Share

Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin
Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin
Author: Anl

Bab 1

Author: Anl
Tiga tahun setelah menikah kembali dengan Dimas Aryatama, Sania Prameswari secara tidak sengaja bertemu dengan Dimas dan wanita simpanan barunya di Klub Cakrawala Malam.

Di bawah cahaya lampu kristal, Dimas sedang bersandar santai di sofa kulit, ujung jari kirinya menjepit sebatang cerutu, sementara tangan kanannya dengan santai merangkul seorang wanita yang mengenakan gaun tradisional.

Hadiah-hadiah mahal menumpuk seperti gunung di hadapan wanita itu.

Dimas mengeluarkan salah satu kalung berwarna merah delima dan berkata, "Suka? Semuanya kubeli untukmu."

Hadiah-hadiah itu sudah pernah dilihat Sania beberapa hari sebelumnya.

Dimas secara khusus terbang ke Valencia dan membelinya di sebuah rumah lelang. Beberapa hari lagi adalah hari ulang tahun pernikahan mereka, jadi Sania sempat mengira kalau Dimas sengaja membelinya sebagai hadiah kejutan.

Ternyata, dia terlalu banyak berandai-andai.

Wanita itu tidak bergerak sedikit pun dan hanya berkata dengan tenang, "Tuan Dimas, sudah kubilang aku tidak menyukaimu, itu berarti memang tidak suka. Sekalipun kau menghabiskan banyak uang untukku, itu tidak akan mengubah apa pun. Lebih baik kau pulang dan membujuk istrimu. Kudengar kalian baru saja rujuk, apa kau tidak takut dia akan menceraikanmu lagi?"

Dimas menyunggingkan senyum sinis, lalu berkata, "Menurutmu, apa urusan kita ini akan sampai ke telinganya? Aku akan merahasiakannya rapat-rapat, Sania tidak akan pernah tahu."

Yang lain ikut menimpali, "Kak Dimas sudah mengejarmu selama tiga tahun, tapi Kak Sania sama sekali tidak tahu."

"Namanya juga laki-laki, tidak setia itu wajar saja. Pria sekelas Kak Dimas kalau punya dua wanita di sisinya itu normal, kan? Sayangnya Kak Sania terlalu cemburu dan tidak pengertian. Kalau tidak, Kak Dimas pasti sudah membawamu pulang sejak lama."

Dimas melirik ke arah mereka dengan tatapan tajam, suaranya sangat dingin, "Diam! Kalian tahu aku paling tidak tahan kalau ada yang bicara buruk tentang Sania."

Setelah berkata begitu, dia menoleh lagi ke arah Citra Anindita, dan berkata dengan suara sangat lembut, "Mau menemaniku keluar makan malam? Tenang saja, cuma makan malam. Tanpa izinmu, aku tidak akan pernah menyentuhmu."

Melihat wajah lembut itu, Sania merasa seolah-olah terjatuh ke dalam sumur es.

Setelah delapan tahun menikah, dia sudah paham dengan temperamen Dimas.

Dimas paling tidak tahan diperlakukan dengan dingin oleh orang lain, jika itu orang lain, maka pria itu pasti sudah marah.

Namun terhadap Citra, dia ternyata bisa begitu sabar?

Air mata mengalir di pelupuk mata, Sania diam-diam mengambil foto itu, lalu tersenyum sinis.

Awalnya dia datang untuk memotret skandal foto-foto vulgar seorang selebritas kelas tiga, tetapi tak disangka malah menangkap suaminya sendiri berselingkuh.

Tiga tahun lalu, Sania juga pernah memergoki Dimas tidur dengan seorang model muda.

Saat itu juga dia menerobos masuk dan mencakar wajah model tersebut, lalu langsung mengajukan gugatan cerai.

Saat itu Dimas masih muda dan suka bersenang-senang. Karena terbawa emosi, dia langsung menandatangani surat perjanjian cerai itu.

Namun, belum genap tiga bulan setelah Sania pergi, dia sudah bosan dengan wanita-wanita di luar sana, dan akhirnya seperti orang gila memohon agar Sania mau kembali ke sisinya.

Dia bahkan sampai bersumpah kalau ke depannya tidak akan pernah lagi bermain gila dengan wanita lain, apalagi berselingkuh dan mengkhianatinya.

Sania pernah berkata asal-asalan bahwa dia menginginkan sebuah bintang.

Dimas benar-benar membeli sebuah bintang dan menamainya "Bintang Niskala".

Katanya, bintang itu seperti cinta mereka yang akan terus merambat dan tumbuh hingga mencapai cakrawala.

Pada hari mereka menikah kembali di Kantor Catatan Sipil Tanjung Raya, Dimas tampak bahagia seolah-olah telah mendapatkan seluruh dunia.

Dia bersandar pada mobil sportnya sambil tersenyum, sorot matanya penuh keyakinan dan kebanggaan, lalu berkata, "Sania, kali ini aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu lagi."

Sania saat itu tidak berkata apa-apa, dia hanya menatap akta nikah dengan tatapan kosong.

