Share

Bab 3

Author: Nesya
Keisha setengah menolak setengah menggoda. "Jangan ... istrimu masih di sebelah."

"Dia? Istri?" Jenson mengangkat tubuhnya dengan satu tangan di pinggang, lalu menekannya ke dinding dengan nada nakal. "Kamu segitu inginnya jaga jarak dariku?"

"Aku cuma takut Bu Naretta akan membuat masalah dan menyulitkanmu. Sebenarnya, hatiku lebih sakit dari siapa pun ...." Suara Keisha tercekat, "Aku cuma nggak ingin kehilanganmu."

Jakun Jenson bergerak pelan, lalu dia tiba-tiba mencium bibir Keisha, membuat Keisha mengeluarkan desahan manja. Dia tertawa pelan dan napasnya mulai berat. "Mau di sini?"

Suara Keisha terdengar lembut dan menggoda. "Nggak bisa, aku masih hamil ...."

"Kalau sedang hamil juga bisa." Suara Jenson dipenuhi hasrat. "Aku bakal pelan-pelan. Kamu nggak boleh terus mengabaikanku."

Dipisahkan hanya oleh satu dinding, suara permohonan Keisha semakin lembut dan manja. Namun, Jenson sama sekali tidak berniat berhenti. Dinding itu bergetar berkali-kali karena benturan.

Naretta perlahan meluncur duduk ke lantai, bahkan bernapas pun terasa menyakitkan. Dia ingat, Jenson selalu menahan diri dan bersikap lembut di ranjang. Bahkan jika dirinya sedikit mengernyit, Jenson akan segera berhenti dan menyesuaikan posisinya berulang kali dengan sabar.

Namun sekarang, dia mengucapkan kata-kata paling liar dan mencintai wanita lain dengan begitu tak terkendali. Naretta tidak sanggup mendengarkan lagi. Dengan langkah sempoyongan, dia bangkit dan berlari keluar seperti melarikan diri.

Vila yang luas itu sangat mewah. Perabotan yang indah di setiap sudut menunjukkan betapa Jenson memanjakan Keisha.

Tak lama kemudian Naretta tersesat. Namun semakin berjalan, dia semakin merasa benda-benda mahal itu tampak sangat familier.

Karpet bulu rubah perak yang menutupi seluruh lantai karena takut Keisha kedinginan, Jenson pernah memberinya sarung tangan dari bahan yang sama sebagai hadiah ulang tahun pernikahan.

Ruang koleksi Keisha dipenuhi berbagai perhiasan mahal, sedangkan dirinya bahkan harus menyinggungnya lebih dulu sebelum Jenson memberinya cincin pernikahan sebagai kompensasi.

Di lorong, tergantung lukisan potret Keisha yang dilukis sendiri oleh Jenson, sementara foto pernikahan mereka diperoleh setelah dia memohon berkali-kali.

Jantung Naretta berdetak kacau dan cepat. Setiap detakan membuat matanya terasa panas. Ternyata, semua yang dia anggap sebagai harta berharga hanyalah sisa yang tidak diinginkan Keisha.

Dengan langkah kosong, dia terus berjalan ke depan hingga akhirnya mendengar suara berdesir dari ujung lorong. Saat dia hendak melihat lebih dekat, sebuah tubuh kecil menabrak ke dalam pelukannya.

Dalam cahaya bulan yang samar, dia melihat wajah anak itu dengan jelas dan air matanya langsung jatuh tanpa tertahan.

Hana.

Putri kandungnya.

Hana menatapnya dengan waspada, menyembunyikan roti berjamur di belakang punggungnya.

Naretta ingin mengulurkan tangan untuk memeluknya, tetapi Hana langsung berlutut di lantai dan bersujud memohon. "Aku salah, aku nggak seharusnya diam-diam makan makanan anjing Shiro!"

"Aku nggak akan kasih tahu Om, tolong jangan kurung aku lagi!"

Dia mengenakan baju tidur yang kebesaran. Dari kerah yang longgar, terlihat bekas cubitan memar berwarna biru keunguan di tubuhnya.

Naretta menggandengnya masuk ke dalam kamar, lalu menyadari bahwa anjing peliharaan Keisha tidur di ranjang besar yang empuk, sementara Hana hanya bisa meringkuk di atas kardus di sudut ruangan.

Ujung jari Naretta bergetar saat menyentuh dahinya yang bengkak dan kemerahan. Hatinya dipenuhi rasa perih. Dia merogoh saku dan mengeluarkan beberapa permen terakhir yang tersisa, lalu memberikannya kepada Hana. Mata anak itu langsung berbinar.

