Se connecterMike dan Lyn sarapan bersama. Lyn begitu menikmati nasi goreng buatan Mike, sampai menghabiskan satu piring penuh dengan tambahan dua butir telur ceplok.Mike tersenyum, melihat piring kosong Lyn."Gimana? Enak?" tanyanya.Lyn selesai minum, meletakkan gelas ke atas meja."Lumayan," jawab Lyn."Lumayan? Tapi sepiring penuh habis? Kelaperan apa gimana?" ejek Mike.Lyn menatap Mike, "berisik!" katanya."Udahlah, Lyn. Ngaku aja. Enak 'kan?" goda Mike."Aku bilang lumayan ya lumayan. Belum seenak buatanku tuh," jawab Lyn tak mau menuruti perkataan Mike untuk mengaku."Wah... Kamu mau ngajak lomba masak nasi goreng sama aku?" jawab Mike."Hah? Apaan sih. Enggak lah. Ngapain juga ngajakin kamu lomba. Capek dan ribet pastinya," tolak Lyn."Ya sudah. Kalau menurutmu lumayan. Besok-besok aku perbaiki resepnya biar makin enak," kata Mike."Eh... Aku nggak bilang kamu perlu perbaiki resep kok. Lumayan 'kan bukan berarti nggak enak," sahut Lyn."Sudahlah. Lupain aja nasi gorengnya. Kita bahas ha
Lyn membubarkan semua orang. Termasuk dokter dan Nana. Setelah mengantar Nana dan yang lain pergi, Lyn langsung mengajak Mike pergi."Ayo..." ajak Lyn. Menatap Mike."Ya? A-ayo ke-kemana?" tanya Mike bingung."Ya pulang lah. Kamu nggak mau pulang?" tanya Lyn."Ah... Kamu mau nganterin aku pulang maksudnya?" tanya balik Mike."100 buatmu. Pinter," jawab Lyn memuji.Mike berdiri perlahan, saat melangkah tubuhnya sempat terhuyung dan Lyn langsung menarik tangan Mike lalu merangkulnya erat."Eh, hati-hati. Jangan sampai kamu jatuh dan mengotori lantai rumahku," kata Lyn."Nanti aku bersihkan, kalau perlu aku ganti lantainya dengan yang baru," jawab Mike."Banyak omong kamu ini. Ayo, cepetan..." sahut Lyn.Lyn akhirnya memapah Mike pergi meninggalkan unitnya dan pergi ke unit Mike.Di depan pintu unit Mike, tangan Lyn bergerak cepat memadukkan kode sandi pintu dan setelah akses kunci diterima, ia langsung membuka pintu lebar-lebar dan membawa Mike masuk ke dalam."Kamu yakin nggak ke rum
Begitu lampu menyala. Seketika tubuh Lyn lemas. Ia membenturkan pelan dahinya ke dada bidang Mike."Sialan kamu, Mike! Kamu membuatku panik ketakutan seperti orang gila," omel Lyn.Melihat terangnya cahaya lampu, Mike sudah berangsur tenang. Kini napasnya mulai stabil. Ia mengelus kepala Lyn pelan, "ma-maaf..." ucapnya pelan.Lyn memejamkan matanya, menyisakan air mata di pelupuk mata.Tak beberapa lama ia membuka mata dan menatap Mike."Maaf katamu? Enteng banget ya ngomong maaf," kata Lyn tidak senang.Melihat mata Lyn yang berair dan sembab, Mike tanpa sadar mengusap bawah mata Lyn dengan lembut."Maaf, membuatmu panik dan kesal. Aku akan terima hukumannya," ucap Mike.Lyn menghela napas panjang, lalu bangun dari posisinya duduk."Sudahlah. Untung saja kamu nggak kenapa-kenapa di rumahku," kata Lyn ketus.Mike tersenyum, ia perlahan bangun meski tubuhnya sedikit lemah.Melihat Mike yang kesusahan bangun, Lyn membantu meski sambil mengomel."Kamu... jangan lagi kayak gini. Aku ngga
