Teilen

Bab 5

Nasgor
“Sudahlah, jangan terlalu kekanak-kanakan dan cemburu begitu. Kamu harus lebih banyak mengalah dan membimbing anak muda.”

“Sudah ya, aku nggak punya waktu bicara lagi denganmu. Ada urusan yang harus kuselesaikan di sini.”

Sebelum aku sempat bersuara, Evan langsung mematikan teleponnya.

Aku terduduk di tepi ranjang pasien, mengepalkan kedua tangan erat-erat demi menekan gejolak emosi di dalam dada. Mataku menyiratkan rasa sakit yang teramat sangat.

Aku tidak menyangka, benar-benar tidak menyangka. Bahwa seorang Evan, kini bisa berubah menjadi sosok yang mengerikan seperti ini.

Pria yang dulu matanya berkaca-kaca saat menyatakan cinta, yang berkata akan melakukan apa saja demi meneliti robot untukku, dan yang berjanji ingin aku berumur panjang ... kini justru berkata, “apa perlu sampai berlebihan begini?”

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengenyahkan segala pikiran kalut yang berkecamuk di dalam otak. Aku pun bangkit berdiri untuk membereskan barang-barangku, lalu melangkah keluar dari kamar rawat.

Baru saja keluar dari ruangan, aku langsung menangkap siluet punggung Evan dari kejauhan. Saat ini, dia sedang memapah Kamila dengan sangat hati-hati.

Meski tidak bisa melihat wajahnya secara langsung, aku dapat merasakan betapa cemas dan pedulinya dia terhadap Kamila saat ini.

Mungkin karena merasakan tatapanku, Evan mendadak menoleh dan pandangan kami pun bertemu.

Saat melihatku, kilatan kepanikan sempat melintas di kedua matanya.

Aku tidak memedulikannya dan memilih berbalik untuk berjalan ke arah luar.

Namun di luar dugaan, Evan ternyata mengejarku. Dia mencengkeram tanganku dengan kasar dari belakang, sementara matanya menatapku dengan penuh cemoohan. “Kenapa? Sampai menyusul ke rumah sakit begini, tapi mau pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa?”

“Kamu datang pasti mau mempertanyakan soal pengalihan proyek robot itu, ‘kan?”

“Kalau begitu akan kuperjelas sekali lagi, proyek itu dialihkan kepada Kamila. Sedangkan untukmu ... satpam di gerbang depan kebetulan sedang ada urusan keluarga belakangan ini. Kamu gantikan saja posisinya sementara waktu.”

Melihatku yang tetap bergeming tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, gurat kepasrahan melintas di mata Evan. “Jenny, akhir-akhir ini kamu jadi gampang sekali marah, ya? Apa kamu sedang kena menopause dini?”

“Kamu nggak mungkin marah karena Kamila, ‘kan? Benaran nggak perlu. Hubunganku dengan Kamila murni sebatas atasan dan bawahan. Aku cuma merasa dia kasihan sendirian di sini, jadi aku berinisiatif untuk lebih memperhatikannya.”

“Kenapa? Apa salah kalau seorang bos perhatian pada bawahannya?”

Aku menatap pria yang berdiri dengan penuh rasa percaya diri di hadapanku ini. Untuk sesaat, aku bahkan tidak bisa mengingat, sejak kapan Evan mulai berubah menjadi seperti ini?

Mungkin sejak hari pertama Kamila masuk ke perusahaan, segalanya mulai berubah secara perlahan tanpa kusadari.

“Nggak salah, tindakanmu sudah sangat benar.”

Aku menjawab asal-asalan, saat ini aku hanya ingin segera pergi dari tempat ini.

Mendengar jawabanku, Evan melepaskan cengkeramannya. Dia menatapku dengan tatapan penuh curiga. “Kamu benar-benar berpikir begitu?”

Begitu melihatku mengangguk, raut wajahnya langsung mengendur. Dia menatapku dengan ekspresi puas. “Nah, begitu dong. Jangan suka berpikiran yang aneh-aneh kalau sedang gabut.”

“Sudah ya, aku nggak ada waktu mengobrol denganmu lagi, aku harus kembali merawat Kamila.”

“Kamu pulang dulu dan tunggu aku di rumah, ada hal penting yang mau kubicarakan denganmu.”

Setelah berkata demikian, Evan tidak lagi menoleh ke arahku. Dia berbalik dan berjalan kembali ke dalam kamar rawat.

