Home / Romansa / Cinta Setelah Luka / Bab 4 Anak Pembawa Sial

Share

Bab 4 Anak Pembawa Sial

Author: Tri naya
last update Last Updated: 2023-12-26 11:47:47

Seorang wanita tua duduk di kursi roda sambil menatap ke arah jendela kamarnya. Memandangi langit cerah di pagi hari. Wajahnya tampak terlihat begitu sedih. Perempuan muda bersama lelaki setengah baya datang menghampirinya.

Netra mereka menatap dalam ke arah wanita tua tersebut. M elangkah pelan mendekati sang wanita yang tengah menatap langit itu.

Perempuan muda itu berjongkok di samping wanita tua di sebelahnya. Menggenggam tangan yang sudah mulai keriput karena termakan usia tersebut.

"Ma, kenapa melamun di kamar? Mama juga belum sarapan, bukan?" tanya perempuan muda bernama Karin tersebut.

Kayana, nama wanita tua itu. Menoleh ke arah Karin dan menatapnya datar. Kedua matanya berkaca menahan tangis. Kayana menghela napas dalam.

"Apa kau sudah menemukannya?" tanya wanita tua itu lirih.

Karin menggeleng. "Belum, Ma. Aku, Kak Kevin, dan Mas Erlan sudah berusaha mencarinya. Namun, kami belum berhasil menemukannya. Papa juga sudah berusaha mencari. Akan tetapi, hasilnya masih nihil," jelas Karin dengan wajah sedikit kesal.

"Delapan tahun sudah. Kalian belum berhasil menemukannya? Apa kota ini begitu besar hingga sulit untuk menemukan dia?" ucap Kayana kecewa.

"Ma, mungkin dia tidak tinggal di kota ini. Bisa jadi di tempat lain. Atau mungkin, ke luar negeri," ucap Karin dengan santai.

"Tempat lain? Luar negeri? Apa mungkin. Dia pergi tanpa membawa banyak uang. Jangankan untuk ke tempat lain, bahkan untuk kebutuhan sehari-harinya pun tidak akan cukup.

"Tapi kami sudah mencarinya. Dan hasilnya, kami sama sekali tidak menemukan jejaknya. Apa mungkin dia--"

"Jangan berasumsi sebelum tahu kebenarannya. Kau jangan bicara yang membuat Mama semakin sedih, Karin," ucap Kevin, menyela kalimat Karin dan mendekati sang mama.

"Seharusnya kita tidak mengusir dan membuat dia pergi dari rumah ini. Bagaimana dia menjalani hari-harinya? Mengurus kandungannya? Apa benar kalau dia sudah--"

"Ma, jangan terlalu berpikir keras. Kevin akan cari dia sampai ketemu," ucap Kevin yang kali ini menyela kalimat mamanya. Pria itu tidak ingin jika sang mama bertambah sedih.

Sejak kepergian anak bungsunya delapan tahun lalu, Kayana sering sakit-sakitan, bahkan kini ia harus menghabiskan waktu duduk di kursi roda. Sementara suaminya, juga sering mengalami gangguan pada lambung dan jantungnya.

Kedua orang tua itu terus memikirkan sang anak. Mereka menyesal telah bertindak mengikuti emosi yang membuat si bungsu pergi meninggalkan rumah dengan terpaksa.

Karin semakin membenci adiknya, sebab ia harus repot mengurus kedua orang tua yang sakit-sakitan karena terus memikirkan adik bungsunya tersebut. Kevin yang selalu menjadi penengah. Pria itu menyayangi orang tua dan adik-adiknya.

Karin keluar begitu saja dari kamar Kayana dengan kesal. Wanita itu sudah muak dengan sikap mamanya yang selalu memikirkan adik bungsu yang diusirnya delapan tahun lalu.

Karin membuka dan menutup kasar pintu kamar. Membuat Erlan, sang suami yang tengah bersiap untuk berangkat ke kantor terperanjat. Pria tinggi berkulit sawo matang dengan sedikit jambang di kanan kiri wajahnya itu mendekati Karin yang sudah menjatuhkan bagian bawah tubuhnya ke ranjang.

"Ada apa? Kenapa kau begitu kesal sekali?" tanya Erlan sambil duduk di sampingnya.

"Aku kesal dengan mama. Kenapa selalu saja memikirkan anak pembawa sial itu terus? Padahal anak itu saja tidak ingat pada keluarga dan datang ke sini," omel Karin sambil melipat kedua tangannya di perut.