Dia memang setuju untuk rujuk karena tidak tega meninggalkan Dimas dan tidak rela melepaskan hubungan yang telah dipertahankannya selama lima tahun.

Dia juga tidak rela kehilangan hak akses ke kolom finansial eksklusif yang dijanjikan ibunya Dimas, Ratih Aryatama, kepadanya.

Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai wartawan hiburan, dia juga ingin beralih profesi menjadi pembawa acara.

Dengan akses yang diberikan Keluarga Aryatama, dia bisa langsung mewawancarai para pemimpin sepuluh konglomerat terbesar di Kota Segara.

Perkataan Ratih masih terngiang-ngiang di telinganya, "Dimas suka bersenang-senang, setelah kalian rujuk nanti, dia mungkin saja masih akan berselingkuh. Kalau suatu hari kau tidak bisa menerimanya, datanglah padaku. Aku bisa memberimu semua yang kau inginkan, dan juga membantumu mendapatkan surat cerai untuk meninggalkan Dimas selamanya."

Dia bersyukur telah menjalani tiga tahun pernikahan dengan tenang. Namun, ketika hari itu benar-benar tiba, barulah Sania menyadari bahwa dirinya tetap tidak bisa menerimanya.

Kalau Dimas menyukai sensasi seperti ini, sudah seharusnya dia mewujudkan keinginannya.

Dia mengambil ponsel, lalu mengirim pesan kepada dua orang.

Yang pertama adalah pemimpin redaksi surat kabarnya: [Aku sudah mendapatkan berita besar yang kau inginkan. Tapi aku punya satu syarat, biarkan aku yang menulis kolom kali ini. Setelah selesai, aku akan mengundurkan diri, aku ingin berganti profesi.]

Yang kedua adalah Ratih: [Bu, aku memutuskan untuk bercerai dengan Dimas. Tolong segera atur semuanya. Oh iya, aku ingin bergabung dengan Stasiun Televisi Kota Segara sebagai jurnalis kolom keuangan eksklusif.]

Tak lama kemudian, dia menerima balasan.

Balasan pertama berasal dari pemimpin redaksi: [Berita seheboh ini, ternyata Dimas Aryatama! Sania, jangan nekat dan menyesal nantinya!]

Balasan kedua berasal dari Ibunya Dimas: [Tiga hari lagi aku akan memberikan semua yang kau inginkan.]

Baru saja dia selesai membalas pesan, seorang pelayan datang mengantarkan minuman.

"Nyonya Sania, kenapa Anda bisa ada di sini?"

Mendengar suara itu, semua orang di dalam ruang privat tersebut menoleh ke arahnya.

Termasuk Dimas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 18

    "Rendra!"Saat itu, Sania panik dan menatapnya tak percaya, lalu berkata, "Kau gila? Kenapa kau harus menahan pisau itu untukku, apa kau tidak takut mati?""Karena kau juga pernah menyelamatkanku ...."Rendra menatapnya, mata hitam legamnya dipenuhi emosi yang tak bisa dipahami Sania."Sania, ternyata kau sudah mendekati Tuan Rendra! Kenapa nasibmu seberuntung itu? Aku akan membunuhmu. Kau harus mati!"Suara tajam Citra bergema di telinganya, barulah Sania bisa melihat dengan jelas siapa orang yang datang itu."Citra, ternyata itu kau! Kau berani membunuh, apa kau sudah gila?""Iya, aku sudah gila! Sejak saat Dimas mengantarku kembali ke Cakrawala Malam, dan membiarkanku diperlakukan semena-mena, aku sudah gila."Citra mengacungkan pisau, hendak menikam Sania, namun langsung ditahan erat oleh pengawal yang bergegas datang."Tuan Rendra!""Tuan Rendra, apa Anda baik-baik saja? Saya akan segera membawa Anda ke rumah sakit!"Para pengawal membawa Rendra masuk ke mobil dan langsung melaju

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 17

    Di sebuah restoran masakan barat dengan suasana elegan, Sania dengan serius memotong steak di piringnya.Setelah beberapa saat, barulah dia menyadari bahwa steak di piring Rendra hampir tidak disentuh. Sebaliknya, pria itu terus menatapnya.Tatapannya begitu intens hingga pipi Sania tanpa sadar memerah."Tuan Rendra, sepertinya Anda tidak lapar?"Baru saat itu Rendra tersenyum dan mulai memotong steaknya, "Aku hanya sedang menunggu.""Menunggu apa?""Menunggu seseorang mengingat sedikit tentangku.""Mengingat apa?"Sania mengernyitkan kening, samar-samar merasa ada firasat buruk."Bagaimana kalau kukatakan, aku tahu ada tanda lahir berbentuk kupu-kupu di pinggangmu?"Kalimat sederhana itu seketika membuat Sania murka.Dia sontak berdiri dari kursinya dan nyaris membalikkan meja di hadapannya."Pria malam itu adalah kau!"Tak heran pria di hadapannya ini, baik dari postur tubuh maupun aroma tubuhnya, terasa akrab bagi Sania.Ternyata dialah pria yang memaksanya malam itu!Tanpa ragu sed

