Share

bab 7

Author: Maey Angel
last update publish date: 2026-03-10 20:50:45

"Bu Bos yang terhormat, di sini terlalu lama bikin otak saya mendadak ngeblank. Biasa menata gelas dan piring, sekarang harus menata hati. Mana orang di sini aneh aneh, ya kan?” bisik Sisi.

Tiara terkekeh dan mengangguk.

“Iya.”

“ Kayak kamu kan?’ sambung Tiara kemudian.

Sisi yang tadinya senang dengan jawaban singkat Tiara, malah jadi merengut karena ucapan terakhir Tiara yang menilainya.

“Bersabarlah, Sisi. Saya pastikan kamu akan bahagia dengan pilihan dia. Saya juga tak tahu kenapa akhirnya jadi begini. Saya hutang banyak sama kami, jadi saya tak akan lepas tangan jika sampai Daffi menyakitimu,” ucap Kenzo pelan.

“Bukan masalah menyakiti, aku udah biasa smackdown laki laki. MAsalahnya, di sini itu aku gak betah. Cewek ceweknya pada usil, juga … di sini orangnya kebanyakan aturan. Mending di kedai, bisa lirik sana sini. Ya, Pak? Bantuin saya.”

“Nanti saya usahakan.”

Sisi pun tak berharap banyak, setelah ini dia pastikan semua tak akan baik baik saja. Dia pun diajak Kenzi masuk dan kembali berbaur dengan keluarga Daffi dan pesantren. Mendengarkan arahan kegiatan pagi dan mendengar Kenzi yang akan pamit untuk kembali ke Jakarta.

“Pak Kenzi yakin mau balik?” tanya Sisi. “Tanpa kami?”

“Tanyakan atasamu, Sisi. Saya harus kembali karena kerjaan saya belum ada yang handle. Selain itu, waktu tunggu Andini masih ada beberapa hari. Saya harap kamu tidak lupa itu.”

“Iya sih. Ya sudah lah, pasrah saja.”

Sisi melihat drama perpisahan kepulangan Kenzi. Andini terlihat memeluk sang kakak sebelum pergi, sedangkan Daffi membantu Kenzi membawakan koper yang sempat dia bawa.

“Titip adik dan temannya itu. Saya yakin, kamu bisa menjaga keduanya di sini,” ucap Kenzi yang Sisi masih dengar dari kejauhan.

“Tentu, Bang. Hati hati di jalan,” balas Daffi dan Kenzi pun bersalaman dengan semua Ustad yang mengantarkannya.

Sisi sendiri berdiri dan mengambil ponselnya lagi, mengirim pesan pada atasan menyebalkannya.

“Kapten, ayolah! Kapan aku selesaikan misi ini? Di pesantren ini sangat tidak asik. Orangnya kolot kolot,” ucap Sisi yang terus meneror atasannya itu dengan chat yang hampir tiap jam dia kirim.

“Kapan kita akan kembali ke karawang, Pak Dokter?” tanya Sisi saat dia kembali ke kamarnya.

Daffi yang sedang menata baju bersihnya menengok.

“Secepatnya. Setidaknya, dua atau tiga harian. Sore nanti ke makam Simbah Umi dulu, habis itu baru aku akan bahas kepulangan dengan Abi dan Abah. Kamu sudah tak kerasan?’’

“Kerasan?” Sisi tak paham bahasa jawa karena memang dia dibesarkan di kawasan ibukota.

“Betah, kamu udah nggak betah?” terang Daffi karena melihat gelagat kebingungan Sisi.

“Oh.” Pikiran Sisi sudah ke mana mana, dia pun memilih duduk di sisi ranjang.

“Apa?” tanya Daffi menunggu jawaban Sisi.

“Apanya apa?” Sisi malah bingung, otak cerdasnya mendadak tidak konek karena terlalu bebal dengan keadaan saat ini. “Oh, pertanyaan tadi.”

Daffi mengangguk, lalu ikut duduk di sisi Sisi membuat gadis itu menjadi belings4tan.

“Ya kan, kita ke sini tujuannya buat ketemu keluarga Andini. Setelah semuanya clear, bukankah lebih baik pulang? Dokter juga kan kerja,” jawab Sisi salah tingkah.

