LOGIN'I can handle this Frey,' gumam Lucas tanpa semangat, 'jangan khawatir,' ucapnya. Freya tersenyum, "Fokus aja dulu sama kerjaan di sana ya. Aku yakin kamu pasti bisa ngatasinnya," ujarnya tahu bahwa sebenarnya Lucas sedang mencoba terdengar tak memiliki beban, "biar aku di sini selesain juga masalah prasangka tadi. Baru setelah semuanya mereda, kamu bisa ketemu Ayah dengan pikiran dingin dan nggak terbebani urusan kantor," pintanya lembut. Lucas menghela napas berat, 'Whatever you say, Sugar. Keep in touch! Kabari kalo ada apa-apa ya," pintanya. "Iya Mas. Selamat bekerja ya," ucap Freya bersamaan dengan Lucas yang menutup sambungan. Lucas terdiam sebentar setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Nino yang berdiri di sampingnya terlihat tak berani menegur. Ia tahu betul bahwa sang bos besar tengah banyak fikiran. Nino hafal sekali raut wajah Lucas saat sedang dilanda masalah. Ia tak ingin membangunkan Jaguar PMS di saat pawangnya berada jauh dari jangkauan. "Ada apaan
"Dia masih lajang dan Freya satu-satunya perempuan yang bakal dia nikahi Ayah!" sengal Freya habis kesabaran. "Jangan mencoba ngelawan Ayahmu begitu, Freya!" Bu Iin ikut membuka suara, "Kami kirim kamu ke Jakarta itu buat kuliah, bukan buat kerja kotor!" "Aku nggak kerja kotor Mah! Semua uang yang kukirim ke Mamah itu hasil kerja aku magang di Ganesha," Freya gemas sendiri karena tak ada yang mau mendengar penjelasannya. Ia berlari keluar menemui Bimo yang masih berdiri sabar di dekat mobil. "Semua nggak berjalan sesuai rencana?" tanya Bimo simpati. Ia langsung mematikan rokok yang tadi sempat disulutnya. "Maaf ya Bang, jadi ribut gitu Ayah," sesal Freya tak enak hati. "Nggak pa-pa. Nanti gue ke sini lagi bareng Lucas. Wajar kalo ayah lo kaget ngeliat kejadian yang tiba-tiba begini. Gue balik dulu. Semua oleh-oleh udah gue turunin tuh," tunjuk Bimo ke arah teras rumah Freya. "Iya makasih Bang, maaf sekali lagi. Ati-ati ya," ucap Freya lirih. Bimo masuk ke dalam mobil, pe
"Pangandaran!!" sorak Tamara merentangkan kedua tangannya begitu turun dari pesawat. Ia tampak menghirup aroma udara dalam-dalam, diam-diam merindukan tanah kelahirannya. Sementara, Freya turun dibantu Bimo. Di dekat pintu kedatangan yang sangat sepi itu, sebuah mobil Range Rover warna abu disiagakan khusus untuk menyambut Freya. Bimo sengaja mengurus akomodasi Lucas selama di Pangandaran senyaman mungkin. Range Rover itu disewa selama waktu yang tidak ditentukan, sesuai kebutuhan sang sultan. "Udaranya nyaman," puji Bimo membuka obrolan sambil menerima tas ransel Freya untuk ia bantu membawanya. "Selamat datang di Pangandaran Bang, lain kali ajak Dena ke sini buat liburan," kata Freya mengembangkan senyumnya. Ia masih berusaha menata hatinya akibat manuver landing dari pesawat jet yang sedikit memicu gejolak di perut dan jantungnya. "Kenapa? Mual?" tanya Bimo perhatian. "Nggak usah manja deh Teteh! Emang badan kampung susah diajak naek pesawat mahal!" kritik Tamara merasa ke
Tak berapa lama Nino kembali masuk ke dalam ruangan. Wajahnya tak kalah kusut dari Lucas. Mereka berdua adalah inti Bhaskara. Jika mereka saja frustrasi, yang lain pasti lebih panik ketika mendengar masalah besar yang mengancam kelangsungan perusahaan ini. "Mereka sedang bersiap Pak. Saya suruh bawa semua materi yang bisa dijadikan solusi. Saya juga panggil bagian keuangan dan purchasing, sebagai pembanding dan pemberi bahan pertimbangan," ucap Nino. "Oke, makasih No," kata Lucas lega bahwa ia masih memiliki Nino yang sangat bisa diandalkan dalam situasi semacam ini. "Apa menurut kamu, kita perlu keluarin kartu truf kita?" tanya Lucas lagi, terdengar tak memiliki cara lain. "Kita tunggu solusi dari anak-anak dulu Pak Bos. Kartu truf bukan cara kita kan? Itu adalah opsi terakhir ketika kita sudah terluka parah. Kemaren kita sempat membahas kerja sama dengan Bank Mandiri Jaya dan BCA Care, saya kira itu bisa jadi jalan keluar yang cukup mengimbangi langkah mereka," terang Nino ma