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 16

    "Apa dia wanita malam itu?""Iya, Tuan Rendra, dialah orangnya. Selain itu, kami juga menemukan kalau dia adalah wanita yang selama ini Anda cari.""Hmm."Setelah menutup dokumen di tangannya, pria itu mengangguk dan berkata dengan suara berat, "Setelah ini selesai, kalian boleh pergi dulu.""Tapi, Tuan Rendra ...."Identitasnya Istimewa. Jelas tidak aman jika tanpa pengawal di sisinya, hal itu tentu tidak mungkin.Pengawal itu hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi begitu pria itu meliriknya, dia langsung mengangguk dan tidak berani berkata apa-apa lagi.Melihat wanita itu tampil penuh percaya diri saat melakukan wawancara, sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum penuh arti.Dia benar-benar mengira wanita yang bersamanya malam itu adalah seorang pelacur kelas atas, padahal hanyalah seorang pembawa acara.Jakunnya bergerak, teringat malam itu, saat dirinya larut dalam gairah, teringat suara napasnya yang lirih ....Setelah begitu lama melajang, mungkin sudah waktunya dia menjal

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 15

    Begitu hal itu disebut, tubuh Sania tak bisa menahan diri untuk gemetar.Dia akhirnya tak mampu lagi bersikap tenang, lalu bangkit dan menampar keras wajah Dimas."Kau masih berani membahasnya! Dimas, kalau bukan karena kau, aku tidak akan pernah diperlakukan seperti ini. Aku membencimu, aku sangat membencimu, kau tahu?"Tamparan itu membuat Dimas benar-benar tercengang.Dia mengangkat pandangannya dan hendak menjelaskan, tetapi justru melihat Sania menangis."Sania … kau … kau telah ….""Iya, bukannya itu yang kau inginkan, Dimas? Menyerahkan istrimu ke pelukan pria lain dengan tanganmu sendiri demi mendapatkan kesucian seorang primadona, tapi tidak menyangka bahwa pelacur itu ternyata sudah tidak perawan sejak lama! Lucu, kan? Menurutku ini benar-benar konyol."Sania mengangkat kepala, menyeka air mata di sudut matanya, lalu mencibir, "Kalau bukan karena ibumu, aku sama sekali tidak mau bicara sepatah kata pun denganmu! Waktumu tinggal tiga menit lagi, kalau ada yang ingin kau kataka

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 14

    Dulu, kalau melihat Citra menangis sedih seperti ini, Dimas pasti sudah luluh.Tetapi saat ini, dia hanya merasa wanita ini mengerikan dan menjijikkan!"Pengawal!"Dia menggeram pelan, dan dua pengawal langsung menerobos masuk dari luar pintu."Tuan Dimas.""Wawancara hari ini dibatalkan. Bawa Citra pergi, kembalikan ke Cakrawala Malam! Karena dia sangat suka berakting, biarkan saja dia di sana menemani para pria itu berakting seumur hidup!"Citra sudah kehilangan keanggunan dan wibawa seperti biasanya. Riasannya sudah luntur karena menangis, dan wajahnya tampak buruk.Dia meronta-ronta dengan gila, penampilannya benar-benar berantakan."Tidak! Dimas, kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini. Kau sudah berjanji akan menikahiku. Kau tidak boleh mengingkari janji. Kau bilang akan melindungiku seumur hidup. Dimas ....""Memalukan sekali! Semua orang bilang kalau Nona Citra dari Cakrawala Malam adalah wanita paling bersih di tempat hiburan itu. Walaupun sudah lima tahun berkecimpung di

  • Cinta Sebening Embun Pagi, Kini Sirna Ditiup Angin   Bab 13

    "Brak!" Kepala Sania terbentur cermin.Cermin itu seketika retak, dan darah mulai mengalir dari dahinya.Amarah yang semula dia pendam di dalam hati pun meluap sepenuhnya akibat tindakan Citra.Sania menoleh, lalu menerjang dengan penuh amarah, mencengkeram leher Citra, dan mendorong tubuhnya hingga terpojok ke sudut dinding."Kau tidak dengar apa yang baru saja kukatakan, ya? Citra, aku peringatkan kau, semua yang baru saja kau katakan sudah kurekam. Kalau kau berani menggangguku lagi, aku akan mengirimkan rekaman itu ke Dimas! Kau ingin menjadi istri sahnya Dimas? Mimpi saja!""Kau berani merekam? Kembalikan rekamannya padaku! Dasar wanita murahan!"Kepalanya terasa pusing karena diguncang, Citra mengangkat pergelangan tangannya hendak menampar Sania, tetapi dengan sigap Sania menepisnya."Masih mau membalas?"Tanpa ragu sedikit pun, Sania mengangkat kaki kanannya, lalu dengan keras menendang dada Citra menggunakan lututnya."Ah!"Citra berlutut di lantai dengan wajah pucat, keringat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status