แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Nesya
Mendengar ucapannya, Jenson tanpa sadar menghela napas lega.

Dia merangkul bahu Naretta dan menjelaskan dengan suara rendah, "Keisha berhati baik. Sejak kecil dia mengadopsi Hana, tapi setelah hamil dia jadi kewalahan, jadi wajar kalau perhatiannya sedikit berkurang."

Saat itu, Hana seperti sedang bermimpi buruk dan terus bergumam pelan memanggil, "Mama."

Telapak tangan Jenson yang hangat, menepuk pelan punggungnya dan tatapannya penuh kelembutan.

Cahaya bulan menyinari mereka bertiga. Ini adalah pemandangan yang muncul dalam mimpi Naretta berulang kalinya.

"Kalau anak kita masih hidup, usianya juga seharusnya sudah sebesar ini, ya," ucapnya pelan.

Tangan Jenson membeku di udara. Kilasan rasa bersalah melintas di matanya.

"Akan ada yang merawatnya dengan baik." Dia kemudian menggenggam tangan Naretta dan menenangkannya dengan lembut, "Tanggung jawabku adalah menjagamu."

Naretta menatap mata hitam Jenson. Begitu dalam, begitu penuh kasih, begitu meyakinkan. Namun, kehampaan di dalam hatinya malah semakin meluas.

"Lalu bagaimana dengan Keisha?" Dia membuka satu per satu jari Jenson yang menggenggam tangannya. "Kamu juga harus menjaganya?"

Jenson terdiam beberapa detik. Seolah yakin bahwa Naretta sedang cemburu, dia tersenyum penuh kasih. "Aku dan Keisha cuma teman. Dia ibu hamil tunggal. Lagi pula, dulu dia menyelamatkan Nenek. Sekarang dia hanya ingin tempat bernaung di negeri orang, aku nggak mungkin nggak membantunya."

'Membantu sampai ke ranjang?'

Naretta menggigit bibirnya erat, menahan keinginan untuk bertanya dengan suara keras.

Berhubung dirinya akan pergi, untuk apa menambah masalah lagi?

Jenson melihat wajahnya yang lelah. Bibirnya menyentuh lembut alis dan kelopak mata Naretta, lalu dia meredupkan lampu tidur hingga hampir gelap.

"Tidurlah, aku akan menemanimu."

Naretta memeluk Hana dan memejamkan mata, berpura-pura tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras di telinganya, membuat seluruh tubuhnya gemetar.

Kilat menyambar dan menerangi wajah Jenson yang pucat. Pada saat yang sama, teriakan dari kamar sebelah terdengar, memecahkan ketenangannya.

Mendengar napas Naretta yang sudah kembali teratur, Jenson perlahan bangkit. Dia menyelipkan selimut untuk Naretta dan Hana, lalu pergi dengan tergesa-gesa. Saat pintu tertutup pelan, air mata Naretta pun mengalir hingga ke bibirnya.

Namun keesokan paginya, baru saja dia membuka mata, Jenson sudah mencengkeram lengannya dan menariknya turun dari tempat tidur dengan kasar. Hana yang ada dalam pelukannya ikut terlempar. Dahinya membentur keras sudut meja samping tempat tidur.

Dengan tatapan dingin, Jenson mencekik leher Naretta dan membentaknya, "Sudah kubilang aku dan Keisha nggak ada apa-apa. Kenapa kamu membunuh anjingnya untuk melampiaskan amarah? Kamu sengaja memaksaku turun tangan?"

Cengkeramannya semakin kuat. Rasa sesak langsung menyelimuti seluruh tubuh Naretta. Wajahnya yang pucat membiru, tetapi tak sedikit pun simpati terlihat di mata Jenson. Hana menutupi dahinya yang berdarah, lalu merangkak memeluk kaki Jenson.

"Om! Kakak nggak bunuh anjing Tante. Aku yang serakah, aku yang mencuri makan makanan anjing. Semua salahku!" Dia mengeluarkan segenggam makanan anjing dari sakunya dan dengan hati-hati ingin menunjukkannya kepada Jenson.

Namun, Keisha yang berdiri di belakangnya hanya terisak pelan dan dalam sekejap seluruh perhatian Jenson beralih padanya.

"Bu Naretta, aku tahu kamu membenciku dan mencurigai hubunganku dengan Jenson. Tapi Shiro adalah peninggalan ibuku, teman sejak kecilku. Kalau kamu membunuhnya, bagaimana aku bisa hidup?" Dia terhuyung mundur satu langkah dan tepat jatuh ke dalam pelukan Jenson, lalu menangis dengan wajah penuh kepiluan.

"Dokter bilang kandunganku nggak stabil. Kalau aku terlalu sedih, aku bisa keguguran. Kamu juga pernah menjadi ibu, kenapa kamu sekejam itu ingin membunuh anakku ...."

Melihat bahunya yang gemetar, mata Jenson dipenuhi rasa kasihan. Dia memeluknya lebih erat. "Tenang, aku akan menegakkan keadilan untukmu."

