INICIAR SESIÓN"Bu Bos yang terhormat, di sini terlalu lama bikin otak saya mendadak ngeblank. Biasa menata gelas dan piring, sekarang harus menata hati. Mana orang di sini aneh aneh, ya kan?” bisik Sisi.
Tiara terkekeh dan mengangguk. “Iya.” “ Kayak kamu kan?’ sambung Tiara kemudian. Sisi yang tadinya senang dengan jawaban singkat Tiara, malah jadi merengut karena ucapan terakhir Tiara yang menilainya. “Bersabarlah, Sisi. Saya pastikan kamu akan bahagia dengan pilihan dia. Saya juga tak tahu kenapa akhirnya jadi begini. Saya hutang banyak sama kami, jadi saya tak akan lepas tangan jika sampai Daffi menyakitimu,” ucap Kenzo pelan. “Bukan masalah menyakiti, aku udah biasa smackdown laki laki. MAsalahnya, di sini itu aku gak betah. Cewek ceweknya pada usil, juga … di sini orangnya kebanyakan aturan. Mending di kedai, bisa lirik sana sini. Ya, Pak? Bantuin saya.” “Nanti saya usahakan.” Sisi pun tak berharap banyak, setelah ini dia pastikan semua tak akan baik baik saja. Dia pun diajak Kenzi masuk dan kembali berbaur dengan keluarga Daffi dan pesantren. Mendengarkan arahan kegiatan pagi dan mendengar Kenzi yang akan pamit untuk kembali ke Jakarta. “Pak Kenzi yakin mau balik?” tanya Sisi. “Tanpa kami?” “Tanyakan atasamu, Sisi. Saya harus kembali karena kerjaan saya belum ada yang handle. Selain itu, waktu tunggu Andini masih ada beberapa hari. Saya harap kamu tidak lupa itu.” “Iya sih. Ya sudah lah, pasrah saja.” Sisi melihat drama perpisahan kepulangan Kenzi. Andini terlihat memeluk sang kakak sebelum pergi, sedangkan Daffi membantu Kenzi membawakan koper yang sempat dia bawa. “Titip adik dan temannya itu. Saya yakin, kamu bisa menjaga keduanya di sini,” ucap Kenzi yang Sisi masih dengar dari kejauhan. “Tentu, Bang. Hati hati di jalan,” balas Daffi dan Kenzi pun bersalaman dengan semua Ustad yang mengantarkannya. Sisi sendiri berdiri dan mengambil ponselnya lagi, mengirim pesan pada atasan menyebalkannya. “Kapten, ayolah! Kapan aku selesaikan misi ini? Di pesantren ini sangat tidak asik. Orangnya kolot kolot,” ucap Sisi yang terus meneror atasannya itu dengan chat yang hampir tiap jam dia kirim. “Kapan kita akan kembali ke karawang, Pak Dokter?” tanya Sisi saat dia kembali ke kamarnya. Daffi yang sedang menata baju bersihnya menengok. “Secepatnya. Setidaknya, dua atau tiga harian. Sore nanti ke makam Simbah Umi dulu, habis itu baru aku akan bahas kepulangan dengan Abi dan Abah. Kamu sudah tak kerasan?’’ “Kerasan?” Sisi tak paham bahasa jawa karena memang dia dibesarkan di kawasan ibukota. “Betah, kamu udah nggak betah?” terang Daffi karena melihat gelagat kebingungan Sisi. “Oh.” Pikiran Sisi sudah ke mana mana, dia pun memilih duduk di sisi ranjang. “Apa?” tanya Daffi menunggu jawaban Sisi. “Apanya apa?” Sisi malah bingung, otak cerdasnya mendadak tidak konek karena terlalu bebal dengan keadaan saat ini. “Oh, pertanyaan tadi.” Daffi mengangguk, lalu ikut duduk di sisi Sisi membuat gadis itu menjadi belings4tan. “Ya kan, kita ke sini tujuannya buat ketemu keluarga Andini. Setelah semuanya clear, bukankah lebih baik pulang? Dokter juga kan kerja,” jawab Sisi salah tingkah. “Gak papa, kerjaan sih nanti aku minta yang di sana bantuin sementara. Aku kira kamu tak betah.” “Aku sih, di mana aja betah. Asal ada bantal sama air putih aja.” Daffi mengangguk, mencoba mencari bahan obrolan. “Keluargaku memang begini, jadi maklumi saja kalau tidak bikin kamu betah. Aku saja yang cucunya jarang datang kalau Emak tidak meminta.” Sisi mengangguk. “Untuk pernikahan resmi kita, kita akan bahas nanti setelah sampai di Karawang. Takutnya, kamu berubah pikiran setelah ini.” “Ya, aku tahu.” Sepertinya, Daffi memang tidak berniat menikahinya. Hanya desakan dan kebetulan saja membuat dia akhirnya bisa menjadi istri Daffi. Dia pun tak bisa mendesak pulang dengan cepat karena mungkin membuat Dafi nantinya kepikiran. Dia membiarkan saja dan memilih protes dengan Hazel yang jarang merespon itu. ** Daffi mengajak serta Andini dan Ibunya. Ketiganya pergi ke makam istri dari Abah itu untuk ziarah. Setiap datang, Ibunya memang selalu meminta datang ke sana. Setelah mengirim doa, Daffi mengajak semuanya kembali ke pesantren. Namun, Andini sepertinya penasaran dengan kota Pahlawan yang sedang mereka datangi. “Aa, jalan jalan dulu yuk!” ajak Andini dengan bergelayut pada Daffi tangan Daffi. Sudah terbiasa begitu, membuat Daffi merasa tak risih. “Mau ke mana?” “Ke mana, Mak?” tanya Andini pada Edah. “Coba tanya Sisi, dia mungkin mau tahu daerah sini. Emak mau balik saja, mau bantu bantu ndalem. Kasihan Bibi Ratmi di pesantren sendiri.” “Yah, Emak gak asik.” Tiara merengut. Sisi hanya tersenyum dan ikut menanggapi dengan ekspresi biasa. “Nggak capek, Bos?” tanyanya. “Gak, pengen jalan jalan. Kamu nggak, Si?” “Kamu ikut saja, Si, temani mereka,” ucap Edah yang tentu menjaga perasaan Sisi. Meski Sisi mungkin diam saja ketika melihat Daffi dan Andini berdua, tapi tetap saja hubungan keduanya suami istri. Rasanya, dia bertanggung jawab atas hubungan Sisi dan Daffi. Sisi sebenarnya tidak terlalu ingin ikut. Melihat kedekatan Daffi dan Andini saja sudah cukup membuatnya merasa seperti orang asing di antara mereka. Tapi, menolak di depan Edah bukan pilihan yang bijak. “Baiklah, aku ikut.” Sisi akhirnya mengangguk. Andini bersorak kecil. “Yeay! Ayo, kita jalan-jalan!” Daffi hanya tersenyum tipis, lalu berjalan lebih dulu menuju mobil yang mereka gunakan. Sisi mengikuti dari belakang, sementara Andini berlari kecil untuk menggandeng tangan Daffi. Sisi berusaha mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk membalas pesan di ponselnya. Di dalam mobil, Andini duduk di depan bersama Daffi yang menyetir, sementara Sisi duduk di belakang, memperhatikan pemandangan kota yang perlahan mulai gelap. “Ke mana dulu?” tanya Daffi. Andini berpikir sejenak, lalu tersenyum. “Ke jembatan Suramadu, yuk! Aku ingin lihat laut di malam hari.” “Hmm, boleh juga,” sahut Daffi.Tery menggeleng, tapi ada tawa kecil di bibirnya. Untuk sekarang, cukup rasanya melihat Aisy pulang dengan selamat dan masih bisa bercanda. Mungkin besok, masalah baru akan datang. Tapi malam ini, mereka hanya dua sahabat yang saling menjaga di tengah dunia yang selalu tak terduga.