Dalam perjalanan pulang, aku menatap pemandangan di luar jendela mobil yang bergerak mundur. Rasa sakit yang tak terbendung membubung dari lubuk hatiku, bergejolak hebat hingga menyesaki rongga dada, membuatku begitu sesak dan menderita.

Sesampainya di rumah, aku mengempaskan tubuhku begitu saja di atas sofa. Namun, mataku tidak sengaja menangkap sebuah buku harian yang tergeletak di sudut ruangan.

Didorong rasa penasaran, aku mengambil buku itu dan membalik halamannya dengan gerakan malas.

Akan tetapi, seiring lembar demi lembar kubaca, perlahan tubuhku menegak.

Selama bertahun-tahun ini, Evan tidak pernah mengizinkanku menyentuh buku hariannya. Dia bilang, buku itu adalah tempatnya mencatat keseharian perjalanan cinta kami, agar kelak saat kami sudah tua, kami bisa mengenang kembali masa-masa indah itu bersama-sama.

Namun, saat membaca untaian kalimat panjang di hadapanku ini, aku mendadak kehilangan keberanian untuk terus membalik halamannya.

[Hari itu, Jenny bertanya padaku, bagaimana kalau suatu hari nanti aku bertemu dengan wanita yang lebih baik darinya, dan wanita itu juga menyukaiku?]

[Aku otomatis mau berkata padanya bahwa seumur hidup ini aku cuma akan mencintai dirinya seorang!]

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 12

    Segera setelah itu, aku menutup aplikasi siaran langsung tersebut. Bangkit berdiri, lalu melangkah keluar menuju bandara.Di sepanjang perjalanan, ponselku terus-menerus menerima panggilan telepon dari Evan yang masuk tiada henti. Namun untuk saat ini, sudah sama sekali tidak ada yang mendesak lagi bagiku untuk mengangkatnya.Melihat panggilannya yang terus kuabaikan, dia mulai membanjiri kotak masukku dengan rentetan pesan singkat.[Sayang, apa maksud dari semua ini?] [Sayang, tolong angkat teleponnya, ya? Apa kamu lihat siaran langsung yang tadi?] [Sayang, kejadiannya benaran nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku mengatakan hal itu benar-benar cuma untuk menenangkan emosi Kamila saja agar dia mau turun.] [Sayang, apa maksud dari surat cerai yang kamu kirimkan pada Kamila? Cerai apanya? Bukannya kita sudah sepakat untuk nggak cerai?] Menatap rentetan pesan yang terus bermunculan di layar ponsel, aku merasa teramat risi dan kesal. Tanpa pikir panjang, aku langsung memasukkan nomor

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 11

    Dia langsung maju dan mendekap tubuhku erat-erat, suaranya sarat akan rasa iba. “Sayang, kamu kurusan banget.”Aku agak geli mendengarnya, lalu mendorong tubuhnya menjauh sembari melayangkan gurauan, “Memangnya sejak kapan aku gendut?”Setelah keluar dari kantor pengacara, aku berjalan menyusuri trotoar jalanan tanpa arah tujuan yang pasti.Entah karena memang sudah takdirnya begitu, atau mungkin karena Evan menganggapku terlampau mudah dikendalikan. Begitu aku mendongakkan kepala, aku langsung menangkap siluet Evan dan Kamila yang berdiri tidak jauh dari tempatku berada.Percakapan di antara mereka berdua pun terdengar dengan sangat jelas di telingaku.“Mulai sekarang jangan pernah lagi berpikiran licik dengan mengirimkan pesan pada Jenny! Aku nggak akan pernah menceraikannya!”“Evan, aku melakukan semua ini juga karena aku terlalu mencintaimu!”“Sekarang karena rencana kita sudah terbongkar, aku berencana untuk menggugurkan kandungan ini. Aku nggak akan mempertahankan anakmu, Jenny