Lalu, tatapannya yang tajam dan kejam beralih ke Naretta dengan penuh kekecewaan.

"Naretta, kalau melakukan kesalahan, harus menerima hukuman." Dia memerintahkan para pengawal dengan suara dingin, "Biarkan Nyonya berlutut di pemakaman untuk bertobat. Terapkan hukuman keluarga."

Hana ketakutan dan langsung menangis. Dia berlutut di tempat dan memohonkan ampun untuk Naretta.

"Om, Shiro mati karena aku! Kalau mau hukum, hukum aku saja. Cambuk itu akan membuat kulit terbelah dan daging terbuka, pasti sangat sakit!"

Jenson mengernyit dan menyuruh pengasuh membawa pergi Hana yang menangis.

"Naretta, apa pun kesalahanmu, kamu nggak seharusnya melampiaskannya sama yang nggak bersalah." Dia menatap Naretta dengan tenang. "Dengan hati sekejam itu, kamu pantas menjadi ibu?"

'Lalu, bagaimana denganmu? Apa kamu pantas jadi ayah?'

Di leher Naretta yang putih, tercetak bekas jari yang jelas. Napasnya terengah-engah, hatinya begitu sakit hingga sulit berbicara.

Hujan turun deras. Dengan pakaian tipis, Naretta berlutut di depan makam ibu Keisha. Cambuk di tangan pengawal diayunkan dengan semakin keras setiap kalinya.

Cambukan pertama, air hujan di antara lututnya berubah menjadi darah. Rasa sakit membuatnya tak mampu berdiri tegak.

Di saat ketika tahu dirinya hamil, mata Jenson memerah karena bahagia. Dia pergi ke kuil untuk bersujud setiap beberapa langkah dan memohon jimat yang diberkati langsung oleh kepala biksu untuknya.

Saat itu, lutut Jenson bengkak dan lecet, tetapi dia tetap tersenyum dan berkata, "Demi kamu dan bayi kita, apa pun layak dilakukan."

Dalam cambukan kedua, tubuhnya terhuyung dan nyaris pingsan karena sakit.

Naretta teringat bagaimana Jenson sendiri menyiapkan sepatu kecil dan pakaian mungil untuk bayi itu, lalu memeluknya sambil berkata, "Laki-laki atau perempuan, selama itu anak yang kamu lahirkan, aku akan mencintainya."

Cambukan kesembilan, cambukan ketiga puluh enam ....

Hingga cambukan kesembilan puluh sembilan, wajah Naretta pucat pasi dan punggungnya sudah hancur berlumuran darah.

Dalam kesadaran yang kabur, dia merasa seseorang menahan cambukan terakhir untuknya. Namun, dia sudah tak punya tenaga lagi untuk membuka mata.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 17

    Memandang mobil polisi yang menjauh, Naretta tiba-tiba merasa seluruh tenaganya terkuras. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh, untung Baskara sigap menahannya."Terima kasih." Dia tersenyum penuh rasa syukur, tetapi kesedihan di matanya hampir menenggelamkannya.Sorot mata Baskara dipenuhi rasa pedih saat berkata, "Kita juga pulang saja."Saat Naretta mengangguk, tiba-tiba Jenson berlutut di hadapannya. Ketika tatapan mereka bertemu, matanya seketika memerah."Naretta, maafkan aku ...."Naretta memejamkan mata dengan lelah. Saat membukanya kembali, tatapannya hanya tersisa ketenangan. "Aku nggak akan menerima permintaan maafmu dan tolong jangan muncul lagi di hadapanku.""Hubungan kita satu-satunya adalah sebagai musuh."Setiap kata seolah menguras seluruh kekuatan Jenson. Isakan di tenggorokannya tak lagi bisa dia tahan. "Naretta, selama ini aku nggak pernah berhenti mencarimu. Aku sangat merindukanmu.""Aku juga sangat menyesal nggak lebih cepat melihat kebusukan Keisha, sampai kamu

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 16

    "Naretta ...." Jenson berbisik pelan menyebut namanya. Sudut matanya memerah.Dia tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Dengan langkah lebar, dia berjalan ke arah Naretta. Kerinduan di matanya begitu kuat hingga hampir tak terkendali. Jenson menahannya sekuat tenaga agar tidak kehilangan kendali di depan umum."Naretta, aku tahu kamu baik-baik saja. Aku sudah mencarimu dengan susah payah."Pada saat itu, Jenson tidak peduli lagi pada segala gosip dan tuduhan. Dia hanya ingin memeluk Naretta dengan erat. Namun, Naretta hanya meliriknya dengan tatapan dingin, lalu menghindar ke samping. Dia melangkah ke depan kerumunan dan menekan tombol putar dengan senyum sinis.Layar besar langsung menyala, menampilkan rekaman Keisha yang menyiksa Hana."Bocah sialan, sama menjijikkannya seperti ibumu yang murahan. Percaya nggak, aku bisa mencungkil bola matamu!""Sekarang aku hamil. Kalau nggak menyingkirkan anak haram sepertimu, bagaimana kalau kamu berebut warisan sama anakku?"Keisha memaksa Ha

