Share

Cinta Sagita
Cinta Sagita
Penulis: Rahma Nanda

Kapan Kita Pindah?

~Pertanyaan yang menggunakan kata kapan memang mengesalkan. Kapan wisuda? Kapan menikah? Kapan punya anak? Dan kapan kita pindah rumah?~

 Aroma kopi menyelimuti ruang makan. Suasana sunyi di pagi itu belum ada yang berani merusaknya. Sepasang burung gereja sedang asyik berciap-ciap di atas dahan pohon mangga. Suara burung itu bisa terdengar hingga ke ruang makan. Dimana duduk sepasang suami istri yang saling berhadap-hadapan. Satu Sagita dan satu Danar.

 "Kapan kita pindah rumah, Mas? Gita udah enggak tahan lagi. Mas dulu yang janji kalau kita tinggal di rumah ini cuman beberapa bulan aja. Ini udah ganti kalender Mas. Udah hampir satu tahun kita tinggal di rumah orangtua kamu."

  Orang yang ditanya hanya bisa menundukkan kepala. Andai ini hari kerja, pasti akan lebih mudah untuk menghindar dari pertanyaan itu. Sayangnya ini hari libur, tanggal merah. Tidak bisa lari, tidak bisa menghindar. Istri yang dinikahinya satu tahu yang lalu ini mulai menuntut. Mumpung rumah lagi sepi. Sang mertua belum pulang dari lari pagi, Gita malah mengambil sendok yang ada di tempat sendok.

  "Aku itu pengen merasakan beli sendok sendiri, Mas! Beli piring sendiri, beli gelas sendiri, punya panci sendiri. Biarin ngontrak, enggak masalah. Yang penting kita bisa lepas dari orangtua kamu. Hidup mandiri."

  Sagita menatap tajam ke arah suaminya. Suaminya itu malah melemparkan pandangan ke arah luar. Ke sebuah jendela yang besar yang ada di samping ruang makan. Dari situ dia bisa melihat seekor tupai lompat, sambil membawa sebuah rambutan merah. Pasti tupai itu mencuri dari halaman belakang.

  "Jangan diem aja, Mas! Aku butuh jawaban."

  Belum sempat Sagita mendapatkan jawaban yang dia minta. Sepasang  suami istri masuk ke dalam ruang makan. Dan detik itu juga, raut wajah marah Sagita berubah jadi cerah. Lebih tepatnya, cerah yang dibuat-buat. Senyumnya mengembang. Dirapikannya daster tangan panjang yang dia pakai. Jilbab instannya yang miring sedikit juga dirapikan.

 "Loh, Ibu sama Bapak udah pulang? Kok cepet?" tanya Sagita dengan raut wajah 180 derajat berbeda dari raut wajahnya tadi saat berbicara dengan suaminya.

 "Iya. Sepi suasana lari pagi kali ini. Enggak seperti biasanya. Ya Bapak pulang aja dong! Eh, Danar! Ada kegiatan tidak hari ini? Ikut Bapak ke ladang belakang ya! Kita bersihkan itu rumput di sekitar pohon-pohon cabe bapak."

 "Enggak ada Pak! Iya nanti Danar bantu."

 "Eh, kamu buat nasi goreng, Git?"

  "Iya Bu! Buat sarapan Mas Danar sama buat Ibuk dan Bapak juga. Ayo makan Buk!"

  Mertua Sagita itu mengambil piring. Usianya memang sudah tua. Kepala lima, namun badannya masih sehat bugar. Rajin olahraga adalah salah satu kunci dari kebugaran mertuanya ini. Tidak menunggu lama, piring yang diambilnya tadi sudah berisi satu centong nasi goreng.

 "Ih! Ini nasi goreng kamu terlalu asin. Enggak enak! Kurangin dong garemnya. Kamu mau buat Danar terkena darah tinggi, masak nasi goreng seasin ini? Jangan asin-asin kali dong kalau masak. Orang kita itu percaya, kalau masak terlalu asin, itu artinya seseorang yang masak itu minta kawin. Kamu itukan sudah kawin, apa mau minta kawin lagi? Jangan dong! Jadi istri itu harus setia. Setia sama Danar!"

  Rusak sudah kedamaian di pagi itu. Hati Sagita yang sudah kesal dengan suaminya, sepagi ini harus tambah kesal lagi. "Filosofi darimana jika masakan terlalu asin maka orangnya minta kawin lagi? Kalau kepedasan berarti minta cerai, gitu? Kalau kepahitan minta mati?" Pikiran seperti itu berkecamuk di dalam hati Sagita.

 "Maaf ya Bu! Kalau terlalu asin!" Sagita berusaha mengontrol emosinya. Satu tahun belakangan dia memang sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Terbiasa bukan berrati dia bisa dengan tenang menerima perkataan mertuanya. Hatinya tetap sakit. Di bawah meja makan itu, Sagita menendang kaki Danar sekuatnya. Danar tidak bereaksi. Tidak mungkin juga Sagita berteriak marah-marah. Susana justru akan semakin kacau.

