แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Nesya
Naretta kembali ke rumah sakit dengan langkah limbung dan pikirannya kosong. Dengan susah payah, dia menyelesaikan dua hal.

Hal pertama, yaitu menyerahkan surat pengunduran diri.

Hal kedua, membawa sehelai rambut Hana untuk melakukan tes DNA.

Naretta melihat laporan di tangannya dengan tatapan kosong . Ujung jarinya yang pucat bergetar tanpa henti.

[ Berdasarkan hasil identifikasi: Naretta adalah ibu biologis Hana. ]

Lembaran kertas itu melayang jatuh ke lantai. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, rasanya seperti mengerahkan seluruh tenaga tubuhnya.

Betapa ironis.

Putri yang selama ini dirindukannya, ternyata dijadikan Jenson sebagai hadiah untuk menyenangkan Keisha. Dengan langkah yang berat, Naretta kembali ke ruangannya dan mulai membereskan barang-barangnya dengan gerakan lamban.

Direktur yang mengetahui niatnya untuk mengundurkan diri tampak menyesal. "Kudengar kamu datang ke sini demi suamimu. Kenapa tiba-tiba pergi?"

Tatapan Naretta meredup dan dia tersenyum pahit. "Sepertinya ... dia bukan suamiku."

Naretta mengatupkan bibirnya dan membungkuk pamit, lalu pergi di bawah tatapan terkejut sang direktur. Dia berjalan dengan tanpa tujuan. Saat melewati toko pakaian anak, dia melihat gaun putri yang indah dipajang di etalase dan tanpa sadar berhenti.

Dia teringat pakaian lama Hana yang ternoda minyak. Seketika, matanya memerah.

Putri yang seharusnya dimanja dan dilindungi malah diperlakukan begitu kasar. Mana mungkin dia tidak merasa sakit hati?

Dengan langkah mantap, dia masuk ke toko itu. Dia ingin membelikan gaun itu untuk Hana dan bertekad membawa putrinya kembali ke sisinya. Namun tak jauh dari sana, di sebuah toko ibu dan bayi, dia melihat Jenson dan Keisha.

Jenson melindungi Keisha dengan erat di depannya. Satu tangannya menopang perut hamil Keisha, tangan lain merapikan rambut yang terurai di pipinya.

Apa pun yang dilirik Keisha, Jenson langsung membelinya tanpa ragu. Perhatiannya tertuju pada Keisha sepenuhnya. Sampai ketika hampir menabrak Naretta, barulah dia mengernyit dan mengangkat kepala hendak menegur.

Namun saat tatapan mereka bertemu, tangan Jenson yang menggenggam tangan Keisha tanpa sadar terlepas. Jakunnya bergerak keras.

"Naretta ... kenapa kamu di sini?"

Air mata menggenang di pelupuk mata Naretta, tetapi ujung jarinya menekan kuat ke telapak tangannya sendiri dan memaksa dirinya mengangkat sudut bibir.

"Aku merindukanmu. Aku ingin datang ke Kota Sarvo untuk memberimu kejutan."

Namun bagi Jenson, pertemuan kali ini sepertinya lebih menyerupai kejutan yang menakutkan. Pria yang biasanya tegas dan tanpa ragu di dunia bisnis itu, kini malah tidak tahu harus bicara apa.

Di tengah keheningan, Keisha mengelus perutnya dan berjalan ke depan Naretta dengan sikap seolah menyatakan kepemilikan. "Bu Naretta, jadi kamu istri yang sering disebut-sebut Jenson." Dia melangkah mendekat dan menggenggam tangan Naretta dengan hangat. "Sekarang kamu sudah datang, tinggal saja beberapa hari. Aku akan suruh Jenson menemanimu dengan baik."

Senyum di sudut bibir Keisha terlihat menantang dan menyilaukan. Setiap katanya seolah dia adalah nyonya rumah sah yang sedang menegaskan posisinya. Padahal, kemarin Naretta masih membantu pemeriksaan kehamilannya. Kini Keisha berpura-pura tidak mengenalnya.

Naretta hanya menjawab pelan, "Iya." Dia mengernyit dan mencoba menarik tangannya. Dia tidak menggunakan tenaga, tetapi tubuh Keisha tiba-tiba terhuyung ke belakang.

Jenson melangkah lebar dan segera menahan tubuh Keisha dengan kokoh. Kepanikan di matanya seketika menghilang, digantikan amarah. "Kamu nggak lihat? Keisha sedang hamil!"

Wajah Naretta memucat. Pertanyaan itu terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.

Benar juga. Bagaimanapun, wanita yang dicintai Jenson sedang mengandung anaknya. Sedangkan Naretta, hanyalah orang luar yang dimanfaatkannya dengan semena-mena.

"Kenapa kamu peduli sekali?" Ujung hidung Naretta terasa perih. "Apa dia mengandung anakmu?"