“Gak papa, kerjaan sih nanti aku minta yang di sana bantuin sementara. Aku kira kamu tak betah.”

“Aku sih, di mana aja betah. Asal ada bantal sama air putih aja.”

Daffi mengangguk, mencoba mencari bahan obrolan. “Keluargaku memang begini, jadi maklumi saja kalau tidak bikin kamu betah. Aku saja yang cucunya jarang datang kalau Emak tidak meminta.”

Sisi mengangguk.

“Untuk pernikahan resmi kita, kita akan bahas nanti setelah sampai di Karawang. Takutnya, kamu berubah pikiran setelah ini.”

“Ya, aku tahu.”

Sepertinya, Daffi memang tidak berniat menikahinya. Hanya desakan dan kebetulan saja membuat dia akhirnya bisa menjadi istri Daffi. Dia pun tak bisa mendesak pulang dengan cepat karena mungkin membuat Dafi nantinya kepikiran. Dia membiarkan saja dan memilih protes dengan Hazel yang jarang merespon itu.

**

Daffi mengajak serta Andini dan Ibunya. Ketiganya pergi ke makam istri dari Abah itu untuk ziarah. Setiap datang, Ibunya memang selalu meminta datang ke sana.

Setelah mengirim doa, Daffi mengajak semuanya kembali ke pesantren. Namun, Andini sepertinya penasaran dengan kota Pahlawan yang sedang mereka datangi.

“Aa, jalan jalan dulu yuk!” ajak Andini dengan bergelayut pada Daffi tangan Daffi. Sudah terbiasa begitu, membuat Daffi merasa tak risih.

“Mau ke mana?”

“Ke mana, Mak?” tanya Andini pada Edah.

“Coba tanya Sisi, dia mungkin mau tahu daerah sini. Emak mau balik saja, mau bantu bantu ndalem. Kasihan Bibi Ratmi di pesantren sendiri.”

“Yah, Emak gak asik.” Tiara merengut.

Sisi hanya tersenyum dan ikut menanggapi dengan ekspresi biasa. “Nggak capek, Bos?” tanyanya.

“Gak, pengen jalan jalan. Kamu nggak, Si?”

“Kamu ikut saja, Si, temani mereka,” ucap Edah yang tentu menjaga perasaan Sisi. Meski Sisi mungkin diam saja ketika melihat Daffi dan Andini berdua, tapi tetap saja hubungan keduanya suami istri. Rasanya, dia bertanggung jawab atas hubungan Sisi dan Daffi.

Sisi sebenarnya tidak terlalu ingin ikut. Melihat kedekatan Daffi dan Andini saja sudah cukup membuatnya merasa seperti orang asing di antara mereka. Tapi, menolak di depan Edah bukan pilihan yang bijak.

“Baiklah, aku ikut.” Sisi akhirnya mengangguk.

Andini bersorak kecil. “Yeay! Ayo, kita jalan-jalan!”

Daffi hanya tersenyum tipis, lalu berjalan lebih dulu menuju mobil yang mereka gunakan. Sisi mengikuti dari belakang, sementara Andini berlari kecil untuk menggandeng tangan Daffi. Sisi berusaha mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk membalas pesan di ponselnya.

Di dalam mobil, Andini duduk di depan bersama Daffi yang menyetir, sementara Sisi duduk di belakang, memperhatikan pemandangan kota yang perlahan mulai gelap.

“Ke mana dulu?” tanya Daffi.

Andini berpikir sejenak, lalu tersenyum. “Ke jembatan Suramadu, yuk! Aku ingin lihat laut di malam hari.”

