LOGIN"Ngapain kamu ikut? Kerjaan kamu?"
"Aku ijin beberapa hari. Bos aku setuju, lagian kerjaan aku bisa dikerjakan dari mana saja." Syifa menatap tidak percaya mendengar jawaban Aryo "Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi! Jadi jangan dekat-dekat." Aryo tersenyum mendengar ancaman Syifa, mengingat pembicaraan terakhir dengan papanya Syifa yang akan tetap memberikan restu jika nanti memang mereka bersama. Kalimat itu membuatnya"Kembali kamu? Berhasil? Dari wajahmu terlihat gagal." Aryo menghempaskan tubuhnya di sofa, memejamkan matanya. Perkataan Syifa terakhir membuatnya memilih pergi, tampaknya memang tidak akan ada harapan lagi. Saat ini artinya menata masa depan tanpa Syifa didalamnya, meskipun tidak lagi sama seperti sebelumnya. Tatapannya beralih pada Stella yang duduk sambil menikmati makanan dan tontonan dihadapannya, matanya beralih pada perut Stella dan bayangan yang ada dalam kepalanya adalah Syifa hamil anak mereka. "Bagaimana kalau kita menikah?" Aryo mengatakan dengan menatap Stella yang seketika mengalihkan pandangan. "Kamu bicara begitu yakin? Sudah dipikirkan? Kita ini pasangan labil. Bilang putus, balik lagi terus hubungan intim, memutuskan memilih menikah, dan banyak yang lain. Kamu belum selesai dengan masa lalumu, kamu yakin pernikahan ini akan berjalan baik-baik saja?" "Bukannya kamu nggak masalah m
"Bukan kantor besar, kita masih merintis." "Merintis tapi gedungnya di tempat yang ok, mas." "Ya, dapat diskon ini. Kamu kan masih sarjana belum mengambil profesi, jadi tugas kamu di skoring. Tahu kan?" Karel menatap Syifa yang menganggukkan kepalanya "Disini hanya beberapa orang, semoga kamu betah." "Beberapa orang itu berapa, mas?" "Aku, Mas Hilman, Mbak Lulu. Mas Hilman sama Mbak Lulu, mereka ini yang mendirikan tempat ini. Mas Hilman posisinya lebih atas dari Mbak Lulu, nanti kamu tahu sendiri tugas mereka. Pegawai lainnya kebanyakan anak magang, anak magang dari beberapa kampus disini." Karel menjelaskan yang hanya diangguki Syifa "Kita berdua ini di bagian tes, full disini." "Aku nantinya akan lebih banyak interaksi sama mas?" Karel menganggukkan kepalanya "Tapi bukan berarti nggak akan interaksi dan komunikasi sama Mbak Lulu dan Mas Hilman. Masalah kuliah kamu, kalau sudah keterima k
"Ngapain kamu ikut? Kerjaan kamu?" "Aku ijin beberapa hari. Bos aku setuju, lagian kerjaan aku bisa dikerjakan dari mana saja." Syifa menatap tidak percaya mendengar jawaban Aryo "Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi! Jadi jangan dekat-dekat." Aryo tersenyum mendengar ancaman Syifa, mengingat pembicaraan terakhir dengan papanya Syifa yang akan tetap memberikan restu jika nanti memang mereka bersama. Kalimat itu membuatnya semangat, keputusan mengikuti Syifa saat ini adalah keputusan dadakan, sedikit bersyukur Syifa berangkat tanpa orang tuanya. "Kamu nanti sama siapa?" Aryo membuka suara yang membuatnya mendapatkan tatapan tajam. "Rahasia!" Menatap bayangan Syifa yang menatap jendela, tangannya yang dilipat depan dada dengan bibirnya yang mengerucut. Mengambil tangan Syifa untuk digenggamnya, tatapan tajam diberikan tapi seakan tidak peduli, membawa
