LOGINBegitu lampu menyala. Seketika tubuh Lyn lemas. Ia membenturkan pelan dahinya ke dada bidang Mike."Sialan kamu, Mike! Kamu membuatku panik ketakutan seperti orang gila," omel Lyn.Melihat terangnya cahaya lampu, Mike sudah berangsur tenang. Kini napasnya mulai stabil. Ia mengelus kepala Lyn pelan, "ma-maaf..." ucapnya pelan.Lyn memejamkan matanya, menyisakan air mata di pelupuk mata.Tak beberapa lama ia membuka mata dan menatap Mike."Maaf katamu? Enteng banget ya ngomong maaf," kata Lyn tidak senang.Melihat mata Lyn yang berair dan sembab, Mike tanpa sadar mengusap bawah mata Lyn dengan lembut."Maaf, membuatmu panik dan kesal. Aku akan terima hukumannya," ucap Mike.Lyn menghela napas panjang, lalu bangun dari posisinya duduk."Sudahlah. Untung saja kamu nggak kenapa-kenapa di rumahku," kata Lyn ketus.Mike tersenyum, ia perlahan bangun meski tubuhnya sedikit lemah.Melihat Mike yang kesusahan bangun, Lyn membantu meski sambil mengomel."Kamu... jangan lagi kayak gini. Aku ngga
Lyn mengajak Mike mengobrol seputar pekerjaan. Keduanya terlihat begitu nyambung saat membicarakannya.Keduanya saling menyampaikan pengalaman-pengalaman daripada pekerjaan masing-masing."Pernah nggak sih kamu ngadepin klien yang sulitnya minta ampun? Sampai mikir gini, duh nyesel aku ikutan datang. Lain kali biar Asisten aja yang ngurusin. Padahal kita ikut nemuin Klien karena jenuh di kantor. Jenuhnya bukannya ilang malah ketambahan jadi kesel," tanya Lyn ingin tahu.Mike diam berpikir beberapa saat."Oh, pernah dua kali. Pertama kali ngadepin klien yang susah tuh pas aku iseng ikut Jeremy sih. Pengennya cuci mata malah jadi cuci otak. Kedua kalinya aku bantu Jeremy karena dia ngerasa kesulitan. Dan terjadi lagi hal yang sama. Pokoknya setelah itu aku nggak mau lagi nemuin klien nggak jelas. Kalaupun klien minta ketemuan sama aku, minimal aku punya biodata atau profilnya dulu, supaya tahu orangnya kayak gimana. Seenggaknya aku bisa punya gambaran lah ya. Oh, orang ini nanti kayak g
Deg! Deg! Deg!Tangan Mike menumpu atas meja, ibu jarinya bersentuhan dengan jari kelingking Lyn."Kok rasanya aku lagi didekap beruang besar ya?" pikir Lyn dalam hati."Lyn, yang ini bukan?" tanya Mike.Menurunkan sebuah kotak putih berukuran besar.Lyn sedikit terkejut, ia menadahkan kepala dan menatap kotak yang dipegang Mike."Ya, itu. Berikan padaku," jawab Lyn.Mike meletakkan kotak itu di atas meja, "apa isinya? Lumayan berat," tanya Mike."Gelas," jawab Lyn. Yang langsung membuka kota tersebut."Oh," sahut Mike ber-oh ria.Mike berdiri di samping Lyn, mengamati Lyn."Butuh bantuan?" tanya Mike menawari.Lyn menyodorkan dua mug baru saja ia keluarkan dari dalam kotak."Tolong cucikan mug-nya, bisa?" tanya Lyn."Ok," jawab Mike.Mike mengambil dua mug dan membawanya untuk dicuci. Dan pada saat mencuci mug itulah Mike akhirnya ingat sesuatu.Jika sandal yang ia kenakan mirip dengan mug berisikan cokelat panas yang sebelumnya Lyn berikan padanya.Pada saat mencuci mug, Mike meliha