“Katanya mau cerita?” tanya Tery setelah Aisy kenyang. “Gue curiga nih ada hal yang terjadi. Mana ada habis makan, kok sampai rumah lapar.”“Gue tadi nolongin anaknya Mbak Juwita, kakaknya bos ganteng gue. Gilang,” ucap Aisy santai.“Serius?”Aisy mengangguk. “Makanya, gak mungkin ada insiden bahaya gue diem aja. Gue juga cuma kejar tuh bule dan gue timpuk sama kamera gue. Gak ada salahnya?”“Tapi ada yang bilang lo berkelahi di sana kan?”“Gak, cuma sedikit peregangan otot saja. Gak sampai gimana gimana, ada polisi langsung datang. Cuma ya, kamera gue rusak, Te. Beliin lagi ya?” Aisy nyengir saja, menunjukan kameranya yang sudah rusak karena dia
“Kebiasaan ya pergi jauh gak ngomong ngomong!” sungut Tery begitu melihat Aisy sudah kembali dengan wajah tanpa dosanya.“Gue gak ke mana mana, cuma makan di resto sono bentaran. Lebai amat!”“Emang gue gak tahu lo habis berkelahi tadi? Gila emang lo, gak bisa gitu ditinggal bentar. Udah bikin jantung mau copot aja.”“Jantungnya masih kan?” kekeh Aisy dan dia masuk nyelonong saja, lalu duduk di sofa empuknya.“Dari mana lo, dari mana?”Sudah bak ibu yang sedang mamarahi anaknya, tapi yang dimarahi hanya cengengesan saja dan itu membuat Tery kesal lali mencubit lengannya.“Sakit, Bu…”“Bu lagi? Wah … cari perkara.”“Hehehe, habisnya lo berisik kaya Ibu IBu. Suara lo, melewati batas harian, jadi ya … memang lebih baik lo jadi IBu ibu aja sih.”Tery menarik napas dalam dalam. Tak habis pikir dengan temannya yang dikhawatirkan itu, malah pulang tanpa dosa dengan segudang sikap yang membuatnya jengkel.
Di kantor polisi, suasana sedikit lebih tenang meski Kasih masih gemetaran dan terus memeluk Juna. Sementara itu, Bima sudah tertidur di pangkuan Gilang setelah sempat menangis keras karena ketakutan. Gilang menatap Aisy dengan kagum, masih tidak menyangka wanita itu begitu cekatan menyelamatkan Bima.Penyidikan selesai dan penculik itu dianggap salah satu oknum yang suka mengambil anak anak yang hilang arah di pantai, lalu dijadikan sandera. Gilang dianggap lalai dalam menjaga karena Bima sudah merangkak jauh dari tempat Gilang duduk dan tidak dilihatnya.Polisi selesai mencatat laporan Gilang dan menahan penculik. Polisi memberi tahu bahwa mereka akan memproses pelaku sesuai hukum yang berlaku."Pak, sekali lagi terima kasih," ucap Gilang kepada polisi."Iya, ini memang sudah jadi tugas kami. Hati-hati ke depannya, Pak, Bu. Kalau di tempat wisata begini memang rawan penculikan anak, pencopetan, dan semacamnya," balas polisi dengan ramah.
