LOGINDelapan tahun bukanlah waktu singkat untuk bisa kembali berhadapan dengan masa lalu. Melupakan trauma yang pernah di alami. Membalut luka yang tergores begitu dalam. Trauma di alami hingga nyaris bunuh diri. Itulah yang di alami Kaira Jharna Fahar. Mampukah bertahan? Bagaimana menghadapi kemelut di dalam hati yang selama ini membelenggunya? Di hadapkan dengan orang di masa lalunya. Temukan jawabannya, hanya di 'Cinta Setelah Luka'
View MoreKaira melangkah gamang menyusuri korodor rumah sakit. Hatinya masih memikirkan Erlan. Pikirannya jadi terganggu semenjak pertemuan dirinya dengan Erlan beberapa waktu lalu. 'Mas Erlan, kenapa kau jadi seperti ini? Maafkan aku, seharusnya, kita tidak pernah bertemu dan menjalin hubungan sehingga kau tidak harus mengalami semua ini,' batin Kaira.Wanita berparas cantik itu tidak memperhatikan langkahnya hingga ia menabrak Harun yang berjalan berlawanan arah dengannya. Beruntung, ia menangkap Kaira dengan cepat, jika tidak, pasti ia akan terjatuh."Astagfirullah. Kaira. Kau baik-baik saja?" ucap Harun dengan terkejut sambil meraih tubuh Kaira."Ka--Kak Harun. Ma--maaf, Kak. Aku tidak melihatmu," ucap Kaira gugup."Kau melamun sampai tidak melihatku?" tanya Harun penasaran sambil membantu Kaira berdiri dengan baik.Kaira menghela napas sedikit kasar. Menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil melipat kedua tangannya di perut. "Ada apa?" tanya Harun semakin penasaran."Kita bicara di ruanga
Kaira melangkah gamang menuju ruangannya. Pikirannya melayang ke awang-awang. Perasaannya campur aduk tak menentu. Lagi-lagi perempuan itu menabrak seseorang dan hampir tumbang. Beruntung, orang itu langsung menangkapnya."Astaghfirullah, Kaira. Apa kau tidak melihat jalan sampai menabrak ku?" ucap orang itu yang ternyata Harun."Ka--Kak Harun. Maaf, Kak. Aku tidak berjalan dengan baik sampai menabrak mu," jelas Kaira dengan sedikit gugup."Sejak di ruang operasi, kau Tidka konsentrasi dan hampir membuat celaka pasien. Kau juga berjalan tidak melihat jalan. Kau ini kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Kau bertengkar dengan suamimu?" ucapnya sedikit mencecar.Kaira menghela napas sedikit kasar dan melipat tangannya ke dada. Menatap sekilas ke arah Harun dan memalingkannya."Kaira," panggil Harun lembut.Sebenarnya ... tadi aku ketemu Mas Erlan," ucapnya lirih."Erlan? Erlan mantan suami Karin?" ulangnya."Iya.""Memangnya apa yang dia katakan sampai kau seperti ini? Apa yang dia
Karin dan Tasya tampak mondar-mandir di sebuah apartemen sederhana di kota J. Mereka terlihat kesal dan gelisah. Kedua tangannya mengepal menahan amarah."Aduh, bagaimana ini? Tante Kanza sudah hampir tiga bulan tidak mengirimkan uang. Kabar pun tidak ada. Aku coba menghubungi pun tidak bisa," ocah Karin kesal."Aku juga tidak tahu. Persediaan makanan menipis. Uang juga tinggal sedikit, tidak akan cukup sampai akhir bulan ini," lanjut Tasya yang juga kesal."Kita harus cari cara supaya bisa keluar dari sini, tidak bisa terus menerus di tempat ini. Jika tidak, kita bisa mati kelaparan," ucp Karin."Tapi bagaimana? Kita tidak punya cukup uang untuk pergi dari sini. Tante Kanza sudah dua bulan tidak ada kabar," jelas Tasya."Kau kenapa tidak meminta bantuan orang tuamu? Mereka kaya raya, pasti bisa mengirimkan uang untuk kita," saran Karin."Kau pikir semudah itu? Kalau mereka mendukungku sejak awal, kita tidak akan kesusahan seperti ini," kesal Tasya."Ini semua gara-gara Kaira. Jika an
Kaira menghela napas kasar. "Iya, Kak. Makanya aku kesal sekali. Aku merasa tidak nyaman dan bebas. Sudah seperti tawanan saja," kesalnya sambil bersedakep dan memonyongkan sedikit bibirnya."Aku rasa itu bagus. Kaivan ingin melindungimu dan Kiara. Dia terlalu khawatir dengan kalian. Oleh karena itu lah, Kaivan melakukan ini semua," jelas Harun dengan wajah serius."Iya, sih, tapi kan aku jadi merasa tidak bebas.""Itu karena kau belum terbiasa. Nanti kau akan terbiasa.""Kau mendukungnya?""Jika itu demi kebaikan dan keselamatanmu dan Kiara, kenapa tidak.""Menyebalkan.""Hei! Kau mau ke mana?"Kaira melenggang pergi dengan kesal. Pasalnya, Harun mendukung Kaivan, hal itu membuat Kaira sia-sia berbicara dengan pemuda itu. Harun mengikuti langkah Kaira keluar ruangan.~~~Kaira keluar dari lobi rumah sakit, ia sudah disambut dengan anak buah Kaivan yang sudah berdiri menunggunya."Selamat sore, Nyonya," ucap salah seorang anak buah Kaivan."Sore. Kalian ....""Kami diperintahkan Tuan
Kaira menatap dalam ke arah Harun. Menelan ludah dan mengatur napas yang sedikit tersengal. Mencoba untuk tenang agar sang kakak tidak khawatir."Kaira," panggil Harun lembut."Kak, Mas Kaivan sudah mengetahui prihal keluarga kandungku. Ternyata, dia sudah tahu jauh sebelum aku menikah dengannya. Namu
Kaivan mengejar Kaira yang melangkah cepat ke kamar dan langsung membanting pintu. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di ranjang sambil menangis. Air mata yang sejak tadi di bendung itu pun tumpah. Kaivan berusaha membuka pintu dan memanggil Kaira."Kaira, buka pintunya, Sayang. Aku mau masuk. Kaira, Ka
Kaivan yang tengah tertunduk di kursi tunggu mendongak. Pria itu terkejut akan kehadiran Harun yang sudah berdiri di hadapannya dengan wajah penasaran."Ka--Kak Harun," ucap Kaivan dengan sedikit gugup."Apa yang terjadi?" tanya pria berkumis tipis dengan paras manis tersebut kembali semakin penasaran
Kaivan memperhatikan Kaira dari kejauhan. Tatapannya begitu tajam penuh kekhawatiran. Pria itu ikut bernapas lega karena Kaira telah berhasil menyelamatkan pasiennya. Senyum kecil mengembang di sudut bibirnya."Kau melakukannya dengan baik, Sayang," ucap Kaivan lirih tanpa melepaskan pandangannya sam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews