Share

Bab 2

Author: Anl
Begitu melihat Sania, Dimas langsung mengerutkan kening, dan tangannya yang semula melingkar di pinggang Citra pun segera ditarik kembali.

Teman-teman yang berada di sekitarnya pun langsung panik dan berusaha membelanya.

"Kak Sania di sini! Kak, jangan salah paham dulu. Hari ini kami ada acara di sini, jadi kami ajak Kak Dimas mendadak!"

"Benar, Kak. Ini wanita yang kupanggil, tidak ada hubungannya dengan Kak Dimas."

Seorang pria lain berdiri, berusaha menarik Citra ke sisinya, namun wanita itu tidak bergerak sedikit pun.

Justru dia mengangkat pandangannya ke arah Sania, dan berkata, "Nyonya Sania, kan? Sepertinya kau juga sudah melihat kejadian tadi. Aku sama sekali tidak tertarik pada Tuan Dimas. Jadi, tolong awasi suamimu baik-baik, jangan biarkan dia menggangguku lagi."

Sania tersenyum lalu menimpali, "Mungkin Dimas memang tidak suka diatur olehku, tapi lebih suka diatur oleh selingkuhannya?"

"Siapa yang kau sebut selingkuhan?"

Citra mengernyitkan alis. Wajahnya yang cantik dan dingin seketika diselimuti amarah.

"Tuan Dimas, meskipun aku bukan putri dari keluarga terpandang, tapi selama lima tahun bekerja di Klub Cakrawala Malam, aku selalu menjaga kehormatan diriku. Orang-orang yang datang ke sini, selama mereka sudah beristri, aku tidak pernah menyentuh mereka. Tapi hari ini, istrimu menyebutku sebagai selingkuhan. Kalau kau tidak memberikan penjelasan, aku tidak akan pernah mau bertemu denganmu lagi."

Baru saat itu Dimas melangkah maju, berjalan mendekati Sania.

Dia menatap Sania, nada suaranya lembut, namun penuh dominasi yang tak bisa ditolak, "Sayang, tidak baik menghina orang seperti itu. Minta maaflah pada Citra."

"Aku yang harus minta maaf padanya?" balas Sania sambil tertawa sinis, "Dimas, yang seharusnya minta maaf adalah kau. Jangan lupa apa yang kau janjikan padaku tiga tahun lalu."

"Tidak peduli apa yang kujanjikan padamu tiga tahun lalu, aku ingin kau minta maaf pada Citra sekarang." Nada suara Dimas tiba-tiba menjadi dingin, pria itu menggenggam tangan Sania, sementara bibir tipisnya tersenyum berkata, "Sania, aku jarang sekali menyukai wanita sampai seperti ini. Dia berbeda dengan model tiga tahun lalu, aku sudah mengejarnya selama tiga tahun. Kalau nanti Citra tidak mau bertemu denganku lagi, aku akan sangat sedih."

Kata-katanya benar-benar melukai hati Sania. Dia bilang jarang sekali menyukai seorang wanita sampai seperti ini?

Lalu bagaimana dengan dirinya? Lantas, apa arti dirinya?

Sania menggigit bibir, lalu bertanya balik, "Kalau aku tidak mau?"

"Kalau begitu, jangan salahkan aku."

Begitu Dimas selesai berbicara, dua pengawal terkuatnya langsung menerobos masuk.

"Kalau kau tidak mau minta maaf, mereka akan turun tangan dan memaksamu meminta maaf." Dimas mengulurkan tangan dan dengan santai merapikan rambut yang jatuh di dekat telinga Sania, "Sayang, jangan buat aku ada di posisi yang sulit, ya?"

"Sudah kubilang, aku tidak akan minta maaf."

Sania memang orang yang sangat keras kepala.

Untuk hal-hal yang bukan kesalahannya, dia tidak pernah meminta maaf secara sukarela.

Dia justru ingin melihat sejauh apa Dimas akan memperlakukannya demi seorang wanita simpanan.

"Kenapa diam? Lakukan saja. Tapi jangan berlebihan, Sania paling takut sakit."

Dimas melambaikan tangannya, dan dua pria itu langsung menahan Sania, memaksanya berlutut di lantai.

