Share

bab 11

Author: Maey Angel
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-12 21:35:50

Pesan dari Tery membuat Sisi tersenyum. Teman satu tim khusus yang selalu mengajak dia curhat dan membahas misi yang menegangkan itu seolah tahu situasi gabutnya.

“Gak baik.”

Tak lama kemudian, Tery menghubunginya lewat panggilan telepon.

“Hai, Sisi.”

“Gue kira lupa sama wajah teman sendiri,” gerutu Sisi saat temannya itu menyapanya ceria.

“Ya elah, berat banget hidup lo. Cerita coba cerita,” kekeh Tery.

“Lo di mana?”

“Rumah, baru rapat di markas tadi. Ada Jenderal Edi juga datang.”

“Ada masa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 88

    “Andai itu Ayah, sudah dipastikan dia akan selalu melindungiku di mana pun berada,” batin Sisi dengan penuh rasa syukur karena ayah angkatnya itu bukan orang sembarangan yang bisa menyamar dan bersikap seolah dia adalah rakyat jelata. Hanya orang orang tertentu yang bisa melakukan penyamaran itu dan setengah yakin, SIsi mengira itu adalah Edi.Pulang ke rumah susun, Sisi melihat Hanum yang sudah pulas. Ada rasa tak tega juga melihat wanita itu tidur sendirian tanpa anak dan suaminya. Namun, tugas ini tak akan selamanya. Sisi yakin, Hirosy dan anak anaknya akan menjemput.Sisi mandi setelah badan terasa lengket. Jam 1 dini hari SIsi baru siap untuk mandi. Namun, dia sempatkan duduk di balkon rumah dan melihat ke arah parkiran rumah susun di bawah sana. Ada sebuah mobil yang terlihat sangat aneh. Sisi berdiri dan segera mengambil teropong kecil miliknya. Khawatir ada yang diam diam membuntutinya.“Itu_”Sisi bangkit dan segera tu

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 85

    Perhitungan Sisi buka usaha di Bogor sepertinya salah. Omset yang didapatkan tidak sebesar saat di Jakarta. Dia pun hanya bisa menyimpan sisa modal untuk memutar dan membayar sewa, selebihnya dia seperti para kaum menengah ke bawah yang kekurangan biaya.Sisi harus memastikan kebutuhan Hanum tercukupi. Dia menolak Hanum ikut berjualan karena tak ingin terlalu lelah. Lokasi jualan dan juga rumah yang tidak begitu dekat membuat Sisi hanya memperbolehkan Hanum menemaninya saat menata dagangan saja. “Mrs pulang dulu gak papa.”“Kamu ini, malam ini aku ingin menmani kamu. Boleh ‘kan?”“Pulang aja, Mrs. Nggak baik terlalu memaksakan, sudah tua harus jaga kesehatan.”Hanum mencubit pelan tangan Sisi dengan gemas, lalu diantar pulang oleh ojek langganan. Udara bogor begitu dingin. Sisi mendapatkan beberapa pembeli meski jualan nya masih tersisa separuhnya. Sisi melihat jalanan sudah sepi, lalu berkemas unt

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 84

    Setelah belanja, dia langsung pulang ke rumah susun, berharap Hanum tidak bertanya macam-macam tentang aksinya tadi. Namun, begitu pintu terbuka, Hanum sudah berdiri di tengah ruangan dengan tangan bersedekap."Kamu tadi belanjanya  ke pasar mana?" tanyanya dengan nada curiga."Pasar pagi, Mrs. Biasa, memangnya kenapa? Aku bawa belanjaannya kok," jawab Sisi cepat.Hanum menyipitkan mata. "Masalahnya ini sudah jam 10, Sy. Aku khawatir kalau kamu belum balik. Sebelum ke pasar, kamu ke mana?"Sisi menggaruk kepala yang tidak gatal. "Ehm… gak ke mana mana lah,  cuman tadi papasan sama kawalan jenderal atau apa mungkin. Kebetulan  lewat di depanku. Penasaran, aku ikuti lah sampai rumahnya. Udah, gitu aja."Hanum mendesah. "Rumah siapa?"Sisi mengalihkan pandangan. "Rumah siapa, entah. Aku gak kenal..."Hanum langsung menepuk dahinya. "Ya Allah, Sisi! Jangan sampai kamu begini lagi. Aku sanga

