LOGINSelama berada di Negara Naldan, aku menghasilkan cukup banyak karya lukis. Sebagian di antaranya telah dikirim untuk mengikuti berbagai kompetisi.Hari aku pulang ke tanah air juga bertepatan dengan hari penerimaan penghargaanku. Aku berdiri di atas panggung penghargaan dan menceritakan kisah di balik karyaku kepada semua orang."Aku pernah kehilangan penglihatanku. Masa-masa itu adalah bagian hidup yang sangat rumit untuk dikenang. Aku pernah dikhianati dan ditipu oleh orang yang dulu kucintai, hidup di dalam kebohongan yang dibungkus atas nama penebusan, juga belajar menyemangati diriku sendiri di tengah kegelapan.""Semua pengalaman itu akhirnya melahirkan karya ini. Ini adalah masa laluku, sekaligus awal kehidupanku yang baru."Begitu kata-kataku selesai, tepuk tangan bergemuruh di seluruh ruangan. Di tengah riuh tepuk tangan itu, aku melihat seorang pria berdiri di sudut sambil diam-diam menangis. Itu Darren.Pada akhirnya, karya itu dibeli oleh Grup Sudarma dengan harga tertinggi
Pada saat yang sama, Darren menemui Chika."Chika, perasaanku ke kamu sudah lama menjadi masa lalu. Aku cuma menganggap kamu sebagai teman. Cepat buat klarifikasi di internet. Sekarang semua orang sedang menghina Bella."Ekspresi Chika langsung berubah sangat masam dan suaranya mengandung sedikit amarah. "Sekarang para netizen sedang emosional. Kalau aku yang bikin klarifikasi, aku yang bakal kena hujat. Kamu tega lihat aku dihina?""Apa maksudmu perasaanmu ke sudah jadi masa lalu? Selama dua tahun terakhir, waktu yang kamu habiskan bersamaku jauh lebih banyak daripada dengan Bella. Terus, gimana bisa kamu jatuh cinta padanya?""Jangan lupa, dulu kamu sampai bikin dia buta demi aku. Kalau dia tahu kebenarannya, mana mungkin dia bakal maafin kamu?""Darren, pernikahanmu dengan Bella sejak awal cuma sandiwara. Kenapa sekarang kamu malah terbawa peran itu?"Darren menatap Chika yang berdiri di hadapannya. Untuk pertama kalinya, dia merasa wanita itu begitu asing. Dia bahkan tidak bisa men
Aku tidak sengaja memperhatikan kabar mereka. Beberapa hari terakhir, notifikasi berita yang muncul semuanya dipenuhi nama Darren dan Chika.Karena Chika sudah bercerai, berita-berita lama tentang Darren yang menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk membeli lukisan Chika selama bertahun-tahun kembali diungkit.Para netizen menyebut ini sebagai kisah cinta antara presdir tampan dan seniman berbakat. Bahkan ada yang berspekulasi bahwa perceraian Chika terjadi karena sang presdir akhirnya berhasil mendapatkan wanita yang dicintainya.Tak lama kemudian, ada pula yang membongkar fakta bahwa Darren sebenarnya sudah menikah sejak lama. Bahkan fotoku pun disebarkan di internet.Saat itu aku baru saja kehilangan penglihatanku, jadi penampilanku terlihat sangat lesu dan memprihatinkan. Para netizen beramai-ramai berkomentar bahwa aku memiliki kekurangan fisik dan tidak pantas untuk Darren.Mereka mengatakan bahwa Darren dan Chika barulah pasangan yang benar-benar serasi. Tanpa perlu menebak pu
