Share

Bab 2

Author: Lozato
Di bawahnya masih ada sebuah foto dari berita tersebut. Aku menebak Darren pasti tersenyum sangat bahagia dalam foto bersama itu.

Aku berjalan ke depan pintu ruangan di ujung koridor lantai dua. Itu adalah ruang koleksi Darren. Dia sering menghabiskan seharian penuh di sana. Karena aku tidak bisa melihat, dia tidak pernah berjaga-jaga terhadapku.

Aku mendorong pintu dan masuk. Lalu aku mengangkat ponsel, memotret seluruh ruangan dari awal hingga akhir.

Setelah itu, aku mengunggah foto-foto tersebut ke internet dan meminta para netizen menjelaskan isi yang ada di dalam foto.

Tak lama kemudian, komentar mulai bermunculan.

[ Bukannya ini lukisan-lukisan karya pelukis Chika? Sepertinya pemilik unggahan ini adalah penggemar berat Chika. ]

[ Menurutku selain beberapa karya Chika yang pernah memenangkan penghargaan, lukisan lainnya seperti bukan dibuat oleh orang yang sama. Sama sekali nggak layak dikoleksi. ]

[ Jumlahnya ternyata sebanyak ini. Aku tadi menghitungnya, ada tepat 120 lukisan. ]

Kemudian, aku mencari informasi tentang Chika di internet.

Dalam dua tahun terakhir, dia telah memenangkan banyak penghargaan seni, baik di dalam maupun luar negeri. Pada setiap hari penganugerahan itu, Darren selalu hadir secara langsung untuk memberikan ucapan selamat.

Demi meningkatkan popularitas Chika, Darren bahkan tidak ragu mengeluarkan dana besar untuk melelang karya-karyanya hingga mencapai harga fantastis.

Bahkan ketika perusahaan suami Chika mengalami krisis, Grup Sudarma-lah yang memberikan pendanaan dan membantu menyelesaikan masalah tersebut. Dia benar-benar sangat mencintai Chika.

Dia tidak tega melihat Chika menderita, bahkan rela membantu pria yang menjadi saingan cintanya sendiri. Cintanya kepada Chika sungguh murni dan mendalam. Aku begitu "terharu" hingga jantungku bergetar.

Keesokan paginya, aku pergi ke tiga rumah sakit berbeda untuk memeriksakan mataku.

Kesimpulan yang kudapat sama. Jika menjalani transplantasi kornea, peluangku untuk mendapatkan kembali penglihatan sangat besar. Padahal, Darren pernah membawaku ke ketiga rumah sakit itu untuk pemeriksaan.

Hanya saja saat itu, semua dokter mengatakan bahwa mataku tidak dapat disembuhkan.

Kini, aku benar-benar yakin bahwa Darren memang tidak ingin aku mendapatkan kembali penglihatanku.

Begitu keluar dari rumah sakit, aku tak kuasa lagi menahan diri dan berjongkok di tepi jalan sambil menangis. Rasa sedih, kebingungan, dan penderitaan menyerbu bersamaan.

Aku sudah muak dengan kebohongan yang berlangsung selama dua tahun ini. Setelah berhasil menenangkan diri, aku pergi ke sebuah kantor pengacara dan mengambil dua salinan surat perjanjian perceraian.

Kumasukkan dokumen itu ke dalam tas, lalu berdiri di pinggir jalan untuk mencari taksi.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depanku dan pengemudinya menurunkan kaca jendela. "Bella, kenapa kamu sendirian di sini? Kebetulan aku mau pergi ke kantor Darren. Naiklah, aku antar sekalian."

Itu suara Chika.

Sebelum sempat kutolak, dia sudah turun dari mobil dan mendorong lenganku, lalu menarikku masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan, dia terus menghinaku.

"Dulu Guru pernah bilang di depan seluruh kelas bahwa kamu pasti akan menjadi pelukis hebat. Sayangnya nasib memang suka mempermainkan manusia. Sekarang matamu sudah nggak bisa melihat, gimana kamu bisa melukis lagi?"

"Kalau dipikir-pikir, kamu seharusnya berterima kasih sama aku. Kalau aku nggak menolak Darren, mana mungkin kamu punya kesempatan menikah sama dia? Dengan kondisi buta seperti kamu, rasanya menghidupi diri sendiri saja sulit."

Tanganku yang berada di atas paha mengepal erat.

Chika telah merampas mataku dan menghancurkan hidupku, tetapi dia masih bisa mengucapkan kata-kata seperti itu tanpa sedikit pun rasa malu. Dia dan Darren memang pasangan yang sangat serasi.

Begitu turun dari mobil dan memasuki perusahaan, aku mendengar para karyawan sedang bergosip.

"Itu istri Pak Darren, ya? Kalau berdiri di samping Bu Chika, perbedaannya benar-benar menyedihkan. Yang satu berjalan dengan tongkat tunanetra, yang satu lagi wanita karier yang penuh percaya diri."