"Masih ada aku disini." Stella membelai lengan Aryo yang menyandarkan tubuhnya di sofa. Tempat paling nyaman saat ini adalah bercerita pada Stella, wanita ini menerima dirinya apa adanya. Sayangnya perasaan tidak berada pada wanita disampingnya, Syifa sudah membuat jantungnya berantakan, mengubah semuanya. Semua sistem hidup yang selama ini dijalani, mengeluarkan dirinya dari Neni tapi sayangnya kepercayaan dan kesempatan itu tidak dipakai. "Kamu benar jadi kerja sebagai asistenku?" Aryo menatap Stella yang terdiam "Lebih baik kamu tetap di tempat kerja ini!" "Kenapa? Kamu ada cewek lain?" Stella memicingkan matanya. "Nggak ada! Kamu pemenangnya!" "Apa kita akan tetap seperti ini?" "Kamu keberatan? Bukannya kamu nggak masalah dengan status ini? Kamu tahu kemana hatiku berada." Aryo mengatakan dengan tegas saat melihat Stella yang akan membuka mulutnya. "Memang kamu nggak ada ni
"Kamu baik-baik saja?" "Ya. Hubungan kami sudah selesai." Teddy memicingkan mata mendengar jawaban Syifa "Selesai? Putus? Yakin?" Syifa menganggukkan kepalanya penuh keyakinan "Ya, om. Maaf kemarin nggak jadi ketemu. Om padahal sudah datang, tapi aku nggak mau Aryo berpikir yang tidak-tidak." "Nggak masalah. Kenapa putus? Kita bertemu setelah kamu luar kota nggak ada pembicaraan itu, apa dia milih cewek itu?" Teddy masih fokus dengan jawaban Syifa yang mengatakan hubungannya dengan Aryo berakhir. "Memang aku belum bilang karena aku ingin bicara lebih dulu sama papa dan mama. Aku butuh support mereka saat mengambil keputusan apapun, bagaimanapun aku masih tanggung jawab mereka berdua terutama papa. Maafkan kalau selama ini...nggak percaya sama apa yang om bilang...mungkin bukan nggak percaya tapi dibutakan cinta." Syifa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Nggak masalah! Penting sekarang
"Mengakhiri hubungan kita? Rencana pernikahan? Apa ini ada hubungannya sama pertemuan kemarin?" "Seharusnya kejadian Neni saat itu memang hubungan kita berakhir, tapi aku memberi kesempatan..." "Kamu tahu kalau aku sudah nggak hubungan sama dia, kalaupun sekarang hubungan sama dia murni masalah trading. Sayang, kamu nggak lagi bercanda, kan? Pernikahan kita beberapa bulan lagi, masa kamu tega batalin gitu aja?" Aryo menatap penuh ketakutan pada Syifa yang memilih diam "Kamu tahu kalau aku sayang sama kamu. Kamu mau kita nggak ngapa-ngapain pas ketemu? Kamu pengen..." "Kamu memang nggak melakukan sama aku dan Neni, tapi melakukannya sama wanita lain." Syifa memotong kalimat Aryo yang seketika membelalakkan matanya "Bukan Gary yang memberitahu aku, bukan juga teman-temanmu yang di tempat gym. Aku tahu sendiri, bahkan apartemen itu juga ada wanita itu disana." Syifa menarik dan menghembuskan napas panjang "Kamu menempati janji dengan Neni, w
"Broker? Udah dapat orang? Nasabah maksudnya.""Belum, om." Aryo menjawab semua pertanyaan Rahmad dengan sangat sopan.Acara dirumah Aryo terpaksa diundur, Rahmad meminta Aryo datang kerumah. Syifa yang sudah tidak memiliki alasan memilih mengalah dengan mengajak Aryo kerumah, d
"Nikah? Aryo? Yakin?" "Kenapa gitu reaksinya, om? Om tahu kalau hubungan ini serius, terus kenapa kaget begitu?" Syifa langsung menuju ke rumah Teddy setelah mengantarkan Aryo ke tempat gym, gagal melakukan olahraga bersama tidak membuat mereka tidak bertemu. Syifa membutuhkan
"Aku nggak marah sama kamu, aku kesal sama cewek itu. Apaan sok-sokan kamu adalah calon kakak ipar yang diharapkan, padahal kakaknya punya cewek lain. Dia nggak menghargai kekasih kakaknya, kalau Aldi begitu sudah kupukul kepalanya.""Kamu bisa dapat omelan dari ibu," ucap Syifa menggoda
"Kenapa cemberut? Jarang loh kita keluar dari pagi begini, sayang. Kamu mau kemana? Senam? Kita ke tempat gym aja gimana?" "Nggak mood. Kamu kemarin kenapa setuju ngajak orang tua kerumah? Memang kamu siap sama pernikahan?" "Aku lupa kasih tahu kamu kabar baik. Setelah kamu sa