**“Gea, bagaimana penelusuranmu tentang orang yang kemarin saya perintahkan kamu cari tahu informasinya?” tanya Edi.“Laporan Brian, menyangkut keluarga besar … dalam informasi itu kurang baik.”“Terlibat skandal?”“Bukan, tapi seperti masa kecil Tuan Ali Zafir yang diasuh oleh orang tidak beradab dan tidak memiliki hati nurani.”“Tapi tidak ada keterlibatan dengan para mafia atau penjahat kelas kakap?”“Tidak! Mereka hanya keluarga sederhana yang pemalas. Mereka mengandalkan Sity sebagai tulang punggung lalu menyiksanya dan menjadikan dia seorang janda. Dulu pernah diasuh oleh seorang wanita yang mengaku LC di sebuah rumah Belanda. Tapi, kemudian… diadopsi oleh seorang pengusaha yang tidak lama kemudian bangkrut.”Edi mengangguk. Itu artinya benar dan dia tidak salah lagi. Siti adalah anak asuh dari pengusaha yang dia sangat kenal dan saling berhubungan dengan keluarganya . Tidak menutup kemungkinan jika DNA Sity yang
“Jodoh memang gak jauh dari kata ‘KEBETULAN,” kekeh Aisy.“Lo gila, Sy! Sumpah, lo bener bener gila.”“Kok gila? Ini luar biasa. Kek nggak nyangka kan ketemu sama dia dan dia gak kenalian gue, tu pencapaian yang sangat luar biasa.” “Syaraf emang lo!”Aisy benar benar senang, bukan karena dia baru bertemu kekasih atau hati orang yang memikat hatinya. Namun, senang karena bertemu Gilang tapi lelaki itu tak mengenalinya. Itu adalah hal terhebat yang dia rasakan saat ini.“Kira kira, dia ke Bali ngapain ya? Apa jangan jangan dia udah punya gebetan baru? Atau tadi, anak janda pirang … eh, tapi bukan. Apa iya?” Aisy jadi bingung sendiri, dia lupa lupa ingat dengan Juna yang hanya beberapa kali ditemui, itupun tak paham jika Juna adalah anak Juwita.“Gak usah kayak orang gila deh, biasa aja. Lo seneng kan ketemu dia? Kan?”“Doorprize dan hiburan aja, Te. Lagian, gue bukan sedang ngerjain misi. Jadi, gue bebas cari tahu siapa
“Kikiw… “Aisy bertepuk tangan heboh pada bule bule asal Rusia yang menang dalam perlombaan voli di atas pasir pantai Bali. Kehebohan Aisy menjadi daya tarik permainan itu sendiri, bahkan Tery sampai menutup wajahnya dengan topi pantai besar yang dia kenakan saking malunya.“Sy, jangan begitu ih!”“So what? Ini menyenangkan, Bestie…”Aisy kembali meneriaki yang lain, sekelompok bule yang juga masuk dalam permainan pantai yang begitu menarik. Setelah itu, dia tawarkan jasa foto dan memberikan cubitan manja di pipi mereka. Tery sampai geli sendiri dengan Aisy, kenapa jadi centil seperti itu.“Balik yuk!Q” ajak Tery.“Ck, you kenape? Ini tuh ladang duit, jangan disia-siakan. Mumpung weekend, gak liat bule bule kasih gue uang banyak? Nih?” Aisy mengibaskan uangnya saking senangnya.“Lo gak lagi kekurangan uang, Sy. Ayolah, malu jadi bahan tontonan orang.”“Udah, gak usah bawel!! Lo, diem di situ dan jaga tempat in
Sisi diam saja, memilih mengamati bagaimana Andini tampak begitu nyaman bercakap-cakap dengan Daffi. Mereka seperti pasangan yang sempurna, sementara dirinya hanyalah bayangan di belakang. Andai saja mereka bukan saudara, pasti mereka sudah menjadi pasangan yang sempurna. Satu dewasa dan satunya la
Suara lemari dibuka membuat Sisi terbangun tanpa diminta. Dia menyipitkan mata, memastikan hal buruk kemarin adalah mimpi. Sialnya, dia melihat lelaki yang kemarin dinikahi ada di depannya.“Aku mau sholat subuh berjamaah di masjid. Kalau kamu mau sholat bisa ke sana bareng Andini.”“Aku sedang Men
Daffi menelan ludah lagi sebelum perlahan mengulurkan tangannya. Ia menarik resleting dengan hati-hati, hampir tidak menyentuh kulit Sisi. Namun, tetap saja ada kehangatan samar yang terasa di ujung jarinya. Kulit putih mulus bak su su itu membuatnya harus menahan napas cukup lama.Begitu resleting
Sisi mengusap wajahnya yang mulai dipenuhi keringat dingin. "Benarkah? Apa perlu aku pindah posisi? Aku sudah selesai bukan dalam misi ini?”“Kamu tengah dalam puncak misi, selesaikan sampai kamu benar benar yakin semua aman.”“Aku tahu, aku tahu... tapi sekarang semuanya sudah terjadi. Akhirya aku