"Pantas saja setiap kali menghadiri acara malam, Pak Darren selalu mengajak Bu Chika. Siapa yang mau membawa seorang tunanetra ke mana-mana?"

"Tapi aku dengar Pak Darren dan istrinya tumbuh bersama sejak kecil. Mungkin dia nggak mengajak istrinya keluar demi melindunginya."

Saat masuk ke dalam lift, Chika tiba-tiba tertawa. "Bella, kamu benar-benar kasihan. Aku sampai merasa iba sama kamu. Tenang saja, aku akan melihat dunia ini dengan baik untukmu."

Amarah yang telah lama kupendam akhirnya meledak. Aku melempar tongkat tunanetra dan mengayunkan tangan ke arah wajahnya. Dia menghindar dengan mudah.

Namun tepat ketika pintu lift terbuka, dia mengeluarkan jeritan nyaring. "Bella, kenapa kamu mukul aku?"

Sesaat kemudian, seseorang berlari masuk dan menabrakku hingga terjatuh ke lantai. Orang itu membantu Chika berdiri.

Suara Darren dipenuhi kemarahan. "Bella, kenapa kamu tiba-tiba menyerang Chika?"

"Dia hanya kebetulan ketemu kamu di jalan dan berbaik hati membawamu ke perusahaan untuk menemuiku. Kenapa kamu bertindak seperti orang yang kehilangan akal?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta, Penebusan, Dan Kebohongan Menjadi Satu   Bab 9

    Selama berada di Negara Naldan, aku menghasilkan cukup banyak karya lukis. Sebagian di antaranya telah dikirim untuk mengikuti berbagai kompetisi.Hari aku pulang ke tanah air juga bertepatan dengan hari penerimaan penghargaanku. Aku berdiri di atas panggung penghargaan dan menceritakan kisah di balik karyaku kepada semua orang."Aku pernah kehilangan penglihatanku. Masa-masa itu adalah bagian hidup yang sangat rumit untuk dikenang. Aku pernah dikhianati dan ditipu oleh orang yang dulu kucintai, hidup di dalam kebohongan yang dibungkus atas nama penebusan, juga belajar menyemangati diriku sendiri di tengah kegelapan.""Semua pengalaman itu akhirnya melahirkan karya ini. Ini adalah masa laluku, sekaligus awal kehidupanku yang baru."Begitu kata-kataku selesai, tepuk tangan bergemuruh di seluruh ruangan. Di tengah riuh tepuk tangan itu, aku melihat seorang pria berdiri di sudut sambil diam-diam menangis. Itu Darren.Pada akhirnya, karya itu dibeli oleh Grup Sudarma dengan harga tertinggi

  • Cinta, Penebusan, Dan Kebohongan Menjadi Satu   Bab 8

    Pada saat yang sama, Darren menemui Chika."Chika, perasaanku ke kamu sudah lama menjadi masa lalu. Aku cuma menganggap kamu sebagai teman. Cepat buat klarifikasi di internet. Sekarang semua orang sedang menghina Bella."Ekspresi Chika langsung berubah sangat masam dan suaranya mengandung sedikit amarah. "Sekarang para netizen sedang emosional. Kalau aku yang bikin klarifikasi, aku yang bakal kena hujat. Kamu tega lihat aku dihina?""Apa maksudmu perasaanmu ke sudah jadi masa lalu? Selama dua tahun terakhir, waktu yang kamu habiskan bersamaku jauh lebih banyak daripada dengan Bella. Terus, gimana bisa kamu jatuh cinta padanya?""Jangan lupa, dulu kamu sampai bikin dia buta demi aku. Kalau dia tahu kebenarannya, mana mungkin dia bakal maafin kamu?""Darren, pernikahanmu dengan Bella sejak awal cuma sandiwara. Kenapa sekarang kamu malah terbawa peran itu?"Darren menatap Chika yang berdiri di hadapannya. Untuk pertama kalinya, dia merasa wanita itu begitu asing. Dia bahkan tidak bisa men

  • Cinta, Penebusan, Dan Kebohongan Menjadi Satu   Bab 7

    Aku tidak sengaja memperhatikan kabar mereka. Beberapa hari terakhir, notifikasi berita yang muncul semuanya dipenuhi nama Darren dan Chika.Karena Chika sudah bercerai, berita-berita lama tentang Darren yang menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk membeli lukisan Chika selama bertahun-tahun kembali diungkit.Para netizen menyebut ini sebagai kisah cinta antara presdir tampan dan seniman berbakat. Bahkan ada yang berspekulasi bahwa perceraian Chika terjadi karena sang presdir akhirnya berhasil mendapatkan wanita yang dicintainya.Tak lama kemudian, ada pula yang membongkar fakta bahwa Darren sebenarnya sudah menikah sejak lama. Bahkan fotoku pun disebarkan di internet.Saat itu aku baru saja kehilangan penglihatanku, jadi penampilanku terlihat sangat lesu dan memprihatinkan. Para netizen beramai-ramai berkomentar bahwa aku memiliki kekurangan fisik dan tidak pantas untuk Darren.Mereka mengatakan bahwa Darren dan Chika barulah pasangan yang benar-benar serasi. Tanpa perlu menebak pu

