LOGIN
"Kamu sengaja ngasih proyek dia yang jauh dari Jakarta ya?" tebak Freya yang hanya dijawab anggukan oleh Lucas. "Kenapa Selangor sih Mas?" "Kamu nggak terima?" Lucas berhenti mengunyah, sengaja melihat reaksi gadisnya. "Enggak gitu. Katanya dua taun dia di sana ngerjain pemasaran sama iklan." "Kan emang basis perusahaannya di periklanan. Makanya aku kasih yang can relate sama kerjaan dia. Aku harap sih dia serius dan nggak bikin kacau lagi," ujar Lucas kembali mengunyah mie-nya yang tinggal sesuap lagi itu. "Dia serius kok. Buktinya dia minta aku buat nunggu dia, itu artinya dia sungguh-sungguh." "Bentar," tatapan Lucas berubah dingin, "nunggu? Emang dia siapa merasa berhak nyuruh kamu nunggu dia?" jelas terdengar nada suara Lucas berubah kesal. "Jangan emosi dulu, dia emang minta aku buat nunggu, tapi kubilang aku udah punya pacar dan aku kasih tau dia kalo pacarku itu kamu," sebut Freya meyakinkan, "awalnya dia nyuruh aku ati-ati karena pasti dia denger rumor di kampus, tap
Freya tersipu malu saat Lucas menatapnya bernafsu. Beberapa kali ia menolak dicium, menambah kegemasan Lucas terhadapnya. "Iya apa enggak?" goda Lucas menggesekkan hidungnya ke hidung mancung Freya. "Jangan gitu, aku malu, Mas," lirih Freya memalingkan wajahnya. "Kita ngobrol lagi biar kamu rileks?" tawar Lucas maklum. Dirinya sendiri juga gugup sebenarnya, tapi desakan di dalam tubuhnya lebih besar dari rasa gugup yang timbul. "Seandainya nggak jadi pun, nggak pa-pa Mas?" "Aku nggak maksa kamu Frey, kita bisa maen game aja sampe pagi," ajak Lucas pengertian. Freya tersenyum lega. Ia tidak siap melakukannya, tidak untuk saat ini apalagi benar-benar harus melepas keperawanannya. Bersyukur Lucas mau mengerti dan tidak memaksanya. Di saat Dena bahkan menyarankan untuk mengatasi semua masalah dengan bercinta, Freya merasa Lucas masih bisa ia bujuk hanya dengan rayuan biasa. Nyatanya Lucas tidak memaksanya, mereka hanya akan menghabiskan sepanjang malam dengan bercerita panjang lebar
Sebagai seorang lelaki normal yang memiliki kecerdasan emosional yang di atas rata-rata, jiwa Lucas tertantang. Dibasahinya bibirnya untuk balas menggoda Freya, mereka lupa dengan rencana pergi semula. "Jangan nyesel kalo aku beneran jadi jahat malam ini," gumam Lucas seakan meminta persetujuan Freya. Bukannya kabur, Freya justru mengulum senyum. Ia lipat kedua tangannya di depan dada, sorot matanya menantang."Kamu yang nantang ya Frey!" geram Lucas tak tahan dan langsung menggendong Freya di pundaknya bak memikul karung beras. Freya terbahak, ia berpura-pura berontak, tapi tak serius memukul Lucas. Gadis ini bahkan terlihat menikmati sekali perlakuan bar-bar sang pacar yang sudah terlanjur gemas. Sampai di kamar, Lucas menghempas tubuh Freya ke ranjang. Tak peduli Freya sudah siap bangun dari posisinya, Lucas lebih dulu menindihnya. "Nggak jadi pergi?" tanya Freya menahan dada Lucas saat lelakinya itu siap mengecupi leher jenjangnya. "Ngapain pergi kalo aku punya yang lebih men
"Kan malah bagus buat aku karena rumor aku yang gay terpatahkan," senyum simpul Lucas terkembang. "Aku bakal adain konferensi pers biar nama kamu jadi jelek dan bisnis kamu hancur!" "Nggak pa-pa. Nathalie kaya ini, aku bisa numpang hidup ke dia kalo Bhaskara bangkrut," balas Lucas santai. "Mas!" sentak Freya kesal. "Nggak boleh ninggalin aku, ya, ya?" pintanya sungguh-sungguh, hampir menangis. "Coba ngerayunya yang serius," kata Lucas berusaha menutupi kegemasannya. Freya menyeringai, dikecupinya wajah Lucas bernafsu, tapi Lucas bergeming. Ia hanya tersenyum sangat tipis, tak terlihat oleh gadisnya. "Biar apa begitu?" tanya Lucas saat Freya menghentikan gerakannya. "Biar wajah kamu yang dingin dan jahat ini jadi lebih hangat dan ramah," ujar Freya nyengir. "Yang dingin bukan wajahku, tapi hatiku," gumam Lucas iseng. "Mana?" sambut Freya langsung meletakkan kedua tangannya di dada Lucas, berniat menghangatkannya. "Kerasa?" tanya Lucas reflek mengecup kening Freya yang ikut me
Saat Lucas keluar dari kamar mandi, Freya sudah duduk termenung menunggunya di atas ranjang. 'Kamu ngode aku ya Frey?' Melihat Lucas hanya membalut tubuhnya dengan handuk sebatas pinggang, Freya tertegun. Lucas tak pernah gagal membuat Freya tersipu, bahkan tanpa melakukan apa pun. Apalagi saat Lucas mengacak rambut basahnya, gerakan seksi yang mendebarkan jantung Freya. Tak peduli tatapan lapar Freya padanya, Lucas berjalan santai menuju lemari besar yang ada di kamar sebelah. "Mas!" dengus Freya merasa kesal karena Lucas mengabaikannya. "Aku pake baju dulu, mau ikut? Mau makein aku baju?" tantang Lucas melongok di pintu. Niatnya sudah ingin bercanda tapi wajahnya masih se-serius sebelumnya. Freya mencibir. Ia harus sabar, Lucas sedang ingin dibujuk, ia tidak boleh emosi. Bagaimanapun, ia sudah salah dan ini adalah tes untuk mendapatkan ampunan dari lelakinya itu. Ia teringat nasihat Dena yang menyarankannya melakukan hal gila jika Lucas masih saja jual mahal. 'Apa pun masalah y
'Mana mungkin keluarga terhormat Bhaskara begitu sama calon menantu yang selalu ditunggu-tunggu,' balas Nenek Sarah berusaha untuk tidak membuat Lucas kecewa. "Nenek yang jamin ya? Kalo sampe yang sangat aku takutin kejadian, Nenek tau kan konsekuensinya?" tanya Lucas masih bernada mengancam. 'Iya. Bawa aja ke rumah, Nenek sama Kakek pasti menyambutnya.'"Kalo Freya sampe tersinggung sedikit aja sama keluarga kita, aku bawa dia pergi langsung! Melukai Freya berarti sama aja ngusir aku keluar dari keluarga Bhaskara," kata Lucas sangat serius.'Iya Luke, lakukan yang kamu mau. Kami tunggu,' ucap Nenek Sarah tak memiliki jawaban lain. Kemudian sambungan telepon diputus. "Nathalie mulu, kayak nggak ada yang lebih asyik aja ketimbang dia," keluh Lucas sembari menekan tombol lift di depannya dan memasukkan ponsel ke saku jasnya. Sebenarnya, tak ada yang salah dengan Nathalie. Namun seperti yang sudah Lucas pikirkan, sehebat apa pun pewaris Wijaya itu di mata sang nenek, Nathalie tetap