"Bukan kau sendiri yang mengusir dan mengancamnya agar tidak kembali lagi ke rumah ini?" tanya Erlan mencoba mengingatkan Karin dengan kejadian delapan tahun silam.

"Aku pikir, setelah mengusir anak pembawa sial itu hati mama jadi membaik dan tidak sakit-sakitan. Namun kenyataannya, mama terus memikirkan anak sialan itu. Papa juga, sakit karena terus teringat anak tidak tahu diri itu," omel Karin semakin menjadi memakai adik bungsunya.

"Kita sudah berusaha mencarinya. Namun, belum menemukan dia sama sekali. Apa dia di telan bumi sampai tak terlihat, bahkan jejaknya pun tak ada?"

"Apa dia mati?"

"Kalau dia mati pasti ada jasadnya. Tapi, ini tidak."

"Ya sudah. Jangan terlalu memikirkan hal itu. Pikirkan soal progam kehamilanmu. Kapan kau akan melakukan pemeriksaan lanjutan?" tanya Erlan, mengubah topik agar Karin tak semakin kesal.

"Lusa kita ke rumah sakit. Kau tidak sibuk dan bisa mengantarku, bukan?" ucap Karin sambil menghela napas.

"Emm, aku akan mengantarmu besok. Aku berangkat kerja dulu," ucap Erlan sambil mengecup kening Karin.

***

Dua hari kemudian, tampak kondisi Kaivan sudah semakin membaik. Meski belum bisa menggerakkan tangan dan kaki kirinya. Namun, setidaknya ia sudah bisa duduk serta di pindahkan ke ruang perawatan. Ferdinan menunggu dengan setia sahabat tercintanya tersebut.

Kaivan tampak melirik ke arah sekitar. Ferdinan yang sejak tadi memperhatikan, menaruh curiga pada Kaivan yang terlihat gelisah.

"Ada apa? Apa yang kau cari?" tanya Ferdinan dengan curiga.

"Emm, aku tidak melihat dokter cantik itu datang," jelas Kaivan sambil terus mengedarkan pandangan.

"Maksudmu ...."

"Dokter Kaira," sela Kaivan sambil terus mencari.

Aktivitasnya terhenti saat ada suara pintu di ketuk. Kaivan senang, sebab merasa itu adalah Kaira. Namun, ketika pintu terbuka dan dua orang masuk menghampirinya, ia kecewa sebab ternyata Dokter Harun dan Perawat Nuning yang datang.

"Pagi, Tuan Kaivan," sapa Dokter Harun sambil tersenyum.

"Pa--pagi, Dok," ucap Kaivan datar.

"Bagaimana kondisi Anda hari ini? Apa ada keluhan?" tanya dokter muda itu sambil memeriksa Kaivan.

"Sedikit nyeri pada tangan dan kaki. Kepala saya juga terkadang nyeri saat berdenyut," jelas Kaivan menceritakan apa yang ia rasakan pasca operasi empat hari yang lalu.

"Tidak apa, itu efek dari luka Anda. Obatnya di minum secara teratur, ya. Supaya Anda tidak merasakan nyeri lagi," ucap Harun sambil melingkarkan stetoskop di lehernya.

"Iya, Dok. Emm, omong-omong, Dokter Kiara ke mana, ya? Saya tidak melihatnya beberapa hari ini," ucap Kaivan sambil menanyakan prihal Kaira.

"Dokter Kaira sedang sibuk operasi. Ada beberapa pasien yang membutuhkan pertolongannya. Selain itu, ia juga sedang mengajar training di sebuah universitas," jelas Harun dengan lembut, tanpa menaruh curiga sedikit pun.

"Oh."

Kaivan menjawab singkat sambil membulatkan mulutnya. Ada rasa khawatir dan kecewa karena tidak adanya dokter cantik tersebut.

"Kondisi Anda sudah mulai membaik. Tiga sampai empat hari lagi, Anda sudah bisa mengenakan kursi roda untuk melakukan aktivitas," jelas Harun dengan wajah serius.

"Sampai kapan saya harus duduk di kursi roda?" tanya Kaivan yang mulai mengkhawatirkan dirinya tidak bisa berjalan seperti semula kembali.

"Sampai luka bekas operasinya mengering dan tertutup sempurna. Anda juga harus menjalankan terapi untuk pemulihan."

