Teilen

Cinta Tak Sehebat Robot
Cinta Tak Sehebat Robot
Nasgor

Bab 1

Nasgor
Aku menatap ponsel di tanganku yang panggilannya baru saja diputus sepihak. Otakku dipenuhi oleh kata-kata yang baru saja diucapkan Evan.

"Apa kamu mau mati? Kalau sudah mati, baru telepon aku lagi!"

Aku sekuat tenaga menekan gejolak emosi yang membubung di dalam dada. Sambil memaksakan tubuhku yang melemah, aku menggunakan sisa tenaga terakhirku untuk menghubungi nomor darurat ambulans.

Kenyataan membuktikan, bahwa dalam beberapa situasi, ambulans bahkan jauh lebih bisa diandalkan daripada seorang Evan.

Dokter mengatakan bahwa aku mengalami keracunan buncis dan jamur secara bersamaan. Untung saja aku segera dibawa ke rumah sakit. Jika terlambat beberapa menit saja, saat ini aku tidak akan bisa berbaring dengan tenang di atas ranjang pasien.

Saat aku sedang berbaring menerima cairan infus, ponsel di sampingku tiba-tiba berdering.

Setelah tersadar dari lamunan, aku mengambil ponsel itu dan melihat layarnya. Ternyata Evan yang menelepon.

"Jenny, menurutmu tumis daging sapi itu lebih enak pakai daun bawang atau nggak?"

Pertanyaan Evan membuatku tercengang. Setelah tersadar, sudut bibirku tertarik membentuk senyum getir, lalu menyahut pelan, "Evan, aku di rumah sakit."

Di seberang sana, nadanya terdengar agak tidak sabar. "Ya, pergi sana, minta obat yang banyak."

Segera setelah itu, Evan langsung mengalihkan pembicaraan kembali ke topik sebelumnya. "Cepat katakan, sebenarnya lebih enak pakai daun bawang atau nggak?"

Baru saja aku hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari dalam telepon. "Evan, asal itu masakan buatanmu, pakai daun bawang atau nggak, aku tetap suka kok."

Hanya dalam sekejap, panggilan itu langsung diputus.

Aku tertegun menatap ponsel yang layarnya sudah menggelap. Tiba-tiba, dua pesan masuk berturut-turut.

[Kantor mendadak ada proyek yang harus dikerjakan lembur, aku baru pulang besok.]

[Kalau ke rumah sakit, minta obat yang banyak. Kalau uangnya kurang, nanti aku transfer.]

Melihat deretan teks di layar, aku merasa jantungku seperti diremas kuat-kuat.

Lembur mendadak di kantor? Ke rumah sakit minta untuk minta obat yang banyak?

Bagaimana bisa seseorang bersikap seacuh itu?

Kali ini, aku hanya meletakkan ponsel itu begitu saja, tidak lagi membalas pesan Evan.

Aku berbaring di ranjang rumah sakit, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.

Di ranjang sebelah, ada seorang anak perempuan kecil yang dirawat. Melihatku yang terus terdiam sendirian, dia mendekat sambil tersenyum riang. Sambil menopang dagu, dia menatapku. "Kakak, kenapa Kakak sendirian?"

"Waktu Ibu dirawat dulu, Ayah selalu menemani Ibu. Kak, di mana suami Kakak?"

Aku memandang anak perempuan kecil yang berwajah polos di hadapanku ini, lalu berkata lirih, "Suami?"

"Kakak nggak punya suami."

Mendengar perkataanku, anak perempuan itu mendadak berdiri tegak. Sambil berkacak pinggang, wajah kecilnya memerah karena kesal. "Kakak bohong! Aku lihat sendiri kok, di dalam casing ponsel Kakak, jelas-jelas ada foto nikahan Kakak dengan laki-laki!"

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 12

    Segera setelah itu, aku menutup aplikasi siaran langsung tersebut. Bangkit berdiri, lalu melangkah keluar menuju bandara.Di sepanjang perjalanan, ponselku terus-menerus menerima panggilan telepon dari Evan yang masuk tiada henti. Namun untuk saat ini, sudah sama sekali tidak ada yang mendesak lagi bagiku untuk mengangkatnya.Melihat panggilannya yang terus kuabaikan, dia mulai membanjiri kotak masukku dengan rentetan pesan singkat.[Sayang, apa maksud dari semua ini?] [Sayang, tolong angkat teleponnya, ya? Apa kamu lihat siaran langsung yang tadi?] [Sayang, kejadiannya benaran nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku mengatakan hal itu benar-benar cuma untuk menenangkan emosi Kamila saja agar dia mau turun.] [Sayang, apa maksud dari surat cerai yang kamu kirimkan pada Kamila? Cerai apanya? Bukannya kita sudah sepakat untuk nggak cerai?] Menatap rentetan pesan yang terus bermunculan di layar ponsel, aku merasa teramat risi dan kesal. Tanpa pikir panjang, aku langsung memasukkan nomor