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 83

    **Pagi hari, Sisi pun menyewa mobil pick up. DIa membawa gerobak jualannya dan mengangkut semua isi rumah kontrakan menuju ke bogor. Beruntung rumah itu hanya dikontrak, bukan dibeli sehingga saat dia pergi tak kepikiran harus kembali. Sisi naik ke atas bak pick up, lalu meminta supir untuk melaju sekarang juga.  Begitu mobil sudah berjalan, dia melihat Daffi yang ada di dalam mobil dengan Sisi. Dia yang sudah lega dan tak ada ikatan pun tersenyum, lalu memalingkan wajah agar tidak kelihatan oleh keduanya.“Aku tak sakit hati. Aku akan bahagia dan senang kalau Dokter bahagia dengan pilihan Dokter yang sekarang ini.”Sisi mensugesti dirinya dan sendiri dan dia pun tak akan mau lagi mendengar kabar apapun tentang Daffi. Dia akan memulai kehidupan baru menjadi sosok laki laki yang mungkin akan seperti itu sampai keluarga Hiroshi baik baik saja.Begitu sampai, Sisi pun menurunkan barangnya. Kali ini, mereka menyewa

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 82

    “Dokter, katakan sekarang atau suster di luar sana akan masuk karena mengira Dokter sedang kesulitan menanganiku,” desak Sisi.“Sisi, aku tak bisa mengatakannya, aku…”“Jangan bilang cinta, Dokter. Kamu bahkan menikahiku tanpa cinta, mudah saja bukan? Katakan atau aku akan sangat membenci Dokter. Katakan!”Kali ini Sisi sudah tak sabar, dia menampakkan wajah marahnya karena Daffi terlihat memperlama ucapannya.“Tidak!” ucap Daffi.“Oke, kalau begitu aku akan kirimkan rekaman percakapan Dokter dengan istri baru DOkter jika Dokter menikahi dia karena gimmick. Dan Dokter tahu apa yang akan Dokter dapatkan? EMak mungkin marah dan ABi, mungkin akan_”“Baiklah! Baiklah kalau ini maumu. Aku menalakmu, Aisy Rahmah. Sekarang, haram bagi ku menyentuhmu.” Daffi mengatakan itu dengan tangan yang mengepal. Di saat dia sudah kehilangan Andini, dia juga sudah kehilangan Sisi.  Harapannya entah apa sekarang ini, yan

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 81

    Sisi membuka mata, meraih tangan Daffi. “Dokter, saya takut jarum suntik. Apa boleh dirawat Dokter saja?”Sengaja begitu agar nanti ada ruang di mana dia dan Daffi bisa bicara berdua. “Mas tenang saja. Kami akan memberikan pelayanan dengan baik. Dr Daffi ada praktik lain dan_”“Kalau bukan dia, saya tidak mau. Dia yang menabrak saya,” tegas Sisi pada Dokter yang ada di sana juga.“Sudah Dokter Anwar, pasien ini saya yang urus. Dia begini karena saya buru buru tadi.”Dokter tersebut mengalah dan membiarkan Daffi yang memeriksa. Begitu masuk ruang gawat darurat, Sisi pun kembali membuka mata. Daffi membuka kaki dan lengan Sisi, tapi Sisi mencegah tangannya.“Saya malu ada banyak cewek cewek di sini. Bisakah Dokter saja tanpa mereka?” tanya Sisi.“Ish, banyak maunya,” bisik salah satu perawat di sana.Sisi tak pedulikan hal itu. Yang dia pikirkan hanyalah punya waktu bicara

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 23

    “Pagi, Dek.” Dafii tersenyum pada Andini.“Pagi, Aa. Gimana tidurnya malan ini? Nyenyak gak?” sapa Andini yang melihat Daffi menyusul ke meja makan bersama Sisi.“Biasa aja, kami sama sama capek sema’an Quran.  Jadi ya nyenak aja,” sahut Sisi.“Ups,” keke

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 21

    “Seperti… alasan kenapa kau benar-benar mau menikah dengan Daffi.”Ruangan mendadak terasa sunyi. Bahkan suara kipas angin di langit-langit terdengar lebih nyaring daripada sebelumnya.Daffi menegakkan tubuhnya, tatapannya langsung tertuju pada wajah Sisi yang masih ta

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 20

    Jangankan sakit hati, jatuh cinta saja Sisi tak pernah ingin tahu rasanya. Dia khawatir kecewa jika jatuh cinta karena sadar selama ini hidupnya selalu dalam bahaya. Pagi itu, Daffi menemui Sisi yang sedang berkemas. Andini juga sudah mengatakan akan ikut ke Karawang. Hal inilah ya

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 19

    “Jangan jadikan aku sandungan keinginanmu, Pak Dokter. Santai saja, aku aja santai, kok. Jam berapa kita balik?”Dafi tak menjawab. Dia terlihat kesal, tapi tak bisa berbuat apa apa. Inginnya dia juga besok kembali, tapi Ayahnya meminta rundingan kembali tentang resepsi dan dia menolak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status