"Apa saya bisa berjalan dan beraktivitas normal kembali nantinya?"

"Tentu saja."

"Berapa lama?"

"Tergantung dari seberapa cepat tubuh Anda pulih."

Dokter Harun menjelaskan semua kondisi Kaivan. Pemuda tampan bermata elang itu tampak pesimis dengan kesembuhannya. Namun, Harun selalu memberikan semangat untuk dirinya agar bisa pulih kembali.

Dokter Harun meninggalkan ruangan usai melakukan pemeriksaan medis kepada Kaivan. Pria berhidung mancung dengan lesung di kedua pipinya itu yang tampak saat ia tersenyum tampak melamun memikirkan nasibnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Setelah Luka   Bab 104 Hukuman Untuk Kanza

    "Ka--kau ini bicara apa, sih, Kai," ucap Kanza dengan gugup."Kalau Mami tidak menjualnya, biarkan aku memilihkannya untuk Mami," ucap Kaivan sambil melangkah menuju kamar Kanza."Kaivan!""Ini ada apa, sih? Kenapa ribut sekali, sampai tidak mendengar suaraku," ucap Karan saat tiba di rumah."Papi.""Ini loh, Pi Kaivan. Dia ....""Kaivan hanya ingin membantu Mami mencari gaun, tas, sepatu, dan perhiasan yang cocok untuk acara besok. Beberapa hari lalu aku sudah belikan semua untuk Mami, tapi Mami malah larang," jelas Kaivan menyindir Kanza."Bu--bukan begitu, Pi. Mami mau cari sendiri, tapi anak kesayanganmu ini malah maksa mau cari," alasan Kanza, berharap dapat pembelaan dari suaminya."Aku hanya ingin membantunya saja. Apa salah jika aku ingin melakukannya sendiri? Siapa tahu ada yang tidak cocok," alasan Kaivan dengan sengaja."Bukan begitu, Pi. Mami ....""Sudahlah, Mi. Biarkan Kaivan melakukannya. Memang kenapa, sih kalau anaknya mau bantu?" ucap Karan mencoba menengahi."Kaivan

  • Cinta Setelah Luka   Bab 103 Kemarahan Kaivan

    "Ini banyak sekali. Kenapa kau hamburkan uang begitu banyak untuk membeli semua ini? Nanti uangmu habis bagaimana?" protes Kaira yang terkejut dengan hadiah mahal dari suami tersayangnya itu."Ini tidak seberapa, aku akan belikan seluruh isi mal untukmu. Dunia pun akan aku berikan untukmu," jelas Kaivan sambil menatap Kaira lembut."Tidak usah menggombal. Apa mamimu datang menemuimu dan menguras uangmu? Kau merasa bersalah denganku dan menebusnya dengan membeli hadiah sebanyak ini?" curiga Kaira."Kau ....""Kenapa? Ingin memarahiku di depan Kiara?" tanya Kaira sambil mendelik."Aku baru pulang kau malah marah dan mencurigaiku. Kau keterlaluan," ucap Kaivan sedikit merajuk.Kaira tersenyum, tidak tahan melihat ekspersi menggemaskan Kaivan."Ekspresi apa itu? Jangan merajuk, aku hanya menggodamu," ucap Kaira sambil tersenyum."Kau! Beraninya menggodaku! Tidak tajut aku hukum?" protes Kaivan."Sudahlah, jangan merajuk. Aku sudah buatkan kukis kesukaanmu. Kau pergilah mandi, aku akan sia

  • Cinta Setelah Luka   Bab 102 Mengantar Kanza

    "Mi, sebaiknya Mami pulang saja. Aku masih banyak pekerjaan. Tolong jangan memaksaku," ucap Kaivan setenang mungkin meski hatinya kesal dengan sikap maminya yang selalu membantu Karin dan Tasya.Meski Kanza tidak mengetahui jika Kaivan sudah mengetahui semua perlakuan maminya. Namun, Kaivan harus tetap berhati-hati agar Kanza tidak curiga padanya."Mami tidak mau pulang! Kai, kau harus kasih Mami uang. Bantu Mami, Kai," tolak Kanza yang mendesak Kaivan meminta uang."Mi, aku sudah bilang, bukan? Aku tidak ada uang. Keuangan perusahaan sedang goyah. Lagi pun, aku sudah memberikan uang banyak kepada Mami dua minggu lalu," jelas Kaivan yang masih tenang menghadapi maminya."Tiga ratus juta mana cukup, Kai? Kebutuhan Mami banyak. Beli make up, skin care, perawatan, belum lagi buat arisan dengan teman-teman Mami dan beli kebutuhan Mami yang lain," protes Kanza dengan sedikit kesal."Mi, itu banyak. Baru dua minggu loh. Bahkan Mami masih bisa menabung. Belum lagi dari Papi. Jika di total sa