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 15

    Jenson hampir mengerahkan seluruh sumber daya dan koneksinya, tetapi tetap tidak bisa menemukan jejak Naretta. Dia terus menjelajahi tujuh benua dan empat samudra. Setiap kali merasa lelah, hanya dengan kembali ke rumah yang pernah dia tinggali bersama Naretta dan menghirup sisa aroma tubuhnya di seprai, dia baru bisa tertidur dengan susah payah.Sejak memutus kerja sama dengan keluarga Keisha, internal Keluarga Hanifa dilanda kekacauan. Hati semua orang pun diliputi kecemasan. Dulu dia sangat memanjakan Keisha, sehingga membuat kepentingan kedua keluarga terikat sangat dalam.Kini, keluarga Keisha bangkrut dalam semalam. Dampaknya juga pasti menyeret bisnis inti Keluarga Hanifa. Sebagian besar klien jangka panjang hilang, harga saham pun hampir menembus batas aman.Di depan meja kerja, Jenson sedang menangani setumpuk dokumen. Samar-samar terlihat lingkaran hitam di bawah matanya.Sesekali, dia melirik foto di sudut meja. Foto dirinya dan Naretta saat pertama kali bertemu di Kenya. It

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 14

    Jenson menendang pintu hingga terbuka. Wajahnya tampak begitu suram hingga terasa menakutkan.Ponsel Keisha terjatuh ke lantai. Matanya pun membelalak. "Jenson? Bukannya kamu ada kerjaan ....""Selama ini kamu terus membohongiku." Tangan dengan ruas-ruas jari tegas itu perlahan merayap ke lehernya. Ujung jari Jenson semakin mengencang, seolah hendak mematahkan lehernya.Keisha mundur dengan ketakutan hingga punggungnya menempel ke dinding yang dingin. Tubuhnya gemetar. "Kamu, kamu bicara apa? Aku nggak mengerti ....""Anak itu bukan milikku. Nenek menjadi koma karena kamu. Hana nggak pernah kamu perlakukan dengan tulus." Suara Jenson serak dan mengerikan. "Bahkan Naretta pun nggak luput dari perbuatan kejimu."Bibir Keisha bergetar, tubuhnya gemetar hebat. "Jenson, dengarkan penjelasanku ...."Mata Jenson memerah. Cengkeramannya begitu kuat hingga hampir meremukkan tulangnya. "Bicara!""Aku ... aku hanya khilaf sesaat ...." Wajahnya pucat pasi dan air matanya menggenang. "Semua ini kar

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 13

    Asisten itu menjawab dengan gemetar, "Setelah Bapak mengusir Bu Naretta, dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Saya sebenarnya ingin memberi tahu Bapak, tetapi Bu Keisha berpesan agar tidak menyebut kabarnya, supaya nggak membuat Bapak kesal.""Lalu bagaimana dengan Hana?" Jenson menggenggam ponselnya dengan erat dan wajahnya makin suram."Saya ... saya tidak tahu ...," jawab asisten itu terbata-bata.Sorot mata Jenson mengeras. Dengan suara rendah yang menahan amarah, dia berkata, "Terus kenapa nggak cepat diselidiki?"Setelah menutup telepon, Jenson menendang kursi dengan keras, seolah melampiaskan amarahnya. Dia tidak menyangka campur tangan Keisha sudah sejauh itu, sampai bisa melewatinya dan langsung memberi keputusan pada anak buahnya.Tenaganya terlalu besar hingga kotak brokat di atas meja terjatuh. Jimat keselamatan yang diikat dengan simpul sepasang hati pun terlempar.Jenson tertegun. Dia membungkuk mengambilnya dan mengenali bahwa jimat itu adalah hadiah ulang tahun pernika

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 12

    Melihat panggilan dari rumah lama Keluarga Hanifa, sebersit kekecewaan melintas di mata Jenson. Dia menggeser layar untuk menjawab, lalu suara kepala pelayan terdengar penuh emosi. "Tuan Muda, Nyonya Rania sudah sadar!"Seketika itu juga, Jenson terbang kembali ke tanah air.Di dalam jet pribadinya, ingatannya kembali ke enam tahun lalu saat neneknya menjadi vegetatif. Kalangan elite Kota Jiran hampir sepakat bahwa Jenson dan Keisha akan menikah.Saat Rania mengajak Keisha ke vila pemandian air panas, semua orang mengira itu adalah bentuk pengakuan terhadap calon cucu menantunya.Namun, nasib berkata lain. Saat melewati jalan pegunungan dalam hujan deras, mobil mereka mengalami kecelakaan.Demi melindungi Rania, Keisha patah tiga tulang rusuk dan mengalami kerusakan serius pada organ reproduksinya.Sementara itu, Rania selamat. Akan tetapi, pendarahan di otak menekan sarafnya dan membuatnya sepenuhnya kehilangan kemampuan merawat diri. Tubuhnya dipenuhi selang dan sepertinya kemungkina

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status