Sementara itu, aku sedang berbaring di ruang rawat dengan perban menutupi kedua mataku. Dokter mengatakan bahwa operasiku berjalan sangat sukses.Selama masa pemulihan nanti, asalkan aku menjaga kondisi dengan baik, penglihatanku akan kembali normal seperti orang pada umumnya.Setelah terbangun, barulah aku merasakan ketidaknyamanan di mataku. Perih, silau terhadap cahaya, dan sama sekali tidak bisa kubuka.Seluruh tubuhku terasa sangat tidak nyaman. Namun, aku tidak merasa sedih. Dibandingkan dengan dua tahun hidup dalam kegelapan, penderitaan sekecil ini bukanlah apa-apa.Seminggu kemudian, penglihatanku telah pulih sepenuhnya. Aku menyewa sebuah kamar di Negara Naldan dan memutuskan untuk memulai hidup yang baru di sana.Aku kembali memegang kuas. Kembali melukis.Meski dua tahun tidak menyentuh kanvas membuat tanganku sedikit kaku, kecintaanku terhadap seni lukis sama sekali tidak berkurang.Pada siang hari, aku mengajar anak-anak melukis di sebuah studio. Pada malam hari, aku melu
Setelah menutup telepon, Darren terpaku di tempatnya, matanya membelalak penuh ketakutan. Dia memang selalu memiliki kebiasaan menyimpan rekaman percakapannya dengan Chika. Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari rekaman itu akan ditemukan olehku.Chika tidak menyadari keanehan Darren. Dia menarik lengannya sambil bermanja, "Darren, jangan kerja terus. Kemari dulu dan bantu aku lihat gaun ini."Sambil berbicara, dia mengulurkan tangan hendak mengambil ponsel Darren. Namun, Darren langsung menghindar dan menyingkirkan tangan yang melingkar di lengannya."Pilih saja bajumu dulu. Aku akan suruh seseorang untuk temani kamu di sini. Aku ada urusan dan harus pulang sekarang."Tanpa memberi kesempatan kepada Chika untuk bereaksi, dia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu.Begitu masuk ke dalam mobil, dia langsung menelepon Bella. Namun, yang terdengar hanyalah pemberitahuan bahwa ponsel tersebut tidak aktif. Dia lalu terus-menerus mengirim pesan.[ Bella, kamu pergi k
Darren tampak kebingungan."Liburan apa? Kenapa aku nggak tahu?"Kepala pelayan terlihat terkejut."Setelah pulang dari rumah sakit tadi pagi, Nyonya langsung mulai membereskan barang-barangnya. Sebelum pergi, Nyonya bilang akan berlibur sama Tuan.""Sekarang Nyonya nggak sama Tuan?"Darren sedikit membuka mulutnya dan terdiam cukup lama.Sesaat kemudian, kebingungan di matanya tiba-tiba digantikan oleh kegembiraan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. "Aku mengerti. Bella tahu aku sedang di luar negeri, jadi dia sengaja menyiapkan kejutan untukku.""Kalian jangan sampai membocorkannya. Aku akan berpura-pura nggak tahu soal ini."Setelah menutup telepon, senyum di wajah Darren semakin lebar.Chika yang baru saja masuk kebetulan melihat senyum itu. Dia mengira Darren senang karena melihat dirinya. Dia segera menghampiri dan merangkul lengan Darren, lalu berkata manja, "Darren, terima kasih sudah datang semalaman demi membelaku. Untung ada kamu di sisiku. Kalau nggak, aku benar-b
Aku terduduk di lantai. Rasa nyeri yang menusuk dari perut membuatku hampir tidak bisa bernapas. Baru kemarin aku menjalani operasi aborsi. Tubuhku sama sekali tidak sanggup menahan benturan keras dari dorongan Darren tadi.Aku memungut tongkat tunanetra yang terjatuh dan memaksakan diri untuk berdi
Dokter melihat kedua mataku yang telah buta dan aku datang sendirian untuk melakukan aborsi. Nada bicaranya penuh rasa iba. "Aborsi bukan operasi kecil. Di mana keluargamu? Apa nggak perlu menelepon mereka agar datang menemanimu?"Aku menggeleng. "Aku nggak punya keluarga."Sepuluh tahun lalu, kedua







