Jatuh, Tak Seorang Pun Memilihku

Par:  LautComplété
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapitres
9Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Pada malam kota jatuh, ajudan ayah berlari menerobos masuk ke kediaman panglima daerah dengan tubuh berlumuran darah. "Pasukan musuh mengumumkan kalau mereka bakal mengampuni semua perempuan di kota ini asalkan kita menyerahkan salah satu putri dari kediaman panglima daerah buat memuaskan seluruh pasukan mereka." Adikku baru saja bertunangan. Mendengar itu, dia langsung ketakutan hingga menangis dan pingsan di tempat. Ibu memeluknya erat-erat, tetapi kemudian berbalik dan berlutut di hadapanku. "Hanna, adikmu bakal menikah bulan depan." "Kalau sampai kehormatannya direnggut, hidupnya bakal hancur." Kakak sulungku juga ikut membujukku dengan suara pelan. "Kamu dan Arkan sudah menjalin hubungan selama tujuh tahun." "Dia begitu mencintaimu. Sekalipun sesuatu benar-benar terjadi padamu, dia nggak bakal meninggalkanmu." Pada akhirnya, aku mengalihkan pandangan kepada Arkan Wiryawan. Pria yang dulu rela menerima tiga tembakan demi melindungiku itu ternyata benar-benar membantuku mengenakan mantel. "Pergilah." "Apa pun yang terjadi, aku tetap bakal menikahimu." Saat itu, aku tiba-tiba mengerti. Adikku tidak boleh dinodai karena hidupnya akan hancur jika itu terjadi, sedangkan aku boleh saja mengalaminya. Aku tersenyum dan melangkah keluar. Sebelum naik ke mobil, aku menelan pil pengorbanan yang ditinggalkan ayah. Namun, baru dua blok dari kediaman, lampu-lampu di sekeliling kami tiba-tiba menyala. Orang-orang yang menyamar sebagai pasukan musuh itu serentak melepas topeng mereka. Adikku berlari keluar dari balik tubuh sang ajudan. Dia tertawa terbahak-bahak hingga sulit berdiri tegak. "Kak, kamu benar-benar pergi!" "Aku cuma mau menguji apakah keluarga kita memang paling menyayangiku." Ibu mengembuskan napas lega. Arkan juga mengangkatku turun dari mobil. "Sudahlah, ini cuma bercanda. Jangan memasang wajah seperti itu." Aku bersandar dalam pelukannya, lalu perlahan memejamkan mata. Ternyata, jatuhnya kota itu palsu, begitu pula penghinaan yang seharusnya kuterima. Hanya pil pengorbanan yang kutelan itu yang benar-benar nyata.

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1

Ketika membuka mata lagi, aku sudah kembali ke kediaman panglima daerah.

Tenggorokanku terasa seperti dijejali pasir membara, sementara perutku terus terasa melilit.

Aku berpegangan pada tepi ranjang dan berusaha duduk. Saat itulah aku teringat perkataan ayah dulu, pil pengorbanan bukanlah racun yang langsung merenggut nyawa begitu ditelan.

Racun itu akan perlahan-lahan menggerogoti organ-organ dalam. Begitu seseorang mulai batuk darah, tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkannya.

Sementara itu, suasana di lantai bawah justru ramai sekali.

Adikku, Naysila Mahardika, sedang bermanja-manja dalam pelukan ibu. Dia mengeluh gaun yang dikenakannya tadi kusut terkena air mata dan meminta dibuatkan yang baru besok.

Ibu tersenyum sambil membujuknya.

"Sepuluh potong pun boleh. Kamu pasti ketakutan sekali hari ini, ya? Kalau tahu mereka bakal berakting sedemikian nyata, Ibu nggak bakal menyuruh mereka melakukannya."

Saat aku berpegangan pada pagar tangga dan berjalan turun, kakak sulungku sedang membagikan uang hadiah kepada beberapa orang yang tadi menyamar sebagai pasukan musuh.

Melihatku, dia hanya mengangkat dagu sedikit.

"Sudah bangun? Baguslah. Ayo, makan."

Aku tidak bergerak. Tak lama kemudian, kakak sulung mengernyitkan dahi.

"Ck, kamu benar-benar marah? Naysila cuma mau menguji apakah keluarganya menyayanginya. Memangnya perlu sampai seperti ini?"

Mendengar suara itu, adikku pun melepaskan diri dari pelukan ibu dan menghampiriku.

"Kak, aku benar-benar nggak menyangka kamu bakal langsung naik ke mobil."

"Kukira kamu paling-paling cuma bakal memarahiku beberapa kali."

Dia mengatakannya dengan nada sedih, seolah-olah dialah yang baru saja mengalami ketakutan besar.

Benar saja, ibu lebih dulu menunjukkan ketidaksenangannya.

"Hanna, dia sudah meminta maaf kepadamu. Sebagai kakak, jangan terus mempermasalahkannya."