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 11

    Dia langsung maju dan mendekap tubuhku erat-erat, suaranya sarat akan rasa iba. “Sayang, kamu kurusan banget.”Aku agak geli mendengarnya, lalu mendorong tubuhnya menjauh sembari melayangkan gurauan, “Memangnya sejak kapan aku gendut?”Setelah keluar dari kantor pengacara, aku berjalan menyusuri trotoar jalanan tanpa arah tujuan yang pasti.Entah karena memang sudah takdirnya begitu, atau mungkin karena Evan menganggapku terlampau mudah dikendalikan. Begitu aku mendongakkan kepala, aku langsung menangkap siluet Evan dan Kamila yang berdiri tidak jauh dari tempatku berada.Percakapan di antara mereka berdua pun terdengar dengan sangat jelas di telingaku.“Mulai sekarang jangan pernah lagi berpikiran licik dengan mengirimkan pesan pada Jenny! Aku nggak akan pernah menceraikannya!”“Evan, aku melakukan semua ini juga karena aku terlalu mencintaimu!”“Sekarang karena rencana kita sudah terbongkar, aku berencana untuk menggugurkan kandungan ini. Aku nggak akan mempertahankan anakmu, Jenny

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 10

    Tepat pada detik saat Evan memajukan wajahnya, aku refleks mengulurkan tangan untuk mendorongnya menjauh.Melihat penolakanku, kilatan kekecewaan melintas di kedua mata Evan. “Sayang, kenapa kamu mendorongku?”Aku terus memundurkan tubuhku, sebisa mungkin menghindari kontak fisik dengan Evan, lalu menyahut dengan nada datar untuk berbohong, “Aku sedang flu, jangan sampai menular kepadamu.”Setelah berkata demikian, aku tidak lagi memedulikan Evan di hadapanku. Aku membalikkan badan memunggunginya, lalu kembali memejamkan mata untuk tidur.Mungkin karena suasana malam terlampau sunyi, aku bisa mendengar suara hela napas Evan yang terdengar berulang kali dari sampingku.Jika itu terjadi di masa lalu, aku pasti sudah membalikkan badan. Merengkuh tubuhnya erat-erat dalam pelukanku, lalu menenangkan dan membujuknya dengan wajah penuh rasa iba.Namun sekarang, aku hanya merasa terusik dan muak.“Aku sangat ngantuk. Bagaimana kalau kamu kembali ke kamarmu saja? Kamu tidur di sini membuatku ng

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 9

    Sudut bibirku tertarik getir. Di kolom obrolan, perlahan aku mengetik beberapa kata. [Nggak tahu. Aku cuma tahu kalau pada saat itu, otakku benar-benar kacau.] [Sayang, ini sudah sepuluh tahun. Evan sudah lama bukan pria yang tulus dan setia seperti dulu lagi. Satu-satunya orang yang masih bertahan di masa lalu cuma kamu.] Menatap Evan di hadapanku, kepingan masa lalu kami mendadak terlintas satu demi satu di dalam benak.Aku dan Evan adalah teman masa kecil, kami tumbuh besar bersama. Namun, hubungan kami adalah jenis teman masa kecil yang selalu saling tidak cocok satu sama lain.Hingga akhirnya, orang tuaku bercerai. Kedua belah pihak sama-sama membangun keluarga baru mereka sendiri dan tidak ada yang sudi merawatku, sehingga aku terpaksa tinggal bersama Nenek.Masa-masa itu, bagiku, sebenarnya teramat menyiksa.Orang-orang mencibirku sebagai anak buangan yang tidak diinginkan, bahkan beberapa di antaranya menyebarkan rumor keji bahwa akulah penyebab perceraian orang tuaku.Lamb

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 8

    Aku mengambil ponsel yang tergeletak di samping meja, membuka ruang obrolan dengan Kamila, lalu menyodorkan gambar tersebut ke hadapan wajah Evan."Ada yang mau kamu katakan?"Begitu melihat gambar tersebut, wajah Evan seketika berubah pucat pasi. Dia langsung mencengkeram tanganku kuat-kuat dan berujar dengan rentetan kalimat yang teramat cepat, "Sayang, bukan seperti ini kejadiannya, sungguh bukan seperti ini!""Ini pasti foto hasil editan Kamila. Dia sengaja melakukannya untuk merusak hubungan rumah tangga kita. Yang hamil itu sebenarnya kamu!"Aku mengenyahkan tangan Evan dengan sentakan kuat, lalu menyahut dengan nada bicara yang datar, "Oke, karena kamu bilang begitu, ayo kita pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan ulang bersama-sama."Mendengar tantanganku, raut wajah Evan seketika menjadi tidak natural. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain, lalu berujar lirih, "Nggak perlu, kamu memang benar-benar hamil.""Sampai kapan kamu mau terus membohongiku?"Menatap sosok Evan

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 7

    "Sayang, kita bakal punya anak! Hasil pemeriksaan medismu yang kemarin sudah keluar! Kamu bakal jadi ibu!""Sayang, kita akhirnya punya anak juga! Kita bakal jadi ayah dan ibu!""Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa kamu terlalu bahagia?"Evan tersenyum sambil melambaikan tangannya di depan wajahku, matanya berbinar cerah.Kehadiran anak yang tiba-tiba ini seketika mengacaukan rencana yang sudah kususun. Aku menatap kosong laporan pemeriksaan kehamilan di hadapanku, perasaanku mendadak campur aduk tak karuan."Aku hamil?"Evan mengangguk sambil tersenyum lebar. Dia maju dan merangkul leherku dengan manja, lalu berkata dengan suara lembut, "Iya, kamu hamil."Aku meletakkan laporan pemeriksaan itu begitu saja di atas meja, lalu berjalan kembali ke arah kulkas untuk mengambil satu kaleng bir lagi dan meminumnya.Melihat tindakanku, wajah Evan langsung berubah masam. Dia melangkah maju dan merebut paksa kaleng bir di tanganku, lalu langsung melayangkan tuduhan, "Ada apa denganmu? Jenny, aku

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status