"Terima kasih, Kak! Anak-anak lain punya ibu yang beliin mereka permen, ini pertama kalinya aku mendapatkannya!"

Mata Naretta dipenuhi rasa sakit. "Kalau begitu mulai sekarang ... biar aku yang menjagamu, ya?"

Mungkin karena ikatan darah yang alami, bibir Hana bergetar, lalu dia tiba-tiba memeluk Naretta dan menangis keras. "Hana juga ingin punya Mama, Hana nggak mau dipukul dan dimarahi lagi."

Jantung Naretta terasa seperti diremas. Pandangannya kabur karena air mata.

'Jenson ... bahkan anak kandungmu sendiri pun tega kamu biarkan disiksa oleh Keisha?'

Naretta menggendong Hana kembali ke kamar tamu dan menepuk punggungnya perlahan hingga tertidur. Melihat wajah putrinya yang tenang saat tidur, tekadnya untuk pergi belum pernah sekuat ini.

Saat dia sedang memikirkan bagaimana membawa Hana pergi bersamanya, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Jenson masuk sambil membawa secangkir cokelat panas. Dia membungkuk dan meletakkannya di samping Naretta.

"Naretta, aku khawatir kamu sulit tidur, jadi aku sengaja buatin ini ...."

Kalimatnya terhenti saat melihat Hana bersandar di pelukan Naretta. Hampir saja cangkir di tangannya terjatuh.

"Kamu ...." Suaranya menegang, "Kenapa kamu sama Hana?"

Naretta tahu, Jenson takut dia mengetahui kebenaran. Namun, dia lupa bahwa Naretta alergi cokelat, tetapi tetap ingin menutupinya dari kenyataan.

"Hana pingsan karena lapar. Nggak ada yang mengurusnya." Naretta mengaduk pelan buih di permukaan cangkir itu, lalu menundukkan pandangan. "Dia anak siapa?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 17

    Memandang mobil polisi yang menjauh, Naretta tiba-tiba merasa seluruh tenaganya terkuras. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh, untung Baskara sigap menahannya."Terima kasih." Dia tersenyum penuh rasa syukur, tetapi kesedihan di matanya hampir menenggelamkannya.Sorot mata Baskara dipenuhi rasa pedih saat berkata, "Kita juga pulang saja."Saat Naretta mengangguk, tiba-tiba Jenson berlutut di hadapannya. Ketika tatapan mereka bertemu, matanya seketika memerah."Naretta, maafkan aku ...."Naretta memejamkan mata dengan lelah. Saat membukanya kembali, tatapannya hanya tersisa ketenangan. "Aku nggak akan menerima permintaan maafmu dan tolong jangan muncul lagi di hadapanku.""Hubungan kita satu-satunya adalah sebagai musuh."Setiap kata seolah menguras seluruh kekuatan Jenson. Isakan di tenggorokannya tak lagi bisa dia tahan. "Naretta, selama ini aku nggak pernah berhenti mencarimu. Aku sangat merindukanmu.""Aku juga sangat menyesal nggak lebih cepat melihat kebusukan Keisha, sampai kamu

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 16

    "Naretta ...." Jenson berbisik pelan menyebut namanya. Sudut matanya memerah.Dia tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Dengan langkah lebar, dia berjalan ke arah Naretta. Kerinduan di matanya begitu kuat hingga hampir tak terkendali. Jenson menahannya sekuat tenaga agar tidak kehilangan kendali di depan umum."Naretta, aku tahu kamu baik-baik saja. Aku sudah mencarimu dengan susah payah."Pada saat itu, Jenson tidak peduli lagi pada segala gosip dan tuduhan. Dia hanya ingin memeluk Naretta dengan erat. Namun, Naretta hanya meliriknya dengan tatapan dingin, lalu menghindar ke samping. Dia melangkah ke depan kerumunan dan menekan tombol putar dengan senyum sinis.Layar besar langsung menyala, menampilkan rekaman Keisha yang menyiksa Hana."Bocah sialan, sama menjijikkannya seperti ibumu yang murahan. Percaya nggak, aku bisa mencungkil bola matamu!""Sekarang aku hamil. Kalau nggak menyingkirkan anak haram sepertimu, bagaimana kalau kamu berebut warisan sama anakku?"Keisha memaksa Ha