Saat lututnya menyentuh lantai, rasa sakit langsung menyerang. Sania mengangkat pandangannya dan melihat senyuman di sudut bibir Citra.

"Tidak kusangka Tuan Dimas bisa bertindak sejauh ini demi aku. Baiklah, aku akan membuat pengecualian. Malam ini aku akan menemanimu makan malam. Aku penasaran, apakah kau akan memilih pergi bersamaku, atau pulang bersama istrimu dan jadi suami penurut?"

"Kau tahu jawabanku. Aku sudah menunggu ini sangat lama."

Setelah berkata demikian, Dimas membungkuk dan dengan lembut membantu Sania berdiri, berkata dengan penuh kelembutan, "Sania, Sayang. Kau pulang saja duluan dan tunggu aku. Setelah selesai makan malam, aku akan segera pulang."

"Pulang atau tidak itu terserah kau."

Sania tidak menatapnya, hanya menepuk-nepuk debu di lututnya, lalu berbalik dan pergi dengan tertatih-tatih.

Dia sudah memutuskan untuk bercerai dengannya, jadi mulai sekarang, tidak akan lagi peduli padanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 18

    "Rendra!"Saat itu, Sania panik dan menatapnya tak percaya, lalu berkata, "Kau gila? Kenapa kau harus menahan pisau itu untukku, apa kau tidak takut mati?""Karena kau juga pernah menyelamatkanku ...."Rendra menatapnya, mata hitam legamnya dipenuhi emosi yang tak bisa dipahami Sania."Sania, ternyata kau sudah mendekati Tuan Rendra! Kenapa nasibmu seberuntung itu? Aku akan membunuhmu. Kau harus mati!"Suara tajam Citra bergema di telinganya, barulah Sania bisa melihat dengan jelas siapa orang yang datang itu."Citra, ternyata itu kau! Kau berani membunuh, apa kau sudah gila?""Iya, aku sudah gila! Sejak saat Dimas mengantarku kembali ke Cakrawala Malam, dan membiarkanku diperlakukan semena-mena, aku sudah gila."Citra mengacungkan pisau, hendak menikam Sania, namun langsung ditahan erat oleh pengawal yang bergegas datang."Tuan Rendra!""Tuan Rendra, apa Anda baik-baik saja? Saya akan segera membawa Anda ke rumah sakit!"Para pengawal membawa Rendra masuk ke mobil dan langsung melaju

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 17

    Di sebuah restoran masakan barat dengan suasana elegan, Sania dengan serius memotong steak di piringnya.Setelah beberapa saat, barulah dia menyadari bahwa steak di piring Rendra hampir tidak disentuh. Sebaliknya, pria itu terus menatapnya.Tatapannya begitu intens hingga pipi Sania tanpa sadar memerah."Tuan Rendra, sepertinya Anda tidak lapar?"Baru saat itu Rendra tersenyum dan mulai memotong steaknya, "Aku hanya sedang menunggu.""Menunggu apa?""Menunggu seseorang mengingat sedikit tentangku.""Mengingat apa?"Sania mengernyitkan kening, samar-samar merasa ada firasat buruk."Bagaimana kalau kukatakan, aku tahu ada tanda lahir berbentuk kupu-kupu di pinggangmu?"Kalimat sederhana itu seketika membuat Sania murka.Dia sontak berdiri dari kursinya dan nyaris membalikkan meja di hadapannya."Pria malam itu adalah kau!"Tak heran pria di hadapannya ini, baik dari postur tubuh maupun aroma tubuhnya, terasa akrab bagi Sania.Ternyata dialah pria yang memaksanya malam itu!Tanpa ragu sed

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 16

    "Apa dia wanita malam itu?""Iya, Tuan Rendra, dialah orangnya. Selain itu, kami juga menemukan kalau dia adalah wanita yang selama ini Anda cari.""Hmm."Setelah menutup dokumen di tangannya, pria itu mengangguk dan berkata dengan suara berat, "Setelah ini selesai, kalian boleh pergi dulu.""Tapi, Tuan Rendra ...."Identitasnya Istimewa. Jelas tidak aman jika tanpa pengawal di sisinya, hal itu tentu tidak mungkin.Pengawal itu hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi begitu pria itu meliriknya, dia langsung mengangguk dan tidak berani berkata apa-apa lagi.Melihat wanita itu tampil penuh percaya diri saat melakukan wawancara, sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum penuh arti.Dia benar-benar mengira wanita yang bersamanya malam itu adalah seorang pelacur kelas atas, padahal hanyalah seorang pembawa acara.Jakunnya bergerak, teringat malam itu, saat dirinya larut dalam gairah, teringat suara napasnya yang lirih ....Setelah begitu lama melajang, mungkin sudah waktunya dia menjal