Tiba-tiba, aku teringat kata-kata yang diucapkan ibu ketika berlutut di hadapanku.

Jika adikku benar-benar diserahkan kepada mereka, hidupnya akan hancur.

Jadi, aku bertanya kepadanya.

"Bagaimana kalau kejadian semalam benar-benar terjadi?"

Suasana di sekitar meja makan seketika hening.

Ibu menghindari tatapanku. Setelah terdiam cukup lama, barulah dia menjawab.

"Bukannya itu nggak benar-benar terjadi?"

"Kita ini keluarga. Buat apa terus mengungkit sesuatu yang bahkan nggak terjadi? Apa gunanya?"

Kakak sulung juga mulai merasa kesal.

"Kalau benar-benar terjadi, baru kita bicarakan. Sekarang, semua orang baik-baik saja. Buat apa kamu memaksa kami memilih ulang?"

Setelah mendengar perkataannya, tiba-tiba aku tidak ingin bertanya lagi.

Ternyata, meski sekarang mereka sudah tahu aku menganggap ucapan mereka serius, mereka tetap tidak mau meluruskan sedikit pun.

Kalau itu benar-benar terjadi, kami tidak akan membiarkanmu pergi.

Pada saat itu, Arkan masuk. Di tangannya masih ada mantel yang tertinggal di mobil.

Dia menyampirkan kembali mantel itu ke bahuku, lalu membujukku dengan suara pelan.

"Jangan terus berdebat dengan mereka."

"Kalau aku tahu kamu bakal setakut ini, semalam aku pasti sudah memberimu sedikit penjelasan terlebih dahulu."

Aku mendongak menatapnya.

"Jadi, yang kalian takutkan itu aku menganggapnya sungguhan."

"Bukan karena kalian benar-benar memilihku."

Arkan jelas tertegun sesaat.

Adikku buru-buru menghampiri kami untuk mencairkan suasana.

"Kak, kalau begitu, besok aku traktir makan di restoran Barat. Gimana?"

Orang-orang di meja pun ikut tertawa.

Seolah-olah dengan mentraktirku makan di restoran Barat, kejadian pemilihan semalam bisa dianggap selesai begitu saja.

Di tengah makan, kakak sulung tiba-tiba melemparkan selembar koran ke atas meja.

Keributan akibat simulasi "jatuhnya kota" semalam terlalu besar. Banyak warga di sekitar yang menyaksikannya.

Kini, kabar bahwa kediaman panglima daerah nyaris jatuh ke tangan musuh sudah mulai menyebar di dalam kota.

Kakak sulung memintaku menemani Naysila ke studio foto besok, lalu menemui wartawan bersama-sama.

"Kalian berdua cukup muncul di depan publik dan bilang kalau kejadian semalam cumalah latihan mendadak."

"Supaya orang-orang di luar sana nggak menyebarkan kabar yang makin lama makin nggak masuk akal."

Aku bertanya pelan.

"Kenapa harus aku yang pergi?"

Kakak sulung menjawab seolah-olah itu hal yang sudah sewajarnya.

"Kamu menemani Naysila keluar buat foto. Bukannya itu membuktikan kalau kalian berdua baik-baik saja? Jadi, semuanya lebih mudah."

Lagi-lagi, demi kemudahan.

Sejak kecil, kata itulah yang paling sering mereka gunakan untuk memujiku.

Saat adikku menangis, aku mengalah.

Saat adikku takut kesakitan, aku yang menanggungnya.

Saat adikku membuat masalah, aku yang membereskannya.

Semua itu karena aku tidak merepotkan.

Karena itulah, ketika benar-benar dibutuhkan seseorang untuk dikorbankan, mereka bahkan tidak merasa perlu membicarakannya dengan sungguh-sungguh.

Orang pertama yang terlintas di benak mereka adalah aku.

Pada akhirnya, aku tetap mengangguk.

"Baiklah. Besok pagi aku pergi."

Lagian, sisa waktuku sudah tidak banyak. Aku juga tidak akan bisa mengatakan "baiklah" berkali-kali lagi.

Malam itu, begitu kembali ke kamar, aku terbatuk dan memuntahkan darah untuk pertama kalinya.

Aku menatap bercak merah gelap di saputangan itu lama sekali, lalu merogoh saku dan mengeluarkan botol obat yang kini sudah kosong.

Saat menyerahkannya kepadaku, ayah pernah berkata bahwa aku tidak boleh menyentuh obat itu sebelum kota benar-benar jatuh, sebelum tidak ada lagi jalan untuk mundur.

Selama ini, aku selalu mengira bahwa jika hari itu benar-benar tiba, aku akan meminum obat tersebut demi Keluarga Mahardika dan kota ini.

Tak kusangka, pada akhirnya, yang memaksaku menelan obat itu bukanlah pasukan musuh.

Melainkan sebuah lelucon yang tercetus dari keinginan sesaat adikku.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
10
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status