LOGIN
"Bapak mau ke mana?" tanya Freya panik saat melihat Lucas tampak siap mengenakan jasnya. "Saya?" Lucas menunjuk wajahnya sok polos, "pulang," jawabnya, "kamu udah sadar, kondisi kamu udah stabil, tanggung jawab sosial saya udah selesai." "Anu─" ucapan Freya menggantung. Ia menggigit bibir bawahnya lagi, malu dan gengsi untuk merendah di depan musuh. Tampak Lucas menunggu lanjutan ucapan Freya. Tatapannya yang dingin menembus pertahanan Freya, mengoyak harga diri yang dijunjungnya begitu tinggi. Bagaimana Freya bisa melunasi tagihan rumah sakit sebesar itu? Mengemis pada Lucas sekali saja bisa menyelamatkan harga dirinya, bukan? "Bapak bisa bantu saya?" sekarang wajah Freya dibuat seimut mungkin. "Kenapa sama wajah kamu?" Lucas bisa membaca gelagat manja Freya. "Saya harus pasang wajah secantik dan sebaik mungkin di depan orang yang mau saya mintai tolong kan Pak? Ah, atau saya boleh panggil Mas kalo di luar kelas?" Hampir Lucas tersedak mendengar kalimat Freya. Ia merinding
"Setelah membawa saya dalam keadaan tidak berdaya," Freya berhenti menyeka air matanya sebentar, "sekarang Bapak bahkan bicara informal sama saya. Ini bisa aja saya laporin ke Rektor! Akan saya buat surat aduan," ucap Freya mengancam. Lucas menggelengkan kepalanya pelan. Ia kembali berjalan mendekati ranjang tempat Freya berbaring. Dua telapak tangannya ia kantongi di saku celana. Mata tajamnya memicing, ia sedikit membungkuk di depan wajah Freya, seakan ia memiliki satu kartu as untuk menggoyahkan ancaman gadis di depannya. "Dua belas juta rupiah boleh kamu bayar ke bagian administrasi," ucap Lucas sangat serius. Dahi Freya berkerut, "Maksud Bapak?" "Biar kamu bisa keluar dari rumah sakit ini, bukannya kamu harus bayar biaya pengobatan dulu?" kata Lucas tak acuh. Mata Freya membulat seketika. Kedua tangannya sudah terkepal kuat, ingin sekali menjambak dan mengacak wajah sinis lelaki di depannya. Bagaimanapun Freya menyesali nasibnya kini. "Bapak gila?" teriak Freya tak pe
Sepeninggal Dokter April, Lucas kembali menelepon Nino. Ia berpesan agar asistennya itu mengurus semua administrasi Freya yang sudah pasti tagihan rawatnya akan dibebankan atas nama sang CEO muda. Mengingat Freya pasti akan gengsi untuk menerima bantuannya, Lucas melihat celah ini sebagai sebuah kesempatan langka. "Gue gantiin baju Freya dulu, kata Suster suruh ganti sebelum dibawa pulang," ujar Lucas sambil menutup sambungan teleponnya. Ia sengaja berkata demikian karena tahu betul bahwa Freya sudah bangun sedari tadi. Saat Lucas berbalik ke arah ranjang, Freya sudah memelototinya. Dalam hati Lucas tertawa, pancingannya berhasil. Namun ia tetap memasang wajah dingin, tak acuh. "Kenapa Bapak bawa saya ke sini?" tanya Freya dengan tatapan curiga. "Kamu pengin saya bawa ke mana kalo nggak ke sini? Hotel?" sindir Lucas frontal. Freya berjenggit, "Ogah! Saya yakin kalo di kampus nggak banyak orang yang ngeliat pasti saya dibawa ke hotel!" tuduhnya. Tatapan Lucas yang sem
Lucas tak memiliki pilihan lain, dibawanya Freya ke rumah sakit. Sudah dua kali Freya tiba-tiba ambruk tanpa sebab, cukup membuat Lucas penasaran dan khawatir. Sebagai pelanggan VVIP rumah sakit, Lucas sengaja menempatkan Freya di kamar kelas premium dengan fasilitas nomor wahid pula. Lucas ingin yang terbaik untuk Freya, terlepas dari semua sikap dinginnya pada sang mahasiswi dan bertingkah seperti musuhnya, Lucas sudah menyelip rasa di dada. "Dua kali dia tiba-tiba begini Dok, tanpa sebab," ucap Lucas begitu dokter selesai memeriksa kondisi Freya dalam kunjungannya ke kamar perawatan. "Sudah bicara dengan Dokter April?" tanya sang dokter setelah mengambil nafas sebentar. "Kami bertemu di IGD sebelum Freya dipindah ke sini," jawab Lucas. "Sebentar lagi Dokter April akan berkunjung untuk menjelaskan diagnosanya. Saya yakin akan lebih jelas jika dokternya yang memberi gambaran kondisi Mbak Freya," kata sang dokter melirik Freya yang belum sadarkan diri. Lucas mengangguk paham
Freya masih berusaha mengatur emosinya. Tak segera menjawab Lucas, ia ikut meneguk air mineral miliknya. Ditatapnya nanar Lucas yang juga balas menatapnya. Luka yang sama, yang dilihat Lucas malam itu. Kenapa ikut sakit saat bahkan Freya tidak bercerita apa pun padanya? "Kalo saya jelasin, saya nggak yakin Bapak bakalan percaya juga sama saya," ucap Freya lebih tenang dari sebelumnya. Beberapa kali ia nampak menelan saliva. "Tapi menjadi tidak tau soal masalah yang sebenernya bikin saya ada di posisi tersangka malam itu!" kata Lucas terdengar lebih perhatian. "Bukannya Bapak emang gitu?" cibir Freya. Lucas berdecak, "Kamu mau mulai berdebat lagi sama saya? Saya juga bisa bersikap lebih sinis dari kamu," ucapnya. "Tau ah Pak! Saya capek!" keluh Freya ikut duduk di sebelah Lucas akhirnya. Sesaat keheningan menyergap. Lucas sibuk memainkan ponselnya, berinteraksi dengan Nino soal pekerjaan. Sementara Freya memilih fokus pada air mineralnya yang sudah hampir habis. "Lain kal
"Bapak jangan coba-coba ya!" ancam Freya mulai tidak percaya diri dan diselimuti ketakutan. "Apa yang kamu takutin dari tempat seramai ini, Freya?" Panggilan biasa yang keluar dari mulut Lucas untuk pertama kalinya, suara serak nan berat yang membawa Freya melayang. Setiap desah lembut dan gerak bibir Lucas saat melafal nama Freya membawa getaran tersendiri yang membuat Freya bagai ditarik masuk ke dalam dunia dingin milik Lucas. Kebekuan yang menghangatkan hati Freya tanpa perlu banyak usaha. "Saya teriak nih, teriak!" tantang Freya justru terkesan menggemaskan. "Keahlian kamu bukannya emang teriak-teriak kan?" Freya menautkan kedua alisnya, "Maksud Bapak?" tanyanya, "Saya serius ya Pak. Di kampus Bapak nggak bisa berbuat sesuka hati!" tambahnya. Bukannya takut, Lucas justru makin mendekatkan wajahnya pada wajah Freya. Kini, Freya bahkan bisa merasakan embusan nafas hangat dari lelaki tampan penuh kharisma itu. Di benak Freya, ia kagum pada Lucas yang sangat pintar m