“Hmm, boleh juga,” sahut Daffi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Panas Sang Penyamar    110

    Tery ngakak, “Daripada lo dikasih nama Gendhis Sugiyo, udah syukurin aja. Lagian nama doang, yang penting wajah lo udah cakep. Sekarang kalau selfie udah nggak perlu aplikasi 360 lagi.”Aisy menghela napas panjang, lalu menatap pemandangan dari jendela hotel.“Gue pengin pergi ke tempat yang nggak banyak orang tahu. Yang tenang, ada pantainya, tapi sinyalnya tetap ada. Gue mau nulis, ngedit, sambil healing. Ya, gue mau jadi penulis aja lah. Biar nggak perlu mikir keras dan bisa jebolin aplikasi menulis buat bikin genre yang dramatis dan romantis.”“Tumben banget lo ngomong kayak penulis konten inspiratif. Ada apa, Momo?”“Panggil gue Sisi udah deh, kayak dulu aja,” potong Aisy cepat.Tery kembali cekikikan. “Sisi udah mati. Yang sekarang itu Momosy Edigowa, warga dunia maya dengan wajah baru dan identitas yang udah dipoles dari kepala sampai dagu. Kalau lo ke kantor kelurahan, disuruh fingerprint, lo bisa ditangkep karena nggak match.”

  • Cinta Panas Sang Penyamar    109

    Aisy menerimanya dengan pelan, rasa terharu pun menyeruak. Dia dikelilingi orang baik, bahkan Dokter yang mendampinginya pun begitu baik dengan memberikan cermin  kecil berhiaskan  batu permata yang jelas bukan murah harganya.“Wah, Dokter baik sekali. Apa hanya Aisy saja yang diberi? Saya tidak? Wah, ini tak adil,” ledek Tery.“Tenang saja, untuk sahabat terbaik pasien saya ini, saya persiapkan gantungan kunci. Ini sama bagusnya kok, ada lambang bulan dan bintang di s iini dan kamu bisa menyimpannya sebagai kenang kenangan.”Tery menerima gantungan kunci berbentuk  bulan dan bintang yang sama mewahnya. Meski belum tentu apa itu lapis batu permata atau bukan seperti milik  Aisy, tapi Tery senang mendapatkan kebaikan itu juga.“Makasih banyak, Dokter Lie. ANda baik sekali, semoga Tuhan memberkati…”“Sama sama, kalian adalah contoh sahabat selamanya dan semoga keberuntungan selalu menyertai kita.”“Ter

  • Cinta Panas Sang Penyamar    108

    Tiga hari yang melelahkan. Operasi plastik yang dilakukan hampir 100 persen selesai. Wajah Aisy yang baru akan tercipta. Meski DNA tak mungkin akan berubah, tapi jelas kecantikan Aisy yang biasa biasa saja akan berubah memancar setelah ini.Tery dengan siap menunggu di rumah sakit itu. Pasca operasi, dia yang mengurus semuanya. Dari cara makan Aisy yang kesulitan, pergi ke WC sampai semua yang Aisy butuhkan, Tery yang membantunya. Hari ini, pelepasan perban di wajah Aisy.  Tery menggenggam tangan Aisy erat-erat. Tangannya hangat, tapi ada sedikit getar di sana. Mungkin karena gugup, mungkin karena khawatir akan reaksi Aisy setelah melihat wajah barunya. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak lambat, seperti sengaja memberi efek dramatis.“Deg degan ya? Artinya lo masih hidup, Sy,” jawab Tery membuat Aisy tersenyum dalam hatinya.  Dia belum bisa berbicara dan makan dengan baik karena bibirnya ditutup perban dan tak

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 107

    Dokter Lie tersenyum, “ minggu ini. Nanti persiapkan untuk semua kondisinya karena pemeriksaan dalam tiga hari ini mempengaruhi operasi plastik yang akan kamu jalani. Kamu siap kembali merasakan sakit?” tanya Dokter Lie.“Sakit macam apa yang belum ia alami, Dok? Sakit migren, sakit jiwa, sakit cacar, sakit parah sampai sakit hati dia juga sudah biasa, DOk. Gak akan mempan sakit lama lama di tubuhnya,” sahut Tery.“Biasa aja ngomongnya, semangat amat dukung orang sakit biar nambah sakit,” gerutu Aisy.“Ya, usahakan tetap fit dan jangan ada beban pikiran. Proses pemulihan setelah operasi wajah itu bukan cuma fisik, tapi mental juga harus kuat,” ujar Dokter Lie sambil mencatat sesuatu di tablet medisnya.Aisy mengangguk pelan, lalu menatap Tery. “Berarti, minggu ini ya. Kalau gagal, gue jadi muka dua dong? Separuh wajah lama, separuh wajah baru. Serem juga…”“Kalau gitu, lo bisa jadi bintang film horor. Judulnya: Se