  Tang! Ting! Tang! Ting!

  Suara sendok dan piring saling beradu. Kedua mertua Sagita tengah asyik menyantap nasi goreng dan telur mata sapi.

 "Asin? Asin sekali? Tapi udah nambah 3 kali? Gila banget mertuaku satu ini. Kalau asin dan enggak enak? Kenapa nambah sampai 3 kali? Pengen banget itu nasi goreng aku kasih sianida. Tuhan! Sabarkan Sagita Feraya ini Tuhan....!"

 Gita memang suka berbicara dalam hati. Setidaknya dalam situasi seperti ini, memang dia hanya bisa berbicara dengan dirinya sendiri. Sekarang di rumah memang hanya ada dirinya, Mas Danar dan mertuanya. Tidak ada tempat curhat selain hatinya.

 "Laper ya Bu?" tanya Sagita pada mertuanya itu. Pertanyaan ini sekaligus menyindir.

 "Enggak ah! Timbang ini nasi goreng dibuang terus dikasih ayam, mubazir. Lebih bagus dihabiskan. Jangan buang-buang nasi. Harga beras mahal."

 Sagita hanya mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Hatinya panas setengah mati tapi tetap harus tenang. Pada momen setelah makan seperti inilah momen yang paling berbahaya bagi Sagita. Dia takut mertuanya bertanya yang aneh-aneh.

 "Anak Pak Warsono, eh! Kamu tahukan Git? Itu loh yang rumanya tiga rumah dari rumah kita. Anaknya dia yang baru nikah 3 bulan yang lalu, udah hamil loh. Tadi Pak Warsono cerita. Yakan, Pak?"

 Bapak mertua Sagita itu hanya mengangguk sekali. Ketika istrinya berbicara pria yang sudah tua satu ini memang sering memberi konfirmasi atas informasi yang diberikan oleh istrinya. Biasa konfirmasi itu hanya berupa anggukan. Sagita menarik napasnya dalam-dalam. Dia sudah tahu kemana arah tujuan perkataan mertuanya.

 "Terus kapan kalian punya anak? Udah setahun loh kalian ini menikah? Rumah ini terlalu sunyi. Sedih sekali ibu tiap hari cuman main sama si Meng."

 Meng adalah seekor Felis Catus alias kucing. Kucing kesayangan mertuanya. Jika Sagita hilang entah kemana, jangankan dicari, ditanya saja tidak. Tapi kalau Meng yang hilang, tidak pulang ke rumah. Mertuanya itu seperti sudah kehilangan emas 5 kilo paniknya. Sagita menarik napas dalam-dalam lagi. Takut dia jika tiba-tiba terkena asma atau terkena serangan jantung akibat pertanyaan mertuanya.

 "Jawab dong Mas! Jangan cuman diem aja! Kamu mau aku terus dipojokin sama orangtua kamu?" Sagita lagi-lagi bicara dalam hati. Dia melotot ke arah suaminya. Kakinya juga ikut menendang kaki Danar. Berharap suaminya itu peka. Sial. Tidak ada jawaban suaminya hanya diam menunduk.

 "Suka heran ibu lihat kamu, Git! Ambisi kamu jadi istri Danar itu apa, sih? Kamu itu seharusnya mempersiapkan diri dari dulu untuk jadi seseorang ibu. Gini ya, Ibu pernah dengar ada ustadz bilang gini, 'Tuhan enggak akan kasih kita titipan anak kalau kitanya memang belum siap'. Nah, itu artinya apa Git? Artinya kamu belum siap menjadi sesorang Ibu. Kamu harus mempersiapkan diri dong! Kamu itukan enggak kerja. Kalau Danar, dia sudah bekerja banting tulang tiap hari buat bahagiain kamu? Lah, kamu gimana? Masa kasih anak buat Danar aja enggak bisa?"

  "Permisi ya Buk! Perut Gita mules. Gita ke kamar mandi dulu."

 Tidak pakai acara menunggu persetujuan. Sagita segera lari menuju ke kamar mandi. Diraihnya pintu kamar mandi yang paling dekat dengan ruang makan.

 Jebret!

 Begitu pintu kamar mandi itu tertutup. Air mata langsung meluncur dari pipi Sagita. Dia terduduk di lantai kamar mandi. Tidak peduli dengan lantai kamar mandi yang basah. Air matanya mengalir deras.

  "Ini bukan rumah Mas Danar, ini neraka!" isak Sagita dalam hati.

  

 

 

  

  

 

  

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Felicia Aileen
nice opening cant wait to read the next chapter.. boleh kasih tau akun sosmed ga ya soalnya pengen aku share ke sosmed trs tag akun author :)
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status