"Apa nih?" tanya Tamara penasaran, "Cincin tunangan?" Freya menaikkan dagunya sombong, "Baguslah kalo kamu udah bisa nebak, jadi aku nggak usah repot-repot ngasih tau," jawab Freya. "Mana kuliat?" Tamara menarik pergelangan tangan Freya, tapi Freya bertahan. "Apa sih? Liat dari situ kan bisa, nggak usah pake pegang segala!" sahut Freya sengit. "Yaelah, pinjem sebentar, aku penasaran aja. Orang sekaya Mas Lucas masak ngasih cincin tunangan begini doang," cibir Tamara, "nggak mencerminkan image-nya.""Nggak usah banyak omong kamu Tam! Kalo nggak ngerti apa-apa nggak perlu sok menilai orang. Mau cincin semahal apa pun kalo orang yang ngasih nggak bisa mengayomi kayak Iwan, aku mah ogah," balas Freya. "Ah, iya sih. Mas Lucas itu melindungi banget. Sifatnya yang begitu yang bikin cewek pada jatuh cinta," ujar Tamara sambil berkhayal. "Berhenti ngebayangin Mas Lucas yang nggak perlu, dia begitu ke kamu karena kamu adekku. Kalo kamu nggak ada hubungan apa-apa sama aku, dia nggak akan s
"Emang apa lagi yang belom selesai di kantor? Kita bisa undur berangkatnya lain kali aja Mas," kata Freya sambil meneliti barang bawaannya di ruang tamu. Setelah berkata akan pulang dua minggu yang lalu, Nenek Sarah benar-benar diantar kembali ke kediamannya oleh Lucas. Meski sempat mengomel sedikit pada Freya, akhirnya Nenek Sarah memeluk Freya juga setelah Freya mencium tangannya untuk salim. Pesannya hanya agar jangan lengah dan tetap sekuat sebelumnya karena perjuangan masuk ke keluarga Bhaskara masih sangat panjang. "Ada beberapa. Ada rapat sama klien juga sebentar, nanti aku langsung susul ke bandara," jawab Lucas berjalan keluar dari kamar sambil mengancingkan jasnya. "Di sana nanti aku ketemu siapa?" tanya Freya bingung. "Ada Bimo yang bakalan ngurusin semuanya. Dia udah standby di bandara," balas Lucas. Freya mengangguk lemah. Sekarang tanggal 15 Agustus, Lucas dan Freya sudah merencanakan hari ini untuk berangkat ke Pangandaran. Lucas sengaja mengambil hari libur u
Freya sudah siap membalas teriakan Lucas jika saja ponselnya tidak berdering. Ada nama Dena di layarnya. "Ya Den?" sapa Freya ceria. 'Lo nggak masuk kuliah lagi? Sakit atau ke mana sih lo?' tanya Dena di seberang. "Ah, gue sama si Kulkas," balas Freya. "Nitip absen ya," tambahnya merasa belum si
"Abis ini aku ke kantor bentar ya Frey, kamu istirahat," ujar Lucas sembari mematikan laptopnya. "Tengah malem gini? Ngapain sih?" tanya Freya tak rela ditinggal. Ia masih takut berada di rumah besar Lucas sendirian. "Ada kerjaan. Nino masih di kantor soalnya," jawab Lucas santai."Bentar! Di saa
"Aku serius," kata Lucas lagi, menjawab wajah tak percaya yang Freya tampilkan. "Iya, aku tau. Alumnus Universitas Stanford yang pas kuliah udah bisa kerja di Wall Street!" bisik Freya merasa sangat kecil di depan pacarnya itu. Lucas mengangguk meng-iyakan. Kesuksesan yang diraihnya dalam memimpi
"Aku bukan cewek matre," desah Freya tiba-tiba, setelah menyelesaikan acara makannya. "Kenapa tiba-tiba begitu?" gumam Lucas sibuk mencari bungkus rokoknya yang berhasil disembunyikan Freya. "Kamu nggak jujur sama aku soal statusmu, artinya, kamu ngerasa nggak nyaman dan aman macarin aku. Mungkin