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 15

    Jenson hampir mengerahkan seluruh sumber daya dan koneksinya, tetapi tetap tidak bisa menemukan jejak Naretta. Dia terus menjelajahi tujuh benua dan empat samudra. Setiap kali merasa lelah, hanya dengan kembali ke rumah yang pernah dia tinggali bersama Naretta dan menghirup sisa aroma tubuhnya di seprai, dia baru bisa tertidur dengan susah payah.Sejak memutus kerja sama dengan keluarga Keisha, internal Keluarga Hanifa dilanda kekacauan. Hati semua orang pun diliputi kecemasan. Dulu dia sangat memanjakan Keisha, sehingga membuat kepentingan kedua keluarga terikat sangat dalam.Kini, keluarga Keisha bangkrut dalam semalam. Dampaknya juga pasti menyeret bisnis inti Keluarga Hanifa. Sebagian besar klien jangka panjang hilang, harga saham pun hampir menembus batas aman.Di depan meja kerja, Jenson sedang menangani setumpuk dokumen. Samar-samar terlihat lingkaran hitam di bawah matanya.Sesekali, dia melirik foto di sudut meja. Foto dirinya dan Naretta saat pertama kali bertemu di Kenya. It

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 14

    Jenson menendang pintu hingga terbuka. Wajahnya tampak begitu suram hingga terasa menakutkan.Ponsel Keisha terjatuh ke lantai. Matanya pun membelalak. "Jenson? Bukannya kamu ada kerjaan ....""Selama ini kamu terus membohongiku." Tangan dengan ruas-ruas jari tegas itu perlahan merayap ke lehernya. Ujung jari Jenson semakin mengencang, seolah hendak mematahkan lehernya.Keisha mundur dengan ketakutan hingga punggungnya menempel ke dinding yang dingin. Tubuhnya gemetar. "Kamu, kamu bicara apa? Aku nggak mengerti ....""Anak itu bukan milikku. Nenek menjadi koma karena kamu. Hana nggak pernah kamu perlakukan dengan tulus." Suara Jenson serak dan mengerikan. "Bahkan Naretta pun nggak luput dari perbuatan kejimu."Bibir Keisha bergetar, tubuhnya gemetar hebat. "Jenson, dengarkan penjelasanku ...."Mata Jenson memerah. Cengkeramannya begitu kuat hingga hampir meremukkan tulangnya. "Bicara!""Aku ... aku hanya khilaf sesaat ...." Wajahnya pucat pasi dan air matanya menggenang. "Semua ini kar

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 13

    Asisten itu menjawab dengan gemetar, "Setelah Bapak mengusir Bu Naretta, dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Saya sebenarnya ingin memberi tahu Bapak, tetapi Bu Keisha berpesan agar tidak menyebut kabarnya, supaya nggak membuat Bapak kesal.""Lalu bagaimana dengan Hana?" Jenson menggenggam ponselnya dengan erat dan wajahnya makin suram."Saya ... saya tidak tahu ...," jawab asisten itu terbata-bata.Sorot mata Jenson mengeras. Dengan suara rendah yang menahan amarah, dia berkata, "Terus kenapa nggak cepat diselidiki?"Setelah menutup telepon, Jenson menendang kursi dengan keras, seolah melampiaskan amarahnya. Dia tidak menyangka campur tangan Keisha sudah sejauh itu, sampai bisa melewatinya dan langsung memberi keputusan pada anak buahnya.Tenaganya terlalu besar hingga kotak brokat di atas meja terjatuh. Jimat keselamatan yang diikat dengan simpul sepasang hati pun terlempar.Jenson tertegun. Dia membungkuk mengambilnya dan mengenali bahwa jimat itu adalah hadiah ulang tahun pernika

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 12

    Melihat panggilan dari rumah lama Keluarga Hanifa, sebersit kekecewaan melintas di mata Jenson. Dia menggeser layar untuk menjawab, lalu suara kepala pelayan terdengar penuh emosi. "Tuan Muda, Nyonya Rania sudah sadar!"Seketika itu juga, Jenson terbang kembali ke tanah air.Di dalam jet pribadinya, ingatannya kembali ke enam tahun lalu saat neneknya menjadi vegetatif. Kalangan elite Kota Jiran hampir sepakat bahwa Jenson dan Keisha akan menikah.Saat Rania mengajak Keisha ke vila pemandian air panas, semua orang mengira itu adalah bentuk pengakuan terhadap calon cucu menantunya.Namun, nasib berkata lain. Saat melewati jalan pegunungan dalam hujan deras, mobil mereka mengalami kecelakaan.Demi melindungi Rania, Keisha patah tiga tulang rusuk dan mengalami kerusakan serius pada organ reproduksinya.Sementara itu, Rania selamat. Akan tetapi, pendarahan di otak menekan sarafnya dan membuatnya sepenuhnya kehilangan kemampuan merawat diri. Tubuhnya dipenuhi selang dan sepertinya kemungkina

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status