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 10

    Tepat pada detik saat Evan memajukan wajahnya, aku refleks mengulurkan tangan untuk mendorongnya menjauh.Melihat penolakanku, kilatan kekecewaan melintas di kedua mata Evan. “Sayang, kenapa kamu mendorongku?”Aku terus memundurkan tubuhku, sebisa mungkin menghindari kontak fisik dengan Evan, lalu menyahut dengan nada datar untuk berbohong, “Aku sedang flu, jangan sampai menular kepadamu.”Setelah berkata demikian, aku tidak lagi memedulikan Evan di hadapanku. Aku membalikkan badan memunggunginya, lalu kembali memejamkan mata untuk tidur.Mungkin karena suasana malam terlampau sunyi, aku bisa mendengar suara hela napas Evan yang terdengar berulang kali dari sampingku.Jika itu terjadi di masa lalu, aku pasti sudah membalikkan badan. Merengkuh tubuhnya erat-erat dalam pelukanku, lalu menenangkan dan membujuknya dengan wajah penuh rasa iba.Namun sekarang, aku hanya merasa terusik dan muak.“Aku sangat ngantuk. Bagaimana kalau kamu kembali ke kamarmu saja? Kamu tidur di sini membuatku ng

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 9

    Sudut bibirku tertarik getir. Di kolom obrolan, perlahan aku mengetik beberapa kata. [Nggak tahu. Aku cuma tahu kalau pada saat itu, otakku benar-benar kacau.] [Sayang, ini sudah sepuluh tahun. Evan sudah lama bukan pria yang tulus dan setia seperti dulu lagi. Satu-satunya orang yang masih bertahan di masa lalu cuma kamu.] Menatap Evan di hadapanku, kepingan masa lalu kami mendadak terlintas satu demi satu di dalam benak.Aku dan Evan adalah teman masa kecil, kami tumbuh besar bersama. Namun, hubungan kami adalah jenis teman masa kecil yang selalu saling tidak cocok satu sama lain.Hingga akhirnya, orang tuaku bercerai. Kedua belah pihak sama-sama membangun keluarga baru mereka sendiri dan tidak ada yang sudi merawatku, sehingga aku terpaksa tinggal bersama Nenek.Masa-masa itu, bagiku, sebenarnya teramat menyiksa.Orang-orang mencibirku sebagai anak buangan yang tidak diinginkan, bahkan beberapa di antaranya menyebarkan rumor keji bahwa akulah penyebab perceraian orang tuaku.Lamb

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 8

    Aku mengambil ponsel yang tergeletak di samping meja, membuka ruang obrolan dengan Kamila, lalu menyodorkan gambar tersebut ke hadapan wajah Evan."Ada yang mau kamu katakan?"Begitu melihat gambar tersebut, wajah Evan seketika berubah pucat pasi. Dia langsung mencengkeram tanganku kuat-kuat dan berujar dengan rentetan kalimat yang teramat cepat, "Sayang, bukan seperti ini kejadiannya, sungguh bukan seperti ini!""Ini pasti foto hasil editan Kamila. Dia sengaja melakukannya untuk merusak hubungan rumah tangga kita. Yang hamil itu sebenarnya kamu!"Aku mengenyahkan tangan Evan dengan sentakan kuat, lalu menyahut dengan nada bicara yang datar, "Oke, karena kamu bilang begitu, ayo kita pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan ulang bersama-sama."Mendengar tantanganku, raut wajah Evan seketika menjadi tidak natural. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain, lalu berujar lirih, "Nggak perlu, kamu memang benar-benar hamil.""Sampai kapan kamu mau terus membohongiku?"Menatap sosok Evan

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 7

    "Sayang, kita bakal punya anak! Hasil pemeriksaan medismu yang kemarin sudah keluar! Kamu bakal jadi ibu!""Sayang, kita akhirnya punya anak juga! Kita bakal jadi ayah dan ibu!""Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa kamu terlalu bahagia?"Evan tersenyum sambil melambaikan tangannya di depan wajahku, matanya berbinar cerah.Kehadiran anak yang tiba-tiba ini seketika mengacaukan rencana yang sudah kususun. Aku menatap kosong laporan pemeriksaan kehamilan di hadapanku, perasaanku mendadak campur aduk tak karuan."Aku hamil?"Evan mengangguk sambil tersenyum lebar. Dia maju dan merangkul leherku dengan manja, lalu berkata dengan suara lembut, "Iya, kamu hamil."Aku meletakkan laporan pemeriksaan itu begitu saja di atas meja, lalu berjalan kembali ke arah kulkas untuk mengambil satu kaleng bir lagi dan meminumnya.Melihat tindakanku, wajah Evan langsung berubah masam. Dia melangkah maju dan merebut paksa kaleng bir di tanganku, lalu langsung melayangkan tuduhan, "Ada apa denganmu? Jenny, aku

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status