Lyn mengajak Mike mengobrol seputar pekerjaan. Keduanya terlihat begitu nyambung saat membicarakannya.Keduanya saling menyampaikan pengalaman-pengalaman daripada pekerjaan masing-masing."Pernah nggak sih kamu ngadepin klien yang sulitnya minta ampun? Sampai mikir gini, duh nyesel aku ikutan datang. Lain kali biar Asisten aja yang ngurusin. Padahal kita ikut nemuin Klien karena jenuh di kantor. Jenuhnya bukannya ilang malah ketambahan jadi kesel," tanya Lyn ingin tahu.Mike diam berpikir beberapa saat."Oh, pernah dua kali. Pertama kali ngadepin klien yang susah tuh pas aku iseng ikut Jeremy sih. Pengennya cuci mata malah jadi cuci otak. Kedua kalinya aku bantu Jeremy karena dia ngerasa kesulitan. Dan terjadi lagi hal yang sama. Pokoknya setelah itu aku nggak mau lagi nemuin klien nggak jelas. Kalaupun klien minta ketemuan sama aku, minimal aku punya biodata atau profilnya dulu, supaya tahu orangnya kayak gimana. Seenggaknya aku bisa punya gambaran lah ya. Oh, orang ini nanti kayak g
Deg! Deg! Deg!Tangan Mike menumpu atas meja, ibu jarinya bersentuhan dengan jari kelingking Lyn."Kok rasanya aku lagi didekap beruang besar ya?" pikir Lyn dalam hati."Lyn, yang ini bukan?" tanya Mike.Menurunkan sebuah kotak putih berukuran besar.Lyn sedikit terkejut, ia menadahkan kepala dan menatap kotak yang dipegang Mike."Ya, itu. Berikan padaku," jawab Lyn.Mike meletakkan kotak itu di atas meja, "apa isinya? Lumayan berat," tanya Mike."Gelas," jawab Lyn. Yang langsung membuka kota tersebut."Oh," sahut Mike ber-oh ria.Mike berdiri di samping Lyn, mengamati Lyn."Butuh bantuan?" tanya Mike menawari.Lyn menyodorkan dua mug baru saja ia keluarkan dari dalam kotak."Tolong cucikan mug-nya, bisa?" tanya Lyn."Ok," jawab Mike.Mike mengambil dua mug dan membawanya untuk dicuci. Dan pada saat mencuci mug itulah Mike akhirnya ingat sesuatu.Jika sandal yang ia kenakan mirip dengan mug berisikan cokelat panas yang sebelumnya Lyn berikan padanya.Pada saat mencuci mug, Mike meliha
Mike dan Lyn keluar dari dalam lift bersamaan. Keduanya berjalan menuju unit masing-masing.Lyn berdiri di depan unitnya, begitu juga Mike.Keduanya saling diam untuk beberapa saat."Itu..." kata Mike"Anu..." kata Lyn.Keduanya membuka suara pada saat bersamaan."Kamu duluan..." kata Mike dan Lyn bersamaan lagi.Keduanya langsung tersenyum karena merasa situasinya lucu."Kamu aja dulu. Mau ngomong apa?" tanya Mike menatap Lyn."Hm... Makasih ya sudah mau membantuku," kata Lyn menatap Mike."Bukan hal besar. Santai saja. Toh ini juga demi perusahaanku. Jadi kita sama-sama untung," jawabnya."Oh ya... Soal yang sebelumnya..." kata Lyn yang langsung diam."Sebelumnya?" tanya Mike bingung."Itu lho..." sahut Lyn."Itu apa?" tanya Mike lagi."Aduh, itu lho Mike..." kata Lyn."Itu apa, Lyn? Ngomong dong. Misterius banget sih kamu," sahut Mike tak mengerti."Soal kita yang tidur seranjang itu... Aku belum sempat minta maaf. Maaf, sudah nendang kamu. Aku kaget dan panik jadi spontan nendang,