  • Cinta Setelah Luka   Bab 101 Kedatangan Kanza ke Kantor Kenan

    'Kai, bantu Mami. Mami butuh uang.'Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Kaivan. Pemuda itu mengambil benda pipih yang tergeletak di meja kerjanya. Mengerutkan kedua alisnya menatap layar ponsel."Pasti Mami mau bantu Tasya dan Karin. Kenapa Mami masih bekerja sama dengannya, padahal sudah jelas-jelas mereka bukan orang baik-baik?" monolog Kaivan geram."Aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku menangkap Mami dan menyekapnya, lalu membuat Mami mengaku. Pasti tidak akan berhasil. Mami sangat licik dan pandai mengelak. Pasti akan ada drama besar dibuatnya," monolog Kaivan kembali.'Kai, kenapa tidak menjawab dan mengabaikan Mami?'Ting!Ponsel Kaivan kembali berbunyi. Sebuah notifikasi kembali masuk. Kaivan kembali melihatnya. Namun, tidak membuka watsapp-nya.Ponsel Kaivan kembali berbunyi, kali ini wanita tua itu menelepon Kaivan karena kesal pesannya diabaikan oleh sang putra. Kaivan menghela napas kasar. Menantap ke arah ponsel yang terus berdering.Berkali-kali ponsel Kaivan berderin

  • Cinta Setelah Luka   Bab 100 Mereka Melarikan Diri

    Kaira memberondong Kaivan dengan pertanyaan-pertanyaan. Rasa Khawatir menjalar ke diri wanita itu. Kaira memegang kening suaminya dan menatap wajah tampannya yang sedikit pucat."Mas, kau ....""Aku baik-baik saja, Sayang. Hanya sedikit lelah karena tadi banyak sekali pekerjaan," jelas Kaivan sambil menggenggam kedua tangan Kaira dan menatapnya dalam."Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Wajahmu sedikit pucat. Bersihkan dirimu aku buatkan obat dan makanan ya."Kaira bernapas lega mendengar suaminya baik-baik saja, meski sedikit khawatir. Kemudian, meminta lembut pada sang suami. Kaira menuntun Kaivan ke kamar, lalu wanita menyiapkan keperluan Kaivan. Lepas itu, Kaira membuatkan obat dan makanan.Usai mandi, Kaivan menghampiri Kaira yang masih sibuk menyiapkan makan dan obat di meja makan. Pemuda itu duduk di kursi sambil memainkan ponselnya, menunggu sang istri selesai.'Maafkan aku, Kaira. Belum bisa menceritakan semua padamu. Aku tidak ingin kau menjadi khawatir memikirkannya. Setel

  • Cinta Setelah Luka   Bab 99 Kekesalan Kaira

    "Sudah lah Ma, Pa, jangan berlebihan. Aku baik-baik saja. Sudah biasa menghadapi semuanya sendiri. Tidak perlu menkhawatirkan aku," ucap kaira dengan kesal."Kaira, kami ....""Ma, Pa. Sebaiknya kita makan siang dulu. Pasti kalian sduah lapar karena perjalanan jauh, bukan?' potong Kaira yng tidak ingin melanjutkan perdebatannya dengan kedua orang tua Kaira.”Mas, ada apa? Sepertinya kau lelah sekali? Apa ada masalah di kantor?" "Kami tidak lapar," ucap Kamran pelan."Kaira, kami hanya ...."Ayolah, jangan sungkan. Bukankah kalian bilang aku ini anak kalian? Kenapa harus sungakn?" bujuk Kaira lembut.Mereka pun berhenti berdebat dan menerima ajakan Kaira untuk makan siaang bersama, meski Kaira masih merasa sakit hati dengan Kamran dan Kanaya. Namun, bagaimana pun juga mereka tetaplah orang tua kandung Kaira."Bagaimana kondisi Papa pasca operasi beberapa waktu lalu?" tanya Kaira di tengah obrolan makan siangnya.Kamran menghela napas sedikit kasar. Papa baik-baik saja. Bahkan semakin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status