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 15

    Begitu hal itu disebut, tubuh Sania tak bisa menahan diri untuk gemetar.Dia akhirnya tak mampu lagi bersikap tenang, lalu bangkit dan menampar keras wajah Dimas."Kau masih berani membahasnya! Dimas, kalau bukan karena kau, aku tidak akan pernah diperlakukan seperti ini. Aku membencimu, aku sangat membencimu, kau tahu?"Tamparan itu membuat Dimas benar-benar tercengang.Dia mengangkat pandangannya dan hendak menjelaskan, tetapi justru melihat Sania menangis."Sania … kau … kau telah ….""Iya, bukannya itu yang kau inginkan, Dimas? Menyerahkan istrimu ke pelukan pria lain dengan tanganmu sendiri demi mendapatkan kesucian seorang primadona, tapi tidak menyangka bahwa pelacur itu ternyata sudah tidak perawan sejak lama! Lucu, kan? Menurutku ini benar-benar konyol."Sania mengangkat kepala, menyeka air mata di sudut matanya, lalu mencibir, "Kalau bukan karena ibumu, aku sama sekali tidak mau bicara sepatah kata pun denganmu! Waktumu tinggal tiga menit lagi, kalau ada yang ingin kau kataka

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 14

    Dulu, kalau melihat Citra menangis sedih seperti ini, Dimas pasti sudah luluh.Tetapi saat ini, dia hanya merasa wanita ini mengerikan dan menjijikkan!"Pengawal!"Dia menggeram pelan, dan dua pengawal langsung menerobos masuk dari luar pintu."Tuan Dimas.""Wawancara hari ini dibatalkan. Bawa Citra pergi, kembalikan ke Cakrawala Malam! Karena dia sangat suka berakting, biarkan saja dia di sana menemani para pria itu berakting seumur hidup!"Citra sudah kehilangan keanggunan dan wibawa seperti biasanya. Riasannya sudah luntur karena menangis, dan wajahnya tampak buruk.Dia meronta-ronta dengan gila, penampilannya benar-benar berantakan."Tidak! Dimas, kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini. Kau sudah berjanji akan menikahiku. Kau tidak boleh mengingkari janji. Kau bilang akan melindungiku seumur hidup. Dimas ....""Memalukan sekali! Semua orang bilang kalau Nona Citra dari Cakrawala Malam adalah wanita paling bersih di tempat hiburan itu. Walaupun sudah lima tahun berkecimpung di

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 13

    "Brak!" Kepala Sania terbentur cermin.Cermin itu seketika retak, dan darah mulai mengalir dari dahinya.Amarah yang semula dia pendam di dalam hati pun meluap sepenuhnya akibat tindakan Citra.Sania menoleh, lalu menerjang dengan penuh amarah, mencengkeram leher Citra, dan mendorong tubuhnya hingga terpojok ke sudut dinding."Kau tidak dengar apa yang baru saja kukatakan, ya? Citra, aku peringatkan kau, semua yang baru saja kau katakan sudah kurekam. Kalau kau berani menggangguku lagi, aku akan mengirimkan rekaman itu ke Dimas! Kau ingin menjadi istri sahnya Dimas? Mimpi saja!""Kau berani merekam? Kembalikan rekamannya padaku! Dasar wanita murahan!"Kepalanya terasa pusing karena diguncang, Citra mengangkat pergelangan tangannya hendak menampar Sania, tetapi dengan sigap Sania menepisnya."Masih mau membalas?"Tanpa ragu sedikit pun, Sania mengangkat kaki kanannya, lalu dengan keras menendang dada Citra menggunakan lututnya."Ah!"Citra berlutut di lantai dengan wajah pucat, keringat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status