  • Cinta, Penebusan, Dan Kebohongan Menjadi Satu   Bab 6

    Sementara itu, aku sedang berbaring di ruang rawat dengan perban menutupi kedua mataku. Dokter mengatakan bahwa operasiku berjalan sangat sukses.Selama masa pemulihan nanti, asalkan aku menjaga kondisi dengan baik, penglihatanku akan kembali normal seperti orang pada umumnya.Setelah terbangun, barulah aku merasakan ketidaknyamanan di mataku. Perih, silau terhadap cahaya, dan sama sekali tidak bisa kubuka.Seluruh tubuhku terasa sangat tidak nyaman. Namun, aku tidak merasa sedih. Dibandingkan dengan dua tahun hidup dalam kegelapan, penderitaan sekecil ini bukanlah apa-apa.Seminggu kemudian, penglihatanku telah pulih sepenuhnya. Aku menyewa sebuah kamar di Negara Naldan dan memutuskan untuk memulai hidup yang baru di sana.Aku kembali memegang kuas. Kembali melukis.Meski dua tahun tidak menyentuh kanvas membuat tanganku sedikit kaku, kecintaanku terhadap seni lukis sama sekali tidak berkurang.Pada siang hari, aku mengajar anak-anak melukis di sebuah studio. Pada malam hari, aku melu

  • Cinta, Penebusan, Dan Kebohongan Menjadi Satu   Bab 5

    Setelah menutup telepon, Darren terpaku di tempatnya, matanya membelalak penuh ketakutan. Dia memang selalu memiliki kebiasaan menyimpan rekaman percakapannya dengan Chika. Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari rekaman itu akan ditemukan olehku.Chika tidak menyadari keanehan Darren. Dia menarik lengannya sambil bermanja, "Darren, jangan kerja terus. Kemari dulu dan bantu aku lihat gaun ini."Sambil berbicara, dia mengulurkan tangan hendak mengambil ponsel Darren. Namun, Darren langsung menghindar dan menyingkirkan tangan yang melingkar di lengannya."Pilih saja bajumu dulu. Aku akan suruh seseorang untuk temani kamu di sini. Aku ada urusan dan harus pulang sekarang."Tanpa memberi kesempatan kepada Chika untuk bereaksi, dia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu.Begitu masuk ke dalam mobil, dia langsung menelepon Bella. Namun, yang terdengar hanyalah pemberitahuan bahwa ponsel tersebut tidak aktif. Dia lalu terus-menerus mengirim pesan.[ Bella, kamu pergi k

  • Cinta, Penebusan, Dan Kebohongan Menjadi Satu   Bab 4

    Darren tampak kebingungan."Liburan apa? Kenapa aku nggak tahu?"Kepala pelayan terlihat terkejut."Setelah pulang dari rumah sakit tadi pagi, Nyonya langsung mulai membereskan barang-barangnya. Sebelum pergi, Nyonya bilang akan berlibur sama Tuan.""Sekarang Nyonya nggak sama Tuan?"Darren sedikit membuka mulutnya dan terdiam cukup lama.Sesaat kemudian, kebingungan di matanya tiba-tiba digantikan oleh kegembiraan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. "Aku mengerti. Bella tahu aku sedang di luar negeri, jadi dia sengaja menyiapkan kejutan untukku.""Kalian jangan sampai membocorkannya. Aku akan berpura-pura nggak tahu soal ini."Setelah menutup telepon, senyum di wajah Darren semakin lebar.Chika yang baru saja masuk kebetulan melihat senyum itu. Dia mengira Darren senang karena melihat dirinya. Dia segera menghampiri dan merangkul lengan Darren, lalu berkata manja, "Darren, terima kasih sudah datang semalaman demi membelaku. Untung ada kamu di sisiku. Kalau nggak, aku benar-b

  • Cinta, Penebusan, Dan Kebohongan Menjadi Satu   Bab 3

    Aku terduduk di lantai. Rasa nyeri yang menusuk dari perut membuatku hampir tidak bisa bernapas. Baru kemarin aku menjalani operasi aborsi. Tubuhku sama sekali tidak sanggup menahan benturan keras dari dorongan Darren tadi.Aku memungut tongkat tunanetra yang terjatuh dan memaksakan diri untuk berdi

  • Cinta, Penebusan, Dan Kebohongan Menjadi Satu   Bab 1

    Dokter melihat kedua mataku yang telah buta dan aku datang sendirian untuk melakukan aborsi. Nada bicaranya penuh rasa iba. "Aborsi bukan operasi kecil. Di mana keluargamu? Apa nggak perlu menelepon mereka agar datang menemanimu?"Aku menggeleng. "Aku nggak punya keluarga."Sepuluh tahun lalu, kedua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status