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 106

    Aisy merasa jika waktu berlalu begitu lama. LUka di kaki dan tangan sudah kering, hanya masa penyembuhan yang katanya butuh satu minggu menjadi lebih lama karena Aisy tak mau diam. Ke WC atau jalan ke balkon ruangan, dia tak mau ditemani. Alhasil, lebih lama ada di rumah sakit itu.Tery kembali dari luar, dia melihat Aisy yang sedang menikmati pemandangan di luar.“Kek gersang banget di luar sana, Te,” ucap AIsy saat melihat di luar,“Cuaca di sini sedang panas panasnya, di Jepang malah ada banyak orang meninggal gara gara suhu panas yang tinggi. Makanya lo harus banyak minum dan jangan suka turun dari ranjang sendiri begini. Mau sembuh gak sih?”“Kapan jadwal operasi, Te? Gue udah nggak sabar balik Indo, kangen sama suasana di sana.”“Mulai deh mulai!” sungut Tery meletakan barang yang dia beli.“Habisnya gimana, sekacau kacaunya INdo … mau liburan ke gunung tinggal naik bis aja nyampe. Di sini, mau

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 105

    “Mulai deh. Udah lah, gak usah mikir itu lagi. Takut gue sama lo,” ucap Tery. Dia pun mengambil ponsel dan mengirim pesan pada seseorang yang jauh di sana.“Penjahat itu sempat menyebut nama kedua orang tua gue saat hendak menghabisi gue dan bahkan, nama Ayah Edi pun disebutnya. Apa mungkin, dia dalang dari kematian kedua orang tua gue ya?” tanya Aisy dalam dalam dan penuh kebingungan..Tery menoleh, menyimpan ponselnya. “Maksud lo?”“Ada sesuatu yang aneh. Gue ngerasa, penyerangan itu bukan sekadar serangan. Kayak… kayak ada pesan yang mau dikasih tahu sama gue.”Tery menyipit. “Lo mulai mikir konspirasi?”“Gue gak yakin. Tapi insting gue bilang, ini ada hubungannya sama masa lalu gue. Entah siapa yang masih simpan dendam, atau… siapa yang sengaja kasih peringatan.”Tery menunduk sebentar, lalu menatap Aisy. “Lo mau nyari tahu?”Aisy mengangguk pelan. “Gue gak bisa hidup tenang ka

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 95

    Daafi terdiam, kata cucu bukanlah kata singkat tanpa makna. Tapi bisa jadi hal berat yang akan sulit dia kabulkan. “Biar saja, mereka tidak tahu juga kalau_”“Apa Gus nggak mau sedikit berusaha menerimaku? Bagaimanapun, aku berhak meminta hal itu sebagai nafkah, bukan?”

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 94

    Hari hari sebagai Dokter yang ditugaskan di UGD membuat Daffi mulai kembali nyaman dengan pekerjaannya. Meskipun masalah dengan keluarga besar di Surabaya masih berlanjut, namun pernikahan dia dengan Ainah mampu membungkam beberapa mulut orang orang yang menginginkan dia menikah dengan wanita mus

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 93

    Daffi duduk di teras penginapan, menatap langit yang mulai tenang. Sunset mulai turun perlahan, seindah apapun senja, tetap tak mampu menenangkan pikirannya. Kenangan tentang Andini dan Sisi dan janji-janji lamanya seperti diputar kembali di kepalanya. Andini hadir sebagai pengingat yang kejam.B

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 92

    Daffi tak menjawab. Jemarinya yang tadi menggenggam tangan Ainah perlahan melemah, lalu terlepas. Pandangannya kosong, seperti melihat masa lalu yang kembali menghantamnya tanpa ampun.Ainah mematung, antara bingung dan gelisah. Siapa Andini sebenarnya? Dan kenapa wajah Daffi tampak seolah ingin ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status