Mike dan Lyn keluar dari dalam lift bersamaan. Keduanya berjalan menuju unit masing-masing.Lyn berdiri di depan unitnya, begitu juga Mike.Keduanya saling diam untuk beberapa saat."Itu..." kata Mike"Anu..." kata Lyn.Keduanya membuka suara pada saat bersamaan."Kamu duluan..." kata Mike dan Lyn bersamaan lagi.Keduanya langsung tersenyum karena merasa situasinya lucu."Kamu aja dulu. Mau ngomong apa?" tanya Mike menatap Lyn."Hm... Makasih ya sudah mau membantuku," kata Lyn menatap Mike."Bukan hal besar. Santai saja. Toh ini juga demi perusahaanku. Jadi kita sama-sama untung," jawabnya."Oh ya... Soal yang sebelumnya..." kata Lyn yang langsung diam."Sebelumnya?" tanya Mike bingung."Itu lho..." sahut Lyn."Itu apa?" tanya Mike lagi."Aduh, itu lho Mike..." kata Lyn."Itu apa, Lyn? Ngomong dong. Misterius banget sih kamu," sahut Mike tak mengerti."Soal kita yang tidur seranjang itu... Aku belum sempat minta maaf. Maaf, sudah nendang kamu. Aku kaget dan panik jadi spontan nendang,
Malam harinya... Jonathan dan putrinya duduk menunggu kedatangan Mike dan Lyn di meja makan. Dibelakang mereka berdiri Asisten. Jonathan menatap Asistennya,"sudah kamu selidiki belum pihak Harrez itu beneran kerjasama sama Valentine Lyra atau enggak?" tanyanya. "Sedang dalam proses penyelidikan, Pak." jawab Asisten. "Kalau benar mereka yang menipu, aku nggak akan tinggal diam." kata Jonathan tidak senang. Putri Jonathan menatap Jonathan, "ada apa, Pa? Kak Lyn nggak jadi datang?" tanyanya. "Jadi kok. Kamu tenang aja. Kalian pasti bertemu," jawab Jonathan. Putri Jonathan tersenyum cantik. Ia sangat menantikan pertemuannya dengan Lyn. Pintu ruang VIP terbuka, dari luar Mike dan Lyn masuk bersamaan. Terlihat Lyn masuk dengan mengenakan topeng dan gaun hitam yang kontras dengan warna kulitnya. Jonathan berdiri, begitu juga putrinya. "Apa kami terlambat?" tanya Mike. "Tidak, tidak. Kami juga baru sampai dan duduk," jawab Jonathan. Mike dan Jonathab bersalaman. Jonathan menat
Irene duduk diam, Mike juga diam. Sedangkan Lyn terlihat bingung melihat dua lawan bicaranya diam saja.Lyn menjentikkan jarinya.Tik!"Hei, kalian kenapa diam saja. Bicara dong! Jadi nggak enak tahu suasananya," kata Lyn merasa canggung."Ehemm..." Mike berdehem.Mike menatap Irene, "karena kamu sudah tahu soal Lyn, tolong rahasiakan ini dulu. Jangan sampai kantor heboh." katanya mengingatkan Irene.Irene menganggukkan kepala, "saya mengerti, Pak." jawabnya.Irene manatap Lyn, "maafkan saya yang terlambat mengenali anda, Bu." katanya."Eh, ngapain minta maaf. Ayolah, jangan seformal ini. Santai saja kaya biasa," kata Lyn."Tapi, Bu..." sahut Irene merasa tidak enak."Sudah, sudah. Soal ini kita skip saja. Lanjut bahas soal kerjasama kita dengan MG," kata Lyn mengalihkan topik.Ponsel Irene berdering, ia mendapat panggilan dari Asisten Jonathan."Dari Asisten Pak Jonathan," kata Irene. Menatap Mike dan Lyn bergantian."Angkat dan aktifkan pengeras suara," perintah Mike.Irene mengangg