Ekspresi Jenson berubah drastis. Dalam pupilnya, melintas rasa bersalah yang samar.

Saat itu, Keisha buru-buru melambaikan tangan. Suaranya bergetar, dipenuhi kepura-puraan seolah disalahpahami. "Bu Naretta, aku dan Jenson cuma teman. Dia cuma kasihan padaku sebagai ibu hamil yang sendirian, jadi dia lebih memperhatikanku."

Pembelaannya untuk Jenson, membuat bibir pria itu mengencang. Dalam sorot matanya tampak gejolak emosi yang tertahan.

Naretta tahu, Jenson sedang marah. Marah karena Keisha terlalu cepat ingin menjaga jarak darinya. Karena itu, dia mengulurkan lengannya yang panjang dan menarik Naretta ke dalam pelukannya. Di depan Keisha, dia menunduk dan mencium bibir Naretta. "Sayang, aku bawa kamu pulang."

Ciuman yang dilandasi emosi itu membuat Naretta sedikit kehilangan kesadaran. Dulu, dia dengan polosnya mengira bahwa perasaan Jenson hanya akan terpengaruh olehnya.

Saat Naretta pernah diancam keluarga pasien dengan pisau, Jenson sendiri yang mematahkan sepuluh jari orang itu untuk membelanya. Saat dia diejek setelah kehilangan anaknya, Jenson langsung menghentikan kerja sama bernilai ratusan miliar dengan pihak tersebut dan memasukkannya ke daftar hitam industri.

Pada malam-malam ketika Naretta mengalami depresi pasca melahirkan dan menangis tanpa henti, Jenson selalu memeluknya dengan lembut dan menenangkannya berulang kali hingga dia tertidur.

Namun ketika berdiri di depan vila itu, dia baru mengetahui bahwa Jenson telah membelikan sebuah rumah besar untuk Keisha. Selain itu, mereka sudah lama tinggal bersama.

Setelah mengantarnya masuk, Jenson menempatkannya di kamar tamu dan berkata akan menemaninya setelah menyelesaikan pekerjaan. Namun hingga larut malam, Jenson tidak kunjung datang,

Naretta berjalan di atas lantai kayu merah, lalu mendengar suara yang samar dari kamar utama di sebelah. Dia mendekatkan telinganya ke dinding.

Suara napas tertahan Jenson yang berat dan desahan pelan Keisha terdengar jelas di telinganya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 17

    Memandang mobil polisi yang menjauh, Naretta tiba-tiba merasa seluruh tenaganya terkuras. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh, untung Baskara sigap menahannya."Terima kasih." Dia tersenyum penuh rasa syukur, tetapi kesedihan di matanya hampir menenggelamkannya.Sorot mata Baskara dipenuhi rasa pedih saat berkata, "Kita juga pulang saja."Saat Naretta mengangguk, tiba-tiba Jenson berlutut di hadapannya. Ketika tatapan mereka bertemu, matanya seketika memerah."Naretta, maafkan aku ...."Naretta memejamkan mata dengan lelah. Saat membukanya kembali, tatapannya hanya tersisa ketenangan. "Aku nggak akan menerima permintaan maafmu dan tolong jangan muncul lagi di hadapanku.""Hubungan kita satu-satunya adalah sebagai musuh."Setiap kata seolah menguras seluruh kekuatan Jenson. Isakan di tenggorokannya tak lagi bisa dia tahan. "Naretta, selama ini aku nggak pernah berhenti mencarimu. Aku sangat merindukanmu.""Aku juga sangat menyesal nggak lebih cepat melihat kebusukan Keisha, sampai kamu

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 16

    "Naretta ...." Jenson berbisik pelan menyebut namanya. Sudut matanya memerah.Dia tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Dengan langkah lebar, dia berjalan ke arah Naretta. Kerinduan di matanya begitu kuat hingga hampir tak terkendali. Jenson menahannya sekuat tenaga agar tidak kehilangan kendali di depan umum."Naretta, aku tahu kamu baik-baik saja. Aku sudah mencarimu dengan susah payah."Pada saat itu, Jenson tidak peduli lagi pada segala gosip dan tuduhan. Dia hanya ingin memeluk Naretta dengan erat. Namun, Naretta hanya meliriknya dengan tatapan dingin, lalu menghindar ke samping. Dia melangkah ke depan kerumunan dan menekan tombol putar dengan senyum sinis.Layar besar langsung menyala, menampilkan rekaman Keisha yang menyiksa Hana."Bocah sialan, sama menjijikkannya seperti ibumu yang murahan. Percaya nggak, aku bisa mencungkil bola matamu!""Sekarang aku hamil. Kalau nggak menyingkirkan anak haram sepertimu, bagaimana kalau kamu berebut warisan sama anakku?"Keisha memaksa Ha

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 15

    Jenson hampir mengerahkan seluruh sumber daya dan koneksinya, tetapi tetap tidak bisa menemukan jejak Naretta. Dia terus menjelajahi tujuh benua dan empat samudra. Setiap kali merasa lelah, hanya dengan kembali ke rumah yang pernah dia tinggali bersama Naretta dan menghirup sisa aroma tubuhnya di seprai, dia baru bisa tertidur dengan susah payah.Sejak memutus kerja sama dengan keluarga Keisha, internal Keluarga Hanifa dilanda kekacauan. Hati semua orang pun diliputi kecemasan. Dulu dia sangat memanjakan Keisha, sehingga membuat kepentingan kedua keluarga terikat sangat dalam.Kini, keluarga Keisha bangkrut dalam semalam. Dampaknya juga pasti menyeret bisnis inti Keluarga Hanifa. Sebagian besar klien jangka panjang hilang, harga saham pun hampir menembus batas aman.Di depan meja kerja, Jenson sedang menangani setumpuk dokumen. Samar-samar terlihat lingkaran hitam di bawah matanya.Sesekali, dia melirik foto di sudut meja. Foto dirinya dan Naretta saat pertama kali bertemu di Kenya. It

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 14

    Jenson menendang pintu hingga terbuka. Wajahnya tampak begitu suram hingga terasa menakutkan.Ponsel Keisha terjatuh ke lantai. Matanya pun membelalak. "Jenson? Bukannya kamu ada kerjaan ....""Selama ini kamu terus membohongiku." Tangan dengan ruas-ruas jari tegas itu perlahan merayap ke lehernya. Ujung jari Jenson semakin mengencang, seolah hendak mematahkan lehernya.Keisha mundur dengan ketakutan hingga punggungnya menempel ke dinding yang dingin. Tubuhnya gemetar. "Kamu, kamu bicara apa? Aku nggak mengerti ....""Anak itu bukan milikku. Nenek menjadi koma karena kamu. Hana nggak pernah kamu perlakukan dengan tulus." Suara Jenson serak dan mengerikan. "Bahkan Naretta pun nggak luput dari perbuatan kejimu."Bibir Keisha bergetar, tubuhnya gemetar hebat. "Jenson, dengarkan penjelasanku ...."Mata Jenson memerah. Cengkeramannya begitu kuat hingga hampir meremukkan tulangnya. "Bicara!""Aku ... aku hanya khilaf sesaat ...." Wajahnya pucat pasi dan air matanya menggenang. "Semua ini kar

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 13

    Asisten itu menjawab dengan gemetar, "Setelah Bapak mengusir Bu Naretta, dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Saya sebenarnya ingin memberi tahu Bapak, tetapi Bu Keisha berpesan agar tidak menyebut kabarnya, supaya nggak membuat Bapak kesal.""Lalu bagaimana dengan Hana?" Jenson menggenggam ponselnya dengan erat dan wajahnya makin suram."Saya ... saya tidak tahu ...," jawab asisten itu terbata-bata.Sorot mata Jenson mengeras. Dengan suara rendah yang menahan amarah, dia berkata, "Terus kenapa nggak cepat diselidiki?"Setelah menutup telepon, Jenson menendang kursi dengan keras, seolah melampiaskan amarahnya. Dia tidak menyangka campur tangan Keisha sudah sejauh itu, sampai bisa melewatinya dan langsung memberi keputusan pada anak buahnya.Tenaganya terlalu besar hingga kotak brokat di atas meja terjatuh. Jimat keselamatan yang diikat dengan simpul sepasang hati pun terlempar.Jenson tertegun. Dia membungkuk mengambilnya dan mengenali bahwa jimat itu adalah hadiah ulang tahun pernika

  • Cinta Pertama Suamiku yang Belum Usai   Bab 12

    Melihat panggilan dari rumah lama Keluarga Hanifa, sebersit kekecewaan melintas di mata Jenson. Dia menggeser layar untuk menjawab, lalu suara kepala pelayan terdengar penuh emosi. "Tuan Muda, Nyonya Rania sudah sadar!"Seketika itu juga, Jenson terbang kembali ke tanah air.Di dalam jet pribadinya, ingatannya kembali ke enam tahun lalu saat neneknya menjadi vegetatif. Kalangan elite Kota Jiran hampir sepakat bahwa Jenson dan Keisha akan menikah.Saat Rania mengajak Keisha ke vila pemandian air panas, semua orang mengira itu adalah bentuk pengakuan terhadap calon cucu menantunya.Namun, nasib berkata lain. Saat melewati jalan pegunungan dalam hujan deras, mobil mereka mengalami kecelakaan.Demi melindungi Rania, Keisha patah tiga tulang rusuk dan mengalami kerusakan serius pada organ reproduksinya.Sementara itu, Rania selamat. Akan tetapi, pendarahan di otak menekan sarafnya dan membuatnya sepenuhnya kehilangan kemampuan merawat diri. Tubuhnya dipenuhi selang dan sepertinya kemungkina

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status