LOGIN"Ya udah, ditungguan heula nya Neng, sakedap (ditunggu dulu ya Neng, sebentar)," ucap Bi Esih seraya menepuk pundak Freya baru kemudian berlalu meninggalkannya. "Reuni?" tegur Lucas menggeser posisi duduknya mendekati Freya. Freya mengangguk, "Dari kecil Bi Esih ini sering ngasih aku makan di warungnya," ia mulai bercerita. "Pagi kalo Mamah udah sibuk ngurusin Tamara, aku jadi nggak sempet sarapan di rumah, makanya aku mampir ke sini, ikut makan gratis," cengir Freya. "Siangnya juga mampir makan lagi?" Tanya Lucas mendengar dengan serius. "Kadang-kadang. Bi Esih suka manggil aku kalo pas lewat depan, terus langsung dikasih lengko ayam buat dimakan. Aku nggak boleh pulang sebelom lengko ayamnya abis," ujar Freya dengan bangga mengenang masa kecilnya. "Kamu bisa inget banyak kenangan manis pas kecil, tapi kamu lupa banyak hal sepele juga pas udah gede," cibir Lucas. "Entahlah, emang ada beberapa bagian dari kenanganku yang nggak kuinget dengan jelas Mas. Kayak ada yang diamb
"Tapi kamu nggak pa-pa?" tanya Freya lagi. Lucas menggeleng, "Ayok kita coba," katanya mantap. Freya menghela napas lega. Jika Lucas sudah bertekad, ia bisa apa? Setelah Freya mengangguk, Lucas meraih jemari gadisnya untuk digenggam. Ia membimbing Freya menyeberang jalan ramai itu untuk mencapai warung makan. Sebelumnya Lucas tak pernah mengalami hal seperti ini. Ia tidak perlu mengantre untuk bisa memuaskan rasa laparnya karena Bimo atau Nino pasti sudah mengurusnya dengan membooking tempat makan itu beserta semua menunya. Namun kali ini berbeda, Lucas harus menjadi rakyat jelata, mirip di dongeng-dongeng sebelum tidur di mana pangeran rela berbaur dengan rakyatnya demi perempuan yang ia cintai. Ada rasa bangga tersemat di dadanya saat beberapa orang menatapnya takjub, mungkin karena penampilan Lucas yang terlalu formal. "Kayaknya aku jadi pusat perhatian deh," gumam Lucas ke arah Freya. "Kan mirip debt collector penampilannya," cibir Freya menahan tawa. Lucas mencembikka
"Kan kalo begini enak diajak jalan-jalannya," gumam Lucas saat Freya keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian yang lebih casual tapi cukup manis dipandang. "Apa sih Bos, keliatan bahu doang kali," sangkal Freya mengulum senyum, menggoda rasa cemburu lelakinya. "Bahu sama tulang selangkamu yang seksi. Udah ayok jalan," ajak Lucas langsung meraih pergelangan tangan gadisnya dan menariknya keluar rumah. "Lho? Biar kubikinin Abang-Abangnya kopi dulu," tahan Freya. "Mereka nggak haus," sambar Lucas. "Bang, kunci!" ucapnya ke arah Bimo. "Ke mana?" tanya Bimo bingung. "Keluar dulu. Orang yang mau ditemuin lagi ke kebun. Nanti aja ke sininya lagi," kata Lucas. "Berarti gue sama anak-anak balik dulu ke penginapan?" Bimo menegaskan perintah bosnya. "Iya. Ntar gue kasih kabar kalo gue udah mau balik ke sini," kata Lucas. "Oke. Gue ikut mobil anak-anak kalo gitu," balas Bimo mengangguk sambil menyerahkan kunci mobil yang dibawanya pada Lucas. Freya melambai pada Bimo dengan e
Di dekat pagar bambu buatan Pak Danang, Lucas berdiri sangat gagah dengan setelan celana slimfit dan kemeja warna biru mudanya. Sepatu sneakers melengkapi penampilan kasualnya yang tetap terlihat berkelas. Kacamata hitam bertengger di atas hidung mancung menantangnya. "Kangen!!" seru Freya sambil berlari dan memeluk Lucas tak peduli di mana lelakinya itu berdiri. Lucas balas memeluk erat pinggang gadisnya. Menumpahkan segenap kerinduan yang ia tahan karena krisis di perusahaan yang tak kunjung reda. "Bang, tolong jas gue!" pinta Lucas pada Bimo yang ikut datang diiringi dua anak buahnya yang lain. Mereka layaknya gengster yang siap berperang menghadapi lawan dari wilayah berbeda. "Siap!" balas Bimo sigap. Ia membuka pintu mobil mewah yang dibawanya lantas mengambil jas milik Lucas. "Pagi Bang Bimo!" sapa Freya masih belum melepas pelukannya di tubuh Lucas. "Pagi Neng Geulis!" balas Bimo ramah, memainkan alisnya sok berbahasa Sunda. "Nggak pantes ngomong Sunda lo!!" serga
"Kamu cinta sama dia?" masuklah Pak Danang pada bahasan yang lebih dalam, soal perasaan. "Cinta Yah. Dia udah ngelamar Freya buat jadi istrinya," balas Freya mantap. "Kamu masih kuliah Neng! Jangan asal bikin keputusan!" tegur Pak Danang tak setuju. "Freya tau Yah. Tapi Freya liat Mas Lucas serius soal hal ini. Lagipula kalo Freya nikah, beban Ayah buat biayain kuliah dan hidup Freya bakalan berkurang. Kali ini biar Freya berbakti sama Ayah sama Mamah. Seenggaknya beban keluarga ini berkurang. Freya juga bisa bantu biayain sekolah Tamara," bujuk Freya lembut. "Tidak dengan menjual anak sendiri ke orang asing, Neng!" "Ini bukan menjual Yah. Freya cinta sama Mas Lucas, gitu juga sebaliknya. Izinin Mas Lucas ke sini, ketemu sama Ayah, ngobrol baik-baik. Freya yakin Ayah pasti nggak akan curigaan gini lagi kalo udah ketemu pacarnya Freya. Dia sangat bertanggung jawab dan ngelindungin Freya pake nyawanya, itulah yang bikin Freya mantap buat nerima lamarannya," ungkap Freya pa
Malam harinya, setelah selesai makan malam bersama, Freya menyibukkan diri dengan mencuci piring di dapur. Ketika melihat busa di tempat sabun, ia teringat pada Lucas yang selalu melarangnya untuk melakukan pekerjaan itu. 'Nanti orang-orang pada bilang, masa tangannya Nyonya Lucas kasar kayak parutan kelapa,' kata Lucas suatu ketika. Freya tersenyum sendiri ketika mengingat ekspresi Lucas. Apalagi saat Freya menjawabnya dengan berkata bahwa hanya mencuci piring saja tidak akan membuat tangannya berubah kasar seketika dan Lucas mencibirnya. Freya tiba-tiba merasa rindu setelah Lucas tak menghubunginya lagi seusai percakapan serius mereka di telepon tadi siang. "Kalo udah selesai duduk di sini sebentar Frey," pinta Pak Danang yang masih duduk di kursi ruang keluarga. Bu Iin sudah masuk ke dalam kamar. Tamara entah keluyuran ke mana, mungkin menemui temannya di teras depan. Sedangkan Pak Danang sengaja menunggu momen itu untuk bicara lebih tenang dengan Freya. "Iya Yah," balas
"Bapak jangan coba-coba ya!" ancam Freya mulai tidak percaya diri dan diselimuti ketakutan. "Apa yang kamu takutin dari tempat seramai ini, Freya?" Panggilan biasa yang keluar dari mulut Lucas untuk pertama kalinya, suara serak nan berat yang membawa Freya melayang. Setiap desah lembut dan ge
"Kamu lupa perintah saya untuk datang ke MKDU!" ucap Lucas menahan langkah Freya yang baru saja berpisah jalan dengan Dena, urung makan bersama di kantin karena Dena mendapat panggilan mendadak entah dari siapa.Freya tersentak kaget, tak menyangka Lucas akan ada di belakangnya. "Saya nggak pernah
"Iyaaa!" jerit Dena gemas, "Gantengnya bikin jantung gue terjun bebas ke perut!" katanya tak berhenti tertawa. Di lain sisi, Lucas yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian nampak lebih sibuk memainkan ponselnya dengan tenang. Ia mengabaikan beberapa gadis di sampingnya yang sengaja mengajak bic
Perkuliahan semester baru dimulai. Setelah merenungi hidupnya seharian penuh kemarin, Freya kembali dengan semangat baru. Rega bukanlah apa-apa dan ia tidak boleh terpengaruh karenanya. Meski pada akhirnya ia pasti akan bertemu dengan Keisya nantinya, Freya merasa bahwa Keisya yang seharusnya malu,







